Surat Paulus kepada Filemon

Identitas Filemon

Dari pembukaan surat ini kita bisa menemukan bahwa Filemon merupakan salah satu pengikut Paulus yang memiliki hubungan cukup dekat dengannya, Paulus menyebutkan ,” ..kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (Fil 1:1). Paulus mengenal Filemon mungkin saat menetap sementara di Efesus. Filemon kemudian diutus Paulus untuk menjalankan misi di Kolose, ia masih menetap di sana saat Paulus menulis surat ini di penjara.

Keotentikan

Secara umum surat sepanjang 1 pasal ini telah diakui keotentikannya. AQ Morton yang melakukan perbandingan gaya penulisan pada seluruh karya Paulus melalui komputer, menemukan bahwa hanya surat Roma, Korintus, Galatia dan Filemon yang nilai keotentikanya relatif setara.
Penempatan setelah surat Titus membuat beberapa orang beranggapan bahwa surat ini termasuk ke dalam kelompok Pastoral, tetapi pada kenyataannya surat ini adalah salah satu anggota Prison Epistles. Menurut rekonstruksi sejarah, seorang budak Filemon bernama Onesimus melarikan diri darinya menuju Roma. Disana ia menyempatkan diri untuk bertemu Paulus.
Paulus kemudian mengirim surat rekomendasi kepada Filemon yang tiada lain adalah surat Filemon ini. Surat ini berisi saran bagi Filemon agar ia mau menerima kembali Onesimus dalam rumahnya. Surat ini ditulis dan dikirim bersamaan dengan dua surat lainnya, surat Efesus dan Kolose. Saat menulis ketiga surat tersebut Paulus tengah berada dengan Timotius (1:1).
Dalam hal keotentikan, baik bukti internal maupun eksternal mengakuinya. Beberapa bapak gereja awal dipastikan pernah mengetahui eksistensi surat ini. Pandangan kritis kemudian dikemukakan oleh Baur, ia terpaksa mengeluarkan pandangan ini karena ia menolak keotentikan kedua surat penjara lainnya.
Surat ini adalah surat terkahir dalam Perjanjian Baru yang penulisannya diatributkan kepada Paulus. Melalui evaluasi sementara, kita telah menemukan berbagai kesalahan dan keraguan dalam surat-surat Paulus. Berikut adalah sedikit kesimpulan terhadap pembahasan-pembahasan sebelumnya.

Dari keseluruhan surat, hanya surat Roma, Galatia, Korintus, 1 Tesalonika, Filipi dan Filemon yang dapat diyakini kepenulisanya oleh Paulus sendiri.
Keotentikan surat-surat seperti Kolose, 2 Tesalonika dan Efesus masih diragukan, tidak sedikit sarjana yang menolaknya.
Seluruh surat Pastoral dapat dikatakan sebagai surat palsu. Paulus diyakini tidak pernah menulis surat-surat tersebut.

Berbagai kesimpulan tersebut tentu menyakitkan bagi sebagian umat Kristen, padahal berbagai penemuan tersebut tidak lain dihasilkan oleh sarjana-sarjana dari kalangan mereka sendiri. Umat Kristen tentunya harus mengetahui sejarah penulisan kitab suci mereka daripada hanya mengutip secara bebas ayat-ayat di dalamnya. Pengutipan ayat-ayat Bible tidak boleh dilakukan sembarangan karena kadang memiliki konteks yang berbeda.

Surat Paulus kepada Titus

Titus

Nama ini tidak pernah muncul dalam Kitab Kisah Rasul, padahal orang ini memiliki peranan cukup penting dalam penyebaran ajaran Paulus dan pendirian Gereja-gereja. Beberapa sarjana mengatakan bahwa Titus adalah saudara Lukas sehingga Lukas tidak pernah menyebut namanya. Anggapan ini lemah, tidak ada alasan bagi Lukas untuk menghapuskan namanya dari sejarah  walaupun ia adalah saudaranya. Menurut surat Galatia, Titus adalah seorang Yunani yang dulunya adalah seorang Gentile. Ia bersama Paulus dan Barnabas pernah diutus oleh gereja Antiokia kepada konsili Jerusallem untuk membicarakan perihal kewajiban berkhitan bagi muallaf Gentile, tetapi Kisah Rasul hanya menyebutkan Paulus dan Barnabas yang pergi. Titus diketahui mendampingi Paulus selama di Efesus, kemudian ia diutus kepada jemaat Korintus untuk mengumpulkan sumbangan bagi Gereja Jerusallem. Ia juga dikenal sebagai pembawa surat 2 Korintus. Menurut surat Titus, Paulus kemudian mencarinya dan meninggalkanya di pulau Kreta, kisah tersebut terasa ganjil karena tidak pernah ada catatan mengenai pendirian Gereja di daerah tersebut.

Pandangan Tradisional

Walaupun Kitab Kisah Rasul tidak memberikan tempat bagi sejarah kehidupan Paulus paska dipenjara, berdasarkan surat ini maka pastilah Paulus sempat melanjutkan perjalanannya ke beberapa tempat. Berdasarkan rekonstruksi sejarah, setelah Paulus bebas, ia bersama Timotius melanjutkan perjalanan ke daerah Macedonia. Paulus meninggalkan Timotius di Efesus, sedangkan ia sendiri melanjutkan perjalanan ke Macedonia. Rantai sejarah kemudian terputus, Paulus tiba-tiba mencapai daerah Kreta dan meninggalkan Titus di sana, “…Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini…”. Rekonstruksi ini disusun berdasarkan catatan dalam surat Timotius dan Titus, akan berbeda bila kita menggunakan catatan Clement Romanus, karena menurutnya setelah Paulus bebas, ia melanjutkan perjalanan ke barat (diperkirakan Spanyol atau Roma ?). Kesulitan lain akan muncul karena tidak ada catatan sejarah yang mengatakan bahwa Paulus pernah meginjakan kakinya di Spanyol atau Kreta. Bagaimana mungkin suatu Gereja Paulus yang terorganisir bisa berdiri disana padahal Paulus dan pengikutnya belum pernah ke sana sebelumnya.

Keotentikan

Ini adalah anggota kelompok     Pastoral Epistles yang terakhir, nilai keotentikanya  sama lemahnya dengan kedua surat sebelumnya.  Schleiermacher pada tahun 1807 adalah salah seorang pelopor perlawanan terhadap keotentikan surat ini dan kedua surat pastoral lainnya. Menurutnya surat-surat tersebut memiliki perbedaan gaya, muatan dan teologi bila dibandingkan dengan surat-surat utama. C. K. Barrett kemudian berpendapat bahwa penulis surat ini menggunakan surat-surat Paulus sebagai sumber dan menghasilkan surat yang baru dengan mencatut nama Paulus. Dengan kata lain seorang pengikut Paulus yang tidak bertanggung jawab telah memproduksi suatu surat yang penulisannya diatributkan kepada Paulus.
Saat ini hampir seluruh sarjana mengakui bahwa seluruh gaya dan muatan yang dikandung oleh Pastoral berbeda dengan yang terdapat  pada surat-surat utama. Beberapa kata baru diketahui muncul dalam surat-surat ini, contohnya kata “Presbyter”, “bishop (Episkopoi)” dan “deacon (Diakonoi)”, sedangkan dua kata terakhir diketahui hanya pernah muncul  sekali di surat Filipi. Penyebutan gelar-gelar pejabat Gereja tersebut dirasa tidak pas apabila ditempatkan dalam kondisi tahun 65-an. Saat itu Gereja-gereja masih baru berdiri dan masih menghadapi masalah dari sana-sini. Alangkah lebih cocok apabila penulisan surat-surat ini dilakukan di abad kedua, dimana saat itu Gereja telah berkembang dan tengah menghadapi musuh baru, yaitu kaum Gnostis.
Beberapa sarjana beranggapan bahwa beberapa bagian dalam surat ini asli berasal dari Paulus, contohnya pada 3:12-13, tetapi sisanya palsu. Pandangan kritis sebenarnya mulai muncul dari pasal 1:7-9, yang diduga sebagai interpolasi. G. A. Wells dalam Did Yesus Exist? Menyebutkan,

It is widely agreed that the Pastorals are mostly forgeries although Titus and 2 Timothy may contain some genuine notes from Paul.

“Secara luas disetujui bahwa surat-surat Pastoral adalah palsu walaupun Titus dan 2 Timotius mungkin memuat beberapa kutipan asli dari Paulus.”

Setelah kita mengetahui bahwasannya para sarjana-sarjana terkemuka Kristen sendiri telah menolak keaslian beberapa bagian kitab sucinya, maka akan menjadi lebih mudah bagi kita untuk melakukan hal yang sama. Walaupun kita tidak tahu sejak kapan dan oleh siapa pemalsuan ini dilakukan, “barang” palsu tetap harus dimusnahkan. Seperti saat kita menemukan selembar uang palsu, tetapi kita tidak tahu kapan dan oleh siapa uang tersebut diproduksi, kita tidak boleh menggunakan uang tersebut dan alangkah baiknya bagi kita apabila bersedia memusnahkan uang palsu tersebut. Hal yang sama patut kita terapkan pada beberapa bagian Bible yang diyakini sebagai palsu, walaupun kita perlu mencari sejarah pemalsuan tersebut, tetapi kita harus bersedia untuk tidak menggunakan bagian tersebut sebagai dalil apapun, tindakan ini akan menimbulkan konsekwensi bagi umat Kristen pada umumnya karena kebanyakan bagian yang dianggap palsu ternyata memuat pondasi penting agama Kristen.

Surat 2 Timotius

2 Timotius

Secara umum, tidak ada perbedaan berarti antara surat ini dengan dengan surat Timotius pertama. Keduanya memiliki karakter yang sama. Keraguan utama ditunjukan oleh absennya mereka dari dalam daftar canon Marcio. Kedua surat ini tidak pernah dikutip sebelumnya kecuali oleh Iranaeus tahun 170 M..

Pandangan-pandangan kritis terhadap keotentikan surat ini didasarkan melalui sisi yang relatif sama dengan surat sebelumnya, yaitu melalui perbedaan gaya penulisan dengan surat lainnya, banyaknya Hapax Legomena, dan adanya ekspresi-ekspresi non-Pauline. Dalam komentarnya, The New Oxford Annotated Bible menyebutkan :

Second Timothy, although attributed to Paul, is found by many scholars to be so unPauline in vocabulary, style, theological concepts, church order, emphasis on tradition and in contrast with the chronology of his career as given in Acts and Romans, that it is widely considered to be a forgery.

“Timotius kedua, walaupun penulisannya diatributkan kepada Paulus, kebanyakan sarjana telah menemukan sifat non-Pauline dalam perbendaharaan kata, gaya, konsep teologi, aturan gereja, penekanan dalam tradisi dan berlawanan dengan kronogi karir Paulus yang diberikan dalam Kisah Rasul dan surat Roma, surat ini dipercayai sebagai pemalsuan.”

Dalam hal tempat penulisan, beberapa mengatakan bahwa surat ini ditulis sekitar setahun setelah surat 1 Timotis, lainnya berkata bahwa surat ini ditulis saat Paulus mengalami pemenjaraan yang terakhir di Roma. Digambarkan dalam pasal 4:6 “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat”.

2 Timotius 3:16

Saat anda membicarakan perihal keotentikan Bible dengan teman Kristen anda, mereka pasti akan mengutip bagian ini (Timotius 3:16) untuk mendukung klaim inspirasi wahyu dalam Bible. Para penceramah Kristen tidak pernah bosan dalam memakai ayat ini dalam pembelaanya terhadap kebenaran ajaran-ajaran Bible. Dalam hal ini kita akan membantah pemikiran tersebut karena karena kebanyakan umat Kristen telah mengambil ayat ini diluar konteks yang sebenarnya. Berikut adalah teks 2 Timotius 3:16 :

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Dalam King James Version disebutkan :

All scripture [is] given by inspiration of God, and [is] profitable for doctrine, for reproof, for correction, for instruction in righteousness.”

Saat kita menerjemahkan kata “scripture” atau “tulisan” di atas menjadi “Alkitab” atau “Bible”, maka kita telah melakukan kesalahan besar dan sangat keluar dari konteks. Anggaplah surat 2 Timotius ini ditulis tangan oleh Paulus, maka waktu penulisan surat ini adalah sekitar tahun 65-67 M., sedangkan Bible sendiri baru rampung penyusunannya beberapa ratus tahun kemudian.
Kata “Scripture” adalah terjemahan dari bahasa Yunani “Graphe“ yang artinya tulisan, dalam naskah aslinya tertulis “pasa graphe theopneustos kai ophelimos…”. Dalam Perjanjian Baru terdapat kurang lebih 51 penyebutan terhadap kata “Graphe”, dan seluruhnya nerujuk kepada pengartian “tulisan suci” atau Perjanjian Lama. Beberapa sarjana bahkan mengartikan kata tersebut sebagai tulisan-tulisan Paulus semata. Adalah suatu kesalahan fatal apabila kita mengartikan “tulisan suci” ini dalam konteks keseluruhan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saat Paulus menulis surat ini pada tahun 65 M., saat itu belum satupun Injil yang ditulis, bahkan konon Injil tertua (Markus) baru ditulis di sekitar tahun 70 M.. Tidak hanya itu, surat-surat Paulus pun belum sempat dikompilasi atau dikumpulkan. Beda masalahnya apabila ayat ini baru ditulis 300 tahun kemudian, saat komposisi final Bible telah diakui. Sarjana katolik, Raymond F. Collins, dalam karyanya Introduction to the New Testament , menyebutkan :

“The Scriptures that enjoyed such authority within the emerging church are what Christians call the Old Testament.”

Bila kita mengartikan kata “Scripture” ini menjadi “Bible secara keseluruhan”, maka kita harus menerima beberapa konsekwensi. Pertama, otomatis kita harus menolak kepenulisan Paulus pada surat 2 Timotius ini, karena Bible baru rampung pada abad keempat. Kedua, kita harus menerima keseluruhan bagian Bible secara mentah-mentah, dari beberapa bagian Perjanjian Lama yang mengandung pornografi hinggga ajakan meminum racun dalam Matius 16:18, atau mengakui keotentikan dalam Markan Appendiks, Pericope Adulterae hingga 1 Timotius 2:12-15 yang merendahkan posisi wanita. Selain itu kita juga harus menerima kitab-kitab “deutero-canonical” sebagai “tulisan suci”. Ketiga, andaipun kita mengartikan “scripture” tersebut sebagai Perjanjian Lama, maka kita juga harus mengakui kepenulisan wahyu dalam kitab-kitab meragukan yang penulisnya tak dikenal.

Kesimpulannya, apakah surat Timotius ini otentik atau tidak, penafsiran terhadap kata “Scripture” tidak boleh dilakukan secara sembarangan, apalagi mengartikanya sebagai “Bible” secara keseluruhan. Seseorang yang menganggap bagian tersebut mewakili Bible secara keseluruhan benar-benar tidak mengetahui sejarah penulisan Bible. Para penginjil benar-benar membodohi umatnya saat mengutip ayat ini sebagai dalil kebenaran Bible. Ayat ini menjadi favorit karena tidak ada ayat lain yang secara jelas mengakui kepenulisan wahyu dalam Bible. Pada situasi yang sangat terpaksa ini, seorang Kristen akan menggunakan ayat ini sebagai benteng pertahanan terakhir, walaupun dengan mengorbankan rasionalitasnya.

Surat Paulus kepada Timotius I

Pastoral Epistles

Kedua surat Timotius dan surat Titus disebut sebagai Pastoral Epistles, surat-surat yang ditujukan kepada individu dan berisikan prinsip-prinsip organisasi Gereja, surat-surat ini  identik dengan keraguan atas keotentikannya. Penyebutan “Pastoral” baru dilakukan sekitar abad ketujuh belas, disebut demikian karena surat-surat ini memuat dalil peranan Pastor dalam Gereja. Pastoral terdiri dari 1 & 2 Timotius dan Titus. Seluruh Pastoral Epistles mungkin memuat pengakuan penulis di dalamnya, tetapi keaslianya diragukan karena keberadaanya relatif tidak diketahui para Bapak Gereja awal. Contohnya Marcion dan Basilides, kedua tokoh tersebut merupakan penganut ajaran Paulus dan menggunakan surat-suratnya sebagai kitab suci, tidak mengetahui perihal eksistensi surat-surat tersebut. Mack mengatakan dalam Who Wrote the New Testament ?:

The Pastorals were undoubtedly written during the first half of the 2nd century. They were not included in Marcion’s list of Paul’s letters (ca.140). Quotations from them first appear in Irenaeus’ Against Heresies (180) and their content fits nicely into the situation and thought of the church in the mid-second century. Their attribution to Paul is a forgery for their language and thought are clearly unPauline. Also, references to particular occasions in the lives of Titus, Timothy, and Paul do not fit with reconstructions of that history taken from the authentic letters”.

“Surat-surat Pastoral dipastikan ditulis pada masa awal pertengahan abad kedua. Mereka tidak dimuat dalam daftar karya Paulus oleh Marcion (140 M.). Pengutipan terhadap surat tersebut baru muncul dalam karya Iranaeus “Melawan Kaum Bid’ah (180 M)” dan isinya cocok ditempatkan dalam situasi dan pemikiran gereja pada pertengahan abad kedua. Pengatributan terhadap Paulus adalah kesalahan bahwa penggunaan bahasa dan pemikiran surat tersebut yang jelas non-Pauline. Selain itu, rujukan kepada tujuan dalam kehidupan Titus, Timotius dan Paulus tidak cocok dengan rekonstruksi sejarah yang diambil dari surat-surat otentik”.

Pada abad kesembilan belas, serangan kritik terhadap surat-surat pastoral semakin meningkat. Dipelopori oleh J.E. C. Schmidt yang kemudian diikuti oleh Schleiermacher dll.. Tidak seperti surat-surat Paulus sebelumnya dimana hanya mendapat kritik dari sarjana-sarjana Radikal, surat Pastoral tampaknya mendapatkan kritik yang lebih luas. Kalangan selain sarjana radikal memang jarang menolak keotentikan keseluruhan surat pastoral, kebanyakan dari mereka hanya menyerang salah satu atau beberapa surat saja. Surat pastoral kerap menjadi sasaran serangan para sarjana karena kelemahannya di berbagai sisi. Tetapi itu semua tidak berarti surat Pastoral tidak memiliki pendukung, beberapa sarjana tetap mempertahankan dan mendukung keotentikan surat-surat tersebut. Kritik terhadap surat-surat pastoral terutama ditujukan dalam hal  :

Komposisi dan situasi sejarah yang dimuat dalam surat Pastoral tidak cocok dengan catatan Kisah Rasul, padahal dalam 2 Timotius 4:11 Paulus mengatakan “hanya Lukas yang tinggal dengan aku”, artinya Paulus tengah bersama dengan Lukas saat menulis surat ini.   Ketidakcocokan dengan catatan Kisah Rasul berdampak kepada kesulitan dalam menentukan waktu penulisan surat Pastoral ini.  Andaipun waktu penulisannya ditentukan, ternyata dapat melebihi masa kehidupan Paulus.

Gaya penulisan dalam Pastoral dianggap berbeda dengan surat-surat utama. Pastoral memuat cukup banyak Hapax dan kata-kata asing. Contohnya 1 Timotius, Surat sepanjang 6 pasal ini memuat sekitar 96 Hapax Legomena, sedangkan surat Roma sepanjang  16 pasal hanya memuat 113. Selain itu, ekspresi permusuhan Paulus terhadap ajaran Yahudi juga tidak ditemukan.

Sistem kegerejaan yang dimuat pada Pastoral cenderung menunjukan waktu yang lebih maju. Paulus yang hanya mendirikan dan mengurus gereja-gerejanya secara singkat sedangkan surat Pastoral menunjukan sistem kegerejaan yang lebih terorganisir, maka akan lebih masuk akal apabila surat Pastoral ini baru dikomposisikan beberapa puluh tahun setelah kematian Paulus. Saat itu gereja telah lebih terorganisir dan pengacau cenderung berkurang. Penggambaran organisasi gereja dalam Pastoral tampaknya akan lebih sesuai bila ditempatkan sekitar pada abad kedua, dimana saat itu organisasi gereja telah mengenal posisi uskup dan diaken (pemilik umat). Dalam surat Timotius, Paulus tampak menyebutkan syarat-syarat untuk dapat menempati posisi tersebut dan peraturan yang akan berlaku kepada pengisi posisi tersebut. Gereja Katolik nantinya akan sangat tergantung kepada aturan-aturan yang ditetapkan dalam surat Pastoral ini.

Konsep Kristiani yang terdapat dalam Pastoral menunjukan perkembangan dan cenderung non-Pauline. Pemikiran Paulus memang ada, tetapi terlihat telah mengalami berkembang dan berbeda dengan yang pernah dimuat dalam surat utama. Ini menimbulkan pandangan bahwa penulis surat-surat ini adalah murid salah satu mazhab Paulus.

Ajaran sesat yang digambarkan surat Pastoral hanya cocok dengan gerakan Gnostik yang berkembang pada abad kedua. Menurut Baur, penggambaran ajaran sesat dalam 1 Timotius 6:26 merujuk kepada kaum Marcionit :
Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan”.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa surat Pastoral ini sengaja diproduksi untuk membendung masuknya pemikiran-pemikiran Marcion atau Valentinus ke dalam Gereja. Dengan kata lain, surat Pastoral diproduksi oleh suatu musuh Marcion untuk membendung ajarannya. Maka tidak aneh apabila Marcion tidak bersedia mengakui surat tersebut. Musuh Marcion tersebut bukanlah golongan Ebionit atau Nazarene, melainkan pengikut salah satu mazhab ajaran Paulus. Boleh jadi saat itu pendukung Paulus-pun terbagi atas berbagai mazhab dan aliran. Setiap dari mereka mungkin memiliki kitab suci yang diatributkan penulisannya terhadap Paulus.

Pernyataan-pernyataan tersebut tentu saja tidak dapat membuat semua orang mempercayai kepalsuan surat-surat pastoral. Beberapa pendukung keotentikan telah berusaha sekuat tenaga untuk menjawab kritik-kritik tersebut, tetapi tampaknya  masalah tersebut belum bisa terpecahkan hingga tuntas  sampai saat ini. Mereka tampak memberikan penjelasan yang berbeda-beda dan tidak logis. Contohnya dalam menjelaskan masalah perkembangan teologi, menurut mereka hal tersebut dapat terjadi karena Paulus menulis surat Pastoral paska pembebasan dari penjara. Apakah pemikiran seseorang sebelum dan sesudah dipenjara dapat mengalami perubahan ? Apakah gaya penulisan seseorang dapat berubah setelah ia mendekam di penjara ? jawabanya adalah tidak ! Mungkin saja hal tersebut dapat terjadi, bila orang tersebut bukanlah rasul dan memiliki pendirian yang tidak tetap. Pemikiran seorang rasul tidak akan dapat diubah oleh keadaan apapun, apakah ia dipenjara atau disiksa karena ia hanya mengucapkan apa yang Tuhan inspirasikan kepadanya. Menurut para pendukung tersebut, surat ini ditulis sekitar 5 tahun setelah penulisan surat Roma. Jawaban tersebut akan menghasilkan permasalahan baru, bagaimana mungkin hanya dalam 5 tahun pemikiran dan gaya penulisan Paulus dapat berubah dengan drastis, secara rasional jawaban tersebut tidak dapat diterima.
Penjelasan lain kemudian muncul, bahwa dalam menulis surat-suratnya (khususnya Pastoral), Paulus menggunakan jasa sekertaris. Paulus kemungkinan pernah menggunakan jasa sekertaris dalam penulisan beberapa suratnya, contohnya dalam surat Roma. Tetapi jawaban tersebut tetap tidak dapat menjelaskan adanya perubahan gaya penulisan dan teologi, serta adanya bahasa atau materi non-Pauline. Selain itu, Paulus tidak pernah mengidikasikan adanya peran sekertaris dalam penulisan surat Pastoral.

Keaslian Surat

Dalam hal keotentikan tidak ada pertanyaan lagi, tidak ada kata yang lebih tepat selain “diragukan” ! Sejak surat ini dikelompokan ke dalam Pastoral Epistles, maka keraguan akan selalu melekat padanya. Archibald Robertson dalam The Origins of Christianity menyebutkan :

As to the Pastorals, most scholars now agree that they are second-century forgeries. They deal with second-century situations. These documents were not written by Paul.

“Sebagaimana dengan Pastoral, kebanyakan sarjana sekarang sependapat bahwa surat-surat tersebut merupakan hasil  pemalsuan di abad kedua. Surat-surat tersebut sesuai dengan situasi abad kedua. Dokumen-dokumen tersebut bukan ditulis oleh Paulus.”

Terlepas dari anggapan kepalsuan surat ini, ada baiknya kita juga menyimak pandangan tradisional terhadap surat ini.
Timotius adalah salah satu pengikut setia Paulus, ia bergabung dengan Paulus pada perjalanan misi kedua, saat itu Paulus mengunjungi Lystra di Galatia (Kis Ras 16:1-4). Ibunya, Eunice adalah Yahudi, dan ayahnya seorang Yunani. Timotius kemudian mendampingi Paulus saat mengadakan misi di Efesus dan sekitarnya.  Saat Paulus menghadiri perayaan paskah di Jerusallem, kaum Yahudi menangkap dan mengirimnya ke Penjara, ini adalah pemenjaraan pertama (Kis Ras 21:18-28:31).  Di penjara, Paulus mengirimkan surat-surat yang disebut dengan Prison Epistles (Efesus, Kolose dan Filemon).  Diduga kuat Paulus masih didampingi oleh Timotius saat menulis surat-surat tersebut. Keterangan mengenai kehidupan Paulus selepas dipenjara tidak jelas, ia kemungkinan melanjutkan perjalanan ke Macedonia, sedangkan Timotius mengunjungi Gereja Efesus. “…Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain (1 Tim 1:3).
Menurut surat Titus, Paulus sempat melanjutkan perjalanan ke pulau Kreta dan meninggalkan Titus di sana dengan beberapa instruksi (Titus 1:5). Kisah perjalanan-perjalanan ini tidak pernah dimuat dalam Kitab Kisah Rasul, sehingga menimbulkan kecurigaan para sarjana. Paulus kemudian mengalami penahanan untuk yang kedua kalinya di Roma sampai akhirnya dihukum mati. Tidak hanya itu, beberapa bapak Gereja awal diketahui sempat memberikan riwayat yang berbeda, Clemens Romanus pada tahun 95 M. menyebutkan bahwa selepas Paulus dipenjara, Ia lalu menyebarkan Injilnya ke barat (Kemungkinan Spanyol berdasarkan Roma 15:28), sedangkan Murratorian Canon juga menguatkan pendapat tersebut.
Tentu saja beberapa kesulitan muncul apabila kita membayangkan Paulus menulis surat ini di penjara, seperti ;

Paulus menulis kepada Timotius, “Berusahalah supaya segera datang kepadaku, (2 Tim 4:9); Berusahalah ke mari sebelum musim dingin (2 Tim 4:21). Kedua ayat ini tampaknya tidak sesuai dengan catatan surat Kolose, Filemon dan Filipi, dimana Paulus tampaknya tidak berada jauh dari Timotius. Mengapa Paulus ingin segera bertemu dengan Timotius padahal ia baru berpisah sebentar dengannya saat bebas dari penjara ?

Dalam 2 Timotius 4:10 dikatakan, “…dan Titus ke Dalmatia”. Ini berarti Titus tidak ditinggalkan Paulus di Kreta seperti yang dikatakan dalam surat Titus ,” Aku telah meninggalkan engkau di Kreta … ( Tit 1:5).

Berdasarkan riwayat yang simpang siur tersebut, maka diputuskan bahwa secara tradisional kemungkinan surat ini ditulis pada periode 62-67 M.. Robertson menetapkan tahun 65 M., sedangkan C.C. Ryrie dan F. Bruce tahun 63 M.. Daerah Macedonia merupakan tempat yang paling memungkinkan sebagai tempat penulisan berdasarkan riwayat tradisional, tetapi tempat yang lebih spesifik tidak dapat ditentukan.

Interpolasi

Surat-surat Pastoral telah menjadi rujukan favorit bagi Gereja-gereja Katolik dimanapun, tetapi beberapa bagian di dalamnya mungkin tidak pernah digunakan dalam ceramah di manapun, dalam hal ini kita akan menyoroti 1 Timotius 2:12-15. Surat ini memuat peraturan-peraturan organisasi gereja ditambah aturan mengenai peranan seorang laki-laki atau perempuan, perhatikanlah bagian-bagian berikut :

Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan. (1 Tim 2:8)

Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,
tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. (1 Tim 2:9-10)

Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. (1 Tim 2:12)

Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan (1 Tim 2:15)

Dalam 1 Timotius 2:15 dikatakan bahwa seorang perempuan akan memperoleh keselamatan melalui peristiwa melahirkan anak. Para sarjana menganggap bagian ini bertentangan dengan ajaran Paulus dalam surat-surat lainnya, dimana ia selalu memproklamirkan “penyelamatan melalui iman”. Tidak hanya itu, dalam bahasa aslinya ayat 15 ini ternyata menggunakan Hapax Legomena dan tidak menggunakan gaya bahasa Pauline. Berbagai interpretasi mungkin telah dilakukan terhadap bagian tersebut, tetapi tampaknya belum dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.

Kebanyakan sarjana tampaknya menetapkan bahwa keseluruhan surat ini sebagai karya non-Pauline, atau setidaknya mencurigai bagian ini sebagai interpolasi. Beberapa sarjana beranggapan bahwa bagian tersebut sengaja dimasukan untuk menyudutkan kaum Montanis.
Kita dapat menemukan adanya pandangan pribadi Paulus terhadap wanita dalam hal ini, perhatikanlah pasal 2:12 di atas. Jelas sekali bahwa si penulis menggunakan kata ganti “aku” yang tidak dapat ditujukan kepada Tuhan. Beberapa sarjana kemudian beranggapan bahwa bagian-bagian yang membicarakan peranan wanita ini sebagai suatu usaha interpolasi  atau bahkan menganggap keseluruhan surat Timotius ini sebagai deutero-Pauline. Dalam beberapa surat utama, Paulus memang sempat mengemukakan kesetaraan antara pria dan wanita,

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”( Gal 3:28)

Interpolasi kedua hanya terdapat dalam Bible edisi King James. Penemu Interpolasi ini tidak lain adalah seorang sarjana terkemuka bernama Sir Isaac Newton. Ia menemukan Interpolasi dalam 1 Timotius 3:16 yang berbunyi :

And without controversy great is the mystery of godliness: God was manifest in the flesh, justified in the Spirit, seen of angels, preached unto the Gentiles, believed on in the world, received up into glory.” (1 Timotius 3:16 KJV)

Kata “God” tidak terdapat pada naskah-naskah Yunani tertua, kebanyakan dari naskah itu memuat kata “who” sebagai pengganti. Sebagai perbandingan, berikut adalah potongan ayat yang sama dalam versi Bible yang berbeda :

King James Version :

God was manifest in the flesh

New International Version :

He Appeard in a body

New American Standard Version :

He who was revealed in the flesh

New World Translation :

He was made manifest in the flesh

Menurut Newton, interpolasi ini dilakukan kubu Athanasius untuk mendukung klaim ketuhanan Yesus yang sangat sulit ditemukan dalam Bible. Perubahan satu kata saja ternyata dapat menimbukan pengartian yang jauh berbeda, lalu bagaimana dengan bagian-bagian lain dalam Bible yang ternyata terbukti sebagai interpolasi, contohnya Markan Appendiks, John 8:1-11 “pericope adulterae”, carmen christi dan lain-lain. Semua ini hanya membuktikan bahwa Bible telah diubah, atau setidaknya pernah diubah. Keduanya sama-sama mengurangi kesucian kitab ini secara umum.
Kini kita tidak akan mempercayai lagi pernyatan para Missionaris yang mengatakan bahwa perubahan yang dialami Bible hanya masalah penerjemahan, tidak merubah substansi dari isi Bible itu sendiri. Tapi seperti yang kita lihat, para perubah Bible tidaklah bodoh, dengan merubah satu kata atau menambah satu kalimat saja ia sudah bisa menciptakan pemahaman baru terhadap substansi yang sebenarnya. Sayangnya usaha tersebut tidak bisa bertahan lama karena suatu saat kebenaran akan terungkap juga.

Surat kepada Jemaat Tessalonika


Kota Tesalonika

Tesalonika merupakan kota terbesar dalam wilayah Macedonia, menempati posisi strategis sebagai pusat kebudayaan dan perekonomian. Karl P. Donfried menyebutkan, Penduduk kota ini terdiri atas berbagai kelompok pemuja pagan. Diantaranya pemuja Isis, Dionisyus, Zeus, Asceptus, Aphrodite, Demeter, tetapi kebanyakan adalah pemuja Kabirus yang merupakan dewa tertinggi kota ini. Pendirian Gereja di kota ini direkam dalam Kisah Rasul 17:1-9, Paulus mendirikanya saat mengadakan perjalanan misinya yang kedua. Saat itu ia didampingi oleh beberapa pengikut setianya (Timotius dan Silas).

Seperti biasa, saat Paulus tiba di Tesalonika, ia segera menuju Sinagoga dan mengajarkan pemikirannya. Bagaimanapun Paulus akan merasa bangga apabila berhasil mendapatkan pengikut dari Yahudi, walaupun dalam perjanjianya dengan para rasul, ia hanya pergi menuju kaum tak bersunat. Kaum Yahudi Tesalonika merasa asing dengan ajaran Paulus, sehingga mereka memutuskan untuk bergabung dengan beberapa penentang Paulus lainnya. Karena situasi telah menjadi begitu menegangkan, Paulus melarikan Timotius dan Silas secara sembunyi-sembunyi pada malam hari menuju Berea. Tetapi Paulus tidak menigaalkan kota ini dengan percuma, ia telah mendirikan suatu gereja atas namanya sendiri. Pendirinya adalah beberapa Gentile, diantaranya Jason (Kis Ras 17:9), Aristarkus dan Secundus (Kis Ras 20:4). Setelah beberapa lama, Paulus mengutus kembali Timotius ke kota ini untuk mengetahui keadaan jemaatnya… Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu (3:2). Paulus menulis surat ini di Korintus, setelah didatangi Timotius yang membawa berita keadaan Gereja di Tesalonika (Kis Ras 18:1-5; 1 Tes. 3:6).

Surat 1 Tesalonika

Surat 1 Tesalonika dikenal sebagai surat tertua yang ditulis Paulus atau dengan nama lain bagian tertua dalam Perjanjian Baru. Tetapi tentunya kita tidak tahu apabila Paulus sempat menghasilkan surat-surat lain sebelum surat ini, tentunya surat-surat tersebut telah hilang dan tidak dimasukan dalam Perjanjian Baru.
Seperti surat Paulus lainnya, keberadaan surat ini diketahui diakui beberapa Bapak gereja awal seperti Clement, Iranaeus dan pastinya Marcion. Dalam hal bukti Internal, pengakuan Paulus dan beberapa ciri khasnya turut menguatkan klaim keotentikan. Beberapa ciri khusus mungkin membedakannya dengan surat Paulus lainnya, seperti diketemukannya suatu pemikiran eskatologi dan berbagai penyebutan terhadap parousia, hal ini tidak umum bagi surat-surat Paulus. Ciri khusus lainnya adalah, tidak ada satupun pengutipan atau perujukan Perjanjian Lama dalam surat ini. Ada sekitar 42 kata yang tak ditemukan dalam tempat lain di Perjanjian Baru (Hapax), dan 20 kata tak terdapat dalam surat Paulus lainnya. Sarjana Radikal seperti Baur dan Schrader seakan-akan tidak pernah absen dalam menyerang keotentikan surat-surat Paulus, kali ini ia menyerang dari sisi sebagai berikut :

Bila membandingkan dengan surat Paulus lainnya, muatan surat ini tidaklah signifikan, memuat lebih dari satu doktrin. Beberapa doktrin eskatologi terkandung dalam surat ini, sedangkan surat utama (Roma dan Galatia) tidak memuatnya.

Surat ini mengungkapkan peningkatan kehidupan Kristen yang kesemuanya tidak mungkin, bila penulisan surat ini hanya berselang beberapa bulan dari pendirian Gereja Tesalonika.

sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.
Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu
.”(Tes 1:7-8)

Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya” (Tes 4:10)

Bagaimana mungkin kabar baik mengenai Gereja Tesalonika tersebar ke penjuru Makekonia padahal Gereja ini baru berdiri beberapa bulan ?   Ataukah Paulus telah berbohong dalam hal ini, untuk menyenangkan jemaatnya ?

Bagian 2:14-16 berkontradiksi dengan Roma pasal 9-11.

Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.
Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi,
karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya
.” (Tes 2:14-16)

Apakah Paulus lupa bahwa dirinya sendirilah yang menjadi penyiksa pengikut Yesus di masa lampau. Selain itu, penyebutan ephthase de ep autous he orge eis telos atau “…dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya” seakan-akan menunjukan pengetahuan terhadap kehancuran kuil Jerusallem yang terjadi tahun 70 M..

Beberapa sarjana kemudian mencurigai bagian 1 Tes 2:13-16 ini sebagai penyisipan non-pauline karena memuat ungkapan anti-semitik, sedangkan Paulus mengakui dirinya sebagai seorang Yahudi Farisi (terkenal akan ketaatannya). Ada dua kemungkinan terhadap pernyataan ini, bila Paulus benar menulisnya, maka klaim Keyahudiannya dapat diragukan. Sedangkan kemungkinan kedua menyebutkan bagian ini merupakan bagian dari usaha interpolasi. Tetapi karena tidak ada dukungan bukti external, kita dapat membuang kemungkinan kedua, sementara tetap berpegang kepada yang pertama. Sampai saat ini begitu banyak bukti yang kita dapatkan dalam menyerang keyahudian Paulus, ia menempatkan dirinya seolah-olah berada di luar kalangan Yahudi dalam berbagai suratnya. Dan tentunya kita harus mempertimbangkan baik-baik pernyataan Paulus dalam suratnya kepada umat Korintus :

Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.”(1 Kor 9:20).

Surat ini sangat bergantung kepada surat Paulus lainnya, khususnya 1 dan 2 Korintus, saat membandingkan   1: 5 dengan I Kor. 2: 4 ;– 1:6 dengan I Kor. 11:1;–2:4 seterusnya dengan I Kor. 2:4; 4:3 seterusnya.; 9:15 seterusnya dengan II Kor. 2:17; 5:11. Mengundang kecurigaan bahwa si penulis adalah orang selain Paulus yang menulis kembali atau membuat ringkasan dari beberapa surat Paulus.

Permasalahan sejarah, Dalam Kisah Rasul disebutkan bahwa Paulus hanya menetap selama “3 sabbath” di kota Tesalonika, sedangkan surat ini mengambarkan bahwa Paulus menetap lebih lama dari itu.  Selain itu, dalam Kisah Rasul 17:4 diriwayatkan bahwa jemaat Gereja Tesalonika kebanyakan terdiri dari kaum Yahudi dan kaum “takut Tuhan”, sedangkan 1 Tes 1:9 mengindikasikan bahwa kebanyakan jemaatnya adalaha gentile. Sebenarnya hal ini mudah untuk dipahami, Kisah Rasul selalu menggambarkan seolah-olah Paulus memiliki kedekatan dengan kaum Yahudi atau Nazarene, sedangkan kenyataan yang berbeda diberikan dalam ekspresi-ekspresi Paulus dalam surat-suratnya. Masalah ini tidak bisa dibiarkan atau hanya meninggalkan berbagai kebingungan-kebingungan lain. Kita harus memilih salah satu sebagai catatan sejarah yang utama mengenai Paulus-apakah melalui surat-suratnya atau melalui Kisah Para Rasul. Tetapi tidak bisa, keduanya seakan-akan melengkapi satu sama lain, Paulus bukanlah siapa-siapa tanpa kitab kisah para Rasul, sedangkan kitab Kisah Rasul juga akan menjadi omong kosong apabila kita menolak riwayat surat-surat Paulus. Mau tidak mau kita harus meneliti keduanya, walaupun dalam hal ini catatan sejarah yang berkontradiksi akan ditemukan.

Walaupun begitu, Seluruh alasan di atas dirasa tidak cukup kuat karena hanya didasarkan pada bukti internal tanpa diperkuat bukti external. Tetapi sejauh ini kita telah membuktikan keunggulan bukti internal diatas bukti eksternal dalam meneliti naskah surat-surat Paulus. Mengenai hal ini ada satu hal yang menarik, yaitu bagian 2:14-16. Kita mendapati pilihan, Bila tidak mengakui keyahudian Paulus, maka kita harus menganggap bagian tersebut sebagai interpolasi non Pauline. Bagian ini tampak tidak sejalan dengan alur surat, terlihat menginterupsi 2:13 dan 2:17. Bagian ini juga memuat ekspresi anti-semitik yang mungkin ditulis orang selain Paulus. Menurut Baur, bagian ini dipengaruhi oleh Kitab Kisah Rasul, dimana di sana kaum Yahudi dianggap selalu menganggu pekerjaan Paulus. Sedangkan sarjana lainnya mempertimbangkan bagian ini sebagai interpolasi non-Pauline yang dilakukan pasca keruntuhan kuil Jerusallem. Berbagai interpretasi telah dilakukan terhadap bagian ini tetapi tetap tidak menghasilkan keputusan yang memuaskan.
Dalam hal kesatuan, beberapa sarjana juga mencurigai bahwa surat ini terdiri atas beberapa surat; surat pertama adalah 1.1-11, 12; 2.17 – 3.4, 11-13; sedangkan surat kedua adalah 3.6-10; 4.13 – 5.11; 4.9-10; 5.23-26, 28 .
Kepastian bahwa seluruh kitab atau surat yang terdapat pada Bible pada saat ini sama susunan atau keadaanya seperti pada masa lalu tampaknya cenderung kepada ketidakmungkinan. Tidak ada yang bisa menjamin klaim tersebut, beberapa orang Kristen mencoba bertahan dengan mengatakan bahwa beberapa varian yang terdapat pada naskah kuno adalah kesalahan daripada penyalinnya. Kesalahan beberapa kata memang dapat ditolerir selama kata tersebut tidaklah penting, tetapi menjadi berbeda keadaanya saat kita membicarakan “kata” tersebut dalam konteks wahyu. Setiap kata adalah wahyu, mengurangi atau menambahkan satu kata saja dapat berarti mengubah suatu wahyu, dalam hal ini seseorang bertindak sebagai Tuhan. Ia tentunya telah melakukan dosa serius. Artinya selama ini telah ada ribuan penyalin yang berdosa karena telah merubah wahyu Tuhan. Tetapi lain halnya apabila kita membicarakan perbedaan kata-perkata ini sebatas dalam konteks tulisan manusia, varian akan lebih dapat ditolerir.

2 Tesalonika

Tempat dan Waktu

Segala keterangan mengenai surat ini hampir sama dengan surat sebelumnya hanya ada beberapa masalah dalam menentukan waktu penulisan surat ini. Apakahurat ini ditulis sebelum, atau sesudah surat 1 Tesalonika. Pandangan tradisional tentu menempatkan waktu penulisan surat ini sesudah surat Tesalonika pertama, tetapi beberapa sarjana modern ada saja yang membantahnya.
Sarjana seperti Grotius, Ewald, Vander Vies dan Laurent mendukung teori bahwa surat ini ditulis sebelum surat 1 Tesalonika. Tetapi teori tersebut tampaknya tidak sesuai dengan pernyataan Paulus pada 2 : 15 :

Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.

Dalam hal penetuan waktu penulisan, tampaknya berada dalam jangka waktu 50-53 M.  Louis Berkhof meyakini tahun 53 M. sedangkan Daniel B. Wallace memastikan tahun 50 M..
Mengenai tempat penulisan, tempat yang paling memungkinkan adalah Korintus. Paulus diduga menulis surat 1 & 2  Tesalonika saat menetap selama setahun enam bulan di sana (Kis Ras 18:11).

Keotentikan

Tidak seperti surat 1 Tesalonika, para sarjana masih meragukan keotentikan surat kedua ini. Bahkan surat 2 Tesalonika dapat dianggap sebagai anggota Corpus Paulinum yang paling meragukan. Dalam hal penilaian, Daniel B. Wallace, kolumnis bagi Bible.org menyusun grafik penilaian keotentikan kumpulan surat-surat Paulus (Corpus Paulinum) sebagai berikut.

Nilai 10 = diterima oleh semua sarjana
Nilai 9   = diterima oleh hampir seluruh sarjana
Nilai 7   = Diterima oleh kebanyakan sarjana
Nilai 5   = diragukan oleh kebanyakan sarjana
Nilai 3   = Ditolak kebanyakan sarjana
Niilai 1  = Ditolak oleh hampir keseluruhan sarjana

Dalam hal ini, surat-surat Paulus dapat dinilai sebagai berikut :

Menempati nilai 10 : Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia (Hauptbriefe)
Menempati nilai 9   : 1 Tesalonika, Filemon
Menempati nilai 7   : Kolose
Menempati nilai 5   : 2 Tesalonika
Menempati nilai 3   : Efesus
Menempati nilai 1   : 1 & 2 Timotius, Titus (Pastoral)

Dari daftar tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa surat 2 Tesalonika ini hanya diterima oleh sebagian kecil sarjana, sebagian besar masih meragukannya. Penolakan dipelopori oleh Schdmit (1804), kemudian diikuti oleh Schrader, Mayerhof, Kern, Baur dll., Beberapa sarjana lain tetap bersikukuh mempertahankan klaim keotentikan surat ini (Reuss, Sabatier, Hofmann, Weiss, Zahn, Julicher, dll.).
Penyerangan terhadap keotentikan dapat dilihat dari sisi berikut :

Dalam hal eskatologi, surat ini memuat pandangan yang berbeda dari surat sebelumnya (1 Tesalonika). Dilihat berdasarkan dua cara; Pertama, menurut surat ini, beberapa tanda akan diperlihatkan menjelang kedatangan Yesus (2 Tes 2:1-12), bertentangan dengan 1 Tesalonika yang tidak menyebutkan apa-apa mengenai hal tersebut (4:13-18; 5:1-11). Kedua, Paulus tidak memasukan dirinya dalam golongan orang suci yang menanti kedatangan Yesus, sedangkan ia mengakuinya dalam surat pertama. Bagian ini sendiri (2 Tes 2:1-12) dicurigai berasal bukan dari Paulus, melainkan dari orang lain yang hidup beberapa waktu setelahnya. Bagian ini tampaknya didasarkan pada kitab wahyu Johannes, sedangkan penyebutan “iblis” dalam bagian ini ditujukan kepada Nero yang menurut kepercayaan orang saat itu,  tidak mati melainkan bersembunyi di suatu daerah di timur,  menanti untuk bisa muncul kembali. Kepercayaan ini , tidak pernah terbukti hingga saat ini. Selain itu, ada yang menduga bahwa bagian ini menggambarkan masa kekuasaan Trajan di akhir abad pertama (Louis Berkhof), sehingga dengan sendirinya menafikan kepenulisan Paulus.

Perbedaan gaya penulisan. Surat ini terlihat lebih formal, dan beberapa ciri khas Pauline tidak ditemukan, sebaliknya terdapat banyak ekspresi-ekspresi yang tidak terdapat dalam anggota Perjanjian Baru lainnya. Contohnya, sambutan penulis pada akhir surat ini tidaklah umum dan berbeda dengan surat Paulus lainnya “Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah tulisanku. (2 Tes 3:17).

Dalam hal materi, terdapat banyak kesamaan dengan surat 1 Tesalonika. Pertanyaan kemudian muncul, bila Paulus menujukan surat ini kepada tujuan yang (jemaat Tesalonika), mengapa ia mengulang kembali materi-materi yang sudah dimuat sebelumnya ? Apakah ia khawatir jemaatnya melupakan pesannya yang terdahulu ?

Berbagai keberatan di atas memang perlu untuk dipertimbangkan kembali, terutama saat menjelaskan status materi eskatologi dalam surat ini. Para sarjana telah berdebat mengenai status bagian ini, tampaknya materi tersebut asing bagi Paulus, dan hanya surat Tesalonika-lah yang memuat materi tersebut. Dalam hal perbedaan gaya, kebanyakan sarjana pendukung keotentikan merasa masalah tersebut tidak perlu diperdebatkan dan dapat memahaminya, sedangkan para sarjana penentang keotentikan menganggap penting masalah ini. Saya pribadi menganggap masalah ini sebagai sesuatu yang penting, tidaklah mungkin apabila Paulus menulis suratnya dengan gaya yang bermacam-macam. Setahu saya, seorang manusia hanya memiliki gaya penulisan yang sama selama hidupnya. Sehingga apabila kita telah dapat memastikan gaya penulisan Paulus, kita juga dapat menolak kepenulisan Paulus pada surat-surat yang menggunakan gaya berbeda (walaupun mengatributkan kepenulisanya kepada Paulus).

Surat kepada Jemaat Kolose

Sejarah

Ini adalah satu lagi anggota kelompok Prison Epistles, surat yang ditulis Paulus saat mendekam di penjara. Sepertihalnya dengan ketiga surat penjara lainnya, tempat penulisan surat ini membuka beberapa kemungkinan, diantaranya Kaisaria atau Roma. Sedangkan pendapat terkuat cenderung kepada Roma sebagai tempat penulisan.

Kolose merupakan kota tetangga dari Efesus, jarak keduanya hanya beberapa jam berjalan kaki. Paulus tidak pernah mendirikan Gereja di kota ini, walaupun ia mungkin pernah mengijakan kaki di kota ini dalam perjalanannya. Pendirian Gereja di Kolose kemungkinan kuat berdasarkan kuatnya pengaruh Paulus di Efesus. Beberapa pengikutnya yang ia tinggalkan di Efesus diduga kuat turut ambil bagian dalam pendirian Gereja Kolose. Salah satu pendiri Gereja di Kolose adalah Epaphras (1:7), ialah yang mengabarkan kepada Paulus (saat dalam tahanan) perihal adanya kaum pengacau di Gereja Kolose. Surat ini tidak terlalu jelas dalam mengungkapkan identitas “kaum” tersebut, diduga karena jemaatnya lebih mengetahui. Beberapa kaum mungkin dapat menjadi kemungkinan, diantaranya adalah ; kaum Essenes, Yahudi, Ebionit, Nazarenes, Gnostis, atau Kabbalis. Beberapa petunjuk diberikan Paulus dalam 2:16-23 :

Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;
semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:
jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;
(kol 2:16-23)

Dalam ayat-ayat tersebut, Paulus memberi beberapa petunjuk mengenai kaum ini. Kita harus ingat bahwa Paulus hanya mengetahui perihal kaum ini melalui Epaphras yang mengunjunginya saat dipenjara. Ciri-ciri kaum tersebut adalah :

  • Mereka menghimbau pengadaan upacara sabat,
  • Melarang beberapa makanan dan minuman,
  • Mereka beribadah  kepada malaikat.

Dari ketiga petunjuk tersebut, dua petunjuk merujuk kepada kaum Yahudi. Kaum Yahudi memang mengadakan sabat dan mengharamkan beberapa makanan dan minuman seperti babi dan arak. Tetapi dalam petujuk ketiga, dikatakan bahwa mereka menyembah malaikat, apakah mereka Yahudi ? Tetapi perlu ditekankan bahwa kaum ini tidak menyerang otoritas Paulus, oleh karena itu kaum Ebionit dan Nazarenes bisa disingkirkan dari kemungkinan. Kaum Gnostis juga harus dikeluarkan karena pemikiran mereka kurang lebih sejalan dengan pemikiran Paulus, mereka juga tidak lagi menerapkan hukum ketat torah. Kaum Gnostis baru berkembang luas di awal abad kedua. Sedangkan kaum Kabalis tidak terlalu menonjol pada saat itu. Pandangan sarjana kebanyakan merujuk kepada kaum Essenes, kaum asketis yang tinggal di daerah tersendiri. Mereka merupakan suatu cabang dari agama Yahudi yang meninggalkan sepenuhnya kehidupan duniawi serta berkonsentrasi terhadap peribadatan. Sebagai pengikut Johannes pembaptis dan memiliki keterikatan dengan kaum Farisi, mereka hidup dalam hukum Yahudi yang keras dan ketat. Sedangkan Paulus alergi terhadap kata “aturan atau hukum” , ia menyatakan :

semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.
Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi
.  (Kol 2:22-23)

Kaum Essenes mungkin merupakan kaum yang cocok terhadap petunjuk-petunjuk di atas. Tetapi ada beberapa hal yang memberatkan, kaum Essenes sepertihalnya dengan kaum Yahudi lainnya, tidak pernah diketahui menyembah malaikat. Bila kata “menyembah” diganti dengan “mengimani” mungkin kita bisa memahami, mengingat tidak ada golongan Yahudi manapun yang menyembah malaikat. Melalui naskah laut mati, diketahui bahwa kaum Essenes memiliki kepercayaan tersendiri terhadap malaikat, berkebalikan dengan Yahudi Saduki yang tidak mempercayai eksistensi malaikat. Tetapi ada suatu hal yang memberatkan, Kaum Essenes hidup dalam suatu lingkungan tersendiri yang berada jauh dari kehidupan perkotaan. Gua Qumran, tempat diketemukanya gulungan naskah mati, merupakan salah satu saksi bisu peninggalan kaum ini. Mereka tidak mungkin merepotkan diri dengan mendatangi Kolose dan membuat kekacauan di sana, kaum Essenes lebih suka berdiam diri di lingkungannya agar dapat beribadah dengan tenang. Kesimpulanya, apapun nama kaum itu, ia bukanlah kaum Nazarenes, Ebionit, Essenes, Gnostik, Kabalis atau  Yahudi manapun. Kaum tersebut hanyalah gerakan kecil yang hanya beraksi di kota Kolose. Paulus tidak pernah mengindikasikan beraksinya kaum ini di kota-kota lainnya.

Keotentikan

Dalam bagian sebelumnya telah disebutkan, “…bila keotentikan surat Efesus diragukan, maka hal yang sama juga akan terjadi pada surat Kolose”. Ternyata kita menemukan beberapa kejanggalan dalam surat Efesus, oleh karena itu keotentikan surat ini dapat pula dipertanyakan. Baur adalah salah seorang yang meragukan keotentikan surat ini, alasanya surat ini memuat ekspresi Gnostis yang telah berkembang. Akan lebih cocok apabila surat ini ditulis pada akhir abad pertama, puluhan tahun setelah kematian Paulus. Teori Baur tidak memiliki dasar yang kuat, kemungkinan penulisan surat ini oleh Paulus tetaplah kuat. Secara gaya, muatan dan komposisi semuanya menunjukan ciri khas Pauline. Selain itu Baur menganggap penyebutan “kaum” pengacau  dalam surat ini mengacu kepada kaum Gnostis pertengahan abad kedua, artinya menguatkan bahwa surat ini ditulis pada masa tersebut. Namun, secara garis besar, beberapa sarjana menyerang keotentikan surat ini dari dua pandangan. Melalui kritik linguistik/literatur dan teologi. Dalam hal linguistik, surat Kolose memuat gaya dan kosa kata yang berbeda dari surat-surat Paulus yang utama (Roma atau Galatia), sekitar 55 kata tidak terdapat pada surat lainnya, ditambah dengan 34 hapax legomena. Tampaknya gaya penulisan Paulus sudah demikian berkembangnya dari saat menulis surat-surat utama. Dalam hal literatur, menurut Mayerhoff surat Kolose ini terlihat sangat bergantung kepada surat Efesus, atau bahkan bisa sebaliknya. Artinya salah satu surat dapat dikatakan palsu dan hanya jiplakan, sedangkan yang satunya lagi berperan sebagai master. Melihat absenya Kristologi khas Pauline, Norman Perrin bahkan memasukan surat ini ke dalam kelompok Deutero-Pauline, surat-surat yang diduga ditulis oleh Paulus, sedangkan waktu penulisanya setelah kematian Paulus. Raymond Brown (An Introduction to the New Testament [New York: Doubleday, 1997], h. 610) menyebutkan,

At the present moment about 60 percent of critical scholarship holds that Paul did not write the letter.”

G.A Wells menyimpulkan dalam karyanya The Historical Evidence for Yesus :

Colossians is judged to have been written not by Paul but by one of his pupils. Paul’s ideas as expressed in Romans (6:3-5) have been greatly modified.

Surat Kolose telah ditetapkan bukan sebagai karya Paulus melainkan salah satu muridnya. Pandangan Paulus dalam surat Roma (6:3-5) telah dimodifikasi dengan hebatnya.

Kita dapat saja mengatakan bahwa perbedaan karakter mungkin saja terjadi, tetapi tidak dengan gaya, seorang penulis akan tetap menggunakan gaya yang sama dalam berbagai karyanya. Dalam hal ini, penelitian gaya penulisan dalam karya-karya (yang dianggap ditulis) Paulus merupakan cara terbaik untuk menetapkan nilai keotentikan. Semua ini hanya membuktikan bahwa intervensi manusia dalam Bible tidak dapat diragukan lagi, kita akan lebih banyak menemukan sifat “manusiawi” daripada “Illahiah” di dalamnya.

Waktu dan Tempat Penulisan

Waktu penulisan sangat bergantung kepada tempat penulisan surat ini. Selama ini Roma diyakini sebagai tempat yang tepat, sedangkan beberapa pendapat lain menyebutkan kota  Efesus atau Kaisaria. Mengingat fakta bahwa surat ini ditulis bersamaan dengan kedua surat lannya (Efesus dan Philemon), maka ketiga surat ini dirulis pada tempat yang sama. Melalui perkiraan Paulus menulis surat ini di Roma (59-61 M.), Maka masuk akal apabila ia merasa pesimis akan pembebasannya. Daniel B. Wallace berusaha menyusun kronologi penulisan surat-surat penjara, dengan anggapan Epaphras dan Epaphroditus merupakan pribadi yang sama.

  1. Setelah ditahan selama dua tahun di Kaisaria, Paulus memohon pembebasan kepada Kaisar sekitar tahun 58 M.. Tampaknya usahanya tidak berhasil, ia malah dipindahkan ke Roma untuk menjalani hukuman (Kis Ras 25:10-12; 27:1). Berita mengenai penangkapan Paulus telah tersebar kepada segenap jemaatnya. Gereja Filipi segera mengirimkan utusan untuk menghiburnya.
  2. Utusan tersebut adalah Epaphroditus, ia segera menuju Roma dengan membawa hadiah-hadiah. Tidak hanya itu, Epaproditus juga membawa berita mengenai keadaan Gerejanya yang diusik kaum tertentu.
  3. Epaphroditus tidak langsung menuju Roma, ia singgah dahulu di Gerejanya, di Kolose. Di Kolose ia menemui suatu golongan tak dikenal yang cukup mengusik Gerejanya. Setelah itu ia langsung menuju Roma.
  4. Saat Epaphroditus sampai di Roma, di sana telah ada Onesimus, budak Filemon yang melarikan diri. Epphroditus memberitakan keadaan terbaru jemaat di Kolose dan keinginan jemaat Filipi untuk dikunjungi Timotius kepada Paulus.
  5. Paulus tidak dapat mengirimkan Timotius, oleh karena itu ia mengutus orang lain bernama Tychicus.
  6. Paulus mengutus Tychicus bersama beberapa suratnya (Surat Filemon, Kolose dan Efesus).
  7. Epaphroditus masih menetap sementara di Roma untuk berisitrahat sebelum kembali menuju Filipi. Dikarenakan situasi yang tidak terlalu genting, ia tidak perlu terburu-buru kembali ke kotanya.
  8. Epaphroditus mengalami sakit, sehinga perjalanannya menuju Filipi tertunda berbulan-bulan.

Surat-surat dalam Bible tidak muncul dengan sendirinya melainkan melalui proses tersendiri tergantung keadaan saat itu. Khusus surat-surat Paulus, para sarjana berusaha untuk membuat kronologi pembuatan surat-surat tersebut, tentu saja dengan asumsi tiadanya peranan roh kudus. Terlepas dari kronologi tersebut, Sejauh ini kita hanya bisa membuktikan bahwa tidak ada satupun surat Paulus yang terlepas dari keraguan, dan keraguan tersebut muncul dari kalangan sarjana Kristen sendiri. Dalam hal ini kita harus berada pada pihak yang objektif, tidak perlu membantah seluruh kepenulisannya secara radikal.

SURAT KEPADA JEMAAT FILIPI

Keotentikan

Surat pendek ini termasuk ke dalam kelompok “Prison Epistles”, surat yang ditulis saat Paulus berada dalam penjara (Fil. 1:7-13), sekitar tahun 61-62 M.. Tidak banyak yang bisa dikomentari mengenai surat ini, selain mempertimbangkan beberapa kritik yang dilontarkan beberapa sarjana modern. Surat ini mengandung sekitar 40 Hapax Legomena, jumlah yang relatif sedikit bagi surat sepanjang 4 pasal ini. Tetapi semua itu tidak membuatnya kebal akan kritik. Penolakan beberapa sarjana, khususnya Baur terhadap kepenulisan Paulus dalam surat ini didasarkan pada penyebutan  “pemilik jemaat (uskup) dan diaken (deacon) dalam pembukaan surat ini (1:1) yang menurutnya kedua istilah tersebut belum dikenal pada zaman Paulus, melainkan baru dikenal saat Gereja telah berkembang. Selain itu Baur juga menyoroti bagian kenosis atau Carmen Kristi pada pasal 2:6-11 yang dianggapnya sebagai pemikiran Kristologi yang telah berkembang, belum dikenal pada masa Paulus. Baur dalam komentarnya mengatakan :

“The Epistles to the Colossians and to the Philippians … are spurious, and were written by the Catholic school near the end of the second century, to heal the strife between the Jew and the Gentile factions”

“Surat kepada jemaat Kolose dan Filipi… adalah palsu, dan ditulis oleh sekolah Katolik sekitar akhir abad kedua, untuk meredakan pertentangan antara kelompok Yahudi dan Gentile”

Kemudian munculah seorang Holsten yang turut menolak keotentikan surat ini. Ia menggunakan alasan yang berbeda dengan yang dipakai oleh Baur. Ia lebih memperhatikan perbedaan pemikiran yang dimuat surat ini dibandingkan dengan surat Paulus lainnya. Contohnya, Konsep pra-eksistensi Yesus dalam 2:6-11 tampak berlawanan dengan konsep yang terdapat pada 1 Kor 15:45-49. Kedua, terdapat perbedaan mencolok antara pasal 3:6 dengan Roma 7:21, dalam bagian pertama dinyatakan bahwa  penulis adalah orang tak berdosa, sedangkan pada bagian kedua  disebutkan mengenai penulis yang dapat dipengaruhi setan. Bandingkanlah kedua bagian tersebut,

“tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Fil 3:6)

“Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (Rom 7:21)

Ketiga, pandangan Paulus terhadap Injil-injil lain dalam pasal 1:15-18 berbeda dengan 2 Kor 11:1-4, dan khususnya Gal. 1:8-9. Dalam bagian pertama, Paulus tampak bahagia perihal adanya Injil-injil lain, sedangkan pada bagian kedua Paulus mengutuk habis-habisan pembawa Injil lain.
Sebenarnya kita tidak aneh lagi saat mendengar pernyataan yang tidak konsisten dari Paulus mengingat pendiriannya selalu berubah sesuai keadaan. Ia dapat sata mengakui satu hal dan menyangkalnya pada lain waktu.

Gereja Filipi

Filipi (Philippi) terletak 10 mil dari pelabuhan Neapolis. Filipi merupakan salah satu kota terpenting di Macedonia. Kota tersebut didirikan oleh Phillip dari Macedon, ayah Alexander agung. Setelah mengalami perang demi perang, akhirnya kota ini jatuh dalam kekuasaan Oktavius (Kis Ras 16:12). Berkembang menjadi tempat tinggal bagi veteran perang Romawi, mereka menikmati berbagai fasilitas mewah di kota ini. Selanjutnya kota ini akan berkembang menjadi  kota Romawi yang penduduknya menggunakan bahasa latin.

Kota Filipi merupakan tempat pertama di Eropa, dimana Paulus memulai misinya (Kis Ras 16: 11-40) sekitar tahun 52 M.. Paulus mencapai kesuksesan dalam melakukan misi di kota ini, karena jumlah orang Yahudi di sana sangatlah sedikit dibadingkan dengan kaum Gentile. Mereka bahkan tidak memiliki tempat ibadah tersendiri (Sinagoga). Paulus mendapatkan pinjaman tempat dari pengikut barunya yang bernama Lydia, tempat yang berupa rumah sakit tersebut nantinya akan menjadi Gereja Paulus yang pertama. Menurut Kitab Kisah Rasul, Keberadaan Paulus di Filipi tidak selamanya mulus, ia sempat mengalami penyiksaan, pemenjaraan, tetapi bisa selamat akibat gempa bumi. Sepeninggal dari Filipi, Paulus mengutus Timotius dan Lukas untuk menetap dan berdakwah di sana, demi pelanjutan pendirian Gereja. Mengetahui bahwasanya Paulus ditahan oleh otoritas Roma, Gereja Filipi nantinya akan mengutus seseorang bernama Epaphroditus kepadanya. Ia dibekali dengan berbagai bekal dan hadiah sebagai bentuk penghormatan Gereja Filipi terhadap Paulus. Saat Epaphroditus kembali dari perjalanannya, Paulus menitipkan padanya sebuah surat, yang tidak lain adalah surat ini.

Penjara mana ?

Jelas bahwa Paulus menulis surat ini di penjara, tapi di penjara mana ? Paulus pernah beberapa kali mengalami pemenjaraan, sekali di Filipi, Kaisaria dan di Roma. Sedangkan mengenai surat ini, setidaknya Prof. Daniel B. Wallace mencatat tiga kemungkinan tempat penulisan; Efesus, Kaisaria dan Roma.

1. Efesus

Meskipun tidak pernah ada catatan mengenai pemenjaraan Paulus di  Efesus, Guthrie mempercayai bahwa Paulus menulis surat ini disana. Kemudian, sejak ia menemukan banyaknya hubungan surat-menyurat antara Paulus dengan jemaat Filipi, maka Roma sebagai tempat penulisan dirasa tidak memungkinkan. Jarak kota Filipi dengan Roma sangatlah jauh, perlu perjalanan berbulan-bulan untuk bisa pulang-pergi ke tempat tersebut. Akan lebih masuk akal apabila Paulus menulis surat ini di  Efesus yang tidak terlalu jauh dari Filipi. Teori ini dirasa lemah, karena tidak ada dukungan dari Kitab Kisah Rasul, yang tidak pernah menceritakan perihal penahanan Paulus di  Efesus. Tetapi kita juga harus ingat, Kisah Rasul tidak mencatat kehidupan Paulus secara keseluruhan, beberapa kunjungan dan perisitwa diyakini tidak diceritakan. Selain itu para sarjana berpendapat, Paulus pernah dipenjara lebih sering dari catatan Lukas.

2. Kaisaria

Pandangan ini dikemukakan oleh bebepara sarjana Kristen, terutama yang menentang teori “ Efesus”. Perlu diketahui bahwa jarak Kaisaria dengan Filipi kurang lebih sama dengan Roma ke kota Filipi, sehingga kita tidak bisa menggunakan alasan jarak dalam kasus ini. Setidaknya ada dua dasar yang menguatkan teori ini. (1) Penyebutan “istana”dan “praetorium” dalam 1:13, mungkin merujuk kepada istana yang terdapat di Kaisaria. (2) Terdapat catatan dalam Kisah Rasul mengenai pemenjaraan Paulus selama dua tahun di Kaisaria.
Saat dipenjara di Kaisaria, Paulus tidak menghadapi hukuman mati, ia hanya perlu untuk memohon pembebasan kepada Kaisar (Kis Ras  26:32). Sedangkan dalam surat ini, Paulus kerap membicarakan mengenai kemungkinannya untuk mati maupun bebas (1:20-25 2:24), semua itu menunjukan bahwa Roma merupakan tempat yang paling cocok.

3. Roma

Pandangan tradisional selama ini menyebutkan bahwa Paulus menulis surat ini selama penahanannya di Roma. Tidak seperti pandangan tradisional umumnya yang tidak memiliki dasar yang kuat, tampaknya kali ini berbeda. Penahanan di Roma tampaknya merupakan teori yang paling kuat dalah hal ini. Paulus diketahui sempat mendekam  di penjara Roma selama dua tahun, selama itu ia mungkin dapat berkorespondensi dengan jemaat Filipi beberapa kali. Hal ini dapat menjelaskan keberatan Guthrie mengenai jarak jauh antara Roma dan Filipi. Beberapa bukti internal turut mendukung teori ini.

Carmen Kristi

Sejak kesatuan surat Roma dan 2 Korintus dapat dipertanyakan, maka hal sama dapat dilakukan pada surat ini. Kali ini kita akan mempermasalahkan pasal 3 dan bagian yang dikenal sebagai Carmen Kristi (Fil. 2:6-11).

Banyak sarjana mencurigai pasal 3 surat ini sebagai fragmen dari surat yang terpisah. Walaupun kebanyakan dari mereka mengakui keotentikan surat ini, dalam hal kesatuan surat tampaknya masih dipermasalahkan. Setidaknya menurut Daniel B. Wallace, ada empat point yang mendukung teori ini, (1) Nada Pasal 3 cukup berbeda dengan bagian lainnya. Alasan seperti ini kita pernah gunakan saat membicarakan kasus 2 Korintus, yang dicurigai mengandung beberapa surat berbeda. (2) 3:1 dimulai dengan kata “akhirnya”, tetapi ternyata Paulus masih meneruskan suratnya hingga 2 pasal selanjutnya. (3) mengapa Paulus harus menunggu hingga akhir surat (4:10-20) untuk berterima kasih kepada jemaat Filipi. Dan (4) Polycrap pernah menyebutkan perihal surat-surat yang pernah dikirim Paulus kepada jemaat Filipi, artinya Paulus tidak hanya mengirim satu surat untuk jemaat Filipi, melainkan lebih. Sayangnya, teori ini tidak diperkuat oleh bukti external, tidak ada manuskrip yang memuat surat ini secara bagian-perbagian. Walaupun tidak didukung bukti eksternal yang kuat, melainkan melalui bukti internal para sarjana dapat mempercayai bahwa surat tersebut merupakan gabungan beberapa surat. Salah satunya Archibald Robertson dalam The Origins of Christianity, ia menyebutkan :

“Philippians is composed of three letter fragments crudely joined together”

Bagian Carmen Kristi terdapat di pasal dua ayat 6 sampai 11. Bagian ini berisikan puji-pujian terhadap Yesus yang tampak janggal saat digunakan oleh Paulus. Ada tiga kemungkinan yang dapat diterapkan kepada bagian ini. (1) Paulus adalah penulisnya; (2) Paulus mengutip puji-pujian buatan orang lain; atau (3) Hymne ini merupakan interpolasi dan berasal dari sumber non-Pauline.  Jelas sekali, materi yang terdapat dalam bagian ini menunjukan hal baru. Baru kali ini Paulus memasukan Hymne dalam suratnya. Kemungkinan terbesar, Paulus mendapatkan materi ini dari sumber asing, tetapi ia kemudian memodifikasinya agar cocok dengan bagian lain suratnya.  Cf. R. P. Martin’s dalam Carmen Christi, second edition menyebutkan,

“Our suggestion is that Paul incorporated this hymn, with some modifications, into his letter to the Philippians”

Kesimpulannya, bahkan surat pendek Paulus pun tidak luput dari permasalahan dan keraguan akan keotentikannya. Umat Kristen boleh saja menentang segala keberatan terhadap keotentikan surat-surat Paulus, tetapi para sarjana mereka sendiri yang telah membuktikan hal tersebut. Pada umumnya umat Kristen menerima keotentikan seluruh surat Paulus secara dogmatis, tanpa mengetahui latar belakang penulisan surat tersebut, padahal di sanalah terdapat banyak permasalahan.