Surat-Surat Johannes (1,2 dan 3 Johannes)

Penulis

Sebenarnya surat pertama Johannes ini tidak memberikan petunjuk apapun terhadap identitas penulisnya, satu-satunya petunjuk didapat dari surat kedua dan ketiga, dimana si penulis menyebut dirinya sebagai seorang “penatua”. Tradisi awal menyebutkan bahwa Johannes anak Zabedee sebagai penulis surat ini, tetapi klaim ini mendapat perlawanan keras dari banyak sarjana modern. Saat kita menyebutkan Johannes anak Zabedee, yang juga menurut pandangan tradisonal sebagai penulis Injil Johannes, turut menulis ketiga surat ini. Kita harus menghadapi beberapa permasalahan penting. Pertama-tama, tidak ada satupun penyebutan nama “Johannes” dalam surat ini, begitu pula dengan frase “murid yang terkasih”, frase favorit pada Injil Johannes. Penulis surat ini hanya menyebut dirinya sebagai seorang penatua atau pemimpin umat. Lalu darimana klaim kepenulisan Johannes atas ketiga surat ini berasal ? Klaim tersebut ternyata berasal dari beberapa Bapak Gereja Awal tidak kurang pada abad kedua. Riwayat mengenai identitas penulis surat diawali dari pengakuan Iranaeus, seorang murid Polycarp.

Surat 1 Johannes ditujukan untuk menghadang ajaran sesat yang akan memasuki Gereja. Sang penulis berbicara dengan gaya otoritatif, hampir seperti James, menandakan bahwa ia adalah orang yang sangat dikenal jemaatnya (penerima surat).  Sarjana konservatif tidak akan ragu-ragu untuk menisbahkan penulisan surat ini kepada Rasul Johannes, sedangkan sarjana liberal menyangkal pandangan tersebut, mereka menyoroti perbedaan gaya dan teologi yang terdapat antara surat ini dengan Injil Johannes yang diduga ditulis oleh orang yang sama. W. Wall Harris , Th.M., Ph.D. ,seorang pengisi artikel di Bible.org, memberikan daftar orang-orang yang memiliki kemungkinan sebagai penulis surat 1 Johannes ini disamping Rasul Johannes, mereka adalah Johannes “sang penatua”, murid-murid Johannes, atau seorang pemimpin dalam komunitas Johannine.

  1. Johannes “sang penatua” (John the Elder)

Orang ini tampil sebagai alternatif saat kepenulisan Rasul Johannes disangkal. Sejak ketiga surat Johannes diduga ditulis oleh orang yang sama, dan dalam kedua surat terakhir penulisnya mengaku sebagai seorang penatua, nama Johannes “sang penatua” mulai muncul. Berbagai riwayat Papias dan Eusebius tampak membedakan dirinya dengan  Rasul Johannes atau sang anak Zabedee.

Dengan asumsi penulis Injil dan surat-surat Johannes sebagai orang yang sama, nama Johannes “sang penatua” juga dapat dipertimbangkan. Dalam bab sebelumnya yang membahas khusus mengenai Injil Johannes dapat ditemukan berbagai kesulitan untuk dapat mengakui kepenulisan Rasul Johannes, dan kesimpulan akhirnya lebih cenderung kepada murid-murid Johannes.

  1. Pengikut Rasul Johannes

Sejak kemungkinan penulisan apostolik Injil Johannes disangkal dan petunjuk lebih cenderung kepada pengikut atau orang-orang dari di komunitas Johannes.  Adalah sangat mungkin apabila penulis surat ini adalah murid dari Rasul Johannes, mungkin di Efesus. Surat ini ditulis dalam bahasa Yunani dan mustahil apabila Rasul Johannes yang menulisnya, ia hanyalah anak seorang Zabedee yang berprofesi sebagai nelayan Galilea biasa. Waktu penulisan surat ini juga diduga tidak berlangsung lama setelah Injil Johannes ditulis, yaitu sekitar tahun 90-117 M.. Johannes pastilah berumur seratus tahun lebih saat menulis surat ini, dan akan lebih logis apabila baik Injil dan Surat Johannes ditulis oleh salah satu murid Johannes.

  1. Seorang pemimpin dalam komunitas Johannine

Telah disebutkan sebelumnya bahwa surat Johannes ini berbicara dalam gaya dan otoritatif, dan di pihak lain si penulis menyebut diriya sebagai penatua (presbyter), tidak sebagai Rasul ! Semua ini menunjukan wujud kekuasaan dari si penulis, walaupun dua surat terakhirnya tidak ditujukan kepada suatu jemaat, melainkan kepada seorang wanita dan teman. Ia dipastikan tidak berasal dari lingkungan apostolik karena tidak ada indikasi terhadap kesaksian kehidupan Jesus secara langsung, ia pastilah berasal dari lingkungan post-apotolik.

Siapapun penulisnya, ia pastilah bukan Rasul Johannes. Mengapa ia harus menutupi gelar “Rasul”-nya dan menggantinya dengan gelar Penatua, gelar yang lebih rendah dan hanya dikenal dalam Gereja-gereja Paulus. Bukankah Petrus dan James dalam suratnya secara tidak ragu-ragu mengakui kerasulannya ? Mengapa Johannes harus malu-malu dalam mengakui kerasulannya ? Dan mengapa ia tidak menyebut dirinya sebagai “murid yang terkasihi“ dalam surat ini ?

Johannine Comma (1 Johannes 5:7)

 

          Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. ( 1 Johannes 5:7-8 , versi Terjemahan Baru)

Ayat tersebut (yang berada dalam kurung) menjadi begitu penting sejak memuat dasar doktrin Trinitas di dalamnya. Tidak ada bagian lain dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang begitu jelasnya memuat konsep Trinitas selain pada bagian di atas. Adalah suatu fakta bahwa bagian tersebut ternyata dipastikan sebagai palsu, disusupkan oleh penulis tak dikenal ke dalam naskah Bible yang asli. Para sarjana mengenal bagian tersebut dengan istilah “Comma Johanneum” atau Johannine Comma. Ayat ini hanya muncul pada Bible versi King James yang terbit pada abad keenam belas, berbagai edisi dan versi Bible yang terbit setelahnya menghilangkan bagian tersebut, termasuk NIV, NASB, RSV, NRSV dan versi kesaksian Jehovah. Selama berabad-abad umat Kristen menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap Trinitas dan ternyata para sarjana mereka sendiri yang membuktikan kepalsuan ayat ini. Sejak ribuan naskah Yunani ditemukan, tidak ada satupun yang memuat ayat ini, termasuk naskah-naskah  Syria, Koptik, Armenia, Ethiopik, Arabik, dan Slavonik. Beberapa naskan Latin memasukannya, tetapi naskah Latin kuno yang dibuat oleh beberapa Bapak Gereja awal ternyata menghilangkanya, bahkan Jerome tidak memasukanya dalam latin Vulgate, naskah vulgate yang memuatnya hanyalah salinan dari naskah vulgate yang asli.

Comma tidak pernah bisa menghindar dari serangan para sarjana, bahkan sejak abad kedelapan belas, dimana Isaac Newton yang telah mempelajari naskah-naskah terdahulu menemukan bahwa, tidak ada satupun bapak Gereja Awal sebeum abad keempat yang pernah mengutip bagian penting tersebut. Menurut Newton, ayat ini pertama kali muncul pada edisi ketiga Perjanjian Baru (Textus Receptus) susunan Erasmus (1466-1536), sedangkan pada dua edisi sebelumnya ia tidak memasukan ayat tersebut. Saat Erasmus menerbitkan edisi Perjanjian Baru pertamanya yang menghilangkan Comma, kehebohan terjadi, ia diserang habis-habisan oleh Gereja dan umat Kristiani saat itu, sebelumnya ia memang berjanji akan menambahkan bagian ini, bila telah berhasil menemukan satu saja naskah Yunani yang memuatnya. Erasmus ternyata tidak dapat menemukan satupun naskah Yunani yang memuat Johannine Comma, dan akibat tekanan yang diterimanya ia beralih kepada latin vulgate yang memang memuat bagian tersebut, ia kemudian memasukan Comma ini pada edisi ketiga perjanjian barunya. Menurut Randall Duane Hughes dalam analisisnya terhadap Johannine Comma, Pemasukan Comma oleh Erasmus pada edisi ketiga Perjanjian Barunya sekitar tahun 1522 disebabkan oleh tekanan luar dan demi menjaga kredibilitasnya.

Anyone who uses a recent scholarly version of the NT will see that
these words on the Trinity are not in verse 7. This is because they
have no basis in the Greek text. Under Roman Catholic pressure, Erasmus inserted them from the Latin Vulgate. They are not a part of the
inspired Bible” (Word Meanings in the NT, Ralph Earle. P. 452)

Dari beberapa naskah yang memuat Johannine Comma, Ayat ini pertama kali muncul pada sekitar abad kesepuluh (codex 221), ditempatkan dalam margin yang terpisah dari naskah asli, menandakan bahwa bagian ini baru ditambahkan kemudian (bukan berarti ditulis bersamaan dengan bagian aslinya), dan tentunya bukan merupakan bagian dari naskah asli. Limaratus tahun kemudian, baru ayat ini muncul kembali pada naskah-naskah yang dibuat pada abad kelima belas, perlu diketahui bahwa naskah-naskah baru ini diproduksi paska Erasmus menerbitkan  edisi ketiga Perjanjian Barunya.   Bruce Metzger dalam karyanya, “The Text of the New Testament”, h.101 menggambarkan jejak penyusupan bagian ini sehingga dapat masuk ke dalam Textus Receptus, naskah awal Bible versi King James.

Manuscrip

Date

Posisi dalam naskah

MS 221

Abad kesepuluh

 Dalam margin (yang terpisah)

MS 635 atau 636?

Abad kesebelas

 Dalam margin, ditulis pada abad ketujuh belas

MS 88

Abad kedua belas

 Dalam Margin, ditambahkan pada jaman modern

MS 429

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam margin, ditambahkan pada abad-abad selanjutnya

MS 629

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam naskah

MS 61

Abad keenam belas

 Dalam naskah

MS 918

Abad keenam belas

Dalam naskah

MS 2318

Abad keenam belas

Dalam naskah

Bruce Metzger tampaknya sudah cukup jelas dalam menggambarkan jejak sejak kapan ayat ini bisa masuk ke dalam naskah Bible, ternyata ayat ini baru muncul pada sekitar abad kelima belas hingga keenam belas ! Seperti halnya dengan NIV Study Bible saat mengomentari bagian ini :

is not found in any Greek manuscript or New Testament translation prior to the 16th century.”

Secara singkat ada beberapa argumen yang diberikan Bruce Metzger beberapa sarjana lain dalam menguatkan pandangan bahwa ayat ini bukanlah bagian dari naskah aslisuratpertama Johannes :

  1. Johannine Comma tidak terdapat pada seluruh naskah berbahasa Yunani kecuali empat buah, yang kesemuanya merupakan terjemahan dari Vulgate . Empat manuskrip tersebut adalah ms. 61 (abad ke-16), ms. 88 (abad ke-18), dimana bagian ini terdapat pada margin yang terpisah dan ditulis pada abad-abad selanjutnya, ms. 629 (abad ke-14) dan ms.635 (abad ke-17), terdapat dalam margin.
  1. Bagian ini tidak pernah dikutip oleh bapak Gereja Yunani manapun, yang bila mereka benar-benar mengetahuinya, mereka akan menggunakanya untuk dalam perdebata masalah Trinitas (antara kaum Arian dan Sabellian). Pemunculan pertamanya dalam bahasa Yunani adalah pada “Acts of the Lateran Council”, catatan konsili Lateran yang merupakan terjemahan dari bahasa latin pada tahun 1215.
  1. Selain dihilangkan pada berbagai naskah Yunani, Comma juga dihilangkan dari berbagai naskah lainnya, terkecuali Latin. Dalam vulgate sendiri, bagian ini baru muncul pada salinan-salinan yang dibuat pada sekitar abad ketujuh masehi di daerah Spanyol. Tidak ada alasan yang kuat bagi penghilangan ayat ini pada naskah-naskah tersebut, andaikata bagian ini merupakan anggota dari naskah aslisurat Johannes.
  1. Konsep Bahwa Bapa, Firman dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan tidak terdapat pada karya-karya lain yang dianggap ditulis juga oleh Johannes. Satu-satunya ayat yang dianggap memiliki kesamaan dengan konsep di atas adalah Johannes 1:1-5, tetapi bila diperhatikan lebih jauh kedua konsep tersebut (Comma dan Johannes 1:1-5), tidak ada kesamaan di antara keduanya, Johannes 1:1-5 mungkin membicarakan “firman dan Tuhan”, tetapi tidak sedikitpun menyinggung “Bapa dan Roh Kudus”. Konsep Trinitas yang dikandung comma belum dikenal saatsurat ini ditulis (dengan asumsi Johannes yang menulisnya), konsep tersebut baru muncul pada abad ketiga dan keempat.

Pertanyaan mungkin muncul, bagaimana bisa Johannine Comma hanya dimuat oleh naskah versi Latin sementara dihilangkan oleh versi lainnya. Untuk menjawab persoalan ini, Bruce Metzger sebagaimana dengan Dr. Herbert W. Armstrong  mengajak kita kembali ke abad keempat.  Menurut kedua sarjana tersebut, ayat ini ditambahkan ke dalam latin Vulgate pada abad keempat, dengan tujuan tidak lain untuk menempatkan dalil Trinitas dalam Bible, hal ini begitu penting untuk dilakukan oleh penganut Trinitarian, atau mereka harus mengalah dalam perdebatan-perdebatan dengan kaum Arian yang menyangkal ketuhanan Trinitas. F. H. A. Scrivener dalam karyanya “A Plain Introduction to the Criticism of the New Testament”, h.165 menyebutkan :

We need not hesitate to declare our conviction that the disputed words were not written by St. John: that they were originally brought into Latin copies in Africa from the margin, where they had been placed as a pious and orthodox gloss on ver. 1Jo 5:8: that from the Latin they crept into two or three late Greek codices, and thence into the printed Greek text, a place to which they had no rightful claim.”

“Kita tidak boleh ragu dalam mengumumkan keyakinan kita bahwa bagian yang diperselisihkan tersebut bukanlah tulisan dari St. Johannes : bahwa bagian tersebut pada asalnya berada dalam margin pada salinan-salinan naskah latin di Afrika, mereka telah ditempatkan sebagai komentar othodox dan saleh diatas 1 Johannes 5:8: Melalui naskah Latin bagian tersebut bergerak ke dalam dua atau tiga naskah Yunani, dan kemudian masuk ke dalam naskah Yunani yang dicetak, sebuah tempat yang tidak dapat diklaim oleh mereka”.

Lalu kita akan menuju pertanyaan mendasar lain, bila benar bagian ini baru muncul pada abad keempat, siapakah orang yang menciptakannya ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan langsung menyoroti seorang tokoh heretis abad keempat bernama Prsicillian, yang juga merupakan seorang bapak Gereja latin. Ia diduga sebagai orang pertama yang menyebutkan Johannine Comma dalam karyanya “Liber apologeticus”, tetapi tidak ada bukti bahwa ia medasarkan penyataanya kepada naskah surat Johannes pertama.  Penyebutan-penyebutan berikutnya terdapat pada traktat-traktat yang digunakan untuk mempertahankan paham ortodoks Trinitas, perlu diingat bahwa pada masa itu paham Trinitas belum dapat diterima semua orang dan mendapat serangan dari paham Arian. Selanjutnya Comma digunakan oleh beberapa uskup Afrika Utara yang mendukung Trinitas. Naskah-naskah salinan Vulgate yang memuat interpolasi comma lama-kelamaan diakui sebagai kitab suci, Erasmus menggunakan naskah-naskah tersebut dan kemudian menjadi dasar bagi penyusunan Bible versi King James. Ada benang merah yang bsa kita dapat dari keterangan di atas, bahwa ternyata kemenangan paham Trinitas di kalangan umat Kristen didasarkan kepada ayat yang bukan merupakan anggota dari kitab sucinya, comma yang tadinya hanya merupakan penafsiran, tiba-tiba bisa memasuki naskah asli Bible.  Robert M. Grant menyetbukan :

To this mysterious but not theologically useful passage a Spanish
Pricillianist in the late fourth century added explicitly trinitarian
language so that it would mention three witnesses “on earth” and end
thus: “And there are three witnesses in heaven, the Father, the Word,
and the Spirit, and these three are one.” The addition is suitable in a
Johannine context, for it refers to the Logos as John does and is
ultimately based on “I and the Father are one” (John 10:30).
Unfortunately it is not genuine, since it appears in no old manuscript
or versions or in any early [church] fathers
” (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

“Mengenai bagian misterius tetapi tidak berguna secara teologi ini kaum Prisscilllian Spanyol pada akhir abad keempat menambahkan bahasa Trinitas secara eksplisit sehingga akan menyebutkan perihal tiga saksi “di dunia” dan sehingga akhirnya menjadi : “ dan ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga, yaitu Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” Penambahan ini cocok dengan konteks Johannine, untuk merujuk kepada Logos seperti yang pernah disebutkan oleh Johannes dan didasarkan pada “saya dan Bapa adalah satu” (John 10:30). Sayangnya bagian ini tidak asli, secara tidak ditemukanya pemunculan pada seluruh manuskrip kuno atau versi atau satu pun Bapak Gereja awal”  (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

Buku “The True Bible Code” memiliki pandangan tersendiri terhadap pencipta interpolasi “Johannine comma” ini, disana (h. 234) disebutkan :

The underlined part in the King James Version of 1 John 5:7 above is therefore a fraudulent addition to the Holy Scriptures by, well, satan basically

Umat Kristen secara umum tentunya akan mengalami posisi yang dilematis dalam menghadapi masalah ini. Seperti yang kita ketahui, Bible ternyata hanya memiliki sangat sedikit perujukan terhadap konsep Trinitas, pondasi utama bagi agama Kristen, dan ternyata salah satu perujukan terkuat bagi konsep tersebut disepakati sebagai palsu tidak lain oleh para sarjana di kalangan mereka sendiri. Bukan hanya itu saja masalah mereka, masalah ini membuktikan bahwa naskah Bible sangatlah rawan akan penyusupan atau interpolasi. Siapapun yang menyusupkan comma ke dalam naskah Johannes ini, ia tidak bisa disebut sebagai orang yang terinspirasi. Bila ia memang mendapatkan inspirasinya melalui “roh kudus”, mengapa ia harus memasukannya terhadap karya orang lain, mengapa ia tdak membuat satu suratatau kitab tersendiri yang terpisah ?

Sekolah Kolonial di Bandung : OSVIA dan KWEEKSCHOOL

Dimuat juga di : http://aleut.wordpress.com

 

Beberapa waktu yang lalu komunitas Aleut mengadakan perjalanan menyusuri bekas-bekas bangunan yang pernah digunakan sebagai sekolah di masa Kolonial, sebagian besar bangunan ini masih tetap berfungsi sebagai sekolah hingga saat ini. Sayangnya, saya tidak dapat mengikuti perjalanan ini karena diserang penyakit yang tak dikenal, tapi yang paling mengganggu saya adalah penyakit kegantengan ini… hahaha (hueekk)

 

Tapi biarlah, karena sy gak bisa share di perjalanan maka saya share lewat tulisan aja, dikit mengenai sejarah pendidikan kolonial, khususnya dua bangunan tertua yaitu OSVIA dan KWEEKSCHOOL yang jejaknya masih bisa kita lihat di Bandung ini. Maka beruntunglah yang tinggal di Bandung. Oke langsung aja deh…

 

Pendirian sekolah untuk Pribumi tampaknya baru dimulai saat sang Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan regen-regen di Jawa bagian utara dan timur untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi, tujuannya agar mereka mematuhi adat dan kebiasaan sendiri. Kebijakan ini diteruskan oleh Gubernur Jenderan Van Der Capellen (1819-1823) namun hasil yang diharapkan tidak pernah terwujud. Hingga tahun 1849 anya ada dua sekolah yang didirikan regen yang aktif. Pemerintah Hindia Belanda saat itu juga tengah disibukan berbagai pemberontakan yang mengabiskan kas. Sehingga saat residen Bandung dan Krawang meminta F.30,- dan F.20,- untuk biaya menggaji guru, permohonan mereka ditolak.

 

Kemudian muncullah Van den Bosch lewat kebijakan “cultuurstelsel”-nya yang memeras tenaga penduduk hingga keringat penghabisan. Untuk mensukseskan program ini, Van den Bosch membutuhkan tenaga-tenaga pribumi sebagai pegawai rendahan yang murah untuk menjaga perkebunan pemerintah. Para pegawai ini sedapatnya dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang memang sudah memiliki kekuasaan secara tradisional. Tahun 1931 sang Gubernur Jenderal mengeluarkan surat edaran untuk pendirian Sekolah dasar negeri di tiap-tiap karasidenan atas biaya Persekutuan Injil (Bijbelgenootschap). Tapi di lapangan kebijakan ini tidak berjalan. Barulah setelah Raja Belanda turun tangan lewat Keputusan Nomor 95 tanggal 30 September 1848 yang memberi wewenang kepada Gubernur Jenderal untuk untuk menganggarkan dana sebesar f.25.000,- setahun bagi pendirian sekolah bumiputera, kaum pribumi mulai dapat merasakan pendidikan.

 

Nantinya, akan dikenal dua jenis sekolah dasar untuk kaum pribumi, yaitu :

 

1.       De Scholen der Eerste Klasse – Sekolah Dasar Kelas 1 (Maksudnya untuk golongan kelas 1), yaitu untuk anak-anak pemuka masyarakat, priyayi atau raja-raja.

2.       De Scholen der Tweeder Klasse – Sekolah Dasar Kelas 2 (Untuk masyarakat kelas 2), Yaitu untuk anak-anak dari masyarakat biasa.

 

Hoofdenschool (Sakolah raja) – (Dok. Keluarga)

 

Nah, tahun 1865 di Bandung didirikanlah sekolah untuk anak-anak kepala daerah Bumiputra, dikenal sebagai Sekolah Raja (Hoofdenschool) sekolah inilah yang pada tahun 1900 menjadi OSVIA (Opleiding voor Indlandsche Ambtenaren) atau sekolah untuk pendidikan pegawai bumiputera. Sekolah ini kemudian ditingkatkan menjadi sekolah menengah pertama atau MOSVIA. Sekolah ini terletak di daerah Tegalega sekarang. Tidak banyak keterangan mengenai sekolah ini kecuali mempersiapkan calon-calon pegawai dan administratur bagi perusahaan atau instansi milik Belanda.

 

OSVIA Bandung (Dok. Tropenmuseum)
Guru dan Pelajar OSVIA yang gagah (Tropenmuseum)

 

 

Ada salah kaprah di masyarakat bahwa yang diidentikan sebagai sekolah raja adalah sekolah guru di jalan merdeka, padahal sekolah raja yang sebenarnya adalah OSVIA ini.

 

Sekolah guru (Kweekschool) merupakan tindak lanjut dari keputusan Raja Belanda tanggal 30 September 1848 tentang pembukaan sekolah dasar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan gurunya, maka dibukalah sekolah Pendidikan guru berdasarkan Keputusan Pemerintah India Belanda tanggal 30 Agustus 1851. Sekolah guru pertama dibuka di Solo tahun 1952 dan yang di Bandung taun 1864-1866. Tidak ada syarat apapun untuk memasuki sekolah guru ini, syarat satu-satunya adalah berusia 14 tahun dan itupun sering tidak dapat dipastikan karena ketiadaan akte kelahiran. Kebanyakan yang mendaftar sekolah guru adalah golongan rendah, bukan golongan priyayi/raja seperti yang selama ini disangka orang. Metode belajar di Kweekschool adalah semacam boardingschool atau sekolah asrama.

 

Kweekschool (Dok. keluarga)

 

Kweekschool tahun 30’an (Dok. Keluarga)

 

Namun, walau demikian, Lulusan sekolah guru memiliki prestise tinggi di masyarakat, mereka mendapat gelar mantri guru dan fasilitas seperti hak untuk menggunakan payung, tombak, tikar, dan kotak sirih. Mereka juga mendapat biaya menggaji empat pembantu untuk membawa empat lambang kehormatan itu, terbayang bagaimana wibawa seorang guru saat itu. Semua orang otomatis akan menghormatinya. Selain fasilitas, mereka juga mendapat gaji yang sangat tinggi untuk ukuran pribumi.

 

Murid kelas 3 atau 4 kweekschool yang menunjukan tingkah laku baik diijinkan kawin, namun harus tetap tinggal dalam asrama. Dikarenakan calon pendaftar yang membludak, tahun 1871 diadakan ujian saringan masuk untuk kweekschool. Membludaknya pendaftaran, selain karena fasilitas yang ditawarkan, juga karena faktor berikut :

 

1.       Pendidikan guru bebas dari pembayaran iuran sekolah, bahkan siswanya mendapatkan uang saku tiap bulan sebesar f.12,- hingga f.15,- sebagai biaya pakaian dan makanan, sehingga tidak memberatkan orang tua. Segala ongkos perjalanan juga ditanggung pemerintah

2.       Para lulusan sudah dipastikan mendapat pekerjaan pada sekolah pemerintah dengan gaji lumayan yang memberikan status sosial terhormat dalam masyarakat sebagai pegawai pemerintah dan seorang intelektual.

3.       Kweekschool merupakan salah satu jalan bagi golongan menengah dan rendah Indonesia untuk menikmati pendidikan lanjutan. Akhirnya guru menjadi orang yang sangat dihormati di dalam masyarakat Indonesia saat itu.

 

Mata pelajaran di Kweekschool Bandung adalah sebagai berikut :

1.       Bahasa Melayu

2.       Bahasa Sunda

3.       Menulis

4.       Berhitung

5.       Ilmu Ukur

6.       Ilmu Bumi

7.       Sejara

8.       Ilmu Alam

9.       Menggambar

10.     Ilmu Mendidik

11.    Bernyanyi

 

Di tahun ke-4 murid kweekschool mengadakan praktik mengajar di sekolah luar. Di Bandung, setiap calon guru belajar mengajar di tiap kelas selama dua minggu, dari kelas terandah sampai tertinggi. Mereka yang tidak ikut praktik mengajar bisa mengikuti pelajaran bersama murid kelas III. Praktik mengajar ini disudahi dengan ujian akhir. Bahkan murid yang tidak lulus sekalipun, masih bisa diangkat sebagai guru dengan gaji yang lebih rendah yakni f.20,- sedangkan yang lulus mendapat f.40,- sebulan. Ah, enaknya menjadi guru saat itu…

 

Nah demikian sedikit yang bisa saya bagi dari pengalaman saya eh, dari hasil baca-baca saya selama saya terkapar sakit ini, lebih kurangnya mohon dibantu ya… Pokonya mah “Blum ke Bandung kalo blum Ngaleut!”

 

Suasana belajar di OSVIA (Dok. Keluarga)

 

Sejarah Film Indonesia (Bag.1 : Masa Kolonial)

Kurang lebih dua minggu lalu, bersama Komunitas Aleut saya menapaktilasi sisa-sisa kejayaan Bioskop di masa lalu Bandung… Perjalanan ini memantik keingintahuan saya dalam mencari lebih banyak informasi mengenai sejarah perfilman Indonesia. Selanjutnya seminggu kemudian saya disuguhi film “Legong” karya sutradara Holywood yang berkisah seputar percintaan dua insan di dalam nuansa adat dan lingkungan Bali di tahun 30’an. Nah, sepertinya bukan bidang saya untuk membahas film tersebut, namun di tulisan ini lebih baik akan saya ungkapkan sedikit sejarah film indonesia yang saya dapat dari buku “Indonesia in Brief” karya Susi S Prawirawinta.

 

 

Sejarah produksi film indonesia diawali tahun 1927/1928, kala itu film pertama diproduksi di Bandung oleh dua orang Eropa, G Kreugers dan Ph. Carli. Pada masa itu pembuata film masih dilatarbelakangi oleh motif hobi semata. Film karya Kreugers utamanya membahas kehidupan sehari, contohnya film Eulis Aceh dan Bang Amat Tangkap Kodok. Sedangkan film karya Carli lebih banyak memuat konflik sosial antara orang Indonesia dengan golongan Eropa seperti “De banden van het bloed”, “Sarinah”, dan “Karina’s zelfpoffering”. Dalam hal penggunaan aktor, Kreugers lebih banyak menggunakan aktor lokal, sedangkan Carli menggunakan orang-orang Indo-Belanda. Film yang mereka produksi merupakan film bisu.

 

Apabila pionir dalam pembuatan film adalah orang Eropa, maka orang Cina-lah yang mengembangkan perfilman pada tingkatan berikutnya. Mereka memasuki bidang sinema karena mereka melihat peluang bisnis bagus di dalamnya. Motivasi komersial ini kemudian menjadi bahan bakar dalam kemajuan perkembangan film yang ditandai dengan keberhasilan dalam mengimpor banyak film Amerika dan Cina ke Hindia Belanda. Film-film Cina sangat populer di kalangan orang Tionghoa, kisah-kisah yang ditampilkan biasanya seputar legenda-legenda masa lalu dan kehidupan keluarga para pendahulu mereka.

 

Orang-orang Cina di Hindia Belanda kemudian mengikuti jejak film-film Impornya dalam hal pengisahan kisah tradisi keluarga masa lalu dan memproduksi film sendiri berjudul “Lily of Java” yang dimainkan oleh orang-orang Tionghoa dan tidak lupa juga mereka menampilkan teks dalam bahasa melayu.

 

 

Tahun-tahun berikutnya merupakan masa keemasan bagi  industri film Indonesia. Banyak perusahaan film didirikan. Kisah-kisah yang ditampilkan kemudian banyak mengadopsi kisah-kisah Cina legendaris seperti “The Eight Swordfighters”, “Sang Pek Eng Tay” Dll.

 

Di tahun1930, film bersuara pertama diperkenalkan oleh Tan & Wong Bros Co. Dengan hasil yang sangat baik. Perusahaan-perusahaan lain segera mengikuti langkah ini. Namun dalam hal produksi, film-film yang dihasilkan masih belum bisa dilepaskan dari pengaruh film-film Impor Cina.

 

Di Tahun 1935 merupakan puncak kesuksesan sejarah industri film di Indonesia. Di tahun ini, film “Pareh” diproduksi oleh seorang Belanda bernama Mannus Franken. Film ini berbeda dari film lainnya, karena berusaha menarik perhatian dari orang luar negeri terutama orang Belanda dalam hal kehidupan sehari-hari orang pribumi. Aktor utamanya diambil dari orang Indonesia yang telah mendapat pendidikan sekolah. Bahasa yang digunakan bukan lagi Cina-Melayu, melainkan sepenuhnya Melayu. Banyak adegan pemandangan Indonesia dimunculkan seiring penceritaan kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah pedesaan.

 

 

Melalui film ini, elemen baru, yaitu elemen pemberian informasi mulai timbul di samping motif komersial. Film-film setelah “Pareh” kemudian mengikuti jejak ini dalam hal mengungkapkan kehidupan sehari-hari orang Indonesia, dan sepenuhnya dimainkan aktor lokal. Di sisi lain, film-film aksi yang diimpor dari Amerika mulai juga mempengaruhi produser film dalam negeri, sehingga muncullah beberapa film lokal yang mengadopsi film Holywood. Ambilah contoh film “Alang-alang dan Putri Rimba” yang merupakan imitasi dari film “Tarzan and The Jungle Princess (dimainkan oleh Dorothy Lamour”).

 

 

Di masa ini beberapa film juga meraih kesuksesan seperti “Terang Bulan” yang pemeran utamanya dimainkan oleh Raden Mochtar dan Rukijah. Film ini biproduksi tahun 1937 oleh Anif, sebuah perusahaan dengan modal Belanda. Tema utama yang diusung film ini adalah kehidupa sehari-hari Masyarakat dengan “adat” . Pemilihan aktor Indonesia sangat diperhatikan, terutama dipengaruhi oleh film “Pareh”. Untuk mengamankan kebebasan lebih banyak dalam produksi film, maka sang penulis skenario, Saerun-seorang jurnasil terkemuka, memutuskan untuk menciptakan suatu lingkungan imajiner.

 

Kesuksesan “Terang Bulan” menyebabkan produser-produser Cina mengubah target pasarnya kepada publik Indonesia. Karena itu selanjutnya perkembangan film Indonesia mengalami perkembangan cepat. Begitu pula dengan perusahaan-perusahaan perfilman.

 

Beberapa waktu sebelum terpecahnya perang Pasifik, sebuah film berjudul “Kartinah” diproduksi. Film ini berbeda dari film sebelumnya karena telah memperlihatkan adegan serangan udara dan penggunaan lain dari peralatan perang terbaru. Pada masa  itu, Indonesia (Hindia Belanda) memang tengah bersiaga dalam menghadapi serangan Jepang . Sang sutradara film “Kartinah” berusaha mencuri perhatian publik dengan memunculkan situasi mencekam yang dialami kota-kota di Indonesia . Hasilnya sangat memuaskan, orang-orang berjubel di bioskop untuk bisa menyaksikan film ini.

 

Bersambung… 🙂

Medieval Torture – Judas Cradle

Seri tulisan ini memuat metode2 penyiksaan yang dilakukan di jaman abad pertengahan. Dengan tujuan membuat kita bersyukur bahwa kita tidak dilahirkan di masa tersebut.

Pembahasan pertama adalah metode penyiksaan yang disebut dengan Judas Cradle

Judas cradle adalah metode penyiksaan yang dilakukan dengan cara menempatkan sang korban di atas kursi berbentuk piramid. Kaki korban diikat sedemikian rupa sehingga pergerakan satu kaki dapat memaksa pergerakan kaki lainnya yang menyebabkan rasa sakit tak terbayangkan. Mengapa ?

Masalahnya ujung kursi berbentuk piramid tersebut ditancapkan ke lubang anus/vagina sang korban. Jadi harap dibayangkan sendiri bagaimana rasa sakitnya. Penyiksaan ini bisa berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari.

Kematian


Waktu yang dibutuhkan bagi seorang korban untuk mati biasanya berbeda antara setiap orang. Kadang2 penyiksa akan menaruh pemberat pada kaki sang korban sehingga menambah rasa sakit dan mempercepat kematian si korban. Cara lainnya adalah dengan mengoleskan minyak di alat tersebut, sehingga… hmmm tidak ada kata untuk menggambarkan rasa sakitnya…

Alat ini sangat jarang dibersihkan. Sehingga kuman2 akan berkumpul di atasnya. Sang korbantidak hanya merasakan sakit dari penyiksaan ini, tapi juga dari rasa perih akibat infeksi yang ditimbulkan. Biasanya sang penyiksa akan mengangkat sang korban dan menjatuhkannya berkali-kali saat mengorek informasi dari si korban.

Informasi lain

Judas cradle disebut juga sebagai culla di Giuda di Italia, Judaswiege di Jerman dan  The Wake di Perancis.

Si korban biasanya dibiarkan telanjang saat disiksa untuk menimbulkan rasa malu. Nah, silahkan memberi nilai pada metode penyiksaan ini…

Succubus & Incubus

Hidupmu di sini hanya ziarah” – Guillaume Digulleville

Abad pertengahan merupakan masa yang kurang beruntung bagi kaum wanita, ketika itu mereka diasosiasikan dengan penggoda iman manusia. Pada suatu sandiwara abad ke-12 yang berisi ajaran moral, ditampilkan seorang Hawa sedang membujuk suaminya dengan mendesak,” Adam, makanlah segera buah ini, agar engkau lebih bahagia. ” Penggoda2 ini kemudian mengambil tempat dalam legenda2.

Salah satu legenda yang terkenal adalah siluman wanita yang disebut Succubus, yaitu setan yang mengambil bentuk wanita cantik untuk merayu laki-laki (terutama pendeta) dalam mimpi untuk melakukan hubungan sexual. Mereka mengambil energi dari laki-laki untuk bertahan, sampai titik kelelahan atau kematian korban. Doa-doa pemuda saat itu biasanya menyertakan harapan agar Tuhan melindungi mereka dari godaan Succubus.

Tetapi tidak hanya itu, ada juga setan-setan yang menyamar dalam rupa pria, yang akan berbaring di samping wanita2, dengan tujuan berhubungan seks dengan mereka. Berdeda dengan succubus, tujuan mereka adalah mendapatkan anak dari hasil hubungan seks tersebut. Dalam beberapa tradisi, ciri-ciri dari Incubus ini adalah penis yang terasa dingin. Dalam tradisi agama saat itu, hubungan yang terus menerus dengan incubus atau succubus dapat berakibat pada kematian.

Dalam kitab Malleus Maleficarum, yang diterbitkan tahun 1487 dn berisikan panduan2 mengenai pembasmian penyihir, dijelaskan bahwa succubus berperan mengumpulkan sperma dari kaum pria dan akan memberikannya kepada incubus yang akan memasukannya dalam wanita yang ditiduri, sehingga menghasilkan anak yang memiliki sifat setan.

Di Indonesia, fenomena ini mungkin muncul dalam kisah “kolor ijo” yang terbukti hanya merupakan khayalan ibu-ibu kesepian yang tengah mencari sensasi.

Akhir kata, mari kita sama2 berdoa agar terhindar dar godaan succubus dan incubus… amien…

Surat kepada Jemaat Tessalonika


Kota Tesalonika

Tesalonika merupakan kota terbesar dalam wilayah Macedonia, menempati posisi strategis sebagai pusat kebudayaan dan perekonomian. Karl P. Donfried menyebutkan, Penduduk kota ini terdiri atas berbagai kelompok pemuja pagan. Diantaranya pemuja Isis, Dionisyus, Zeus, Asceptus, Aphrodite, Demeter, tetapi kebanyakan adalah pemuja Kabirus yang merupakan dewa tertinggi kota ini. Pendirian Gereja di kota ini direkam dalam Kisah Rasul 17:1-9, Paulus mendirikanya saat mengadakan perjalanan misinya yang kedua. Saat itu ia didampingi oleh beberapa pengikut setianya (Timotius dan Silas).

Seperti biasa, saat Paulus tiba di Tesalonika, ia segera menuju Sinagoga dan mengajarkan pemikirannya. Bagaimanapun Paulus akan merasa bangga apabila berhasil mendapatkan pengikut dari Yahudi, walaupun dalam perjanjianya dengan para rasul, ia hanya pergi menuju kaum tak bersunat. Kaum Yahudi Tesalonika merasa asing dengan ajaran Paulus, sehingga mereka memutuskan untuk bergabung dengan beberapa penentang Paulus lainnya. Karena situasi telah menjadi begitu menegangkan, Paulus melarikan Timotius dan Silas secara sembunyi-sembunyi pada malam hari menuju Berea. Tetapi Paulus tidak menigaalkan kota ini dengan percuma, ia telah mendirikan suatu gereja atas namanya sendiri. Pendirinya adalah beberapa Gentile, diantaranya Jason (Kis Ras 17:9), Aristarkus dan Secundus (Kis Ras 20:4). Setelah beberapa lama, Paulus mengutus kembali Timotius ke kota ini untuk mengetahui keadaan jemaatnya… Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu (3:2). Paulus menulis surat ini di Korintus, setelah didatangi Timotius yang membawa berita keadaan Gereja di Tesalonika (Kis Ras 18:1-5; 1 Tes. 3:6).

Surat 1 Tesalonika

Surat 1 Tesalonika dikenal sebagai surat tertua yang ditulis Paulus atau dengan nama lain bagian tertua dalam Perjanjian Baru. Tetapi tentunya kita tidak tahu apabila Paulus sempat menghasilkan surat-surat lain sebelum surat ini, tentunya surat-surat tersebut telah hilang dan tidak dimasukan dalam Perjanjian Baru.
Seperti surat Paulus lainnya, keberadaan surat ini diketahui diakui beberapa Bapak gereja awal seperti Clement, Iranaeus dan pastinya Marcion. Dalam hal bukti Internal, pengakuan Paulus dan beberapa ciri khasnya turut menguatkan klaim keotentikan. Beberapa ciri khusus mungkin membedakannya dengan surat Paulus lainnya, seperti diketemukannya suatu pemikiran eskatologi dan berbagai penyebutan terhadap parousia, hal ini tidak umum bagi surat-surat Paulus. Ciri khusus lainnya adalah, tidak ada satupun pengutipan atau perujukan Perjanjian Lama dalam surat ini. Ada sekitar 42 kata yang tak ditemukan dalam tempat lain di Perjanjian Baru (Hapax), dan 20 kata tak terdapat dalam surat Paulus lainnya. Sarjana Radikal seperti Baur dan Schrader seakan-akan tidak pernah absen dalam menyerang keotentikan surat-surat Paulus, kali ini ia menyerang dari sisi sebagai berikut :

Bila membandingkan dengan surat Paulus lainnya, muatan surat ini tidaklah signifikan, memuat lebih dari satu doktrin. Beberapa doktrin eskatologi terkandung dalam surat ini, sedangkan surat utama (Roma dan Galatia) tidak memuatnya.

Surat ini mengungkapkan peningkatan kehidupan Kristen yang kesemuanya tidak mungkin, bila penulisan surat ini hanya berselang beberapa bulan dari pendirian Gereja Tesalonika.

sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.
Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu
.”(Tes 1:7-8)

Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya” (Tes 4:10)

Bagaimana mungkin kabar baik mengenai Gereja Tesalonika tersebar ke penjuru Makekonia padahal Gereja ini baru berdiri beberapa bulan ?   Ataukah Paulus telah berbohong dalam hal ini, untuk menyenangkan jemaatnya ?

Bagian 2:14-16 berkontradiksi dengan Roma pasal 9-11.

Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.
Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi,
karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya
.” (Tes 2:14-16)

Apakah Paulus lupa bahwa dirinya sendirilah yang menjadi penyiksa pengikut Yesus di masa lampau. Selain itu, penyebutan ephthase de ep autous he orge eis telos atau “…dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya” seakan-akan menunjukan pengetahuan terhadap kehancuran kuil Jerusallem yang terjadi tahun 70 M..

Beberapa sarjana kemudian mencurigai bagian 1 Tes 2:13-16 ini sebagai penyisipan non-pauline karena memuat ungkapan anti-semitik, sedangkan Paulus mengakui dirinya sebagai seorang Yahudi Farisi (terkenal akan ketaatannya). Ada dua kemungkinan terhadap pernyataan ini, bila Paulus benar menulisnya, maka klaim Keyahudiannya dapat diragukan. Sedangkan kemungkinan kedua menyebutkan bagian ini merupakan bagian dari usaha interpolasi. Tetapi karena tidak ada dukungan bukti external, kita dapat membuang kemungkinan kedua, sementara tetap berpegang kepada yang pertama. Sampai saat ini begitu banyak bukti yang kita dapatkan dalam menyerang keyahudian Paulus, ia menempatkan dirinya seolah-olah berada di luar kalangan Yahudi dalam berbagai suratnya. Dan tentunya kita harus mempertimbangkan baik-baik pernyataan Paulus dalam suratnya kepada umat Korintus :

Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.”(1 Kor 9:20).

Surat ini sangat bergantung kepada surat Paulus lainnya, khususnya 1 dan 2 Korintus, saat membandingkan   1: 5 dengan I Kor. 2: 4 ;– 1:6 dengan I Kor. 11:1;–2:4 seterusnya dengan I Kor. 2:4; 4:3 seterusnya.; 9:15 seterusnya dengan II Kor. 2:17; 5:11. Mengundang kecurigaan bahwa si penulis adalah orang selain Paulus yang menulis kembali atau membuat ringkasan dari beberapa surat Paulus.

Permasalahan sejarah, Dalam Kisah Rasul disebutkan bahwa Paulus hanya menetap selama “3 sabbath” di kota Tesalonika, sedangkan surat ini mengambarkan bahwa Paulus menetap lebih lama dari itu.  Selain itu, dalam Kisah Rasul 17:4 diriwayatkan bahwa jemaat Gereja Tesalonika kebanyakan terdiri dari kaum Yahudi dan kaum “takut Tuhan”, sedangkan 1 Tes 1:9 mengindikasikan bahwa kebanyakan jemaatnya adalaha gentile. Sebenarnya hal ini mudah untuk dipahami, Kisah Rasul selalu menggambarkan seolah-olah Paulus memiliki kedekatan dengan kaum Yahudi atau Nazarene, sedangkan kenyataan yang berbeda diberikan dalam ekspresi-ekspresi Paulus dalam surat-suratnya. Masalah ini tidak bisa dibiarkan atau hanya meninggalkan berbagai kebingungan-kebingungan lain. Kita harus memilih salah satu sebagai catatan sejarah yang utama mengenai Paulus-apakah melalui surat-suratnya atau melalui Kisah Para Rasul. Tetapi tidak bisa, keduanya seakan-akan melengkapi satu sama lain, Paulus bukanlah siapa-siapa tanpa kitab kisah para Rasul, sedangkan kitab Kisah Rasul juga akan menjadi omong kosong apabila kita menolak riwayat surat-surat Paulus. Mau tidak mau kita harus meneliti keduanya, walaupun dalam hal ini catatan sejarah yang berkontradiksi akan ditemukan.

Walaupun begitu, Seluruh alasan di atas dirasa tidak cukup kuat karena hanya didasarkan pada bukti internal tanpa diperkuat bukti external. Tetapi sejauh ini kita telah membuktikan keunggulan bukti internal diatas bukti eksternal dalam meneliti naskah surat-surat Paulus. Mengenai hal ini ada satu hal yang menarik, yaitu bagian 2:14-16. Kita mendapati pilihan, Bila tidak mengakui keyahudian Paulus, maka kita harus menganggap bagian tersebut sebagai interpolasi non Pauline. Bagian ini tampak tidak sejalan dengan alur surat, terlihat menginterupsi 2:13 dan 2:17. Bagian ini juga memuat ekspresi anti-semitik yang mungkin ditulis orang selain Paulus. Menurut Baur, bagian ini dipengaruhi oleh Kitab Kisah Rasul, dimana di sana kaum Yahudi dianggap selalu menganggu pekerjaan Paulus. Sedangkan sarjana lainnya mempertimbangkan bagian ini sebagai interpolasi non-Pauline yang dilakukan pasca keruntuhan kuil Jerusallem. Berbagai interpretasi telah dilakukan terhadap bagian ini tetapi tetap tidak menghasilkan keputusan yang memuaskan.
Dalam hal kesatuan, beberapa sarjana juga mencurigai bahwa surat ini terdiri atas beberapa surat; surat pertama adalah 1.1-11, 12; 2.17 – 3.4, 11-13; sedangkan surat kedua adalah 3.6-10; 4.13 – 5.11; 4.9-10; 5.23-26, 28 .
Kepastian bahwa seluruh kitab atau surat yang terdapat pada Bible pada saat ini sama susunan atau keadaanya seperti pada masa lalu tampaknya cenderung kepada ketidakmungkinan. Tidak ada yang bisa menjamin klaim tersebut, beberapa orang Kristen mencoba bertahan dengan mengatakan bahwa beberapa varian yang terdapat pada naskah kuno adalah kesalahan daripada penyalinnya. Kesalahan beberapa kata memang dapat ditolerir selama kata tersebut tidaklah penting, tetapi menjadi berbeda keadaanya saat kita membicarakan “kata” tersebut dalam konteks wahyu. Setiap kata adalah wahyu, mengurangi atau menambahkan satu kata saja dapat berarti mengubah suatu wahyu, dalam hal ini seseorang bertindak sebagai Tuhan. Ia tentunya telah melakukan dosa serius. Artinya selama ini telah ada ribuan penyalin yang berdosa karena telah merubah wahyu Tuhan. Tetapi lain halnya apabila kita membicarakan perbedaan kata-perkata ini sebatas dalam konteks tulisan manusia, varian akan lebih dapat ditolerir.

2 Tesalonika

Tempat dan Waktu

Segala keterangan mengenai surat ini hampir sama dengan surat sebelumnya hanya ada beberapa masalah dalam menentukan waktu penulisan surat ini. Apakahurat ini ditulis sebelum, atau sesudah surat 1 Tesalonika. Pandangan tradisional tentu menempatkan waktu penulisan surat ini sesudah surat Tesalonika pertama, tetapi beberapa sarjana modern ada saja yang membantahnya.
Sarjana seperti Grotius, Ewald, Vander Vies dan Laurent mendukung teori bahwa surat ini ditulis sebelum surat 1 Tesalonika. Tetapi teori tersebut tampaknya tidak sesuai dengan pernyataan Paulus pada 2 : 15 :

Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.

Dalam hal penetuan waktu penulisan, tampaknya berada dalam jangka waktu 50-53 M.  Louis Berkhof meyakini tahun 53 M. sedangkan Daniel B. Wallace memastikan tahun 50 M..
Mengenai tempat penulisan, tempat yang paling memungkinkan adalah Korintus. Paulus diduga menulis surat 1 & 2  Tesalonika saat menetap selama setahun enam bulan di sana (Kis Ras 18:11).

Keotentikan

Tidak seperti surat 1 Tesalonika, para sarjana masih meragukan keotentikan surat kedua ini. Bahkan surat 2 Tesalonika dapat dianggap sebagai anggota Corpus Paulinum yang paling meragukan. Dalam hal penilaian, Daniel B. Wallace, kolumnis bagi Bible.org menyusun grafik penilaian keotentikan kumpulan surat-surat Paulus (Corpus Paulinum) sebagai berikut.

Nilai 10 = diterima oleh semua sarjana
Nilai 9   = diterima oleh hampir seluruh sarjana
Nilai 7   = Diterima oleh kebanyakan sarjana
Nilai 5   = diragukan oleh kebanyakan sarjana
Nilai 3   = Ditolak kebanyakan sarjana
Niilai 1  = Ditolak oleh hampir keseluruhan sarjana

Dalam hal ini, surat-surat Paulus dapat dinilai sebagai berikut :

Menempati nilai 10 : Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia (Hauptbriefe)
Menempati nilai 9   : 1 Tesalonika, Filemon
Menempati nilai 7   : Kolose
Menempati nilai 5   : 2 Tesalonika
Menempati nilai 3   : Efesus
Menempati nilai 1   : 1 & 2 Timotius, Titus (Pastoral)

Dari daftar tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa surat 2 Tesalonika ini hanya diterima oleh sebagian kecil sarjana, sebagian besar masih meragukannya. Penolakan dipelopori oleh Schdmit (1804), kemudian diikuti oleh Schrader, Mayerhof, Kern, Baur dll., Beberapa sarjana lain tetap bersikukuh mempertahankan klaim keotentikan surat ini (Reuss, Sabatier, Hofmann, Weiss, Zahn, Julicher, dll.).
Penyerangan terhadap keotentikan dapat dilihat dari sisi berikut :

Dalam hal eskatologi, surat ini memuat pandangan yang berbeda dari surat sebelumnya (1 Tesalonika). Dilihat berdasarkan dua cara; Pertama, menurut surat ini, beberapa tanda akan diperlihatkan menjelang kedatangan Yesus (2 Tes 2:1-12), bertentangan dengan 1 Tesalonika yang tidak menyebutkan apa-apa mengenai hal tersebut (4:13-18; 5:1-11). Kedua, Paulus tidak memasukan dirinya dalam golongan orang suci yang menanti kedatangan Yesus, sedangkan ia mengakuinya dalam surat pertama. Bagian ini sendiri (2 Tes 2:1-12) dicurigai berasal bukan dari Paulus, melainkan dari orang lain yang hidup beberapa waktu setelahnya. Bagian ini tampaknya didasarkan pada kitab wahyu Johannes, sedangkan penyebutan “iblis” dalam bagian ini ditujukan kepada Nero yang menurut kepercayaan orang saat itu,  tidak mati melainkan bersembunyi di suatu daerah di timur,  menanti untuk bisa muncul kembali. Kepercayaan ini , tidak pernah terbukti hingga saat ini. Selain itu, ada yang menduga bahwa bagian ini menggambarkan masa kekuasaan Trajan di akhir abad pertama (Louis Berkhof), sehingga dengan sendirinya menafikan kepenulisan Paulus.

Perbedaan gaya penulisan. Surat ini terlihat lebih formal, dan beberapa ciri khas Pauline tidak ditemukan, sebaliknya terdapat banyak ekspresi-ekspresi yang tidak terdapat dalam anggota Perjanjian Baru lainnya. Contohnya, sambutan penulis pada akhir surat ini tidaklah umum dan berbeda dengan surat Paulus lainnya “Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah tulisanku. (2 Tes 3:17).

Dalam hal materi, terdapat banyak kesamaan dengan surat 1 Tesalonika. Pertanyaan kemudian muncul, bila Paulus menujukan surat ini kepada tujuan yang (jemaat Tesalonika), mengapa ia mengulang kembali materi-materi yang sudah dimuat sebelumnya ? Apakah ia khawatir jemaatnya melupakan pesannya yang terdahulu ?

Berbagai keberatan di atas memang perlu untuk dipertimbangkan kembali, terutama saat menjelaskan status materi eskatologi dalam surat ini. Para sarjana telah berdebat mengenai status bagian ini, tampaknya materi tersebut asing bagi Paulus, dan hanya surat Tesalonika-lah yang memuat materi tersebut. Dalam hal perbedaan gaya, kebanyakan sarjana pendukung keotentikan merasa masalah tersebut tidak perlu diperdebatkan dan dapat memahaminya, sedangkan para sarjana penentang keotentikan menganggap penting masalah ini. Saya pribadi menganggap masalah ini sebagai sesuatu yang penting, tidaklah mungkin apabila Paulus menulis suratnya dengan gaya yang bermacam-macam. Setahu saya, seorang manusia hanya memiliki gaya penulisan yang sama selama hidupnya. Sehingga apabila kita telah dapat memastikan gaya penulisan Paulus, kita juga dapat menolak kepenulisan Paulus pada surat-surat yang menggunakan gaya berbeda (walaupun mengatributkan kepenulisanya kepada Paulus).

Bujangga Manik – Konsep Mandala

Kakara cu(n)duk ti Gunung,

Kakara datang ti Wetan,

Cu(n)duk ti Gunung Demalung

Datangna di Pamrihan Demalung

Datang ti lurah Pajajaran

Tulisan berikut ini saya sarikan dari artikel Pujangga Manik, Rsi Hindu-Sunda karya KRT. Kusumotanoyo yang dimuat dalam buku Gema Yubileum HIK Yogyakarta tahun 1987 serta beberapa sumber lain. Semoga dapat memberikan sedikit informasi mengenai Pujangga Manik, yang tidak lain merupakan tokoh penginspirasi kegiatan komuntas Aleut! (halah..) Melalui perjalanannya kita dapat menemukan berbagai makna-makna filosofis yang masih berguna hingga saat ini.

Pujangga Manik hidup dalam abad ke XV. Dalam riwayatnya banyak disebut kota Pakuan, yang sekarang merupakan kota Bogor. Dia adalah seorang Resi Hindu-Sunda. Beberapa kali dia mengadakan perjalanan jauh menjelajah pulau Jawa. Segala pengalamannya dia tulis pada Lontar, terkenal sebagai Octo-Syllabic (Berwujud butir-butir pokok sebanyak delapan (oktaf) jilid, atau sepuluh jilid. Anehnya , bahwa berkas itu sejak 1627 tersimpan pada Bodleian Library Oxford. Tahun 1968 diteliti oleh sarjana Belanda : Ricklefs, Voorhoeve dan Noorduyn. Kompilasi oleh Noorduyn disertai perbandingan dengan Negarakertagama, Hyang Kamanikam dan lain-lain.

Topografi

Dari karya Pujangga Manik, kita dapat mengetaui banyak nama-nama daerah Jawa di masa lampau, yang mungkin sekarang sudah tidak disebut lagi. Pujangga Manik sangat tertarik atas arah Barat-Timur, pulang dan pergi. Arah ini memang dipegang teguh. Dasar dari ketertarikan tersebut adalah legenda Agastya in Den Archipel, suatu fragmen dari Baratayuda. Yaitu perjalanan jauh Agastya dari barat ke timur. Arah ke timur sendiri memang memiliki arti gaib, sangat mungkin dipengaruhi oleh arah matahari terbit.

Perjalanan sang Pujangga yang pertama adalah sampai Pemalang dimana dia menghadapi batas berwujud sungai, bernama Pepali kemudian menjadi Pamali.* Di seberang sungai itu terbentang Alas rimbaraya, yang disebutnya sebagai : Alas Jawa.

Perjalanan kedua dia sampai Gunung Lawu. Karena sangat cocok dengan adanya “religious schools” / pertapaan, dia untuk sementara waktu menetap di sekitar gunung Demalung yang tidak lain adalah Merbabu. Selain itu terdapat juga Gunung Kerungrungan yang tidak lain adalah Ungaran, Pegunungan Dihiyang adalah Dieng, dan seterusnya Prahu, Sindara, Sumbing dan Merapi.

Nama tempat lain antara lain : Danara atau Padanara yang kemudian menjadi Pandaran**. Asem Arang menjadi Semarang. Kota-kota seperti Surakarta, Yogyakarta, Klaten, Wates, Sleman, Boyolali , Magelang , Muntilan dan lain-lain tidak disebut, jadi belum lahir. Kali Waluyu adalah Bengawan Solo, Kali Cangku adalah Bengawan Madiun, Kali Ronabaya adalah Kali Brantas, Lohku menjadi Luk-ula, Kota Kalangbrit sekarang Trenggalek, Gunung Kampud sekarang gunung Kelud.

Pada Lereng Merapi, Merbabu, dan Ungaran terdapat “Religious Settlements” atau lebih kita kenal sebagai Mandala. Salah satunya disebut Rabut Palah yang sekarang Dusun Pantaran dan yang sampai sekarang masih menarik pada peziarah.

Mandala

Menarik untuk dibahas, bahwa semua religious schools / petapaan yang disebutkan Pujangga Manik berada berada di lereng gunung, puncak gunung, di atas gundukan tanah dan lain-lain. Kelengkapan dari pertapaan tersebut adalah adanya “Beji” atau kolam, telaga, mata air, danau dan lain-lain yang melambangkan Jalatunda. Jala artinya “air” dan Tunda artinya “yang mencuat dari tanah”. ***

Konsep ini menurut Poerbatjaraka ditiru oleh kraton-kraton. Mereka membuat tiruan-tiruan “Hemelberg” atau kahyangan berupa gundukan-gundukan tanah (Argo), Hutan, Jalatunda (sumur,balumbang), tempat semedi dan lain-lain. Tanah tempat kraton saja sebenarnya seharusnya bergunduk “ang-geger bulus” sehingga melambangkan (lereng) gunung.

Dalam penentuan letak pertapaan, selain mengambil tempat tinggi. Kedua harus memperhatikan pedoman West-East yang mengacu pada matahari. Contohnya pembangunan Kraton yang harus menghadap ke timur. Ketiga harus ada sumber air yang melambangkan “sumur jalatunda“. Keempat lingkungan yang rimbun serta kelima, adanya perlengkapan dan sanggar2. Konsep ini berhubungan dengan istilah Lingga-Yoni, sehingga apabila dijabarkan lagi, arti simbolik yang ingin dihasilkan adalah :

Lingga : Dilambangkan oleh Gunung, Bukit, Gundukan tanah dll.

Yoni : Dilambangkan oleh pemandian, sungai, dll.

Pawita-sari : Air yang mengalir

Rahim : Dilambangkan oleh Gapura, Candi Bedah, Kori, Kendi, Vas, dll.****

Namun, konsep dataran tinggi ini ternyata sudah dikenal oleh orang-orang megalitik yang tinggal di Nusantara.Sudah merupakan tradisi bagi orang di jaman itu untuk membangun struktur-struktur batu dengan bentuk berundak atau piramid. Contohnya terdapat di situs Lebak Sibedug di Jawa Barat dan di Pegunungan Dieng. Makna dari tingkatan ini adalah Pencapaian Tingkat tertinggi, serangkaian metamorfosa atau kelahiran kembali.

Pujangga Manik menetap di sekitar gunung penanggungan cukup lama, diselingi perjalanan kecil ke Gunung Semeru yang dia namakan Mahameru sebagai pintu gerbang terakhir ke surga. Juga ke pegunungan Hyang dan Ijen serta Bromo sebagai “Pusat Pertapaan”. Di perjalanan ini dia juga menemukan bahwa kerajaan Majapahit telah memiliki Bhawacakra yang isinya mengatur hak dan kewajiban penganut agama Hindu dan Budha.

Pujangga manik seterusnya mengunjungi Bali, tetapi hanya sebentar. Rupanya dia sudah puas dengan Kompleks Merapi-Merbabu. Pada perjalanan kembali diamelewati pantai Selatan Jawa, sempat menambah pengalaman di Mandala Ayah, dekat Jatijajar sekarang. Selain itu sang Pujangga juga banyak menulis tentang daerah Priangan.

Demikian uraian (sangat) singkat mengenai Pujangga Manik, kalau mau versi lengkap silakan baca buku2ny yang sudah banyak beredar,,, hehehe

Keterangan :

*Geolog Budi Brahmantyo meragukan keterangan penulis, menurutnya Bujangga Manik tidak pernah bilang pepali dari kata Pemalang, tapi langsung Ci Pamali dan jelas2 disebutkan di Brebes. Perjalanan pertama hingga Batang.

**Mungkin sekarang Pangandaran

***Konsep ini mungkin ditiru dalam pembuatan goa Sunyaragi di Cirebondan taman sari Jawa lainnya.

**** Pembangunan kota Bandung juga mungkin mengacu pada konsep ini, dengan Poros utara Gunung Tangkuban Parahu, adanya Sungai Cikapundung dan Sumur di kawasan alun2. Kota Bandung yang berbentuk cekungan sesuai dengan konsep Jalatunda, terutama kalau dihubungkan dengan Gunung yang mengelilinginya.

****

  • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

  • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

    Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

  • NEW PRODUCT!

    Sehat Kuat bagai Hansip!

  • Blog bebas iklan dan pornografi