Sekolah Kolonial di Bandung : OSVIA dan KWEEKSCHOOL

Dimuat juga di : http://aleut.wordpress.com

 

Beberapa waktu yang lalu komunitas Aleut mengadakan perjalanan menyusuri bekas-bekas bangunan yang pernah digunakan sebagai sekolah di masa Kolonial, sebagian besar bangunan ini masih tetap berfungsi sebagai sekolah hingga saat ini. Sayangnya, saya tidak dapat mengikuti perjalanan ini karena diserang penyakit yang tak dikenal, tapi yang paling mengganggu saya adalah penyakit kegantengan ini… hahaha (hueekk)

 

Tapi biarlah, karena sy gak bisa share di perjalanan maka saya share lewat tulisan aja, dikit mengenai sejarah pendidikan kolonial, khususnya dua bangunan tertua yaitu OSVIA dan KWEEKSCHOOL yang jejaknya masih bisa kita lihat di Bandung ini. Maka beruntunglah yang tinggal di Bandung. Oke langsung aja deh…

 

Pendirian sekolah untuk Pribumi tampaknya baru dimulai saat sang Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan regen-regen di Jawa bagian utara dan timur untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi, tujuannya agar mereka mematuhi adat dan kebiasaan sendiri. Kebijakan ini diteruskan oleh Gubernur Jenderan Van Der Capellen (1819-1823) namun hasil yang diharapkan tidak pernah terwujud. Hingga tahun 1849 anya ada dua sekolah yang didirikan regen yang aktif. Pemerintah Hindia Belanda saat itu juga tengah disibukan berbagai pemberontakan yang mengabiskan kas. Sehingga saat residen Bandung dan Krawang meminta F.30,- dan F.20,- untuk biaya menggaji guru, permohonan mereka ditolak.

 

Kemudian muncullah Van den Bosch lewat kebijakan “cultuurstelsel”-nya yang memeras tenaga penduduk hingga keringat penghabisan. Untuk mensukseskan program ini, Van den Bosch membutuhkan tenaga-tenaga pribumi sebagai pegawai rendahan yang murah untuk menjaga perkebunan pemerintah. Para pegawai ini sedapatnya dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang memang sudah memiliki kekuasaan secara tradisional. Tahun 1931 sang Gubernur Jenderal mengeluarkan surat edaran untuk pendirian Sekolah dasar negeri di tiap-tiap karasidenan atas biaya Persekutuan Injil (Bijbelgenootschap). Tapi di lapangan kebijakan ini tidak berjalan. Barulah setelah Raja Belanda turun tangan lewat Keputusan Nomor 95 tanggal 30 September 1848 yang memberi wewenang kepada Gubernur Jenderal untuk untuk menganggarkan dana sebesar f.25.000,- setahun bagi pendirian sekolah bumiputera, kaum pribumi mulai dapat merasakan pendidikan.

 

Nantinya, akan dikenal dua jenis sekolah dasar untuk kaum pribumi, yaitu :

 

1.       De Scholen der Eerste Klasse – Sekolah Dasar Kelas 1 (Maksudnya untuk golongan kelas 1), yaitu untuk anak-anak pemuka masyarakat, priyayi atau raja-raja.

2.       De Scholen der Tweeder Klasse – Sekolah Dasar Kelas 2 (Untuk masyarakat kelas 2), Yaitu untuk anak-anak dari masyarakat biasa.

 

Hoofdenschool (Sakolah raja) – (Dok. Keluarga)

 

Nah, tahun 1865 di Bandung didirikanlah sekolah untuk anak-anak kepala daerah Bumiputra, dikenal sebagai Sekolah Raja (Hoofdenschool) sekolah inilah yang pada tahun 1900 menjadi OSVIA (Opleiding voor Indlandsche Ambtenaren) atau sekolah untuk pendidikan pegawai bumiputera. Sekolah ini kemudian ditingkatkan menjadi sekolah menengah pertama atau MOSVIA. Sekolah ini terletak di daerah Tegalega sekarang. Tidak banyak keterangan mengenai sekolah ini kecuali mempersiapkan calon-calon pegawai dan administratur bagi perusahaan atau instansi milik Belanda.

 

OSVIA Bandung (Dok. Tropenmuseum)
Guru dan Pelajar OSVIA yang gagah (Tropenmuseum)

 

 

Ada salah kaprah di masyarakat bahwa yang diidentikan sebagai sekolah raja adalah sekolah guru di jalan merdeka, padahal sekolah raja yang sebenarnya adalah OSVIA ini.

 

Sekolah guru (Kweekschool) merupakan tindak lanjut dari keputusan Raja Belanda tanggal 30 September 1848 tentang pembukaan sekolah dasar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan gurunya, maka dibukalah sekolah Pendidikan guru berdasarkan Keputusan Pemerintah India Belanda tanggal 30 Agustus 1851. Sekolah guru pertama dibuka di Solo tahun 1952 dan yang di Bandung taun 1864-1866. Tidak ada syarat apapun untuk memasuki sekolah guru ini, syarat satu-satunya adalah berusia 14 tahun dan itupun sering tidak dapat dipastikan karena ketiadaan akte kelahiran. Kebanyakan yang mendaftar sekolah guru adalah golongan rendah, bukan golongan priyayi/raja seperti yang selama ini disangka orang. Metode belajar di Kweekschool adalah semacam boardingschool atau sekolah asrama.

 

Kweekschool (Dok. keluarga)

 

Kweekschool tahun 30’an (Dok. Keluarga)

 

Namun, walau demikian, Lulusan sekolah guru memiliki prestise tinggi di masyarakat, mereka mendapat gelar mantri guru dan fasilitas seperti hak untuk menggunakan payung, tombak, tikar, dan kotak sirih. Mereka juga mendapat biaya menggaji empat pembantu untuk membawa empat lambang kehormatan itu, terbayang bagaimana wibawa seorang guru saat itu. Semua orang otomatis akan menghormatinya. Selain fasilitas, mereka juga mendapat gaji yang sangat tinggi untuk ukuran pribumi.

 

Murid kelas 3 atau 4 kweekschool yang menunjukan tingkah laku baik diijinkan kawin, namun harus tetap tinggal dalam asrama. Dikarenakan calon pendaftar yang membludak, tahun 1871 diadakan ujian saringan masuk untuk kweekschool. Membludaknya pendaftaran, selain karena fasilitas yang ditawarkan, juga karena faktor berikut :

 

1.       Pendidikan guru bebas dari pembayaran iuran sekolah, bahkan siswanya mendapatkan uang saku tiap bulan sebesar f.12,- hingga f.15,- sebagai biaya pakaian dan makanan, sehingga tidak memberatkan orang tua. Segala ongkos perjalanan juga ditanggung pemerintah

2.       Para lulusan sudah dipastikan mendapat pekerjaan pada sekolah pemerintah dengan gaji lumayan yang memberikan status sosial terhormat dalam masyarakat sebagai pegawai pemerintah dan seorang intelektual.

3.       Kweekschool merupakan salah satu jalan bagi golongan menengah dan rendah Indonesia untuk menikmati pendidikan lanjutan. Akhirnya guru menjadi orang yang sangat dihormati di dalam masyarakat Indonesia saat itu.

 

Mata pelajaran di Kweekschool Bandung adalah sebagai berikut :

1.       Bahasa Melayu

2.       Bahasa Sunda

3.       Menulis

4.       Berhitung

5.       Ilmu Ukur

6.       Ilmu Bumi

7.       Sejara

8.       Ilmu Alam

9.       Menggambar

10.     Ilmu Mendidik

11.    Bernyanyi

 

Di tahun ke-4 murid kweekschool mengadakan praktik mengajar di sekolah luar. Di Bandung, setiap calon guru belajar mengajar di tiap kelas selama dua minggu, dari kelas terandah sampai tertinggi. Mereka yang tidak ikut praktik mengajar bisa mengikuti pelajaran bersama murid kelas III. Praktik mengajar ini disudahi dengan ujian akhir. Bahkan murid yang tidak lulus sekalipun, masih bisa diangkat sebagai guru dengan gaji yang lebih rendah yakni f.20,- sedangkan yang lulus mendapat f.40,- sebulan. Ah, enaknya menjadi guru saat itu…

 

Nah demikian sedikit yang bisa saya bagi dari pengalaman saya eh, dari hasil baca-baca saya selama saya terkapar sakit ini, lebih kurangnya mohon dibantu ya… Pokonya mah “Blum ke Bandung kalo blum Ngaleut!”

 

Suasana belajar di OSVIA (Dok. Keluarga)

 

Sekilas Sejarah Pendidikan Kolonial

Djika soedah dapat goeroe sedjati

Minta soepaja dipeladjari

Tjara bagaimana ilmoe hakiki

Jang bergoena kelak kemoedian hari

(Sumber :  anonim)


Masa orientasi siswa telah dimulai, tampak wajah2 ceria anak2 yang memasuki lingkungan sekolah baru, sebaliknya wajah cemas diperlihatkan orang tua mereka yang harus membiayai sekolah sang anak. Mungkin timbul di benak para orang tua itu, mengapa harus ada sistem sekolah yang membedakan antara sekolah dasar, sekolah menengah pertama, atas, hingga perguruan tinggi. Mengapa tidak di”jamak-qashar” saja menjadi satu, sebut saja Sekolah Komplit ? Nah oleh karena itu kita perlu menilik sejarah pendidikan di Nusantara. Tapi karena cukup panjang, maka saya batasi dulu pembahasan hanya untuk sekolah dasar saja.

Sebelum kedatangan Belanda, pendidikan di Nusantara kebanyakan hanya berbentuk pesantren yang lebih mengutamakan ilmu Agama Islam tentunya. Ilmu yang diajarkan disini tentunya sangat terbatas, karena ilmu pengetahuan barat belum masuk sepenuhnya. Sampai kemudian datang Belanda yang menggunakan peluang keterbatasan Ilmu pengetahun penduduk Pribumi untuk dengan mudahnya mengacak-acak masyarakat nusantara melalui taktik-taktik kotor. Namun toh penduduk pribumi tidak sebodoh itu untuk menerima penjajahan. Mereka tetap melawan.

Hambatan terbesar bagi Belanda tentunya adalah Iman yang menjadi motivasi penduduk untuk melakukan perang suci terhadap “Pasukan Salib” Belanda. Titik-titik perlawanan utama; Aceh, Sumatera Utara dan Jawa Tengah merupakan lokasi perang-perang suci yang paling merepotkan Belanda. Oleh karena itu, munculah ide dari Snouck Hurgronje untuk melakukan “associatie van de inheemse elite aan de Nederlandse cultuur” alias asosiasi elit pribumi pada budaya Belanda untuk mengikis perlawanan penduduk pribumi. Mengapa hanya kaum elit ? Karena menurutnya tidak ada cukup dana untuk bisa memberikan pendidikan berbasis Barat ke penduduk pribumi. Selain itu “de kleine man” atau psikologi rakyat jelata juga belum cukup dipahami untuk bisa melihat ekses dari pemberian pendidikan ini di masa depan.

Pendidikan Barat ini intinya punya dua fungsi, selain mengurangi perlawanan penduduk, juga untuk menyuplai tenaga-tenaga terdidik, cakap, disipilin dan loyal pada pemerintahan Hindia Belanda. Ini tentunya akan lebih mudah daripada menggaji orang dari negeri Belanda. Nah, Singkatnya mulailah muncul sekolah-sekolah di Nusantara. Berikut adalah beberapa jenis sekolah tersebut.

Secara garis besar ada dua macam sekolah, yaitu yang berbahasa Belanda dan berbahasa non-Belanda.

Untuk yang Non Bahasa Belanda, yang pertama adalah pendidikan dasar yang biasa disebut Volkschool atau sekolah desa. Di sekolah ini anak-anak sekadar diberi pelajaran membaca, menulis atau berhitung. Lulusan terbaik sekolah ini dapat melanjutkan ke Vervolgschool, dan tamatan vervolgschool dapat melanjutkan lagi ke kursus Guru Bantu selama 2 tahun. Praktek engajar dijalankan di Tweede Inlandse School (sekolah rakyat angka loro) selama 6 bulan. Kalau lulus dapat mengajar di Volkschool.

Ada pula Tweede Inlandse school , lamanya 5 tahun. Tamatan sekolah ini dapat menjadi guru, melalui ujian dan seleksi untuk diterima di Normaalschool voor Indlandse Hulponderwijzer (guru bantu pribumi). Murid Tweede Inlandse School kelas 4 yang pintar dapat diterima di Schakelschool selama 3 tahun. Schakelschool merupakan sekolah yang menjembatani sekolah berbahasa non-Belanda dengan yang berbahasa Belanda.

Sekolah rendah yang mendapat pelajaran Bahasa Belanda antara lain Hollands Inlandse School (HIS), dengan lama studi 7 tahun. Bahasa pengantar di kelas I, II dan III adalah bahasa daerah, sedangkan bahasa Belanda diberikan di kelas I satu kali seminggu, di kelas II dan III kemudian lagi ditambah beberapa jam. Di kelas IV beberapa pelajaran sudah mulai menggunakan bahasa Belanda, sedangkan di kelas V, VI dan VII smua pelajaran sudah diberikan dalam bahasa Belanda. Seperti UAN di masa sekarang, anak-anak kelas VII di masa itu harus mengikuti ujian seleksi akhir dengah hasil :

  • Tamat dan mendapat keterangan dari Kepsek langsung masuk kelas I MULO
  • Tidak tamat dan tidak boleh mengulang
  • Tidak tamat, tapi boleh mengulang 1 tahun
  • Tamat, boleh turut ujian masuk voorklas (kelas persiapan) MULO
  • Tamat, mendapat keterangan dari Kepsek boleh masuk ke voorklas MULO tanpa ujian dan boleh ikut ujian untuk kelas I MULO

Begitulah ternyata sistem kelulusan jaman dahulu lebih rumit namun lebih manusiawi.

Kemudian ada pula Schakelschool. Tamatan sekolah ini mendapat hak yang sama dengan tamatan HIS.

Setingkat dengan HIS, ada pula sekolah-sekolah untuk keturunan China yang disebut Hollands Chinese School (HCS), keturunan Arab Hollands Arabische School (HAS) dan untuk anak-anak serdadu KNIL asal Ambon – Ambonse School.

Tahun 1927, untuk meningkatkan mutu murid tamatan HIS, pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah baru bernama Hollands Inlands Kweekschool di Bukittinggi, Bandung, yogyakarta dan Blitar. Lamanya 3 tahun dengan mata pelajaran yang hampir sama dengan MULO (Gouvernements Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Di sekolah ini, bahasa Belanda merupakan pelajaran maut, nilai 5 merupakan bel kematian. Murid dipersilakan mencari sekolah lain atau tidak naik kelas. Dan untuk setiap tingkatan, seleksi diperketat. Untuk bahasa Belanda rata-rata sekurangny memiliki nilai 6 untuk sub bagian membaca, pengetahuan dan penguasaan.

Setelah sekolah ini dibuka, pihak swasta juga membuka sekolah serupa antar lain sekolah NIATWU yang didirikan Yayasan Teosofi Albanus di daerah Lembang.

Nah, murid-murid yang dapat memasuki Kweekschool ini antara lain :

  • Murid-murid Kweekschool kelas I yang naik ke kelas II melalui seleksi
  • Murid-murid voorklas MULO yang naik ke kelas I MULO melalui seleksi
  • Murid-murid tamatan HIS yang mendapat keterangan langsung dapat diterima di kelas I MULO, melalui seleksi.
  • Lulusan HIK merupakan lulusan yang sangat unggul dan diproyeksikan untuk menjadi guru HIS. Guru-guru lulusan HIK berpengetahuan luas dan dapat berbahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Jawa.

    Pada masa kedatangan bangsa Jepang. Semua sekolah berbahasa Belanda ditutup. Di kemudian hari, seluruh sekolah dasar hanyalah berbentuk SR atau Sekolah Rakyat yang lama belajarnya 6 tahun. Demikian sedikit uraian singkat mengenai sejarah pendidikan dasar di masa kolonial.

    Berikut adalah bagan tingkat sekolah di masa kolonial Belanda

    GHS : Geneeskundige Hoge School

    HAC : Hoofd Akte Cursus

    RHS : Recht Hoge School

    THS : Technische Hogeschool

    HKS : Hogere Kweek School

    HIK : Hollands Inlands Kweekschool

    AMS : Algemeene Middlebare School

    KS : Kweekschool

    Sumber :

    P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Gramedia : 2002

    Keluarga EX-HIK Yogyakarta, Gema Edisi Yubileum, Forum Komunikasi keluarga Ex-HIK : 1987

    • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

    • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

      Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

    • NEW PRODUCT!

      Sehat Kuat bagai Hansip!

    • Blog bebas iklan dan pornografi