Kontroversi Arius

Sejarah Bible kemudian mengalami klimaks pada aad ke-4 masehi. Masa ini berhubungan dengan pembagian kekaisaran Romawi, yaitu pada tahun 284 M.. Pada masa itu Kaisar Diocletian menghasilkan keputusan strategis untk membagi kekaisaran Romawi dalam dua teritori dengan penguasanya sendiri-sendiri, untuk alasan keamanan dan kemudahan administrasi. Penyatuan kekaisaran dilakukan kembali oleh Konstantin setelah ia mengalahkan penguasa Romawi Timur, tetapi kemudian terbagi lagi pada tahun 392 M. saat Theodosius I membagi kembali teritori kekuasaan Kekaisaran kepada dua anaknya yang masih kecil, wilayah timur untuk anaknya Arcadius yang masih berumur 18 tahun, dan bagian barat kepada Honorius yang masih berumur 10 tahun. Tindakan ini menandakan awal kehancuran kekaisaran Romawi. Gereja Barat dikepung dan oleh bangsa barbar, sedangkan Gereja Timur akan menghadapi tekanan dari Kerajaan Persia dan Muslim.

Kembali pada masa kekuasaan Konstantin, Pada masa awal pertumbuhan kekristenan, paska digelarnya konsili nikea, polarisasi antara gereja wilayah Romawi barat dan timur mulai meruncing. Pada dasarnya perbedaan utama kedua gereja tersebut terletak pada kecenderungan mereka terhadap penerimaan baik paham Arian maupun Athanasius. Gereja barat yang dimotori kekaisaran dapat menerima sepenuhnya kredo Nikea yang dipengaruhi pemikiran Tertullian dan Athanasius. Sedangkan di pihak lain gereja Timur lebih dipengaruhi Arian dan pemikiran Origen bahwa anak (Yesus) lebih rendah dari Bapak. Pendukung doktrin Arian terutama adalah Kaisar Konstantin dan anak-anaknya. Nantinya, Gereja Timur akan berpusat di Konstantinopel, Byzantium, kota yang didirikan oleh Konstantin tahun 330 M. dan menjadi Ibu Kota Romawi guna menggantikan teritori barat yang semakin terancam bangsa barbar.

Konsili Nikea tidak berhasil meredam kekisruhan antar pengikut Kristen, hal ini sangat dirisaukan Konstantin. Konsensus tidak berhasil ditemukan dan Konstantin mendesak agar Athanasius mau berunding kembali, sayangnya pendirian Athanasius terlalu kuat untuk menerima tawaran tersebut. Hal ini membuat sang kaisar putus asa. Ia dan penerusnya menganggap Athanasius sebagai pembuat masalah. Pada tahun 330, sang Kaisar memanggil kembali Arius dan kawan-kawan yang telah diasingkan oleh keputusan Nikea. Ia ingin mengembalikan nama Baik Arius dan pendukungnya. Usaha Konstantin ini didukung oleh Eusebius dari Nicomedia dan Origen, pendukung setia faksi Arius, yang juga haus akan balas dendam terhadap pendukung doktrin Nikea, khususnya Athanasius. Tindakan paling nekat mereka adalah menyerang Athanasius yang saat itu menjabat sebagai uskup Alexandria menggantikan Alexander. Ia dikeluarkan dari kantornya berdasarkan keputusan Konsili Tyre di tahun 335 M. Dan kemudian dibuang ke Gaul. Tetapi Athanasius adalah orang yang keras kepala dan selalu berusaha untuk pulang kembali ke Alexandria. Bahkan pengusiran Athanasius dari Alexandria sempat dilakukan oleh 6 kaisar yang berbeda. Kebebalan Athanaius sangat dikenal saat itu hIngga sempat muncul frase “Athanasius contra mundum” atau Athanasius melawan dunia. Di tahun yang sama, Arius dan kerabatnya diijinkan untuk mendapat komuni Gereja di konsili Yerusalem. Tetapi semua ini tetap tidak dapat meyakinkan para penatua di Alexandria untuk menerima Arius sepenuhnya. Konstantin selajutnya memanggil Arius ke Konstantinople pada 336 M., dan memerintahkan Alexander, uskup kota tersebut untuk mengijinkan Arius memasuki gereja kota tersebut. Tetapi sebelum hal itu tewujud, Arius keburu tewas akibat penyebab yang misterius, beberapa mencurigai kalau ia diracuni. Beberapa pihak mencurigai bahwa rival Arius berada di balik kematian ini. Konstantin menyusul kematian Arius tidak lama setelahnya.

Walaupun doktrin Arian mungkin akan dirasakan asing oleh umat Kristen awal-generasi Yakobus. Ia mungkin masih memiliki beberapa kesamaan dalam memandang posisi Yesus yang lebih rendah dari Bapa. Bertentangan dengan pandangan kebanyakan, yang menganggap Gereja Barat dengan pusatnya Roma sebagai asal mula penyebaran Kristen, Gereja Timur ternyata memiliki konsep-konsep kekristenan yang lebih tua. Perlu diingat bahwa Penyebaran Kristen awal dimulai di Jerusallem oleh dewan rasul, bukan di Roma. Konsep Kristen Gereja Barat lebih terpengaruh oleh pemikiran Paulus dan pagan Romawi.

Kematian Konstantin mengantar salah satu anaknya, Konstantius, kaisar romawi Timur beserta kalangan terdekatnya untuk tetap mendukung perkembangan doktrin Arius. Saudaranya, Constans yang menguasai gereja barat mendapat dukungan dari faksi konsili Nikea. Kemudian terjadilah berbagai intrik dan pesaingan untuk memperebutkan kekuasaan. Berbagai konsili berbau politik diadakan oleh kedua belah pihak untuk menyerang satu sama lain. Constans meninggal di tahun 350 M., dan dua tahun kemudian sebagianbesar daerah kekuasaanya dikuasai oelh saudaranya, Konstantinus. Peristiwa ini merupakan pukulan telah bagi faksi Nikea. Sang Kaisar merupakan pendukung Arianisme sejati, dan memperlakukan pendukung faksi Nikea dengan penuh kekejaman untuk memasukan mereka ke dalam paham Arian. Sejarah Kristen dalam era Konstantinus dikenal sebagai periode yang kelam. Kaum Arian akhirnya memiliki kesempatan untuk membalas segala perlakuan yang merek dapat paska doktrin Nikea diberlakukan.

Kematian Konstantinus di tahun 362 M. Menandakan berakhirnya masa keemasan Arianisme. Penggantinya, Julianus tidak memiliki pendirian di antara baik paham Arian maupun Ortodoksi Nikean. Julianus adalah seorang Pagan sejati. Selanjutnya Jovian mendukung sentimen ortodox dan menentang Arianisme, akibatnya seluruh bagian Barat mengikuri pandangannya dan kembali mempercayai doktrin Nikea. Tetapi keandaanya mulai berubah saat dua bersaudara Valentinian dan Valens, memasuki kekuasaan tahun 364 M.. Valentinian mendukung keputusan Nikea dan menghabisi seluruh gereja Arian di barat. Bersebrangan dengannya, Valens mengambil posisi Arianisme dan menyerang penyebaran ortodksi di bagian Timur.

Sayangnya sang Kaisar terburu menghadapi perang dengan bangsa Goth di tahun 378 M., Gratian, yang menggantikan Valentinian di Barat, di tahun 376, menjadi penguasa seluruh kekaisaran di tahun 378 – mengembalikan posisi ortodoks ke atas angin. Selanjutnya Theodosius Agung, dengan melarang penyebaran Arianisme di gereja-gereja dan mengeluarkan peraturan yang membatasi gerak Arianisme, menghasilkan kejayaan Doktrin Nikea di mana-mana. Tidak ada yang berani mengexpresikan pandangan Arianisme kecuali Bangsa Barbar seperti Goth, Vandal, dan Burgundy. Tampaknya sejarah persaingan antar faksi yang penuh kekerasan ini belum bisa berakhir, dengan tidak ada pihak yang bisa dipersalahkan atas kesalahan terbesar. Tahun 382 Konsili Konstantinopel digelar oleh pendukung Athanasius dan berhasil menguatkan posisi ortodoks. Sayangnya kemenangan ini tidak sempat disaksikan Athanasius.

Kaum Arian akan memiliki posisi yang lebih kuat seandainya mereka tidak saling bertikai di dalam faksi mereka sendiri. Sebagaimana diketahui, setelah putusan Nikea diberlakukan, kaum Arian terbagi atas berbagai sekte yang masing-masing darinya mengklaim kebenaran. Beberapa bahkan sudah melenceng jauh dari pemikiran Arius yang sebenarnya. Kaum Arian yang berusaha menafsirkan sendiri pemikiran Arius cenderung memasuki kesalahan yang sama. Terdapat tiga faksi utama dalam tubuh Arianisme, yang pertama adalah Anomeans, yang menekankan perbedaan antara Bapa dan Anak; Homeans, yang menyiratkan kesamaan antara anak dan Bapa “berdasarkan kesesuaian kitab suci”, dan Semi-Arians, yang menekankan istilah homoiousion, yang mengexpresikan baik kesamaan dan perbedan antara Bapa dan Anak.

Di abad kelima, kaum Arian yang semakin tertekan oleh perlakukan Kekaisaran, mengungsi kepada bangsa-bangsa Barbar yang lambat laun mulai menguasai Romawi barat. Mereka menemukan tempat di antara kaum Goth, Heruli, Suevi, Vandals, dan Burgundy. Setelah merasa aman, mereka kemudian memperlakukan kaum ortodoks dengan kekejaman yang hampir sama dengan yang pernah mereka dapatkan. Kaum Vandal, yang menancapkan kekuasaan di Afrika, turut memberlakukan kebijakan yang sama terhadap pendukung Nikea. Awalnya Ginseric, raja mereka, dan kemudian Huneric, anaknya, menghancurkan gereja-gereja dan membuang uskup-uskupnya ke pengasingan, dengan dasar perlakukan tersebut serupa dengan yang pernah dilakukan Kaisar terhadap kaum Donatik, Arian, dan lainnya yang dianggap menyimpang dari ajaran ortodoks.

Dio awal abad keenam, kaum Arian berjaya di sebagian Asia, Eropa, dan Afrika. Banyak dari uskup Asia yang mendukung Arianisme. Kaum Vandal di Afrika, Goth di Italia, kaum Gaul, babgsa Suevi, Burgundy, dan Spaniard dengan terbuka menyokong kepercayaan Arianisme mereka. Kaum Yunani yang sempat mendukung doktrin Nikea turut memperoleh kekerasan dimanapun mereka berada. Dalam periode yang disebut sebagai abad kegelapan di Eropa ini, kekerasan antara Arian dan Ortodoks terjadi seakan tidak pernah berhenti dan selalu berulang. Hingga kemudian Justinian berkuasa dan merestorasi keadaan. Ia berhasil mengusir kaum Vandal dari Afrika dan Goth dari Italia. Akhirnya beberapa raja penganut Arian, seperti Sigismund, raja Burgundy, Theodimir-Raja Suevi di Lusitania, dan Receared, raja Spanyol, tanpa penumpahan darah mengakui pelepasan meeka dari doktrin Arian. Entah ada alasan apa di balik peristiwa tersebut, tetapi efeknya sejak itu, Kaum Arian mulai sedikit demi sedikit melemah dan tidak pernah memperoleh kekuatan yang sama lagi. Dalam hal penggunaan kitab Suci, Saat gereja barat tengah menuju persetujuan dalam penentuan canon Perjanjian Baru, Gereja timur masih belum sepenuhnya sepakat dalam hal tersebut. Penyebabnya antara lain, Gereja timur mencakup wilayah yang lebih heterogen, mulai dari Syria, Turki (Byzantium) hingga Mesir. Sebelumnya gereja di wilayah-wilayah tersebut sudah memiliki pilihan canon kitab suci masing-masing. Gereja Syria contohnya, walaupun sempat menggunakan canon Tatian selama beberapa waktu, pada abad keempat seluruh naskah Diatessaron dimusnahkan oleh perintah Uskup Theodoretus dari Cyrrhus dan Rabbula dari Edessa. Mereka menggantikannya dengan empat Injil yang terpisah. Pada abad kelima, gereja Syria menggunakan Pesshita yang berisi seluruh kitab Perjanjian Baru kecuali surat II dan III Johannes, II Petrus, Yudas, dan kitab Wahyu. Beberapa aliran gereja timur masih menggunakan canon tersebut hingga saat ini. Tetapi secara keseluruhan, konsep kristianitas versi Paulus yang menyebar pesat di barat mengelami penerimaan yang lebih lambat di kawasan ini.

Selanjutnya sebagai pengingat, ada pula gereja Afrika (Koptik) yang berpusat di Alexandria. Dalam hal penggunaan kitab suci, gereja ini sangat dipengaruhi pemikiran Clement dari Alexandria. Contohnya gereja ini mengakui dua surat Clement sebagai bagian dari kitab suci. Gereja aliran lain yang berpusat di Ethiopia bahkan menggunakan kitab-kitab tak dikenal seperti Sinodos (kumpulan doa yang dianggap sebagai karya Clement dari Roma), Octateuch (dianggap ditulis Petrus kepada Clement dari Roma), Kitab Perjanjian (berisikan instruksi Yesus sebelum peristiwa kenaikan), dan Didascalia (lebih seperti Didache yang berisikan peraturan-peraturan gereja). Naskah tertua yang pernah ditemukan saat ini merupakan naskah yang berasal dari keluarga Alexandria, tidak lain adalah codex Sinaiticus yang turut memuat kitab Hermas dan surat Barnabas. Membuktikan bahwa pada abad keempat masih ada gereja yang tidak menggunakan canon resmi.

Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa gereja barat lebih sepakat dalam menentukan canon, hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan politik dan sosial pasca-Nikea. Contohnya saat Athanasius melarikan diri dari tekanan gereja timur (yang masih menganut Arianisme), ia malah mendapatkan tanggapan yang baik di gereja barat. Sinode Carthage merupakan penentu akhir kontroversi canonisasi, dan setelah itu hampir-hampir tidak ada revisi terhadap Perjanjian Baru. Gereja Katolik tidak segera meresmikan susunan Bible hingga tanggal 8 April 1546, di mana konsili Trent terpaksa diadakan akibat tekanan politik. Gereja Katolik akhirnya mengakui Bible yang berisi 73 kitab sebagai bacaan utama mereka. Keputusan ini mengakibatkan perbedaan dengan aliran Protestan yang hanya menggunakan Bible yang berisi 66 kitab.

Pihak Protestan menyebut 7 kitab tambahan yang digunakan Katolik sebagai apokrip, sedangkan Martin Luther walaupun tidak secara terbuka menolak keotentikan beberapa surat dalam Perjanjian Baru, kadang ia menempatkan beberapa surat dalam derajat yang rendah dibandingkan dengan surat lainnya. Seperti Marcion, ia menempatkan surat–surat Paulus dalam derajat utama dan harus dianggap sebagai sumber keterangan utama mengenai ajaran Kristen. Surat lainnya seperti Yudas, Yakobus, dan Petrus (Catholic Epistles) ia tempatkan pada derajat yang lebih rendah karena menyiratkan pertentangan terhadap ajaran Paulus.


Hingga kini dapat kita simpulkan bahwa canonisasi Perjanjian Baru tidak pernah didasarkan atas pertimbangan literal atau historis, melainkan lebih atas dasar konsensus di antara gereja-gereja masa lampau. Akibatnya seperti yang bisa ditemukan saat ini, berupa banyaknya kontradiksi ditemukan di antara kita-kitab Perjanjian Baru. Martin Luther yang menyadari adanya pertentangan ajaran Paulus dalam beberapa surat akhirnya harus menempatkan beberapa surat dalam derajat yang berbeda. Belum lagi dengan ditemukannya berbagai keraguan atas keotentikan kitab-kitab tertentu di abad pasca-pencerahan yang menambah keraguan terhadap kredibilitas para Bapak Gereja awal dalam memproses canonisasi Perjanjian Baru. Beberapa naskah kuno yang selama ini diungkap bahkan seakan membuka mata kita bahwa selama ini terdapat berbagai bacaan lain di luar Perjanjian Baru yang dianggap sebagai tulisan suci oleh gereja-gereja di abad awal. Masalah hilangnya beberapa bacaan tersebut dari sejarah, kita dapat menyalahkannya pada tindakan-tindakan gereja pada masa sesudahnya yang sangat protektif.

Bapak Gereja Awal

Bapak gereja awal adalah pembuat canonifikasi kitab suci Kristen yg digunakan saat ini. Canon berasal dari bahasa kata Ibrani ‘Qaneh’ yang artinya buluh atau dedaunan yang biasa digunakan untuk membuat Papyrus. Kata tersebut memiliki pengartian lain yaitu sebagai acuan atau standar. Orang Yunani mengadopsi kata tersebut dan menyesuaikannya dengan lidah mereka sehingga terbentuklah kata kanon, yang kemudian berkembang dalam bahasa latin sebagai canna. Akhirnya canon dapat diartikan sebagai susunan kitab suci yang diakui secara resmi, lawan dengan apokrip yang berarti tidak diakui. Canon Perjanjian Baru, baru terbentuk pada abad keempat. Sebelumnya, berbagai gereja telah memiliki dan menyusun kitab suci favoritnya masing-masing. Para pemimpin gereja tersebut, akan saling menyerang dan mencela golongan lain.

Orang paling awal yang dianggap paling berpengaruh terhadap penentuan kitab-kitab calon pengisi kitab suci modern adalah Clement dari Roma. Dalam suratnya yang ditulis tahun 95 M. terhadap orang-orang Korintus, ia sempat mengutip ratusan ayat dari Perjanjian Lama dan surat-surat Paulus, terkadang ia juga menyelipkan berbagai ucapan Yesus. Perlu digarisbawahi bahwa ia tidak pernah mengacu pada suatu naskah tersendiri dalam usahany tersebut. Diduga kuat ia tidak menggunakan sumber tertulis khususnya saat mengutip perkataan-perkataan Yesus tersebut. Ia dipercaya hanya menggunakan sumber tradisi oral yang ada saat itu. Dengan asumsi apabila sumber tertulis (Injil-injil) telah eksis, ia sewajarnya tidak akan ragu untuk menuliskan sumber rujukannya. Ini menguatkan pendapat bahwa Injil-injil belum beredar atau bahkan belum diproduksi saat Clement menulis suratnya tahun 95 M. tersebut. Apabila misalnya Injil Markus yang diakui sebagai Injil tertua dan ditulis di Roma benar-benar telah beredar saat itu, tidak ada alasan bagi Clement untuk tidak mengetahuinya dan menggunakannya sebagai rujukan.

Walaupun begitu, Clement tidak dapat disebut sebagai pembuat canon Perjanjian Baru yang pertama. Ia hanya dikenal sebagai orang pertama yang menghasilkan karya yang di dalamnya terkandung kutipan-kutipan perkataan Yesus, yang paralel dengan isi Perjanjan Baru. Di sisi lain, dari suratnya dapat kita mengetahui bahwa surat-surat Paulus telah beredar luas pada saat itu, khususnya di daerah Roma dan Korintus.

Pada abad kedua munculah Ignatius (50-107 M.), seorang uskup Antiokia, yang dalam surat-suratnya terdapat berbagai rujukan terhadap surat-surat Paulus. Surat-surat Ignatius dikenal telah mengalami redaksi ulang sehingga keotentikannya berkurang, tetapi setidaknya para sarjana memastikan bahwa pada abad kedua surat Paulus telah beredar luas di daerah Roma dan sekitarnya. Terkadang tampak dalam suratnya ia meminjam ayat atau kalimat dari Injil-injil, tetapi walaupun begitu ia tidak pernah menyebutkan sumbernya. Walau diyakini bahwa pada masa tersebut beberapa Injil telah beredar, masih ada kemungkinan Ignatius tidak merujuk kepada salah satu Injil tersebut. Kemungkinannya ia menggunakan tradisi oral atau setidaknya menggunakan salah satu sumber tertulis atau Injil yang ia sendiri tidak ketahui siapa penulisnya. Beberapa sarjana bahkan mencurigai bahwa bagian-bagian yang memiliki hubungan dengan Injil-injil merupakan tambahan terhadap naskah surat-surat Ignatius yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab di masa-masa berikutnya. Perlu diingat bahwa baik Clement, Ignatius atau berbagai Bapak Gereja awal pada jaman tersebut tidak pernah menganggap perkataan Yesus sebagai suatu wahyu yang turun dari Tuhan (scriptures). Kebanyakan perkataan Yesus hanya digunakan untuk mendukung kutipan yang diambil dari Perjanjian Lama, dengan otoritas yang lebih rendah dari Perjanjian Lama itu sendiri.


Bila kebanyakan dari Bapak Gereja Awal di atas ternyata tidak menunjukan keterangan yang berarti terhadap perkembangan naskah tertulis, tidak demikian halnya dengan Papias (60-130 M.). Papias hanya sempat meninggalkan fragmen-fragmen dari naskah yang dianggap sebagai karyanya, sedangkan riwayat lain mengenainya disebutkan dalam karya-karya Bapak Gereja awal lain. Papias dikenal terhadap pembelaanya bahwa Injil Markus benar–benar ditulis oleh Markus, murid sekaligus sekertaris dari Petrus. Menurutnya Markus menulis kembali segala perkataan Petrus tanpa merubah sedikitpun keterangan yang ia dapat dari Petrus. Sayangnya pada zaman modern para sarjana telah menemukan bahwa Markus membuat berbagai kesalahan serius, yang tentunya kesalahan ini terlalu sulit untuk kembali ditimpakan kepada Petrus sebagai narasumber Injil Markus. Kesimpulan lain yang para sarjana dapat melalui diketemukannya berbagai kesalahan pada Injil Markus itu adalah bahwa pada abad pertama distorsi terhadap kisah kehidupan Yesus telah terjadi, khususnya terhadap tradisi oral.

Selanjutnya Papias menyebutkan mengenai Matius yang mengumpulkan perkataan Yesus dalam bahasa Ibrani. Para Sarjana modern kemudian mengkritisi bahwa berdasarkan penelitian mereka terhadap Injil Matius dapat disimpulkan bahwa Injil ini pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani. Kesimpulan ini tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dari bukti nyata bahwa salah satunya Matius pernah menggunakan septuagint dalam penulisan Injilnya. Tentu saja masih ada kemungkinan bahwa objek yang dibicarakan antara para sarjana dan Papias adalah kedua hal yang berbeda. Papias ternyata tidak membicarakan sumber tertulis dan lagi-lagi lebih banyak merujuk kepada sumber-sumber oral yang berasal dari temannya yang mengaku sebagai teman dari murid salah seorang rasul. Akibatnya tentu ucapannya tidak bisa lagi dipertanggungjawabkan, contohnya saat ia mengatakan bahwa kepala Judas Escariot menggembung hingga selebar jalur gerobak hingga matanya tertutupi oleh daging, dan tempat dimana ia tewas masih tetap berbau busuk bahkan hingga saat Papias menulis surat ini (Expositions, dikutip oleh Apollinaris dari Laodicea, catatan kaki no. 23 dalam Metzger, ”The Canon of The New Testament: Its Origin, Development, And Significance” Clarendon, 1987 h. 53). Selanjutnya dapat kita simpulkan bahwa pada abad-abad awal perkembangan Kristen, kisah kehidupan Yesus telah bercampur dengan berbagai mitos, dan usaha untuk memisahkan keduanya adalah sangat sulit karena orang-orang terdekat dengan Yesus telah habis dibantai penguasa Roma yang sangat membenci pengikut Yesus.

Nicaean Council (Konsili Nikea)

Usaha pelacakan sejarah penyusunan Perjanjian Baru akan membimbing kita menuju ke abad keempat Masehi (sekitar 367 M.), saat konsili Nicea dihelat. Acara akbar tersebut bermaksud mempertemukan seluruh faksi Kristiani di daratan Eropa, Asia hingga Afrika utara untuk mencari konsensus mengenai versi agama Kristen yang akan diakui kekaisaran.

Dalam konsili ini bertarung dua kekuatan besar. Faksi Athanasius, salah satu pihak yang pemikirannya dimenangkan melalui voting dalam konsili ini, nantinya akan menjadi orang pertama yang memutuskan susunan kitab-kitab (atau surat) yang nantinya akan menjadi Perjanjian Baru. Susunan kitab Perjanjian Baru tersebut termuat dalam suratnya yang dikirim saat Paskah (The Easter Letter Of Athanasius) kepada gereja-gereja resmi. Di dalam surat tersebut terdapat 27 kitab atau surat yang akan menjadi kitab suci bagi gereja barat, atau dengan kata lain menjadi bagian dari Kitab suci Bible pada hari ini. Hingga pada akhirnya pada tahun 397, Synod of Carthage memberikan otoritas terhadap 27 kitab tersebut sebagai bacaan utama bagi setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus.

Menurut Jortin (Rem. On Eccl. Vol. ii. P.177), disebutkan bahwa Alexander, uskup Alexandria dan Arius, yang saat itu merupakan seorang penatua di Diocese tengah memperdebatkan mengenai sifat Kristus. Sang Uskup merasa tidak puas dengan pemikiran Arius, dan ia merasa sangat murka. Ia memerintahkan Arius untuk mengikuti pendapatnya, dan menyangkal pemikirannya sendiri. Andaikan seorang manusia bisa merubah opininya semudah melepas jaketnya ! Alexander kemudian menggelar konsili Perang tahun 321 M., terdiri dari kurang lebih seratus uskup dan menghasilkan keputusan untuk mengexkomunikasi Arius serta beserta beberapa pendeta dan dua uskup pendukungnya untuk menyelesaikan perdebatan ini. Semua ini tidak berhasil menghentikan penyebaran pemikiran Arius di kalangan pelajar-pelajar Mesir saat itu. Doktrin Arius berada di atas angin karena mendapat dukungan kitab suci yang dikanal umat saat itu. Arius menentang paham trinitas yang tidak tercantum dalam kitab suci.

Konstantin yang merasa khawatir dengan kekisruhan di Gereja ini, mengirim surat kepada Alexander untuk mengingatkan kendala yang dapat timbul akibat segala perdebatan ini. Sayangnya skandal yang telah terjadi tidak begitu saja dapat selesai. Untuk menyelesaikan masalah ini dan masalah lainnya, Konsili Nikea dihelat. Terdiri dari 318 uskup dari berbagai daerah dan aliran Kristen. Dalam konsili ini para perwakilan saring melemparkan pendapat, mempertahankan keyakinan mereka, dan berdebat satu sama lain. Kaisar tampaknya harus bekerja keras untuk bisa menyatukan mereka dalam damai. Seperti yang dikatakan oleh Sabinus, Uskup Pamphilus mengutip Konstantin dan Eusebius, bahwa para anggota konsili adalah “sekumpulan mahkluk bodoh, yang tidak mengerti apa-apa.”

Saat ini, umat Katolik terdidik, khususnya umat Protestan adalah pembaca utama kitab-kitab Perjanjian Baru yang diresmikan oleh Konsili Nikea. Kitab-kitab yang dikatakan Pappus, “secara ceroboh disimpan di bawah meja komuni dalam ruang tertutup sebuah Gereja, dan kemudian mereka mengharapkan intervensi Tuhan untuk memilih kitab-kitab suci di atas meja dan meninggalkan sisanya di bawah meja. Dan itulah yang terjadi !” (Com. Mace’s N. T. p. 875.) Oleh karena itu, umat Kristiani sejak abad keempat hingga saat ini, telah mengaggungkan kitab-kitab yang menaiki meja komuni secara ajaib, dan dilarang untuk membaca ratusan kitab-kitab dan Injil lainnya yang memiliki nasib kurang beruntung karena tidak berhasil memanjat meja. Kitab-kitab yang divonis palsu dan apokrip. Berdasarkan legenda ini, maka kita tentu tidak perlu lelah-lelah membahas kitab-kitab yang meragukan ini, karena usaha ilmiah tidak akan terlalu berguna untuk melacak keotentikan kitab-kitab yang secara ajaib menaiki meja !

Tentunya peristiwa pemilihan kitab suci tidak terjadi sesederhana itu, peran Athanasius dalam proses pemredaksian dan pemilihan kitab suci perlu diperhitungkan karena kitab-kitab suci yang terpilih hanyalah kitab yang mendukung pemikirannya. Athanasius tentu tidak memilih susunan kitab suci tersebut secara tiba-tiba atau berdasarkan inspirasi ilahiah. Proses pemilihan dan peredaksian anggota kitab suci sebenarnya telah terjadi ratusan tahun sebelumnya. Masa-masa penyeleksian naskah-naskah suci dimulai setidaknya di akhir abad pertama masehi, berpuluh tahun setelah Yesus wafat. Pada masa tersebut umat Kristen mulai kehilangan sumber-sumber saksi mata langsung kehidupan Yesus, sehingga pencatatan tertulis biografi dan ajaran Yesus dirasa cukup diperlukan. Sayangnya inisiatif ini dapat dikatakan terlambat karena para periwayat sudah tidak dapat lagi mengingat sejarah kekristenan generasi awal dengan jelas.

Kita harus memperhatikan kondisi umat Kristen saat itu yang tengah diburu oleh kekaisaran Romawi. Berbagai pembantaian mengimbangi penyebaran agama baru tersebut. Terbunuhnya para pemimpin Kristen seperti Petrus dan Yakobus menyebabkan terpecahnya kekuatan para pengikut sejati Kristus. Di lain pihak, sebagaimana terjadi dalam tradisi agama lainnya, Ketiadaan otoritas menghasilkan munculnya aliran-aliran sempalan yang turut memperparah perpecahan yang ada. Kebanyakan pengikut aliran tersebut mendistorsi risalah yang dibawa Yesus dengan membaurkannya dengan ajaran gnostik, pagan dan platonis.

Para Bapak Gereja awalnya tidak sengaja menyusun canon atau susunan kitab suci yang kebanyakan dilatarbelakangi oleh kenginginan untuk membendung ajaran yang mereka anggap sesat. Alhasil kitab-kitab yang menjadi bagian dari Perjanjian Baru tidak lain adalah kitab-kitab yang memenangkan pertarungan antar gereja di masa lalu.

Kita tidak tahu ada berapa ribu naskah yang telah hilangkan selama masa tersebut, yang kemudia diperparah oleh tindakan represif mulai dari abad keempat hingga abad pencerahan. Sebaliknya canon yang disusun Athanasius mengalami masa gemilang pada masa tersebut. Ratusan atau ribuan salinan diproduksi untuk menggantikan kitab apokrip yang masih beredar. Sayangnya permasalahan tetap ada karena dari ribuan salinan yang dihasilkan, tidak ada manuskrip yang isinya identik !

  • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

  • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

    Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

  • NEW PRODUCT!

    Sehat Kuat bagai Hansip!

  • Blog bebas iklan dan pornografi