Gregorian Music

Kapan pertama kalinya saya mengenal musik Gregorian ? Hmmm,,, seperti kebanyakan orang, seorang penggemar Musik New Age biasanya mengenal jenis alunan gregorian melalui tembang sadness dari enigma. Saya juga termasuk ke dalam golongan tersebut.  Terus terang saya langsung jatuh cinta pada Enigma, tetapi ternyata nuansa gregorian yang kental hanya terdapat pada album pertama, MCMXC AD. Album-album lainnya memang kental dengan nuansa chant, namun enigma bereksperimen dengan mengadopsi nuansa-nuansa Tibet, Indian, hingga Opera pada album “The Face Behind the Mirror”.

Saya butuh musik yang murni Gregorian, dengan nuansa kegelapan dan kesenduan,  namun tetap saja yang telah dipadukan dengan musik modern, karena terbukti, setelah saya membeli album yang berisi kidung gregorian asli, saya tidak bisa menikmatinya karena langsung tersungkur tidur. Secara umum, musik gregorian diartikan sebagai musik yang menggunakan notasi gubahan Paus Gregory Agung, yaitu Notasi yang memakai 4 garis sebagai balok not, tetapi belum ada notasi iramanya (hitungan berdasarkan perasaan penyanyi. Di sini sifat lagu masih sebagai lagu tunggal atau monofoni. (wikipedia)

Keinginan saya ini baru terwujud di sekitar tahun 2000, dimana ketika itu, saya tengah mengunjungi suatu toko kaset, dan kebetulan sang penjaga toko memasang musik “Moments of Peace” dari Gregorian. Perasaan jatuh cinta tiba lagi pada diri saya. Saya alngsung menanyakan penyanyi lagu tersebut, dan sang penjaga toko menyerahkan kaset “The Master of Chant II” dari Gregorian. Ya Tuhan, saya memasang kaset ini setiap hari tanpa bosan. Kemudian baru saya sadari bahwa lagu-lagu yang dinyanyikan Gregorian dalam album ini, tidak lain merupakan aransemen ulang dari lagu-lagu hits tahun 80-90’an dari artis terkenal seperti Pink Floyd, Phil Collins, Led Zeppelin  hingga MEtallica.

Siapakan orang di balik kreasi menakjubkan “Master of chant” ini ? Ia tidak lain adalah Frank Peterson. Beliau dikenal lewat kerjasamanya dengan Mickhael Cretu dalam merancang album MCMXC AD. dari Enigma, yang terkenal lewat hits sepanjang masanya, “Sadness”.  Entah apa yang terjadi di antara keduanya, mereka tidak lagi bekerja sama. Frank Peterson bersama Thomas Schwartz dan Matthias Meissner kemudian membuat album tersendiri dengan nama Gregorian, dengan judul album Sadisfaction di awal tahun 90’an. Walau track So Sad dan In a Lifetime cukup enak untuk didengar, namun boleh dikatakan album ini menemui kegagalan. Pengalaman ini membuat Frank Peterson beranggapan bahwa publik belum bisa sepenuhnya menerima musik Gregorian. Selama beberapa tahun berikutnya, Frank Peterson sibuk memproduseri artis-artis lain seperti Sarah Brightman, Ofra Haza hingga Violet.

Barulah pada tahun 1999, Frank Peterson mengambil resiko untuk menerbitkan konsep musik gregorian yang dipadukan dengan nuansa Pop dan New Age tentunya. Muncullah album “The Master of Chant”. Album ini ternyata berhasil menuai sukses di berbagai negara Eropa dan Australia. Kesuksesan ini menambah kepercayaan diri Frank Peterson untuk melanjutkan seri “Masters of Chant – Masters of Chant” berikutnya.

Tahun 1999 itu dapat dibilang sebagai awal kebangkitan baru musik Gregorian setelah pada awal abad 20 musik “Sadness” diperkenalkan oleh enigma. Pada tahun ini, menjelang millenium, terjadi aliran baru dimana orang-orang mengalami kebosanan terhadap aliran-aliran musik yang ada, mereka juga tengah haus akan nuansa spiritual menjelang abad baru. Itulah salah satu penyebab kesuksesan album Gregorian, frank Peterson berhasil melihat momentum ini.

Nah, sebagai panduan bagi anda yang ingin menyelami musik-musik Gregorian, saya sarankan anda untuk tidak langsung mencoba menikmati musik Gregorian murni karena anda akan langsung dibuat bosan, cobalah dulu tembang “Sadness” dari Enigma. Apabila anda berhasil menikmatinya, maka tidak ada masalah untuk menikmati seri “Masters of chant” dari Gregorian, walau sebenarnya gubahan Gregorian ini akan lebih mudah dinikmati karena lagu-lagunya familiar di telinga. Dalam album pertama saja anda sudah akan disuguhi lagu “Loosing My Religion” yang dimuat dalam versi gregorian, begitu pula dengan I Still Have’nt found what im looking for (U2), Scarborough Fair (Simon Garfunkel), Tears in Heaven (Eric Clampton)

hingga Nothing else Matters (Metallica). Bila anda menyelami album-album berikutnya dari seri “Masters of chant” anda akan menemukan lebih banyak lagi kejutan, saya tidak akan memberitahukan lagu-lagu unggulan dalam album-album tersebut, lebih baik saya biarkan saja anda mencari dan mengalami sendiri pengalaman tersebut. (Diskografi gregorian : Masters of Chant I-VI, The Dark Side, Masterpieces dan Christmas Chants)

Sejak album ke-4, gregorian mencantumkan titel “The Original” dalam tiap albumnya, mengapa ? karena beberapa band sempalan muncul dengan memanfaatkan kesuksesan gregorian. Berbekal kemampuan seadanya, band abal-abal ini menyanyikan lagu-lagu Beatles, Celine Dion, hingga ABBA. Kualitasnya tentu jauh di bawah Gregorian asli, maka saran saya, hati-hatilah terhadap Gregorian palsu.

Pasca kesuksesan Gregorian ini, banyak musisi lainnya yang terinspirasi dan menciptakan band-band baru dengan gaya yang sama. Apabila anda telah menikmati Gregorian, saya sarankan anda mulai mencoba menikmati  kreasi beberapa band-band berikut (Klik untuk Info) :
1. ERA
2. LESIEM
3. MAGNA CANTA
4. SOLYMA
5. MISTIC
6. CARDINALS
7. ADIEMUS
8. E NOMINE

  • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

  • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

    Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

  • NEW PRODUCT!

    Sehat Kuat bagai Hansip!

  • Blog bebas iklan dan pornografi