Resensi Buku : The Crossword (2011)

 

 

Book Review

 

Judul Buku  : Rumania – Sebuah Teka Teki Silang

Penulis        : Anonim

Penerbit      : ErQ

Tahun         : 2011

Tebal          : 64

Peresensi    : Ryzki Wiryawan

 

Bagaimana membuka rahasia kotak-kotak kosong  itu? Dengan membaca petunjuk yang ada di halaman sebelahnya. Dalam buku tipis ini,  Pembaca menjadi pemegang kunci agar kata-kata dalam buku itu bisa terangkai dan tercipta menjadi untaian yang saling membangun. Dalam buku ini, berbeda dari buku karangan Umberto Eco atau Paulo Coelho, pembaca tidak memiliki ruang interpretasi yang terbuka,  interpretasi hanya bisa dilakukan sesuai petunjuk dan kotak yang tersedia. Itulah keunikan buku ini, seperti yang digambarkan oleh judulnya “Teka-teki Silang”, pembaca dibawa ke dalam labirin kata-kata yang menuntut keluasan wawasan dan intelektual dalam menyusuri setiap lorongnya. Tidak ada kepuasan yang lebih tinggi kecuali memecahkan setiap teka-teki dalam buku ini.

 

“Don’t judge a book by its cover” adalah idiom yang tepat untuk menggambarkan buku ini. Jangan tertipu oleh covernya yang bergambar wanita cantik dalam balutan kebaya. Isi buku ini sama sekali tidak menggambarkan cover tersebut, walau mungkin saja, si penulis bermaksud mengatakan bahwa wanita bagaikan teka-teki silang, yaitu membingungkan bagi yang belum terbiasa bergaul dengannya… Namun tampaknya tradisi ini tidak pernah berubah sejak pertama kali buku teka-teki silang dikeluarkan, selalu saja menampang foto wanita pada covernya.

 

Keutamaan lain buku ini adalah penawaran hadiah Rp. 1.500.000,- bagi siapapun yang bisa memecahkan seluruh teka-teki dalam buku ini. Sayangnya tidak ada keterangan dalam buku bagaimana dan kepada siapa jawaban teka-teki ini dikirimkan agar bisa mendapatkan hadiah. Anehnya, SELURUH JAWABAN TERNYATA TERDAPAT DI BAGIAN AKHIR BUKU ! Jadi untuk siapa hadiah Rp. 1.500.000,- itu akan diberikan ? Tidak hanya itu masih ada kekurangan lain, seperti penyebutan adanya “Extra Bonus”, “Berhadiah Langsung dan Menarik”, dan “Kertas HVS Putih” yang ternyata hanya pepesan kosong. Nenek-nenek atlet juga tau kalau buku ini murni menggunakan kertas buram!

 

Seperti buku-buku sebelumnya, penulis buku ini tetap menempatkan pembaca sebagai tokoh utama penceritaan. Pembaca dituntut mengungkap misteri demi misteri yang cukup sulit, namun jangan khawatir karena ada jawabannya di halaman belakang. Dalam beberapa kasus, penulis menyebutkan teka-teki yang cukup membingungkan seperti “38. Assembling Motor Honda (Menurun)” – di halaman 20, serta “1.Kota di Pulau Madura (Mendatar)” di halaman 49. Bagi pembaca yang jarang membaca, pasti akan termenung dalam menghadapi pertanyaan sesukar ini.

 

Pembaca kan kesulitan mencari benang merah kisah dalam buku ini, karena memang tidak ada. Untuk anda penggemar buku-buku thriller, misteri dan kisah detektif, buku ini mungkin tidak akan terlalu menarik, namun dengan harganya yang cukup murah, hanya Rp. 1.500,- saja, anda bisa mengalami pengalaman seru dan menyenangkan dalam mengungkap misteri-misteri yang jawabannya terdapat di halaman belakang. Walau demikian, toh buku ini bisa menjadi teman anda di kala nganggur atau menunggu penumpang. (MRW)

Review : The Secret Supper

Dah lama sebenernya ane baca ni buku, tapi baru sekarang ane publish reviewnya, soalnya kebetulan lagi ada waktu (dari tahun 2007 men!). Pokoknya bagi ente ente penggemar kisah-kisah thriller misteri semacam Da Vinci Code, last Symbol dll  pasti bakal suka juga buku The Secret Supper karangan penulis asal Spanyol,  Javier Sierra ini.

Dalam buku setebal 528 halaman ini ente bakal nemuin pengungkapan misteri-misteri dan kejutan-kejutan baru seputar karya-karya Leonardo Da Vinci , khususnya lukisan The Last Supper yang hingga saat ini masih terpampang di Cenacolo della Santa Grazzie, Milan. Buku ini emang terbitnya dulu lagi jaman-jamannya buku-buku sejenis, yang beken di luar negeri satu dekade sbeleum populer di indonesia, kita aja yang ketinggalan jaman,, tapi bukan berarti jangan dibaca, rame juga koq, bahkan buku2 semacam ini menginspirasi beberapa penulis dalem negeri buat nulis novel-novel berlatar belakang sejarah,, yang jarang bisa mencapai kesuksesan,, Mengapa? Karena susaaaaahhhh…. Bikin novel berlatar belakang sejarah perlu studi litelatur tingkat tinggi ditambah imajinasi tingkat tinggi,, kalau gak niat bisa-bisa kayak sinetron-sinetron yang sering tampil di Indosiar,, kagak jelas deh bo,,

Nah, Mengenai jalan cerita dalem buku, lumayan mantap lah,  kisah dimulai ketika organisasi Inquisisi ordo Betania, yang bertugas menumpas pemikiran  heresy Kristen saat itu, menerima laporan akan timbulnya gelombang baru heresy yang ditandai dengan rampungnya sebuah lukisan yang menyimpan rahasia berbahaya.  Ordo Betania mengirimkan salah satu utusannya, Bapak Agostine Leyre, yang tidak lain adalah tokoh utama buku ini, untuk menyelidiki identitas pengirim laporan misterius tersebut, serta kebenaran informasi yang didapatnya.

Tugas tersebut membuatnya bersentuhan dengan petualangan seru yang melibatkan berbagai pembunuhan, teka-teki dan simbol  misterius dalam karya Leonardo da Vinci, kitab-kitab eksotis, hingga ajaran-ajaran sampingan Kristen yang saat itu berusaha dibungkam Gereja. Penelitian serius yang ditujukan untuk menghasilkan kisah  ini menghasilkan alur yang penuh dengan informasi-informasi baru yang sangat  menarik…

Oh iya, buku ini sekarang dipinjem sama seseorang yang udah bertaon-taon gak ngebalikin… kalau ente lagi membaca blog ini, smoga ente mendapat hidayah buat balikin tu buku ke ane,, kecuali mau ane tagih di akhirat nanti,, tapi ngapain juga nae tagih di akhirat, emangnya disana mau baca buku ? amit2,,,

Buku terbaru dari Sadnesssystem!

TERSEDIA DI SEMUA TOKO BUKU YANG MENJADI

DISTRIBUTOR RESMI PRODUK SADNESSSYSTEM…

IDR. 25.000,-

PEMESANAN BISA MELALUI SMS LANGSUNG KE PENULIS

DAN BARU AKAN DIBALAS KETIKA INBOXNYA PENUH…….

Inside The Jihad

Buku Inside The Jihad yang dikarang oleh seseorang bernama samaran Omar Nasiri ini menyajikan kisah petualangan spionase menegangkan ala James Bond , hanya saja tokoh utama dalam buku ini, yang tidak lain adalah dirinya sendiri, tidak menggunakan peralatan-peralatan super canggih, melainkan senjata-senjata konvensional semacam senapan kalashnikov, bom C4, hingga mobil Audi bermuatan bom, kesemuanya berbaur dengan kemampuannya dalam menghadapi berbagai situasi sulit yang biasa dihadapi seorang mata-mata. Tantangan yang dihadapinya cukup berat karena ia harus menyusup ke dalam jantung organisasi teroris Al Qaeda yang dikomandoi oleh Osama Bin Laden.

Petualangan yang tiada hentinya disajikan Omar Nasiri, sehingga kadang terpikir bahwa buku yang kita hadapi adalah sebuah novel fiksi. Tetapi kisah yang disajikannya benar-benar nyata, segala tokoh dan kejadian yang disebutkan benar adanya. Petualangannya melampau berbagai negara Eropa, Afrika hingga Asia. Mulai dari kisah masa kecilnya di Maroko, hingga saat ia mendalami pelatihan teroris di Kamp Afganisthan.

Bagian pertama buku ini memuat kisah hidup Omar mulai dari masa kecilnya di Maroko dan Brussels, yaitu masa-masa yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian seorang mata-mata teroris yang cerdik dan lihai, karena masa remajanya kental dengan nuansa Islam garis keras dan dunia hitam perdagangan barang-barang illegal. Sedangkan masa remajanya diwarnai dengan pergaulannya terhadap kelompok GIA (Group Islamique Armee), suatu kelompok garis keras di Aljazair hingga keterlibatannya untuk pertama kali dengan Agen rahasia Prancis. Kehidupan seorang mata-mata selalu diliputi oleh berbagai pilihan buruk dan pengkhianatan, seakan-akan tidak bisa ada pihak yang bisa dipercaya, sehingga dalam hal ini Omar selalu mengandalkan instingnya yang cerdas dalam menghadapi situasi yang sempit.

Sebagai seorang yang berasal dari lingkungan Islam, ia dapat menjabarkan sudut pandang penyebab seseorang muslim dapat menjadi begitu radikal. Ia yang masa mudanya juga pernah terbakar oleh semangat Jihad, tetapi kemudian ia “tersadarkan” bahwa cara-cara yang ditempuh saudara-saudaranya dalam menegakkan kebenaran telah melenceng dari ajaran Islam yang sebenarnya. Oleh karena itulah ia bersedia memasuki dunia terorisme hanya dengan tujuan yaitu tidak lain untuk mencegah terjadinya tindak teror yang dapat tidak sesuai dengan kemanusiaan, sedangkan di lain pihak akan memperburuk nama baik Islam sendiri sebagai ajaran rahmatan lil alamin.

Bagian kedua buku ini mengulas banyak pengalaman Omar selama mengenyam pelatihan di kamp Mujahidin di Afganisthan. Adalah tidak mudah bagi siapapun untuk dapat bisa masuk begitu saja ke dalam organisasi militan ini, karena sistem perekrutan yang sangat selektif dan ketat. Bahkan Stansfield Turner, Direktur CIA tahun 1977-1981, mengakui kesulitan yang dihadapi badan mata-mata manapun yang ingin memasukan agennya pada organisasi teroris, karena kadang organisasi mensyaratkan calon anggotanya untuk membunuh orang-orang tetentu sebagai bukti loyalitas pada organisasi. Selain itu, Sistem organisasi yang berbentuk sel mempersulit seorang agen mata-mata untuk memperoleh informasi yang akurat. Karena berhasil memasuki lingkaran dalam organisasi ini, Omar memaparkan banyak sekali aspek-aspek tersembunyi yang selama ini kita tidak ketahui mengenai organisasi para kaum mujahid di Afganisthan. Contohnya, tidak seperti yang selama ini kita duga, ternyata para mujahidin yang berasal dari berbagai belahan dunia kurang memiliki hubungan yang baik dengan Taliban. Omar yang sehari-hari bergaul dengan para “Teroris”, dapat memberikan pandangan dari sudut pandang mereka dengan alami, tidak seperti yang dituduhkan oleh para penulis barat mengenai terorisme. Pada akhirnya Omar dapat mengerti penyebab kemunculan fundamentalisme ekstrim pada para pemuda yang dilatih di kamp, tetapi batinnya tetap menolak utnuk menyetuji metode Jihad yang dapat mengakibatkan korban pada pihak sipil.

Omar juga mengulas keseriusan pelatihan serta kemampuan militer yang didapat para peserta selama berada di Kamp. Mereka diajari penggunaan berbagai macam senjata, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat, peracikan bom dengan menggunakan paling bahan-bahan sederhana, hingga cara untuk mencapai efek maksimal dalam suatu peledakkan bom. Melalui berbagai kisahnya tersebut, kita tentu saja tidak akan meragukan kembali keahlian-keahlian para alumni pelatihan di Afganisthan tersebut dalam menciptakan teror yang sangat dahsyat.

Bagian ketiga dan keempat buku ini, masing-masing bertajuk “Londonistan” dan “Jerman”, membahas pengalaman Omar selama bertugas sebagai “sel tidur” Al Qaeda di Eropa, di lain pihak ia juga mendapat peran sebagai agen mata-mata Inggris yang mengawasi bibit-bibit ekstrimisme yang tengah tumbuh di Inggris saat itu, yang dipelopori oleh Abu Hamza dan Abu Qatada. Abu Hamza, pemimpin masjid Finsbury park, seorang ulama garis keras, telah dikenai tuduhan atas penyebaran kebencian dan beberapa rencana terorisme. Sedangkan Abu Qatada, yang ditahan pada oktober 2002 oleh otoritas Inggris, turut dikenai tuduhan atas beberapa keterlibatan dalam tindakan terorisme. Omar berhasil membantu pemerintah Inggris dalam menanggulangi beberapa aksi teror berkat informasi yang berhasil dikumpulknnya, sayangnya karirnya di negara tersebut tidak berlangsung lama. Setelah sekitar dua tahun, ia mulai merasa bahwa kecurigaan terhadap dirinya mulai meningkat, sejalan dengan mulai intensnya aksi-aksi teror yang dijalankan oleh Al Qaeda. Omar lalu memutuskan untuk hijrah ke Jerman dan memulai kehidupan baru di sana bersama Istrinya, Fatima.

Kisah-kisah yang dibeberkan Omar Nasiri yang sarat dengan nuansa kemanusiaan, dapat membuat kita merenungkan kembali makna Jihad yang sesungguhnya. Pergolakan batin yang sempat dialami Omar saat memiliki peran sebagai Mujahidin yang merangkap agen barat, mencerminkan posisi seorang Muslim yang hidup di masa modern ini. Di mana wilayah hitam dan putih menjadi kian kabur, dan menyisakan ruang abu-abu yang luas.

The Jesus Dynasty

James D. Tabor adalah Ketua Jurusan Studi keagamaan di Universitas North Carolina di Charlote, AS. Dalam buku karyanya yang bertajuk Dinasti Yesus ini, beliau menggali sejarah Kekristenan hingga ke pangkalnya. Berbeda dengan kebanyakan penulis kristologi lainnya, yang kadang menggunakan karya-karya teologi sebagai acuannya – bukan maksud saya untuk mengecilkan usaha Kaum Muslim yang menggunakan Al Qur’an sebagai rujukan utamanya, kualitas paparan James Tabor yang didasarkan pada bukti-bukti sejarah yang meyakinkan tidak kalah menarik. Ia berusaha merekonstruksi profil “Yesus sejara” dan “Kristianitas sejati”. Ia murni bertekad hal-hal sensitif tersebut dari sisi sejarah tanpa mau terlalu banyak melibatkan sisi teologis. Inilah yang menjadi salah satu nilai plus yang bisa disajikan James Tabor melalui bukunya.

Dalam pembukaan buku ini, james tabor memaparkan motif awalnya dalam usaha melacak arti “Yesus Sejarah” yang selama ini cukup samar. Niat terhadap usaha tersebut tidak muncul begitu saja, Berbagai penemuan arkeologis terbaru sangat menggugah seperti Naskah Laut Mati, Makam Imam Kafayas, Naskah Qumran, bahkan hingga makam Talpiot yang dipercaya memuat osuari (peti mati) anggota keluarga Yesus. Gaung penemuan-penemuan tersebut sangatlah kontroversial hingga usaha pembeberan sempat mengalami berbagai “peredaman”, untungnya ada usaha beberapa sarjana semisal James Tabor yang melalui bukunya bisa mengingatkan kita bahwa penemuan-penemuan tersebut benar-benar telah tejadi.

Bagian pertama buku ini, berusaha menelusuri kisah keluarga Yesus Kristus secara historis. Usaha ini sangat bergantung kepada ketersediaan data yang disajikan riwayat empat Injil dan catatan sejarah pendukungnya yang sangat terbatas. James Tabor dalam bagian ini bahkan dengan sangat berani berusaha melacak identitas “ayah” Yesus yang sesungguhnya. Tindakan kontroversial ini berangkat dari asumsi bahwa Yesus historis adalah seorang manusia biasa yang lahir dari hubungan biologis yang normal. Tidak luput dari pembahasannya adalah identitas dari saudara-saudara kandung Yesus yang lahir dari rahim Maria, informasi yang sebenarnya tidak baru namun tetap menarik untuk diperdebatkan.

Bagian kedua berusaha membuka tabir yang selama ini menyelubungi kehidupan Yesus, di luar konteks dogmatis yang selama ini berlaku terhadapnya. Injil-injil diketahui tidak banyak memberikan informasi yang komprehensif mengenai biografi Yesus. James Tabor mengingatkan, untuk bisa memahami Yesus secara historis, pertama-tama kita harus melihatnya sesuai konteks zaman dan lingkungannya secara objektif. Yesus harus dipandang dari sudut pandang bahwa ia adalah seorang Yahudi yang taat pada saat itu, yang tidak mendirikan ajaran baru melainkan berusaha menegakkan kembali ajaran Yahudi yang sejati. Ia kemudian akan tampil sebagai seorangpemimpin gerakan Mesianik khas Palestina abad pertama Masehi.

Yohannes Pembaptis menjadi fokus utama dalam pembahasan bagian ketiga buku ini. Yohannes yang umurnya tidak terpaut jauh dari Yesus, masih memiliki ikatan darah dengan Yesus melalui Maria. Sayangnya Injil-injil lagi-lagi hanya memberikan informasi yang minimalis mengenai Johannes, bahkan berusaha untuk menutup-nutupi perannya yang cukup besar. Padahal sesuai dengan ucapan Yesus dalam Lukas 7:28, bahwa “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohannes”, peran Yohannes tidak bisa dianggap remeh. Buku ini berusaha menjelaskan bahwa dalam konteks sejarah sesungguhnya, Yesus dan Yohannes merupakan parter dalam misi mesianis yang sama. Sayangnya misi suci Yohannes harus berhenti karena ia tertangkap dan dieksekusi oleh Herodes Antipas, penguasa Galilea saat itu. Hal ini menyebabkan tumbuhnya tanggung jawab bagi Yesus untuk meneruskan misi yang tengah diemban Yohannes. Tanggung jawab tersebut menuntut Yesus untuk segera menyusun rencana strategis guna meyelamatkan misinya secara rohani maupun politis. Lebih jauh mengenai aksi nyata Yesus dalam melaksanakan misinya dibahas pada bagian keempat buku ini.

Bagian keempat mengisahkan masa-masa krusial dalam kehidupan Yesus dalam menjalankan misinya. Ia bersama dengan pengikut-pengikutnya harus berlomba dengan tekanan yang semakin meningkat dari penguasa lokal dan kekaisaran yang mencurigai gerakan-gerakan mesianis yang dipimpinya. Keadaan politik cukup sensitif saat itu sehingga sedikit saja gelombang pada sistem yang ada dapat menyebabkan efek yang merusak dalam tatanan politik yang lebih luas. Sementara itu Yesus perlu menyusun rencananya secara lebih efektif dan revolusioner. Pada Desember 29 M., Yesus beserta pengikutnya memasuki Yerusalem dan hampir saja terbunuh, tindakan tersebut tampaknya merupakan usaha persiapan bagi gerakan berikutnya yang lebih spektakuler. Pada Maret 30 M., mejelang Paskah, Yesus kembali memasuki Yerusalem, kali ini beserta para pengikutnya dalam jumlah yang lebih besar, disambut oleh penduduk yang mengaguminya. Tindakan berani tersebut tentu saja memiliki perhitungan politis tertentu, karena sama saja dengan memancing tindakan represi dari penguasa pada saat itu. Yesus selanjutnya mendatangi Bait Allah di Yerusalem, dengan maksud mengkritik perilaku-perilaku tercela yang selama ini dilakukan di area tersebut. Selama itu kawasan Bait Allah memang dipakai sebagai arena bisnis, padahal ajaran Nabi melarangnya. Tindakan Yesus tersebut harus dilihat dari sisi politis karena pada dasarnya ia menentang segala bentuk penyelewengan yang dipraktikan penguasa dan imam-imam Yahudi yang korup.

Akhirnya pembahasan mencapai hari-hari terakhir dalam hidup Yesus, Mengetahui bahwa krisis besar yang ditimbulkan akibat tindakan beraninya tinggal menunggu waktu saja Yesus mengumpulkan lingkaran terdekatnya dalam sebuah jamuan khusus, peristiwa ini dilihat sebagai bentuk konsolidasi akhir antara Yesus dan pengikutnya guna menghadapi krisis yang segera menimpa. Tak lama berikutnya Yesus ditangkap oleh detasemen Romawi di tamana Getsemani, perisitiwa yang diikuti oleh berbagai penyidangan yang dilakukan terhadap dirinya baik oleh imam yahudi maupun penguasa setempat. Dengan berusaha menyisihkan fakta-fakta non-historis dalam rangkaian peristiwa ini, James Tabor menyusun kronologis sebagai berikut : Imam besar Hanas dan Kafayas bersama pengikut menyerahkan Yesus ke tangan Pilatus beserta tuduhan pemberontakan. Ketika mengetahui bahwa Yesus berasal dari Galilea, Pilatus melimpahkan Yesus kepada Herodes Antipas yang saat itu tinggal tidak jauh darinya. Herodes lalu mengembalikan Yesus kepada Pilatus dengan dukungan terhadap keputusan bahwa Yesus pantas dieksekusi dengan penyaliban. Pilatus kemudian melaksanakan eksekusi tersebut, suatu penyaliban yang merupakan bentuk eksekusi paling populer saat itu. Keampuhan metode tersebut sudah terbukti dapat mencegah para pembuat keonaran dalam menjalankan aksinya. Dalam sudut pandang Pontius, Yesus hanyalah seorang pemberontak yang mengancam tatanan sistem yang sudah ada.

Bagian terakhir buku ini, mengisahkan kelanjutan misi yang diemban Yesus beserta Yohannes paska kematian kedua tokoh tersebut. Saking pentingnya fase tersebut, James Tabor menyebutnya sebagai kisah “yang tidak pernah diceritakan” paling besar dalam dua milenia terakhir. Secara tradisional, dipercaya bahwa Petrus dan Paulus memegang tampuk pemimpin misi penyebaran dan pertahanan ajaran Kristus. Padahal seperti yang akan dibuktikan secara gamblang oleh berbagai bukti sejarah, kenyataanya tidak sesederhana itu. Ada seorang tokoh yang perannya terlupakan dalam sejarah gereja Kristen, namanya adalah Yakobus, saudara kandung Yesus. Selama ini riwayat-riwayat mengenai perkembangan ajaran Kristen hanya dapat dilacak dari Kitab Kisah Para Rasul dan sedikit bagian surat-surat paulus. Untungnya beberapa catatan pendukung lainnya yang cukup penting bisa terselamatkan, contohnya adalah karya Josephus, sejarawan Yahudi di abad pertama.

Karyanya terbukti dapat sedikit banyak membantu pemahaman mengenai peristiwa yang terjadi di sekitar abad tersebut. Injil-injil Apokrip turut membantu usaha ini, contohnya saat Inji Thomas dengan jelas menyebutkan bahwa “The disciples said to Jesus, “We know that you are going to leave us. Who will be our leader?” Jesus said to them, “No matter where you are, you are to go to James the just, for whose sake heaven and earth came into being.” (Saying n.o 12) Selain itu tidak kurang Riwayat-riwayat para bapak Gereja awal seperti Eusebius dan Clement dari Alexandria turut menguatkanfakta ini. Walaupun berusaha untuk ditutup-tutupi oleh para penulis dan redaktur Injil, peran Yakobus tetap tidak dapat disembunyikan seutuhnya, sebaliknya malahan memberikan informasi yang cukup penting mengenainya. Melalui informasi yang tersembunyi itulah dapat disimpulkan bahwa Yakobus beserta Petrus dan Yohannes memegang tampuk kepemimpinan gereja Kristus di Yerusalem paska kematian Yesus. Ketiganya dikenal sebagai The Three Pillars. Ajaran-ajaran Yakobus, seperti yang sempat termuat dalam suratnya di Perjanjian Baru ternyata memuat ajaran yang identik dengan ajaran Yesus. Usaha penelusuran sejarah ini malah membalikan tesis yang menyatakan Paulus sebagai pemeran utama dalam misi penyebaran ajaran Kristen. Pada kenyataanya, Paulus berkonfrontasi dengan gereja Yerusalem yang dipimpin oleh Yakobus. Paulus menyebarkan teologi Kristen yang telah “disempurnakan” sedangkan Yakobus kukuh menjaga ajaran Yesus. Tetapi pada akhirnya ajaran Paulus-lah yang mendapat sambutan luas di kalangan penduduk kekaisaran, bahkan yang akhirnya diresmikan menjadi agama negara oleh kaisar Konstantin di abad ke-4.

Karya James Tabor meruapakn buah dari penelitian selama 40 tahun, oleh karena itu perlu mendapat perhatian ekstra. Buku ini menyajikan berbagai informasi baru mengenai Kristen, yang bahkan kadang kontroversial. Tetapi pada intinya, buku ini layak dibaca oleh seorang yang berusaha menemukan arti Yesus Historis dan Kekristenan murni.

  • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

  • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

    Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

  • NEW PRODUCT!

    Sehat Kuat bagai Hansip!

  • Blog bebas iklan dan pornografi