Surat Judas (Epistle of Jude)

SURAT JUDAS (JUDE)

 

 

Misteri Judas

 

          Siapakah sebenarnya sang Judas ini ? Mengapa karyanya bisa memasuki susunan kitab suci Perjanjian baru ? Apakah surat ini benar-benar merupakan karya seorang Judas ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul saat seseorang membaca surat Judas ini karena pada umat Kristen umumnya, hanya mengenal satu nama Judas, yaitu Judas Escariot sang pengkhianat. Ia adalah salah satu dari 12 murid Jesus yang terkenal. Sebaliknya pandangan tradisional memeluk anggapan bahwa penulis surat ini adalah Judas Thaddeus, ia merupakan saudara Jesus dan James (Jacobus) dari darah Jusuf. Penulis surat mengakui sendiri dalam pembukaan suratnya bahwa ia adalah saudara James (Jacobus), dan termasuk ke dalam salah satu pengikut Jesus. Dalam bahasa Inggris surat ini dinamai “The Epistle of Jude” , pemilihan kata “Jude” dilakukan untuk membedakan identitas penulisnya dengan sang Judas Escariot.

Kesulitan dalam menentukan identitas asli si penulis disebabkan oleh banyaknya pemilik nama Judas/Judah dalam Perjanjian Baru, kasus ini beberapa kali terjadi dalam Perjanjian Baru. Beberapa pemilik nama “Judas” tersebut adalah :

 

  • Judas anak James dan merupakan salah satu murid Jesus (Luke 6:16)
  • Judas Escariot, Rasul yang mengkhianati Jesus (Matius 10:4)
  • Judas dari Galilea, seorang pemberontak (Kis Ras 5:37)
  • Judas Barsabas, pendamping Paulus saat membawa keputusan konsili Jerusallem (Kis Ras 15:22, 27, 32)
  • Judas saudara Jesus, dikenal dengan nama lain  “Thaddeus” atau “Lebbaeus” (Matius 13:55)

 

Jika si penulis merupakan Judas saudara Jesus, mengapa dalam suratnya ia mengaku sebagai saudara James ? Bukankah  akan lebih efektif apabila ia menggunakan gelar “persaudaraanya” dengan Jesus dibandingkan dengan James. James sendiri dalam suratnya mengaku sebagai saudara Jesus (James 1:1). Permasalahan kedua, penggunaan bahasa Yunani halus yang digunakan penulis surat tampaknya menggambarkan pendidikan tinggi yang tidak dapat dikuasai oleh seorang anak tukang kayu biasa (James saudara Jesus/anak Jusuf). Kecuali apabila kita menggunakan penjelasan yang sama seperti saat menjelaskan kasus “James”. Sepertihalnya dengan James, Keterangan yang bisa didapat dari Bible mengenai Judas ini sangatlah sedikit, kecuali dalam beberapa bagian disebutkan bahwa mereka berdua tidak mempercayai keistimewaan Kristus hingga peristiwa kenaikan (John 7:5, Kis Ras 1:14).  Catatan kehidupan Judas pasca peristiwa kenaikan lebih simpang siur lagi. Menurut riwayat Nicephorus Callistus, Judas sempat mengajar di daerah Judea, Samaria, dan Mesopotamia, artinya ia tetap mengajar dalam kawasan Galilea, sesuai perintah Jesus untuk tidak menyebarkan ajarannya selain kepada “domba yang sesat” dari Israel (Mat 10:5-6). Menurut Callistus, Judas menghabiskan hidupnya dan berkeluarga di sana, ia memiliki dua cucu bernama Zoker dan James. Menurut riwayat beberapa penulis Syria, Judas sempat menjelajahi daerah Edessa, daerah Turki sekarang. Menurut satu keterangan Judas meninggal di daerah Berythus (Beirut),  sedangkan lainnya mengatakan ia martir  di daerah Suanis, kota Persia.

Melalui isi dan karakter surat dapat disimpulkan bahwa penulisnya memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap jemaatnya. Sepertihalnya dengan James, ia tidak menujukan suratnya kepada jamaat tertentu, tetapi kepada umat Yahudi-Kristen pada umumnya. Surat ini berisi peringatan terhadap ajaran-ajaran palsu yang berlawanan dengan ajaran Kristus. Kesamaan beberapa materi didalamnya terhadap surat dua Petrus adalah masalah tersendiri, perlu kehati-hatian untuk menjawab masalah tersebut.

 

Keotentikan

 

          Masalah keotentikan sangat berhubungan dengan waktu penulisan surat. Surat ini dapat dikatakan asli apabila ia ditulis sekitar sebelum tahun 100 M., karena Judas diduga wafat pada masa kekuasaan Dominitian atau Trajan. Penentuan waktu penulisan juga sangat dipengaruhi masalah keidentikan dengan surat 2 Petrus dan penggambaran ajaran sesat. Waktu penulisan terbagi atas tiga pendapat yang sama-sama memiliki bobot kemungkinan sekaligus konsekwensi tertentu :

 

  1. Masa-masa Apostolik

Pendapat ini dipegang oleh sarjana-sarjana konservatif. Menurut mereka, surat ini dipastikan ditulis sebelum tahun 70 M.. Hingga masa tersebut Gereja Jerrusalem masih memiliki otoritas yang cukup kuat, beberapa pengikut Jesus seperti James, Petrus, dan kemungkinan Judas masih aktif dalam mengelola Gereja dan mengirimkan surat-surat berisi himbauan kepada jemaat di daerah lain. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa surat ini ditulis setelah tahun 70 M., dengan asumsi Judas merupakan saudara terkecil Jesus dan memiliki umur yang cukup panjang. Ada kemungkinan besar bahwa Judas beserta murid Jesus lainnya sudah wafat setidaknya setelah terjadi tiga “pembantaian” yang dilakukan pemerintah Romawi, diawali oleh Nero, dilanjutkan oleh Dominitian dan Trajan pada sekitar tahun 100 M.. Oleh karena itu batas akhir penulisan surat ini oleh Judas adalah sekitar tahun 100 M., surat ini memiliki kemungkinan kecil ditulis diatas batas tersebut, kecuali apabila peulisnya bukanlah Judas.

Pertimbangan selanjutnya adalah saat membicarakan masalah keidentikan dengan surat Petrus kedua. Para sarjana telah memastikan bahwa salah satu penulisnya adalah penjiplak, entah penulis surat Petrus atau surat Judas. Dengan pengandaian surat Petrus ditulis setelah surat Judas, maka dapat dipastikan surat tersebut sebagai pseudograf. Petrus wafat sekitar tahun 65 M., sedangkan surat Judas ditulis bersamaan pada masa-masa tersebut, maka akan mustahil bagi Petrus untuk menulis surat keduanya dengan sumber surat Judas. Apabila kita tetap mempertahankan keotentikan surat 2 Petrus, maka surat Judas dipastikan ditulis sekitar tahun 50 M. atau lebih awal. Alasan penjiplakan oleh salah satu penulis tetap menjadi pertanyaan.

 

  1. Awal abad kedua

Pendapat ini didasarkan oleh  beberapa bukti internal yang menggambarkan bahwa surat ini ditulis masa pasca apostolik. Salah satu bukti tersebut terdapat dalam ayat ketiga dan ketujuh belas :

 

Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.(Jud 1:3)

 

Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. (Jud 1:17)

 

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan bahwa surat ini ditulis pada masa-masa dimana para Rasul telah wafat, dalam hal ini adalah pada abad kedua. Salah satu Rasul yang berumur panjang, Johannes diduga wafat pada akhir abad pertama sehingga surat ini kemungkinan ditulis pada awal abad kedua, entah oleh siapa. Mengapa Judas menulis kedua ayat tersebut bila surat ini ditulis pada masa apostolik ? Bukankah pada masa tersebut masih banyak pengikut Jesus yang tersisa. Kesimpulan akhir adalah penyangkalan kepenulisan Judas terhadap surat ini.

Bukti internal lain menggambarkan adanya perlawanan terhadap ajaran Gnostis yang berkembang pada abad kedua, walaupun tidak semua sarjana menyetujui argumen ini. Surat ini berisi ajakan untuk menjauhi ajaran sesat, tetapi si penulis tidak memberikan keterangan yang cukup terhadap jenis ajaran tersebut. Beberapa sarjana beranggapa bahwa ajaran tersebut adalah monasis (monisme), doketis, marcionis atau bahkan gnostis.  Masalah ini tidak terlalu mencuat, mengingat ajaran sesat telah berkembang bahkan beberapa waktu setelah Jesus disalib.

 

  1. Masa post apostolik dan sebelum abad kedua (80-100 M.)

Pendapat ini mungkin menjawab persoalan pemasukan ayat ketiga dan ketujuh belas. Dimana di kedua ayat tersebut digambarkan bahwa surat ini ditulis saat para Rasul telah wafat.  Tetapi ada beberapa kesulitan lain yang menghadang, Pertama pada masa tersebut beberapa Rasul diketahui masih hidup ! Bukankah Johannes masih hidup hingga abad kedua, pandangan tradisional beranggapan bahwa ia masih memproduksi karya-karya suci hingga abad kedua (Injil dan Kitab Wahyu). Kedua, surat Petrus kedua dapat dipastikan sebagai karya pseudograf, dengan kata lain palsu ! Bagaimana mungkin Petrus mengutip suatu surat yang baru ditulis dua puluh tahun setelah kematiannya ? Dan apabila surat Petrus lebih dulu muncul sebelum surat Judas, mengapa Judas harus menyalin kembali surat tersebut dengan menggunakan namanya. Perlu diingat bahwa keputusan kepenulisan surat ini oleh Judas tidak selalu didukung para sarjana, Origen, Eusebius dan Martin Luther bahkan menempatkan surat ini ke dalam kelompok antilegomena,  yang artinya keotentikannya masih diragukan atau bahkan ditolak.

Sumber Apokrip

 

          Diluar persoalan apakah Judas benar-benar menulis surat ini atau tidak, pengakuan surat ini sebagai bagian dari kitab suci menimbulkan masalah baru. Penulis surat Judas ternyata mengutip beberapa bagian dari beberapa kitab apokrip, kitab-kitab Yahudi yang disangkal keotentikannya. Kitab Apokrip yang digunakan Judas adalah Kitab Henokh) atau “Book of Henoch” dan kitab nubuat Musa atau “Apocalypse of Moses”. Pengutipan kitab Henokh terdapat pada ayat keempat belas hingga kelima belas :

 

Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan.” (Jud 1:14-15)

Kitab Henokh tidak pernah memasuki susunan kitab suci Bible. Kitab tersebut diduga kuat merupakan karya dari beberapa orang dan Henokh bukanlah salah satu dari orang tersebut, dengan kata lain psudograf. Menurut J.F. Kenyon, kitab Henokh ditulis pada masa pra-Kristen, bahkan pra-Makabee.  David Childress dalam bukunya “Technology of the Gods: The Incredible Sciences of the Ancients”  menyebutkan bahwa kitab Henokh ini pertama kali ditemukan di Abyssinia tahun 1773 oleh peneliti Skotlandia bernama James Bruce. Naskah tersebut kemudian diterjemahkan oleh Richard Laurence pada tahun 1821. Menurut James C. VanderKam dalam karyanya, “Henoch and the Growth of an Apocalyptic Tradition” halaman 110, menyebutkan bahwa ayat 14-15 tersebut dikutip dari kitab Henokh pertama 1:9.  

Kitab kedua yang digunakan penulis Judas adalah kitab nubuat Musa. Pengutipan tersebut terlihat dalam ayat kesembilan :

 

“Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: “Kiranya Tuhan menghardik engkau!” (Jud 1:9)

 

Parasarjana menyimpulkan pendapat tersebut setelah membaca keterangan-keterangan Bapak Gereja awal seperti Clement, Justin Martyr, Irenaeus, Origen, dan Didymus. Tidak diketahui secara pasti alasan Judas menggunakan kedua kitab apokrip tersebut sebagai  sumber penulisan. Tetapi apabila benar bahwasanya Judas adalah seseorang yang mendapatkan inspirasi Roh Kudus, ia pastilah menggunakan sumber yang jelas integritasnya. Judas telah memperlakukan dua kitab apokrip secara otoritatif, dan menjadi dosa umat Kristen untuk tidak memperlakukan kedua kitab tersebut dengan cara yang sama.

Identitas penulis dan waktu penulisan kitab Henokh dan nubuat Musa tidak pernah diketahui secara pasti, oleh karena itu nilai keotentikannya juga kecil. Tetapi begaimana dengan beberapa kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang memiliki nasib yang sama. Kitab Raja-raja Kitab Esther,  Kitab hakim-hakim merupakan sedikit dari berbagai kitab dalam Bible yang tidak pernah diketahui identitas penulisnya. Mengapa kitab-kitab tersebut mendapat perlakuan yang berbeda dengan kitab-kitab apokrip ? Sementara kitab-kitab  tersebut tidak pernah dijadikan kutipan oleh penulis Perjanjian baru manapun.

 

Surat-Surat Johannes (1,2 dan 3 Johannes)

Penulis

Sebenarnya surat pertama Johannes ini tidak memberikan petunjuk apapun terhadap identitas penulisnya, satu-satunya petunjuk didapat dari surat kedua dan ketiga, dimana si penulis menyebut dirinya sebagai seorang “penatua”. Tradisi awal menyebutkan bahwa Johannes anak Zabedee sebagai penulis surat ini, tetapi klaim ini mendapat perlawanan keras dari banyak sarjana modern. Saat kita menyebutkan Johannes anak Zabedee, yang juga menurut pandangan tradisonal sebagai penulis Injil Johannes, turut menulis ketiga surat ini. Kita harus menghadapi beberapa permasalahan penting. Pertama-tama, tidak ada satupun penyebutan nama “Johannes” dalam surat ini, begitu pula dengan frase “murid yang terkasih”, frase favorit pada Injil Johannes. Penulis surat ini hanya menyebut dirinya sebagai seorang penatua atau pemimpin umat. Lalu darimana klaim kepenulisan Johannes atas ketiga surat ini berasal ? Klaim tersebut ternyata berasal dari beberapa Bapak Gereja Awal tidak kurang pada abad kedua. Riwayat mengenai identitas penulis surat diawali dari pengakuan Iranaeus, seorang murid Polycarp.

Surat 1 Johannes ditujukan untuk menghadang ajaran sesat yang akan memasuki Gereja. Sang penulis berbicara dengan gaya otoritatif, hampir seperti James, menandakan bahwa ia adalah orang yang sangat dikenal jemaatnya (penerima surat).  Sarjana konservatif tidak akan ragu-ragu untuk menisbahkan penulisan surat ini kepada Rasul Johannes, sedangkan sarjana liberal menyangkal pandangan tersebut, mereka menyoroti perbedaan gaya dan teologi yang terdapat antara surat ini dengan Injil Johannes yang diduga ditulis oleh orang yang sama. W. Wall Harris , Th.M., Ph.D. ,seorang pengisi artikel di Bible.org, memberikan daftar orang-orang yang memiliki kemungkinan sebagai penulis surat 1 Johannes ini disamping Rasul Johannes, mereka adalah Johannes “sang penatua”, murid-murid Johannes, atau seorang pemimpin dalam komunitas Johannine.

  1. Johannes “sang penatua” (John the Elder)

Orang ini tampil sebagai alternatif saat kepenulisan Rasul Johannes disangkal. Sejak ketiga surat Johannes diduga ditulis oleh orang yang sama, dan dalam kedua surat terakhir penulisnya mengaku sebagai seorang penatua, nama Johannes “sang penatua” mulai muncul. Berbagai riwayat Papias dan Eusebius tampak membedakan dirinya dengan  Rasul Johannes atau sang anak Zabedee.

Dengan asumsi penulis Injil dan surat-surat Johannes sebagai orang yang sama, nama Johannes “sang penatua” juga dapat dipertimbangkan. Dalam bab sebelumnya yang membahas khusus mengenai Injil Johannes dapat ditemukan berbagai kesulitan untuk dapat mengakui kepenulisan Rasul Johannes, dan kesimpulan akhirnya lebih cenderung kepada murid-murid Johannes.

  1. Pengikut Rasul Johannes

Sejak kemungkinan penulisan apostolik Injil Johannes disangkal dan petunjuk lebih cenderung kepada pengikut atau orang-orang dari di komunitas Johannes.  Adalah sangat mungkin apabila penulis surat ini adalah murid dari Rasul Johannes, mungkin di Efesus. Surat ini ditulis dalam bahasa Yunani dan mustahil apabila Rasul Johannes yang menulisnya, ia hanyalah anak seorang Zabedee yang berprofesi sebagai nelayan Galilea biasa. Waktu penulisan surat ini juga diduga tidak berlangsung lama setelah Injil Johannes ditulis, yaitu sekitar tahun 90-117 M.. Johannes pastilah berumur seratus tahun lebih saat menulis surat ini, dan akan lebih logis apabila baik Injil dan Surat Johannes ditulis oleh salah satu murid Johannes.

  1. Seorang pemimpin dalam komunitas Johannine

Telah disebutkan sebelumnya bahwa surat Johannes ini berbicara dalam gaya dan otoritatif, dan di pihak lain si penulis menyebut diriya sebagai penatua (presbyter), tidak sebagai Rasul ! Semua ini menunjukan wujud kekuasaan dari si penulis, walaupun dua surat terakhirnya tidak ditujukan kepada suatu jemaat, melainkan kepada seorang wanita dan teman. Ia dipastikan tidak berasal dari lingkungan apostolik karena tidak ada indikasi terhadap kesaksian kehidupan Jesus secara langsung, ia pastilah berasal dari lingkungan post-apotolik.

Siapapun penulisnya, ia pastilah bukan Rasul Johannes. Mengapa ia harus menutupi gelar “Rasul”-nya dan menggantinya dengan gelar Penatua, gelar yang lebih rendah dan hanya dikenal dalam Gereja-gereja Paulus. Bukankah Petrus dan James dalam suratnya secara tidak ragu-ragu mengakui kerasulannya ? Mengapa Johannes harus malu-malu dalam mengakui kerasulannya ? Dan mengapa ia tidak menyebut dirinya sebagai “murid yang terkasihi“ dalam surat ini ?

Johannine Comma (1 Johannes 5:7)

 

          Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. ( 1 Johannes 5:7-8 , versi Terjemahan Baru)

Ayat tersebut (yang berada dalam kurung) menjadi begitu penting sejak memuat dasar doktrin Trinitas di dalamnya. Tidak ada bagian lain dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang begitu jelasnya memuat konsep Trinitas selain pada bagian di atas. Adalah suatu fakta bahwa bagian tersebut ternyata dipastikan sebagai palsu, disusupkan oleh penulis tak dikenal ke dalam naskah Bible yang asli. Para sarjana mengenal bagian tersebut dengan istilah “Comma Johanneum” atau Johannine Comma. Ayat ini hanya muncul pada Bible versi King James yang terbit pada abad keenam belas, berbagai edisi dan versi Bible yang terbit setelahnya menghilangkan bagian tersebut, termasuk NIV, NASB, RSV, NRSV dan versi kesaksian Jehovah. Selama berabad-abad umat Kristen menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap Trinitas dan ternyata para sarjana mereka sendiri yang membuktikan kepalsuan ayat ini. Sejak ribuan naskah Yunani ditemukan, tidak ada satupun yang memuat ayat ini, termasuk naskah-naskah  Syria, Koptik, Armenia, Ethiopik, Arabik, dan Slavonik. Beberapa naskan Latin memasukannya, tetapi naskah Latin kuno yang dibuat oleh beberapa Bapak Gereja awal ternyata menghilangkanya, bahkan Jerome tidak memasukanya dalam latin Vulgate, naskah vulgate yang memuatnya hanyalah salinan dari naskah vulgate yang asli.

Comma tidak pernah bisa menghindar dari serangan para sarjana, bahkan sejak abad kedelapan belas, dimana Isaac Newton yang telah mempelajari naskah-naskah terdahulu menemukan bahwa, tidak ada satupun bapak Gereja Awal sebeum abad keempat yang pernah mengutip bagian penting tersebut. Menurut Newton, ayat ini pertama kali muncul pada edisi ketiga Perjanjian Baru (Textus Receptus) susunan Erasmus (1466-1536), sedangkan pada dua edisi sebelumnya ia tidak memasukan ayat tersebut. Saat Erasmus menerbitkan edisi Perjanjian Baru pertamanya yang menghilangkan Comma, kehebohan terjadi, ia diserang habis-habisan oleh Gereja dan umat Kristiani saat itu, sebelumnya ia memang berjanji akan menambahkan bagian ini, bila telah berhasil menemukan satu saja naskah Yunani yang memuatnya. Erasmus ternyata tidak dapat menemukan satupun naskah Yunani yang memuat Johannine Comma, dan akibat tekanan yang diterimanya ia beralih kepada latin vulgate yang memang memuat bagian tersebut, ia kemudian memasukan Comma ini pada edisi ketiga perjanjian barunya. Menurut Randall Duane Hughes dalam analisisnya terhadap Johannine Comma, Pemasukan Comma oleh Erasmus pada edisi ketiga Perjanjian Barunya sekitar tahun 1522 disebabkan oleh tekanan luar dan demi menjaga kredibilitasnya.

Anyone who uses a recent scholarly version of the NT will see that
these words on the Trinity are not in verse 7. This is because they
have no basis in the Greek text. Under Roman Catholic pressure, Erasmus inserted them from the Latin Vulgate. They are not a part of the
inspired Bible” (Word Meanings in the NT, Ralph Earle. P. 452)

Dari beberapa naskah yang memuat Johannine Comma, Ayat ini pertama kali muncul pada sekitar abad kesepuluh (codex 221), ditempatkan dalam margin yang terpisah dari naskah asli, menandakan bahwa bagian ini baru ditambahkan kemudian (bukan berarti ditulis bersamaan dengan bagian aslinya), dan tentunya bukan merupakan bagian dari naskah asli. Limaratus tahun kemudian, baru ayat ini muncul kembali pada naskah-naskah yang dibuat pada abad kelima belas, perlu diketahui bahwa naskah-naskah baru ini diproduksi paska Erasmus menerbitkan  edisi ketiga Perjanjian Barunya.   Bruce Metzger dalam karyanya, “The Text of the New Testament”, h.101 menggambarkan jejak penyusupan bagian ini sehingga dapat masuk ke dalam Textus Receptus, naskah awal Bible versi King James.

Manuscrip

Date

Posisi dalam naskah

MS 221

Abad kesepuluh

 Dalam margin (yang terpisah)

MS 635 atau 636?

Abad kesebelas

 Dalam margin, ditulis pada abad ketujuh belas

MS 88

Abad kedua belas

 Dalam Margin, ditambahkan pada jaman modern

MS 429

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam margin, ditambahkan pada abad-abad selanjutnya

MS 629

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam naskah

MS 61

Abad keenam belas

 Dalam naskah

MS 918

Abad keenam belas

Dalam naskah

MS 2318

Abad keenam belas

Dalam naskah

Bruce Metzger tampaknya sudah cukup jelas dalam menggambarkan jejak sejak kapan ayat ini bisa masuk ke dalam naskah Bible, ternyata ayat ini baru muncul pada sekitar abad kelima belas hingga keenam belas ! Seperti halnya dengan NIV Study Bible saat mengomentari bagian ini :

is not found in any Greek manuscript or New Testament translation prior to the 16th century.”

Secara singkat ada beberapa argumen yang diberikan Bruce Metzger beberapa sarjana lain dalam menguatkan pandangan bahwa ayat ini bukanlah bagian dari naskah aslisuratpertama Johannes :

  1. Johannine Comma tidak terdapat pada seluruh naskah berbahasa Yunani kecuali empat buah, yang kesemuanya merupakan terjemahan dari Vulgate . Empat manuskrip tersebut adalah ms. 61 (abad ke-16), ms. 88 (abad ke-18), dimana bagian ini terdapat pada margin yang terpisah dan ditulis pada abad-abad selanjutnya, ms. 629 (abad ke-14) dan ms.635 (abad ke-17), terdapat dalam margin.
  1. Bagian ini tidak pernah dikutip oleh bapak Gereja Yunani manapun, yang bila mereka benar-benar mengetahuinya, mereka akan menggunakanya untuk dalam perdebata masalah Trinitas (antara kaum Arian dan Sabellian). Pemunculan pertamanya dalam bahasa Yunani adalah pada “Acts of the Lateran Council”, catatan konsili Lateran yang merupakan terjemahan dari bahasa latin pada tahun 1215.
  1. Selain dihilangkan pada berbagai naskah Yunani, Comma juga dihilangkan dari berbagai naskah lainnya, terkecuali Latin. Dalam vulgate sendiri, bagian ini baru muncul pada salinan-salinan yang dibuat pada sekitar abad ketujuh masehi di daerah Spanyol. Tidak ada alasan yang kuat bagi penghilangan ayat ini pada naskah-naskah tersebut, andaikata bagian ini merupakan anggota dari naskah aslisurat Johannes.
  1. Konsep Bahwa Bapa, Firman dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan tidak terdapat pada karya-karya lain yang dianggap ditulis juga oleh Johannes. Satu-satunya ayat yang dianggap memiliki kesamaan dengan konsep di atas adalah Johannes 1:1-5, tetapi bila diperhatikan lebih jauh kedua konsep tersebut (Comma dan Johannes 1:1-5), tidak ada kesamaan di antara keduanya, Johannes 1:1-5 mungkin membicarakan “firman dan Tuhan”, tetapi tidak sedikitpun menyinggung “Bapa dan Roh Kudus”. Konsep Trinitas yang dikandung comma belum dikenal saatsurat ini ditulis (dengan asumsi Johannes yang menulisnya), konsep tersebut baru muncul pada abad ketiga dan keempat.

Pertanyaan mungkin muncul, bagaimana bisa Johannine Comma hanya dimuat oleh naskah versi Latin sementara dihilangkan oleh versi lainnya. Untuk menjawab persoalan ini, Bruce Metzger sebagaimana dengan Dr. Herbert W. Armstrong  mengajak kita kembali ke abad keempat.  Menurut kedua sarjana tersebut, ayat ini ditambahkan ke dalam latin Vulgate pada abad keempat, dengan tujuan tidak lain untuk menempatkan dalil Trinitas dalam Bible, hal ini begitu penting untuk dilakukan oleh penganut Trinitarian, atau mereka harus mengalah dalam perdebatan-perdebatan dengan kaum Arian yang menyangkal ketuhanan Trinitas. F. H. A. Scrivener dalam karyanya “A Plain Introduction to the Criticism of the New Testament”, h.165 menyebutkan :

We need not hesitate to declare our conviction that the disputed words were not written by St. John: that they were originally brought into Latin copies in Africa from the margin, where they had been placed as a pious and orthodox gloss on ver. 1Jo 5:8: that from the Latin they crept into two or three late Greek codices, and thence into the printed Greek text, a place to which they had no rightful claim.”

“Kita tidak boleh ragu dalam mengumumkan keyakinan kita bahwa bagian yang diperselisihkan tersebut bukanlah tulisan dari St. Johannes : bahwa bagian tersebut pada asalnya berada dalam margin pada salinan-salinan naskah latin di Afrika, mereka telah ditempatkan sebagai komentar othodox dan saleh diatas 1 Johannes 5:8: Melalui naskah Latin bagian tersebut bergerak ke dalam dua atau tiga naskah Yunani, dan kemudian masuk ke dalam naskah Yunani yang dicetak, sebuah tempat yang tidak dapat diklaim oleh mereka”.

Lalu kita akan menuju pertanyaan mendasar lain, bila benar bagian ini baru muncul pada abad keempat, siapakah orang yang menciptakannya ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan langsung menyoroti seorang tokoh heretis abad keempat bernama Prsicillian, yang juga merupakan seorang bapak Gereja latin. Ia diduga sebagai orang pertama yang menyebutkan Johannine Comma dalam karyanya “Liber apologeticus”, tetapi tidak ada bukti bahwa ia medasarkan penyataanya kepada naskah surat Johannes pertama.  Penyebutan-penyebutan berikutnya terdapat pada traktat-traktat yang digunakan untuk mempertahankan paham ortodoks Trinitas, perlu diingat bahwa pada masa itu paham Trinitas belum dapat diterima semua orang dan mendapat serangan dari paham Arian. Selanjutnya Comma digunakan oleh beberapa uskup Afrika Utara yang mendukung Trinitas. Naskah-naskah salinan Vulgate yang memuat interpolasi comma lama-kelamaan diakui sebagai kitab suci, Erasmus menggunakan naskah-naskah tersebut dan kemudian menjadi dasar bagi penyusunan Bible versi King James. Ada benang merah yang bsa kita dapat dari keterangan di atas, bahwa ternyata kemenangan paham Trinitas di kalangan umat Kristen didasarkan kepada ayat yang bukan merupakan anggota dari kitab sucinya, comma yang tadinya hanya merupakan penafsiran, tiba-tiba bisa memasuki naskah asli Bible.  Robert M. Grant menyetbukan :

To this mysterious but not theologically useful passage a Spanish
Pricillianist in the late fourth century added explicitly trinitarian
language so that it would mention three witnesses “on earth” and end
thus: “And there are three witnesses in heaven, the Father, the Word,
and the Spirit, and these three are one.” The addition is suitable in a
Johannine context, for it refers to the Logos as John does and is
ultimately based on “I and the Father are one” (John 10:30).
Unfortunately it is not genuine, since it appears in no old manuscript
or versions or in any early [church] fathers
” (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

“Mengenai bagian misterius tetapi tidak berguna secara teologi ini kaum Prisscilllian Spanyol pada akhir abad keempat menambahkan bahasa Trinitas secara eksplisit sehingga akan menyebutkan perihal tiga saksi “di dunia” dan sehingga akhirnya menjadi : “ dan ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga, yaitu Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” Penambahan ini cocok dengan konteks Johannine, untuk merujuk kepada Logos seperti yang pernah disebutkan oleh Johannes dan didasarkan pada “saya dan Bapa adalah satu” (John 10:30). Sayangnya bagian ini tidak asli, secara tidak ditemukanya pemunculan pada seluruh manuskrip kuno atau versi atau satu pun Bapak Gereja awal”  (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

Buku “The True Bible Code” memiliki pandangan tersendiri terhadap pencipta interpolasi “Johannine comma” ini, disana (h. 234) disebutkan :

The underlined part in the King James Version of 1 John 5:7 above is therefore a fraudulent addition to the Holy Scriptures by, well, satan basically

Umat Kristen secara umum tentunya akan mengalami posisi yang dilematis dalam menghadapi masalah ini. Seperti yang kita ketahui, Bible ternyata hanya memiliki sangat sedikit perujukan terhadap konsep Trinitas, pondasi utama bagi agama Kristen, dan ternyata salah satu perujukan terkuat bagi konsep tersebut disepakati sebagai palsu tidak lain oleh para sarjana di kalangan mereka sendiri. Bukan hanya itu saja masalah mereka, masalah ini membuktikan bahwa naskah Bible sangatlah rawan akan penyusupan atau interpolasi. Siapapun yang menyusupkan comma ke dalam naskah Johannes ini, ia tidak bisa disebut sebagai orang yang terinspirasi. Bila ia memang mendapatkan inspirasinya melalui “roh kudus”, mengapa ia harus memasukannya terhadap karya orang lain, mengapa ia tdak membuat satu suratatau kitab tersendiri yang terpisah ?

Surat-surat Petrus

1 PETRUS

Identitas Petrus

Nama aslinya adalah Simon atau Simeon, dan mengingat sifatnya yang kuat seperti “batu” namanya kemudian diubah menjadi “Cephas” oleh Yesus. Dan dalam perkembanganya, orang Romawi akan memanggilnya sebagai Peter atau Petros. Ia mendapat kehormatan sebagai murid pertama Yesus, ia mendapat peran sebagai pemimpin bagi murid-murid lainnya. Yesus bahkan pernah memberikan kunci kerajaan surga kepadanya, yang tentunya ungkapan tersebut harus ditafsirkan secara mendalam, yang artinya Yesus mewariskan misi penyebaran agamanya kepada Petrus.  Ia berlaku sebagai penanggung jawab kesuksesan misi terhadap kaum Gentile dan Yahudi di pengasingan. Petrus, seperti halnya dengan Yakobus dan Johannes mendapat predikat sebagai “Apostles of Circumcision”, yang artinya mereka tetap setia mempertahankan tradisi Yahudi dalam ajarannya kepada kaum Gentile, pemikiran mereka akan bertentangan dengan sang “Apostle of Uncircumcision” alias Paulus dari Tarsus.
Alih-alih dipilih berdasarkan penilaian intelektual, Yesus lebih melihat keteguhan hati dan ketulusan hati Petrus. Ia bagaimanapun hanyalah seorang nelayan Capernaum biasa, bukankah Kisah Rasul 14:3 menegaskan bahwa Petrus tidak lain hanyalah seorang yang tak terpelajar ? Walaupun ia menempati posisi sentral dalam lingkungan pengikut Yesus, keadaanya berubah paska kematian Yesus. Para pengikut Yesus lebih mempercayai Yakobus saudara Yesus sebagai pemimpin mereka, bukan Petrus. Mungkin ini disebabkan oleh hilangnya popularitas Petrus di kalangan pengikut Kristen awal akibat peristiwa pembantahan hubungannya dengan Yesus saat Yesus digelandang umat Yahudi untuk disidang (Mat. 26:69-75), selain  itu ia juga memiliki pendirian yang tidak tetap (menurut Paulus dalam suratnya terhadap orang Galatia).
Apapun kekurangannya, kita harus tetap menghargainya sebagai murid Yesus yang paling utama, dan kita percaya bahwa Yesus memilihnya dengan alasan-alasan khusus. Adalah suatu kejanggalan bahwa kitab suci umat Kristen hanya memuat dua surat yang dianggap ditulis oleh Petrus, sedangkan selusin surat lainnya ditulis oleh Paulus yang jelas-jelas tidak pernah bertemu dengan Yesus. Keadaan ini diperparah dengan diketemukannya berbagai kejanggalan dalam surat-surat tersebut.

Keotentikan

“Dari Petrus, rasul Yesus Kristus…”, sebenarnya pengakuan si penulis sudah cukup jelas melalui pernyataan yang terdapat di awal pembukaan surat ini, tetapi melalui beberapa penelitian textual dapat ditemukan masalah-masalah yang akan menghadang klaim tersebut. Keotentikan surat ini lagi-lagi ditolak oleh sarjana-sarjana radikal Jerman, terutama dipelopori oleh Baur Dkk., adapun alasan mereka dalam menolak kepenulisan Petrus adalah seperti yang dikutip Louis Berkhof berikut   :

Surat ini sangat bergantung kepada surat-surat Paulus, sementara hanya mengandung sedikit ajaran Yesus. Tampaknya kita menemukan kasus yang berkebalikan dengan saat membahas surat Yakobus. Sebagai rasul Yesus yang sehari-hari hidup berdampingan, akan sulit untuk membayangkan bahwa Petrus lebih menguasai ajaran Paulus daripada Yesus. Surat ini memiliki jejak terhadap surat Efesus dan Roma, sehingga Daniel B. Wallace berkesimpulan bahwa dengan dasar surat Efesus ditulis oleh orang tak dikenal setelah kematian Paulus, dengan kata lain Pseudograf atau palsu, maka keputusan yang sama dapat juga diterapkan pada surat 1 Petrus ini. Sedangkan apabila keotentikan surat Efesus diakui, maka akan timbul kesulitan dalam membayangkan bahwa Petrus benar-benar menulis surat ini, mengingat hubungannya dengan Paulus juga tidak terlalu baik. Akhirnya kita tiba pada kesimpulan akhir bahwa surat ini hanyalah sebuah surat Pseudograf, karya seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisannya kepada Petrus.

Keberatan kedua yang cukup diperhitungkan adalah penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini. Petrus hanyalah seorang nelayan Galilea biasa, darimana ia dapat menguasai bahasa Yunani halus seperti yang terdapat pada surat ini, lebih lagi saat mempertimbangkan Kisah Rasul 14:3 yang menyebutkan ketidakterpelajaran (“ajgravmmato”) Petrus. Tetapi ini dapat dijelaskan melalui kemungkinan bahwa Petrus tidak menulis surat ini melalui tangannya sendiri, tetapi melalui peran seorang sekertaris, Markus dan Silvanus dapat menjadi kandidat  dalam hal ini.

Dengan perantaraan Silvanus, yang kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu, bahwa ini adalah kasih karunia yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!”(1 Pet 5;12)

Tetapi itu tidak menjelaskan pertanyaan secara keseluruhan, pengutipan-pengutipan Perjanjian Lama dalam surat ini diketahui dilakukan terhadap Septuagint (Perjanjian Lama berbahasa Yunani). Mengapa seorang Petrus harus mengutip Septuagint dalam penulisan suratnya, bukankah kebanyakan umat Yahudi saat itu maupun sekarang meragukan otoritas Septuagint sebagai kitab suci, mengapa ia tidak menggunakan Perjanjian Lama berbahasa Ibrani atau Aramaik saja, bukankah seluruh murid Yesus tak terkecuali Petrus adalah orang–orang yang menguasai bahasa Aramaik dan sangat sedikit diantaranya yang bisa menguasai bahasa Yunani.

Kesulitan lebih besar selanjutnya adalah saat mempertimbangkan masalah perbedaan penggunaan bahasa Yunani dalam 1 Petrus dengan surat keduanya. Kesimpulan ini semakin memperjelas ketidakmungkinan kedua surat tersebut ditulis oleh orang yang sama, masalah ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian 2 Petrus.

Surat ini menggambarkan kondisi yang tidak terjadi pada masa kehidupan Petrus. Surat Petrus menyebutkan mengenai tindakan penyiksaan luas yang dilakukan terhadap umat Kristen, dan para sarjana radikal menganggap penyiksaan ini baru terjadi pada sekitar akhir abad pertama, pada masa kekuasaan Trajan.

Pembelaan kemudian muncul dari sarjana-sarjana konservatif bahwa penyiksaan yang digambarkan surat Petrus ini merujuk pada penyiksaan yang dilakukan Nero, saat itu ia membakar seluruh kota Roma dengan mengkambinghitamkan orang Kristen sebagai pelakunya, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 64 M.. Sayangnya, surat ini ditujukan kepada jemaat Asia Minor, dan kekejaman Nero tidak sempat mencapai daerah tersebut, oleh karena itu para sarjana berpendapat bahwa surat Petrus tidak menggambarkan penyiksaan Nero, melainkan oleh Dominitian atau Trajan.

Adalah sangat berat untuk membayangkan bahwa Petrus menujukan surat ini kepada Gereja-gereja yang didirikan Paulus. Ajaran kedua tokoh ini sangatlah berbeda, alangkah percumanya apabila Petrus membayangkan jemaat Paulus bersedia mengikuti arahannya.

Pengakuan-pengakuan Bapak Gereja awal mengenai surat ini baru muncul di penghujung abad pertama. Tokoh-tokoh seperti Polycrap, Barnabas, Clement, Hermas, Iranaeus, Papias, Tertullian tampaknya pernah mengenali surat ini, sedangkan Murrotarian canon tidak memuatnya sama sekali.

Beberapa fakta di atas menguatkan perkiraan bahwa surat ini ditulis sebagai karya orang tak dikenal walaupun mengatasnamakan Petrus sebagai penulisnya. Beberapa sarjana kemudian beranggapan bahwa murid Petrus-lah yang menulis surat ini, selama ini kita sudah menemukan beberapa kasus dimana sebuah karya yang diduga kuat tidak ditulis orang yang sesungguhnya, melainkan oleh murid atau pengikut dari orang tersebut. Surat Petrus juga memiliki kemungkinan untuk ditulis oleh murid Petrus, sehingga masuknya pengaruh pemikiran Paulus dapat dipahami.

Tempat dan Waktu Penulisan

Petrus sempat menyebutkan mengenai “Babilon” dalam akhir suratnya, dan melalui penyebutan tersebut kita dapat menentukan tempat penulisan surat ini. Babilon yang dimaksud oleh Petrus diyakini adalah Roma, bukan sebagai daerah asli yang terdapat di daerah Eufrat. Pemilihan kata “Babilon” oleh Petrus daripada “Roma” diduga  dilakukan untuk alasan keamanan atau alasan lain yang tak diketahui.

Bila tempat penulisan umumnya mendapat persetujuan dari para sarjana, tidak begitu halnya dengan waktu penulisan. Saat ini terdapat kurang lebih tiga pendapat mengenai masalah ini, pendapat pertama dikeluarkan oleh sarjana konservatif bahwa surat ini ditulis sebelum tahun 62 atau 64, saat Roma dikuasai oleh Nero dan Petrus diyakini turut wafat pada waktu tersebut. Nero sendiri diyakini melakukan bunuh diri pada sekitar tahun 68 M.. Bila kita memegang teori ini, maka kita juga harus menyakini kepenulisan Petrus pada surat ini, tentu saja dengan beberapa konsekwensi.

Pendapat kedua menyebutkan bahwa surat ini ditulis pada masa kekuasaan Dominitian, antara 90-100 M.. Kemungkinan kepenulisan Petrus terhadap surat ini akan  musnah dengan sendirinya, Petrus telah lama meninggal pada masa ini sehingga ada kemungkinan surat ini ditulis oleh muridnya, atau orang tak dikenal. Pendapat terakhir menyebutkan bahwa surat ini ditulis pada masa kekuasaan Trajan, sekitar awal abad kedua (111 M. ?). Pastinya pada ketiga masa tersebut, Nero, Dominitian dan Trajan, kaum Kristen sedang mengalami penyiksaan dan penindasan, sehingga ketiganya memiliki kemungkinan yang cukup kuat sebagai waktu penulisan. Bila kita mengartikan bahwa surat ini ditujukan penulisnya kepada jemaat di Asia Minor, dimana mereka diduga turut mengalami penyiksaan, Nama Nero harus dicoret dari daftar kemungkinan. Kekejaman Nero terhadap pengikut Kristen diyakini hanya bersifat lokal, yaitu melingkupi area Roma saja. Sedangkan kekejaman Dominitan atau Trajan memiliki cakupan yang lebih luas, diduga telah meliputi kawasan Asia Minor dan sekitarnya.

Dalam menentukan waktu penulisan surat, kita juga harus memperhatikan hal-hal seperti adanya penyebutan terhadap Markus (5:13), penyebutan “hormatilah raja” (2:17), dll.. Kita juga harus memperhatikan anggapan bahwa surat ini memiliki kedekatan dengan surat Efesus. Penentuan waktu penulisan surat Petrus akan sangat berkaitan dengan Surat Efesus yang diduga palsu itu dan ditulis sekitar tahun 80 M., dengan asumsi surat Petrus menggunakan surat Efesus sebagai rujukan, maka waktu penulisannya adalah sekitar tahun 90-110 M., penulisnya pastilah bukan Petrus.

2 PETRUS

Surat pertama Petrus mungkin tidak terlalu menimbulkan kontroversi di kalangan sarjana maupun Gereja Kristen selama berabad-abad, berkebalikan dengan surat kedua Petrus ini, yang memang telah bermasalah sejak jaman Gereja awal hingga saat ini. Walaupun Gereja abad pertama diketahui ragu-ragu menerima surat ini sebagai bagian dari kitab suci, gejala penolakan mulai timbul dari Gereja abad kedua. Mungkin dapat dikatakan bahwa surat 2 Petrus ini merupakan salah satu bagian dalam Perjanjian Baru yang mendapat sedikit perhatian dari para Bapak Gereja Awal, oleh karena itu banyak sarjana modern yang menganggapnya sebagai Pseudograf.

Penggunaan surat 2 Petrus yang paling jelas dilakukan oleh Origen pada awal abad ketiga, walaupun ia menyadari adanya keraguan terhadap surat tersebut. Perlu diingat bahwa tidak ada Bapak Gereja awal sebelum Origen yang secara jelas mengutip surat 2 Petrus, entah apakah mereka tidak mengetahuinya atau tidak menganggapnya sebagai karya Petrus. Kemudian tampilah Eusebius yang menempatkan surat ini ke dalam daftar antilegomena-nya, dengan kata lain ia masih meragukan keotentikan surat ini bahkan menganggapnya palsu. Sejak Jerome pada abad keempat mengakui keotentikan surat ini, walaupun tetap mengakui keraguan dalam dirinya, perdebatan mengenai keotentikan mulai sedikit demi sedikit berkurang, tentunya hingga abad kesembilan belas. Pengakuan Bapak Gereja awal hanyalah salah satu masalah yang menimpa surat 2 Petrus ini, masih ada beberapa masalah berat lain yang harus dilewati untuk dapat mengakui keotentikan surat ini.

Keotentikan

Setiap sarjana yang mendukung keotentikan surat ini harus bisa menjelaskan masalah-masaah besar yang menimpa surat ini, Dan itu bukanlah hal yang mudah. Berikut adalah beberapa masalah tersebut :

Keidentikan dengan surat Yudas. Beberapa bagian surat Petrus, khususnya pasal 2-3, diketahui memiliki kesamaan dengan surat Yudas. Kesamaan-kesamaan tersebut menimbulkan kecurigaan bahwa penulis surat 2 Petrus telah dengan sengaja mengutip surat Yudas, atau sebaliknya. Kummel adalah salah satu sarjana yang mengemukakan masalah ini, dalam karyanya “Introduction to the New Testament, h. 430-4”, ia menemukan keidentikan di antara bagian-bagian berikut :

  • ·    2 Pet 1:5. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,…Jud 3 Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.
  • ·    2 Pet 1:12. Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. Bandingkan Jud 1:5 Tetapi, sekalipun kamu telah mengetahui semuanya itu dan tidak meragukannya lagi, aku ingin mengingatkan kamu bahwa memang Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya.
  • ·    2 Pet 3:2-seterusnya, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. Bandingkan dengan Jud 17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
  • ·    2 Pet 3:14 Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Bandingkan dengan Jud 24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,
  • ·    2 Pet 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya Bandingkan dengan Jud 25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Walaupun contoh dia atas hanya mewakili sebagian kesamaan yang ada, mereka sudah cukup membuktikan adanya saling ketergantungan di antara kedua surat tersebut. Satu hal yang tidak dapat ditolak mengenai masalah ini adalah mengenai adanya kesamaan konsep “Pengajar yang sesat” (false teacher)  dan muatan eskatologi, baik dalam kedua surat tersebut. Ada tiga kemungkinan mengenai masalah ini; Pertama, penulis surat 2 Petrus menggunakan surat Yudas, atau Kedua, sebaliknya penulis surat Yudas-lah yang menggunakan surat 2 Petrus. Ketiga, kedua dokumen menggunakan sumber yang sama. Melalui beberapa pertimbangan, para sarjana modern tampaknya cenderung kepada kemungkinan kedua, penulis surat 2 Petrus-lah yang menggunakan surat Yudas. Dan sejak surat Yudas diyakini ditulis pada sekitar akhir abad pertama hingga awal abad kedua, surat 2 Petrus diyakini ditulis beberapa puluh tahun sesudahnya, mungkin sekitar tahun 125 M. hingga 180 M.. Jejak keberadaan surat 2 Petrus juga baru muncul sekitar tahun 180 M., sejak Clement diduga pertama kali menggunakannya pada tahun tersebut.
Mengenai kesamaan ini telah diakui oleh mayoritas sarjana, penjelasan bahwa kejadian tersebut terjadi secara insidental tidak dapat diterima secara umum. E. M. Sidebottom dalam komentarnya terhadap surat 2 Petrus dan Yudas  menyebutkan :

“Hubungan antara dua tulisan adalah terlalu dekat untuk hanya disebabkan oleh kebetulan tak disengaja.”

Lalu mengapa Petrus harus menggunakan surat Yudas dalam penulisan suratnya ? Para sarjana telah sepakat dalam menentukan waktu penulisan surat Yudas, yaitu beberapa puluh tahun paska kematian Paulus. Sedangkan jangka waktu kematian Paulus dengan Petrus tidaklah terlalu jauh, mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja, keduanya sama-sama tewas pada masa kekuasaan Nero, sekitar tahun 64 M.. Saat membayangkan penulis surat 2 Petrus menggunakan surat Yudas sebagai acuan, maka kemungkinan kepenulisan Petrus akan musnah dalam sendirinya.

Sementara surat 2 Petrus ini mengakui Petrus sebagai penulisnya, gaya penulisan yang digunakan ternyata berbeda dengan surat sebelumnya. Boleh jadi ini merupakan argumen terkuat untuk menolak keotentikan surat ini. Sementara kedua surat disepakati ditulis dalam bahasa Yunani, surat pertama ternyata ditulis dalam bahasa Yunani halus, sedangkan surat kedua menggunakan bahasa Yunani yang lebih keras dan kurang bermutu. Hampir seluruh sarjana modern menganggap kedua surat tersebut sebagai karya penulis yang berbeda. David Meade dalam Pseudonymity and Canon mengakui bahwasanya,

The language and style of 2 Peter is very different from that of 1 Peter.
The two works could not have come from the same man.”

“Bahasa dan gaya surat 2 Petrus sangat berbeda dengan surat 1 Petrus. Kedua karya tersebut tidak dapat datang dari orang yang sama”

Tidak hanya dalam gaya penulisan, baik sarjana seperti Guthrie maupun Kummel selanjutnya mengkritisi adanya perbedaan cara penulis surat 2 Petrus dalam mengutip Perjanjian Lama dan penggunaan konsep-konsep teologi/eskatologi, mereka menyangsikan apabila Petrus benar-benar menulisnya. Kummel kemudian menyebutkan :

“The conceptual world and the rhetorical language are so strongly influenced by Hellenism as to rule out Peter definitely, nor could it have been written by one of his helpers or pupils under instructions from Peter. Not even at some time after the death of the apostle.”

“Konsep dunia dan bahasa retoriknya sangat dipengaruhi oleh Hellenisme dan pastinya berada di luar kekuasaan Petrus, tidak juga ditulis oleh salah satu pengikutnya atau muridnya dalam instruksi Petrus. Tidak juga pada beberapa waktu setelah kematian sang Rasul.”

Diluar masalah apakah Petrus dapat menulis surat dalam bahasa Yunani atau tidak, Secara logika surat 2 Petrus  ini tidak mungkin ditulis oleh orang yang sama dengan yang menulis surat 1 Petrus. Perbedaan gaya penulisan juga mematahkan anggapan bahwa surat ini dikirim kepada tujuan yang sama, dan dikirim beberapa bulan setelah pendahulunya, sangat tidak mungkin apabila seseorang dapat merubah gaya penulisannya dalam waktu beberapa bulan.

Sejak awal surat ini kita sudah dihadapi oleh suatu permasalahan, bila dalam surat pertama si penulis mengaku sebagai, “…Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang…”, berbeda dengan surat kedua dimana ia menyebut dirinya sebagai ,” …Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus,…”. Pertanyaan kemudian timbul, mengapa pada surat pertama si penulis hanya mengaku sebagai “Petrus”, sedangkan pada surat keduanya ia mengaku sebagai “Simon Petrus”.
Beberapa penjelasan mungkin muncul mengenai masalah ini, beberapa sarjana mengemukakan teori adanya pergantian penulis, bila dalam surat pertama Silvanus berperan sebagai penulis sekaligus penerjemah dengan Petrus sebagai sumbernya, kali ini Petrus menggunakan penulis atau penerjemah yang berbeda. Selain itu dalam pasal 3:1 disebutkan ,

“Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu…”

Tetapi penjelasan ini sama sekali kurang dari cukup untuk dapat menyelesaikan seluruh masalah yang terdapat pada surat ini, terutama karena tidak adanya indikasi peran seorang sekertaris dalam surat ini. Dalam surat pertama mungkin peran Silvanus sebagai sekertaris pernah disebutkan secara eksplisit, walau masih ada sarjana ada yang menafsirkan bahwa ayat 1 Pet 5:2  tidak menyebutkan Silvanus sebagai penulis maupun sekertaris. Sebaliknya surat 2 Petrus tidak memuat nama orang-orang yang berperan dalam penulisan surat tersebut, ia juga kurang dalam sambutan-sambutan yang terdapat pada surat sebelumnya. Dalam surat 1 Petrus, sempat terdapat sambutan terhadap Markus, sedangkan surat kedua tidak memuat sambutan kepada seorang pun, ini patut dipertanyakan.

Muatan surat yang menunjukan waktu lebih lanjut. Kummel dan Guthrie adalah salah satu sarjana yang mengemukakan masalah ini, mereka menyoroti adanya indikasi pengetahuan si penulis surat terhadap kumpulan surat-surat Paulus (Paulinum Corpus),

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. (2 Pet 3:15-16)

Ayat tersebut menunjukan bahwa surat ini ditulis sesaat setelah surat-surat Paulus beredar dan mulai dipelajari, peristiwa ini baru terjadi pada akhir abad pertama. Ada beberapa kesulitan dalam hal ini, bila memang Petrus adalah penulisnya, Pertama, sejak kapan Petrus bersedia mengirimkan suratnya kepada Gereja buatan Paulus, mengingat perbedaan yang terdapat dalam ajaran mereka. Kedua, Seberapa pentingkah posisi Petrus dalam Gereja Pauline sejak Paulus menyebutnya sebagai “munafik” dalam suratnya kepada jemaat Galatia 2:14 ? Ketiga, surat-surat Paulus dipastikan belum tersebar pada saat Petrus diduga menulis surat ini, yaitu sekitar tahun 64-66 M.. Pengumpulan surat-surat Paulus baru dilakukan pada akhir abad pertama, maka akan lebih masuk akal apabila surat 2 Petrus ditulis beberapa puluh tahun sesudahnya, kira-kira pada pertengahan  atau quarter pertama abad kedua. Kebanyakan sarjana saaat ini turut mendukung pendapat tersebut. Mengenai penulis surat ini, adalah tepat seperti yang disebutkan oleh Perrin dalam komentarnya terhadap surat 2 Petrus ini :

He is probably the latest of all the New Testament writers, and a date about A.D. 140 would be appropriate.”

“Dia mungkin adalah yang paling terakhir dari seluruh penulis Perjanjian Baru, dan waktu penulisan sekitar tahun 140 M.  akan lebih cocok”

Ada dua ayat lagi yang menimbulkan indikasi bahwa surat ini ditulis lama setelah masa-masa apostolic (rasul-rasul), Pertama terdapat pada pasal 3:4 :

“Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan”. (2 Pet 3:4)

Penyebutan “sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal…” secara tidak langsung menyebutkan bahwa surat ini ditulis lama setelah generasi awal Kristen musnah, termasuk para pengikut utama Yesus. Pendapat ini dikuatkan oleh pernyataan dalam pasal 3:2 :

“Supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu”. (2 Pet 3:2)

Ayat tersebut memunculkan ekspresi aneh yang tidak cocok apabila dikatakan oleh seorang Petrus. Si penulis dalam ayat tersebut tampaknya menggambarkan dirinya berada di luar lingkaran orang-orang terdekat dengan Yesus. Pemakaian  kata “dahulu” turut mengambarkan bahwa surat ini ditulis lama setelah masa-masa kehidupan “nabi-nabi kudus/rasul-rasul” tersebut.

Tiga argumen di atas sudah sangat cukup bagi kita untuk dapat menolak keotentikan surat 2 Petrus ini. Pandangan bahwa surat 2 Petrus ditulis pada abad kedua tampaknya menjadi kemungkinan paling kuat, dan Petrus tentu saja tidak dapat menjadi penulis utama surat ini. Menurut mayoritas sarjana modern, Surat ini adalah karya seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisanya kepada Petrus, ia juga menggunakan surat Yudas sebagai acuan. Pada abad-abad awal, fenomena pengatributan penulisan kepada seseorang yang dihormati adalah hal yang biasa, seseorang dapat saja dengan mudah membubuhkan nama seorang terkenal atau terpandang pada karyanya, tanpa dapat terjerat hukum. Sampai sejauh ini kita sudah dapat menemukan beberapa kitab/surat dalam Perjanjian Baru yang diduga sebagai karya Pseudograf, diantaranya seperti Injil Johannes, surat Efesus, Pastoral, hingga surat 2 Petrus ini, dan fenomena ini akan menimpa beberapa surat selanjutnya. Bagaimanapun kecurigaan Pseudograf pada surat ini bukanlah keputusan mutlak, ada baiknya kita menyimak pandangan tradisional Kristen terhadap surat ini.

Pandangan Tradisional

Setelah membahas argumen-argumen yang memberatkan klaim kepenulisan Petrus, tampaknya tidak adil bila tidak membahas pandangan yagn berseberangan. Mengenai penulis surat menurut pandangan tradisonal, tidak ada perdebatan lagi, yaitu Petrus sang rasul Yesus Kristus. Setelah melihat berbagai argumen yang menyangkal kepenulisan Petrus di atas, kita tentunya akan berfikir dua kali  untuk dapat menyetujui pandangan ini, dan keraguan ini sudah muncul dari abad ketiga saat Origen memutuskan untuk menolak mengakui kepenulisan Petrus. Martin Luther, sang pendiri Protestan juga menempatkan surat ini sebagai “surat kelas dua” dibandingkan surat-surat Paulus, entah karena ia meragukan keotentikanya atau kurang menyetujui muatan surat ini.
Pandangan tradisional lain meliputi tempat dan waktu penulisan. Sejak surat ini tidak menunjukan waktu penulisannya, para sarjana hanya dapat menduga-duga kapan surat ini pertama kali ditulis. Sejak pasal 3:1 menyebutkan bahwa surat ini merupakan surat kedua Petrus, maka pandangan tradisonal memastikan surat ini ditulis berselang beberapa bulan setelah surat 1 Petrus, yaitu sekitar tahun 60-63 M.. Keputusan ini tentu saja menimbulkan beberapa masalah, yaitu ketidakmampuanya dalam menjelaskan masalah penggambaran kondisi Gereja yang tidak cocok apabila ditempatkan pada masa tersebut, selain itu penggambaran musuh Gereja berupa kaum Gnotis juga baru terjadi pada sekitar abad kedua. Kita juga harus mempertimbangkan adanya penggunaan surat Yudas dan beberapa indikasi internal surat yang menunjukan bahwa surat ini ditulis pada waktu yang lebih lanjut. Penentuan waktu sekitar tahun 80 M. sampai 150 M. oleh kebanyakan sarjana dirasa paling cocok. Mengenai tempat penulisan, tampaknya sulit untuk dipastikan. Hanya saja sejak Petrus diduga martir di Roma tahun 64 M. dan surat ini hanya ditulis beberapa saat sebelumnya, Roma merupakan tempat yang paling memungkinkan. Persoalan menjadi lain saat kita menyangkal Petrus sebagai penulisnya, sangat sedikit keterangan yang terdapat untuk bisa menentukan tempat penulisan surat 2 Petrus ini.

Surat Yakobus

SURAT YAKOBUS

Prolog

Kali ini kita akan membahas surat-surat yang termasuk ke dalam kelompok “Catholic Epistles”, dengan surat Yakobus ini mengawalinya. Istilah yang hanya di kenal di kalangan umat Protestan sejak zaman reformasi. Penamaan tersebut dilatarbelakangi oleh materi surat-surat ini yang kerap membicarakan “keimanan plus kerja”, bertentangan dengan doktrin“pembebasan diri dari hukum” Martin Luther yang telah terpengaruh pemikiran Paulus, dan sejak itu surat–surat ini tidak pernah mendapatkan otoritas yang setara dengan surat–surat lainnya dalam Tradisi Protestan. Martin Luther bahkan menempatkan surat ini dalam urutan terakhir Perjanjian Baru versinya.

Umat Protestan mungkin tidak akan mengakui secara terbuka mengenai ketidaksetujuan terhadap beberapa bagian dalam surat-surat ini. Tetapi materi dalam surat-surat Katolik dikenal khas karena paralel dengan ajaran Yesus dalam Injil yang lebih murni. Semua ini hanya membuktikan adanya kontradiksi dalam Bible, di mana di satu sisi terdapat beberapa bagian yang mempromosikan pemikiran Kristen “baru”nya Paulus, sedangkan di sisi lain terdapat pemikiran kontra-Pauline yang dimuat salah satunya dalam Catholic Epistles ini.

Surat Yakobus, walaupun diduga kuat ditulis dalam bahasa Yunani, merupakan surat yang paling bersifat “Yahudi” dibanding surat atau kitab lainnya dalam Perjanjian Baru. Ia juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ajaran Kristen teruta, yang terdapat dalam khutbah Yesus di atas bukit. Sejauh ini kita hanya menemukan beberapa surat/kitab yang memiliki sifat “Yahudi” yaitu Injil Matius dan surat Ibrani, sebagaimana dikemukakan dalam International Standard Bible Encyclopedia.

bahkan seluruh kitab ini (Matius dan Ibrani) memiliki elemen Kristiani tersendiri didalamnya dibandingkan dengan apa yang bisa kita temukan dalam Surat Yakobus

Guthrie dalam New Testamen Introduction mengatakan :

“there are more parallels in this Epistle than in any other New Testament book to the teaching of our Lord in the Gospels”

Surat ini memuat lebih banyak paralel terhadap ajaran Yesus dibandingkan dengan kitab Perjanjian Baru lainnya dalam Injil.”

Ciri utama surat Yakobus adalah kentalnya pemaparan terhadap pentingnya ketaatan terhadap hukum Taurat atau hukum yang diajarkan Yesus, secara jelas ia memiliki hubungan dengan konsep Kristen yang dimuat dalam Injil Q. Konsep Kristen yang lebih muda versi Paulus yang mencakup konsep kebangkitan dan inkarnasi Yesus tidak dikenal dalam surat ini. Surat ini memiliki kedekatan dengan Injil Matius khususnya tehadap bagian khutbah di atas bukit, kita akan dengan mudah memahaminya karena kedua penulisnya memiliki latar belakang Yahudi yang kental, kedua penulisnya juga diduga memiliki hubungan kerabat dengan Yesus. James Tabor merangkum kedekatan suber Q dan ajaran Yakobus sebagai berikut :

AJARAN-AJARAN YESUS DI DALAM SUMBER Q AJARAN_AJARAN YAKOBUS
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. (Luk 6:20) Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? (Yak 2:5)
Oleh karena itu, barangsiapa melanggar salah satu dari perintah-perintah itu, sekalipun yang terkecil, dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi yang paling kecil di antara umat Allah. Sebaliknya, barangsiapa menjalankan perintah-perintah itu dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi besar di antara umat Allah. (Mat. 5:19) Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (2:10)
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (1:22)
apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Mat. 7:11) Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; …(1:17)_
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu (Luk 6:24) Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! ( 5:1)
Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan., Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya… Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5:34-35, 37) Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.(5:12)

Siapapun penulis surat ini, ia adalah seseorang yang dekat kepada ajaran Yahudi dan mengenal Yesus secara langsung, ini dibuktikan dengan adanya referensi terhadap khutbah di atas bukit dan keparalelan materi dengan sumber Q di atas.

Karakter

Yakobus memaparkan dalam gaya bahasa ceramah yang menggunakan kata-kata tajam. Ia tidak melibatkan masalah atau pengalaman-pengalaman pribadinya dalam surat ini. Sehingga sangat sulit untuk dapat menghubungkan sejarah penulisan ini dengan identitas penulis sesungguhnya atau dengan catatan sejarah yang ada. Berbeda dengan Paulus, yang dalam beberapa suratnya sempat memuat kisah-kisah pengalaman pribadinya, sehingga sejarah penulisannya dapat dirunut dan identitas penulisnya umumnya tidak sulit ditentukan.

Melalui identifikasi teks, Berikut adalah beberapa karakter khusus yang ditemukan para sarjana terhadap surat Yakobus ini :

    • Sifat Yahudi yang kental.

      Telah dijelaskan sebelumnya bahwa latar belakang Yahudi pada penulis surat sangat terlihat jelas. Yakobus menujukan surat ini kepada “…kedua belas suku di perantauan ”, alias kaum Yahudi yang terdiaspora atau yang tinggal di daerah-daerah asing dimana mereka menjadi minoritas. Dapat juga kita artikan sebagai kaum Kristiani yang tersebar akibat tindakan represif Romawi.

      Kaum Yahudi manapun yang berbahasa Yunani akan sangat familiar dengan materi yang dimuat dalam surat ini. Dengan contoh saat si penulis surat menyebut Ibrahim sebagai ayah mereka, Sinagoga sebagai tempat pertemuan, dan Tuhan sebagai “Lord of Sabbaoth”, istilah-istilah ini akan sangat mudah dicerna dan diterima oleh kaum Yahudi. Para sarjana bahkan menyebut surat Yakobus sebagai surat “paling Yahudi” dalam Perjanjian Baru.

      Yakobus tampak memberi semangat terhadap kaum Yahudi di perantauan agar tetap setia menjalankan hukum Taurat. Berbeda dengan keadaan di daerah bermayoritas Yahudi, kaum Yahudi perantauan harus menerima tantangan lebih keras untuk mempertahankan ketaatanya terhadap Taurat. Mereka hidup di bawah tekanan mayoritas Gentile yang menganggap aneh dan jijik segala perilaku kaum Yahudi. Ketaatan terhadap hukum Tuhan (Taurat) ini menjadi garis pembatas yang membedakan kaum Yahudi dengan kaum kafir, karena kaum kafir/Gentile hanya menjalankan hukum yang dibuat berdasarkan kemauan atau kebutuhannya sendiri.

      Seluruh materi dalam surat ini didasarkan atas Perjanjian Lama dan sumber Q. Yakobus hampir-hampir tidak memuat materi Kristen versi Paulus, sesuai dengan pernyataan Yesus,

      Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
      Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
      (Mat 5:17-18)

        • Otoritatif.

          Surat ini tampaknya ditulis oleh seorang yang memiliki kekuasaan atau namanya cukup terpandang di antara pembacanya. Maka tak aneh apabila surat Yakobus hanya memuat sedikit materi teologis, tetapi lebih banyak memuat seruan atau nasihat yang menyemangati. Hal-hal tersebut sangat berbeda dengan tulisan-tulisan Paulus yang seringkali berada dalam posisi defensif. Yakobus seringkali berbicara dari sudut seorang pemimpin, dan seruan-seruannya mengikuti gaya Nabi-nabi Perjanjian Lama atau Yesus. Senada dengan hal tersebut, International Standard Bible Encyclopedia menyebutkan :

          He has been called “the Amos of the New Testament,” and there are paragraphs which recall the very expressions used by Amos and which are full of the same fiery eloquence and prophetic fervor.”

          Dia telah disebut sebagai “Amos-nya Perjanjian Baru”, dan disana terdapat paragraf-paragraf yang mengingatkan terhadap ekspresi-ekspresi yang pernah digunakan Amos dan dipenuhi oleh ungkapan berapi-api serta semangat kenabian.”

          Semua ini membuktikan bahwa penulisnya adalah seorang penguasa umat, dan dalam hal ini pikiran kita akan tertuju kepada seorang “Yakobus” yang berkuasa sebagai kepala Gereja Jerusallem. Ia sempat disebutkan dalam surat-surat Paulus atau Kisah Rasul. Pembahasan mengenai identitas penulis surat ini akan dibahas lebih lanjut nanti.

            • Mirip Yesus dan berbeda dengan Paulus.

              Gaya bahasa Yakobus yang kerap menggunakan sindiran langsung, perumpamaan dari kehidupan sehari-hari, seluruhnya merupakan gaya bahasa Yesus. Sebaliknya, ia sama sekali berbeda dengan Paulus, baik dari gaya maupun teologi.

              Para sarjana telah mengakui bahwa penulis surat ini telah menguasai bahasa Yunani yang halus, dan menumpahkannya dalam tulisannya. Tetapi mereka merasa kesulitan saat membayangkan Yakobus, seorang Yahudi Palestina anak seorang tukang kayu, menghasilkan sebuah karya bernilai tinggi dalam bahasa Yunani yang menggugah. Keraguan mereka sebenarnya dapat dijelaskan dengan sederhana, Yahudi Palestina saat itu diketahui mampu dalam menggunakan dua bahasa, Aramaik dan Yunani. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka penguasaan bahasa Yunaninya akan semakin tinggi. Mungkin saja, Yakobus telah mendapatkan pendidikan tinggi tersebut, sehingga ia kurang mempercayai keajaiban-keajaiban yang dilakukan Yesus (John 7:5). Selain itu, berhasilnya ia dalam menduduki jabatan tinggi di Gereja Jerusallem membuktikan bahwa keunggulan intelektualnya melebihi murid-murid Yesus, contohnya Petrus atau Johannes yang disebut “tidak terpelajar” (Kis Ras 4:13). Peran seorang sekertaris juga dapat dipertimbangkan, bukannya tidak mungkin apabila Yakobus menggunakan jasa seorang sekertaris sekaligus penerjemah dalam penulisan suratnya. Paulus, di lain pihak, seseorang yang menggunakan bahasa Yunani dalam kehidupan sehari-harinya, tetap tidak bisa menyajikan bahasa Yunani halus dalam surat-suratnya, apakah Roh Kudus tidak membantunya dalam hal ini ?

              Dalam hal teologi, Yakobus dan Paulus menempati sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi Yakobus menegaskan bahwa penyelamatan hanya bisa diraih melalui keimanan dan kerja (ketaatan terhadap hukum), sedangkan Paulus memproklamirkan penyelamatan melalui keimanan semata. Sangat sulit untuk menemukan titik temu di antara kedua pemikiran ini. Beberapa Umat Kristen menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara ajaran Yakobus dan Paulus, yang ada adalah keduanya saling melengkapi satu sama lain. Pernyataan ini tidaklah logis, jelas sekali bahwa seseorang haruslah memili apakah ia mau mengikuti ajaran Paulus atau Yakobus. Martin Luther dapat dijadikan contoh, ia menemukan kontradiksi ini dan memilih untuk mengikuti ajaran Paulus daripada mengikuti Yakobus, ia bahkan menyebut surat Yakobus ini sebagai “surat jerami”, tidak berbobot dan tidak bernilai. Ia menyebutkan mengenai surat Yakobus ini dalam suratnya,

              However, to state my own opinion about it, though without prejudice to anyone, I do not regard it as the writing of an apostle,…”

              Yakobus yang terkenal

              Dalam pembukaan surat ini, si penulis sudah dengan jelas menyebutkan namanya,” Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus”, Yakobus atau “VIakwboj” dalam bahasa aslinya, merupakan nama yang sangat umum bagi penduduk Judea saat itu. Yesus sendiri memiliki beberapa kerabat yang memiliki nama “Yakobus”. Mereka semua memiliki peluang yang sama untuk dapat menjadi penulis surat ini. Permasalah menjadi semakin rumit akibat adanya perbedaan pendapat di kalangan bapak Gereja Awal mengenai identitas sang “Yakobus” ini. Tetapi saat ini diakui bahwa kekuatan otoritas Yakobus saudara Yesus, pemimpin gereja Kristen awal cukup kuat. Berikut adalah beberapa “Yakobus” yang dapat menjadi alternatif penulis surat ini.

                • Yakobus, anak Zebedeus atau saudara Johannes

                  Mengenai Johannes anak Zebedeus telah kita bahas sebelumnya pada bab Injil Johannes. Permasalahan yang menimpa surat Yakobus tidak jauh berbeda saat kita membahas Injil Johannes. Kita masih berkutat di seputar penggunaan nama, yang mungkin pada saat itu sangat lazim digunakan.

                  Dalam catatan Injil terdapat sepasang kakak-beradik bernama Johannes dan Yakobus anak seorang Zebedeus yang berprofesi sebagai nelayan di Galilea (Mat 4:17-22). Kakak-beradik ini nantinya akan menjadi murid Yesus (Mat 10:2).

                  Saat kita membayangkan Yakobus anak Zebedeus sebagai penulis surat ini, kita akan berhadapan dengan beberapa masalah. Pertama, sepertihalnya dengan Johannes, Yakobus hanyalah anak seorang nelayan Galilea biasa, yang mustahil untuk dapat menggunakan bahasa Yunani halus, yang terdapat dalam surat ini. Baiklah mungkin kesulitan yang sama juga akan muncul saat membayangkan seorang Yakobus anak Yusuf “si Tukang Kayu” menulis surat ini, tetapi kita kesampingkan dulu masalah ini. Selain itu, menurut catatan Kisah Rasul 12:1-2, Yakobus ini dieksekusi sekitar tahun 44 M. melalui perintah Herod. Surat ini menunjukan waktu penulisan yang lebih lanjut dari tahun 44 M., dan sejak surat ini memperlihatkan bahwa penulisnya memiliki kekuasaan atas umat Yahudi, nama “Yakobus anak Zebedeus” dapat kita eliminasi dari daftar kemungkinan. Adalah harus kita perbedakan antara antara status “Saudara”, “rasul” dan “murid” Yesus. Status saudara dalam Injil lebih digunakan pada hubungan yang bersifat kekeluargaan, sedangkan rasul atau murid digunakan pada tingkat yang lebih rendah yaitu sekadar hubungan guru dengan pengikutnya. Fakta bahwa Yakobus tidak menyertakan gelar “murid Yesus” merupakan argumen terkuat yang membuktikan status si penulis bukanlah sekadar “murid” Yesus.

                    • Yakobus anak Aphaeus

                      Teori ini dikemukakan oleh John Calvin. Yakobus yang ini kurang dikenal, ia adalah saudara Matius dan hanya dimuat dalam Matius 10:3. Matius dan Yakobus merupakan anggota 12 Rasul Yesus. Beberapa sarjana kemudian menyamakan “Yakobus” ini terhadap “Yakobus saudara Yesus” berdasarkan anggapan bahwa penyebutan “saudara” di sini bukan berarti hubungan keluarga, melainkan kedekatan atau keakraban. Sayangnya mereka melewatkan fakta bahwa Injil membedakan penyebutan antara saudara, rasul dan murid Yesus. Perhatikanlah ayat berikut :

                      Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja. (John 2:12)

                      Perhatikan bahwa penulis Injil Johannes dengan sengaja membedakan penyebutan “saudara” dengan “murid” Yesus.

                      Teori Calvin tersebut mendapat perhatian serius di kalangan mayoritas sarjana, mereka masih mempercayai apabila Yakobus anak Alphaeus dan Yakobus saudara Yesus merupakan dua pribadi yang berbeda.

                        • Yakobus ayah Yudas (bukan Escariot). Kisah Rasul 1:15 menyebutkan :

                          Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.”

                          Sedikit keterangan yang terdapat mengenai orang ini. Ia bukanlah seorang Rasul maupun pengikut Yesus, ia hanyalah ayah dari seorang Rasul bernama Yudas (bukan Escariot). Tidak ada dukungan apapun terhadap kepenulisannya dalam surat ini.

                            • Yakobus saudara Yesus

                              Yakobus yang ini adalah yang paling terkemuka diantara “Yakobus-Yakobus” lainnya. Menurut beberapa sarjana, saat Maria menikahi Yusuf (setelah Yesus lahir), ia kemudian melahirkan beberapa anak lagi yang salah satunya bernama “Yakobus” ini. Atau versi lain menyebutkan bahwa Yusuf telah memiliki beberapa anak sebelum menikahi Maria. Karena memiliki orang tua yang sama dengan Yesus, maka ia dikenal sebagai “saudara Yesus”. Penyebutan mengenai Yakobus dalam Injil pertama kali muncul dalam Matius 13:55 :

                              Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yacobus , Yusuf, Simon dan Yudas?

                              Markus 6:1-6 bahkan menyiratkan adanya saudara-saudara Yesus yang berjenis kelamin perempuan.

                              Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Mark 6:3)

                              Sebagian orang yang merasa mempercayai keperawanan sejati Maria mungkin akan gerah dengan pernyataan tersebut. Keterangan sejarah mengenai saudara-saudara Yesus sangatlah sedikit sehingga seseorang di jaman modern bisa memperkirakan bahwa garis keturunan Maria (melalui saudara-saudara Yesus) masih ada hingga saat ini, walaupun hal tersebut akan sulit untuk dilacak.

                              Meskipun demikian Yakobus tidak menyebut dirinya sebagai saudara Yesus dalam surat ini disebabkan oleh kerendahan hatinya atau asumsi bahwa para pembaca sudah mengetahui hal tersebut sehingga tidak perlu ditegaskan kembali. Berbeda dengan gaya penulisan para Murid Yesus yang selalu menyertakan gelarnya sebagai murid Yesus dalam pembukaan suratnya (I Pet 1:1, II Pet 1:1).

                              Walaupun tidak termasuk ke dalam 12 Rasul, ia dikenal sebagai tokoh yang adil, artinya ia memilki kharisma yang cukup kuat di kalangan pengikut Yesus, khususnya kaum Yahudi. Ia merupakan kepala Gereja Jerusallem bersama dengan Johannes dan Petrus, ketiganya disebut Paulus sebagai “The Three Pillars” akibat keteguhannya dalam memegang ajaran sejati Yesus. Injil-injil berusaha mengecilkan peran murid dan keluarga Yesus dalam perkembangan sejarah kristiani awal, sebaliknya mereka memberikan pondasi bagi doktrin Paulus. Hal ini terlihat jelas pada Injil Lukas danKisah para rasul.

                              Yakobus saudara Yesus merupakan kandidat terkuat penulis surat ini, dilihat dari penguasaan bahasa Yunani, nada otoritas pada tulisannya, dan pertentanganya terhadap pemikiran Paulus. Tidak banyak orang Kristen saat ini yang mengetahui bahwa Yakobus merupakan pemimpin tertinggi Yahudi Jerusallem pasca kematian Yesus. Ia dipilih berdasarkan kepandaian dan integritasnya yang melebihi pengikut Yesus lainnya. Maka tidaklah aneh apabila ia bisa menguasai bahasa Yunani secara lancar, tidak seperti Petrus atau Johannes yang dikenal “tidak terpelajar” (Kis Ras 4:13). Penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini bahkan diakui para sarjana sebagai “salah satu yang terbaik” dalam Perjanjian Baru, secara tidak langsung menyebutkan bahwa Yakobus adalah seseorang yang sangat terdidik. Injil Thomas, salah satu Injil Apokrip yang diakui keotentikannya menyebutkan kepercayaan Yesus terhadap saudaranya tersebut. Disebutkan bahwa :

                              The disciples said to Jesus, “We know that you are going to leave us. Who will be our leader?” Jesus said to them, “No matter where you are, you are to go to James the just, for whose sake heaven and earth came into being.” (Thomas, Saying no. 12)

                              Walaupun menggunakan bahasa Yunani, nuansa Yahudi tetap kental dalam karyanya. Ia juga dikenal sangat familiar terhadap Perjanjian Lama, terutama saat menggunakan frase “Lord of Sabaoth” dalam 5:4.

                              Berdasarkan catatan Injil, Yakobus sama sekali tidak menganggap saudaranya (Yesus) sebagai Tuhan. Lupakan terjemahan baru surat ini yang kerap menyebut Yesus sebagai Tuhan. Kesalahan terjemahan atau penyisipan ini seringkali terjadi pada Injil sebagai bukti penyelewengan terhadap kitab suci. Parahnya terjemahan Indonesia mengikuti terjemahan Inggris yang kerap menyebut Yesus sebagai Lord (dengan L besar), entah apakah gelar tersebut memiliki arti yang sama dengan God (kerap diartikan sebagai Bapa atau allah). Padahal penulis aslinya mungkin tidak bermaksud demikian, yang mereka maksudkan adalah Yesus sebagai lord (dengan L kecil) yang berarti tuan atau Raja. Kaum Yahudi saat itu memang lebih menganggap Yesus sebagai raja mereka (Messiah) alih-alih sebagai Tuhan. Sungguh hanya perbedaan penggunaan huruf kecil dan besar, tetapi arti yang dihasilkan sangatlah berbeda.

                              Yakobus adalah seorang yang sehari-hari berhubungan dengan Yesus, tetapi tidak pernah melihat adanya ciri-ciri ketuhanan dalam diri Yesus. Ia baru mempercayai kekhususan pada diri Yesus saat menyaksikan kebangkitannya (?), tetapi ia sama sekali tidak pernah mengungkapkan perihal peristiwa kebangkitan ini dalam suratnya. Umat Kristen seringkali menganggap dirinya sebagai orang munafik karena ketidakpercayaanya terhadap ketuhanan Yesus, ini bisa dipahami karena mereka melihatnya dari sudut pandang Paulus. Yakobus bagaimanapun adalah seseorang yang integritasnya lebih kuat daripada Paulus, selama kurang lebih tiga puluh tahun ia mengenal Yesus secara personal, bandingkan dengan Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus barang sedetik pun (kecuali saat mengalami penampakan yang kontroversial). Yakobus memiliki latar belakang Yahudi yang kuat, ia tidak mau meninggalkan hukum-hukum Yahudi karena ia yakin bahwa ajaran Yesus tidak bertentangan dengan ajaran Yahudi. Selama hidupnya ia tetap mempertahankan “kewajiban berkhitan” bagi mualaf Kristen yang berasal dari kalangan Gentile, Paulus di lain pihak, berusaha melawan ketetapan ini selama hidupnya. Kehidupan asketis turut dijalani Yakobus sebagai bukti ketaatanya terhadap ajaran Yesus, ini bisa kita lihat melalui pernyataan-pernyataan dalam suratnya :

                              Saudara-saudara, orang-orang kaya! Dengarkanlah nasihat saya. Hendaklah kalian menangis dan meratap karena kalian akan menderita sengsara!” (Jac 5:1)

                              Secara umum, isi surat ini menegaskan bahwa umat Kristen hendaknya selalu berpulang kepada ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari dan tidak meninggalkan hukum taurat. Saat Yakobus mengetahui bahwasanya ajaran Paulus bertentangan dengan ajaran Yesus, ia segera mengutus Petrus ke Antiokia. Dari sana Paulus kemudian mengunjungi Gereja Jerusallem untuk meminta konfirmasi dengan Yakobus, sayangnya sebelum musyawarah mencapai ketetapan final, Paulus segera ditangkap kaum Yahudi di sana dan dikirim ke Roma. Sebelumnya Yakobus tetap setia kepada pendirianya untuk mewajibkan berkhitan, tetapi Paulus juga tetap pada pendiriannya untuk menetang kewajiban tersebut. Keputusan Paulus ini membuatnya kehilangan hubungan dengan Barnabas dan Petrus, sejak saat itu ia tidak lagi memiliki hubungan dengan pengikut Yesus.

                              Kekuasaan Yakobus tidak berlangsung lama di Jerusallem, pengaruhnya tidak sempat tersebar luas disebabkan oleh adanya hal-hal berikut :

                              • Kuatnya pengaruh kaum Gentile pengikut ajaran Paulus yang menetang pemberlakuan hukum Taurat. Paulus telah berhasil membuat jarak dikotomi antara kaum Yahudi-Kristen dengan kaum Gentile-Kristen. Perpecahan ini meyebabkan berkurangnya kekuatan kaum Kristen sehingga mereka harus menjadi objek penindasan dari kekaisaran Roma.

                              • Tekanan kaum Aristokrat Yahudi cukup berpengaruh terhadap pengeksekusian Yakobus, yang menurut Josephus terjadi sekitar tahun 62 M.. Kepemimpinan Gereja Jerusallem paska Yakobus tidaklah sekuat sebelumnya, apalagi setelah kuil Jerusallem dihancurkan pada tahun 70 M..

                              Kematian Yakobus tidak langsung membuat pengaruhnya hilang seketika. Ajarannya cukup terjaga dalam kaum Ebionit, tetapi lama kelamaan melemah akibat tekanan Kekaisaran dan membesarnya pengaruh ajaran Paulus. Saat ini bisa dikatakan bahwa umat Kristen telah sama sekali melupakan peranan seorang “Yakobus” ini. Mereka lebih tertarik untuk mengutip surat-surat Paulus dibandingkan suratnya, sungguh dilematis mengingat ia adalah salah seorang penulis Perjanjian Baru yang memiliki hubungan terdekat dengan Yesus.

                                • Pseudo-Yakobus

                                  Artinya surat Yakobus ini hanyalah pekerjaan seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisannya kepada Yakobus. Ia kemungkinan adalah pengikut atau murid Yakobus, sehingga ia familiar dengan ajarannya. Sejak surat ini diduga ditulis pada sekitar awal abad kedua hingga pertengahan, penulisan oleh Yakobus menjadi semakin mustahil (ia diduga wafat sekitar tahun 62 M.). Masalah penentuan waktu penulisan surat ini akan dibahas pada bagian keotentikan.

                                  Keotentikan

                                  Masalah keotentikan surat ini akan sangat bergantung kepada penentuan waktu penulisannya. Bila kita perlakukan Yakobus saudara Yesus sebagai penulis surat ini, maka waktu penulisannya pastilah sebelum tahun 62 M., tahun kematiannya. Keputusan ini diperkuat oleh tidak adanya penyebutan mengenai kehancuran kuil Jerusallem, kontroversi muallaf Yahudi dan Gentile, indikasi eksistensi kaum gnostis, serta peran deakon atau uskup dalam Gereja. Selain itu “sinagoga” masih dianggap sebagai tempat pertemuan para umat Kristen, dan penyebutan “penindasan” dalam 2:6 menggunakan present tense. Surat ini hanya beredar di antara Gereja-gereja Yahudi-Kristen, dan tidak dikenal dalam kalangan Gentile-Kristen, oleh karena itulah surat ini mengalami banyak penolakan pada awalnya. Beberapa sarjana kemudian ada yang menetapkan waktu lebih akhir, sekitar tahun 100-150 M., tetapi perkiraan ini hanya didasarkan oleh bukti eksternal, mengingat bapak Gereja awal pertama kali menyebutkan surat ini pada masa-masa tersebut. Tetapi seperti telah kita lihat sebelumnya bahwa bukti internal surat ini menunjukan waktu yang lebih awal.

                                  Sejak abad pertama, keotentikan surat ini telah diragukan, diantaranya oleh Theodore dari Mopsuestia, ia memasukan surat ini ke dalam kelompok Deuterocanonical. Beberapa abad kemudian, Eusebius memasukan surat ini kedalam antilegomena-nya dan Murotarian canon menghilangkannya. Semua ini disebabkan karena gereja Barat belum secara umum mengakuinya. Sebaliknya, beberapa bapak Gereja awal mengutipnya sebagai kitab suci, diataranya adalah Clement dari Roma (sebelum 100 M.), Hermas (150 M.), Iranaeus, Clement dari Alexandria, Justyn Martyr, Origen, Athanasius, Dyonisius, Tertullian, St Hilarry, St. Philaster, Pope Damascus, Jerome, dll. (Catholic Encyclopedia).

                                  Kesimpulannya, Perjanjian Baru tidak hanya memuat kontradiksi kata-perkata, ayat-perayat, tetapi turut memuat kontradiksi dalam bentuk teologi. Hal ini tentu saja dapat membingungkan umat Kristen di manapun. Umat Protestan cukup berani dalam memutuskan untuk menyimpan otoritas surat ini di bawah surat-surat Paulus, sesuai dengan ajaran Luther. Menurut pandangan pribadi saya, surat ini seharusnya menempati posisi yang sebaliknya, otoritasnya seharusnya melebihi surat-surat Paulus, tentu saja dengan dasar sebagai berikut :

                                  • Kedekatan hubungan Yakobus dengan Yesus.

                                  • Peranan Yakobus dalam Gereja Jerusallem, tempat bernaungnya kekuatan pengikut Yesus awal. Kedudukan Yakobus dianggap setara dengan Petrus atau Johannes menurut Paulusdan Josephus.

                                  • Keotentikan surat yang cukup kuat. Sejauh ini kita tidak menemukan adanya bukti Interpolasi atau penyusupan yang menonjol dalam surat ini. Dengan pengandaian Yakobus benar-benar menulis surat ini, maka surat ini dapat disebut sebagai surat tertua yang ditulis dalam Perjanjian baru, yaitu sekitar tahun 47-49 M.. Mengenai beberapa sarjana yang mempermasalahkan penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini telah saya berikan penjelasan terhadapnya sebelumnya.

                                  Surat Paulus kepada Filemon

                                  Identitas Filemon

                                  Dari pembukaan surat ini kita bisa menemukan bahwa Filemon merupakan salah satu pengikut Paulus yang memiliki hubungan cukup dekat dengannya, Paulus menyebutkan ,” ..kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (Fil 1:1). Paulus mengenal Filemon mungkin saat menetap sementara di Efesus. Filemon kemudian diutus Paulus untuk menjalankan misi di Kolose, ia masih menetap di sana saat Paulus menulis surat ini di penjara.

                                  Keotentikan

                                  Secara umum surat sepanjang 1 pasal ini telah diakui keotentikannya. AQ Morton yang melakukan perbandingan gaya penulisan pada seluruh karya Paulus melalui komputer, menemukan bahwa hanya surat Roma, Korintus, Galatia dan Filemon yang nilai keotentikanya relatif setara.
                                  Penempatan setelah surat Titus membuat beberapa orang beranggapan bahwa surat ini termasuk ke dalam kelompok Pastoral, tetapi pada kenyataannya surat ini adalah salah satu anggota Prison Epistles. Menurut rekonstruksi sejarah, seorang budak Filemon bernama Onesimus melarikan diri darinya menuju Roma. Disana ia menyempatkan diri untuk bertemu Paulus.
                                  Paulus kemudian mengirim surat rekomendasi kepada Filemon yang tiada lain adalah surat Filemon ini. Surat ini berisi saran bagi Filemon agar ia mau menerima kembali Onesimus dalam rumahnya. Surat ini ditulis dan dikirim bersamaan dengan dua surat lainnya, surat Efesus dan Kolose. Saat menulis ketiga surat tersebut Paulus tengah berada dengan Timotius (1:1).
                                  Dalam hal keotentikan, baik bukti internal maupun eksternal mengakuinya. Beberapa bapak gereja awal dipastikan pernah mengetahui eksistensi surat ini. Pandangan kritis kemudian dikemukakan oleh Baur, ia terpaksa mengeluarkan pandangan ini karena ia menolak keotentikan kedua surat penjara lainnya.
                                  Surat ini adalah surat terkahir dalam Perjanjian Baru yang penulisannya diatributkan kepada Paulus. Melalui evaluasi sementara, kita telah menemukan berbagai kesalahan dan keraguan dalam surat-surat Paulus. Berikut adalah sedikit kesimpulan terhadap pembahasan-pembahasan sebelumnya.

                                  Dari keseluruhan surat, hanya surat Roma, Galatia, Korintus, 1 Tesalonika, Filipi dan Filemon yang dapat diyakini kepenulisanya oleh Paulus sendiri.
                                  Keotentikan surat-surat seperti Kolose, 2 Tesalonika dan Efesus masih diragukan, tidak sedikit sarjana yang menolaknya.
                                  Seluruh surat Pastoral dapat dikatakan sebagai surat palsu. Paulus diyakini tidak pernah menulis surat-surat tersebut.

                                  Berbagai kesimpulan tersebut tentu menyakitkan bagi sebagian umat Kristen, padahal berbagai penemuan tersebut tidak lain dihasilkan oleh sarjana-sarjana dari kalangan mereka sendiri. Umat Kristen tentunya harus mengetahui sejarah penulisan kitab suci mereka daripada hanya mengutip secara bebas ayat-ayat di dalamnya. Pengutipan ayat-ayat Bible tidak boleh dilakukan sembarangan karena kadang memiliki konteks yang berbeda.

                                  Surat Paulus kepada Titus

                                  Titus

                                  Nama ini tidak pernah muncul dalam Kitab Kisah Rasul, padahal orang ini memiliki peranan cukup penting dalam penyebaran ajaran Paulus dan pendirian Gereja-gereja. Beberapa sarjana mengatakan bahwa Titus adalah saudara Lukas sehingga Lukas tidak pernah menyebut namanya. Anggapan ini lemah, tidak ada alasan bagi Lukas untuk menghapuskan namanya dari sejarah  walaupun ia adalah saudaranya. Menurut surat Galatia, Titus adalah seorang Yunani yang dulunya adalah seorang Gentile. Ia bersama Paulus dan Barnabas pernah diutus oleh gereja Antiokia kepada konsili Jerusallem untuk membicarakan perihal kewajiban berkhitan bagi muallaf Gentile, tetapi Kisah Rasul hanya menyebutkan Paulus dan Barnabas yang pergi. Titus diketahui mendampingi Paulus selama di Efesus, kemudian ia diutus kepada jemaat Korintus untuk mengumpulkan sumbangan bagi Gereja Jerusallem. Ia juga dikenal sebagai pembawa surat 2 Korintus. Menurut surat Titus, Paulus kemudian mencarinya dan meninggalkanya di pulau Kreta, kisah tersebut terasa ganjil karena tidak pernah ada catatan mengenai pendirian Gereja di daerah tersebut.

                                  Pandangan Tradisional

                                  Walaupun Kitab Kisah Rasul tidak memberikan tempat bagi sejarah kehidupan Paulus paska dipenjara, berdasarkan surat ini maka pastilah Paulus sempat melanjutkan perjalanannya ke beberapa tempat. Berdasarkan rekonstruksi sejarah, setelah Paulus bebas, ia bersama Timotius melanjutkan perjalanan ke daerah Macedonia. Paulus meninggalkan Timotius di Efesus, sedangkan ia sendiri melanjutkan perjalanan ke Macedonia. Rantai sejarah kemudian terputus, Paulus tiba-tiba mencapai daerah Kreta dan meninggalkan Titus di sana, “…Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini…”. Rekonstruksi ini disusun berdasarkan catatan dalam surat Timotius dan Titus, akan berbeda bila kita menggunakan catatan Clement Romanus, karena menurutnya setelah Paulus bebas, ia melanjutkan perjalanan ke barat (diperkirakan Spanyol atau Roma ?). Kesulitan lain akan muncul karena tidak ada catatan sejarah yang mengatakan bahwa Paulus pernah meginjakan kakinya di Spanyol atau Kreta. Bagaimana mungkin suatu Gereja Paulus yang terorganisir bisa berdiri disana padahal Paulus dan pengikutnya belum pernah ke sana sebelumnya.

                                  Keotentikan

                                  Ini adalah anggota kelompok     Pastoral Epistles yang terakhir, nilai keotentikanya  sama lemahnya dengan kedua surat sebelumnya.  Schleiermacher pada tahun 1807 adalah salah seorang pelopor perlawanan terhadap keotentikan surat ini dan kedua surat pastoral lainnya. Menurutnya surat-surat tersebut memiliki perbedaan gaya, muatan dan teologi bila dibandingkan dengan surat-surat utama. C. K. Barrett kemudian berpendapat bahwa penulis surat ini menggunakan surat-surat Paulus sebagai sumber dan menghasilkan surat yang baru dengan mencatut nama Paulus. Dengan kata lain seorang pengikut Paulus yang tidak bertanggung jawab telah memproduksi suatu surat yang penulisannya diatributkan kepada Paulus.
                                  Saat ini hampir seluruh sarjana mengakui bahwa seluruh gaya dan muatan yang dikandung oleh Pastoral berbeda dengan yang terdapat  pada surat-surat utama. Beberapa kata baru diketahui muncul dalam surat-surat ini, contohnya kata “Presbyter”, “bishop (Episkopoi)” dan “deacon (Diakonoi)”, sedangkan dua kata terakhir diketahui hanya pernah muncul  sekali di surat Filipi. Penyebutan gelar-gelar pejabat Gereja tersebut dirasa tidak pas apabila ditempatkan dalam kondisi tahun 65-an. Saat itu Gereja-gereja masih baru berdiri dan masih menghadapi masalah dari sana-sini. Alangkah lebih cocok apabila penulisan surat-surat ini dilakukan di abad kedua, dimana saat itu Gereja telah berkembang dan tengah menghadapi musuh baru, yaitu kaum Gnostis.
                                  Beberapa sarjana beranggapan bahwa beberapa bagian dalam surat ini asli berasal dari Paulus, contohnya pada 3:12-13, tetapi sisanya palsu. Pandangan kritis sebenarnya mulai muncul dari pasal 1:7-9, yang diduga sebagai interpolasi. G. A. Wells dalam Did Yesus Exist? Menyebutkan,

                                  It is widely agreed that the Pastorals are mostly forgeries although Titus and 2 Timothy may contain some genuine notes from Paul.

                                  “Secara luas disetujui bahwa surat-surat Pastoral adalah palsu walaupun Titus dan 2 Timotius mungkin memuat beberapa kutipan asli dari Paulus.”

                                  Setelah kita mengetahui bahwasannya para sarjana-sarjana terkemuka Kristen sendiri telah menolak keaslian beberapa bagian kitab sucinya, maka akan menjadi lebih mudah bagi kita untuk melakukan hal yang sama. Walaupun kita tidak tahu sejak kapan dan oleh siapa pemalsuan ini dilakukan, “barang” palsu tetap harus dimusnahkan. Seperti saat kita menemukan selembar uang palsu, tetapi kita tidak tahu kapan dan oleh siapa uang tersebut diproduksi, kita tidak boleh menggunakan uang tersebut dan alangkah baiknya bagi kita apabila bersedia memusnahkan uang palsu tersebut. Hal yang sama patut kita terapkan pada beberapa bagian Bible yang diyakini sebagai palsu, walaupun kita perlu mencari sejarah pemalsuan tersebut, tetapi kita harus bersedia untuk tidak menggunakan bagian tersebut sebagai dalil apapun, tindakan ini akan menimbulkan konsekwensi bagi umat Kristen pada umumnya karena kebanyakan bagian yang dianggap palsu ternyata memuat pondasi penting agama Kristen.

                                  Surat 2 Timotius

                                  2 Timotius

                                  Secara umum, tidak ada perbedaan berarti antara surat ini dengan dengan surat Timotius pertama. Keduanya memiliki karakter yang sama. Keraguan utama ditunjukan oleh absennya mereka dari dalam daftar canon Marcio. Kedua surat ini tidak pernah dikutip sebelumnya kecuali oleh Iranaeus tahun 170 M..

                                  Pandangan-pandangan kritis terhadap keotentikan surat ini didasarkan melalui sisi yang relatif sama dengan surat sebelumnya, yaitu melalui perbedaan gaya penulisan dengan surat lainnya, banyaknya Hapax Legomena, dan adanya ekspresi-ekspresi non-Pauline. Dalam komentarnya, The New Oxford Annotated Bible menyebutkan :

                                  Second Timothy, although attributed to Paul, is found by many scholars to be so unPauline in vocabulary, style, theological concepts, church order, emphasis on tradition and in contrast with the chronology of his career as given in Acts and Romans, that it is widely considered to be a forgery.

                                  “Timotius kedua, walaupun penulisannya diatributkan kepada Paulus, kebanyakan sarjana telah menemukan sifat non-Pauline dalam perbendaharaan kata, gaya, konsep teologi, aturan gereja, penekanan dalam tradisi dan berlawanan dengan kronogi karir Paulus yang diberikan dalam Kisah Rasul dan surat Roma, surat ini dipercayai sebagai pemalsuan.”

                                  Dalam hal tempat penulisan, beberapa mengatakan bahwa surat ini ditulis sekitar setahun setelah surat 1 Timotis, lainnya berkata bahwa surat ini ditulis saat Paulus mengalami pemenjaraan yang terakhir di Roma. Digambarkan dalam pasal 4:6 “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat”.

                                  2 Timotius 3:16

                                  Saat anda membicarakan perihal keotentikan Bible dengan teman Kristen anda, mereka pasti akan mengutip bagian ini (Timotius 3:16) untuk mendukung klaim inspirasi wahyu dalam Bible. Para penceramah Kristen tidak pernah bosan dalam memakai ayat ini dalam pembelaanya terhadap kebenaran ajaran-ajaran Bible. Dalam hal ini kita akan membantah pemikiran tersebut karena karena kebanyakan umat Kristen telah mengambil ayat ini diluar konteks yang sebenarnya. Berikut adalah teks 2 Timotius 3:16 :

                                  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

                                  Dalam King James Version disebutkan :

                                  All scripture [is] given by inspiration of God, and [is] profitable for doctrine, for reproof, for correction, for instruction in righteousness.”

                                  Saat kita menerjemahkan kata “scripture” atau “tulisan” di atas menjadi “Alkitab” atau “Bible”, maka kita telah melakukan kesalahan besar dan sangat keluar dari konteks. Anggaplah surat 2 Timotius ini ditulis tangan oleh Paulus, maka waktu penulisan surat ini adalah sekitar tahun 65-67 M., sedangkan Bible sendiri baru rampung penyusunannya beberapa ratus tahun kemudian.
                                  Kata “Scripture” adalah terjemahan dari bahasa Yunani “Graphe“ yang artinya tulisan, dalam naskah aslinya tertulis “pasa graphe theopneustos kai ophelimos…”. Dalam Perjanjian Baru terdapat kurang lebih 51 penyebutan terhadap kata “Graphe”, dan seluruhnya nerujuk kepada pengartian “tulisan suci” atau Perjanjian Lama. Beberapa sarjana bahkan mengartikan kata tersebut sebagai tulisan-tulisan Paulus semata. Adalah suatu kesalahan fatal apabila kita mengartikan “tulisan suci” ini dalam konteks keseluruhan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saat Paulus menulis surat ini pada tahun 65 M., saat itu belum satupun Injil yang ditulis, bahkan konon Injil tertua (Markus) baru ditulis di sekitar tahun 70 M.. Tidak hanya itu, surat-surat Paulus pun belum sempat dikompilasi atau dikumpulkan. Beda masalahnya apabila ayat ini baru ditulis 300 tahun kemudian, saat komposisi final Bible telah diakui. Sarjana katolik, Raymond F. Collins, dalam karyanya Introduction to the New Testament , menyebutkan :

                                  “The Scriptures that enjoyed such authority within the emerging church are what Christians call the Old Testament.”

                                  Bila kita mengartikan kata “Scripture” ini menjadi “Bible secara keseluruhan”, maka kita harus menerima beberapa konsekwensi. Pertama, otomatis kita harus menolak kepenulisan Paulus pada surat 2 Timotius ini, karena Bible baru rampung pada abad keempat. Kedua, kita harus menerima keseluruhan bagian Bible secara mentah-mentah, dari beberapa bagian Perjanjian Lama yang mengandung pornografi hinggga ajakan meminum racun dalam Matius 16:18, atau mengakui keotentikan dalam Markan Appendiks, Pericope Adulterae hingga 1 Timotius 2:12-15 yang merendahkan posisi wanita. Selain itu kita juga harus menerima kitab-kitab “deutero-canonical” sebagai “tulisan suci”. Ketiga, andaipun kita mengartikan “scripture” tersebut sebagai Perjanjian Lama, maka kita juga harus mengakui kepenulisan wahyu dalam kitab-kitab meragukan yang penulisnya tak dikenal.

                                  Kesimpulannya, apakah surat Timotius ini otentik atau tidak, penafsiran terhadap kata “Scripture” tidak boleh dilakukan secara sembarangan, apalagi mengartikanya sebagai “Bible” secara keseluruhan. Seseorang yang menganggap bagian tersebut mewakili Bible secara keseluruhan benar-benar tidak mengetahui sejarah penulisan Bible. Para penginjil benar-benar membodohi umatnya saat mengutip ayat ini sebagai dalil kebenaran Bible. Ayat ini menjadi favorit karena tidak ada ayat lain yang secara jelas mengakui kepenulisan wahyu dalam Bible. Pada situasi yang sangat terpaksa ini, seorang Kristen akan menggunakan ayat ini sebagai benteng pertahanan terakhir, walaupun dengan mengorbankan rasionalitasnya.