Napak Tilas Konperensi Asia-Afrika ::: Sebuah petite histoire :::

Bismillah, Goodspeed !

Ungkapan semangat tersebut kerap terlontar dari mulut kang Adew, sang tour leader dalam acara Napak Tilas Konperensi Asia Afrika yang diadakan tanggal 13 Juli kemarin. Suatu perjalanan yang sangat mengesankan dengan harga yang sangat terjangkau. Beruntung sekali saya bisa  ikut serta dalam kesempatan langka tersebut, dan sebagai  seorang aleuteurs yang budiman, rasanya berdosa sekali apabila saya nggak menuliskan apresiasi saya terhadap perjalanan kemaren,, Sedikit saja karena saya masih awam soal sejarah KAA, dan karena pastinya teman2 di KAA lebih ngerti soal itu. Jadi sy ngebahas sejarah2 kecil  lain aja seputar objek kunjungan, yang bahasa kerennya mungkin bisa disebut petite histoire.

Sejak subuh hari peserta sudah ngumpul di Gedung KAA dengan setelan batik layaknya peserta olimpiade sains. Tapi bukan itu tujuan kita, tujuan kita adalah menapaktilasi jejak Konperensi Asia Afrika ke beberapa objek di luar kota walau tanpa mengunjungi Colombo. Nah, Titik kunjungan pertama dan yang paling berkesan adalah kunjungan ke Istana Bogor. Mengenai sejarah Bogor sendiri,  mungkin bisa cekidot di notes sy yg lain (http://www.facebook.com/note.php?note_id=275108276033). Saya sebenernya nggak terlalu nyimak materi-materi dari sang Guide istana karena terkagum-kagum sama puluhan koleksi patung dan lukisan wanita yang ada di sana. Selera Bung Karno memang  M.A.N.T.A.P. (Sambil ngacungin Jempol).

Nah, Istana Bogor sendiri pada awalnya digunakan sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Gustaff Willem Baron van Imhoff yang dibangun pada pertengahan abad-18 dan mulanya disebut dengan “Heerenhuis of Bogor”. Sang Gubernur Jenderal  membeli seluruh kawasan Bogor tahun 1745 dan mengganti nama “Bogor” menjadi Buitenzorg yang berarti “tanpa kesusahan”, suatu nama yang boleh dikatakan sebagai mode saat itu sejak pembangunan istana “Sanssouci” di Postdam oleh raja Friedrich II dari Prusia. Perlu juga diketahui bahwa Kediaman asli Baron van Imhoff di Batavia  adalah yang saat ini dikenal sebagai “Toko Merah”.  Van Imhoff  sendiri merupakan salah satu sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berasal dari keturunan Jerman. Penggunaan Istana Bogor sebagai kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda sendiri sudah dimulai sejak masa pemerintahan Daendel dan Raffles di awal abad-19, sehingga pernyataan dalam handout   yang menyebutkan tahun 1870 sebagai masa awal  penggunaan Istana Bogor sebagai kediaman resmi Gubernur Jenderal mungkin kurang tepat kecuali apabila yang dimaksud adalah tahun 1770.

Jamuan Pesta dalam Istana Bogor

Di istana Bogor inilah dilakukan pertemuan lima perdana menteri tanggal 28 dan 29 Desember 1954 yang menghasilkan berbagai keputusan yang salah satunya menjadikan Bandung  sebagai lokasi pelaksanaan konferensi Asia-Afrika. Mengapa Bandung ? Om Ruslan Abdulgani dalam buku Bandung Connection sebennarnya telah memberikan jawaban bahwa Bandung memiliki gedung-gedung yang baik, fasilitas penginapan yang lengkap, dan tentunya seperti yang Pak Desmond sebutkan, hawa yang cukup dingin untuk menekan emosi. Mengenai waktu pelaksanaan KAA, Konferensi Bogor hanya memutuskan “In the last week of April 1955”, akan tetapi karena mempertimbangkan datangnya bulan ramadan dan faktor-faktor lain, diputuskanlah bahwa konferensi akan diadakan tanggal 18 April 1955.

Dari Istana Bogor perjalanan dilanjutkan ke Batavia untuk mengunjungi gedung Pancasila yang dulunya pernah jadi kediaman resmi panglima tentara Belanda (1830) dan Volksraad (1917), sekarang digunakan sebagai kantor Kemenlu. Sejarah Volksraad di diulas cukup lengkap dalam notesnya Indra Pratama (http://www.facebook.com/notes/indra-pratama/volksraad-sebagai-corong-perjuangan-menuju-kemerdekaan/10150255578349177). Sedikit info tambahan, kalo pembentukan Volksraad diajukan oleh menteri Jajahan, Pleyte kepada Raja Belanda yang kemudian disahkan tanggal 30 Maret 1917 dan mulai beroperasi tanggal 1 Agustus 1917. Pendirian volksraad merupakan jawaban atas kebutuhan politik saat itu untuk “mengakomodir” aspirasi kaum pribumi yang semakin menguat.  Selama penjajahan Jepang, Gedung ini digunakan oleh BPUPKI (Dokuritsu Zyunbi Tyosakai) untuk berkumpul dan bersidang dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Sampai pada akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945 di gedung ini pula Ir. Soekarno mengucapkan pidatonya yang berjudul “Lahirnya Pancasila” , sehingga kemudian gedung ini dinamakan Gedung Pancasila.

Selain terkagum-kagum dengan arsitektur gedung ini, saya juga terkagum-kagum dengan Public Relations Kemenlu yang cantik jelita M.A.N.T.A.P. (…Bapak Mbak pasti orang Kemenlu, karena  mbak telah mendiplomasikan hati saya…)

Gubernur Jenderal Tjarda tengah berpidato di hadapan Volksraad

Saya menginjak ruangan ini!

Perjalanan lanjut lagi ke rumahnya Pak Alm. Ruslan Abdulgani di jalan Diponegoro. Sempet juga lewat kantor pusat Ormas Nasional Demokrat di Gondangdia yang tepat di sebelahnya berdiri kantor parpol nasdem (gak penting)… Dalam lawatan singkat di rumah Pak Ruslan Abdulgani, rombongan disambut dengan sangat ramah oleh  keluarga almarhum. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah itu sambil jalan-jalan dan duduk-duduk, membayangkan memori sejarah yang pernah terjadi di sana. Rumah itu bagaikan sebuah mini museum, ada ratusan benda antik, ribuan koleksi buku, ratusan koleksi tongkat, dll. Perlu lebih dari beberapa jam untuk mengexplore seluruh sisi menarik dari isi rumah, tapi apa boleh buat waktu tidak mengizinkan.

Cak Ruslan Abdulgani

Ketika membayangkan Pak Ruslan Abdulgani, pikiran saya langsung teringat pada suatu kisah dalam buku beliau  “The Bandung Connection” yang sangat menarik. Suatu ketika setelah diadakan pembukaan KAA, hujan turun dengan derasnya di Bandung. Seorang pemimpin penjagaan Gedung Merdeka kemudian mendatangi Pak Ruslan Abdulgani di penginapannya di Hotel Trio.

“Pak, Lapor! Gedung Merdeka bocor. Di bagian ruang sidang pleno. Payah Pak! Basah di mana-mana. Air menggenang di lantai.”

Mendengar laporan tersebut, tanpa basa-basi Pak Ruslan Abdulgani langsung meluncur ke Gedung Merdeka bersama beberapa staffnya.

…Saya dan staf saya beserta belasan petugas-petugas lainnya terus memobilisasi lap-lap pel dan goni-goni dan ember-ember air yang ada. Sambil melepaskan celana, jas, kemeja, kaos kaki dan sepatu, dan hanya mengenakan celana dan kaos dalam saja kita semua mengepel lantai, mengeringkan kursi-kursi dan meja-meja dengan goni-goni dan lap-lap yang dapat menyerap air!…

Nah, Sekarang bayangkan beliau seorang pejabat sekelas Sekjen Kemenlu merangkap Sekjen KAA, ikut basah-basahan ngepel lantai Gedung Merdeka bersama staffnya demi mejaga keberlangsungan KAA. Pejabat2 jaman sekarang mana mau ngepel kayak gitu,  hebat lah kalo ada…  Tapi ada yang lebih mantap, dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah yang baik, Pak Ruslan Abdulgani mengorganisasi sebuah Hospitality Committe yang tugasnya menyediakan lady’s escort, kumpulan wanita-wanita yang menemani delegasi di waktu santai dan istirahat. Soekarno-lah yang kemudian memilih wanita-wanita ini dari kalangan mahasiswa perempuan yang pintar2. Tindakan Pak Ruslan Abdulgani ini memang menuai kritik dari beberapa kalangan pers, tapi saya setuju bahwa sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia harus melayani tamunya dengan sempurna. M.A.N.T.A.P.

Wanita2 dalam KAA

Wanita2 KAA dalam acara jamuan teh

Hari sudah mulai gelap, rombongan berpamitan dari tuan rumah dan langsung meluncur ke Jalan Veteran, tepatnya menuju Masjid Istiqlal untuk sholat dan Newseum untuk makan malam serta penutupan acara. Dalam perjalanan, sekali lagi bus melewati kantor pusat Ormas Nasional Demokrat di Gondangdia yang tepat di sebelahnya berdiri kantor parpol nasdem (–__–)… Oh ya, kita juga lewat Monas lho…

Sebagai penutup, sy mengutip ulang ulasan berita mengenai KAA dari Surat Kabar Sin Min tanggal 20 April 1955 yang masih konsisten hingga saat ini, dalam ulasan tersebut disebutkan bahwa bangsa Asia Afrika telah sanggup untuk melaksanakan konferensi Asia Afrika yang meliputi separoh daerah dan bangsa di dunia tanpa bantuan dan pimpinan bangsa Barat, masih mempunyai kekuatan lahir bathin untuk berkumpul dan bersatu kembali merundingkan dan mencapai jalan guna kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Asia Afrika, bahkan keselamatan dunia umumnya yang kini terancam bahaya kemusnahan dan kehancuran.

Bung Karno dengan berapi-api membuka KAA

Bahan bacaan & Gambar :

Roeslan Abdulgani, “The Bandung Connection” Gunung Agung, Singapore 1981

Roeslan Abdulgani, “The Bandung Spirit” Prapantja, 1964

B.M. Diah, “25 Arti Konperensi Bandung” Yayasan 17-8-45, 1980

Richard Wright,” De Kleur Parriere”, van Hoeve, 1957

Rosihan Anwar ,” Sejarah Kecil jilid 2″ Kompas, 2009

Kementrian Penerangan, “Berita Konferensi Asia Afrika”, 1955

Hardjana HP, “Kekayaan Budaya Peninggalan Jaman Belanda” PT. Jenar Melati Wangi, 2004

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s