SJARIFFUDIN PRAWIRANEGARA

Mr. Syarifudin Prawiranegara

Ada tulisan menarik dalam koran Pikiran Rakyat beberapa hari lalu, seorang sejarawan Jawa Barat menceritakan bagaimana usahanya untuk mempromosikan Sjarifudin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional. Namun menurut sy tulisan itu masih lebih banyak membicarakan pribadi sang sejarawan daripada perjuangan Sjarifudin Prawiranegara. Untuk itu sekadar menambahkan, Berikut adalah sedikit ulasan kisah perjuangan Sjarifudin dkk. selama menjalani pemerintahan darurat di Sumatera.

Gamang 

Waktu agresi  Belanda dimulai, negara RI belum sembuh dari penderitaan akibat tikaman yang diberikan PKI Musso dari belakang dengan peristiwa Madiun yang menimbulkan ribuan korban jiwa. Wakil Presiden Moh. Hatta yang pada waktu itu jadi Perdana Menteri beberapa minggu sebelum serangan Belanda, bersama Mr. Sjarifudin Prawiranegara yang ketika itu menjabat Menteri Kemakmuran berangkat dari Jogja ke Bukittinggi, ibukota kedua RI untuk mengadakan perundingan dengan pucuk pemerintahan di Sumatera berkaitan upaya pembentukan pemerintahan sementara di Bukittinggi dengan pimpinan Bung Hatta apabila Belanda melanjutkan agresi baru.

Di tengah persiapan pembentukan pemerintahan itu, Bung Hatta dipanggil kembali ke Jogja untuk berunding dengan pihak Belanda di Kaliurang dengan perantaraan Komisi Tiga Negara. Perundingan ini mengalami kegagalan dan berbuah pada agresi militer ke-II. Saat itu Mr. Sjarifudin baru berada beberapa hari saja di Bukittinggi, dan langsung memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut mengingat kondisi yang semakin tidak menentu.

Sebelum Agresi terjadi, sebenanya Soekarno-Hatta telah mengeluarkan mandat yang mengatakan bahwa  :

Djikalau dalam keadaan darurat pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjarifuddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran untuk membentuk Pemerintah Republik darurat di Sumatera

Selain mandat tersebut, turut dikeluarkan mandat lain kepada Dr. Sudarsono, Palar, dan Mr. Maramis di India yang isinya sbb. :

Djikalau ichtiar Sjarifuddin di Sumatera tidak berhasil, maka saudara2 dikuasakan membentuk exile government Republik Indonesia di India

Rumah2 dan Pabrik2 yang dimusnahkan Belanda sewaktu PDRI

PDRI

Sementara itu rombongan Mr. Sjarifudin mengungsi ke  Halaban, negeri yang terletak 20 Km di luar kota Payakumbuh, di lereng gunung Sugo, sedangkan rombongan lain menuju daerah yang berbeda. Pada tanggal 21 Desember, hari ketiga agresi militer Belanda, Mr. Sjarifudin masih ragu2 dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya, karena  mandat yang diberikan kepadanya dari Kabinet Hatta untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatera ternyata belum didengarnya, karena memang segala bentuk saluran komunikasi telah lebih dulu diputus oleh Belanda.

Mengenai mandat kabinet ini, Mr. Sjarifudin baru mengetahui beberapa bulan setelah PDRI, berbentuk wawancara pers Bung Hatta yang dilakukannya di tempat pembuangannya di Bangka, yang didengar Sjarifudin di tempat persembunyiannya di pedalaman Sumatera Tengah dari radio. Dengan ini terbuktilah bahwa Sjarifudin membentuk pemerintahan darurat ini atas inisiatif sendiri.

Disamping pemerintahan darurat yang didirikan Mr. Sjarifudin, ada pula pemerintahan Gerilya yang dibentuk Tan Malaka di Jawa, namun tampaknya inisiatif Tan Malaka ini kurang populer. 

Dick Tamimi

Dalam suatu wawancara dengan wartawan “Indonesia Raya”, Mr. Sjarifudin mengatakan bahwa “Kalau tidak ada Dick Tamimi, pemerintahan darurat tidak ada artinya”. Menurutnya Dick Tamimi yang waktu itu jadi perwira AURI dan ikut dalam rombongan PDRI berdarurat dengan zender radionya tela berjasa besar buat PDRI karena dengan radio itu dapat dilakukan hubungan dengan pulau Jawa, yhaitu antara lain dengan Kol. Simatupang dan kemudian dengan Menlu PDRI Mr. Maramis yang berkedudukan di New Delhi. Hubungan inilah yang menelorkan resolusi India didalam dewan keamanan PBB yang memerintahkan “cease fire” kepada Belanda.

Waktu itu yang menjadi anggota pemerintahan darurat di Jawa dengan titel komisaris adalah Dr. Sukiman, Mr. Susanto Tirtoprojo, Ij Kasimo dan Supeno yang gugur ditembak Belanda di dekat Kediri.

PDRI Mobil

Karena terus diburu2 Belanda, demikian Mr. Sjarifudin dan perangkat pemerintahan darurat terus mobil dan berpindah2 dari satu tempat ke tempat yang lain dan termasuk radio Dick Tamimi yang  juga dibawa kemana-mana. Karena keadaan Halaban sudah tidak aman lagi, PDRI pindah ke Bangkinang. Disini mereka mengalami pemboman Belanda dan dalam perjalanan diteruskan ke Pekanbaru. Perjalanan masih dilakukan dengan mobil dan jeep, dan kadang2 harus menyebrang sungai dengan rakit. Di dalam perjalanan ke Pekanbaru didengar kabar bahwa Pekan Baru sudah diduduki Belanda, maka tujuan perjalanan dirubah ke Taluk di daerah Riau.

Dikarenakan kondisi pemerintahan Sjarifudin yang selalu mobil, Belanda selalu mengejek PDRI sebagai Pemerintah Dalam Rimba Indonesia, namun Sjarifudin membalas ejekan tersebut melalui pancaran radio ke seluruh dunia sebagai berikut :

Pemerintah kami biarpun dalam rimba, tetapi sah, karena masih di dalam daerah kekuasaan kami (Indonesia). Tetapi Belanda yang terang2an dalam undang2 dasarnya menyatakan tidak sah mendirikan pemerintah atau memindahkannya ke luar daerah kekuasaanya, telah memindahkan kekuasaanya ke London, di waktu Nederland dikuasai Jerman tahun 1940. Pemerintahaanya di Indonesia dipindahkan ke Australi. Lalu kenapa Belanda mencap PDRI yang masih di dalam daerahnya tidak sah?

Mobil2 Dimasukkan ke dalam Sungai

Dalam perjalanan menyusuri rimba inilah, semua mobil2 bagus yang dipakai anggota pemerintahan darurat dimasukkan ke dalam suatu sungai dengan suatu upacara khusus, karena mobil2 ini tidak bisa dipakai lagi berhubung jalan2 yang akan ditempuh amat buruk. Mr. T. Hassan tampaknya amat berat untuk berpisah dengan mobil “Gajah Putihya” dan dengan amat terharu dia melihat mobil kesayangannya itu tenggelam.

Mr. Sjarifudin Kehilangan Kaca Mata

Jeep yan ditumpangi Mr. Sjarifudin bersama Dick Tamimi pernah slip dan masuk ke dalam suatu kali yang cukup  dalamnya, sehingga para penumpang keluar dengan basah kuyup, dimana Mr. Sjarifudin kehilangan barang yang amat diperlukannya, yaitu kaca matanya. Sesampainya di Taluk, kepada Sjarifudin diberikan sebuah “Testbril” yang biasa dipakai kalau seorang dokter mata tengah memeriksa mata seorang pasien yang mau memakai kaca mata. Kaca mata istimewa inilah yang dipakai Sjarifudin sebagai pengganti kaca matanya yang hilang itu, hal mana tentu saja menimbulkan tertawaan kepada siapapun yang melihatnya.

Sesudah mengalami penembakan dengan senapan mesin dari pesawat terbang Belanda di Taluk, rombongan PDRI mengungsi ke sungai Darah. Sementara itu perjalanan dengan jalan kaki dimulai, tidak kurang dari 40 Km sehari. Sesudah berjalan dari satu desa ke desa lain, maka diputuskan bahwa pemerintahan darurat akan berkedudukan di suatu desa bernama Bidaralam. Disinilah kontak dengan Jawa dan New Delhi dilakukan, sehingga perjuangan PDRI berkumandang ke seluruh dunia dan menguatkan tuntutan Palar dengan dibantu wakil2 India di PBB, sehingga perjuangan Indonesia berhasil.

Di Desa2 yang kecil dan miskin kadang-kadang rombongan hanya disuguhkan nasi sama cabe dan daun singkong rebus, tetapi karena cape akibat perjalanan yang dilakukan, makanan ini tetap enak rasanya.

Kegiatan Sehari-hari Pemerintah Darurat di Pedalaman

Gencatan Senjata

Ketika berita gencatan senjata telah didengar oleh PDRI, juga terdapat informasi bahwa Bung Hatta terbang ke Aceh untuk menemui Sjarifudin. Namun karena Sjarifudin berada di Sumatera Tengah, tentu saja usaha Hatta sia-sia. Untuk itu dikirimlah Natsir, Leimena, dan Dr. Halim ke Sumatera Tengah. Mereka melakukan perjalanan kaki sekitar 15 Km hingga akhirnya berhasil menemui Sjarifudin.

Setelah pemerintahan darurat mendengar bahwa pemimpin2 di Bangka mengadakan perundingan dengan Belanda tanpa membuat hubungan terlebih dahulu dengan PDRI, pihak PDRI merasa amat kecewa, karena menurut mereka berunding dengan pemimpin yang berada dalam tawanan, pihak Belanda dapat memaksakan kemauannya. PDRi juga tidak menyetujui hasil persetujuan Roem-Royen karena tidak seimbang dengan kekuatan pejuang yang melakukan gerilya. Namun PDRI kemudian menyetujui perundingan Roem Royen karena ingin menghindari perpecahan dalam usaha perjuangan.

Rujukan :

RE Baharudin, Tjerita Tentang Pemerintahan Darurat Sjarifudin di Sumatera Tengah. Dalam Bingkisan Nasional Kenangan 10 Tahun Revolusi Indonesia. 1955

ST Rais Alamsyah. 10 Orang Indonessia Terbesar Sekarang. 1952

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s