Radio

Pada hari Minggu ibu, bapak, si Ahmad, si Abdul dan si Siti pergi dengan bis ke Djakarta. Sesampai distasiun bis Djakarta, lalu pergi dengan betja kekampung Pedjambon.

“Assalamualaikum!” kata bapak setiba dihadapan rumah pak Masnis, paman si Ahmad. Tetapi pak Masnis tidak mendengar, sebab sedang mendengarkan radio. Sebab itu bapak masuk sadja kedalam rumah itu. “Djangan marah pak Masnis, saja sekonjong-konjong masuk,” kata bapak sambil tertawa “Tadi saja sudah memberi salam, tap rupanya tidak kedengaran.”

“O, Abang!” kata pak Masnis. “Sendiri sadja bang?”

“Tidak!” kata bapak. “Kakakmu dan anak-anak ada diluar”.

Pak Masnis pergi keluar, lalu memberi salam kepada ibu dan anak-anak. Sudah itu dipersilakannja semuanja duduk diserambi muka.

“Sudah ada radio ? Lekas sungguh kamu kaja,” kata bapak.

“Kaja, kaja!” kata pak Masnis. “Radio tidak mahal. Asal djangan dibeli jang baru. Tjari saja jang sudah dipakai orang. f 50,- sudah bagus djuga. Radio ini harganja f75,-, tetapi masih agus. A, hari sudah hampir pukul 9. Tunggu sebentar lagi. Sebentar lagi ada siaran jang bagus dari Bandung.”

“Siaran apa, Pak?” tanja si Ahmad.

“Siaran musik,” kata pak Masnis.

“Disiarkan dari mana?” tanja si Abdul.

“Tunggu sadjalah,” kata pak masnis. “Nanti boleh kaudengar sendiri. Sekarang baiklah saja stel pada pemantjar Bandung.” Pukul 9 betul radio berbunji.

“Selamat pagi, Njinja-njonja dan Tuan-tuan pendengar jang terhormat. Disini Bandung dengan pemantjarnya jang bergelombang 58 m. Sebentar lagi perkumpulan musik “Penawar Hati” akan memperdengarkan lagu-lagu jang merdu sekali. Orkes ini dipimpin oleh Mister Kasep dan dibantu oleh Miss Aju, biduan muda jang masjhur. Lagu jang pertama diperengarkan jaitu “Bunga mawar dipinggir djalan. Mudah-mudahan Penawar Hati dapat menjelangkan hati Tuan-tuan dan Njonja-njonja.”

“Siapa nama pemimpin biduan orkes itu ?” tanja si Ahmad.

“Mister Kasep dan Miss Aju,” kata pak Masnis.

“Belum pernah saja dengar nama jang begitu,” kata si Ahmad.

“Tentu sadja,” kata pak Masnis, “sebab itu nama tjampuran. mister perkataan Inggeris; artinya Tuan; Kasep perkataan Sunda, artinja bagus. Djadi Mister Kasep dalam bahasa Indonesia : Tuan bagus, Miss, perkataan Inggeris djuga artinja nona; Aju perkataan Djawa, perkataan Indonesianya, jaitu : Tjantik.”

 

 

“Betul-betul tjantikkan nona itu, pak?” tanja si Abdul.

“Boleh kaulihat gambarnja,” kata pak Masnis, lalu bangkit, masuk kedalam. Sebentar kemudian ia kembali membawa madjallah “Suara Timur”. Katanja : “Dalam madjallah ini ada potret Miss Aju dan Mister Kasep. Lihatlah!”

Melihat potret itu si Abdul dan si Ahmad tertawa terkial-kial sebab Mister Kasep sudah beruban dan Miss AJu sudah pula tak muda lagi.

“Astaga!” katanja “Kalau namanja bukan main!”

“Tetapi dengarlah suara Miss Aju tiada ada duanja,” kata pak Masnis. :Dengarlah ! Pendeknja…”

Seketika itu djuga orkes “Penawar Hati” memperdengarkan musiknja. Bapak, ibu, paman dan anak-anak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Lebih-lebih ketika terdengaar suara Miss Aju.

Setengah djam lamanja “Penawar Hati” dan Miss Aju menghidangkan lagu jang bagus-bagus. Sesudah dimainkan lagu penutup terdengarlah suara :

“Tuan-tuan dan Njonja-njonja pendengar jang terhormat! Waktu untuk “Penawar Hati” habislah sudah. Lagu, jang diperdengarkan untuk penutup jaitu lagu “Selamat tinggal”.

“Paman!” kata si Ahmad. “Bagaimana paman dapat mengetahui bahwa pukul 9 ada siaran musik ?”

“Ini madjallah Suara Timur,” kata Paman. “Dalam madjallah ini dapat kaubatja : Hari Minggu pukul 9-9.30 : orkes “Penawar Hati” memperdengarkan lagu-lagu Indonesia. Pemimpin : Mister Kasep ; Biduan Miss Aju. Pukul 12.12.30 Tuan Cholil alias Menir Muda pelawak jang kenamaan meriangkan hati tuan. Pukul 14-14.30 …

 

 

“Pukul 14?” tanja si Ahmad dengan herannja. “Disekolah diadjarkan kepada kami tuma pukul 1 sampai 12.”

“Pukul 14 artinja pukul 2 siang,” kata paman. “14 – 12 + 2 kan? Pukul 7 malam disebut orang djuga pukul 19. Sudah begitu kebiasaan orang dipedjabatan radio. Djadi pukul 12 tengah malam disebutkan pukul 24 oleh pegawai radio.”

“Apa sebabnja pegawai radio memakai djam jang menjalahi kebiasaan itu ?” tanja si Ahmad.

“Sebab lebih terang,” kata paman. “Kalau kita katakan pukul 20, meskipun tidak dengan keterangan jang lain, orang mengerti, bahwa jangkita maksud pukul 8 malam. Tetapi pukul 8 harus diterangkan malam atau pagi; djadi terlalu pandjang. Mengatakan malam, pagi dan petang satu dua kali sadja tidak mengapa, tidak melelahkan atau mendjemukan. Tetapi pegawai radio dalam pekerdjaanja, berpuluh-puluh kali sehari harus mengatakan pukul berapa.”

“O, begitu,” kata si Ahmad. “tetapi jang belum terang bagi saja jaitu, mengapa dapat paman terka, siaran itu dari Bandung.”

“Itupun disebutkan dalam Suara Timur.” kata paman. “Teapi djika nama kota itu tak disebutkan, masih djuga diterka. Begini  : Kalau radio itu berbunji, dan djarumnja menundjuk angka 58, dengan pastidapat dikatakan bahwa siaran itu datangnja dari bandung, sebab diseluruh Indonesia tjuma satu pemantjar, jang bergelombang 58 m, jaitu pemantjar Bandung.”

Bapak, ibu dan anak-anak bertjakap-tjakap djuga dengan paman sambil mendengarkan musik radio.

 

 

 

Kutipan dari buku “Mertju” karangan Samoed-Zainu’ddin – J.B. Wolters Groningen – Djakarta – 1950

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s