Surat-Surat Johannes (1,2 dan 3 Johannes)

Penulis

Sebenarnya surat pertama Johannes ini tidak memberikan petunjuk apapun terhadap identitas penulisnya, satu-satunya petunjuk didapat dari surat kedua dan ketiga, dimana si penulis menyebut dirinya sebagai seorang “penatua”. Tradisi awal menyebutkan bahwa Johannes anak Zabedee sebagai penulis surat ini, tetapi klaim ini mendapat perlawanan keras dari banyak sarjana modern. Saat kita menyebutkan Johannes anak Zabedee, yang juga menurut pandangan tradisonal sebagai penulis Injil Johannes, turut menulis ketiga surat ini. Kita harus menghadapi beberapa permasalahan penting. Pertama-tama, tidak ada satupun penyebutan nama “Johannes” dalam surat ini, begitu pula dengan frase “murid yang terkasih”, frase favorit pada Injil Johannes. Penulis surat ini hanya menyebut dirinya sebagai seorang penatua atau pemimpin umat. Lalu darimana klaim kepenulisan Johannes atas ketiga surat ini berasal ? Klaim tersebut ternyata berasal dari beberapa Bapak Gereja Awal tidak kurang pada abad kedua. Riwayat mengenai identitas penulis surat diawali dari pengakuan Iranaeus, seorang murid Polycarp.

Surat 1 Johannes ditujukan untuk menghadang ajaran sesat yang akan memasuki Gereja. Sang penulis berbicara dengan gaya otoritatif, hampir seperti James, menandakan bahwa ia adalah orang yang sangat dikenal jemaatnya (penerima surat).  Sarjana konservatif tidak akan ragu-ragu untuk menisbahkan penulisan surat ini kepada Rasul Johannes, sedangkan sarjana liberal menyangkal pandangan tersebut, mereka menyoroti perbedaan gaya dan teologi yang terdapat antara surat ini dengan Injil Johannes yang diduga ditulis oleh orang yang sama. W. Wall Harris , Th.M., Ph.D. ,seorang pengisi artikel di Bible.org, memberikan daftar orang-orang yang memiliki kemungkinan sebagai penulis surat 1 Johannes ini disamping Rasul Johannes, mereka adalah Johannes “sang penatua”, murid-murid Johannes, atau seorang pemimpin dalam komunitas Johannine.

  1. Johannes “sang penatua” (John the Elder)

Orang ini tampil sebagai alternatif saat kepenulisan Rasul Johannes disangkal. Sejak ketiga surat Johannes diduga ditulis oleh orang yang sama, dan dalam kedua surat terakhir penulisnya mengaku sebagai seorang penatua, nama Johannes “sang penatua” mulai muncul. Berbagai riwayat Papias dan Eusebius tampak membedakan dirinya dengan  Rasul Johannes atau sang anak Zabedee.

Dengan asumsi penulis Injil dan surat-surat Johannes sebagai orang yang sama, nama Johannes “sang penatua” juga dapat dipertimbangkan. Dalam bab sebelumnya yang membahas khusus mengenai Injil Johannes dapat ditemukan berbagai kesulitan untuk dapat mengakui kepenulisan Rasul Johannes, dan kesimpulan akhirnya lebih cenderung kepada murid-murid Johannes.

  1. Pengikut Rasul Johannes

Sejak kemungkinan penulisan apostolik Injil Johannes disangkal dan petunjuk lebih cenderung kepada pengikut atau orang-orang dari di komunitas Johannes.  Adalah sangat mungkin apabila penulis surat ini adalah murid dari Rasul Johannes, mungkin di Efesus. Surat ini ditulis dalam bahasa Yunani dan mustahil apabila Rasul Johannes yang menulisnya, ia hanyalah anak seorang Zabedee yang berprofesi sebagai nelayan Galilea biasa. Waktu penulisan surat ini juga diduga tidak berlangsung lama setelah Injil Johannes ditulis, yaitu sekitar tahun 90-117 M.. Johannes pastilah berumur seratus tahun lebih saat menulis surat ini, dan akan lebih logis apabila baik Injil dan Surat Johannes ditulis oleh salah satu murid Johannes.

  1. Seorang pemimpin dalam komunitas Johannine

Telah disebutkan sebelumnya bahwa surat Johannes ini berbicara dalam gaya dan otoritatif, dan di pihak lain si penulis menyebut diriya sebagai penatua (presbyter), tidak sebagai Rasul ! Semua ini menunjukan wujud kekuasaan dari si penulis, walaupun dua surat terakhirnya tidak ditujukan kepada suatu jemaat, melainkan kepada seorang wanita dan teman. Ia dipastikan tidak berasal dari lingkungan apostolik karena tidak ada indikasi terhadap kesaksian kehidupan Jesus secara langsung, ia pastilah berasal dari lingkungan post-apotolik.

Siapapun penulisnya, ia pastilah bukan Rasul Johannes. Mengapa ia harus menutupi gelar “Rasul”-nya dan menggantinya dengan gelar Penatua, gelar yang lebih rendah dan hanya dikenal dalam Gereja-gereja Paulus. Bukankah Petrus dan James dalam suratnya secara tidak ragu-ragu mengakui kerasulannya ? Mengapa Johannes harus malu-malu dalam mengakui kerasulannya ? Dan mengapa ia tidak menyebut dirinya sebagai “murid yang terkasihi“ dalam surat ini ?

Johannine Comma (1 Johannes 5:7)

 

          Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. ( 1 Johannes 5:7-8 , versi Terjemahan Baru)

Ayat tersebut (yang berada dalam kurung) menjadi begitu penting sejak memuat dasar doktrin Trinitas di dalamnya. Tidak ada bagian lain dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang begitu jelasnya memuat konsep Trinitas selain pada bagian di atas. Adalah suatu fakta bahwa bagian tersebut ternyata dipastikan sebagai palsu, disusupkan oleh penulis tak dikenal ke dalam naskah Bible yang asli. Para sarjana mengenal bagian tersebut dengan istilah “Comma Johanneum” atau Johannine Comma. Ayat ini hanya muncul pada Bible versi King James yang terbit pada abad keenam belas, berbagai edisi dan versi Bible yang terbit setelahnya menghilangkan bagian tersebut, termasuk NIV, NASB, RSV, NRSV dan versi kesaksian Jehovah. Selama berabad-abad umat Kristen menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap Trinitas dan ternyata para sarjana mereka sendiri yang membuktikan kepalsuan ayat ini. Sejak ribuan naskah Yunani ditemukan, tidak ada satupun yang memuat ayat ini, termasuk naskah-naskah  Syria, Koptik, Armenia, Ethiopik, Arabik, dan Slavonik. Beberapa naskan Latin memasukannya, tetapi naskah Latin kuno yang dibuat oleh beberapa Bapak Gereja awal ternyata menghilangkanya, bahkan Jerome tidak memasukanya dalam latin Vulgate, naskah vulgate yang memuatnya hanyalah salinan dari naskah vulgate yang asli.

Comma tidak pernah bisa menghindar dari serangan para sarjana, bahkan sejak abad kedelapan belas, dimana Isaac Newton yang telah mempelajari naskah-naskah terdahulu menemukan bahwa, tidak ada satupun bapak Gereja Awal sebeum abad keempat yang pernah mengutip bagian penting tersebut. Menurut Newton, ayat ini pertama kali muncul pada edisi ketiga Perjanjian Baru (Textus Receptus) susunan Erasmus (1466-1536), sedangkan pada dua edisi sebelumnya ia tidak memasukan ayat tersebut. Saat Erasmus menerbitkan edisi Perjanjian Baru pertamanya yang menghilangkan Comma, kehebohan terjadi, ia diserang habis-habisan oleh Gereja dan umat Kristiani saat itu, sebelumnya ia memang berjanji akan menambahkan bagian ini, bila telah berhasil menemukan satu saja naskah Yunani yang memuatnya. Erasmus ternyata tidak dapat menemukan satupun naskah Yunani yang memuat Johannine Comma, dan akibat tekanan yang diterimanya ia beralih kepada latin vulgate yang memang memuat bagian tersebut, ia kemudian memasukan Comma ini pada edisi ketiga perjanjian barunya. Menurut Randall Duane Hughes dalam analisisnya terhadap Johannine Comma, Pemasukan Comma oleh Erasmus pada edisi ketiga Perjanjian Barunya sekitar tahun 1522 disebabkan oleh tekanan luar dan demi menjaga kredibilitasnya.

Anyone who uses a recent scholarly version of the NT will see that
these words on the Trinity are not in verse 7. This is because they
have no basis in the Greek text. Under Roman Catholic pressure, Erasmus inserted them from the Latin Vulgate. They are not a part of the
inspired Bible” (Word Meanings in the NT, Ralph Earle. P. 452)

Dari beberapa naskah yang memuat Johannine Comma, Ayat ini pertama kali muncul pada sekitar abad kesepuluh (codex 221), ditempatkan dalam margin yang terpisah dari naskah asli, menandakan bahwa bagian ini baru ditambahkan kemudian (bukan berarti ditulis bersamaan dengan bagian aslinya), dan tentunya bukan merupakan bagian dari naskah asli. Limaratus tahun kemudian, baru ayat ini muncul kembali pada naskah-naskah yang dibuat pada abad kelima belas, perlu diketahui bahwa naskah-naskah baru ini diproduksi paska Erasmus menerbitkan  edisi ketiga Perjanjian Barunya.   Bruce Metzger dalam karyanya, “The Text of the New Testament”, h.101 menggambarkan jejak penyusupan bagian ini sehingga dapat masuk ke dalam Textus Receptus, naskah awal Bible versi King James.

Manuscrip

Date

Posisi dalam naskah

MS 221

Abad kesepuluh

 Dalam margin (yang terpisah)

MS 635 atau 636?

Abad kesebelas

 Dalam margin, ditulis pada abad ketujuh belas

MS 88

Abad kedua belas

 Dalam Margin, ditambahkan pada jaman modern

MS 429

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam margin, ditambahkan pada abad-abad selanjutnya

MS 629

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam naskah

MS 61

Abad keenam belas

 Dalam naskah

MS 918

Abad keenam belas

Dalam naskah

MS 2318

Abad keenam belas

Dalam naskah

Bruce Metzger tampaknya sudah cukup jelas dalam menggambarkan jejak sejak kapan ayat ini bisa masuk ke dalam naskah Bible, ternyata ayat ini baru muncul pada sekitar abad kelima belas hingga keenam belas ! Seperti halnya dengan NIV Study Bible saat mengomentari bagian ini :

is not found in any Greek manuscript or New Testament translation prior to the 16th century.”

Secara singkat ada beberapa argumen yang diberikan Bruce Metzger beberapa sarjana lain dalam menguatkan pandangan bahwa ayat ini bukanlah bagian dari naskah aslisuratpertama Johannes :

  1. Johannine Comma tidak terdapat pada seluruh naskah berbahasa Yunani kecuali empat buah, yang kesemuanya merupakan terjemahan dari Vulgate . Empat manuskrip tersebut adalah ms. 61 (abad ke-16), ms. 88 (abad ke-18), dimana bagian ini terdapat pada margin yang terpisah dan ditulis pada abad-abad selanjutnya, ms. 629 (abad ke-14) dan ms.635 (abad ke-17), terdapat dalam margin.
  1. Bagian ini tidak pernah dikutip oleh bapak Gereja Yunani manapun, yang bila mereka benar-benar mengetahuinya, mereka akan menggunakanya untuk dalam perdebata masalah Trinitas (antara kaum Arian dan Sabellian). Pemunculan pertamanya dalam bahasa Yunani adalah pada “Acts of the Lateran Council”, catatan konsili Lateran yang merupakan terjemahan dari bahasa latin pada tahun 1215.
  1. Selain dihilangkan pada berbagai naskah Yunani, Comma juga dihilangkan dari berbagai naskah lainnya, terkecuali Latin. Dalam vulgate sendiri, bagian ini baru muncul pada salinan-salinan yang dibuat pada sekitar abad ketujuh masehi di daerah Spanyol. Tidak ada alasan yang kuat bagi penghilangan ayat ini pada naskah-naskah tersebut, andaikata bagian ini merupakan anggota dari naskah aslisurat Johannes.
  1. Konsep Bahwa Bapa, Firman dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan tidak terdapat pada karya-karya lain yang dianggap ditulis juga oleh Johannes. Satu-satunya ayat yang dianggap memiliki kesamaan dengan konsep di atas adalah Johannes 1:1-5, tetapi bila diperhatikan lebih jauh kedua konsep tersebut (Comma dan Johannes 1:1-5), tidak ada kesamaan di antara keduanya, Johannes 1:1-5 mungkin membicarakan “firman dan Tuhan”, tetapi tidak sedikitpun menyinggung “Bapa dan Roh Kudus”. Konsep Trinitas yang dikandung comma belum dikenal saatsurat ini ditulis (dengan asumsi Johannes yang menulisnya), konsep tersebut baru muncul pada abad ketiga dan keempat.

Pertanyaan mungkin muncul, bagaimana bisa Johannine Comma hanya dimuat oleh naskah versi Latin sementara dihilangkan oleh versi lainnya. Untuk menjawab persoalan ini, Bruce Metzger sebagaimana dengan Dr. Herbert W. Armstrong  mengajak kita kembali ke abad keempat.  Menurut kedua sarjana tersebut, ayat ini ditambahkan ke dalam latin Vulgate pada abad keempat, dengan tujuan tidak lain untuk menempatkan dalil Trinitas dalam Bible, hal ini begitu penting untuk dilakukan oleh penganut Trinitarian, atau mereka harus mengalah dalam perdebatan-perdebatan dengan kaum Arian yang menyangkal ketuhanan Trinitas. F. H. A. Scrivener dalam karyanya “A Plain Introduction to the Criticism of the New Testament”, h.165 menyebutkan :

We need not hesitate to declare our conviction that the disputed words were not written by St. John: that they were originally brought into Latin copies in Africa from the margin, where they had been placed as a pious and orthodox gloss on ver. 1Jo 5:8: that from the Latin they crept into two or three late Greek codices, and thence into the printed Greek text, a place to which they had no rightful claim.”

“Kita tidak boleh ragu dalam mengumumkan keyakinan kita bahwa bagian yang diperselisihkan tersebut bukanlah tulisan dari St. Johannes : bahwa bagian tersebut pada asalnya berada dalam margin pada salinan-salinan naskah latin di Afrika, mereka telah ditempatkan sebagai komentar othodox dan saleh diatas 1 Johannes 5:8: Melalui naskah Latin bagian tersebut bergerak ke dalam dua atau tiga naskah Yunani, dan kemudian masuk ke dalam naskah Yunani yang dicetak, sebuah tempat yang tidak dapat diklaim oleh mereka”.

Lalu kita akan menuju pertanyaan mendasar lain, bila benar bagian ini baru muncul pada abad keempat, siapakah orang yang menciptakannya ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan langsung menyoroti seorang tokoh heretis abad keempat bernama Prsicillian, yang juga merupakan seorang bapak Gereja latin. Ia diduga sebagai orang pertama yang menyebutkan Johannine Comma dalam karyanya “Liber apologeticus”, tetapi tidak ada bukti bahwa ia medasarkan penyataanya kepada naskah surat Johannes pertama.  Penyebutan-penyebutan berikutnya terdapat pada traktat-traktat yang digunakan untuk mempertahankan paham ortodoks Trinitas, perlu diingat bahwa pada masa itu paham Trinitas belum dapat diterima semua orang dan mendapat serangan dari paham Arian. Selanjutnya Comma digunakan oleh beberapa uskup Afrika Utara yang mendukung Trinitas. Naskah-naskah salinan Vulgate yang memuat interpolasi comma lama-kelamaan diakui sebagai kitab suci, Erasmus menggunakan naskah-naskah tersebut dan kemudian menjadi dasar bagi penyusunan Bible versi King James. Ada benang merah yang bsa kita dapat dari keterangan di atas, bahwa ternyata kemenangan paham Trinitas di kalangan umat Kristen didasarkan kepada ayat yang bukan merupakan anggota dari kitab sucinya, comma yang tadinya hanya merupakan penafsiran, tiba-tiba bisa memasuki naskah asli Bible.  Robert M. Grant menyetbukan :

To this mysterious but not theologically useful passage a Spanish
Pricillianist in the late fourth century added explicitly trinitarian
language so that it would mention three witnesses “on earth” and end
thus: “And there are three witnesses in heaven, the Father, the Word,
and the Spirit, and these three are one.” The addition is suitable in a
Johannine context, for it refers to the Logos as John does and is
ultimately based on “I and the Father are one” (John 10:30).
Unfortunately it is not genuine, since it appears in no old manuscript
or versions or in any early [church] fathers
” (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

“Mengenai bagian misterius tetapi tidak berguna secara teologi ini kaum Prisscilllian Spanyol pada akhir abad keempat menambahkan bahasa Trinitas secara eksplisit sehingga akan menyebutkan perihal tiga saksi “di dunia” dan sehingga akhirnya menjadi : “ dan ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga, yaitu Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” Penambahan ini cocok dengan konteks Johannine, untuk merujuk kepada Logos seperti yang pernah disebutkan oleh Johannes dan didasarkan pada “saya dan Bapa adalah satu” (John 10:30). Sayangnya bagian ini tidak asli, secara tidak ditemukanya pemunculan pada seluruh manuskrip kuno atau versi atau satu pun Bapak Gereja awal”  (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

Buku “The True Bible Code” memiliki pandangan tersendiri terhadap pencipta interpolasi “Johannine comma” ini, disana (h. 234) disebutkan :

The underlined part in the King James Version of 1 John 5:7 above is therefore a fraudulent addition to the Holy Scriptures by, well, satan basically

Umat Kristen secara umum tentunya akan mengalami posisi yang dilematis dalam menghadapi masalah ini. Seperti yang kita ketahui, Bible ternyata hanya memiliki sangat sedikit perujukan terhadap konsep Trinitas, pondasi utama bagi agama Kristen, dan ternyata salah satu perujukan terkuat bagi konsep tersebut disepakati sebagai palsu tidak lain oleh para sarjana di kalangan mereka sendiri. Bukan hanya itu saja masalah mereka, masalah ini membuktikan bahwa naskah Bible sangatlah rawan akan penyusupan atau interpolasi. Siapapun yang menyusupkan comma ke dalam naskah Johannes ini, ia tidak bisa disebut sebagai orang yang terinspirasi. Bila ia memang mendapatkan inspirasinya melalui “roh kudus”, mengapa ia harus memasukannya terhadap karya orang lain, mengapa ia tdak membuat satu suratatau kitab tersendiri yang terpisah ?

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s