Radio

Pada hari Minggu ibu, bapak, si Ahmad, si Abdul dan si Siti pergi dengan bis ke Djakarta. Sesampai distasiun bis Djakarta, lalu pergi dengan betja kekampung Pedjambon.

“Assalamualaikum!” kata bapak setiba dihadapan rumah pak Masnis, paman si Ahmad. Tetapi pak Masnis tidak mendengar, sebab sedang mendengarkan radio. Sebab itu bapak masuk sadja kedalam rumah itu. “Djangan marah pak Masnis, saja sekonjong-konjong masuk,” kata bapak sambil tertawa “Tadi saja sudah memberi salam, tap rupanya tidak kedengaran.”

“O, Abang!” kata pak Masnis. “Sendiri sadja bang?”

“Tidak!” kata bapak. “Kakakmu dan anak-anak ada diluar”.

Pak Masnis pergi keluar, lalu memberi salam kepada ibu dan anak-anak. Sudah itu dipersilakannja semuanja duduk diserambi muka.

“Sudah ada radio ? Lekas sungguh kamu kaja,” kata bapak.

“Kaja, kaja!” kata pak Masnis. “Radio tidak mahal. Asal djangan dibeli jang baru. Tjari saja jang sudah dipakai orang. f 50,- sudah bagus djuga. Radio ini harganja f75,-, tetapi masih agus. A, hari sudah hampir pukul 9. Tunggu sebentar lagi. Sebentar lagi ada siaran jang bagus dari Bandung.”

“Siaran apa, Pak?” tanja si Ahmad.

“Siaran musik,” kata pak Masnis.

“Disiarkan dari mana?” tanja si Abdul.

“Tunggu sadjalah,” kata pak masnis. “Nanti boleh kaudengar sendiri. Sekarang baiklah saja stel pada pemantjar Bandung.” Pukul 9 betul radio berbunji.

“Selamat pagi, Njinja-njonja dan Tuan-tuan pendengar jang terhormat. Disini Bandung dengan pemantjarnya jang bergelombang 58 m. Sebentar lagi perkumpulan musik “Penawar Hati” akan memperdengarkan lagu-lagu jang merdu sekali. Orkes ini dipimpin oleh Mister Kasep dan dibantu oleh Miss Aju, biduan muda jang masjhur. Lagu jang pertama diperengarkan jaitu “Bunga mawar dipinggir djalan. Mudah-mudahan Penawar Hati dapat menjelangkan hati Tuan-tuan dan Njonja-njonja.”

“Siapa nama pemimpin biduan orkes itu ?” tanja si Ahmad.

“Mister Kasep dan Miss Aju,” kata pak Masnis.

“Belum pernah saja dengar nama jang begitu,” kata si Ahmad.

“Tentu sadja,” kata pak Masnis, “sebab itu nama tjampuran. mister perkataan Inggeris; artinya Tuan; Kasep perkataan Sunda, artinja bagus. Djadi Mister Kasep dalam bahasa Indonesia : Tuan bagus, Miss, perkataan Inggeris djuga artinja nona; Aju perkataan Djawa, perkataan Indonesianya, jaitu : Tjantik.”

 

 

“Betul-betul tjantikkan nona itu, pak?” tanja si Abdul.

“Boleh kaulihat gambarnja,” kata pak Masnis, lalu bangkit, masuk kedalam. Sebentar kemudian ia kembali membawa madjallah “Suara Timur”. Katanja : “Dalam madjallah ini ada potret Miss Aju dan Mister Kasep. Lihatlah!”

Melihat potret itu si Abdul dan si Ahmad tertawa terkial-kial sebab Mister Kasep sudah beruban dan Miss AJu sudah pula tak muda lagi.

“Astaga!” katanja “Kalau namanja bukan main!”

“Tetapi dengarlah suara Miss Aju tiada ada duanja,” kata pak Masnis. :Dengarlah ! Pendeknja…”

Seketika itu djuga orkes “Penawar Hati” memperdengarkan musiknja. Bapak, ibu, paman dan anak-anak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Lebih-lebih ketika terdengaar suara Miss Aju.

Setengah djam lamanja “Penawar Hati” dan Miss Aju menghidangkan lagu jang bagus-bagus. Sesudah dimainkan lagu penutup terdengarlah suara :

“Tuan-tuan dan Njonja-njonja pendengar jang terhormat! Waktu untuk “Penawar Hati” habislah sudah. Lagu, jang diperdengarkan untuk penutup jaitu lagu “Selamat tinggal”.

“Paman!” kata si Ahmad. “Bagaimana paman dapat mengetahui bahwa pukul 9 ada siaran musik ?”

“Ini madjallah Suara Timur,” kata Paman. “Dalam madjallah ini dapat kaubatja : Hari Minggu pukul 9-9.30 : orkes “Penawar Hati” memperdengarkan lagu-lagu Indonesia. Pemimpin : Mister Kasep ; Biduan Miss Aju. Pukul 12.12.30 Tuan Cholil alias Menir Muda pelawak jang kenamaan meriangkan hati tuan. Pukul 14-14.30 …

 

 

“Pukul 14?” tanja si Ahmad dengan herannja. “Disekolah diadjarkan kepada kami tuma pukul 1 sampai 12.”

“Pukul 14 artinja pukul 2 siang,” kata paman. “14 – 12 + 2 kan? Pukul 7 malam disebut orang djuga pukul 19. Sudah begitu kebiasaan orang dipedjabatan radio. Djadi pukul 12 tengah malam disebutkan pukul 24 oleh pegawai radio.”

“Apa sebabnja pegawai radio memakai djam jang menjalahi kebiasaan itu ?” tanja si Ahmad.

“Sebab lebih terang,” kata paman. “Kalau kita katakan pukul 20, meskipun tidak dengan keterangan jang lain, orang mengerti, bahwa jangkita maksud pukul 8 malam. Tetapi pukul 8 harus diterangkan malam atau pagi; djadi terlalu pandjang. Mengatakan malam, pagi dan petang satu dua kali sadja tidak mengapa, tidak melelahkan atau mendjemukan. Tetapi pegawai radio dalam pekerdjaanja, berpuluh-puluh kali sehari harus mengatakan pukul berapa.”

“O, begitu,” kata si Ahmad. “tetapi jang belum terang bagi saja jaitu, mengapa dapat paman terka, siaran itu dari Bandung.”

“Itupun disebutkan dalam Suara Timur.” kata paman. “Teapi djika nama kota itu tak disebutkan, masih djuga diterka. Begini  : Kalau radio itu berbunji, dan djarumnja menundjuk angka 58, dengan pastidapat dikatakan bahwa siaran itu datangnja dari bandung, sebab diseluruh Indonesia tjuma satu pemantjar, jang bergelombang 58 m, jaitu pemantjar Bandung.”

Bapak, ibu dan anak-anak bertjakap-tjakap djuga dengan paman sambil mendengarkan musik radio.

 

 

 

Kutipan dari buku “Mertju” karangan Samoed-Zainu’ddin – J.B. Wolters Groningen – Djakarta – 1950

Advertisements

Surat Judas (Epistle of Jude)

SURAT JUDAS (JUDE)

 

 

Misteri Judas

 

          Siapakah sebenarnya sang Judas ini ? Mengapa karyanya bisa memasuki susunan kitab suci Perjanjian baru ? Apakah surat ini benar-benar merupakan karya seorang Judas ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul saat seseorang membaca surat Judas ini karena pada umat Kristen umumnya, hanya mengenal satu nama Judas, yaitu Judas Escariot sang pengkhianat. Ia adalah salah satu dari 12 murid Jesus yang terkenal. Sebaliknya pandangan tradisional memeluk anggapan bahwa penulis surat ini adalah Judas Thaddeus, ia merupakan saudara Jesus dan James (Jacobus) dari darah Jusuf. Penulis surat mengakui sendiri dalam pembukaan suratnya bahwa ia adalah saudara James (Jacobus), dan termasuk ke dalam salah satu pengikut Jesus. Dalam bahasa Inggris surat ini dinamai “The Epistle of Jude” , pemilihan kata “Jude” dilakukan untuk membedakan identitas penulisnya dengan sang Judas Escariot.

Kesulitan dalam menentukan identitas asli si penulis disebabkan oleh banyaknya pemilik nama Judas/Judah dalam Perjanjian Baru, kasus ini beberapa kali terjadi dalam Perjanjian Baru. Beberapa pemilik nama “Judas” tersebut adalah :

 

  • Judas anak James dan merupakan salah satu murid Jesus (Luke 6:16)
  • Judas Escariot, Rasul yang mengkhianati Jesus (Matius 10:4)
  • Judas dari Galilea, seorang pemberontak (Kis Ras 5:37)
  • Judas Barsabas, pendamping Paulus saat membawa keputusan konsili Jerusallem (Kis Ras 15:22, 27, 32)
  • Judas saudara Jesus, dikenal dengan nama lain  “Thaddeus” atau “Lebbaeus” (Matius 13:55)

 

Jika si penulis merupakan Judas saudara Jesus, mengapa dalam suratnya ia mengaku sebagai saudara James ? Bukankah  akan lebih efektif apabila ia menggunakan gelar “persaudaraanya” dengan Jesus dibandingkan dengan James. James sendiri dalam suratnya mengaku sebagai saudara Jesus (James 1:1). Permasalahan kedua, penggunaan bahasa Yunani halus yang digunakan penulis surat tampaknya menggambarkan pendidikan tinggi yang tidak dapat dikuasai oleh seorang anak tukang kayu biasa (James saudara Jesus/anak Jusuf). Kecuali apabila kita menggunakan penjelasan yang sama seperti saat menjelaskan kasus “James”. Sepertihalnya dengan James, Keterangan yang bisa didapat dari Bible mengenai Judas ini sangatlah sedikit, kecuali dalam beberapa bagian disebutkan bahwa mereka berdua tidak mempercayai keistimewaan Kristus hingga peristiwa kenaikan (John 7:5, Kis Ras 1:14).  Catatan kehidupan Judas pasca peristiwa kenaikan lebih simpang siur lagi. Menurut riwayat Nicephorus Callistus, Judas sempat mengajar di daerah Judea, Samaria, dan Mesopotamia, artinya ia tetap mengajar dalam kawasan Galilea, sesuai perintah Jesus untuk tidak menyebarkan ajarannya selain kepada “domba yang sesat” dari Israel (Mat 10:5-6). Menurut Callistus, Judas menghabiskan hidupnya dan berkeluarga di sana, ia memiliki dua cucu bernama Zoker dan James. Menurut riwayat beberapa penulis Syria, Judas sempat menjelajahi daerah Edessa, daerah Turki sekarang. Menurut satu keterangan Judas meninggal di daerah Berythus (Beirut),  sedangkan lainnya mengatakan ia martir  di daerah Suanis, kota Persia.

Melalui isi dan karakter surat dapat disimpulkan bahwa penulisnya memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap jemaatnya. Sepertihalnya dengan James, ia tidak menujukan suratnya kepada jamaat tertentu, tetapi kepada umat Yahudi-Kristen pada umumnya. Surat ini berisi peringatan terhadap ajaran-ajaran palsu yang berlawanan dengan ajaran Kristus. Kesamaan beberapa materi didalamnya terhadap surat dua Petrus adalah masalah tersendiri, perlu kehati-hatian untuk menjawab masalah tersebut.

 

Keotentikan

 

          Masalah keotentikan sangat berhubungan dengan waktu penulisan surat. Surat ini dapat dikatakan asli apabila ia ditulis sekitar sebelum tahun 100 M., karena Judas diduga wafat pada masa kekuasaan Dominitian atau Trajan. Penentuan waktu penulisan juga sangat dipengaruhi masalah keidentikan dengan surat 2 Petrus dan penggambaran ajaran sesat. Waktu penulisan terbagi atas tiga pendapat yang sama-sama memiliki bobot kemungkinan sekaligus konsekwensi tertentu :

 

  1. Masa-masa Apostolik

Pendapat ini dipegang oleh sarjana-sarjana konservatif. Menurut mereka, surat ini dipastikan ditulis sebelum tahun 70 M.. Hingga masa tersebut Gereja Jerrusalem masih memiliki otoritas yang cukup kuat, beberapa pengikut Jesus seperti James, Petrus, dan kemungkinan Judas masih aktif dalam mengelola Gereja dan mengirimkan surat-surat berisi himbauan kepada jemaat di daerah lain. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa surat ini ditulis setelah tahun 70 M., dengan asumsi Judas merupakan saudara terkecil Jesus dan memiliki umur yang cukup panjang. Ada kemungkinan besar bahwa Judas beserta murid Jesus lainnya sudah wafat setidaknya setelah terjadi tiga “pembantaian” yang dilakukan pemerintah Romawi, diawali oleh Nero, dilanjutkan oleh Dominitian dan Trajan pada sekitar tahun 100 M.. Oleh karena itu batas akhir penulisan surat ini oleh Judas adalah sekitar tahun 100 M., surat ini memiliki kemungkinan kecil ditulis diatas batas tersebut, kecuali apabila peulisnya bukanlah Judas.

Pertimbangan selanjutnya adalah saat membicarakan masalah keidentikan dengan surat Petrus kedua. Para sarjana telah memastikan bahwa salah satu penulisnya adalah penjiplak, entah penulis surat Petrus atau surat Judas. Dengan pengandaian surat Petrus ditulis setelah surat Judas, maka dapat dipastikan surat tersebut sebagai pseudograf. Petrus wafat sekitar tahun 65 M., sedangkan surat Judas ditulis bersamaan pada masa-masa tersebut, maka akan mustahil bagi Petrus untuk menulis surat keduanya dengan sumber surat Judas. Apabila kita tetap mempertahankan keotentikan surat 2 Petrus, maka surat Judas dipastikan ditulis sekitar tahun 50 M. atau lebih awal. Alasan penjiplakan oleh salah satu penulis tetap menjadi pertanyaan.

 

  1. Awal abad kedua

Pendapat ini didasarkan oleh  beberapa bukti internal yang menggambarkan bahwa surat ini ditulis masa pasca apostolik. Salah satu bukti tersebut terdapat dalam ayat ketiga dan ketujuh belas :

 

Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.(Jud 1:3)

 

Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. (Jud 1:17)

 

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan bahwa surat ini ditulis pada masa-masa dimana para Rasul telah wafat, dalam hal ini adalah pada abad kedua. Salah satu Rasul yang berumur panjang, Johannes diduga wafat pada akhir abad pertama sehingga surat ini kemungkinan ditulis pada awal abad kedua, entah oleh siapa. Mengapa Judas menulis kedua ayat tersebut bila surat ini ditulis pada masa apostolik ? Bukankah pada masa tersebut masih banyak pengikut Jesus yang tersisa. Kesimpulan akhir adalah penyangkalan kepenulisan Judas terhadap surat ini.

Bukti internal lain menggambarkan adanya perlawanan terhadap ajaran Gnostis yang berkembang pada abad kedua, walaupun tidak semua sarjana menyetujui argumen ini. Surat ini berisi ajakan untuk menjauhi ajaran sesat, tetapi si penulis tidak memberikan keterangan yang cukup terhadap jenis ajaran tersebut. Beberapa sarjana beranggapa bahwa ajaran tersebut adalah monasis (monisme), doketis, marcionis atau bahkan gnostis.  Masalah ini tidak terlalu mencuat, mengingat ajaran sesat telah berkembang bahkan beberapa waktu setelah Jesus disalib.

 

  1. Masa post apostolik dan sebelum abad kedua (80-100 M.)

Pendapat ini mungkin menjawab persoalan pemasukan ayat ketiga dan ketujuh belas. Dimana di kedua ayat tersebut digambarkan bahwa surat ini ditulis saat para Rasul telah wafat.  Tetapi ada beberapa kesulitan lain yang menghadang, Pertama pada masa tersebut beberapa Rasul diketahui masih hidup ! Bukankah Johannes masih hidup hingga abad kedua, pandangan tradisional beranggapan bahwa ia masih memproduksi karya-karya suci hingga abad kedua (Injil dan Kitab Wahyu). Kedua, surat Petrus kedua dapat dipastikan sebagai karya pseudograf, dengan kata lain palsu ! Bagaimana mungkin Petrus mengutip suatu surat yang baru ditulis dua puluh tahun setelah kematiannya ? Dan apabila surat Petrus lebih dulu muncul sebelum surat Judas, mengapa Judas harus menyalin kembali surat tersebut dengan menggunakan namanya. Perlu diingat bahwa keputusan kepenulisan surat ini oleh Judas tidak selalu didukung para sarjana, Origen, Eusebius dan Martin Luther bahkan menempatkan surat ini ke dalam kelompok antilegomena,  yang artinya keotentikannya masih diragukan atau bahkan ditolak.

Sumber Apokrip

 

          Diluar persoalan apakah Judas benar-benar menulis surat ini atau tidak, pengakuan surat ini sebagai bagian dari kitab suci menimbulkan masalah baru. Penulis surat Judas ternyata mengutip beberapa bagian dari beberapa kitab apokrip, kitab-kitab Yahudi yang disangkal keotentikannya. Kitab Apokrip yang digunakan Judas adalah Kitab Henokh) atau “Book of Henoch” dan kitab nubuat Musa atau “Apocalypse of Moses”. Pengutipan kitab Henokh terdapat pada ayat keempat belas hingga kelima belas :

 

Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan.” (Jud 1:14-15)

Kitab Henokh tidak pernah memasuki susunan kitab suci Bible. Kitab tersebut diduga kuat merupakan karya dari beberapa orang dan Henokh bukanlah salah satu dari orang tersebut, dengan kata lain psudograf. Menurut J.F. Kenyon, kitab Henokh ditulis pada masa pra-Kristen, bahkan pra-Makabee.  David Childress dalam bukunya “Technology of the Gods: The Incredible Sciences of the Ancients”  menyebutkan bahwa kitab Henokh ini pertama kali ditemukan di Abyssinia tahun 1773 oleh peneliti Skotlandia bernama James Bruce. Naskah tersebut kemudian diterjemahkan oleh Richard Laurence pada tahun 1821. Menurut James C. VanderKam dalam karyanya, “Henoch and the Growth of an Apocalyptic Tradition” halaman 110, menyebutkan bahwa ayat 14-15 tersebut dikutip dari kitab Henokh pertama 1:9.  

Kitab kedua yang digunakan penulis Judas adalah kitab nubuat Musa. Pengutipan tersebut terlihat dalam ayat kesembilan :

 

“Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: “Kiranya Tuhan menghardik engkau!” (Jud 1:9)

 

Parasarjana menyimpulkan pendapat tersebut setelah membaca keterangan-keterangan Bapak Gereja awal seperti Clement, Justin Martyr, Irenaeus, Origen, dan Didymus. Tidak diketahui secara pasti alasan Judas menggunakan kedua kitab apokrip tersebut sebagai  sumber penulisan. Tetapi apabila benar bahwasanya Judas adalah seseorang yang mendapatkan inspirasi Roh Kudus, ia pastilah menggunakan sumber yang jelas integritasnya. Judas telah memperlakukan dua kitab apokrip secara otoritatif, dan menjadi dosa umat Kristen untuk tidak memperlakukan kedua kitab tersebut dengan cara yang sama.

Identitas penulis dan waktu penulisan kitab Henokh dan nubuat Musa tidak pernah diketahui secara pasti, oleh karena itu nilai keotentikannya juga kecil. Tetapi begaimana dengan beberapa kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang memiliki nasib yang sama. Kitab Raja-raja Kitab Esther,  Kitab hakim-hakim merupakan sedikit dari berbagai kitab dalam Bible yang tidak pernah diketahui identitas penulisnya. Mengapa kitab-kitab tersebut mendapat perlakuan yang berbeda dengan kitab-kitab apokrip ? Sementara kitab-kitab  tersebut tidak pernah dijadikan kutipan oleh penulis Perjanjian baru manapun.

 

SadnessHealth : Manfaat salak bagi kesehatan

Apakah anda tau buah salak ? Tahukah anda kalau buah salak merupakan buah nasional kerajaan Salakanagara yang berarti negeri salak ? Terus terang saya juga gak tau soalnya tidak ada litelatur yang menguatkan pendapat tersebut.. Tapi kali ini berbeda dari posting2 sebelumnya, redaksi Sadnesssystem akan membahas mafaat salak bagi kesehatan, sebagai berikut :

1. Salak dapat mengurangi resiko kematian

Apabila anda adalah seorang pecinta alam yang tengah tersesat di kebun salak dan kesulitan untuk menemukan tanaman durian, kelapa atau nangka, jangan sungkan untuk memakan buah salak yang terdapat di sekitar anda. Dengan memakan buah salak tersebut, anda dapat mengurangi resiko kematian yang disebabkan oleh kelaparan. Selain banyak tersedia di kebun salak, makan salak juga lebih praktis dibandingkan dengan membuat bubur kacang hijau. Bayangkan apabila anda tengah tersesat di tengah hutan, tapi anda kekeuh ingin makan bubur kacang hijau. Untuk itu anda harus menanam tauge dulu, kemudian mencari pohon aren atau gula sebagai pemanis, serta pohon kelapa untuk dijadikan santan. Belum lagi proses pembuatannya yang membutuhkan peralatan yang tidak sedikit. Untuk itu intinya, makanlah salak selagi sempat !

2. Salak dapat mengurangi resiko penyakit jantung

Penelitian terbaru membuktikan bahwa orang yang lebih sering makan salak dibandingkan makan sate kambing memiliki resiko sakit jantung relatif lebih kecil. Selain itu, apabila anda memiliki kebun salak, alangkah lebih baiknya apabila menjual kebun tersebut dan menggunakan uang hasil penjualannya untuk mensuplai quaker oats untuk seumur hidup anda, dan jangan lupa juga olahraga dan ibadah, dijamin anda tidak akan mudah terserang penyakit jantung.

3. Salak mengandung vitamin S

Apabila apel mengandung vitamin A, Cabai mengandung vitamin C, maka Salak juga kaya akan vitamin S. Apa itu vitamin S ? Vitamin S adalah vitamin yang banyak dikandung oleh buah Salak…  Apa kegunaan Vitamin S ? Itulah yang masih diteliti oleh para sejarawan saat ini. Apakah Vitamin S itu ada berdasarkan sejarah atau hanya legenda semata sepertihalnya kerajaan Salakanagara. Perdebatan masih terjadi hingga saat ini, tapi ada gunanya anda tetap mengkonsumsi buah salak.

NB : Terakhir, apabila anda pikir posting ini tidak berguna dan garing, anda dapat menggunakan salak untuk menimpuk orang yang bikin blog ini…

Surat-Surat Johannes (1,2 dan 3 Johannes)

Penulis

Sebenarnya surat pertama Johannes ini tidak memberikan petunjuk apapun terhadap identitas penulisnya, satu-satunya petunjuk didapat dari surat kedua dan ketiga, dimana si penulis menyebut dirinya sebagai seorang “penatua”. Tradisi awal menyebutkan bahwa Johannes anak Zabedee sebagai penulis surat ini, tetapi klaim ini mendapat perlawanan keras dari banyak sarjana modern. Saat kita menyebutkan Johannes anak Zabedee, yang juga menurut pandangan tradisonal sebagai penulis Injil Johannes, turut menulis ketiga surat ini. Kita harus menghadapi beberapa permasalahan penting. Pertama-tama, tidak ada satupun penyebutan nama “Johannes” dalam surat ini, begitu pula dengan frase “murid yang terkasih”, frase favorit pada Injil Johannes. Penulis surat ini hanya menyebut dirinya sebagai seorang penatua atau pemimpin umat. Lalu darimana klaim kepenulisan Johannes atas ketiga surat ini berasal ? Klaim tersebut ternyata berasal dari beberapa Bapak Gereja Awal tidak kurang pada abad kedua. Riwayat mengenai identitas penulis surat diawali dari pengakuan Iranaeus, seorang murid Polycarp.

Surat 1 Johannes ditujukan untuk menghadang ajaran sesat yang akan memasuki Gereja. Sang penulis berbicara dengan gaya otoritatif, hampir seperti James, menandakan bahwa ia adalah orang yang sangat dikenal jemaatnya (penerima surat).  Sarjana konservatif tidak akan ragu-ragu untuk menisbahkan penulisan surat ini kepada Rasul Johannes, sedangkan sarjana liberal menyangkal pandangan tersebut, mereka menyoroti perbedaan gaya dan teologi yang terdapat antara surat ini dengan Injil Johannes yang diduga ditulis oleh orang yang sama. W. Wall Harris , Th.M., Ph.D. ,seorang pengisi artikel di Bible.org, memberikan daftar orang-orang yang memiliki kemungkinan sebagai penulis surat 1 Johannes ini disamping Rasul Johannes, mereka adalah Johannes “sang penatua”, murid-murid Johannes, atau seorang pemimpin dalam komunitas Johannine.

  1. Johannes “sang penatua” (John the Elder)

Orang ini tampil sebagai alternatif saat kepenulisan Rasul Johannes disangkal. Sejak ketiga surat Johannes diduga ditulis oleh orang yang sama, dan dalam kedua surat terakhir penulisnya mengaku sebagai seorang penatua, nama Johannes “sang penatua” mulai muncul. Berbagai riwayat Papias dan Eusebius tampak membedakan dirinya dengan  Rasul Johannes atau sang anak Zabedee.

Dengan asumsi penulis Injil dan surat-surat Johannes sebagai orang yang sama, nama Johannes “sang penatua” juga dapat dipertimbangkan. Dalam bab sebelumnya yang membahas khusus mengenai Injil Johannes dapat ditemukan berbagai kesulitan untuk dapat mengakui kepenulisan Rasul Johannes, dan kesimpulan akhirnya lebih cenderung kepada murid-murid Johannes.

  1. Pengikut Rasul Johannes

Sejak kemungkinan penulisan apostolik Injil Johannes disangkal dan petunjuk lebih cenderung kepada pengikut atau orang-orang dari di komunitas Johannes.  Adalah sangat mungkin apabila penulis surat ini adalah murid dari Rasul Johannes, mungkin di Efesus. Surat ini ditulis dalam bahasa Yunani dan mustahil apabila Rasul Johannes yang menulisnya, ia hanyalah anak seorang Zabedee yang berprofesi sebagai nelayan Galilea biasa. Waktu penulisan surat ini juga diduga tidak berlangsung lama setelah Injil Johannes ditulis, yaitu sekitar tahun 90-117 M.. Johannes pastilah berumur seratus tahun lebih saat menulis surat ini, dan akan lebih logis apabila baik Injil dan Surat Johannes ditulis oleh salah satu murid Johannes.

  1. Seorang pemimpin dalam komunitas Johannine

Telah disebutkan sebelumnya bahwa surat Johannes ini berbicara dalam gaya dan otoritatif, dan di pihak lain si penulis menyebut diriya sebagai penatua (presbyter), tidak sebagai Rasul ! Semua ini menunjukan wujud kekuasaan dari si penulis, walaupun dua surat terakhirnya tidak ditujukan kepada suatu jemaat, melainkan kepada seorang wanita dan teman. Ia dipastikan tidak berasal dari lingkungan apostolik karena tidak ada indikasi terhadap kesaksian kehidupan Jesus secara langsung, ia pastilah berasal dari lingkungan post-apotolik.

Siapapun penulisnya, ia pastilah bukan Rasul Johannes. Mengapa ia harus menutupi gelar “Rasul”-nya dan menggantinya dengan gelar Penatua, gelar yang lebih rendah dan hanya dikenal dalam Gereja-gereja Paulus. Bukankah Petrus dan James dalam suratnya secara tidak ragu-ragu mengakui kerasulannya ? Mengapa Johannes harus malu-malu dalam mengakui kerasulannya ? Dan mengapa ia tidak menyebut dirinya sebagai “murid yang terkasihi“ dalam surat ini ?

Johannine Comma (1 Johannes 5:7)

 

          Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. ( 1 Johannes 5:7-8 , versi Terjemahan Baru)

Ayat tersebut (yang berada dalam kurung) menjadi begitu penting sejak memuat dasar doktrin Trinitas di dalamnya. Tidak ada bagian lain dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang begitu jelasnya memuat konsep Trinitas selain pada bagian di atas. Adalah suatu fakta bahwa bagian tersebut ternyata dipastikan sebagai palsu, disusupkan oleh penulis tak dikenal ke dalam naskah Bible yang asli. Para sarjana mengenal bagian tersebut dengan istilah “Comma Johanneum” atau Johannine Comma. Ayat ini hanya muncul pada Bible versi King James yang terbit pada abad keenam belas, berbagai edisi dan versi Bible yang terbit setelahnya menghilangkan bagian tersebut, termasuk NIV, NASB, RSV, NRSV dan versi kesaksian Jehovah. Selama berabad-abad umat Kristen menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap Trinitas dan ternyata para sarjana mereka sendiri yang membuktikan kepalsuan ayat ini. Sejak ribuan naskah Yunani ditemukan, tidak ada satupun yang memuat ayat ini, termasuk naskah-naskah  Syria, Koptik, Armenia, Ethiopik, Arabik, dan Slavonik. Beberapa naskan Latin memasukannya, tetapi naskah Latin kuno yang dibuat oleh beberapa Bapak Gereja awal ternyata menghilangkanya, bahkan Jerome tidak memasukanya dalam latin Vulgate, naskah vulgate yang memuatnya hanyalah salinan dari naskah vulgate yang asli.

Comma tidak pernah bisa menghindar dari serangan para sarjana, bahkan sejak abad kedelapan belas, dimana Isaac Newton yang telah mempelajari naskah-naskah terdahulu menemukan bahwa, tidak ada satupun bapak Gereja Awal sebeum abad keempat yang pernah mengutip bagian penting tersebut. Menurut Newton, ayat ini pertama kali muncul pada edisi ketiga Perjanjian Baru (Textus Receptus) susunan Erasmus (1466-1536), sedangkan pada dua edisi sebelumnya ia tidak memasukan ayat tersebut. Saat Erasmus menerbitkan edisi Perjanjian Baru pertamanya yang menghilangkan Comma, kehebohan terjadi, ia diserang habis-habisan oleh Gereja dan umat Kristiani saat itu, sebelumnya ia memang berjanji akan menambahkan bagian ini, bila telah berhasil menemukan satu saja naskah Yunani yang memuatnya. Erasmus ternyata tidak dapat menemukan satupun naskah Yunani yang memuat Johannine Comma, dan akibat tekanan yang diterimanya ia beralih kepada latin vulgate yang memang memuat bagian tersebut, ia kemudian memasukan Comma ini pada edisi ketiga perjanjian barunya. Menurut Randall Duane Hughes dalam analisisnya terhadap Johannine Comma, Pemasukan Comma oleh Erasmus pada edisi ketiga Perjanjian Barunya sekitar tahun 1522 disebabkan oleh tekanan luar dan demi menjaga kredibilitasnya.

Anyone who uses a recent scholarly version of the NT will see that
these words on the Trinity are not in verse 7. This is because they
have no basis in the Greek text. Under Roman Catholic pressure, Erasmus inserted them from the Latin Vulgate. They are not a part of the
inspired Bible” (Word Meanings in the NT, Ralph Earle. P. 452)

Dari beberapa naskah yang memuat Johannine Comma, Ayat ini pertama kali muncul pada sekitar abad kesepuluh (codex 221), ditempatkan dalam margin yang terpisah dari naskah asli, menandakan bahwa bagian ini baru ditambahkan kemudian (bukan berarti ditulis bersamaan dengan bagian aslinya), dan tentunya bukan merupakan bagian dari naskah asli. Limaratus tahun kemudian, baru ayat ini muncul kembali pada naskah-naskah yang dibuat pada abad kelima belas, perlu diketahui bahwa naskah-naskah baru ini diproduksi paska Erasmus menerbitkan  edisi ketiga Perjanjian Barunya.   Bruce Metzger dalam karyanya, “The Text of the New Testament”, h.101 menggambarkan jejak penyusupan bagian ini sehingga dapat masuk ke dalam Textus Receptus, naskah awal Bible versi King James.

Manuscrip

Date

Posisi dalam naskah

MS 221

Abad kesepuluh

 Dalam margin (yang terpisah)

MS 635 atau 636?

Abad kesebelas

 Dalam margin, ditulis pada abad ketujuh belas

MS 88

Abad kedua belas

 Dalam Margin, ditambahkan pada jaman modern

MS 429

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam margin, ditambahkan pada abad-abad selanjutnya

MS 629

Abad keempat belas ataulimabelas

 Dalam naskah

MS 61

Abad keenam belas

 Dalam naskah

MS 918

Abad keenam belas

Dalam naskah

MS 2318

Abad keenam belas

Dalam naskah

Bruce Metzger tampaknya sudah cukup jelas dalam menggambarkan jejak sejak kapan ayat ini bisa masuk ke dalam naskah Bible, ternyata ayat ini baru muncul pada sekitar abad kelima belas hingga keenam belas ! Seperti halnya dengan NIV Study Bible saat mengomentari bagian ini :

is not found in any Greek manuscript or New Testament translation prior to the 16th century.”

Secara singkat ada beberapa argumen yang diberikan Bruce Metzger beberapa sarjana lain dalam menguatkan pandangan bahwa ayat ini bukanlah bagian dari naskah aslisuratpertama Johannes :

  1. Johannine Comma tidak terdapat pada seluruh naskah berbahasa Yunani kecuali empat buah, yang kesemuanya merupakan terjemahan dari Vulgate . Empat manuskrip tersebut adalah ms. 61 (abad ke-16), ms. 88 (abad ke-18), dimana bagian ini terdapat pada margin yang terpisah dan ditulis pada abad-abad selanjutnya, ms. 629 (abad ke-14) dan ms.635 (abad ke-17), terdapat dalam margin.
  1. Bagian ini tidak pernah dikutip oleh bapak Gereja Yunani manapun, yang bila mereka benar-benar mengetahuinya, mereka akan menggunakanya untuk dalam perdebata masalah Trinitas (antara kaum Arian dan Sabellian). Pemunculan pertamanya dalam bahasa Yunani adalah pada “Acts of the Lateran Council”, catatan konsili Lateran yang merupakan terjemahan dari bahasa latin pada tahun 1215.
  1. Selain dihilangkan pada berbagai naskah Yunani, Comma juga dihilangkan dari berbagai naskah lainnya, terkecuali Latin. Dalam vulgate sendiri, bagian ini baru muncul pada salinan-salinan yang dibuat pada sekitar abad ketujuh masehi di daerah Spanyol. Tidak ada alasan yang kuat bagi penghilangan ayat ini pada naskah-naskah tersebut, andaikata bagian ini merupakan anggota dari naskah aslisurat Johannes.
  1. Konsep Bahwa Bapa, Firman dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan tidak terdapat pada karya-karya lain yang dianggap ditulis juga oleh Johannes. Satu-satunya ayat yang dianggap memiliki kesamaan dengan konsep di atas adalah Johannes 1:1-5, tetapi bila diperhatikan lebih jauh kedua konsep tersebut (Comma dan Johannes 1:1-5), tidak ada kesamaan di antara keduanya, Johannes 1:1-5 mungkin membicarakan “firman dan Tuhan”, tetapi tidak sedikitpun menyinggung “Bapa dan Roh Kudus”. Konsep Trinitas yang dikandung comma belum dikenal saatsurat ini ditulis (dengan asumsi Johannes yang menulisnya), konsep tersebut baru muncul pada abad ketiga dan keempat.

Pertanyaan mungkin muncul, bagaimana bisa Johannine Comma hanya dimuat oleh naskah versi Latin sementara dihilangkan oleh versi lainnya. Untuk menjawab persoalan ini, Bruce Metzger sebagaimana dengan Dr. Herbert W. Armstrong  mengajak kita kembali ke abad keempat.  Menurut kedua sarjana tersebut, ayat ini ditambahkan ke dalam latin Vulgate pada abad keempat, dengan tujuan tidak lain untuk menempatkan dalil Trinitas dalam Bible, hal ini begitu penting untuk dilakukan oleh penganut Trinitarian, atau mereka harus mengalah dalam perdebatan-perdebatan dengan kaum Arian yang menyangkal ketuhanan Trinitas. F. H. A. Scrivener dalam karyanya “A Plain Introduction to the Criticism of the New Testament”, h.165 menyebutkan :

We need not hesitate to declare our conviction that the disputed words were not written by St. John: that they were originally brought into Latin copies in Africa from the margin, where they had been placed as a pious and orthodox gloss on ver. 1Jo 5:8: that from the Latin they crept into two or three late Greek codices, and thence into the printed Greek text, a place to which they had no rightful claim.”

“Kita tidak boleh ragu dalam mengumumkan keyakinan kita bahwa bagian yang diperselisihkan tersebut bukanlah tulisan dari St. Johannes : bahwa bagian tersebut pada asalnya berada dalam margin pada salinan-salinan naskah latin di Afrika, mereka telah ditempatkan sebagai komentar othodox dan saleh diatas 1 Johannes 5:8: Melalui naskah Latin bagian tersebut bergerak ke dalam dua atau tiga naskah Yunani, dan kemudian masuk ke dalam naskah Yunani yang dicetak, sebuah tempat yang tidak dapat diklaim oleh mereka”.

Lalu kita akan menuju pertanyaan mendasar lain, bila benar bagian ini baru muncul pada abad keempat, siapakah orang yang menciptakannya ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan langsung menyoroti seorang tokoh heretis abad keempat bernama Prsicillian, yang juga merupakan seorang bapak Gereja latin. Ia diduga sebagai orang pertama yang menyebutkan Johannine Comma dalam karyanya “Liber apologeticus”, tetapi tidak ada bukti bahwa ia medasarkan penyataanya kepada naskah surat Johannes pertama.  Penyebutan-penyebutan berikutnya terdapat pada traktat-traktat yang digunakan untuk mempertahankan paham ortodoks Trinitas, perlu diingat bahwa pada masa itu paham Trinitas belum dapat diterima semua orang dan mendapat serangan dari paham Arian. Selanjutnya Comma digunakan oleh beberapa uskup Afrika Utara yang mendukung Trinitas. Naskah-naskah salinan Vulgate yang memuat interpolasi comma lama-kelamaan diakui sebagai kitab suci, Erasmus menggunakan naskah-naskah tersebut dan kemudian menjadi dasar bagi penyusunan Bible versi King James. Ada benang merah yang bsa kita dapat dari keterangan di atas, bahwa ternyata kemenangan paham Trinitas di kalangan umat Kristen didasarkan kepada ayat yang bukan merupakan anggota dari kitab sucinya, comma yang tadinya hanya merupakan penafsiran, tiba-tiba bisa memasuki naskah asli Bible.  Robert M. Grant menyetbukan :

To this mysterious but not theologically useful passage a Spanish
Pricillianist in the late fourth century added explicitly trinitarian
language so that it would mention three witnesses “on earth” and end
thus: “And there are three witnesses in heaven, the Father, the Word,
and the Spirit, and these three are one.” The addition is suitable in a
Johannine context, for it refers to the Logos as John does and is
ultimately based on “I and the Father are one” (John 10:30).
Unfortunately it is not genuine, since it appears in no old manuscript
or versions or in any early [church] fathers
” (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

“Mengenai bagian misterius tetapi tidak berguna secara teologi ini kaum Prisscilllian Spanyol pada akhir abad keempat menambahkan bahasa Trinitas secara eksplisit sehingga akan menyebutkan perihal tiga saksi “di dunia” dan sehingga akhirnya menjadi : “ dan ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga, yaitu Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” Penambahan ini cocok dengan konteks Johannine, untuk merujuk kepada Logos seperti yang pernah disebutkan oleh Johannes dan didasarkan pada “saya dan Bapa adalah satu” (John 10:30). Sayangnya bagian ini tidak asli, secara tidak ditemukanya pemunculan pada seluruh manuskrip kuno atau versi atau satu pun Bapak Gereja awal”  (Gods and the One God,
Robert M. Grant. h. 151).

Buku “The True Bible Code” memiliki pandangan tersendiri terhadap pencipta interpolasi “Johannine comma” ini, disana (h. 234) disebutkan :

The underlined part in the King James Version of 1 John 5:7 above is therefore a fraudulent addition to the Holy Scriptures by, well, satan basically

Umat Kristen secara umum tentunya akan mengalami posisi yang dilematis dalam menghadapi masalah ini. Seperti yang kita ketahui, Bible ternyata hanya memiliki sangat sedikit perujukan terhadap konsep Trinitas, pondasi utama bagi agama Kristen, dan ternyata salah satu perujukan terkuat bagi konsep tersebut disepakati sebagai palsu tidak lain oleh para sarjana di kalangan mereka sendiri. Bukan hanya itu saja masalah mereka, masalah ini membuktikan bahwa naskah Bible sangatlah rawan akan penyusupan atau interpolasi. Siapapun yang menyusupkan comma ke dalam naskah Johannes ini, ia tidak bisa disebut sebagai orang yang terinspirasi. Bila ia memang mendapatkan inspirasinya melalui “roh kudus”, mengapa ia harus memasukannya terhadap karya orang lain, mengapa ia tdak membuat satu suratatau kitab tersendiri yang terpisah ?

Asmara di bulan Juli

…berat…

“Harus berapa lama lagi ku harus menunggumu berfikir ?…

Semua waktu yang terbuang itu harus berakhir dengan kebiruan

Kau telah melakukan yang terbaik, ku yakin,,,

Tapi kau terus mengecewakanku…

Kau terus meminta waktu,

Tapi waktuku tidak banyak,,,

Apakah salahku karena ku tidak layak merawatmu ?

Demi Tuhan,

Andai ku punya daya,

Harus kurelakan dirimu untuk pergi,,,

…Komputer GuobbllooG !!!…

 

Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser

Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser

 Kalimat tersebut termaktub dalam bagian terakhir karya Rabin Hardjadibrata yang berjudul “Dipati Ukur, Was it the Week that Ushered 350 Years of Dutch Rule”. Tokoh Dipati Ukur memang merupakan seseorang yang misterius dan telah menjadi diskusi selama ratusan tahun. Ada yang menganggapnya pahlawan, ada yang menganggapnya pemberontak yang gagal, ada pula yang melihatnya sebagai sekadar tokoh figuran dalam sejarah. Tapi yang pasti, di luar segala penilaian tersebut, dengan mengenali sejarah tokoh Dipati Ukur, ada banyak hal yang bisa dipelajari.

Di abad-16, seluruh daerah Pasundan berada di bawah kekuasaan Mataram. Berdasarkan babad Limbangan, pangeran Sumedang Arya Suriadiwangsa (Kusumadinata) sengaja mendatangi Sultan Mataram (susuhunan) untuk mengabdikan diri kepada Mataram (serah bongkokan) tahun 1620 M. Susununan kemudian menjadikannya sebagai Bupati-Wedana seluruh tanah Pasundan.  Sejak saat itu, tanah pasundan dinamakan “Praiangan” (pemberian) sehingga dikenal di kemudian hari sebagai Priangan. Pangeran Arya Suriadiwangsa pun mendapat gelar baru dari susuhunan, tidak lain adalah “Rangga Gempol”.

West java

Mengenai Dipati Ukur sendiri, identitasnya tidak jelas. Tapi pastinya ia adalah Dipati / Bupati dari daerah Tatar Ukur, sekarang kabupaten Bandung dan beribukota di daerah Pabuntelan. RD. Asikin menyebutkan bahwa Sosok Dipati Ukur bukanlah berasal dari tanah Pasundan melainkan seorang bernama Dipati Wangsanata yang berasal dari Jambu karang, Purbalingga (Banyumas).

Tahun 1625, Rangga Gempol dan Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Mataram untuk menyerang Pamekasan/Sampang. Serangan ini gagal dilaksanakan sehingga kedua pimpinan itu kembali ke Mataram dan terancam hukuman dari Susuhunan Mataram. Sultan yang murka menghukum mati sang Pangeran Sumedang dengan memancung kepalanya. Konon buktinya saat ini makam sang Pangeran Sumedang bisa kita temukan di dua tempat, yaitu di daerah Lempuyangan Jogjakarta dan Jalan Karasak (kotabaru). Satu makam menyimpan kepalanya, dan satu makam lainnya menyimpan tubuhnya.

Sumber lain memuat cerita berbeda, menurut penuturan R.D. Asikin, Pangeran Rangga Gempol dan Dipati Ukur ternyata berhasil menaklukkan Sampang walau dengan jalan perdamaian. Dan untuk mengungkapkan kegembiraan atas kemenangan tersebut, terdengarlah oleh Dipati Ukur bahwa Pangeran Rangga Gempol sempat mengucapkan kalimat sebagai berikut ,

Entong boro Sampang, najan Mataram oge Raji sanggup nalukkeun jero sabedug” (Jangankan Sampang, Mataram pun bisa kutaklukkan).

Walau diucapkan sebagai bentuk lelucon, Dipati Ukur melaporkan ucapan ini ke Sultan Mataram sehingga keluarlah murkanya. Ia menghukum pancung sang Pangeran Rangga Gempol.

Entah mana versi yang benar,  namun berdasarkan versi cerita pertama, Dipati Ukur menolak hukuman mati dan meminta kesempatan memimpin pasukan untuk menyerang Batavia, dengan kepalanya sebagai taruhannya.

Nyuhunkeun hampura jeng Gusti. Abdi anggur maju perang, ngarempug tanah Betawi, manawa aya idin, Jaketra arek digempur”  Ujar Dipati Ukur 

   “Sukur maneh sanggup jurit, pibatureun bopati sabeulah girang” Jawab Sultan Agung.

Sang Sultan menyambut tawaran tersebut dan kemudian mengangkat Dipati Ukur sebagai penguasa sekalian kawasan Priangan (Umbul 44) dan memerintahkannya bersama pasukan Mataram yang dipimpin Tumenggung Bahureksa (Dari Kendal) untuk menyerang Batavia.

The Siege of Batavia

Dalam rencana penyerangan Batavia, Dipati Ukur memimpin 10.000 pasukan dari tanah Pasundan dan transit di Karawang untuk bergabung dengan pasukan Mataram pimpinan Bahureksa.  Namun setelah selama kurang lebih seminggu menunggu, pasukan Mataram tidak juga tiba. Dipati Ukur kemudian memutuskan untuk menyerang Batavia dengan kekuatan seadanya. Penyerangan Batavia yang dilakukan oleh Dipati Ukur berbuah kegagalan. Pasukan Bahureksa yang  tiba di Karawang dan menemukan bahwa pasukan Dipati Ukur telah berangkat tanpa sepengetahuannya kemudian memutuskan pula untuk menyerang Batavia. Usaha penyerangan kedua ini juga gagal karena VOC telah keburu mempersiapkan diri.

Bahureksa yang kecewa kemudian melaporkan kepada Susuhunan Mataram bahwa penyebab dari segala kegagalan ini adalah karena Dipati Ukur yang menyerang Batavia tanpa menunggu tambahan pasukan pimpinan dirinya. Sultan Agung (Susuhunan Mataram) kemudian memerintahkan hukuman mati pada Dipati Ukur akibat kegagalan penyerangan Batavia itu.

Dipati Ukur sebenarnya sudah mengetahui konsekwensi akibat kegagalan serangannya tersebut. Daripada menghadap Mataram dan mati di tangan Sultan, Dipati Ukur memutuskan untuk menghimpun kekuatan guna memisahkan diri dari kekuasaan sang  Susuhunan.

Mun aing ngasih kawula, tangtu aing meunang nyeri, kadangkala dipaehan. Anggur urang mapag baris. Sabalad-baladna kami, urang pindah ka gunung, nyarieun benteng di dinya…”

 Dipati Ukur mengajak pimpinan-pimpinan Sunda (Umbul) untuk ikut bersama dengannya membangun pertahanan di Gunung Lumbung. Namun ajakan ini ditolak oleh beberapa pimpinan lokal : Ngabehi Wirawangsa (Sukakerta), Ngabehi Samahita (Sindangkasih), Ngabehi Astramanggala (Sindangkasih) dan Uyang Sarana (Indihiang). Keempat umbul ini kemudian melaporkan tindakan Dipati Ukur kepada Sultan Agung. Sebagai ungkapan terima kasih atas laporan tersebut, Sultan Agung mengampuni mereka.

Sultan Mataram kemudian mengirim pasukan dipimpin Narapaksa untuk menghancurkan pasukan Dipati Ukur. Berdasarkan catatan Belanda. Sekitar 100.000 pasukan dikerahkan untuk meratakan tanah Ukur dan Sumedang. Banyak dari penduduk Ukur ini yang mengungsi ke Banten dan Batavia. Pasukan Dipati Ukur yang bertahan di Gunung Lumbung berhasil menahan serangan pertama dari pasukan Mataram. Sultan Agung kemudian mendapatkan informasi bahwa Dipati Ukur hanya dapat dikalahkan oelh pasukan yang berasal dari tanah Pasundan, oleh karena itu dalam serangan kedua, beliau menyertakan pasukan pimpinan Bagus Sutapura dari Galuh dan serangan ini mampu mematahkan pertahanan Dipati Ukur.

Dipati Ukur berhasil ditawan dan dihukum mati di Mataram. Daerah kekuasaan Dipati Ukur kemudian dibagi kepada tida umbul yang tidak ikut berontak : Ngabehi Astamanggala menjadi Tumenggung Wiraangun-angun, Ngabehi Samanhita menjadi Tumenggung Tanubaya. Ngabehi Wirawangsa menjadi Tumenggung Wiradadaha. Masing-masing mereka menjadi Bupati daerah Bandung, Sukapura dan Parakanmuncang. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa daerah Bandung (kabupaten) merupakan hadiah atas usaha mengalahkan Dipati Ukur.

Sultan Agung

Berdasarkan riwayat, hukuman yang diterima Dipati Ukur dan pengikutnya cukup keji dalam ukuran modern, yaitu Dipenggal leher, dimutilasi, dibakar, direbus dalam air, dipicis, dan ditumbuk. Para tawanan wanita ditenggelamkan sampai mati. Entah di mana Dipati Ukur dimakamkan, namun hingga sekarang kita dapat menemukan beberapa lokasi makam Dipati Ukur : Astana Luhur (Pameungpeuk), Puncak Gunung Geulis (Ciparay), Tepi Citarum (Desa Manggahang), Gunung Sadu (Soreang), kampung Cikatul/Pabuntelan (Pacet), Astana Handap (Banjaran), Gunung Tikukur (desa Manggahang) dan Pasir Luhur (Ujungberung utara).

Sebenarnya ada beberapa versi mengenai kisah Dipati Ukur yang lengkapnya dapat dibaca dalam karya Dr. Edi S. Ekadjati “Ceritera Dipati Ukur”. Hampir mustahil untuk memastikan versi mana yang paling benar karena setiap versi disusun berdasarkan Babad yang nilai subjektifitasnya tinggi. Dalam akhir bukunya tersebut, sang Doktor menyebutkan :

Terjadinya saling menuduh di antara keluarga bangsawan Priangan (Galuh, Sukapura, Bandung, Sumedang, Cianjur, Dll.) yang bertalian dengan penilaian terhadap tokoh Dipaati Ukur, kiranya merupakan perselisihan yang sesungguhnya memperebutkan “Picisan Kosong”. Hal itu disebabkan anggapan yang tidak pada tempatnya tentang CDU (Cerita Dipati Ukur). Penempatan CDU pada kedudukan yang semestinya, akan menghindari salah faham yang bukan-bukan.”

Melalui tulisan ini, Saya tidak akan menilai baik-buruknya tokoh Dipati Ukur, melainkan hanya mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya berdasarkan Kisah Dipati Ukurtersebut, adalah tidak mudah untuk bisa mempersatukan tokoh-tokoh pemimpin (politik) dari Jawa Barat. Padahal kalau mereka bersatu, mungkin mereka bisa mengalahkan suatu Emporium seperti Mataram atau bahkan VOC sekalipun. Yang pasti kelemahan inilah yang digunakan pihak-pihak tertentu untuk terus melemahkan Jawa Barat. Saatnya tokoh-tokoh Sunda bersatu, dan menunjukan bahwa kita punya kekuatan.

Sumber :

Dr. Edi S. Ekadjati. Ceritera Dipati Ukur. Pustaka Jaya 1982

Rabin Hardjadibrata, Dipati Ukur : Was it the Week that Ushered 350 Years of Dutch Rule?.  Pusat Studi Sunda, 2009

R.D. Asikin Widjajakoesoema. Sadjarah Sumedang. Firma Dana Guru, 1960

Review : The Secret Supper

Dah lama sebenernya ane baca ni buku, tapi baru sekarang ane publish reviewnya, soalnya kebetulan lagi ada waktu (dari tahun 2007 men!). Pokoknya bagi ente ente penggemar kisah-kisah thriller misteri semacam Da Vinci Code, last Symbol dll  pasti bakal suka juga buku The Secret Supper karangan penulis asal Spanyol,  Javier Sierra ini.

Dalam buku setebal 528 halaman ini ente bakal nemuin pengungkapan misteri-misteri dan kejutan-kejutan baru seputar karya-karya Leonardo Da Vinci , khususnya lukisan The Last Supper yang hingga saat ini masih terpampang di Cenacolo della Santa Grazzie, Milan. Buku ini emang terbitnya dulu lagi jaman-jamannya buku-buku sejenis, yang beken di luar negeri satu dekade sbeleum populer di indonesia, kita aja yang ketinggalan jaman,, tapi bukan berarti jangan dibaca, rame juga koq, bahkan buku2 semacam ini menginspirasi beberapa penulis dalem negeri buat nulis novel-novel berlatar belakang sejarah,, yang jarang bisa mencapai kesuksesan,, Mengapa? Karena susaaaaahhhh…. Bikin novel berlatar belakang sejarah perlu studi litelatur tingkat tinggi ditambah imajinasi tingkat tinggi,, kalau gak niat bisa-bisa kayak sinetron-sinetron yang sering tampil di Indosiar,, kagak jelas deh bo,,

Nah, Mengenai jalan cerita dalem buku, lumayan mantap lah,  kisah dimulai ketika organisasi Inquisisi ordo Betania, yang bertugas menumpas pemikiran  heresy Kristen saat itu, menerima laporan akan timbulnya gelombang baru heresy yang ditandai dengan rampungnya sebuah lukisan yang menyimpan rahasia berbahaya.  Ordo Betania mengirimkan salah satu utusannya, Bapak Agostine Leyre, yang tidak lain adalah tokoh utama buku ini, untuk menyelidiki identitas pengirim laporan misterius tersebut, serta kebenaran informasi yang didapatnya.

Tugas tersebut membuatnya bersentuhan dengan petualangan seru yang melibatkan berbagai pembunuhan, teka-teki dan simbol  misterius dalam karya Leonardo da Vinci, kitab-kitab eksotis, hingga ajaran-ajaran sampingan Kristen yang saat itu berusaha dibungkam Gereja. Penelitian serius yang ditujukan untuk menghasilkan kisah  ini menghasilkan alur yang penuh dengan informasi-informasi baru yang sangat  menarik…

Oh iya, buku ini sekarang dipinjem sama seseorang yang udah bertaon-taon gak ngebalikin… kalau ente lagi membaca blog ini, smoga ente mendapat hidayah buat balikin tu buku ke ane,, kecuali mau ane tagih di akhirat nanti,, tapi ngapain juga nae tagih di akhirat, emangnya disana mau baca buku ? amit2,,,

  • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

  • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

    Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

  • NEW PRODUCT!

    Sehat Kuat bagai Hansip!

  • Blog bebas iklan dan pornografi