How to make a burger from woods and stones…

Part I.

Tidak ada yang terjadi, kecuali memiliki alasan.

Buku itu mengatakan bahwa seringkali alasan ketertarikan seseorang adalah ketika ia menemukan sesuatu yang tidak dimiliki dirinya pada orang lain. Mari katakan contohnya seseorang selayaknya diriku, yang tenggelam dalam dunia konservatif, birokratis, formal, dan pesimis, dihadapkan pada seseorang yang berbalut kebebasan, pemberontakan, liar dan periang sepertimu. Well, Tidak ada yang terjadi, kecuali memiliki alasan.

Secara logika, tidak ada yang bisa diharapkan dari hubungan semacam ini. Tapi logika bukanlah acuan segalanya. Logika tidak layak untuk disembah. Tidak ada logika yang sempurna. Di luar sana, yang berlaku adalah logika sang Pencipta. Tidak ada yang terjadi, kecuali memiliki alasan.

Kita bertemu di tengah makam, simbol ketidakabadian, simbol ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi hukum. Aku harap perpisahan kita akan berada di lokasi yang sama. Tidak ada yang terjadi, kecuali memiliki alasan.

Adakah yang mengerti dirimu selain yang menciptakan kita berdua ? Dirimu mengalami masa lalu yang sangat buruk namun kau semua berhasil melewati semua  itu. Suatu saat, bukan sekarang, kau akan berkata ,”ooo, ternyata seperti itu…”. Ada alasan mengapa malam kelam mendahului siang yang terang.  Tidak ada yang terjadi, kecuali memiliki alasan.

Kau mengetahui hal-hal yang tidak diketahui semua orang. Kau membaca apa yang tidak terbaca mata biasa. Kau bertanya mengapa orang lain tidak memiliki kemampuan yang sama ? Well, kamu tidak akan seistimewa ini apabila banyak orang yang memiliki kemampuan sepertimu. Tidak ada yang terjadi, kecuali memiliki alasan.

Suatu hari aku mengirimu SMS “Duh, uang sy ilang 10rb nih, huhu…” dan kau membalas “kudu banyak beramal tuh”. Kau benar sekali. Tidak ada yang terjadi, kecuali memiliki alasan.

Damn u so beautiful…

Suatu hari kamu bertanya, apakah aku akan bersedih ketika tidak lagi ada. Kau tahu jawabannya. Tapi yang pasti, aku akan sangat bersyukur karena pernah dipertemukan denganmu…

Part II.

Ranting, Daun, Angin

Aku, Ranting yang kering, kecil dan rapuh ini dengan segala kepayahan berusaha menahan kepergian daun yang ditempa angin kencang dari segala arah. Tapi bertahanlah wahai daun, kau akan lebih cepat mati mengering di luar sana ketika kau terlepas dariku. Apabila kuikut terbang bersamamu melepas batang, kita berdua akan mati pula. Bertahanlah pada pohon ini walau ia hanya bisa memberimu sedikit energi. Bertahanlah padaku. Hiduplah dan hijaulah selamanya.


Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s