Surat-surat Petrus

1 PETRUS

Identitas Petrus

Nama aslinya adalah Simon atau Simeon, dan mengingat sifatnya yang kuat seperti “batu” namanya kemudian diubah menjadi “Cephas” oleh Yesus. Dan dalam perkembanganya, orang Romawi akan memanggilnya sebagai Peter atau Petros. Ia mendapat kehormatan sebagai murid pertama Yesus, ia mendapat peran sebagai pemimpin bagi murid-murid lainnya. Yesus bahkan pernah memberikan kunci kerajaan surga kepadanya, yang tentunya ungkapan tersebut harus ditafsirkan secara mendalam, yang artinya Yesus mewariskan misi penyebaran agamanya kepada Petrus.  Ia berlaku sebagai penanggung jawab kesuksesan misi terhadap kaum Gentile dan Yahudi di pengasingan. Petrus, seperti halnya dengan Yakobus dan Johannes mendapat predikat sebagai “Apostles of Circumcision”, yang artinya mereka tetap setia mempertahankan tradisi Yahudi dalam ajarannya kepada kaum Gentile, pemikiran mereka akan bertentangan dengan sang “Apostle of Uncircumcision” alias Paulus dari Tarsus.
Alih-alih dipilih berdasarkan penilaian intelektual, Yesus lebih melihat keteguhan hati dan ketulusan hati Petrus. Ia bagaimanapun hanyalah seorang nelayan Capernaum biasa, bukankah Kisah Rasul 14:3 menegaskan bahwa Petrus tidak lain hanyalah seorang yang tak terpelajar ? Walaupun ia menempati posisi sentral dalam lingkungan pengikut Yesus, keadaanya berubah paska kematian Yesus. Para pengikut Yesus lebih mempercayai Yakobus saudara Yesus sebagai pemimpin mereka, bukan Petrus. Mungkin ini disebabkan oleh hilangnya popularitas Petrus di kalangan pengikut Kristen awal akibat peristiwa pembantahan hubungannya dengan Yesus saat Yesus digelandang umat Yahudi untuk disidang (Mat. 26:69-75), selain  itu ia juga memiliki pendirian yang tidak tetap (menurut Paulus dalam suratnya terhadap orang Galatia).
Apapun kekurangannya, kita harus tetap menghargainya sebagai murid Yesus yang paling utama, dan kita percaya bahwa Yesus memilihnya dengan alasan-alasan khusus. Adalah suatu kejanggalan bahwa kitab suci umat Kristen hanya memuat dua surat yang dianggap ditulis oleh Petrus, sedangkan selusin surat lainnya ditulis oleh Paulus yang jelas-jelas tidak pernah bertemu dengan Yesus. Keadaan ini diperparah dengan diketemukannya berbagai kejanggalan dalam surat-surat tersebut.

Keotentikan

“Dari Petrus, rasul Yesus Kristus…”, sebenarnya pengakuan si penulis sudah cukup jelas melalui pernyataan yang terdapat di awal pembukaan surat ini, tetapi melalui beberapa penelitian textual dapat ditemukan masalah-masalah yang akan menghadang klaim tersebut. Keotentikan surat ini lagi-lagi ditolak oleh sarjana-sarjana radikal Jerman, terutama dipelopori oleh Baur Dkk., adapun alasan mereka dalam menolak kepenulisan Petrus adalah seperti yang dikutip Louis Berkhof berikut   :

Surat ini sangat bergantung kepada surat-surat Paulus, sementara hanya mengandung sedikit ajaran Yesus. Tampaknya kita menemukan kasus yang berkebalikan dengan saat membahas surat Yakobus. Sebagai rasul Yesus yang sehari-hari hidup berdampingan, akan sulit untuk membayangkan bahwa Petrus lebih menguasai ajaran Paulus daripada Yesus. Surat ini memiliki jejak terhadap surat Efesus dan Roma, sehingga Daniel B. Wallace berkesimpulan bahwa dengan dasar surat Efesus ditulis oleh orang tak dikenal setelah kematian Paulus, dengan kata lain Pseudograf atau palsu, maka keputusan yang sama dapat juga diterapkan pada surat 1 Petrus ini. Sedangkan apabila keotentikan surat Efesus diakui, maka akan timbul kesulitan dalam membayangkan bahwa Petrus benar-benar menulis surat ini, mengingat hubungannya dengan Paulus juga tidak terlalu baik. Akhirnya kita tiba pada kesimpulan akhir bahwa surat ini hanyalah sebuah surat Pseudograf, karya seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisannya kepada Petrus.

Keberatan kedua yang cukup diperhitungkan adalah penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini. Petrus hanyalah seorang nelayan Galilea biasa, darimana ia dapat menguasai bahasa Yunani halus seperti yang terdapat pada surat ini, lebih lagi saat mempertimbangkan Kisah Rasul 14:3 yang menyebutkan ketidakterpelajaran (“ajgravmmato”) Petrus. Tetapi ini dapat dijelaskan melalui kemungkinan bahwa Petrus tidak menulis surat ini melalui tangannya sendiri, tetapi melalui peran seorang sekertaris, Markus dan Silvanus dapat menjadi kandidat  dalam hal ini.

Dengan perantaraan Silvanus, yang kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu, bahwa ini adalah kasih karunia yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!”(1 Pet 5;12)

Tetapi itu tidak menjelaskan pertanyaan secara keseluruhan, pengutipan-pengutipan Perjanjian Lama dalam surat ini diketahui dilakukan terhadap Septuagint (Perjanjian Lama berbahasa Yunani). Mengapa seorang Petrus harus mengutip Septuagint dalam penulisan suratnya, bukankah kebanyakan umat Yahudi saat itu maupun sekarang meragukan otoritas Septuagint sebagai kitab suci, mengapa ia tidak menggunakan Perjanjian Lama berbahasa Ibrani atau Aramaik saja, bukankah seluruh murid Yesus tak terkecuali Petrus adalah orang–orang yang menguasai bahasa Aramaik dan sangat sedikit diantaranya yang bisa menguasai bahasa Yunani.

Kesulitan lebih besar selanjutnya adalah saat mempertimbangkan masalah perbedaan penggunaan bahasa Yunani dalam 1 Petrus dengan surat keduanya. Kesimpulan ini semakin memperjelas ketidakmungkinan kedua surat tersebut ditulis oleh orang yang sama, masalah ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian 2 Petrus.

Surat ini menggambarkan kondisi yang tidak terjadi pada masa kehidupan Petrus. Surat Petrus menyebutkan mengenai tindakan penyiksaan luas yang dilakukan terhadap umat Kristen, dan para sarjana radikal menganggap penyiksaan ini baru terjadi pada sekitar akhir abad pertama, pada masa kekuasaan Trajan.

Pembelaan kemudian muncul dari sarjana-sarjana konservatif bahwa penyiksaan yang digambarkan surat Petrus ini merujuk pada penyiksaan yang dilakukan Nero, saat itu ia membakar seluruh kota Roma dengan mengkambinghitamkan orang Kristen sebagai pelakunya, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 64 M.. Sayangnya, surat ini ditujukan kepada jemaat Asia Minor, dan kekejaman Nero tidak sempat mencapai daerah tersebut, oleh karena itu para sarjana berpendapat bahwa surat Petrus tidak menggambarkan penyiksaan Nero, melainkan oleh Dominitian atau Trajan.

Adalah sangat berat untuk membayangkan bahwa Petrus menujukan surat ini kepada Gereja-gereja yang didirikan Paulus. Ajaran kedua tokoh ini sangatlah berbeda, alangkah percumanya apabila Petrus membayangkan jemaat Paulus bersedia mengikuti arahannya.

Pengakuan-pengakuan Bapak Gereja awal mengenai surat ini baru muncul di penghujung abad pertama. Tokoh-tokoh seperti Polycrap, Barnabas, Clement, Hermas, Iranaeus, Papias, Tertullian tampaknya pernah mengenali surat ini, sedangkan Murrotarian canon tidak memuatnya sama sekali.

Beberapa fakta di atas menguatkan perkiraan bahwa surat ini ditulis sebagai karya orang tak dikenal walaupun mengatasnamakan Petrus sebagai penulisnya. Beberapa sarjana kemudian beranggapan bahwa murid Petrus-lah yang menulis surat ini, selama ini kita sudah menemukan beberapa kasus dimana sebuah karya yang diduga kuat tidak ditulis orang yang sesungguhnya, melainkan oleh murid atau pengikut dari orang tersebut. Surat Petrus juga memiliki kemungkinan untuk ditulis oleh murid Petrus, sehingga masuknya pengaruh pemikiran Paulus dapat dipahami.

Tempat dan Waktu Penulisan

Petrus sempat menyebutkan mengenai “Babilon” dalam akhir suratnya, dan melalui penyebutan tersebut kita dapat menentukan tempat penulisan surat ini. Babilon yang dimaksud oleh Petrus diyakini adalah Roma, bukan sebagai daerah asli yang terdapat di daerah Eufrat. Pemilihan kata “Babilon” oleh Petrus daripada “Roma” diduga  dilakukan untuk alasan keamanan atau alasan lain yang tak diketahui.

Bila tempat penulisan umumnya mendapat persetujuan dari para sarjana, tidak begitu halnya dengan waktu penulisan. Saat ini terdapat kurang lebih tiga pendapat mengenai masalah ini, pendapat pertama dikeluarkan oleh sarjana konservatif bahwa surat ini ditulis sebelum tahun 62 atau 64, saat Roma dikuasai oleh Nero dan Petrus diyakini turut wafat pada waktu tersebut. Nero sendiri diyakini melakukan bunuh diri pada sekitar tahun 68 M.. Bila kita memegang teori ini, maka kita juga harus menyakini kepenulisan Petrus pada surat ini, tentu saja dengan beberapa konsekwensi.

Pendapat kedua menyebutkan bahwa surat ini ditulis pada masa kekuasaan Dominitian, antara 90-100 M.. Kemungkinan kepenulisan Petrus terhadap surat ini akan  musnah dengan sendirinya, Petrus telah lama meninggal pada masa ini sehingga ada kemungkinan surat ini ditulis oleh muridnya, atau orang tak dikenal. Pendapat terakhir menyebutkan bahwa surat ini ditulis pada masa kekuasaan Trajan, sekitar awal abad kedua (111 M. ?). Pastinya pada ketiga masa tersebut, Nero, Dominitian dan Trajan, kaum Kristen sedang mengalami penyiksaan dan penindasan, sehingga ketiganya memiliki kemungkinan yang cukup kuat sebagai waktu penulisan. Bila kita mengartikan bahwa surat ini ditujukan penulisnya kepada jemaat di Asia Minor, dimana mereka diduga turut mengalami penyiksaan, Nama Nero harus dicoret dari daftar kemungkinan. Kekejaman Nero terhadap pengikut Kristen diyakini hanya bersifat lokal, yaitu melingkupi area Roma saja. Sedangkan kekejaman Dominitan atau Trajan memiliki cakupan yang lebih luas, diduga telah meliputi kawasan Asia Minor dan sekitarnya.

Dalam menentukan waktu penulisan surat, kita juga harus memperhatikan hal-hal seperti adanya penyebutan terhadap Markus (5:13), penyebutan “hormatilah raja” (2:17), dll.. Kita juga harus memperhatikan anggapan bahwa surat ini memiliki kedekatan dengan surat Efesus. Penentuan waktu penulisan surat Petrus akan sangat berkaitan dengan Surat Efesus yang diduga palsu itu dan ditulis sekitar tahun 80 M., dengan asumsi surat Petrus menggunakan surat Efesus sebagai rujukan, maka waktu penulisannya adalah sekitar tahun 90-110 M., penulisnya pastilah bukan Petrus.

2 PETRUS

Surat pertama Petrus mungkin tidak terlalu menimbulkan kontroversi di kalangan sarjana maupun Gereja Kristen selama berabad-abad, berkebalikan dengan surat kedua Petrus ini, yang memang telah bermasalah sejak jaman Gereja awal hingga saat ini. Walaupun Gereja abad pertama diketahui ragu-ragu menerima surat ini sebagai bagian dari kitab suci, gejala penolakan mulai timbul dari Gereja abad kedua. Mungkin dapat dikatakan bahwa surat 2 Petrus ini merupakan salah satu bagian dalam Perjanjian Baru yang mendapat sedikit perhatian dari para Bapak Gereja Awal, oleh karena itu banyak sarjana modern yang menganggapnya sebagai Pseudograf.

Penggunaan surat 2 Petrus yang paling jelas dilakukan oleh Origen pada awal abad ketiga, walaupun ia menyadari adanya keraguan terhadap surat tersebut. Perlu diingat bahwa tidak ada Bapak Gereja awal sebelum Origen yang secara jelas mengutip surat 2 Petrus, entah apakah mereka tidak mengetahuinya atau tidak menganggapnya sebagai karya Petrus. Kemudian tampilah Eusebius yang menempatkan surat ini ke dalam daftar antilegomena-nya, dengan kata lain ia masih meragukan keotentikan surat ini bahkan menganggapnya palsu. Sejak Jerome pada abad keempat mengakui keotentikan surat ini, walaupun tetap mengakui keraguan dalam dirinya, perdebatan mengenai keotentikan mulai sedikit demi sedikit berkurang, tentunya hingga abad kesembilan belas. Pengakuan Bapak Gereja awal hanyalah salah satu masalah yang menimpa surat 2 Petrus ini, masih ada beberapa masalah berat lain yang harus dilewati untuk dapat mengakui keotentikan surat ini.

Keotentikan

Setiap sarjana yang mendukung keotentikan surat ini harus bisa menjelaskan masalah-masaah besar yang menimpa surat ini, Dan itu bukanlah hal yang mudah. Berikut adalah beberapa masalah tersebut :

Keidentikan dengan surat Yudas. Beberapa bagian surat Petrus, khususnya pasal 2-3, diketahui memiliki kesamaan dengan surat Yudas. Kesamaan-kesamaan tersebut menimbulkan kecurigaan bahwa penulis surat 2 Petrus telah dengan sengaja mengutip surat Yudas, atau sebaliknya. Kummel adalah salah satu sarjana yang mengemukakan masalah ini, dalam karyanya “Introduction to the New Testament, h. 430-4”, ia menemukan keidentikan di antara bagian-bagian berikut :

  • ·    2 Pet 1:5. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,…Jud 3 Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.
  • ·    2 Pet 1:12. Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. Bandingkan Jud 1:5 Tetapi, sekalipun kamu telah mengetahui semuanya itu dan tidak meragukannya lagi, aku ingin mengingatkan kamu bahwa memang Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya.
  • ·    2 Pet 3:2-seterusnya, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. Bandingkan dengan Jud 17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
  • ·    2 Pet 3:14 Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Bandingkan dengan Jud 24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,
  • ·    2 Pet 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya Bandingkan dengan Jud 25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Walaupun contoh dia atas hanya mewakili sebagian kesamaan yang ada, mereka sudah cukup membuktikan adanya saling ketergantungan di antara kedua surat tersebut. Satu hal yang tidak dapat ditolak mengenai masalah ini adalah mengenai adanya kesamaan konsep “Pengajar yang sesat” (false teacher)  dan muatan eskatologi, baik dalam kedua surat tersebut. Ada tiga kemungkinan mengenai masalah ini; Pertama, penulis surat 2 Petrus menggunakan surat Yudas, atau Kedua, sebaliknya penulis surat Yudas-lah yang menggunakan surat 2 Petrus. Ketiga, kedua dokumen menggunakan sumber yang sama. Melalui beberapa pertimbangan, para sarjana modern tampaknya cenderung kepada kemungkinan kedua, penulis surat 2 Petrus-lah yang menggunakan surat Yudas. Dan sejak surat Yudas diyakini ditulis pada sekitar akhir abad pertama hingga awal abad kedua, surat 2 Petrus diyakini ditulis beberapa puluh tahun sesudahnya, mungkin sekitar tahun 125 M. hingga 180 M.. Jejak keberadaan surat 2 Petrus juga baru muncul sekitar tahun 180 M., sejak Clement diduga pertama kali menggunakannya pada tahun tersebut.
Mengenai kesamaan ini telah diakui oleh mayoritas sarjana, penjelasan bahwa kejadian tersebut terjadi secara insidental tidak dapat diterima secara umum. E. M. Sidebottom dalam komentarnya terhadap surat 2 Petrus dan Yudas  menyebutkan :

“Hubungan antara dua tulisan adalah terlalu dekat untuk hanya disebabkan oleh kebetulan tak disengaja.”

Lalu mengapa Petrus harus menggunakan surat Yudas dalam penulisan suratnya ? Para sarjana telah sepakat dalam menentukan waktu penulisan surat Yudas, yaitu beberapa puluh tahun paska kematian Paulus. Sedangkan jangka waktu kematian Paulus dengan Petrus tidaklah terlalu jauh, mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja, keduanya sama-sama tewas pada masa kekuasaan Nero, sekitar tahun 64 M.. Saat membayangkan penulis surat 2 Petrus menggunakan surat Yudas sebagai acuan, maka kemungkinan kepenulisan Petrus akan musnah dalam sendirinya.

Sementara surat 2 Petrus ini mengakui Petrus sebagai penulisnya, gaya penulisan yang digunakan ternyata berbeda dengan surat sebelumnya. Boleh jadi ini merupakan argumen terkuat untuk menolak keotentikan surat ini. Sementara kedua surat disepakati ditulis dalam bahasa Yunani, surat pertama ternyata ditulis dalam bahasa Yunani halus, sedangkan surat kedua menggunakan bahasa Yunani yang lebih keras dan kurang bermutu. Hampir seluruh sarjana modern menganggap kedua surat tersebut sebagai karya penulis yang berbeda. David Meade dalam Pseudonymity and Canon mengakui bahwasanya,

The language and style of 2 Peter is very different from that of 1 Peter.
The two works could not have come from the same man.”

“Bahasa dan gaya surat 2 Petrus sangat berbeda dengan surat 1 Petrus. Kedua karya tersebut tidak dapat datang dari orang yang sama”

Tidak hanya dalam gaya penulisan, baik sarjana seperti Guthrie maupun Kummel selanjutnya mengkritisi adanya perbedaan cara penulis surat 2 Petrus dalam mengutip Perjanjian Lama dan penggunaan konsep-konsep teologi/eskatologi, mereka menyangsikan apabila Petrus benar-benar menulisnya. Kummel kemudian menyebutkan :

“The conceptual world and the rhetorical language are so strongly influenced by Hellenism as to rule out Peter definitely, nor could it have been written by one of his helpers or pupils under instructions from Peter. Not even at some time after the death of the apostle.”

“Konsep dunia dan bahasa retoriknya sangat dipengaruhi oleh Hellenisme dan pastinya berada di luar kekuasaan Petrus, tidak juga ditulis oleh salah satu pengikutnya atau muridnya dalam instruksi Petrus. Tidak juga pada beberapa waktu setelah kematian sang Rasul.”

Diluar masalah apakah Petrus dapat menulis surat dalam bahasa Yunani atau tidak, Secara logika surat 2 Petrus  ini tidak mungkin ditulis oleh orang yang sama dengan yang menulis surat 1 Petrus. Perbedaan gaya penulisan juga mematahkan anggapan bahwa surat ini dikirim kepada tujuan yang sama, dan dikirim beberapa bulan setelah pendahulunya, sangat tidak mungkin apabila seseorang dapat merubah gaya penulisannya dalam waktu beberapa bulan.

Sejak awal surat ini kita sudah dihadapi oleh suatu permasalahan, bila dalam surat pertama si penulis mengaku sebagai, “…Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang…”, berbeda dengan surat kedua dimana ia menyebut dirinya sebagai ,” …Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus,…”. Pertanyaan kemudian timbul, mengapa pada surat pertama si penulis hanya mengaku sebagai “Petrus”, sedangkan pada surat keduanya ia mengaku sebagai “Simon Petrus”.
Beberapa penjelasan mungkin muncul mengenai masalah ini, beberapa sarjana mengemukakan teori adanya pergantian penulis, bila dalam surat pertama Silvanus berperan sebagai penulis sekaligus penerjemah dengan Petrus sebagai sumbernya, kali ini Petrus menggunakan penulis atau penerjemah yang berbeda. Selain itu dalam pasal 3:1 disebutkan ,

“Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu…”

Tetapi penjelasan ini sama sekali kurang dari cukup untuk dapat menyelesaikan seluruh masalah yang terdapat pada surat ini, terutama karena tidak adanya indikasi peran seorang sekertaris dalam surat ini. Dalam surat pertama mungkin peran Silvanus sebagai sekertaris pernah disebutkan secara eksplisit, walau masih ada sarjana ada yang menafsirkan bahwa ayat 1 Pet 5:2  tidak menyebutkan Silvanus sebagai penulis maupun sekertaris. Sebaliknya surat 2 Petrus tidak memuat nama orang-orang yang berperan dalam penulisan surat tersebut, ia juga kurang dalam sambutan-sambutan yang terdapat pada surat sebelumnya. Dalam surat 1 Petrus, sempat terdapat sambutan terhadap Markus, sedangkan surat kedua tidak memuat sambutan kepada seorang pun, ini patut dipertanyakan.

Muatan surat yang menunjukan waktu lebih lanjut. Kummel dan Guthrie adalah salah satu sarjana yang mengemukakan masalah ini, mereka menyoroti adanya indikasi pengetahuan si penulis surat terhadap kumpulan surat-surat Paulus (Paulinum Corpus),

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. (2 Pet 3:15-16)

Ayat tersebut menunjukan bahwa surat ini ditulis sesaat setelah surat-surat Paulus beredar dan mulai dipelajari, peristiwa ini baru terjadi pada akhir abad pertama. Ada beberapa kesulitan dalam hal ini, bila memang Petrus adalah penulisnya, Pertama, sejak kapan Petrus bersedia mengirimkan suratnya kepada Gereja buatan Paulus, mengingat perbedaan yang terdapat dalam ajaran mereka. Kedua, Seberapa pentingkah posisi Petrus dalam Gereja Pauline sejak Paulus menyebutnya sebagai “munafik” dalam suratnya kepada jemaat Galatia 2:14 ? Ketiga, surat-surat Paulus dipastikan belum tersebar pada saat Petrus diduga menulis surat ini, yaitu sekitar tahun 64-66 M.. Pengumpulan surat-surat Paulus baru dilakukan pada akhir abad pertama, maka akan lebih masuk akal apabila surat 2 Petrus ditulis beberapa puluh tahun sesudahnya, kira-kira pada pertengahan  atau quarter pertama abad kedua. Kebanyakan sarjana saaat ini turut mendukung pendapat tersebut. Mengenai penulis surat ini, adalah tepat seperti yang disebutkan oleh Perrin dalam komentarnya terhadap surat 2 Petrus ini :

He is probably the latest of all the New Testament writers, and a date about A.D. 140 would be appropriate.”

“Dia mungkin adalah yang paling terakhir dari seluruh penulis Perjanjian Baru, dan waktu penulisan sekitar tahun 140 M.  akan lebih cocok”

Ada dua ayat lagi yang menimbulkan indikasi bahwa surat ini ditulis lama setelah masa-masa apostolic (rasul-rasul), Pertama terdapat pada pasal 3:4 :

“Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan”. (2 Pet 3:4)

Penyebutan “sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal…” secara tidak langsung menyebutkan bahwa surat ini ditulis lama setelah generasi awal Kristen musnah, termasuk para pengikut utama Yesus. Pendapat ini dikuatkan oleh pernyataan dalam pasal 3:2 :

“Supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu”. (2 Pet 3:2)

Ayat tersebut memunculkan ekspresi aneh yang tidak cocok apabila dikatakan oleh seorang Petrus. Si penulis dalam ayat tersebut tampaknya menggambarkan dirinya berada di luar lingkaran orang-orang terdekat dengan Yesus. Pemakaian  kata “dahulu” turut mengambarkan bahwa surat ini ditulis lama setelah masa-masa kehidupan “nabi-nabi kudus/rasul-rasul” tersebut.

Tiga argumen di atas sudah sangat cukup bagi kita untuk dapat menolak keotentikan surat 2 Petrus ini. Pandangan bahwa surat 2 Petrus ditulis pada abad kedua tampaknya menjadi kemungkinan paling kuat, dan Petrus tentu saja tidak dapat menjadi penulis utama surat ini. Menurut mayoritas sarjana modern, Surat ini adalah karya seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisanya kepada Petrus, ia juga menggunakan surat Yudas sebagai acuan. Pada abad-abad awal, fenomena pengatributan penulisan kepada seseorang yang dihormati adalah hal yang biasa, seseorang dapat saja dengan mudah membubuhkan nama seorang terkenal atau terpandang pada karyanya, tanpa dapat terjerat hukum. Sampai sejauh ini kita sudah dapat menemukan beberapa kitab/surat dalam Perjanjian Baru yang diduga sebagai karya Pseudograf, diantaranya seperti Injil Johannes, surat Efesus, Pastoral, hingga surat 2 Petrus ini, dan fenomena ini akan menimpa beberapa surat selanjutnya. Bagaimanapun kecurigaan Pseudograf pada surat ini bukanlah keputusan mutlak, ada baiknya kita menyimak pandangan tradisional Kristen terhadap surat ini.

Pandangan Tradisional

Setelah membahas argumen-argumen yang memberatkan klaim kepenulisan Petrus, tampaknya tidak adil bila tidak membahas pandangan yagn berseberangan. Mengenai penulis surat menurut pandangan tradisonal, tidak ada perdebatan lagi, yaitu Petrus sang rasul Yesus Kristus. Setelah melihat berbagai argumen yang menyangkal kepenulisan Petrus di atas, kita tentunya akan berfikir dua kali  untuk dapat menyetujui pandangan ini, dan keraguan ini sudah muncul dari abad ketiga saat Origen memutuskan untuk menolak mengakui kepenulisan Petrus. Martin Luther, sang pendiri Protestan juga menempatkan surat ini sebagai “surat kelas dua” dibandingkan surat-surat Paulus, entah karena ia meragukan keotentikanya atau kurang menyetujui muatan surat ini.
Pandangan tradisional lain meliputi tempat dan waktu penulisan. Sejak surat ini tidak menunjukan waktu penulisannya, para sarjana hanya dapat menduga-duga kapan surat ini pertama kali ditulis. Sejak pasal 3:1 menyebutkan bahwa surat ini merupakan surat kedua Petrus, maka pandangan tradisonal memastikan surat ini ditulis berselang beberapa bulan setelah surat 1 Petrus, yaitu sekitar tahun 60-63 M.. Keputusan ini tentu saja menimbulkan beberapa masalah, yaitu ketidakmampuanya dalam menjelaskan masalah penggambaran kondisi Gereja yang tidak cocok apabila ditempatkan pada masa tersebut, selain itu penggambaran musuh Gereja berupa kaum Gnotis juga baru terjadi pada sekitar abad kedua. Kita juga harus mempertimbangkan adanya penggunaan surat Yudas dan beberapa indikasi internal surat yang menunjukan bahwa surat ini ditulis pada waktu yang lebih lanjut. Penentuan waktu sekitar tahun 80 M. sampai 150 M. oleh kebanyakan sarjana dirasa paling cocok. Mengenai tempat penulisan, tampaknya sulit untuk dipastikan. Hanya saja sejak Petrus diduga martir di Roma tahun 64 M. dan surat ini hanya ditulis beberapa saat sebelumnya, Roma merupakan tempat yang paling memungkinkan. Persoalan menjadi lain saat kita menyangkal Petrus sebagai penulisnya, sangat sedikit keterangan yang terdapat untuk bisa menentukan tempat penulisan surat 2 Petrus ini.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s