Surat Yakobus

SURAT YAKOBUS

Prolog

Kali ini kita akan membahas surat-surat yang termasuk ke dalam kelompok “Catholic Epistles”, dengan surat Yakobus ini mengawalinya. Istilah yang hanya di kenal di kalangan umat Protestan sejak zaman reformasi. Penamaan tersebut dilatarbelakangi oleh materi surat-surat ini yang kerap membicarakan “keimanan plus kerja”, bertentangan dengan doktrin“pembebasan diri dari hukum” Martin Luther yang telah terpengaruh pemikiran Paulus, dan sejak itu surat–surat ini tidak pernah mendapatkan otoritas yang setara dengan surat–surat lainnya dalam Tradisi Protestan. Martin Luther bahkan menempatkan surat ini dalam urutan terakhir Perjanjian Baru versinya.

Umat Protestan mungkin tidak akan mengakui secara terbuka mengenai ketidaksetujuan terhadap beberapa bagian dalam surat-surat ini. Tetapi materi dalam surat-surat Katolik dikenal khas karena paralel dengan ajaran Yesus dalam Injil yang lebih murni. Semua ini hanya membuktikan adanya kontradiksi dalam Bible, di mana di satu sisi terdapat beberapa bagian yang mempromosikan pemikiran Kristen “baru”nya Paulus, sedangkan di sisi lain terdapat pemikiran kontra-Pauline yang dimuat salah satunya dalam Catholic Epistles ini.

Surat Yakobus, walaupun diduga kuat ditulis dalam bahasa Yunani, merupakan surat yang paling bersifat “Yahudi” dibanding surat atau kitab lainnya dalam Perjanjian Baru. Ia juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ajaran Kristen teruta, yang terdapat dalam khutbah Yesus di atas bukit. Sejauh ini kita hanya menemukan beberapa surat/kitab yang memiliki sifat “Yahudi” yaitu Injil Matius dan surat Ibrani, sebagaimana dikemukakan dalam International Standard Bible Encyclopedia.

bahkan seluruh kitab ini (Matius dan Ibrani) memiliki elemen Kristiani tersendiri didalamnya dibandingkan dengan apa yang bisa kita temukan dalam Surat Yakobus

Guthrie dalam New Testamen Introduction mengatakan :

“there are more parallels in this Epistle than in any other New Testament book to the teaching of our Lord in the Gospels”

Surat ini memuat lebih banyak paralel terhadap ajaran Yesus dibandingkan dengan kitab Perjanjian Baru lainnya dalam Injil.”

Ciri utama surat Yakobus adalah kentalnya pemaparan terhadap pentingnya ketaatan terhadap hukum Taurat atau hukum yang diajarkan Yesus, secara jelas ia memiliki hubungan dengan konsep Kristen yang dimuat dalam Injil Q. Konsep Kristen yang lebih muda versi Paulus yang mencakup konsep kebangkitan dan inkarnasi Yesus tidak dikenal dalam surat ini. Surat ini memiliki kedekatan dengan Injil Matius khususnya tehadap bagian khutbah di atas bukit, kita akan dengan mudah memahaminya karena kedua penulisnya memiliki latar belakang Yahudi yang kental, kedua penulisnya juga diduga memiliki hubungan kerabat dengan Yesus. James Tabor merangkum kedekatan suber Q dan ajaran Yakobus sebagai berikut :

AJARAN-AJARAN YESUS DI DALAM SUMBER Q AJARAN_AJARAN YAKOBUS
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. (Luk 6:20) Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? (Yak 2:5)
Oleh karena itu, barangsiapa melanggar salah satu dari perintah-perintah itu, sekalipun yang terkecil, dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi yang paling kecil di antara umat Allah. Sebaliknya, barangsiapa menjalankan perintah-perintah itu dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi besar di antara umat Allah. (Mat. 5:19) Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (2:10)
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (1:22)
apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Mat. 7:11) Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; …(1:17)_
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu (Luk 6:24) Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! ( 5:1)
Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan., Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya… Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5:34-35, 37) Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.(5:12)

Siapapun penulis surat ini, ia adalah seseorang yang dekat kepada ajaran Yahudi dan mengenal Yesus secara langsung, ini dibuktikan dengan adanya referensi terhadap khutbah di atas bukit dan keparalelan materi dengan sumber Q di atas.

Karakter

Yakobus memaparkan dalam gaya bahasa ceramah yang menggunakan kata-kata tajam. Ia tidak melibatkan masalah atau pengalaman-pengalaman pribadinya dalam surat ini. Sehingga sangat sulit untuk dapat menghubungkan sejarah penulisan ini dengan identitas penulis sesungguhnya atau dengan catatan sejarah yang ada. Berbeda dengan Paulus, yang dalam beberapa suratnya sempat memuat kisah-kisah pengalaman pribadinya, sehingga sejarah penulisannya dapat dirunut dan identitas penulisnya umumnya tidak sulit ditentukan.

Melalui identifikasi teks, Berikut adalah beberapa karakter khusus yang ditemukan para sarjana terhadap surat Yakobus ini :

    • Sifat Yahudi yang kental.

      Telah dijelaskan sebelumnya bahwa latar belakang Yahudi pada penulis surat sangat terlihat jelas. Yakobus menujukan surat ini kepada “…kedua belas suku di perantauan ”, alias kaum Yahudi yang terdiaspora atau yang tinggal di daerah-daerah asing dimana mereka menjadi minoritas. Dapat juga kita artikan sebagai kaum Kristiani yang tersebar akibat tindakan represif Romawi.

      Kaum Yahudi manapun yang berbahasa Yunani akan sangat familiar dengan materi yang dimuat dalam surat ini. Dengan contoh saat si penulis surat menyebut Ibrahim sebagai ayah mereka, Sinagoga sebagai tempat pertemuan, dan Tuhan sebagai “Lord of Sabbaoth”, istilah-istilah ini akan sangat mudah dicerna dan diterima oleh kaum Yahudi. Para sarjana bahkan menyebut surat Yakobus sebagai surat “paling Yahudi” dalam Perjanjian Baru.

      Yakobus tampak memberi semangat terhadap kaum Yahudi di perantauan agar tetap setia menjalankan hukum Taurat. Berbeda dengan keadaan di daerah bermayoritas Yahudi, kaum Yahudi perantauan harus menerima tantangan lebih keras untuk mempertahankan ketaatanya terhadap Taurat. Mereka hidup di bawah tekanan mayoritas Gentile yang menganggap aneh dan jijik segala perilaku kaum Yahudi. Ketaatan terhadap hukum Tuhan (Taurat) ini menjadi garis pembatas yang membedakan kaum Yahudi dengan kaum kafir, karena kaum kafir/Gentile hanya menjalankan hukum yang dibuat berdasarkan kemauan atau kebutuhannya sendiri.

      Seluruh materi dalam surat ini didasarkan atas Perjanjian Lama dan sumber Q. Yakobus hampir-hampir tidak memuat materi Kristen versi Paulus, sesuai dengan pernyataan Yesus,

      Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
      Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
      (Mat 5:17-18)

        • Otoritatif.

          Surat ini tampaknya ditulis oleh seorang yang memiliki kekuasaan atau namanya cukup terpandang di antara pembacanya. Maka tak aneh apabila surat Yakobus hanya memuat sedikit materi teologis, tetapi lebih banyak memuat seruan atau nasihat yang menyemangati. Hal-hal tersebut sangat berbeda dengan tulisan-tulisan Paulus yang seringkali berada dalam posisi defensif. Yakobus seringkali berbicara dari sudut seorang pemimpin, dan seruan-seruannya mengikuti gaya Nabi-nabi Perjanjian Lama atau Yesus. Senada dengan hal tersebut, International Standard Bible Encyclopedia menyebutkan :

          He has been called “the Amos of the New Testament,” and there are paragraphs which recall the very expressions used by Amos and which are full of the same fiery eloquence and prophetic fervor.”

          Dia telah disebut sebagai “Amos-nya Perjanjian Baru”, dan disana terdapat paragraf-paragraf yang mengingatkan terhadap ekspresi-ekspresi yang pernah digunakan Amos dan dipenuhi oleh ungkapan berapi-api serta semangat kenabian.”

          Semua ini membuktikan bahwa penulisnya adalah seorang penguasa umat, dan dalam hal ini pikiran kita akan tertuju kepada seorang “Yakobus” yang berkuasa sebagai kepala Gereja Jerusallem. Ia sempat disebutkan dalam surat-surat Paulus atau Kisah Rasul. Pembahasan mengenai identitas penulis surat ini akan dibahas lebih lanjut nanti.

            • Mirip Yesus dan berbeda dengan Paulus.

              Gaya bahasa Yakobus yang kerap menggunakan sindiran langsung, perumpamaan dari kehidupan sehari-hari, seluruhnya merupakan gaya bahasa Yesus. Sebaliknya, ia sama sekali berbeda dengan Paulus, baik dari gaya maupun teologi.

              Para sarjana telah mengakui bahwa penulis surat ini telah menguasai bahasa Yunani yang halus, dan menumpahkannya dalam tulisannya. Tetapi mereka merasa kesulitan saat membayangkan Yakobus, seorang Yahudi Palestina anak seorang tukang kayu, menghasilkan sebuah karya bernilai tinggi dalam bahasa Yunani yang menggugah. Keraguan mereka sebenarnya dapat dijelaskan dengan sederhana, Yahudi Palestina saat itu diketahui mampu dalam menggunakan dua bahasa, Aramaik dan Yunani. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka penguasaan bahasa Yunaninya akan semakin tinggi. Mungkin saja, Yakobus telah mendapatkan pendidikan tinggi tersebut, sehingga ia kurang mempercayai keajaiban-keajaiban yang dilakukan Yesus (John 7:5). Selain itu, berhasilnya ia dalam menduduki jabatan tinggi di Gereja Jerusallem membuktikan bahwa keunggulan intelektualnya melebihi murid-murid Yesus, contohnya Petrus atau Johannes yang disebut “tidak terpelajar” (Kis Ras 4:13). Peran seorang sekertaris juga dapat dipertimbangkan, bukannya tidak mungkin apabila Yakobus menggunakan jasa seorang sekertaris sekaligus penerjemah dalam penulisan suratnya. Paulus, di lain pihak, seseorang yang menggunakan bahasa Yunani dalam kehidupan sehari-harinya, tetap tidak bisa menyajikan bahasa Yunani halus dalam surat-suratnya, apakah Roh Kudus tidak membantunya dalam hal ini ?

              Dalam hal teologi, Yakobus dan Paulus menempati sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi Yakobus menegaskan bahwa penyelamatan hanya bisa diraih melalui keimanan dan kerja (ketaatan terhadap hukum), sedangkan Paulus memproklamirkan penyelamatan melalui keimanan semata. Sangat sulit untuk menemukan titik temu di antara kedua pemikiran ini. Beberapa Umat Kristen menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara ajaran Yakobus dan Paulus, yang ada adalah keduanya saling melengkapi satu sama lain. Pernyataan ini tidaklah logis, jelas sekali bahwa seseorang haruslah memili apakah ia mau mengikuti ajaran Paulus atau Yakobus. Martin Luther dapat dijadikan contoh, ia menemukan kontradiksi ini dan memilih untuk mengikuti ajaran Paulus daripada mengikuti Yakobus, ia bahkan menyebut surat Yakobus ini sebagai “surat jerami”, tidak berbobot dan tidak bernilai. Ia menyebutkan mengenai surat Yakobus ini dalam suratnya,

              However, to state my own opinion about it, though without prejudice to anyone, I do not regard it as the writing of an apostle,…”

              Yakobus yang terkenal

              Dalam pembukaan surat ini, si penulis sudah dengan jelas menyebutkan namanya,” Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus”, Yakobus atau “VIakwboj” dalam bahasa aslinya, merupakan nama yang sangat umum bagi penduduk Judea saat itu. Yesus sendiri memiliki beberapa kerabat yang memiliki nama “Yakobus”. Mereka semua memiliki peluang yang sama untuk dapat menjadi penulis surat ini. Permasalah menjadi semakin rumit akibat adanya perbedaan pendapat di kalangan bapak Gereja Awal mengenai identitas sang “Yakobus” ini. Tetapi saat ini diakui bahwa kekuatan otoritas Yakobus saudara Yesus, pemimpin gereja Kristen awal cukup kuat. Berikut adalah beberapa “Yakobus” yang dapat menjadi alternatif penulis surat ini.

                • Yakobus, anak Zebedeus atau saudara Johannes

                  Mengenai Johannes anak Zebedeus telah kita bahas sebelumnya pada bab Injil Johannes. Permasalahan yang menimpa surat Yakobus tidak jauh berbeda saat kita membahas Injil Johannes. Kita masih berkutat di seputar penggunaan nama, yang mungkin pada saat itu sangat lazim digunakan.

                  Dalam catatan Injil terdapat sepasang kakak-beradik bernama Johannes dan Yakobus anak seorang Zebedeus yang berprofesi sebagai nelayan di Galilea (Mat 4:17-22). Kakak-beradik ini nantinya akan menjadi murid Yesus (Mat 10:2).

                  Saat kita membayangkan Yakobus anak Zebedeus sebagai penulis surat ini, kita akan berhadapan dengan beberapa masalah. Pertama, sepertihalnya dengan Johannes, Yakobus hanyalah anak seorang nelayan Galilea biasa, yang mustahil untuk dapat menggunakan bahasa Yunani halus, yang terdapat dalam surat ini. Baiklah mungkin kesulitan yang sama juga akan muncul saat membayangkan seorang Yakobus anak Yusuf “si Tukang Kayu” menulis surat ini, tetapi kita kesampingkan dulu masalah ini. Selain itu, menurut catatan Kisah Rasul 12:1-2, Yakobus ini dieksekusi sekitar tahun 44 M. melalui perintah Herod. Surat ini menunjukan waktu penulisan yang lebih lanjut dari tahun 44 M., dan sejak surat ini memperlihatkan bahwa penulisnya memiliki kekuasaan atas umat Yahudi, nama “Yakobus anak Zebedeus” dapat kita eliminasi dari daftar kemungkinan. Adalah harus kita perbedakan antara antara status “Saudara”, “rasul” dan “murid” Yesus. Status saudara dalam Injil lebih digunakan pada hubungan yang bersifat kekeluargaan, sedangkan rasul atau murid digunakan pada tingkat yang lebih rendah yaitu sekadar hubungan guru dengan pengikutnya. Fakta bahwa Yakobus tidak menyertakan gelar “murid Yesus” merupakan argumen terkuat yang membuktikan status si penulis bukanlah sekadar “murid” Yesus.

                    • Yakobus anak Aphaeus

                      Teori ini dikemukakan oleh John Calvin. Yakobus yang ini kurang dikenal, ia adalah saudara Matius dan hanya dimuat dalam Matius 10:3. Matius dan Yakobus merupakan anggota 12 Rasul Yesus. Beberapa sarjana kemudian menyamakan “Yakobus” ini terhadap “Yakobus saudara Yesus” berdasarkan anggapan bahwa penyebutan “saudara” di sini bukan berarti hubungan keluarga, melainkan kedekatan atau keakraban. Sayangnya mereka melewatkan fakta bahwa Injil membedakan penyebutan antara saudara, rasul dan murid Yesus. Perhatikanlah ayat berikut :

                      Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja. (John 2:12)

                      Perhatikan bahwa penulis Injil Johannes dengan sengaja membedakan penyebutan “saudara” dengan “murid” Yesus.

                      Teori Calvin tersebut mendapat perhatian serius di kalangan mayoritas sarjana, mereka masih mempercayai apabila Yakobus anak Alphaeus dan Yakobus saudara Yesus merupakan dua pribadi yang berbeda.

                        • Yakobus ayah Yudas (bukan Escariot). Kisah Rasul 1:15 menyebutkan :

                          Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.”

                          Sedikit keterangan yang terdapat mengenai orang ini. Ia bukanlah seorang Rasul maupun pengikut Yesus, ia hanyalah ayah dari seorang Rasul bernama Yudas (bukan Escariot). Tidak ada dukungan apapun terhadap kepenulisannya dalam surat ini.

                            • Yakobus saudara Yesus

                              Yakobus yang ini adalah yang paling terkemuka diantara “Yakobus-Yakobus” lainnya. Menurut beberapa sarjana, saat Maria menikahi Yusuf (setelah Yesus lahir), ia kemudian melahirkan beberapa anak lagi yang salah satunya bernama “Yakobus” ini. Atau versi lain menyebutkan bahwa Yusuf telah memiliki beberapa anak sebelum menikahi Maria. Karena memiliki orang tua yang sama dengan Yesus, maka ia dikenal sebagai “saudara Yesus”. Penyebutan mengenai Yakobus dalam Injil pertama kali muncul dalam Matius 13:55 :

                              Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yacobus , Yusuf, Simon dan Yudas?

                              Markus 6:1-6 bahkan menyiratkan adanya saudara-saudara Yesus yang berjenis kelamin perempuan.

                              Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Mark 6:3)

                              Sebagian orang yang merasa mempercayai keperawanan sejati Maria mungkin akan gerah dengan pernyataan tersebut. Keterangan sejarah mengenai saudara-saudara Yesus sangatlah sedikit sehingga seseorang di jaman modern bisa memperkirakan bahwa garis keturunan Maria (melalui saudara-saudara Yesus) masih ada hingga saat ini, walaupun hal tersebut akan sulit untuk dilacak.

                              Meskipun demikian Yakobus tidak menyebut dirinya sebagai saudara Yesus dalam surat ini disebabkan oleh kerendahan hatinya atau asumsi bahwa para pembaca sudah mengetahui hal tersebut sehingga tidak perlu ditegaskan kembali. Berbeda dengan gaya penulisan para Murid Yesus yang selalu menyertakan gelarnya sebagai murid Yesus dalam pembukaan suratnya (I Pet 1:1, II Pet 1:1).

                              Walaupun tidak termasuk ke dalam 12 Rasul, ia dikenal sebagai tokoh yang adil, artinya ia memilki kharisma yang cukup kuat di kalangan pengikut Yesus, khususnya kaum Yahudi. Ia merupakan kepala Gereja Jerusallem bersama dengan Johannes dan Petrus, ketiganya disebut Paulus sebagai “The Three Pillars” akibat keteguhannya dalam memegang ajaran sejati Yesus. Injil-injil berusaha mengecilkan peran murid dan keluarga Yesus dalam perkembangan sejarah kristiani awal, sebaliknya mereka memberikan pondasi bagi doktrin Paulus. Hal ini terlihat jelas pada Injil Lukas danKisah para rasul.

                              Yakobus saudara Yesus merupakan kandidat terkuat penulis surat ini, dilihat dari penguasaan bahasa Yunani, nada otoritas pada tulisannya, dan pertentanganya terhadap pemikiran Paulus. Tidak banyak orang Kristen saat ini yang mengetahui bahwa Yakobus merupakan pemimpin tertinggi Yahudi Jerusallem pasca kematian Yesus. Ia dipilih berdasarkan kepandaian dan integritasnya yang melebihi pengikut Yesus lainnya. Maka tidaklah aneh apabila ia bisa menguasai bahasa Yunani secara lancar, tidak seperti Petrus atau Johannes yang dikenal “tidak terpelajar” (Kis Ras 4:13). Penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini bahkan diakui para sarjana sebagai “salah satu yang terbaik” dalam Perjanjian Baru, secara tidak langsung menyebutkan bahwa Yakobus adalah seseorang yang sangat terdidik. Injil Thomas, salah satu Injil Apokrip yang diakui keotentikannya menyebutkan kepercayaan Yesus terhadap saudaranya tersebut. Disebutkan bahwa :

                              The disciples said to Jesus, “We know that you are going to leave us. Who will be our leader?” Jesus said to them, “No matter where you are, you are to go to James the just, for whose sake heaven and earth came into being.” (Thomas, Saying no. 12)

                              Walaupun menggunakan bahasa Yunani, nuansa Yahudi tetap kental dalam karyanya. Ia juga dikenal sangat familiar terhadap Perjanjian Lama, terutama saat menggunakan frase “Lord of Sabaoth” dalam 5:4.

                              Berdasarkan catatan Injil, Yakobus sama sekali tidak menganggap saudaranya (Yesus) sebagai Tuhan. Lupakan terjemahan baru surat ini yang kerap menyebut Yesus sebagai Tuhan. Kesalahan terjemahan atau penyisipan ini seringkali terjadi pada Injil sebagai bukti penyelewengan terhadap kitab suci. Parahnya terjemahan Indonesia mengikuti terjemahan Inggris yang kerap menyebut Yesus sebagai Lord (dengan L besar), entah apakah gelar tersebut memiliki arti yang sama dengan God (kerap diartikan sebagai Bapa atau allah). Padahal penulis aslinya mungkin tidak bermaksud demikian, yang mereka maksudkan adalah Yesus sebagai lord (dengan L kecil) yang berarti tuan atau Raja. Kaum Yahudi saat itu memang lebih menganggap Yesus sebagai raja mereka (Messiah) alih-alih sebagai Tuhan. Sungguh hanya perbedaan penggunaan huruf kecil dan besar, tetapi arti yang dihasilkan sangatlah berbeda.

                              Yakobus adalah seorang yang sehari-hari berhubungan dengan Yesus, tetapi tidak pernah melihat adanya ciri-ciri ketuhanan dalam diri Yesus. Ia baru mempercayai kekhususan pada diri Yesus saat menyaksikan kebangkitannya (?), tetapi ia sama sekali tidak pernah mengungkapkan perihal peristiwa kebangkitan ini dalam suratnya. Umat Kristen seringkali menganggap dirinya sebagai orang munafik karena ketidakpercayaanya terhadap ketuhanan Yesus, ini bisa dipahami karena mereka melihatnya dari sudut pandang Paulus. Yakobus bagaimanapun adalah seseorang yang integritasnya lebih kuat daripada Paulus, selama kurang lebih tiga puluh tahun ia mengenal Yesus secara personal, bandingkan dengan Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus barang sedetik pun (kecuali saat mengalami penampakan yang kontroversial). Yakobus memiliki latar belakang Yahudi yang kuat, ia tidak mau meninggalkan hukum-hukum Yahudi karena ia yakin bahwa ajaran Yesus tidak bertentangan dengan ajaran Yahudi. Selama hidupnya ia tetap mempertahankan “kewajiban berkhitan” bagi mualaf Kristen yang berasal dari kalangan Gentile, Paulus di lain pihak, berusaha melawan ketetapan ini selama hidupnya. Kehidupan asketis turut dijalani Yakobus sebagai bukti ketaatanya terhadap ajaran Yesus, ini bisa kita lihat melalui pernyataan-pernyataan dalam suratnya :

                              Saudara-saudara, orang-orang kaya! Dengarkanlah nasihat saya. Hendaklah kalian menangis dan meratap karena kalian akan menderita sengsara!” (Jac 5:1)

                              Secara umum, isi surat ini menegaskan bahwa umat Kristen hendaknya selalu berpulang kepada ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari dan tidak meninggalkan hukum taurat. Saat Yakobus mengetahui bahwasanya ajaran Paulus bertentangan dengan ajaran Yesus, ia segera mengutus Petrus ke Antiokia. Dari sana Paulus kemudian mengunjungi Gereja Jerusallem untuk meminta konfirmasi dengan Yakobus, sayangnya sebelum musyawarah mencapai ketetapan final, Paulus segera ditangkap kaum Yahudi di sana dan dikirim ke Roma. Sebelumnya Yakobus tetap setia kepada pendirianya untuk mewajibkan berkhitan, tetapi Paulus juga tetap pada pendiriannya untuk menetang kewajiban tersebut. Keputusan Paulus ini membuatnya kehilangan hubungan dengan Barnabas dan Petrus, sejak saat itu ia tidak lagi memiliki hubungan dengan pengikut Yesus.

                              Kekuasaan Yakobus tidak berlangsung lama di Jerusallem, pengaruhnya tidak sempat tersebar luas disebabkan oleh adanya hal-hal berikut :

                              • Kuatnya pengaruh kaum Gentile pengikut ajaran Paulus yang menetang pemberlakuan hukum Taurat. Paulus telah berhasil membuat jarak dikotomi antara kaum Yahudi-Kristen dengan kaum Gentile-Kristen. Perpecahan ini meyebabkan berkurangnya kekuatan kaum Kristen sehingga mereka harus menjadi objek penindasan dari kekaisaran Roma.

                              • Tekanan kaum Aristokrat Yahudi cukup berpengaruh terhadap pengeksekusian Yakobus, yang menurut Josephus terjadi sekitar tahun 62 M.. Kepemimpinan Gereja Jerusallem paska Yakobus tidaklah sekuat sebelumnya, apalagi setelah kuil Jerusallem dihancurkan pada tahun 70 M..

                              Kematian Yakobus tidak langsung membuat pengaruhnya hilang seketika. Ajarannya cukup terjaga dalam kaum Ebionit, tetapi lama kelamaan melemah akibat tekanan Kekaisaran dan membesarnya pengaruh ajaran Paulus. Saat ini bisa dikatakan bahwa umat Kristen telah sama sekali melupakan peranan seorang “Yakobus” ini. Mereka lebih tertarik untuk mengutip surat-surat Paulus dibandingkan suratnya, sungguh dilematis mengingat ia adalah salah seorang penulis Perjanjian Baru yang memiliki hubungan terdekat dengan Yesus.

                                • Pseudo-Yakobus

                                  Artinya surat Yakobus ini hanyalah pekerjaan seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisannya kepada Yakobus. Ia kemungkinan adalah pengikut atau murid Yakobus, sehingga ia familiar dengan ajarannya. Sejak surat ini diduga ditulis pada sekitar awal abad kedua hingga pertengahan, penulisan oleh Yakobus menjadi semakin mustahil (ia diduga wafat sekitar tahun 62 M.). Masalah penentuan waktu penulisan surat ini akan dibahas pada bagian keotentikan.

                                  Keotentikan

                                  Masalah keotentikan surat ini akan sangat bergantung kepada penentuan waktu penulisannya. Bila kita perlakukan Yakobus saudara Yesus sebagai penulis surat ini, maka waktu penulisannya pastilah sebelum tahun 62 M., tahun kematiannya. Keputusan ini diperkuat oleh tidak adanya penyebutan mengenai kehancuran kuil Jerusallem, kontroversi muallaf Yahudi dan Gentile, indikasi eksistensi kaum gnostis, serta peran deakon atau uskup dalam Gereja. Selain itu “sinagoga” masih dianggap sebagai tempat pertemuan para umat Kristen, dan penyebutan “penindasan” dalam 2:6 menggunakan present tense. Surat ini hanya beredar di antara Gereja-gereja Yahudi-Kristen, dan tidak dikenal dalam kalangan Gentile-Kristen, oleh karena itulah surat ini mengalami banyak penolakan pada awalnya. Beberapa sarjana kemudian ada yang menetapkan waktu lebih akhir, sekitar tahun 100-150 M., tetapi perkiraan ini hanya didasarkan oleh bukti eksternal, mengingat bapak Gereja awal pertama kali menyebutkan surat ini pada masa-masa tersebut. Tetapi seperti telah kita lihat sebelumnya bahwa bukti internal surat ini menunjukan waktu yang lebih awal.

                                  Sejak abad pertama, keotentikan surat ini telah diragukan, diantaranya oleh Theodore dari Mopsuestia, ia memasukan surat ini ke dalam kelompok Deuterocanonical. Beberapa abad kemudian, Eusebius memasukan surat ini kedalam antilegomena-nya dan Murotarian canon menghilangkannya. Semua ini disebabkan karena gereja Barat belum secara umum mengakuinya. Sebaliknya, beberapa bapak Gereja awal mengutipnya sebagai kitab suci, diataranya adalah Clement dari Roma (sebelum 100 M.), Hermas (150 M.), Iranaeus, Clement dari Alexandria, Justyn Martyr, Origen, Athanasius, Dyonisius, Tertullian, St Hilarry, St. Philaster, Pope Damascus, Jerome, dll. (Catholic Encyclopedia).

                                  Kesimpulannya, Perjanjian Baru tidak hanya memuat kontradiksi kata-perkata, ayat-perayat, tetapi turut memuat kontradiksi dalam bentuk teologi. Hal ini tentu saja dapat membingungkan umat Kristen di manapun. Umat Protestan cukup berani dalam memutuskan untuk menyimpan otoritas surat ini di bawah surat-surat Paulus, sesuai dengan ajaran Luther. Menurut pandangan pribadi saya, surat ini seharusnya menempati posisi yang sebaliknya, otoritasnya seharusnya melebihi surat-surat Paulus, tentu saja dengan dasar sebagai berikut :

                                  • Kedekatan hubungan Yakobus dengan Yesus.

                                  • Peranan Yakobus dalam Gereja Jerusallem, tempat bernaungnya kekuatan pengikut Yesus awal. Kedudukan Yakobus dianggap setara dengan Petrus atau Johannes menurut Paulusdan Josephus.

                                  • Keotentikan surat yang cukup kuat. Sejauh ini kita tidak menemukan adanya bukti Interpolasi atau penyusupan yang menonjol dalam surat ini. Dengan pengandaian Yakobus benar-benar menulis surat ini, maka surat ini dapat disebut sebagai surat tertua yang ditulis dalam Perjanjian baru, yaitu sekitar tahun 47-49 M.. Mengenai beberapa sarjana yang mempermasalahkan penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini telah saya berikan penjelasan terhadapnya sebelumnya.

                                  Leave a comment

                                  No comments yet.

                                  Comments RSS TrackBack Identifier URI

                                  Leave a Reply

                                  Fill in your details below or click an icon to log in:

                                  WordPress.com Logo

                                  You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

                                  Twitter picture

                                  You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

                                  Facebook photo

                                  You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

                                  Google+ photo

                                  You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

                                  Connecting to %s