Surat Paulus kepada Filemon

Identitas Filemon

Dari pembukaan surat ini kita bisa menemukan bahwa Filemon merupakan salah satu pengikut Paulus yang memiliki hubungan cukup dekat dengannya, Paulus menyebutkan ,” ..kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (Fil 1:1). Paulus mengenal Filemon mungkin saat menetap sementara di Efesus. Filemon kemudian diutus Paulus untuk menjalankan misi di Kolose, ia masih menetap di sana saat Paulus menulis surat ini di penjara.

Keotentikan

Secara umum surat sepanjang 1 pasal ini telah diakui keotentikannya. AQ Morton yang melakukan perbandingan gaya penulisan pada seluruh karya Paulus melalui komputer, menemukan bahwa hanya surat Roma, Korintus, Galatia dan Filemon yang nilai keotentikanya relatif setara.
Penempatan setelah surat Titus membuat beberapa orang beranggapan bahwa surat ini termasuk ke dalam kelompok Pastoral, tetapi pada kenyataannya surat ini adalah salah satu anggota Prison Epistles. Menurut rekonstruksi sejarah, seorang budak Filemon bernama Onesimus melarikan diri darinya menuju Roma. Disana ia menyempatkan diri untuk bertemu Paulus.
Paulus kemudian mengirim surat rekomendasi kepada Filemon yang tiada lain adalah surat Filemon ini. Surat ini berisi saran bagi Filemon agar ia mau menerima kembali Onesimus dalam rumahnya. Surat ini ditulis dan dikirim bersamaan dengan dua surat lainnya, surat Efesus dan Kolose. Saat menulis ketiga surat tersebut Paulus tengah berada dengan Timotius (1:1).
Dalam hal keotentikan, baik bukti internal maupun eksternal mengakuinya. Beberapa bapak gereja awal dipastikan pernah mengetahui eksistensi surat ini. Pandangan kritis kemudian dikemukakan oleh Baur, ia terpaksa mengeluarkan pandangan ini karena ia menolak keotentikan kedua surat penjara lainnya.
Surat ini adalah surat terkahir dalam Perjanjian Baru yang penulisannya diatributkan kepada Paulus. Melalui evaluasi sementara, kita telah menemukan berbagai kesalahan dan keraguan dalam surat-surat Paulus. Berikut adalah sedikit kesimpulan terhadap pembahasan-pembahasan sebelumnya.

Dari keseluruhan surat, hanya surat Roma, Galatia, Korintus, 1 Tesalonika, Filipi dan Filemon yang dapat diyakini kepenulisanya oleh Paulus sendiri.
Keotentikan surat-surat seperti Kolose, 2 Tesalonika dan Efesus masih diragukan, tidak sedikit sarjana yang menolaknya.
Seluruh surat Pastoral dapat dikatakan sebagai surat palsu. Paulus diyakini tidak pernah menulis surat-surat tersebut.

Berbagai kesimpulan tersebut tentu menyakitkan bagi sebagian umat Kristen, padahal berbagai penemuan tersebut tidak lain dihasilkan oleh sarjana-sarjana dari kalangan mereka sendiri. Umat Kristen tentunya harus mengetahui sejarah penulisan kitab suci mereka daripada hanya mengutip secara bebas ayat-ayat di dalamnya. Pengutipan ayat-ayat Bible tidak boleh dilakukan sembarangan karena kadang memiliki konteks yang berbeda.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s