Surat 2 Timotius

2 Timotius

Secara umum, tidak ada perbedaan berarti antara surat ini dengan dengan surat Timotius pertama. Keduanya memiliki karakter yang sama. Keraguan utama ditunjukan oleh absennya mereka dari dalam daftar canon Marcio. Kedua surat ini tidak pernah dikutip sebelumnya kecuali oleh Iranaeus tahun 170 M..

Pandangan-pandangan kritis terhadap keotentikan surat ini didasarkan melalui sisi yang relatif sama dengan surat sebelumnya, yaitu melalui perbedaan gaya penulisan dengan surat lainnya, banyaknya Hapax Legomena, dan adanya ekspresi-ekspresi non-Pauline. Dalam komentarnya, The New Oxford Annotated Bible menyebutkan :

Second Timothy, although attributed to Paul, is found by many scholars to be so unPauline in vocabulary, style, theological concepts, church order, emphasis on tradition and in contrast with the chronology of his career as given in Acts and Romans, that it is widely considered to be a forgery.

“Timotius kedua, walaupun penulisannya diatributkan kepada Paulus, kebanyakan sarjana telah menemukan sifat non-Pauline dalam perbendaharaan kata, gaya, konsep teologi, aturan gereja, penekanan dalam tradisi dan berlawanan dengan kronogi karir Paulus yang diberikan dalam Kisah Rasul dan surat Roma, surat ini dipercayai sebagai pemalsuan.”

Dalam hal tempat penulisan, beberapa mengatakan bahwa surat ini ditulis sekitar setahun setelah surat 1 Timotis, lainnya berkata bahwa surat ini ditulis saat Paulus mengalami pemenjaraan yang terakhir di Roma. Digambarkan dalam pasal 4:6 “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat”.

2 Timotius 3:16

Saat anda membicarakan perihal keotentikan Bible dengan teman Kristen anda, mereka pasti akan mengutip bagian ini (Timotius 3:16) untuk mendukung klaim inspirasi wahyu dalam Bible. Para penceramah Kristen tidak pernah bosan dalam memakai ayat ini dalam pembelaanya terhadap kebenaran ajaran-ajaran Bible. Dalam hal ini kita akan membantah pemikiran tersebut karena karena kebanyakan umat Kristen telah mengambil ayat ini diluar konteks yang sebenarnya. Berikut adalah teks 2 Timotius 3:16 :

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Dalam King James Version disebutkan :

All scripture [is] given by inspiration of God, and [is] profitable for doctrine, for reproof, for correction, for instruction in righteousness.”

Saat kita menerjemahkan kata “scripture” atau “tulisan” di atas menjadi “Alkitab” atau “Bible”, maka kita telah melakukan kesalahan besar dan sangat keluar dari konteks. Anggaplah surat 2 Timotius ini ditulis tangan oleh Paulus, maka waktu penulisan surat ini adalah sekitar tahun 65-67 M., sedangkan Bible sendiri baru rampung penyusunannya beberapa ratus tahun kemudian.
Kata “Scripture” adalah terjemahan dari bahasa Yunani “Graphe“ yang artinya tulisan, dalam naskah aslinya tertulis “pasa graphe theopneustos kai ophelimos…”. Dalam Perjanjian Baru terdapat kurang lebih 51 penyebutan terhadap kata “Graphe”, dan seluruhnya nerujuk kepada pengartian “tulisan suci” atau Perjanjian Lama. Beberapa sarjana bahkan mengartikan kata tersebut sebagai tulisan-tulisan Paulus semata. Adalah suatu kesalahan fatal apabila kita mengartikan “tulisan suci” ini dalam konteks keseluruhan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saat Paulus menulis surat ini pada tahun 65 M., saat itu belum satupun Injil yang ditulis, bahkan konon Injil tertua (Markus) baru ditulis di sekitar tahun 70 M.. Tidak hanya itu, surat-surat Paulus pun belum sempat dikompilasi atau dikumpulkan. Beda masalahnya apabila ayat ini baru ditulis 300 tahun kemudian, saat komposisi final Bible telah diakui. Sarjana katolik, Raymond F. Collins, dalam karyanya Introduction to the New Testament , menyebutkan :

“The Scriptures that enjoyed such authority within the emerging church are what Christians call the Old Testament.”

Bila kita mengartikan kata “Scripture” ini menjadi “Bible secara keseluruhan”, maka kita harus menerima beberapa konsekwensi. Pertama, otomatis kita harus menolak kepenulisan Paulus pada surat 2 Timotius ini, karena Bible baru rampung pada abad keempat. Kedua, kita harus menerima keseluruhan bagian Bible secara mentah-mentah, dari beberapa bagian Perjanjian Lama yang mengandung pornografi hinggga ajakan meminum racun dalam Matius 16:18, atau mengakui keotentikan dalam Markan Appendiks, Pericope Adulterae hingga 1 Timotius 2:12-15 yang merendahkan posisi wanita. Selain itu kita juga harus menerima kitab-kitab “deutero-canonical” sebagai “tulisan suci”. Ketiga, andaipun kita mengartikan “scripture” tersebut sebagai Perjanjian Lama, maka kita juga harus mengakui kepenulisan wahyu dalam kitab-kitab meragukan yang penulisnya tak dikenal.

Kesimpulannya, apakah surat Timotius ini otentik atau tidak, penafsiran terhadap kata “Scripture” tidak boleh dilakukan secara sembarangan, apalagi mengartikanya sebagai “Bible” secara keseluruhan. Seseorang yang menganggap bagian tersebut mewakili Bible secara keseluruhan benar-benar tidak mengetahui sejarah penulisan Bible. Para penginjil benar-benar membodohi umatnya saat mengutip ayat ini sebagai dalil kebenaran Bible. Ayat ini menjadi favorit karena tidak ada ayat lain yang secara jelas mengakui kepenulisan wahyu dalam Bible. Pada situasi yang sangat terpaksa ini, seorang Kristen akan menggunakan ayat ini sebagai benteng pertahanan terakhir, walaupun dengan mengorbankan rasionalitasnya.

4 Comments

  1. apalagi Alquran, yang ditulis 600 tahun kemudian setelah Isa Al-Masih….

    • Dalam tulisan sy, sy tdk pernah mengambil sudut pandang dari agama manapun, jadi apabila anda ingin membandingkan antara Quran dan Timotius, akan menjadi sangat tidak kontekstual.. Anda toh juga tidak tahu apa2 mengenai Quran..

  2. mampir sini dulu yuk….!!
    http://www.sarapanpagi.org/81-kebohongan-2-timotius-3-16-vt3182.html

    • Masalahnya, bagaimana mungkin paulus mengetahui bahwa Injil2 (Markus, matius, Lukas, yohanes dll.) diinspiasi oleh tuhan apabila injil2 tersebut bahkan belum pernah dibaca oleh paulus,,, Bible yang ada sekarang baru dikompilasi di abad keempat…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s