Tips Menasihati Pria

Pertanyaan :

Yellow sAdNesssystEM! gw NInDy dari bandung, Mo Nanya nIh, nApa yA tIaP Kali Gw nasIhatin co gw, DiA tuCH malAh maraH2 GaQ JeLas gitu dewH, pdHL nIAt aq Kan BAEQ tuh, spaya dIa jadi benEr gtu, seBel bGd!!! mOhoN pnJElasannx! Bls!

Jawaban :

Ndy, Sebenarnya niat kamu dah bagus banget, kamu pasti pgn ngerubah keburukan-keburukan co kamu supaya sesuai dengan keinginan kamu. Well, terus terang kebanyakan wanita berada dalam posisi kamu, yaitu suatu fase hubungan dimana kalian berpikir ,”Co gw maunya apa sih ?!, dikasitau yg bener malah marah!!”. Nah, ada yang salah dalam bentuk pemikiran ini. Ada baiknya km memahami otak cowok.

Pertama, kamu harus inget motif seorang cowok dalam menjalin hubungan. Cowok2 (terutama yang berusia >20) sudah tidak lagi mencari cewek2 dengan penampilan fisik aduhai (kalaupun dapet, itu merupakan suatu bonus), yang mereka paling butuhkan adalah seseorang yang bisa membuat mereka nyaman, yang bisa dipercaya, menerima mereka apa adanya, dan menghargai mereka.

Pda dasarnya, setiap kali kamu menasihati co kamu supaya begini atau begitu, kamu udah menunjukan rasa ketidakpercayaan terhadap mereka. Begini contoh kejadiannya :

“Sayang tau gak, tadi gue terlambat kuliah lagi nih, terpaksa deh nongkrong di kantin…”

“Km gimana sih, kan dah dibilangin supaya jangan begadang melulu, nonton bola lah, main game lah, jadi bangunnya telat kan tuh, kalo gak kuliah gitu gimana mau cpet lulus  !”

“…What the !!! Hey, sejak kapan lo jadi ibu gw?!!!”

– dan pertempuran pun terjadi –

Percakapan semacam di atas sering terjadi dalam suatu hubungan yang tidak didasari oleh saling pengertian. Sebenernya, setiap kali kamu menasihati / mengomeli seorang cowok, maka kalimat inilah yang akan terlintas di otak si cowok :

“…Kalo butuh nasehat, gua bakal nanya ke ustadz kale!…”

“…Terimakasih banyak, omelan kamu emang yang paling saya butuhkan selama ini, silakan ngobrol sama sepatu…”

“…Duh, serasa pacaran sama ibu kosan…”

“Lo kira gua gak tau apa, gua kan lebih pinter dari elo…”

“…Beginilah gue, kalo lo gak nerima, msh bnyk yg mau sm gue koq…”

“…Gw dah nyaman sama khidupan gw koq, lo urus aja kehidupan lo sendiri…”

” Wakwekwokwakwekwokwakwekwok… iya sayang, saya mendengarkan…”

Nah, intinya ndy, pria itu gak mau dirubah oleh siapapun. Kalo km bener2 sayang sama co km, jangan pernah ngasih nasihat ke dia kecuali co km yang minta. Respon yang co km butuhin kalo dia lagi berkeluh kesah adalah perkataan yang menenangkan seperti “Yaudah mau gmana lagi kalo gitu, trus gimana bla… bla… bla…” walaupun terlihat tidak perduli, tapi respon2 seperti inilah yang sebenarnya diharepin co km…

Akhir kata, Cara terbaik untuk menolong seorg cowok agar tumbuh adalah jangan pernah berusaha merubahnya dengan cara apapun.

Semoga jawaban sadnesssystem bisa memuaskan.





yellow sAdNesssystEM! gw nInDy dari bandung, Mo Nanya nIh, nApa yA tIaP Kali Gw nasIhatin co gw, DiA tuCH malAh maraH2 GaQ JeLas gitu dewH, pdHL nIAt aq KAN bAEQ tuh, spaya dIa jadi benEr gtu, seBer bGd!!! mOhoN pnJElasannx!

Kamus Wanita-Pria

Ruang ini disediakan untuk interaksi dengan SadnessSystem seputar permasalahan hubungan yang biasa terjadi antara anda dengan pasangan anda.

Pertanyaan :

Perkenalkan, nama saya Jonny dari Jakarta, usia 25 tahun. Saya memiliki kesulitan berkomunikasi dengan wanita, apa yang saya lakukan selalu salah di depan pasangan saya, apakah kiranya Sadnesssystem dapat membantu ?

Jawaban :

Bung Jonny, masalah yang anda alami merupakan masalah yang dialami oleh semua pria yang berpasangan dengan wanita. Masalah ini bahkan dialami oleh pasangan yang pertama kali menginjak bumi. Semoga jawaban saya dapat memuaskan.

Bagi pria, wanita adalah mahkluk asing yang tiba2 datang ke dunianya untuk merusak semua ketentraman dan keteraturan yang  ada. Namun ini adalah fase yang harus dihadapi oleh setiap lelaki untuk bisa menjadi dewasa. Apabila pria tersebut tidak terlalu kuat, maka sang ‘mahkluk asing’ akan menjajah kehidupannya, namun dengan kekuatan dan persiapan yang matang, sang ‘mahkluk asing’ dapat dijadikan teman seumur hidup, tempat menjalin kasih sayang, tempat pria menjalankan fungsi dan peran yang sesungguhnya sebagaimana ia diciptakan.

Nah, sayangnya wanita memiliki bahasa komunikasi yang berbeda dengan kaum Pria. Pria menggunakan bahasa “nyata” sedangkan wanita menggunakan bahasa “paradoks” untuk menyebut bahwa kadang apa yang mereka katakan seringkali berbeda dengan apa yang mereka maksud. Kebanyakan pria gagal untuk memahami ini. Nah bung Jonny, untuk dapat membantu anda secara teknis, akan saya paparkan berikut kamus wanita-pria, apa yang dikatakan dan apa yang sebenarnya dimaksud oleh sang hawa, kamus ini akan membantu keharmonisa hubungan anda dengan sang kekasih :

1. “Gapapa” = Ada apa-apa

Apabila wanita berkata “Gapapa”/”Tidak apa-apa”, berarti “ada apa-apa”, dan kewajiban sang pria untuk terus menanyakan apa yang terjadi/apa ia sebenarnya rasakan. Pada akhirnya wanita akan luluh dan mengatakan, “Iya nih, sebenarnya gini…dsb. dsb…”

2. “Dia nyebelin…” = Dia menarik

Hati2 apabila kekasih anda mengaku kalau dia didekati pria lain dan pria itu “nyebelin”, pria itu harus dipandang sebagai ancaman pertama pada hubungan anda.. Pada pertama kali anda mendekati sang kekasih, dia juga menyebut anda sebagai pria yang “menyebalkan”…

3. “Sendiri juga bisa koq” = Bantuin, goblog !!

Nah, kalo anda tipe yang krang sensitif, lalu anda menawarkan bantuan pada kekasih yang terlihat agak kesusahan, lalu dia berkata “Gapapa, sendiri juga bisa…”, anda melakukan kesalahan fatal. Jangan pernah bertanya apakah dia mau dibantu atau tidak, langsung aja beraksi !

4. “Bentar aja koq…” = Siap2 utk bosan ya..

Entah mengapa, wanita akan memberikan kata2 halus untuk menempatkan dirinya di atas kaum pria. Kalau dia bilang “Sebentar aja koq… / Bentar lagi” itu berarti perintah kepada anda untuk menunggu, dan jangan pernah complain !

5. “Aku cocoknya pake yang mana…” = Aku pake apa aja pantes kan ?…

Kadang anda dihadapkan pada situasi dimana sang pasangan tengah mencocok2an sepatu atau pakaian yang akan dipakainya. Ia akan meminta pendapat anda “Aku cocoknya pake yang mana?”… Hindarilah memilih, dan katakan “Kamu pakai apa juga terlihat cantik koq sayang…”

6. “Lagi pengen sendiri aja…” = Kangen…

Segera hampiri, jangan lupa bawa makanan kecil dan bunga kalo bisa…

7. “Silakan aja…” = Awas aja kalau berani

Kalau sang kekasih menggunakan kalimat ini, itu berarti dia tidak memberi anda ijin, dan apabila anda tetap bersikukuh, siap2 saja dengan perang dunia III !!

8. “Ke sana jauh gak ya ?” = Anterin gua, goblog !

Saat wanita menerima anda sebagai kekasih, anda secara tidak langsung menandatangani kontrak untuk menjadi ‘supir’ pribadi-nya. Jadi kalau anda masih sulit untuk bisa mobile, pikir2 dulu utk punya kekasih…. hehe

9. “Eh yang, kata kamu sepatu itu bagus gak ?” = Beliin gua napa ?

Saat meminta sesuatu, biasanya wanita tidak akan mengungkapkannya secara langsung. Contohnya “Eh katanya makan disana enak lho” artinya pengen ditraktir. “Film ini bagus lho” artinya ngajak ke bioskop. Tanpa modal yang cukup, hindarilah jalan2 ke tempat dimana kalimat ini akan sering digunakan oleh kekasih anda. Bawa saja kencan ke hutan/kuburan !!

10. “Oke, aku yang salah…” = Dasar pria bebal, egois !!!

Kalimat ini biasa digunakan wanita untuk mengakhiri pertengkaran sekaligus menjaga kehormatannya. Sang wanita ingin agar sang pria menyadari dan mengakui kesalahannya, tapi seringkali pria malah berpikir “Akhirnya dia sadar juga…”.

11. “Aku lagi capek nih” = Aku lagi sibuk, kamu mengganggu saja !!

Tidak perlu penjelasan.. hehe

Demikianlah mas Jonny dari Jakarta, sedikit tips2 yang bisa sy kasih buat sekarang, mungkin nanti kamus ini bakal saya lengkapin lagi… Smoga jawaban sy memuaskan..

Surat-surat Petrus

1 PETRUS

Identitas Petrus

Nama aslinya adalah Simon atau Simeon, dan mengingat sifatnya yang kuat seperti “batu” namanya kemudian diubah menjadi “Cephas” oleh Yesus. Dan dalam perkembanganya, orang Romawi akan memanggilnya sebagai Peter atau Petros. Ia mendapat kehormatan sebagai murid pertama Yesus, ia mendapat peran sebagai pemimpin bagi murid-murid lainnya. Yesus bahkan pernah memberikan kunci kerajaan surga kepadanya, yang tentunya ungkapan tersebut harus ditafsirkan secara mendalam, yang artinya Yesus mewariskan misi penyebaran agamanya kepada Petrus.  Ia berlaku sebagai penanggung jawab kesuksesan misi terhadap kaum Gentile dan Yahudi di pengasingan. Petrus, seperti halnya dengan Yakobus dan Johannes mendapat predikat sebagai “Apostles of Circumcision”, yang artinya mereka tetap setia mempertahankan tradisi Yahudi dalam ajarannya kepada kaum Gentile, pemikiran mereka akan bertentangan dengan sang “Apostle of Uncircumcision” alias Paulus dari Tarsus.
Alih-alih dipilih berdasarkan penilaian intelektual, Yesus lebih melihat keteguhan hati dan ketulusan hati Petrus. Ia bagaimanapun hanyalah seorang nelayan Capernaum biasa, bukankah Kisah Rasul 14:3 menegaskan bahwa Petrus tidak lain hanyalah seorang yang tak terpelajar ? Walaupun ia menempati posisi sentral dalam lingkungan pengikut Yesus, keadaanya berubah paska kematian Yesus. Para pengikut Yesus lebih mempercayai Yakobus saudara Yesus sebagai pemimpin mereka, bukan Petrus. Mungkin ini disebabkan oleh hilangnya popularitas Petrus di kalangan pengikut Kristen awal akibat peristiwa pembantahan hubungannya dengan Yesus saat Yesus digelandang umat Yahudi untuk disidang (Mat. 26:69-75), selain  itu ia juga memiliki pendirian yang tidak tetap (menurut Paulus dalam suratnya terhadap orang Galatia).
Apapun kekurangannya, kita harus tetap menghargainya sebagai murid Yesus yang paling utama, dan kita percaya bahwa Yesus memilihnya dengan alasan-alasan khusus. Adalah suatu kejanggalan bahwa kitab suci umat Kristen hanya memuat dua surat yang dianggap ditulis oleh Petrus, sedangkan selusin surat lainnya ditulis oleh Paulus yang jelas-jelas tidak pernah bertemu dengan Yesus. Keadaan ini diperparah dengan diketemukannya berbagai kejanggalan dalam surat-surat tersebut.

Keotentikan

“Dari Petrus, rasul Yesus Kristus…”, sebenarnya pengakuan si penulis sudah cukup jelas melalui pernyataan yang terdapat di awal pembukaan surat ini, tetapi melalui beberapa penelitian textual dapat ditemukan masalah-masalah yang akan menghadang klaim tersebut. Keotentikan surat ini lagi-lagi ditolak oleh sarjana-sarjana radikal Jerman, terutama dipelopori oleh Baur Dkk., adapun alasan mereka dalam menolak kepenulisan Petrus adalah seperti yang dikutip Louis Berkhof berikut   :

Surat ini sangat bergantung kepada surat-surat Paulus, sementara hanya mengandung sedikit ajaran Yesus. Tampaknya kita menemukan kasus yang berkebalikan dengan saat membahas surat Yakobus. Sebagai rasul Yesus yang sehari-hari hidup berdampingan, akan sulit untuk membayangkan bahwa Petrus lebih menguasai ajaran Paulus daripada Yesus. Surat ini memiliki jejak terhadap surat Efesus dan Roma, sehingga Daniel B. Wallace berkesimpulan bahwa dengan dasar surat Efesus ditulis oleh orang tak dikenal setelah kematian Paulus, dengan kata lain Pseudograf atau palsu, maka keputusan yang sama dapat juga diterapkan pada surat 1 Petrus ini. Sedangkan apabila keotentikan surat Efesus diakui, maka akan timbul kesulitan dalam membayangkan bahwa Petrus benar-benar menulis surat ini, mengingat hubungannya dengan Paulus juga tidak terlalu baik. Akhirnya kita tiba pada kesimpulan akhir bahwa surat ini hanyalah sebuah surat Pseudograf, karya seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisannya kepada Petrus.

Keberatan kedua yang cukup diperhitungkan adalah penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini. Petrus hanyalah seorang nelayan Galilea biasa, darimana ia dapat menguasai bahasa Yunani halus seperti yang terdapat pada surat ini, lebih lagi saat mempertimbangkan Kisah Rasul 14:3 yang menyebutkan ketidakterpelajaran (“ajgravmmato”) Petrus. Tetapi ini dapat dijelaskan melalui kemungkinan bahwa Petrus tidak menulis surat ini melalui tangannya sendiri, tetapi melalui peran seorang sekertaris, Markus dan Silvanus dapat menjadi kandidat  dalam hal ini.

Dengan perantaraan Silvanus, yang kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu, bahwa ini adalah kasih karunia yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!”(1 Pet 5;12)

Tetapi itu tidak menjelaskan pertanyaan secara keseluruhan, pengutipan-pengutipan Perjanjian Lama dalam surat ini diketahui dilakukan terhadap Septuagint (Perjanjian Lama berbahasa Yunani). Mengapa seorang Petrus harus mengutip Septuagint dalam penulisan suratnya, bukankah kebanyakan umat Yahudi saat itu maupun sekarang meragukan otoritas Septuagint sebagai kitab suci, mengapa ia tidak menggunakan Perjanjian Lama berbahasa Ibrani atau Aramaik saja, bukankah seluruh murid Yesus tak terkecuali Petrus adalah orang–orang yang menguasai bahasa Aramaik dan sangat sedikit diantaranya yang bisa menguasai bahasa Yunani.

Kesulitan lebih besar selanjutnya adalah saat mempertimbangkan masalah perbedaan penggunaan bahasa Yunani dalam 1 Petrus dengan surat keduanya. Kesimpulan ini semakin memperjelas ketidakmungkinan kedua surat tersebut ditulis oleh orang yang sama, masalah ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian 2 Petrus.

Surat ini menggambarkan kondisi yang tidak terjadi pada masa kehidupan Petrus. Surat Petrus menyebutkan mengenai tindakan penyiksaan luas yang dilakukan terhadap umat Kristen, dan para sarjana radikal menganggap penyiksaan ini baru terjadi pada sekitar akhir abad pertama, pada masa kekuasaan Trajan.

Pembelaan kemudian muncul dari sarjana-sarjana konservatif bahwa penyiksaan yang digambarkan surat Petrus ini merujuk pada penyiksaan yang dilakukan Nero, saat itu ia membakar seluruh kota Roma dengan mengkambinghitamkan orang Kristen sebagai pelakunya, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 64 M.. Sayangnya, surat ini ditujukan kepada jemaat Asia Minor, dan kekejaman Nero tidak sempat mencapai daerah tersebut, oleh karena itu para sarjana berpendapat bahwa surat Petrus tidak menggambarkan penyiksaan Nero, melainkan oleh Dominitian atau Trajan.

Adalah sangat berat untuk membayangkan bahwa Petrus menujukan surat ini kepada Gereja-gereja yang didirikan Paulus. Ajaran kedua tokoh ini sangatlah berbeda, alangkah percumanya apabila Petrus membayangkan jemaat Paulus bersedia mengikuti arahannya.

Pengakuan-pengakuan Bapak Gereja awal mengenai surat ini baru muncul di penghujung abad pertama. Tokoh-tokoh seperti Polycrap, Barnabas, Clement, Hermas, Iranaeus, Papias, Tertullian tampaknya pernah mengenali surat ini, sedangkan Murrotarian canon tidak memuatnya sama sekali.

Beberapa fakta di atas menguatkan perkiraan bahwa surat ini ditulis sebagai karya orang tak dikenal walaupun mengatasnamakan Petrus sebagai penulisnya. Beberapa sarjana kemudian beranggapan bahwa murid Petrus-lah yang menulis surat ini, selama ini kita sudah menemukan beberapa kasus dimana sebuah karya yang diduga kuat tidak ditulis orang yang sesungguhnya, melainkan oleh murid atau pengikut dari orang tersebut. Surat Petrus juga memiliki kemungkinan untuk ditulis oleh murid Petrus, sehingga masuknya pengaruh pemikiran Paulus dapat dipahami.

Tempat dan Waktu Penulisan

Petrus sempat menyebutkan mengenai “Babilon” dalam akhir suratnya, dan melalui penyebutan tersebut kita dapat menentukan tempat penulisan surat ini. Babilon yang dimaksud oleh Petrus diyakini adalah Roma, bukan sebagai daerah asli yang terdapat di daerah Eufrat. Pemilihan kata “Babilon” oleh Petrus daripada “Roma” diduga  dilakukan untuk alasan keamanan atau alasan lain yang tak diketahui.

Bila tempat penulisan umumnya mendapat persetujuan dari para sarjana, tidak begitu halnya dengan waktu penulisan. Saat ini terdapat kurang lebih tiga pendapat mengenai masalah ini, pendapat pertama dikeluarkan oleh sarjana konservatif bahwa surat ini ditulis sebelum tahun 62 atau 64, saat Roma dikuasai oleh Nero dan Petrus diyakini turut wafat pada waktu tersebut. Nero sendiri diyakini melakukan bunuh diri pada sekitar tahun 68 M.. Bila kita memegang teori ini, maka kita juga harus menyakini kepenulisan Petrus pada surat ini, tentu saja dengan beberapa konsekwensi.

Pendapat kedua menyebutkan bahwa surat ini ditulis pada masa kekuasaan Dominitian, antara 90-100 M.. Kemungkinan kepenulisan Petrus terhadap surat ini akan  musnah dengan sendirinya, Petrus telah lama meninggal pada masa ini sehingga ada kemungkinan surat ini ditulis oleh muridnya, atau orang tak dikenal. Pendapat terakhir menyebutkan bahwa surat ini ditulis pada masa kekuasaan Trajan, sekitar awal abad kedua (111 M. ?). Pastinya pada ketiga masa tersebut, Nero, Dominitian dan Trajan, kaum Kristen sedang mengalami penyiksaan dan penindasan, sehingga ketiganya memiliki kemungkinan yang cukup kuat sebagai waktu penulisan. Bila kita mengartikan bahwa surat ini ditujukan penulisnya kepada jemaat di Asia Minor, dimana mereka diduga turut mengalami penyiksaan, Nama Nero harus dicoret dari daftar kemungkinan. Kekejaman Nero terhadap pengikut Kristen diyakini hanya bersifat lokal, yaitu melingkupi area Roma saja. Sedangkan kekejaman Dominitan atau Trajan memiliki cakupan yang lebih luas, diduga telah meliputi kawasan Asia Minor dan sekitarnya.

Dalam menentukan waktu penulisan surat, kita juga harus memperhatikan hal-hal seperti adanya penyebutan terhadap Markus (5:13), penyebutan “hormatilah raja” (2:17), dll.. Kita juga harus memperhatikan anggapan bahwa surat ini memiliki kedekatan dengan surat Efesus. Penentuan waktu penulisan surat Petrus akan sangat berkaitan dengan Surat Efesus yang diduga palsu itu dan ditulis sekitar tahun 80 M., dengan asumsi surat Petrus menggunakan surat Efesus sebagai rujukan, maka waktu penulisannya adalah sekitar tahun 90-110 M., penulisnya pastilah bukan Petrus.

2 PETRUS

Surat pertama Petrus mungkin tidak terlalu menimbulkan kontroversi di kalangan sarjana maupun Gereja Kristen selama berabad-abad, berkebalikan dengan surat kedua Petrus ini, yang memang telah bermasalah sejak jaman Gereja awal hingga saat ini. Walaupun Gereja abad pertama diketahui ragu-ragu menerima surat ini sebagai bagian dari kitab suci, gejala penolakan mulai timbul dari Gereja abad kedua. Mungkin dapat dikatakan bahwa surat 2 Petrus ini merupakan salah satu bagian dalam Perjanjian Baru yang mendapat sedikit perhatian dari para Bapak Gereja Awal, oleh karena itu banyak sarjana modern yang menganggapnya sebagai Pseudograf.

Penggunaan surat 2 Petrus yang paling jelas dilakukan oleh Origen pada awal abad ketiga, walaupun ia menyadari adanya keraguan terhadap surat tersebut. Perlu diingat bahwa tidak ada Bapak Gereja awal sebelum Origen yang secara jelas mengutip surat 2 Petrus, entah apakah mereka tidak mengetahuinya atau tidak menganggapnya sebagai karya Petrus. Kemudian tampilah Eusebius yang menempatkan surat ini ke dalam daftar antilegomena-nya, dengan kata lain ia masih meragukan keotentikan surat ini bahkan menganggapnya palsu. Sejak Jerome pada abad keempat mengakui keotentikan surat ini, walaupun tetap mengakui keraguan dalam dirinya, perdebatan mengenai keotentikan mulai sedikit demi sedikit berkurang, tentunya hingga abad kesembilan belas. Pengakuan Bapak Gereja awal hanyalah salah satu masalah yang menimpa surat 2 Petrus ini, masih ada beberapa masalah berat lain yang harus dilewati untuk dapat mengakui keotentikan surat ini.

Keotentikan

Setiap sarjana yang mendukung keotentikan surat ini harus bisa menjelaskan masalah-masaah besar yang menimpa surat ini, Dan itu bukanlah hal yang mudah. Berikut adalah beberapa masalah tersebut :

Keidentikan dengan surat Yudas. Beberapa bagian surat Petrus, khususnya pasal 2-3, diketahui memiliki kesamaan dengan surat Yudas. Kesamaan-kesamaan tersebut menimbulkan kecurigaan bahwa penulis surat 2 Petrus telah dengan sengaja mengutip surat Yudas, atau sebaliknya. Kummel adalah salah satu sarjana yang mengemukakan masalah ini, dalam karyanya “Introduction to the New Testament, h. 430-4”, ia menemukan keidentikan di antara bagian-bagian berikut :

  • ·    2 Pet 1:5. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,…Jud 3 Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.
  • ·    2 Pet 1:12. Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. Bandingkan Jud 1:5 Tetapi, sekalipun kamu telah mengetahui semuanya itu dan tidak meragukannya lagi, aku ingin mengingatkan kamu bahwa memang Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya.
  • ·    2 Pet 3:2-seterusnya, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. Bandingkan dengan Jud 17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
  • ·    2 Pet 3:14 Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Bandingkan dengan Jud 24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,
  • ·    2 Pet 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya Bandingkan dengan Jud 25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Walaupun contoh dia atas hanya mewakili sebagian kesamaan yang ada, mereka sudah cukup membuktikan adanya saling ketergantungan di antara kedua surat tersebut. Satu hal yang tidak dapat ditolak mengenai masalah ini adalah mengenai adanya kesamaan konsep “Pengajar yang sesat” (false teacher)  dan muatan eskatologi, baik dalam kedua surat tersebut. Ada tiga kemungkinan mengenai masalah ini; Pertama, penulis surat 2 Petrus menggunakan surat Yudas, atau Kedua, sebaliknya penulis surat Yudas-lah yang menggunakan surat 2 Petrus. Ketiga, kedua dokumen menggunakan sumber yang sama. Melalui beberapa pertimbangan, para sarjana modern tampaknya cenderung kepada kemungkinan kedua, penulis surat 2 Petrus-lah yang menggunakan surat Yudas. Dan sejak surat Yudas diyakini ditulis pada sekitar akhir abad pertama hingga awal abad kedua, surat 2 Petrus diyakini ditulis beberapa puluh tahun sesudahnya, mungkin sekitar tahun 125 M. hingga 180 M.. Jejak keberadaan surat 2 Petrus juga baru muncul sekitar tahun 180 M., sejak Clement diduga pertama kali menggunakannya pada tahun tersebut.
Mengenai kesamaan ini telah diakui oleh mayoritas sarjana, penjelasan bahwa kejadian tersebut terjadi secara insidental tidak dapat diterima secara umum. E. M. Sidebottom dalam komentarnya terhadap surat 2 Petrus dan Yudas  menyebutkan :

“Hubungan antara dua tulisan adalah terlalu dekat untuk hanya disebabkan oleh kebetulan tak disengaja.”

Lalu mengapa Petrus harus menggunakan surat Yudas dalam penulisan suratnya ? Para sarjana telah sepakat dalam menentukan waktu penulisan surat Yudas, yaitu beberapa puluh tahun paska kematian Paulus. Sedangkan jangka waktu kematian Paulus dengan Petrus tidaklah terlalu jauh, mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja, keduanya sama-sama tewas pada masa kekuasaan Nero, sekitar tahun 64 M.. Saat membayangkan penulis surat 2 Petrus menggunakan surat Yudas sebagai acuan, maka kemungkinan kepenulisan Petrus akan musnah dalam sendirinya.

Sementara surat 2 Petrus ini mengakui Petrus sebagai penulisnya, gaya penulisan yang digunakan ternyata berbeda dengan surat sebelumnya. Boleh jadi ini merupakan argumen terkuat untuk menolak keotentikan surat ini. Sementara kedua surat disepakati ditulis dalam bahasa Yunani, surat pertama ternyata ditulis dalam bahasa Yunani halus, sedangkan surat kedua menggunakan bahasa Yunani yang lebih keras dan kurang bermutu. Hampir seluruh sarjana modern menganggap kedua surat tersebut sebagai karya penulis yang berbeda. David Meade dalam Pseudonymity and Canon mengakui bahwasanya,

The language and style of 2 Peter is very different from that of 1 Peter.
The two works could not have come from the same man.”

“Bahasa dan gaya surat 2 Petrus sangat berbeda dengan surat 1 Petrus. Kedua karya tersebut tidak dapat datang dari orang yang sama”

Tidak hanya dalam gaya penulisan, baik sarjana seperti Guthrie maupun Kummel selanjutnya mengkritisi adanya perbedaan cara penulis surat 2 Petrus dalam mengutip Perjanjian Lama dan penggunaan konsep-konsep teologi/eskatologi, mereka menyangsikan apabila Petrus benar-benar menulisnya. Kummel kemudian menyebutkan :

“The conceptual world and the rhetorical language are so strongly influenced by Hellenism as to rule out Peter definitely, nor could it have been written by one of his helpers or pupils under instructions from Peter. Not even at some time after the death of the apostle.”

“Konsep dunia dan bahasa retoriknya sangat dipengaruhi oleh Hellenisme dan pastinya berada di luar kekuasaan Petrus, tidak juga ditulis oleh salah satu pengikutnya atau muridnya dalam instruksi Petrus. Tidak juga pada beberapa waktu setelah kematian sang Rasul.”

Diluar masalah apakah Petrus dapat menulis surat dalam bahasa Yunani atau tidak, Secara logika surat 2 Petrus  ini tidak mungkin ditulis oleh orang yang sama dengan yang menulis surat 1 Petrus. Perbedaan gaya penulisan juga mematahkan anggapan bahwa surat ini dikirim kepada tujuan yang sama, dan dikirim beberapa bulan setelah pendahulunya, sangat tidak mungkin apabila seseorang dapat merubah gaya penulisannya dalam waktu beberapa bulan.

Sejak awal surat ini kita sudah dihadapi oleh suatu permasalahan, bila dalam surat pertama si penulis mengaku sebagai, “…Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang…”, berbeda dengan surat kedua dimana ia menyebut dirinya sebagai ,” …Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus,…”. Pertanyaan kemudian timbul, mengapa pada surat pertama si penulis hanya mengaku sebagai “Petrus”, sedangkan pada surat keduanya ia mengaku sebagai “Simon Petrus”.
Beberapa penjelasan mungkin muncul mengenai masalah ini, beberapa sarjana mengemukakan teori adanya pergantian penulis, bila dalam surat pertama Silvanus berperan sebagai penulis sekaligus penerjemah dengan Petrus sebagai sumbernya, kali ini Petrus menggunakan penulis atau penerjemah yang berbeda. Selain itu dalam pasal 3:1 disebutkan ,

“Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu…”

Tetapi penjelasan ini sama sekali kurang dari cukup untuk dapat menyelesaikan seluruh masalah yang terdapat pada surat ini, terutama karena tidak adanya indikasi peran seorang sekertaris dalam surat ini. Dalam surat pertama mungkin peran Silvanus sebagai sekertaris pernah disebutkan secara eksplisit, walau masih ada sarjana ada yang menafsirkan bahwa ayat 1 Pet 5:2  tidak menyebutkan Silvanus sebagai penulis maupun sekertaris. Sebaliknya surat 2 Petrus tidak memuat nama orang-orang yang berperan dalam penulisan surat tersebut, ia juga kurang dalam sambutan-sambutan yang terdapat pada surat sebelumnya. Dalam surat 1 Petrus, sempat terdapat sambutan terhadap Markus, sedangkan surat kedua tidak memuat sambutan kepada seorang pun, ini patut dipertanyakan.

Muatan surat yang menunjukan waktu lebih lanjut. Kummel dan Guthrie adalah salah satu sarjana yang mengemukakan masalah ini, mereka menyoroti adanya indikasi pengetahuan si penulis surat terhadap kumpulan surat-surat Paulus (Paulinum Corpus),

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. (2 Pet 3:15-16)

Ayat tersebut menunjukan bahwa surat ini ditulis sesaat setelah surat-surat Paulus beredar dan mulai dipelajari, peristiwa ini baru terjadi pada akhir abad pertama. Ada beberapa kesulitan dalam hal ini, bila memang Petrus adalah penulisnya, Pertama, sejak kapan Petrus bersedia mengirimkan suratnya kepada Gereja buatan Paulus, mengingat perbedaan yang terdapat dalam ajaran mereka. Kedua, Seberapa pentingkah posisi Petrus dalam Gereja Pauline sejak Paulus menyebutnya sebagai “munafik” dalam suratnya kepada jemaat Galatia 2:14 ? Ketiga, surat-surat Paulus dipastikan belum tersebar pada saat Petrus diduga menulis surat ini, yaitu sekitar tahun 64-66 M.. Pengumpulan surat-surat Paulus baru dilakukan pada akhir abad pertama, maka akan lebih masuk akal apabila surat 2 Petrus ditulis beberapa puluh tahun sesudahnya, kira-kira pada pertengahan  atau quarter pertama abad kedua. Kebanyakan sarjana saaat ini turut mendukung pendapat tersebut. Mengenai penulis surat ini, adalah tepat seperti yang disebutkan oleh Perrin dalam komentarnya terhadap surat 2 Petrus ini :

He is probably the latest of all the New Testament writers, and a date about A.D. 140 would be appropriate.”

“Dia mungkin adalah yang paling terakhir dari seluruh penulis Perjanjian Baru, dan waktu penulisan sekitar tahun 140 M.  akan lebih cocok”

Ada dua ayat lagi yang menimbulkan indikasi bahwa surat ini ditulis lama setelah masa-masa apostolic (rasul-rasul), Pertama terdapat pada pasal 3:4 :

“Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan”. (2 Pet 3:4)

Penyebutan “sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal…” secara tidak langsung menyebutkan bahwa surat ini ditulis lama setelah generasi awal Kristen musnah, termasuk para pengikut utama Yesus. Pendapat ini dikuatkan oleh pernyataan dalam pasal 3:2 :

“Supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu”. (2 Pet 3:2)

Ayat tersebut memunculkan ekspresi aneh yang tidak cocok apabila dikatakan oleh seorang Petrus. Si penulis dalam ayat tersebut tampaknya menggambarkan dirinya berada di luar lingkaran orang-orang terdekat dengan Yesus. Pemakaian  kata “dahulu” turut mengambarkan bahwa surat ini ditulis lama setelah masa-masa kehidupan “nabi-nabi kudus/rasul-rasul” tersebut.

Tiga argumen di atas sudah sangat cukup bagi kita untuk dapat menolak keotentikan surat 2 Petrus ini. Pandangan bahwa surat 2 Petrus ditulis pada abad kedua tampaknya menjadi kemungkinan paling kuat, dan Petrus tentu saja tidak dapat menjadi penulis utama surat ini. Menurut mayoritas sarjana modern, Surat ini adalah karya seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisanya kepada Petrus, ia juga menggunakan surat Yudas sebagai acuan. Pada abad-abad awal, fenomena pengatributan penulisan kepada seseorang yang dihormati adalah hal yang biasa, seseorang dapat saja dengan mudah membubuhkan nama seorang terkenal atau terpandang pada karyanya, tanpa dapat terjerat hukum. Sampai sejauh ini kita sudah dapat menemukan beberapa kitab/surat dalam Perjanjian Baru yang diduga sebagai karya Pseudograf, diantaranya seperti Injil Johannes, surat Efesus, Pastoral, hingga surat 2 Petrus ini, dan fenomena ini akan menimpa beberapa surat selanjutnya. Bagaimanapun kecurigaan Pseudograf pada surat ini bukanlah keputusan mutlak, ada baiknya kita menyimak pandangan tradisional Kristen terhadap surat ini.

Pandangan Tradisional

Setelah membahas argumen-argumen yang memberatkan klaim kepenulisan Petrus, tampaknya tidak adil bila tidak membahas pandangan yagn berseberangan. Mengenai penulis surat menurut pandangan tradisonal, tidak ada perdebatan lagi, yaitu Petrus sang rasul Yesus Kristus. Setelah melihat berbagai argumen yang menyangkal kepenulisan Petrus di atas, kita tentunya akan berfikir dua kali  untuk dapat menyetujui pandangan ini, dan keraguan ini sudah muncul dari abad ketiga saat Origen memutuskan untuk menolak mengakui kepenulisan Petrus. Martin Luther, sang pendiri Protestan juga menempatkan surat ini sebagai “surat kelas dua” dibandingkan surat-surat Paulus, entah karena ia meragukan keotentikanya atau kurang menyetujui muatan surat ini.
Pandangan tradisional lain meliputi tempat dan waktu penulisan. Sejak surat ini tidak menunjukan waktu penulisannya, para sarjana hanya dapat menduga-duga kapan surat ini pertama kali ditulis. Sejak pasal 3:1 menyebutkan bahwa surat ini merupakan surat kedua Petrus, maka pandangan tradisonal memastikan surat ini ditulis berselang beberapa bulan setelah surat 1 Petrus, yaitu sekitar tahun 60-63 M.. Keputusan ini tentu saja menimbulkan beberapa masalah, yaitu ketidakmampuanya dalam menjelaskan masalah penggambaran kondisi Gereja yang tidak cocok apabila ditempatkan pada masa tersebut, selain itu penggambaran musuh Gereja berupa kaum Gnotis juga baru terjadi pada sekitar abad kedua. Kita juga harus mempertimbangkan adanya penggunaan surat Yudas dan beberapa indikasi internal surat yang menunjukan bahwa surat ini ditulis pada waktu yang lebih lanjut. Penentuan waktu sekitar tahun 80 M. sampai 150 M. oleh kebanyakan sarjana dirasa paling cocok. Mengenai tempat penulisan, tampaknya sulit untuk dipastikan. Hanya saja sejak Petrus diduga martir di Roma tahun 64 M. dan surat ini hanya ditulis beberapa saat sebelumnya, Roma merupakan tempat yang paling memungkinkan. Persoalan menjadi lain saat kita menyangkal Petrus sebagai penulisnya, sangat sedikit keterangan yang terdapat untuk bisa menentukan tempat penulisan surat 2 Petrus ini.

MOHON MAAF LAHIR BATHIN

Segenap Pengurus dan Pengelola

BLOG SADNESSSYSTEM

Mengucapkan :

Mohon Maaf Lahir Bathin

Apabila selama ini ada kata2 dan tingkah laku

yang kurang berkenan di hati anda.

Surat Yakobus

SURAT YAKOBUS

Prolog

Kali ini kita akan membahas surat-surat yang termasuk ke dalam kelompok “Catholic Epistles”, dengan surat Yakobus ini mengawalinya. Istilah yang hanya di kenal di kalangan umat Protestan sejak zaman reformasi. Penamaan tersebut dilatarbelakangi oleh materi surat-surat ini yang kerap membicarakan “keimanan plus kerja”, bertentangan dengan doktrin“pembebasan diri dari hukum” Martin Luther yang telah terpengaruh pemikiran Paulus, dan sejak itu surat–surat ini tidak pernah mendapatkan otoritas yang setara dengan surat–surat lainnya dalam Tradisi Protestan. Martin Luther bahkan menempatkan surat ini dalam urutan terakhir Perjanjian Baru versinya.

Umat Protestan mungkin tidak akan mengakui secara terbuka mengenai ketidaksetujuan terhadap beberapa bagian dalam surat-surat ini. Tetapi materi dalam surat-surat Katolik dikenal khas karena paralel dengan ajaran Yesus dalam Injil yang lebih murni. Semua ini hanya membuktikan adanya kontradiksi dalam Bible, di mana di satu sisi terdapat beberapa bagian yang mempromosikan pemikiran Kristen “baru”nya Paulus, sedangkan di sisi lain terdapat pemikiran kontra-Pauline yang dimuat salah satunya dalam Catholic Epistles ini.

Surat Yakobus, walaupun diduga kuat ditulis dalam bahasa Yunani, merupakan surat yang paling bersifat “Yahudi” dibanding surat atau kitab lainnya dalam Perjanjian Baru. Ia juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ajaran Kristen teruta, yang terdapat dalam khutbah Yesus di atas bukit. Sejauh ini kita hanya menemukan beberapa surat/kitab yang memiliki sifat “Yahudi” yaitu Injil Matius dan surat Ibrani, sebagaimana dikemukakan dalam International Standard Bible Encyclopedia.

bahkan seluruh kitab ini (Matius dan Ibrani) memiliki elemen Kristiani tersendiri didalamnya dibandingkan dengan apa yang bisa kita temukan dalam Surat Yakobus

Guthrie dalam New Testamen Introduction mengatakan :

“there are more parallels in this Epistle than in any other New Testament book to the teaching of our Lord in the Gospels”

Surat ini memuat lebih banyak paralel terhadap ajaran Yesus dibandingkan dengan kitab Perjanjian Baru lainnya dalam Injil.”

Ciri utama surat Yakobus adalah kentalnya pemaparan terhadap pentingnya ketaatan terhadap hukum Taurat atau hukum yang diajarkan Yesus, secara jelas ia memiliki hubungan dengan konsep Kristen yang dimuat dalam Injil Q. Konsep Kristen yang lebih muda versi Paulus yang mencakup konsep kebangkitan dan inkarnasi Yesus tidak dikenal dalam surat ini. Surat ini memiliki kedekatan dengan Injil Matius khususnya tehadap bagian khutbah di atas bukit, kita akan dengan mudah memahaminya karena kedua penulisnya memiliki latar belakang Yahudi yang kental, kedua penulisnya juga diduga memiliki hubungan kerabat dengan Yesus. James Tabor merangkum kedekatan suber Q dan ajaran Yakobus sebagai berikut :

AJARAN-AJARAN YESUS DI DALAM SUMBER Q AJARAN_AJARAN YAKOBUS
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. (Luk 6:20) Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? (Yak 2:5)
Oleh karena itu, barangsiapa melanggar salah satu dari perintah-perintah itu, sekalipun yang terkecil, dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi yang paling kecil di antara umat Allah. Sebaliknya, barangsiapa menjalankan perintah-perintah itu dan mengajar orang lain berbuat begitu juga, akan menjadi besar di antara umat Allah. (Mat. 5:19) Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (2:10)
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (1:22)
apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Mat. 7:11) Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; …(1:17)_
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu (Luk 6:24) Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! ( 5:1)
Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan., Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya… Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5:34-35, 37) Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.(5:12)

Siapapun penulis surat ini, ia adalah seseorang yang dekat kepada ajaran Yahudi dan mengenal Yesus secara langsung, ini dibuktikan dengan adanya referensi terhadap khutbah di atas bukit dan keparalelan materi dengan sumber Q di atas.

Karakter

Yakobus memaparkan dalam gaya bahasa ceramah yang menggunakan kata-kata tajam. Ia tidak melibatkan masalah atau pengalaman-pengalaman pribadinya dalam surat ini. Sehingga sangat sulit untuk dapat menghubungkan sejarah penulisan ini dengan identitas penulis sesungguhnya atau dengan catatan sejarah yang ada. Berbeda dengan Paulus, yang dalam beberapa suratnya sempat memuat kisah-kisah pengalaman pribadinya, sehingga sejarah penulisannya dapat dirunut dan identitas penulisnya umumnya tidak sulit ditentukan.

Melalui identifikasi teks, Berikut adalah beberapa karakter khusus yang ditemukan para sarjana terhadap surat Yakobus ini :

    • Sifat Yahudi yang kental.

      Telah dijelaskan sebelumnya bahwa latar belakang Yahudi pada penulis surat sangat terlihat jelas. Yakobus menujukan surat ini kepada “…kedua belas suku di perantauan ”, alias kaum Yahudi yang terdiaspora atau yang tinggal di daerah-daerah asing dimana mereka menjadi minoritas. Dapat juga kita artikan sebagai kaum Kristiani yang tersebar akibat tindakan represif Romawi.

      Kaum Yahudi manapun yang berbahasa Yunani akan sangat familiar dengan materi yang dimuat dalam surat ini. Dengan contoh saat si penulis surat menyebut Ibrahim sebagai ayah mereka, Sinagoga sebagai tempat pertemuan, dan Tuhan sebagai “Lord of Sabbaoth”, istilah-istilah ini akan sangat mudah dicerna dan diterima oleh kaum Yahudi. Para sarjana bahkan menyebut surat Yakobus sebagai surat “paling Yahudi” dalam Perjanjian Baru.

      Yakobus tampak memberi semangat terhadap kaum Yahudi di perantauan agar tetap setia menjalankan hukum Taurat. Berbeda dengan keadaan di daerah bermayoritas Yahudi, kaum Yahudi perantauan harus menerima tantangan lebih keras untuk mempertahankan ketaatanya terhadap Taurat. Mereka hidup di bawah tekanan mayoritas Gentile yang menganggap aneh dan jijik segala perilaku kaum Yahudi. Ketaatan terhadap hukum Tuhan (Taurat) ini menjadi garis pembatas yang membedakan kaum Yahudi dengan kaum kafir, karena kaum kafir/Gentile hanya menjalankan hukum yang dibuat berdasarkan kemauan atau kebutuhannya sendiri.

      Seluruh materi dalam surat ini didasarkan atas Perjanjian Lama dan sumber Q. Yakobus hampir-hampir tidak memuat materi Kristen versi Paulus, sesuai dengan pernyataan Yesus,

      Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
      Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
      (Mat 5:17-18)

        • Otoritatif.

          Surat ini tampaknya ditulis oleh seorang yang memiliki kekuasaan atau namanya cukup terpandang di antara pembacanya. Maka tak aneh apabila surat Yakobus hanya memuat sedikit materi teologis, tetapi lebih banyak memuat seruan atau nasihat yang menyemangati. Hal-hal tersebut sangat berbeda dengan tulisan-tulisan Paulus yang seringkali berada dalam posisi defensif. Yakobus seringkali berbicara dari sudut seorang pemimpin, dan seruan-seruannya mengikuti gaya Nabi-nabi Perjanjian Lama atau Yesus. Senada dengan hal tersebut, International Standard Bible Encyclopedia menyebutkan :

          He has been called “the Amos of the New Testament,” and there are paragraphs which recall the very expressions used by Amos and which are full of the same fiery eloquence and prophetic fervor.”

          Dia telah disebut sebagai “Amos-nya Perjanjian Baru”, dan disana terdapat paragraf-paragraf yang mengingatkan terhadap ekspresi-ekspresi yang pernah digunakan Amos dan dipenuhi oleh ungkapan berapi-api serta semangat kenabian.”

          Semua ini membuktikan bahwa penulisnya adalah seorang penguasa umat, dan dalam hal ini pikiran kita akan tertuju kepada seorang “Yakobus” yang berkuasa sebagai kepala Gereja Jerusallem. Ia sempat disebutkan dalam surat-surat Paulus atau Kisah Rasul. Pembahasan mengenai identitas penulis surat ini akan dibahas lebih lanjut nanti.

            • Mirip Yesus dan berbeda dengan Paulus.

              Gaya bahasa Yakobus yang kerap menggunakan sindiran langsung, perumpamaan dari kehidupan sehari-hari, seluruhnya merupakan gaya bahasa Yesus. Sebaliknya, ia sama sekali berbeda dengan Paulus, baik dari gaya maupun teologi.

              Para sarjana telah mengakui bahwa penulis surat ini telah menguasai bahasa Yunani yang halus, dan menumpahkannya dalam tulisannya. Tetapi mereka merasa kesulitan saat membayangkan Yakobus, seorang Yahudi Palestina anak seorang tukang kayu, menghasilkan sebuah karya bernilai tinggi dalam bahasa Yunani yang menggugah. Keraguan mereka sebenarnya dapat dijelaskan dengan sederhana, Yahudi Palestina saat itu diketahui mampu dalam menggunakan dua bahasa, Aramaik dan Yunani. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka penguasaan bahasa Yunaninya akan semakin tinggi. Mungkin saja, Yakobus telah mendapatkan pendidikan tinggi tersebut, sehingga ia kurang mempercayai keajaiban-keajaiban yang dilakukan Yesus (John 7:5). Selain itu, berhasilnya ia dalam menduduki jabatan tinggi di Gereja Jerusallem membuktikan bahwa keunggulan intelektualnya melebihi murid-murid Yesus, contohnya Petrus atau Johannes yang disebut “tidak terpelajar” (Kis Ras 4:13). Peran seorang sekertaris juga dapat dipertimbangkan, bukannya tidak mungkin apabila Yakobus menggunakan jasa seorang sekertaris sekaligus penerjemah dalam penulisan suratnya. Paulus, di lain pihak, seseorang yang menggunakan bahasa Yunani dalam kehidupan sehari-harinya, tetap tidak bisa menyajikan bahasa Yunani halus dalam surat-suratnya, apakah Roh Kudus tidak membantunya dalam hal ini ?

              Dalam hal teologi, Yakobus dan Paulus menempati sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi Yakobus menegaskan bahwa penyelamatan hanya bisa diraih melalui keimanan dan kerja (ketaatan terhadap hukum), sedangkan Paulus memproklamirkan penyelamatan melalui keimanan semata. Sangat sulit untuk menemukan titik temu di antara kedua pemikiran ini. Beberapa Umat Kristen menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara ajaran Yakobus dan Paulus, yang ada adalah keduanya saling melengkapi satu sama lain. Pernyataan ini tidaklah logis, jelas sekali bahwa seseorang haruslah memili apakah ia mau mengikuti ajaran Paulus atau Yakobus. Martin Luther dapat dijadikan contoh, ia menemukan kontradiksi ini dan memilih untuk mengikuti ajaran Paulus daripada mengikuti Yakobus, ia bahkan menyebut surat Yakobus ini sebagai “surat jerami”, tidak berbobot dan tidak bernilai. Ia menyebutkan mengenai surat Yakobus ini dalam suratnya,

              However, to state my own opinion about it, though without prejudice to anyone, I do not regard it as the writing of an apostle,…”

              Yakobus yang terkenal

              Dalam pembukaan surat ini, si penulis sudah dengan jelas menyebutkan namanya,” Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus”, Yakobus atau “VIakwboj” dalam bahasa aslinya, merupakan nama yang sangat umum bagi penduduk Judea saat itu. Yesus sendiri memiliki beberapa kerabat yang memiliki nama “Yakobus”. Mereka semua memiliki peluang yang sama untuk dapat menjadi penulis surat ini. Permasalah menjadi semakin rumit akibat adanya perbedaan pendapat di kalangan bapak Gereja Awal mengenai identitas sang “Yakobus” ini. Tetapi saat ini diakui bahwa kekuatan otoritas Yakobus saudara Yesus, pemimpin gereja Kristen awal cukup kuat. Berikut adalah beberapa “Yakobus” yang dapat menjadi alternatif penulis surat ini.

                • Yakobus, anak Zebedeus atau saudara Johannes

                  Mengenai Johannes anak Zebedeus telah kita bahas sebelumnya pada bab Injil Johannes. Permasalahan yang menimpa surat Yakobus tidak jauh berbeda saat kita membahas Injil Johannes. Kita masih berkutat di seputar penggunaan nama, yang mungkin pada saat itu sangat lazim digunakan.

                  Dalam catatan Injil terdapat sepasang kakak-beradik bernama Johannes dan Yakobus anak seorang Zebedeus yang berprofesi sebagai nelayan di Galilea (Mat 4:17-22). Kakak-beradik ini nantinya akan menjadi murid Yesus (Mat 10:2).

                  Saat kita membayangkan Yakobus anak Zebedeus sebagai penulis surat ini, kita akan berhadapan dengan beberapa masalah. Pertama, sepertihalnya dengan Johannes, Yakobus hanyalah anak seorang nelayan Galilea biasa, yang mustahil untuk dapat menggunakan bahasa Yunani halus, yang terdapat dalam surat ini. Baiklah mungkin kesulitan yang sama juga akan muncul saat membayangkan seorang Yakobus anak Yusuf “si Tukang Kayu” menulis surat ini, tetapi kita kesampingkan dulu masalah ini. Selain itu, menurut catatan Kisah Rasul 12:1-2, Yakobus ini dieksekusi sekitar tahun 44 M. melalui perintah Herod. Surat ini menunjukan waktu penulisan yang lebih lanjut dari tahun 44 M., dan sejak surat ini memperlihatkan bahwa penulisnya memiliki kekuasaan atas umat Yahudi, nama “Yakobus anak Zebedeus” dapat kita eliminasi dari daftar kemungkinan. Adalah harus kita perbedakan antara antara status “Saudara”, “rasul” dan “murid” Yesus. Status saudara dalam Injil lebih digunakan pada hubungan yang bersifat kekeluargaan, sedangkan rasul atau murid digunakan pada tingkat yang lebih rendah yaitu sekadar hubungan guru dengan pengikutnya. Fakta bahwa Yakobus tidak menyertakan gelar “murid Yesus” merupakan argumen terkuat yang membuktikan status si penulis bukanlah sekadar “murid” Yesus.

                    • Yakobus anak Aphaeus

                      Teori ini dikemukakan oleh John Calvin. Yakobus yang ini kurang dikenal, ia adalah saudara Matius dan hanya dimuat dalam Matius 10:3. Matius dan Yakobus merupakan anggota 12 Rasul Yesus. Beberapa sarjana kemudian menyamakan “Yakobus” ini terhadap “Yakobus saudara Yesus” berdasarkan anggapan bahwa penyebutan “saudara” di sini bukan berarti hubungan keluarga, melainkan kedekatan atau keakraban. Sayangnya mereka melewatkan fakta bahwa Injil membedakan penyebutan antara saudara, rasul dan murid Yesus. Perhatikanlah ayat berikut :

                      Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja. (John 2:12)

                      Perhatikan bahwa penulis Injil Johannes dengan sengaja membedakan penyebutan “saudara” dengan “murid” Yesus.

                      Teori Calvin tersebut mendapat perhatian serius di kalangan mayoritas sarjana, mereka masih mempercayai apabila Yakobus anak Alphaeus dan Yakobus saudara Yesus merupakan dua pribadi yang berbeda.

                        • Yakobus ayah Yudas (bukan Escariot). Kisah Rasul 1:15 menyebutkan :

                          Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.”

                          Sedikit keterangan yang terdapat mengenai orang ini. Ia bukanlah seorang Rasul maupun pengikut Yesus, ia hanyalah ayah dari seorang Rasul bernama Yudas (bukan Escariot). Tidak ada dukungan apapun terhadap kepenulisannya dalam surat ini.

                            • Yakobus saudara Yesus

                              Yakobus yang ini adalah yang paling terkemuka diantara “Yakobus-Yakobus” lainnya. Menurut beberapa sarjana, saat Maria menikahi Yusuf (setelah Yesus lahir), ia kemudian melahirkan beberapa anak lagi yang salah satunya bernama “Yakobus” ini. Atau versi lain menyebutkan bahwa Yusuf telah memiliki beberapa anak sebelum menikahi Maria. Karena memiliki orang tua yang sama dengan Yesus, maka ia dikenal sebagai “saudara Yesus”. Penyebutan mengenai Yakobus dalam Injil pertama kali muncul dalam Matius 13:55 :

                              Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yacobus , Yusuf, Simon dan Yudas?

                              Markus 6:1-6 bahkan menyiratkan adanya saudara-saudara Yesus yang berjenis kelamin perempuan.

                              Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Mark 6:3)

                              Sebagian orang yang merasa mempercayai keperawanan sejati Maria mungkin akan gerah dengan pernyataan tersebut. Keterangan sejarah mengenai saudara-saudara Yesus sangatlah sedikit sehingga seseorang di jaman modern bisa memperkirakan bahwa garis keturunan Maria (melalui saudara-saudara Yesus) masih ada hingga saat ini, walaupun hal tersebut akan sulit untuk dilacak.

                              Meskipun demikian Yakobus tidak menyebut dirinya sebagai saudara Yesus dalam surat ini disebabkan oleh kerendahan hatinya atau asumsi bahwa para pembaca sudah mengetahui hal tersebut sehingga tidak perlu ditegaskan kembali. Berbeda dengan gaya penulisan para Murid Yesus yang selalu menyertakan gelarnya sebagai murid Yesus dalam pembukaan suratnya (I Pet 1:1, II Pet 1:1).

                              Walaupun tidak termasuk ke dalam 12 Rasul, ia dikenal sebagai tokoh yang adil, artinya ia memilki kharisma yang cukup kuat di kalangan pengikut Yesus, khususnya kaum Yahudi. Ia merupakan kepala Gereja Jerusallem bersama dengan Johannes dan Petrus, ketiganya disebut Paulus sebagai “The Three Pillars” akibat keteguhannya dalam memegang ajaran sejati Yesus. Injil-injil berusaha mengecilkan peran murid dan keluarga Yesus dalam perkembangan sejarah kristiani awal, sebaliknya mereka memberikan pondasi bagi doktrin Paulus. Hal ini terlihat jelas pada Injil Lukas danKisah para rasul.

                              Yakobus saudara Yesus merupakan kandidat terkuat penulis surat ini, dilihat dari penguasaan bahasa Yunani, nada otoritas pada tulisannya, dan pertentanganya terhadap pemikiran Paulus. Tidak banyak orang Kristen saat ini yang mengetahui bahwa Yakobus merupakan pemimpin tertinggi Yahudi Jerusallem pasca kematian Yesus. Ia dipilih berdasarkan kepandaian dan integritasnya yang melebihi pengikut Yesus lainnya. Maka tidaklah aneh apabila ia bisa menguasai bahasa Yunani secara lancar, tidak seperti Petrus atau Johannes yang dikenal “tidak terpelajar” (Kis Ras 4:13). Penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini bahkan diakui para sarjana sebagai “salah satu yang terbaik” dalam Perjanjian Baru, secara tidak langsung menyebutkan bahwa Yakobus adalah seseorang yang sangat terdidik. Injil Thomas, salah satu Injil Apokrip yang diakui keotentikannya menyebutkan kepercayaan Yesus terhadap saudaranya tersebut. Disebutkan bahwa :

                              The disciples said to Jesus, “We know that you are going to leave us. Who will be our leader?” Jesus said to them, “No matter where you are, you are to go to James the just, for whose sake heaven and earth came into being.” (Thomas, Saying no. 12)

                              Walaupun menggunakan bahasa Yunani, nuansa Yahudi tetap kental dalam karyanya. Ia juga dikenal sangat familiar terhadap Perjanjian Lama, terutama saat menggunakan frase “Lord of Sabaoth” dalam 5:4.

                              Berdasarkan catatan Injil, Yakobus sama sekali tidak menganggap saudaranya (Yesus) sebagai Tuhan. Lupakan terjemahan baru surat ini yang kerap menyebut Yesus sebagai Tuhan. Kesalahan terjemahan atau penyisipan ini seringkali terjadi pada Injil sebagai bukti penyelewengan terhadap kitab suci. Parahnya terjemahan Indonesia mengikuti terjemahan Inggris yang kerap menyebut Yesus sebagai Lord (dengan L besar), entah apakah gelar tersebut memiliki arti yang sama dengan God (kerap diartikan sebagai Bapa atau allah). Padahal penulis aslinya mungkin tidak bermaksud demikian, yang mereka maksudkan adalah Yesus sebagai lord (dengan L kecil) yang berarti tuan atau Raja. Kaum Yahudi saat itu memang lebih menganggap Yesus sebagai raja mereka (Messiah) alih-alih sebagai Tuhan. Sungguh hanya perbedaan penggunaan huruf kecil dan besar, tetapi arti yang dihasilkan sangatlah berbeda.

                              Yakobus adalah seorang yang sehari-hari berhubungan dengan Yesus, tetapi tidak pernah melihat adanya ciri-ciri ketuhanan dalam diri Yesus. Ia baru mempercayai kekhususan pada diri Yesus saat menyaksikan kebangkitannya (?), tetapi ia sama sekali tidak pernah mengungkapkan perihal peristiwa kebangkitan ini dalam suratnya. Umat Kristen seringkali menganggap dirinya sebagai orang munafik karena ketidakpercayaanya terhadap ketuhanan Yesus, ini bisa dipahami karena mereka melihatnya dari sudut pandang Paulus. Yakobus bagaimanapun adalah seseorang yang integritasnya lebih kuat daripada Paulus, selama kurang lebih tiga puluh tahun ia mengenal Yesus secara personal, bandingkan dengan Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus barang sedetik pun (kecuali saat mengalami penampakan yang kontroversial). Yakobus memiliki latar belakang Yahudi yang kuat, ia tidak mau meninggalkan hukum-hukum Yahudi karena ia yakin bahwa ajaran Yesus tidak bertentangan dengan ajaran Yahudi. Selama hidupnya ia tetap mempertahankan “kewajiban berkhitan” bagi mualaf Kristen yang berasal dari kalangan Gentile, Paulus di lain pihak, berusaha melawan ketetapan ini selama hidupnya. Kehidupan asketis turut dijalani Yakobus sebagai bukti ketaatanya terhadap ajaran Yesus, ini bisa kita lihat melalui pernyataan-pernyataan dalam suratnya :

                              Saudara-saudara, orang-orang kaya! Dengarkanlah nasihat saya. Hendaklah kalian menangis dan meratap karena kalian akan menderita sengsara!” (Jac 5:1)

                              Secara umum, isi surat ini menegaskan bahwa umat Kristen hendaknya selalu berpulang kepada ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari dan tidak meninggalkan hukum taurat. Saat Yakobus mengetahui bahwasanya ajaran Paulus bertentangan dengan ajaran Yesus, ia segera mengutus Petrus ke Antiokia. Dari sana Paulus kemudian mengunjungi Gereja Jerusallem untuk meminta konfirmasi dengan Yakobus, sayangnya sebelum musyawarah mencapai ketetapan final, Paulus segera ditangkap kaum Yahudi di sana dan dikirim ke Roma. Sebelumnya Yakobus tetap setia kepada pendirianya untuk mewajibkan berkhitan, tetapi Paulus juga tetap pada pendiriannya untuk menetang kewajiban tersebut. Keputusan Paulus ini membuatnya kehilangan hubungan dengan Barnabas dan Petrus, sejak saat itu ia tidak lagi memiliki hubungan dengan pengikut Yesus.

                              Kekuasaan Yakobus tidak berlangsung lama di Jerusallem, pengaruhnya tidak sempat tersebar luas disebabkan oleh adanya hal-hal berikut :

                              • Kuatnya pengaruh kaum Gentile pengikut ajaran Paulus yang menetang pemberlakuan hukum Taurat. Paulus telah berhasil membuat jarak dikotomi antara kaum Yahudi-Kristen dengan kaum Gentile-Kristen. Perpecahan ini meyebabkan berkurangnya kekuatan kaum Kristen sehingga mereka harus menjadi objek penindasan dari kekaisaran Roma.

                              • Tekanan kaum Aristokrat Yahudi cukup berpengaruh terhadap pengeksekusian Yakobus, yang menurut Josephus terjadi sekitar tahun 62 M.. Kepemimpinan Gereja Jerusallem paska Yakobus tidaklah sekuat sebelumnya, apalagi setelah kuil Jerusallem dihancurkan pada tahun 70 M..

                              Kematian Yakobus tidak langsung membuat pengaruhnya hilang seketika. Ajarannya cukup terjaga dalam kaum Ebionit, tetapi lama kelamaan melemah akibat tekanan Kekaisaran dan membesarnya pengaruh ajaran Paulus. Saat ini bisa dikatakan bahwa umat Kristen telah sama sekali melupakan peranan seorang “Yakobus” ini. Mereka lebih tertarik untuk mengutip surat-surat Paulus dibandingkan suratnya, sungguh dilematis mengingat ia adalah salah seorang penulis Perjanjian Baru yang memiliki hubungan terdekat dengan Yesus.

                                • Pseudo-Yakobus

                                  Artinya surat Yakobus ini hanyalah pekerjaan seorang tak dikenal yang mengatributkan penulisannya kepada Yakobus. Ia kemungkinan adalah pengikut atau murid Yakobus, sehingga ia familiar dengan ajarannya. Sejak surat ini diduga ditulis pada sekitar awal abad kedua hingga pertengahan, penulisan oleh Yakobus menjadi semakin mustahil (ia diduga wafat sekitar tahun 62 M.). Masalah penentuan waktu penulisan surat ini akan dibahas pada bagian keotentikan.

                                  Keotentikan

                                  Masalah keotentikan surat ini akan sangat bergantung kepada penentuan waktu penulisannya. Bila kita perlakukan Yakobus saudara Yesus sebagai penulis surat ini, maka waktu penulisannya pastilah sebelum tahun 62 M., tahun kematiannya. Keputusan ini diperkuat oleh tidak adanya penyebutan mengenai kehancuran kuil Jerusallem, kontroversi muallaf Yahudi dan Gentile, indikasi eksistensi kaum gnostis, serta peran deakon atau uskup dalam Gereja. Selain itu “sinagoga” masih dianggap sebagai tempat pertemuan para umat Kristen, dan penyebutan “penindasan” dalam 2:6 menggunakan present tense. Surat ini hanya beredar di antara Gereja-gereja Yahudi-Kristen, dan tidak dikenal dalam kalangan Gentile-Kristen, oleh karena itulah surat ini mengalami banyak penolakan pada awalnya. Beberapa sarjana kemudian ada yang menetapkan waktu lebih akhir, sekitar tahun 100-150 M., tetapi perkiraan ini hanya didasarkan oleh bukti eksternal, mengingat bapak Gereja awal pertama kali menyebutkan surat ini pada masa-masa tersebut. Tetapi seperti telah kita lihat sebelumnya bahwa bukti internal surat ini menunjukan waktu yang lebih awal.

                                  Sejak abad pertama, keotentikan surat ini telah diragukan, diantaranya oleh Theodore dari Mopsuestia, ia memasukan surat ini ke dalam kelompok Deuterocanonical. Beberapa abad kemudian, Eusebius memasukan surat ini kedalam antilegomena-nya dan Murotarian canon menghilangkannya. Semua ini disebabkan karena gereja Barat belum secara umum mengakuinya. Sebaliknya, beberapa bapak Gereja awal mengutipnya sebagai kitab suci, diataranya adalah Clement dari Roma (sebelum 100 M.), Hermas (150 M.), Iranaeus, Clement dari Alexandria, Justyn Martyr, Origen, Athanasius, Dyonisius, Tertullian, St Hilarry, St. Philaster, Pope Damascus, Jerome, dll. (Catholic Encyclopedia).

                                  Kesimpulannya, Perjanjian Baru tidak hanya memuat kontradiksi kata-perkata, ayat-perayat, tetapi turut memuat kontradiksi dalam bentuk teologi. Hal ini tentu saja dapat membingungkan umat Kristen di manapun. Umat Protestan cukup berani dalam memutuskan untuk menyimpan otoritas surat ini di bawah surat-surat Paulus, sesuai dengan ajaran Luther. Menurut pandangan pribadi saya, surat ini seharusnya menempati posisi yang sebaliknya, otoritasnya seharusnya melebihi surat-surat Paulus, tentu saja dengan dasar sebagai berikut :

                                  • Kedekatan hubungan Yakobus dengan Yesus.

                                  • Peranan Yakobus dalam Gereja Jerusallem, tempat bernaungnya kekuatan pengikut Yesus awal. Kedudukan Yakobus dianggap setara dengan Petrus atau Johannes menurut Paulusdan Josephus.

                                  • Keotentikan surat yang cukup kuat. Sejauh ini kita tidak menemukan adanya bukti Interpolasi atau penyusupan yang menonjol dalam surat ini. Dengan pengandaian Yakobus benar-benar menulis surat ini, maka surat ini dapat disebut sebagai surat tertua yang ditulis dalam Perjanjian baru, yaitu sekitar tahun 47-49 M.. Mengenai beberapa sarjana yang mempermasalahkan penggunaan bahasa Yunani dalam surat ini telah saya berikan penjelasan terhadapnya sebelumnya.

                                  Medieval Torture – Brazen Bull

                                  Seri kedua metode penyiksaan di abad pertengahan.

                                  Metode penyiksaan yang satu ini sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman Yunani kuno, ditemukan oleh Perillos dari Athena. Ia mengajukan metode ini kepada Phalaris, seorang pemimpin tiran dari Akraga. Phalaris menyetujui idenya, dan lantas dilaksanakanlah metode hukuman ini.

                                  Apesnya, Saat alat ini selesai dibuat, Phalaris malah menyuruh Perillos sendiri untuk mencoba alat hukuman ini. Perillos memang tidak mati di dalam alat buatannya, namun ia tetap saja mati, ketika ia dilempar ke sebuah jurang oleh Phalaris.

                                  Secara penampilan, alat ini persis menyerupai seekor banteng yang terbuat dari logam, dengan pintu di luarnya.

                                  Si korban akan disimpan di perut “banteng”, dan api akan dinyalakan dibawahnya. Dengan kata lain si korban direbus dalam udara panas. Semakin berat kejahatan si korban, maka akan semakin lama ia berada di tempat menyiksa itu.

                                  Untuk lebih “menyemarakan” hukuman, bangsa Yunani kemudian menambahkan lubang sehingga teriakan korban akan terdengar seperti suara banteng. Asap juga akan keluar dari hidung banteng tersebut.

                                  Surat Paulus kepada Filemon

                                  Identitas Filemon

                                  Dari pembukaan surat ini kita bisa menemukan bahwa Filemon merupakan salah satu pengikut Paulus yang memiliki hubungan cukup dekat dengannya, Paulus menyebutkan ,” ..kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (Fil 1:1). Paulus mengenal Filemon mungkin saat menetap sementara di Efesus. Filemon kemudian diutus Paulus untuk menjalankan misi di Kolose, ia masih menetap di sana saat Paulus menulis surat ini di penjara.

                                  Keotentikan

                                  Secara umum surat sepanjang 1 pasal ini telah diakui keotentikannya. AQ Morton yang melakukan perbandingan gaya penulisan pada seluruh karya Paulus melalui komputer, menemukan bahwa hanya surat Roma, Korintus, Galatia dan Filemon yang nilai keotentikanya relatif setara.
                                  Penempatan setelah surat Titus membuat beberapa orang beranggapan bahwa surat ini termasuk ke dalam kelompok Pastoral, tetapi pada kenyataannya surat ini adalah salah satu anggota Prison Epistles. Menurut rekonstruksi sejarah, seorang budak Filemon bernama Onesimus melarikan diri darinya menuju Roma. Disana ia menyempatkan diri untuk bertemu Paulus.
                                  Paulus kemudian mengirim surat rekomendasi kepada Filemon yang tiada lain adalah surat Filemon ini. Surat ini berisi saran bagi Filemon agar ia mau menerima kembali Onesimus dalam rumahnya. Surat ini ditulis dan dikirim bersamaan dengan dua surat lainnya, surat Efesus dan Kolose. Saat menulis ketiga surat tersebut Paulus tengah berada dengan Timotius (1:1).
                                  Dalam hal keotentikan, baik bukti internal maupun eksternal mengakuinya. Beberapa bapak gereja awal dipastikan pernah mengetahui eksistensi surat ini. Pandangan kritis kemudian dikemukakan oleh Baur, ia terpaksa mengeluarkan pandangan ini karena ia menolak keotentikan kedua surat penjara lainnya.
                                  Surat ini adalah surat terkahir dalam Perjanjian Baru yang penulisannya diatributkan kepada Paulus. Melalui evaluasi sementara, kita telah menemukan berbagai kesalahan dan keraguan dalam surat-surat Paulus. Berikut adalah sedikit kesimpulan terhadap pembahasan-pembahasan sebelumnya.

                                  Dari keseluruhan surat, hanya surat Roma, Galatia, Korintus, 1 Tesalonika, Filipi dan Filemon yang dapat diyakini kepenulisanya oleh Paulus sendiri.
                                  Keotentikan surat-surat seperti Kolose, 2 Tesalonika dan Efesus masih diragukan, tidak sedikit sarjana yang menolaknya.
                                  Seluruh surat Pastoral dapat dikatakan sebagai surat palsu. Paulus diyakini tidak pernah menulis surat-surat tersebut.

                                  Berbagai kesimpulan tersebut tentu menyakitkan bagi sebagian umat Kristen, padahal berbagai penemuan tersebut tidak lain dihasilkan oleh sarjana-sarjana dari kalangan mereka sendiri. Umat Kristen tentunya harus mengetahui sejarah penulisan kitab suci mereka daripada hanya mengutip secara bebas ayat-ayat di dalamnya. Pengutipan ayat-ayat Bible tidak boleh dilakukan sembarangan karena kadang memiliki konteks yang berbeda.

                                  • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

                                  • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

                                    Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

                                  • NEW PRODUCT!

                                    Sehat Kuat bagai Hansip!

                                  • Blog bebas iklan dan pornografi