Bujangga Manik – Konsep Mandala

Kakara cu(n)duk ti Gunung,

Kakara datang ti Wetan,

Cu(n)duk ti Gunung Demalung

Datangna di Pamrihan Demalung

Datang ti lurah Pajajaran

Tulisan berikut ini saya sarikan dari artikel Pujangga Manik, Rsi Hindu-Sunda karya KRT. Kusumotanoyo yang dimuat dalam buku Gema Yubileum HIK Yogyakarta tahun 1987 serta beberapa sumber lain. Semoga dapat memberikan sedikit informasi mengenai Pujangga Manik, yang tidak lain merupakan tokoh penginspirasi kegiatan komuntas Aleut! (halah..) Melalui perjalanannya kita dapat menemukan berbagai makna-makna filosofis yang masih berguna hingga saat ini.

Pujangga Manik hidup dalam abad ke XV. Dalam riwayatnya banyak disebut kota Pakuan, yang sekarang merupakan kota Bogor. Dia adalah seorang Resi Hindu-Sunda. Beberapa kali dia mengadakan perjalanan jauh menjelajah pulau Jawa. Segala pengalamannya dia tulis pada Lontar, terkenal sebagai Octo-Syllabic (Berwujud butir-butir pokok sebanyak delapan (oktaf) jilid, atau sepuluh jilid. Anehnya , bahwa berkas itu sejak 1627 tersimpan pada Bodleian Library Oxford. Tahun 1968 diteliti oleh sarjana Belanda : Ricklefs, Voorhoeve dan Noorduyn. Kompilasi oleh Noorduyn disertai perbandingan dengan Negarakertagama, Hyang Kamanikam dan lain-lain.

Topografi

Dari karya Pujangga Manik, kita dapat mengetaui banyak nama-nama daerah Jawa di masa lampau, yang mungkin sekarang sudah tidak disebut lagi. Pujangga Manik sangat tertarik atas arah Barat-Timur, pulang dan pergi. Arah ini memang dipegang teguh. Dasar dari ketertarikan tersebut adalah legenda Agastya in Den Archipel, suatu fragmen dari Baratayuda. Yaitu perjalanan jauh Agastya dari barat ke timur. Arah ke timur sendiri memang memiliki arti gaib, sangat mungkin dipengaruhi oleh arah matahari terbit.

Perjalanan sang Pujangga yang pertama adalah sampai Pemalang dimana dia menghadapi batas berwujud sungai, bernama Pepali kemudian menjadi Pamali.* Di seberang sungai itu terbentang Alas rimbaraya, yang disebutnya sebagai : Alas Jawa.

Perjalanan kedua dia sampai Gunung Lawu. Karena sangat cocok dengan adanya “religious schools” / pertapaan, dia untuk sementara waktu menetap di sekitar gunung Demalung yang tidak lain adalah Merbabu. Selain itu terdapat juga Gunung Kerungrungan yang tidak lain adalah Ungaran, Pegunungan Dihiyang adalah Dieng, dan seterusnya Prahu, Sindara, Sumbing dan Merapi.

Nama tempat lain antara lain : Danara atau Padanara yang kemudian menjadi Pandaran**. Asem Arang menjadi Semarang. Kota-kota seperti Surakarta, Yogyakarta, Klaten, Wates, Sleman, Boyolali , Magelang , Muntilan dan lain-lain tidak disebut, jadi belum lahir. Kali Waluyu adalah Bengawan Solo, Kali Cangku adalah Bengawan Madiun, Kali Ronabaya adalah Kali Brantas, Lohku menjadi Luk-ula, Kota Kalangbrit sekarang Trenggalek, Gunung Kampud sekarang gunung Kelud.

Pada Lereng Merapi, Merbabu, dan Ungaran terdapat “Religious Settlements” atau lebih kita kenal sebagai Mandala. Salah satunya disebut Rabut Palah yang sekarang Dusun Pantaran dan yang sampai sekarang masih menarik pada peziarah.

Mandala

Menarik untuk dibahas, bahwa semua religious schools / petapaan yang disebutkan Pujangga Manik berada berada di lereng gunung, puncak gunung, di atas gundukan tanah dan lain-lain. Kelengkapan dari pertapaan tersebut adalah adanya “Beji” atau kolam, telaga, mata air, danau dan lain-lain yang melambangkan Jalatunda. Jala artinya “air” dan Tunda artinya “yang mencuat dari tanah”. ***

Konsep ini menurut Poerbatjaraka ditiru oleh kraton-kraton. Mereka membuat tiruan-tiruan “Hemelberg” atau kahyangan berupa gundukan-gundukan tanah (Argo), Hutan, Jalatunda (sumur,balumbang), tempat semedi dan lain-lain. Tanah tempat kraton saja sebenarnya seharusnya bergunduk “ang-geger bulus” sehingga melambangkan (lereng) gunung.

Dalam penentuan letak pertapaan, selain mengambil tempat tinggi. Kedua harus memperhatikan pedoman West-East yang mengacu pada matahari. Contohnya pembangunan Kraton yang harus menghadap ke timur. Ketiga harus ada sumber air yang melambangkan “sumur jalatunda“. Keempat lingkungan yang rimbun serta kelima, adanya perlengkapan dan sanggar2. Konsep ini berhubungan dengan istilah Lingga-Yoni, sehingga apabila dijabarkan lagi, arti simbolik yang ingin dihasilkan adalah :

Lingga : Dilambangkan oleh Gunung, Bukit, Gundukan tanah dll.

Yoni : Dilambangkan oleh pemandian, sungai, dll.

Pawita-sari : Air yang mengalir

Rahim : Dilambangkan oleh Gapura, Candi Bedah, Kori, Kendi, Vas, dll.****

Namun, konsep dataran tinggi ini ternyata sudah dikenal oleh orang-orang megalitik yang tinggal di Nusantara.Sudah merupakan tradisi bagi orang di jaman itu untuk membangun struktur-struktur batu dengan bentuk berundak atau piramid. Contohnya terdapat di situs Lebak Sibedug di Jawa Barat dan di Pegunungan Dieng. Makna dari tingkatan ini adalah Pencapaian Tingkat tertinggi, serangkaian metamorfosa atau kelahiran kembali.

Pujangga Manik menetap di sekitar gunung penanggungan cukup lama, diselingi perjalanan kecil ke Gunung Semeru yang dia namakan Mahameru sebagai pintu gerbang terakhir ke surga. Juga ke pegunungan Hyang dan Ijen serta Bromo sebagai “Pusat Pertapaan”. Di perjalanan ini dia juga menemukan bahwa kerajaan Majapahit telah memiliki Bhawacakra yang isinya mengatur hak dan kewajiban penganut agama Hindu dan Budha.

Pujangga manik seterusnya mengunjungi Bali, tetapi hanya sebentar. Rupanya dia sudah puas dengan Kompleks Merapi-Merbabu. Pada perjalanan kembali diamelewati pantai Selatan Jawa, sempat menambah pengalaman di Mandala Ayah, dekat Jatijajar sekarang. Selain itu sang Pujangga juga banyak menulis tentang daerah Priangan.

Demikian uraian (sangat) singkat mengenai Pujangga Manik, kalau mau versi lengkap silakan baca buku2ny yang sudah banyak beredar,,, hehehe

Keterangan :

*Geolog Budi Brahmantyo meragukan keterangan penulis, menurutnya Bujangga Manik tidak pernah bilang pepali dari kata Pemalang, tapi langsung Ci Pamali dan jelas2 disebutkan di Brebes. Perjalanan pertama hingga Batang.

**Mungkin sekarang Pangandaran

***Konsep ini mungkin ditiru dalam pembuatan goa Sunyaragi di Cirebondan taman sari Jawa lainnya.

**** Pembangunan kota Bandung juga mungkin mengacu pada konsep ini, dengan Poros utara Gunung Tangkuban Parahu, adanya Sungai Cikapundung dan Sumur di kawasan alun2. Kota Bandung yang berbentuk cekungan sesuai dengan konsep Jalatunda, terutama kalau dihubungkan dengan Gunung yang mengelilinginya.

****

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s