Surat Paulus kepada jemaat Efesus

Perjalanan Paulus ke Efesus

Paulus diketahui mengunjungi Efesus pada perjalanan misinya yang kedua (Kis Ras 18:18-19). Efesus sendiri dikenal sebagai salah satu kota terpenting pada saat itu, berperan sebagai pusat perekonomian dan peribadatan terhadap dewi Diana atau Artemis (Kis Ras 19:23-41). Pemujaan yang dilakukan terhadap Dewi Diana, sebagaimana terhadap dewi-dewi lainnya, dilakukan dalam upacara-upacara rahasia yang kadang memuat perilaku-perilaku prostitusi. Di kota yang sama tahun 431 M., Diadakan sebuah konsili yang akan mengikrarkan Maria sebagai “Ibu Tuhan” atau sebagai objek doa-doa. Anda pasti memahami mengapa kaum Kristen saat itu memilih kota Efesus sebagai tempat diadakannya konsili tersebut.

Saat tinggal sementara disana, Paulus berencana untuk mengunjungi kembali kota tersebut setelah melakukan perjalanan singkat ke Jerusallem. Pada perjalanan misinya yang ketiga, Paulus mengunjungi kembali kota tersebut. Ia tinggal di sana selama tiga tahun (Kis Ras 19:1,10; 20:31). Selama itu ia berhasil membaptis 12 murid Johannes, entah Johannes pembaptis atau Johannes anak Zebedeus (Kis Ras 19:1-7). Ini adalah suatu kisah yang aneh, pertama patut kita pertanyakan mengapa Paulus perlu membaptis kembali murid seorang Johannes, bukankah Johannes dan Yesus mengabarkan ajaran yang sama ? Menurut Lukas, murid Johannes tersebut belum mengetahui konsep roh kudus dan ketuhanan Yesus (Kis Ras 19:2, 4-5), pasti ada alasan tertentu bagi Johannes untuk tidak memberikan konsep tersebut kepada muridnya. Tentu saja karena konsep tersebut juga asing baginya ! Adakah alasan lain yang menjelaskan mengapa murid seorang Rasul tidak mengetahui ajaran terpenting agamanya ? Johannes tidak pernah membaptis orang atas nama Yesus ataupun Roh kudus, begitu pula Yesus. Pauluslah pemelopor pembaptisan tersebut. Lagipula konsep ketuhanan Roh Kudus dan Yesus baru dirumuskan pada abad keempat.

Paulus menghabiskan waktu selama tiga bulan mengajar di Sinagoga (Kis Ras 19:8), dan perlawanan kaum Yahudi terhadap pemikirannya mengakibatkan pengusiran dirinya dari sinagoga, sebenarnya kejadian tersebut bukanlah suatu hal baru bagi Paulus. Ia seringkali diusir dari sinagoga tempatnya mengajar karena ajarannya asing bagi kaum Yahudi. Setelah itu ia melanjutkan pengajaranya di sekolah Tyrannus (untuk Gentile) selama dua tahun selanjutnya. Perlawanan terhadap dirinya yang semakin kuat membuat dirinya meninggalkan Efesus (Kis Ras 19:23-20:1).

Keotentikan

Surat yang satu ini secara umum telah diakui keotentikanya oleh para sarjana, hanya segelintir yang meragukannya, sedangkan sarjana radikal seperti biasa menyangkalnya. Kritik terhadap keotentikan surat ini dipelopori oleh Erasmus sekitar abad kelima belas. Sarjana lain mengakui bahwa mereka menemukan banyak ciri khas Pauline dalam surat ini, seperti konsep pemikiran, materi, gaya bahasa, dll.. Di lain pihak terdapat  perbedaan-perbedaan komposisi yang membedakanya dengan surat Paulus lainnya, salah satunya adalah absennya sambutan-sambutan Paulus dalam surat ini. Selain itu beberapa bagian dianggap memiliki hubungan dengan surat non-Pauline (1 Petrus) dan surat kepada Ibrani yang diyakini tidak ditulis oleh Paulus. Kummel mengomentari surat ini dalam karyanya “Introduction to the New Testament” :

“Although these and related linguistic and stylistic differences alone could not prove the Pauline authorship of Ef to be impossible, they make extremely difficult the supposition that Paul could have written Ef in the form in which it has been handed down”.

“Walaupun perbedaan gaya dan lingistik sendiri tidak dapat membuktikan ketidak mungkinan penulisan surat Efesus oleh Paulus, semua itu menimbulkan kesulitan dalam menganggap bahwa Paulus telah menulis surat Efesus dalam bentuk yang sama seperti yang ada sekarang.”

“Many terms in Ephesians aren’t found in genuine Paulines but are found in the later NT writings and early patristic writings.” –Kummel, Introduction to the New Testament, H. 358-361-

Selama ini cara yang dilakukan untuk menguji kepenulisan Paulus adalah dengan cara mencari sejumlah kasus Hapax legomena dalam surat yang diduga ditulis atas namanya, Hapax legomena berarti kata atau materi asing yang tidak terdapat dalam surat/kitab Perjanjian Baru lainnya. Semakin banyak Hapax Legomena yang ditemukan, maka semakin berkuranglah nilai kotentikan surat/kitab tersebut. Surat Efesus ini mengandung sekitar 75 Hapax legomena, dan jumlah tersebut masih bisa dibilang sebagai jumlah yang relevan. Selain itu, Para sarjana juga kerap menggunakan perbandingan gaya penulisan dengan acuan surat-surat utama (Roma, Korintus dan Galatia). Dalam perbandingan gaya penulisan antara surat ini dengan surat utama, ditemukan beberapa perbedaan sehingga menimbulkan kecurigaan adanya pemalsuan.

Prison Epistle

Berdasarkan tradisi, surat ini dikenal sebagai anggota dari “Prison epistles”, surat-surat yang ditulis Paulus saat berada dalam penjara (Ef 3:1; 4:1; 6:20).  Diketahui berdasarkan beberapa pernyataanya sendiri dalam surat ini,

“Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah” (3:1)

“yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara” .(6:20)

Surat ini sendiri kemungkinan ditulis saat Paulus berada di penjara Kaisaria  (Kis Ras 24:27), tahun 57-59 M., atau saat dipenjara di Roma (Kis Ras 28:30) tahun 60-62 M.. Beberapa surat yang termasuk ke dalam Prison epistles adalah Efesus, Kolose, Filemon, dan  Fillipi. Surat-surat tersebut diantar oleh seorang budak bernama Tikhikus (6:22), mungkin dalam sekali perjalanan mengingat jauhnya jarak yang akan ditempuh dari Roma (atau Kaisaria) menuju kota tempat surat-surat ini ditujukan. Surat Efesus memiliki kedekatan khusus terhadap surat Kolose sehingga menimbulkan anggapan bahwa Paulus menulis surat ini dalam waktu yang bersamaan. Berikut beberapa bagian surat yang dianggap memiliki hubungan dengan surat Kolose,

Ef 1:7; Kol 1:14
Ef 1:10; Kol 1:20
Ef 3:2; Kol 1:25
Ef 5:19; Kol 3:16
Ef 6:22; Kol 4:8
Ef 1:19-2:5; Kol 2:12,13
Ef 4:2-4; Kol 3:12-15
Ef 4:16; Kol 2:19
Ef 4:32; Kol 3:13
Ef 4:22-24; Kol 3:9,10
Ef 5:6-8; Kol 3:6-8
Ef 5:15,16; Kol 4:5
Ef 6:19,20; Kol 4:3,4
Ef 5:22-6:9; Kol 3:18-4:1

Hal tersebut menunjukan, bila keotentikan surat Efesus diragukan, maka hal yang sama juga akan terjadi pada surat Kolose. Tetapi kemudian muncul anggapan bahwa surat Efesus ini tdak lain hanyalah jiplakan dari surat lainnya, terutama Kolose dan Roma. Selain itu, penulis surat ini kerap berbicara mengenai perbuatan baik kepada sesama, pengahanan emosi dan lain-lain, tetapi ia tidak mengutip satupun ucapan Yesus mengenai hal tersebut. Bukankah ajaran berbuat baik merupakan tema utama dari ajaran Yesus ?
Beberapa sarjana beranggapan bahwa surat ini tidak ditulis oleh Paulus,  melainkan oleh seorang bapak Gereja awal abad kedua. Kummel menyebutkan,

If, then, it is determined that Ef was written in the post-Pauline period, the fact that Ignatius knows it implies a date no later than the first decade of the second century. A more exact date might be determined if we could prove a literary dependence of I Peter on Ef, but in view of the common paranetic tradition this is not convincing. And since Ef seems to know the collected Pauline letters, an earlier date is not likely. The date of writing cannot be determined more closely than sometime between 80 and 100.”

“Jika ditentukan, bahwa surat Efesus ditulis pada masa post-Pauline, kenyataanya Ignatius mengetahui penulisannya tidak kurang pada dekade pertama abad kedua. Waktu penulisan yang tepat mungkin bisa ditentukan apabila kita dapat menemukan ketergantungan literal antara 1 Petrus dengan Efesus, tetapi pernyataan tersebut tidak meyakinkan bila dilihat berdasarkan tradisi Paranetik umum. Dan sejak surat Efesus dianggap telah mengetahui koleksi surat Paulus, waktu yang lebih awal semakin tidak memungkinkan. Waktu penulisan secara tepat tidak bisa ditentukan kecuali di antara  tahun 80-100 M.”

Lebih jelas lagi, The New Oxford Annotated Bible menyebutkan :

There are important contrasts between Ephesians and the letters that we can confidently ascribe to Paul. Many of the words in Ephesians do not appear elsewhere in the apostle’s correspondence, and some important terms have a different meaning here from their meaning in letters that are surely Paul’s. The style, with its loose collection of phrases and clauses and long sentences, is not characteristic of Paul’s writing. Ephesians is, therefore, judged to be a forgery.”

“Terdapat banyak perbedaan penting antara surat Efesus dengan surat-surat yang dapat kita pastikan sebagai karya Paulus. Banyak kata-kata dalam surat Efesus yang tidak terdapat dalam surat lainnya, dan beberapa hal memiliki pengertian yang berbeda bila dibandingkan dengan pengartian yang terdapat pada surat yang diyakini ditulis Paulus. Gaya, dengan menghilangkan beberapa koleksi frase dan klausa dan kalimat panjang, bukanlah sifat dari tulisan Paulus. Surat Efesus, dapat ditetapkan sebagai palsu.”

Tujuan Surat

Kepada siapa Paulus menujukan surat ini ? Dalam hal ini tujuan yang tepat tidak dapat dipastikan, walau secara tradisional surat ini ditujukan kepada Gereja di Efesus. Keputusan tersebut dibuat berdasarkan pengakuan Paulus sendiri dalam pembukaan surat ini,

“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus.”(Ef 1:1)

Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu, beberapa naskah kuno ternyata memiliki berbagai variasi terhadap ayat tersebut. Marcion contohnya, pendukung kerasulan Paulus yang utama ini menyebutkan Laodikea sebagai tujuan surat ini. Berikut adalah beberapa kemungkinan tujuan sebenarnya surat ini.

  • Efesus.

Ini adalah pendapat tradisional yang selama ini dipercaya. Ternyata melalui pengungkapan naskah-naskah kuno dapat dipastikan bahwa kata “Di Efesus (ejn jEfevsw)” pada ayat pertama adalah interpolasi atau penyusupan tangan selanjutnya. Hal tersebut dibuktikan melalui absennya bagian tersebut  dalam beberapa naskah tertua seperti Sinaitius atau Vaticanus. Berikut adalah gambar  naskah Codex Sinaiticus yang memuat surat Efesus. Dari gambar kita dapat melihat bahwa kata “Efesus” berada dalam margin, di antara dua kolom, menunjukan bahwa kata “Efesus” bukan berasal dari naskah asli.  Melainkan baru ditambahkan kemudian, diduga untuk mengisi kekosongan pada surat tersebut.

Selain itu, anggapan bahwa surat ini ditujukan kepada Gereja Efesus dapat dipatahkan melalui indikasi ketiadaan pengetahuan Paulus terhadap identitas penerima surat (1:15; 3:2 dan 4:21) dan melalui absennya sambutan pribadi Paulus yang tidak pernah terjadi pada surat-surat lainnya.

Teori kedua menyebutkan surat ini sebagai pembuka bagi kumpulan surat-surat Paulus (Corpus Paulinum). Menurut beberapa sarjana, surat ini tidak ditujukan kepada Gereja tertentu, melainkan sebagai pembuka atau perkenalan bagi Corpus Paulinum.  Mereka boleh saja mempercayai bahwa penulis surat ini telah mengetahui perihal eksistensi seluruh surat Paulus sebelumnya, tetapi pandangan ini menimbulkan konsekwensi penting, andai surat ini baru ditulis setelah keseluruhan surat Paulus berhasil dikoleksi/dikumpulkan, dapat dipastikan penulisnya bukanlah Paulus. Maka tidak aneh apabila kebanyakan pendukung teori ini adalah para sarjana penyangkal kepenulisan Paulus (sarjana radikal). Tetapi teori ini menimbulkan beberapa kesulitan; Pertama , teori ini tidak memiliki dasar yang kuat. Bila surat ini dikenal sebagai pembuka corpus Paulinum, tentu hal tersebut telah dikenal oleh para bapak Gereja awal. Sebaliknya, surat ini tidak pernah dikenal sebagai pembuka Corpus Paulinum dalam berbagai manuskrip, maupun dalam pernyataan para bapak Gereja awal. Kesulitan kedua, penyebutan Tychicus sebagai pengantar surat ini akan menjadi tidak berarti. Ketiga, sejak surat ini diketahui memiliki kedekatan dengan surat Kolose, membuktikan bahwa surat ini kemungkinan besar ditulis pada masa bersamaan.

  • Laodikaea

Teori laimenyebutkan paulus menujukannya kepada jemaat Laodikea. Pernyataan ini didasarkan atas catatan Marcion bahwa tujuan sebenarnya dari surat Efesus ini adalah kepada jemaat Laodikaea, ia tidak pernah mengetahui eksistensi surat Paulus terhadap jemaat Efesus. Selain itu, referensi mengenai suatu surat yang dikirim dari Laodikea dalam Kol 4:16 mungkin memiliki hubungan dengan surat ini. Kelemahan teori ini adalah ketiadaan naskah kuno yang pernah menyebutkan “di Laodikea” sebagai tujuan. Kesimpulannya, kepastian “Laodikea” sebagai tujuan surat ini memiliki kelemahan yang sama dengan “di Efesus”, keduanya absen dari naskah-naskah kuno. Perlu diingat, bahwa Efesus dan Laodikea merupakan dua kota yang berbeda, tetapi sama-sama berada di daerah Asia Minor. Selain itu terdapat juga sebuah naskah lain surat Paulus kepada jemaat Laodikea yang dianggap sebagai apokrip oleh Gereja. Masih ada beberapa surat Paulus lain yang tidak dimasukan dalam kitab suci, surat-surat tersebut diduga palsu.

  • Surat Efesus sebagai surat edaran.

Artinya surat ini tidak ditujukan kepada Gereja-Gereja secara khusus, melainkan beredar bebas di antara Gereja-Gereja Paulus di daerah Asia Minor (Efesus, Laodikaea, Kolose). Beberapa sarjana modern mempercayai bahwa Paulus sengaja menempatkan kekosongan pada tujuan surat di ayat pertama, dan membiarkan Gereja yang menerimanya mengisinya sendiri. Ini menjelaskan adanya perbedaan versi dalam beberapa naskah, sedangkan naskah yang tetap mengosongkan tujuan surat ini diduga karena Gereja yang menerimanya lupa untuk mengisi bagian tersebut. Selain itu Efesus 1:15, menunjukan bahwa surat ini tidak ditujukan kepada jemaat tertentu. Efesus 6:21-22 juga menunjukan bahwa surat ini diantar bersamaan dengan surat Kolose, oleh Tikhikus.

Masalah kata “Efesus” mungkin tampak sebagai masalah”kecil” saja, tetapi ini menjadi masalah besar saat kita menganggap keseluruhan Bible sebagai firman Tuhan. Bila naskah awal surat ini tidak memuat kata “Efesus” dan kemudian kata tersebut baru ditambahkan kemudian, berarti seseorang telah menambahkan materi asing ke dalam firman Tuhan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s