Surat Kepada Jemaat Galatia

Keotentikan

Keotentikan surat ini telah diakui baik secara internal maupun external. Gaya, ciri khas dan doktrin yang terdapat didalamnya menandakan bahwa Pauluslah penulis utama surat ini. Bahkan beberapa sarjana menggunakan surat ini sebagai acuan bagi penentuan keotentikan karya-karya lain yang dianggap ditulis oleh Paulus. A.Q. Morton telah melakukan penelitian komputer terhadap surat-surat Paulus, ia menggunakan surat Galatia sebagai acuan terhadap surat lainnya, tentu saja dengan asumsi keotentikan surat Galatia tidak lagi diragukan. Melalui perbandingan gaya penulisan, Komputernya membuktikan bahwa hanya surat Roma, 1 & 2 Korintus dan Filemon yang gaya penulisannya sesuai dengan Galatia, dengan kata lain seluruh surat selain 5 surat tersebut dapat diragukan keotentikannya.

Pendiri Prostestan, Martin Luther kerap mengakui kecintaanya terhadap surat ini, sedangkan beberapa sarjana menyebut surat sepanjang 6 pasal ini sebagai “magna charta”-nya agama Kristen, karena memuat banyak doktrin pembebasan dari hukum, sebagaimana dengan surat Roma. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan dengan surat Roma; Dalam surat Roma, Paulus tampak lebih tenang, dan sindirannya terhadap ajaran Yahudi tidak terlalu diperlihatkan. Sebaliknya dengan surat Galatia, ia tampak lebih emosional, lebih tajam dan singkat dalam kata-katanya, dan ia kerap menyerang ajaran Yahudi secara langsung .

Walaupun secara umum para sarjana mengakui keotentikan surat ini, tetap saja ada beberapa sarjana dari “Radical School” yang tidak tanggung-tanggung menolak keotentikan seluruh karya Paulus, termasuk surat Galatia ini. Ada baiknya kita mempertimbangkan alasan beberapa tokoh radikal tersebut dalam penolakannya terhadap keotentikan karya-karya Paulus. Beberapa contoh sarjana tersebut adalah Van Mannen, G. A. van den Bergh van Eysinga, FC Baur, dll. Mereka beranggapan, muatan teologi Kristen yang terdapat dalam karya-karya Paulus telah melampaui masanya. Waktu penulisan surat-surat Paulus yang selama ini dianggap sebelum penulisan keempat Injil, ternyata dianggap lebih cocok bila ditempatkan paska eksistensi keempat Injil, saat golongan Gnostis mulai tumbuh dan berkembang. Selain itu mereka beranggapan bahwa pengakuan para Bapak Gereja awal terhadap eksistensi surat-surat Paulus ternyata baru muncul sekitar pertengahan abad kedua.

Dalam hal penolakan terhadap surat Galatia ini, para sarjana radikal menyoroti beberapa bagian dalam surat ini yang berkontradiksi dengan Kitab Kisah Rasul mengenai kejadian yang sama. Contoh perbedaan tersbut terdapat pada Galatia 2:1-10 dan Kisah Rasul 15. Dalam Kisah Rasul 15, Paulus bersama Barnabas mengadakan pertemuan dengan para Rasul (Petrus, Yakobus, dll) di Jerusallem dalam usahanya membicarakan masalah pelaksanaan misi kepada kaum Gentile. Sedangkan dalam Galatia 2:2, Paulus berangkat ke Jerusallem atas dasar wahyu dan tanpa maksud tertentu. Selain itu dalam Kisah Rasul 15:1-2 dijelaskan bahwa Paulus diutus kepada Jerusallem oleh otoritas gereja Antiokia. Perhatikanlah kutipan berikut :

Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.”(Kis Ras 15:2)

Bandingkan dengan,

Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi–dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang–,supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.”(Gal 2:2)

Para sarjana radikal juga menyoroti tidak adanya keterangan mengenai surat-surat Paulus dalam tulisan Lukas, keberadaan surat-surat tersebut tampaknya belum terlihat kecuali pada kalangan Gnostik di pertengahan abad kedua. Pengguna utama surat-surat Paulus adalah umat Marcion, penentang paling keras terhadap ajaran Yahudi. Sarjana radikal selanjutnya tidak menemukan gaya penulisan seorang “Rabbi” Yahudi dalam karya-karya Paulus, Penulisnya sangatlah “Yunani”, lancar berbicara dengan bahasa dan gaya Yunani. Mereka juga menemukan bahwa Kitab Kebijaksanaan Solomon yang termasuk dalam salah satu bagian dari Injil Yunani dan memuat dasar pemikiran Philo, merupakan kitab favorit Paulus. Selain itu, saat Paulus membicarakan konsep kebangkitan dalam 1 Kor 15:35-35, ia membicarakanya dalam nuansa spiritual, dengan membantah konsep kebangkitan secara fisik. Antitesis terhadap jiwa dan tubuh, manusia spiritual dan fisik, antara tubuh duniawi dan surgawi, konsep transfigurasi; semua konsep tersebut tidak dikenal dalam tradisi Yahudi, tetapi akan familiar bagi kaum Gnostis. Menyindir keyahudian Paulus, C. G. Montefiore menyebutkan, “Either this man had never been a Rabbinical Jew, or else he has completely forgotten what Rabbinical Judaism was and is.”. Intinya melalui berbagai dalil untuk melanggar hukum Yahudi dalam surat ini, sarjana radikal mencurigai surat-surat Paulus sengaja diproduksi oleh kaum Marcion atau Gnostis untuk mendukung pemikirannya. Kita tahu bahwa kaum tersebut tidak memiliki kitab suci sejak menolak keabsahan Perjanjian Lama.

Galatia

Walaupun para sarjana masih sepakat dalam menentukan Paulus sebagai penulis utama surat ini, tetapi tidak begitu halnya dalam penentuan tujuan surat ini. Pandangan para sarjana terbagi dua dalam masalah tersebut, pertama adalah pendukung teori “Galatia utara (Northern Galatia)”, sedangkan yang kedua adalah pendukung teori “Galatia selatan (Southern Galatia)”. Perdebatan tersebut bisa terjadi karena dalam surat ini Paulus hanya menyebutkan ,” …kepada jemaat-jemaat di Galatia”. Galatia di sini memiliki arti ganda, apakah Galatia tersebut dibicarakan dalam ekspresi kedaerahan/provinsi atau hanya kesukuan. Perdebatan tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh kepada penentuan waktu penulisan, tempat penulisan bahkan mempengaruhi sejarah pendirian Gereja-gereja.

Teori pertama yang menyatakan bahwa Paulus menulis surat kepada jamaat Galatia utara dikemukakan terutama oleh Lightfoot dan didukung juga oleh Lipsius, Davidson, Chase, Findlay, dll.. Ketika kita membicarakan Galatia utara, maka kita akan membayangkan suatu daerah geografis yang dihuni orang-orang “Galatia” disebut sebagai Galatia utara, bukan dalam bentuk propinsi Romawi. Andaikan Paulus menujukan surat ini kepada jemaat Galatia utara, maka waktu penulisan surat ini adalah sekitar tahun 56 M., pasca penulisan surat Roma. Dalam hal ini, maka daerah yang dimaksud dengan Galatia utara adalah kota Mysia, Frigia dan Pisidia. Sesuai dengan catatan Lukas dalam Kisah Rasul 18:23 dan 16:6,

Setelah beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, ia berangkat pula, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid.” (Kisah Rasul 18:23)

Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.” (Kisah Rasul 16:6)

Menurut Lightfoot, kedua daerah yang disebutkan dalam ayat tersebut merujuk kepada suatu daerah kesukuan, yaitu Galatia utara.

Dengan menggunakan dalil ayat yang sama (Kis Ras 18:23; 16:6), Perrot, Weizsacker, Hausrath, Zahn, Pfleiderer, Gifford, Rendell, Holtzmann, Clemen, Ramsay, Cornely, Page, Knowling,dll. beranggapan bahwa Lukas saat itu sedang membicarakan daerah Galatia selatan yang berbentuk profinsi Romawi, teori ini dikenal sebagai teori “Galatia Selatan”. Berbeda dengan daerah Galatia utara dimana daerah tersebut lebih dikenal sebagai daerah geografis, Galatia selatan berarti sebuah profinsi Romawi (Pisidian Antioch, Iconium, Lystra dan Derbe). Menurut Kisah Rasul, Paulus memang penrah mendirikan gereja di tempat tersebut (pasal 13 dan 14). Untuk memperkuat argumennya, menurut Ramsay, Paulus tidak mungkin mampu mengadakan perjalanan jauh menuju Galatian utara karena ia baru terserang penyakit (Gal 4:13). Dengan memakai teori “Galatia selatan”, maka penulisan surat ini adalah sekitar tahun 49 M., sesaat sebelum konsili Jerusallem tahun 49-50 M., tetapi tidak membuka kemungkinan untuk ditulis sesudah konsili. Sedangkan mengenai tempat penulisan, ada beberapa kemungkinan, yaitu; Korintus (Kis Ras 18:1-17), Antiokia (Kis Ras 18:22), Efesus (Kis Ras 19:1-41), Macedonia atau Achaia (Kis Ras 20:1-3).

Kesimpulannya, sejarah penulisan surat-surat Paulus sarat akan kontradiksi dan kesimpangsiuran. Hal tersebut muncul tidak lain akibat adanya keterangan yang tidak jelas dalam surat Paulus maupun Kisah Rasul, ditambah dengan banyaknya kontradiksi di antara keduanya. Sebagai contoh, Kisah Rasul mencatat lima perjalanan Paulus ke Jerusallem ( Kis Ras 9, 11, 15, 18:22, 21 ), sedangkan Paulus hanya menyebutkan tiga perjalanan. Ditambah lagi dengan tidak adanya catatan mengenai perjalanan kedua Paulus ke Korintus (Painful visit) dalam Kisah Rasul. Beberapa ketidakcocokan ini menghasilkan kesulitan dalam menelusuri sejarah yang sesungguhnya.

Penentang Paulus

Bila kita membaca surat ini, kita akan dapat melihat ekspresi khas Paulus dalam usaha mempertahankan otoritasnya. Dalam pasal-pasal awal, ia menuliskan dasar-dasar kerasulannya, dan dalam beberapa pasal, Paulus mengecam penentang-penentangnya. Kita mungkin mempertanyakan identitas penentang otoritas dan ajaran Paulus ? Sedikit petunjuk telah diberikan Paulus mengenai masalah ini.

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnyabukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”(Gal 1:6-9)

Dari beberapa pernyataan Paulus dalam surat ini, maka musuh utama Paulus dalm hal ini adalah pihak dengan ciri-ciri utama sebagai berikut :

  • Memiliki kitab suci (Injil), Injil ini bukanlah Injil Markus, Matius, Lukas atau Johannes karena belum diproduksi saat itu. Tidak menutup kemungkinan bila Injil yang dimaksud di sini adalah Injil Yesus (Q), yang masih berbentuk tradisi oral ? Paulus juga kerap mengatakan bahwa ia mengabarkan Injil, tetapi kita tidak pernah tahu Injil apa yang Paulus sebarkan tersebut. Ada kemungkinan bahwa Injil yang dimaksud di sini tidak berarti tulisan, tetapi lebih berbentuk pemikiran atau ajaran.
  • Ia mempermasalahkan klaim kerasulan Paulus. Dalam hal ini, maka pihak Nazarenes merupakan pihak yang paling memungkinkan, karena kaum Ebionit atau Gnostis belum muncul. Menurut Kisah Rasul, kelompok ini mendatangi gereja Antiokia dan menyuruh umat Kristen disana untuk melaksanakan khitan. Jemaat Antiokia yang merasa bingung kemudian mengutus Paulus dan kawannya untuk meminta konfirmasi mengenai masalah tersebut kepada Gereja Jerusallem. Tiada kelompok lain selain kaum Nazarenes yang memiliki otoritas untuk mempermasalahkan klaim kerasulan seseorang, mengingat mereka adalah pewaris utama ajaran Yesus.
  • Musuh Paulus melakukan penyunatan dan tradisi Yahudi lainnya. Seluruh umat Yahudi dan Nazarenes diketahui tetap setia terhadap pelaksanaan hukum Yahudi. Bila benar bahwa musuh Paulus adalah kaum Yahudi atau Nazarenes, mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Bagaimana mungkin Paulus yang mengaku pernah menjadi pengikut Rabi Gamaliel bisa berbalik arah menentang ajaran Yahudi. Padahal Gamaliel adalah Rabi dari kalangan Farisi, Yahudi yang paling taat dalam menjalankan hukum. Kedua, Kita ketahui bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, ia sendiri disunat pada hari kedelapan (Lukas 2:21), begitu pula dengan pengikutnya yang dikenal sebagai kaum Nazarenes. Bila Paulus dapat mengakui sebagai Rasul Kristus, mengapa ajarannya bisa begitu berbeda dengan para pengikut Yesus. Selama ini Paulus selalu bertentangan dengan Petrus dalam hal keharusan berkhitan bagi kaum Gentile. Dalam suatu ayat dinyatakan,

Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu—bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka–bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.”(Gal 2:6)

Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…” –Galatia 2:16-

Di sini Paulus memandang rendah otoritas Gereja Jerusallem sebagai pewaris utama ajaran Yesus, Bahkan Paulus berani membatalkan hukum Torah yang selama ini dipertahankan Yesus. Sebaliknya, Paulus pernah mengidentifikasikan Gereja Jerusallem sebagai Gereja Tuhan, dan jemaatnya sebagai jemaat Tuhan.

Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.”(Gal 1:13)

Walaupun awalnya Paulus menyebut kaum Nazarenes sebagai jemaat Allah, tetapi ia sama sekali tidak menghormati mereka sebagai jemaat Allah, khususnya terhadap ajaran dan hukum yang mereka terapkan. Injil terjemahan Indonesia tampaknya menyembunyikan hal ini dengan menggantikan nama Petrus dengan Kefas, tentunya dengan harapan orang awam tidak menyadarinya. Dalam Galatia 2:14, pertentangan Paulus dengan Petrus (Kefas) semakin terlihat jelas,

Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua:”Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secaraYahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?”(Gal 2:14)

Seharusnya untuk menyelesaikan masalah keharusan berkhitan tersebut, mereka harus berpulang kepada pribadi Yesus, itulah yang Petrus lakukan. Tetapi apa daya, Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus, tidak pernah mendengar ceramahnya, bersikukuh bahwa ia mendapatkan inspirasinya berdasarkan Kristus.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.”(Gal 1;11-12)

Kaum Gentile yang enggan disunat tentu akan memilih menjadi pengikut Paulus daripada mengikuti Petrus. Sebenarnya kita dapat melihat pandangan salah satu pengikut Yesus yang paling terkemuka, tidak lain adalah saudaranya sendiri, Yakobus.

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.”(Yak 2:10)

Ajaran iman tanpa perbuatan (hukum) Paulus diserang oleh Yakobus, ia menyebutkan dalam suratnya,

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Jac 2:14)

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yak 2:17)

Surat Yakobus yang akan saya bahas lebih jauh nanti, memiliki keanehan tersendiri. Entah bagaimana surat ini bisa memasuki canon Perjanjian Baru yang sarat akan pemikiran Paulus. Yakobus selama ini dikenal sebagai penentang utama ajaran Paulus, ajaranya berkebalikan dengan ajaran Paulus. Walaupun tidak secara terbuka menyerang Paulus, dalam suratnya kita bisa menemukan beberapa petunjuk ke arah tersebut. Coba tebak kepada siapa ayat ini ditujukan ?

Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (Yak 2:20)

2 Comments

  1. Keren bro..

  2. keren banget


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s