PAULINE EPISTLES – Biografi Paulus

Pribadi Paulus

Kali ini pembahasan kita berlanjut kepada bagian yang paling penting dalam Perjanjian Baru, yaitu surat-surat Paulus. Dalam selusin surat ini termuat pondasi agama Kristen yang sesungguhnya. Begitu kentalnya suasana doktrin dalam surat-surat ini, sehingga seseorang bisa beranggapan bahwa Pauluslah pendiri agama Kristen yang sebenarnya, bukan Jesus. Selain dari surat-suratnya, catatan sejarah paling lengkap mengenai Paulus adalah kitab Kisah Para Rasul, kali ini kita akan membahas terlebih dahulu mengenai person Paulus berdasarkan kitab tersebut, siapakah ia sebenarnya ?

Pertama-tama kita harus memaklumi bahwa Kitab Kisah Rasul buatan Lukas kerap menjadi pembela pribadi Paulus. Sebagai teman baik Paulus, Lukas tidak akan bersedia untuk membeberkan kejelekan-kejelekannya.  Melalui kitab Para Rasul kita dapat mengetahui bahwa Paulus lahir di kota Tarsus (saat ini daerah Turki) yang merupakan ibukota daerah Cicilia, Asia Minor. Ia lahir kira-kira pada Tahun 5-10 M. dengan nama Yahudi  Saulus. Dalam salah satu suratnya ia menyebutkan jika ia lahir dari darah suku Benjamin dan mengalami penyunatan pada hari kedelapan setelah kelahirannya sebagaimana orang Yahudi pada umumnya. Dalam perkembanganya ia akan tampil sebagai seorang Yahudi Farisi (Philippi 3:5-6), dan menurut pengakuannya ia sempat berguru kepada tokoh Yahudi terkemuka, Rabi Gamaliel (Kis Ras 22:3). Selama di Tarsus, Paulus bekerja sebagai pembuat tenda (Kis Ras18:2-3).

Paulus dewasa akan dikenal sebagai musuh utama para penganut Kristen awal, ia memburu dan bahkan tidak segan untuk membunuh buruannya tersebut. Menurut Kisah Rasul 7:59-8:1, Paulus pernah terlibat dalam  pembunuhan Stephanus (salah satu umat Kristen awal). Yang harus diperhatikan, tidak pernah ada catatan yang menyebutkan bahwasanya Paulus pernah bertatapan muka secara langsung dengan Jesus. Satu-satunya perjumpaannya dengan Jesus tiada lain saat ia tengah melakukan perjalanan ke Damaskus. Peristiwa tersebut merupakan pengalaman terpenting dalam seluruh kehidupan Paulus, Saat itu ia mendengar suara “Paulus…mengapa kau menyiksaku ?”. Peristiwa tersebut berhasil merubah 1800 kehidupan Paulus, ia segera insaf dan menyesali segala perbuatanya di masa lampau (Kis Ras 8:1–3; 9:1–30; 22:3–21; 26:9–23; Gal. 1:12–15). Pertanyaan kemudian muncul, apa yang akan Paulus lakukan segera setelah peristiwa tersebut ? Seharusnya Paulus secepatnya mengkonfirmasikan peristiwa tersebut kepada para pengikut Jesus yang saat itu masih hidup, bagaimana Paulus bisa yakin bila suara yang ia dengar berasal dari Jesus, padahal ia belum pernah sekalipun bertemu dengan Jesus. Tindakan tersebut tidak Paulus lakukan, setelah peristiwa tersebut Paulus malah melanjutkan perjalanannya ke daerah Arab. Ia menunda bertemu dengan pengikut Jesus hingga tiga tahun kemudian (Galatia 1:16-19 ).

Dari Arab, Paulus melanjutkan perjalanan menuju  Jerusallem untuk bertemu dengan pengikut Jesus, dan ia berhasil menemui James/Jacobus (saudara Jesus) yang saat itu merupakan kepala Gereja Jerusallem. Tetapi pengakuan Paulus tidak begitu saja dipercaya oleh pengikut Jesus, mengingat latar belakangnya sebagai musuh utama mereka. Setelah berhasil membujuk para pengikut Jesus, Paulus mengadakan sekitar tiga perjalanan missionaris melintasi Mediterania timur, ia sempat didampingi oleh Barnabas, Lukas, Markus, dll. Paulus berhasil menarik perhatian kaum Gentile di daerah tersebut, ia kemudian mendirikan Gereja-gereja di beberapa kota yang telah ia singgahi. Berkat perannya tersebut, Paulus nantinya akan dikenal sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Kristen kepada kaum Gentile. Ajarannya selalu ditolak oleh kaum Yahudi, nanti kita akan melihat bahwa Paulus mengalami berbagai pengusiran dan perlawanan dari kaum Yahudi. Menggelikan karena ia sendiri adalah seorang Yahudi terkemuka (farisi), ia malah mendapatkan tempat terkemuka di kalangan gentile.

Setelah Paulus sampai di kota lain, ia akan mengirim surat-suratnya kepada Gereja-gereja yang didirikannya. Surat-surat inilah yang nantinya disebut sebagai Pauline Epistles atau “Paulinum Corpus”, yang tiada lain adalah bagian dari Perjanjian Baru.  Mengetahui bahwa ajaran yang selama ini diberikan Paulus ternyata berbeda dari ajaran Jesus, kaum Nazarenes mulai melakukan perlawanan terhadap Paulus. Three Pillars; James, Petrus dan Johannes diketahui sempat mengutus beberapa orang untuk membendung misi penyebaran ajaran Paulus, peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Antiokia. Setelah kejadian tersebut, hubungan Paulus dengan Nazarenes mulai renggang, terlihat jelas dalam surat Paulus kepada jemaat Galatia. Penyebab hancurnya hubungan Paulus dengan kaum Nazarenes bisa dikatakan sangatlah rumit karena Kisah Para Rasul dan surat Paulus (Galatia) terlihat memberikan versi yang berbeda mengenai hal tersebut. Pembahasan lebih lanjut akan saya berikan dalam bagian pembahasan surat Paulus kepada jamaat Galatia.

Paulus mengakhiri perjalanannya di Jerusallem sekitar tahun 58 M., disana ia mendapat perlawanan dari kaum Yahudi dan sempat diselamatkan oleh pasukan Romawi. Ia kemudian dibawa ke Roma dan ditahan selama 2 tahun. Selanjutnya ia dieksekusi oleh kekaisaran sekitar tahun 60 M.

Bagaimanapun, penjelasan mengenai sejarah kehidupan Paulus di atas tidak begitu saja dapat dipercaya. Para sarjana memiliki beberapa pandangan kritis terhadap catatan sejarah Paulus tersebut. Salah satu sarjana tersebut adalah Hyam Maccoby, ia menyoroti beberapa bagian dalam kehidupan Paulus yang dianggapnya sebagai suatu kebohongan. Hyam Macobby melakukan studi kritis terhadap kitab Kisah Para Rasul yang hanya dianggapnya sebagai kitab “biografi” Paulus. Kita ketahui bahwa penulis kitab tersebut adalah Lukas, mantan rekan Paulus. Sesuai dengan logika,  Lukas pasti akan membela Paulus sekuat tenaga. Contohnya, Lukas dalam Kisah Rasul jelas sekali menggambarkan perihal hubungan Paulus dan pengikut Jesus sebagai “biasa-biasa” saja, Padahal kenyataannya berlawanan. Surat-surat Paulus jelas sekali dalam menggambarkan hubungan buruk Paulus dengan pengikut Jesus seperti James atau Petrus, Jelas sekali mengenai adanya pertentangan yang sengit di antara dua pihak tersebut. Karena tidak puas terhadap catatan kehidupan Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul, maka Hyam Macobby mulai beralih  meneliti naskah-naskah Yahudi-Kristen kuno, terutama naskah kaum Ebionit dan lain-lain. Melalui berbagai penelitian akhirnya ia dapat menyimpulkan bahwa sejarah Paulus sarat akan pertentangan-pertentangan.

Pertama-tama, Hyam menyoroti perihal tempat kelahiran Paulus. Penyebutan Tarsus sebagai tempat kelahiran Paulus hanya terdapat dalam kitab Kisah Rasul, tetapi tidak pernah disebutkan Paulus dalam surat-suratnya.  Paulus hanya menyebutkan sekilas mengenai asal-usulnya yaitu dalam Phllipi 3:5, “disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi” dan Roma 11:1,” Karena aku sendiripun orang Israel, dari  keturunan Abraham, dari suku Benyamin”. Tampaknya ia ingin tampak sebagai seorang Yahudi Farisi sejati (yang dididik di Jerusallem), sehingga berhati-hati untuk tidak menyebutkan Tarsus sebagai tempat kelahirannya. Kota Tarsus dikenal sebagai kota yang kental akan nuansa Hellenisme, disana hanya terdapat sedikit orang Yahudi. Pengaruh Hellenisme mungkin akan cukup mempengaruhi pemikiran Paulus sehingga nantinya ajaranya akan bertentangan dengan pemikiran para  penganut Kristen awal yang berasal dari latar belakang Yahudi-Kristen.

Selanjutnya, Hyam mempertanyakan klaim Paulus bahwa ia berasal dari latar belakang Yahudi Farisi. Kaum Farisi adalah salah satu golongan Yahudi yang mendapat prestise tinggi dihadapan masyarakat pada saat itu. Kaum Farisi adalah kaum ortodoks yang menentang kekuasaan tirani dan tidak terlalu tertarik terhadap kehidupan aristokratik. Mereka adalah kebalikan dari kaum Yahudi Saduki yang bersedia bekerja sama kekaisaran dan telah menerima sumbangan beberapa pemikiran Hellenisme. Dalam Kisah Rasul disebutkan mengenai Paulus yang belajar kepada Rabi Gamaliel ,

“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi

dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan

Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang

yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.”(Kis Ras 22:3)

Dari sumber lain diketahui bahwa Gamaliel merupakan salah seorang pengajar Yahudi yang  terkemuka dan diketahui memimpin suatu partai Farisi. Dalam suratnya, Paulus mengaku bila ia pernah berguru kepada Gamaliel, artinya ia telah mengalami pendidikan ketat sebagai seorang Farisi. Pertanyaan kemudian muncul, apakah benar Paulus merupakan seorang Yahudi Farisi? jawabannya akan dijelaskan oleh Lukas dalam Kitab Kisah Rasulnya.

Jelas dalam Kisah Rasul disebutkan mengenai masa lalu Paulus yang pernah terlibat dalam pemburuan para pengikut Kristen awal, bahkan terlibat dalam pembunuhan Stephanus (8:1). Dengan asumsi Paulus adalah seorang Farisi, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kaum Farisi saat itu merupakan musuh utama para pengikut Jesus atau kaum Kristen awal.  Hal tersebut bertentangan dengan fakta bahwa para pengkut Jesus kebanyakan berasal dari golongan Farisi atau Essenes. Golongan Farisi atau saudaranya, Essenes berasal dari satu cabang agama Yahudi yang disebut Hasidis. Kaum Hasidis identik dengan kesalehan dan keterikatanya dengan hukum Yahudi, bahkan diduga kuat Johannes pembaptis merupakan salah seorang terpandang yang berasal dari golongan ini, khususnya dalam komunitas Essenes. Perbedaan antara kaum Farisi dengan Essenes adalah pilihan kaum Essenes untuk mengasingkan diri dan membentuk suatu komunitas tersendiri. Sedangkan Kaum Farisi memilih untuk berpolitik dan berbaur dengan orang-orang Yahudi dari berbagai golongan, walaupun mereka tetap memegang teguh ajaran Yahudi seperti perayaan Sabat, penyunatan dan kepercayaan terhadap kehidupan setelah mati. Kebalikan dari kaum Hasidis adalah para Saduki, mereka adalah Yahudi liberal dan bersedia bekerja sama dengan kekaisaran. Kaum Yahudi Saduki telah menyerap pemikiran Hellenisme Romawi sehingga mereka tidak lagi melaksanakan hukum Taurat dengan ketat. Selanjutnya, pengikut agama Kristen awal lebih banyak berasal dari kaum Yahudi Hasidis, mereka melihat adanya kesamaan ajaran Jesus dengan ajaran para nabi sebelumnya. Sebaliknya, kaum Saduki merupakan musuh umat Kristen awal. Tampaknya dalam riwayat sinoptik, Jesus kerap mengkritisi kaum Farisi yang dianggapnya condong kepada materialisme. Ini merupakan wujud perhatian Jesus terhadap kaum pemegang teguh warisan hukum Ibrahim  tersebut. Sebaliknya perlakuan kaum Farisi dan Saduki malah mengucilkan Jesus, mereka kecewa karena harapan-harapannya kandas di tangan Jesus. Tapi bagaimanapun kaum Farisi tetap menerima Jesus sebagai messiah, oleh karena itu mereka masih menaruh hormat terhadap Jesus maupun muridnya.  Sayangnya penguasa Yahudi atau imam besar saat itu berasal dari kalangan Saduki, antek Romawi. Kekaisaran berusaha menekan perlawanan kaum Yahudi dengan menempatkan pemimpin Yahudi yang bersedia kooperatif dengannya.

Selanjutnya disebutkan dalam pasal 8:3 mengenai Paulus yang memasuki rumah ke rumah dan kemudian menggelandang pria dan wanita ke penjara. Tidaklah mungkin Paulus melakukan semua itu atas dasar ambisi pribadi semata. Ia memerlukan sebuah dukungan kekuasaan untuk melakukan segala “pemburuan” tersebut. Dari siapa lagi ia bisa mendapatkan kekuasaan untuk mengirimkan orang ke penjara selain oleh Imam Tertinggi. Sejarah jelas mencatat, pada saat itu yang menjadi Imam BesarYahudi berasal dari golongan Saduki,  musuh utama kaum Farisi. Lalu bagaimana mungkin Paulus yang adalah seorang Farisi menjadi kaki tangan Imam Besar Yahudi dari golongan Saduki. Satu-satunya penjelasan yang memungkinkan adalah, Paulus telah berbohong dengan mengaku sebagai seorang Yahudi Farisi, ia adalah seorang Yahudi Saduki atau bahkan bukan Yahudi sama sekali.

Selanjutnya dalam Kisah Rasul pasal 9 disebutkan, Paulus ‘dengan hatinya yang berkobar-kobar mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damaskus, supaya, jika ia menemui  laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem’. Peristiwa ini menjadi sorotan Hyam Macobby, ia mempertanyakan alasan Paulus yang selama ini mengacaukan Gereja di Judea, lalu tiba-tiba berniat pergi ke Damaskus untuk mengacaukan Gereja disana. Apakah Imam Besar Judea memiliki otoritas di daerah non-Yahudi seperti di Damaskus yang memperbolehkannya untuk menangkapi para pengikut jalan Tuhan disana ? Dari peristiwa di atas, Hyam menyimpulkan adanya hubungan khusus antara Imam Besar dengan sosok Paulus. Paulus tampaknya lebih berperan sebagai kaki tangan Imam Besar daripada sebagai seseorang yang bertindak atas motif pribadi saat menangkapi para pengikut Kristen awal.

Selanjutnya dalam  Kisah Rasul 26:5, Paulus pernah berkata :

“Sudah lama mereka mengenal aku dan sekiranya mereka mau, mereka

dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah hidup sebagai seorang

Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama kita.”

Artinya Paulus mengklaim bahwa dirinya dikenal orang-orang sebagai seorang yang taat terhadap hukum Yahudi, karena memang itulah ciri khas golongan Farisi. Tetapi fakta berbicara sebaliknya, Paulus dalam berbagai surat-suratnya telah menolak justifikasi berbagai hukum Yahudi dan lebih condong kepada pemikiran non-semitik. Paulus lebih sering membicarakan pandangan mengenai manusia-Tuhan Jesus yang berasal dari surga dan mengorbankan dirinya demi keselamatan manusia. Pemikiran seperti ini tidak dapat ditemukan dalam kitab Yahudi manapun. Pemikiran Paulus sama sekali asing bagi kaum Yahudi, tetapi tidak aneh lagi bagi para kaum Gentile. Inilah sebabnya Paulus hanya mau menyebarkan ajaranya kepada kaum Gentile, ia tahu bila akan ditolak mentah-mentah oleh orang Yahudi. Kaum Yahudi-Kristen pengikut Jesus bahkan tidak pernah menganggap Jesus sebagai simbol manusia-Tuhan pada masa itu, mereka tetap berpegang erat kepada ajaran Taurat serta beberapa tambahan ajaran dari Jesus.   Kesimpulanya, klaim Paulus mengenai dirinya yang tumbuh dalam didikan Farisi yang ketat dari Gamaliel, tidak lagi dapat dipercaya, bahkan sangat menggelikan.

Pemikiran Paulus memang tidak sampai mengutuk keseluruhan Perjanjian Lama sepertihanya dengan Marcion. Paulus kerap mengutip ayat-ayat dalam Perjanjian Lama dalam surat-suratnya, tetapi ajaran yang ia kembangkan telah keluar dari jalur agama Yahudi yang sebenarnya. Paulus lebih tampil sebagai seorang revolusionis agama Yahudi dan menampilkan agama yang benar-benar terlepas dari ajaran Taurat. Dalam hal ini Paulus bertentangan dengan misi Jesus yang ‘tidak akan menghapus satu titikpun ajaran Taurat’.  Berikut adalah pernyataan Paulus dalam surat kepada Timotius :

Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku. (1 Tim 8-11)

Perkenalan Paulus dengan tokoh Jesus pun diragukan. Selama ini penempatan Injil-injil yang berisi sejarah kehidupan Jesus ditaruh sebelum surat-surat Paulus, orang awam akan menganggap bahwa Injil-injil trsebut dikomposisikan terlebih dahulu, tetapi kenyataanya terbalik. Surat-surat Paulus dikomposisikan terlebih dahulu sebelum Injil-injil, dalam jangka waktu 50-60 M., sedangkan Injil baru ditulis dari tahun 70-110 M.. Paulus tidak pernah menunjukan kepengetahuan terhadap kehidupan Jesus, keluarganya, peristiwa kelahiranya, atau mukzizat-mukzizatnya, ia hanya mengetahu dan tertarik pada suatu hal, penyaliban dan kebangkitan Jesus ! Tidak perduli dengan kehidupan Jesus sebelum peristiwa tersebut. Tidak pula ada penyebutan terhadap Johannes Pembaptis, orang terpenting dalam kaum Yahudi saat itu. Penyebutan terhadap Judas Escariot-pun turut absen. Selain itu dalam Roma 15:19 ia menyatakan perihal peristiwa konversinya ,  “oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh…”, bertentangan dengan riwayat dalam Injil Markus dimana Jesus berkata” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” .  Dalam pengakuanya dimana ia mendengan suara Jesus “”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” juga dirasa salah alamat, Paulus tidak pernah menyiksa Jesus melainkan pengikutnya. Seharusnya perkataan ini ditujukan kepada imam besar Yahudi yang mengusulkan penyaliban atau bahkan kepada Judas Escariot. Sulit sekali untuk dapat mempercayai Paulus hanya berdasarkan pengakuanya, selain itu nanti akan dapat kita lihat, bahwa sebenarnya pandangan Paulus terhadap pengikut Jesus seperti James atau Petrus tidaklah terlalu berubah, mereka akan tetap bertentangan hingga pertentangan tersebut akan diwariskan kepada jemaat-jemaatnya.

Hyam Macobby kemudian menyimpulkan beberapa hal berdasarkan penelitiannya.

  • Paulus tidak pernah menjadi seorang Farisi. Kemungkina besar ia adalah seorang Yahudi Saduki yang menjadi kaki tangan Imam Besar Yahudi. Ia mengaku sebagai Farisi hanya untuk meningkatkan derajatnya di mata masyarakat.
  • Jesus dan para pengikut awalnya berasal dari golongan Farisi. Jesus tidak pernah memproklamirkan agama baru, ia kerap mengaku hanya sebagai pemenuhan nubuat Perjanjian Lama, sebagai messiah (dalam pengertian Yahudi).
  • Para pengikut Jesus, dalam bimbingan James dan Petrus, mendirikan Gereja di jerusallem setelah kematian Jesus. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Nazarenes, kebanyakan dari mereka masih mengadopsi kepercayaan Farisi, kecuali bagi beberapa yang mempercayai kebangkitan Jesus, dan masih menganggap Jesus sebagai Messiah yang dijanjikan. Tidak satupun dari mereka yang mengaggap Jesus sebagai manusia-Tuhan, mereka masih mempercayai bahwa Jesus telah disalib, tetapi akan kembali untuk menumbangkan kekaisaran Romawi dan mendirikan kerajaan Tuhan. Kaum Nazarenes tetap menjalankan hukum Yahudi seperti biasa, menyunat, tidak memakan makanan haram, melaksanakan Sabat dll.. Mereka bahkan menentang Paulus yang dianggapnya telah mendirikan agama baru yang telah melenceng dari ajaran Jesus yang mereka kenal.
  • Paulus, bukanlah Jesus yang mendirikan agama Kristen sesungguhnya. Paulus kurang memperdulikan kehidupan Jesus selama 30 tahun dan hanya berfokus kepada peristiwa penyaliban dan’Kebangkitan’. Paulus mengidentikan peristiwa tersebut dengan pemikiran Pagan mengenai konsep keselamatan. Paulus hanya menganggap Perjanjian Lama sebagai kumpulan hukum yang tidak lagi berlaku setelah kematian Jesus, kini hanya ajaranyalah yang berlaku. Pemikiran Paulus merupakan angin segar bagi para Gentile, mereka menginginkan nuansa keagamaan yang baru tanpa meninggalkan sepenuhnya kepercayaan mereka yang terdahulu. Perkembangan jaman telah membuat orang Gentile jenuh terhadap dewa-dewanya, mereka menginginkan figur Tuhan baru yang maha kuasa dan memiliki jangkauan  luas seperti Tuhannya orang-orang Yahudi. Tetapi kaum Gentile tidak bersedia untuk menjadi orang Yahudi karena alergi terhadap pelaksanaan berbagai hukum Yahudi seperti penyunatan, makanan haram, dan Sabat. Oleh karena itu, ajaran ‘semi’ Yahudi buatan Paulus dirasa cocok bagi mereka.
  • Sumber informasi mengenai Paulus yang tidak pernah dianggap serius berasal dari kaum Ebionit. Tulisan-tulisan mereka dikecam dan dimusnahkan Gereja, tetapi pandangan mereka tercatat dalam tulisan-tulisan musuh mereka, contohnya dalam karya-karya Ephipanus saat melawan Heresies. Kaum Ebionit memberikan pandangan tersendiri terhadap Paulus dan menyatakan bahwa Paulus tidak pernah memiliki latar belakang Farisi. Menurut mereka, Paulus lahir dari keluarga Gentile dan berpindah kepada agama Yahudi di Tarsus. Saat dewasa, Ia kemudian mengunjungi Jerusallem dan melamar pekerjaan sebagai penjaga keamanan kepada Imam besar. Suatu sebab menyebabkan Paulus kecewa dengan Imam Besar dan membuatnya berniat untuk mendirikan suatu ajaran baru. Pandangan kaum Ebionit ini tidak bisa  dipastikan keotentikannya, tetapi keterangan mereka dirasa lebih masuk akal dibandingkan keterangan mengenai Paulus yang dikeluarkan Gereja atau yang terdapat dalam kitab Kisah Rasul.
  • Kaum Ebionit dipersepsikan Gereja sebagai salah satu golongan bid’ah karena tidak mempercayai konsep ketuhanan Jesus versi Paulus. “Kesalahan” kaum  Ebionit lainnya adalah  menolak segala pemikiran Paulus mengenai penghapusan hukum taurat, penebusan dosa, dosa asal, dll. Sebaliknya, mereka tetap taat terhadap pelaksanaan hukum Taurat sepertihalnya dengan para pengikut awal Jesus. Mereka dapat disamakan dengan golongan Nazarenes yang dipimpin oleh James dan Peter, saksi mata langsung kehidupan Jesus. Pandangan Gereja yang menganggap kaum Ebionit sebagai bid’ah dapat dipahami mengingat Gereja dibangun dengan pondasi ajaran Paulus, bukan Jesus.

Selanjutnya, kebalikan dari kaum Ebionit adalah yang disebut dengan golongan Marcionit yang tumbuh di sekitar pertengahan abad kedua. Golongan yang satu ini didirikan oleh Marcion yang lahir di sekitar tahun 110 M.. Ia mempercayai bahwa Tuhannya Perjanjian Lama adalah  Tuhan jahat, dan Jesus adalah seorang tokoh yang akan menghancurkannya. Tampaknya ia pernah mendapat pengaruh kuat ajaran Gnostik. Selama hidupnya, Marcion hanya mengakui Injil Lukas dan seluruh karya-karya Paulus sebagai canon, hal tersebut dimuat dalam karyanya Apostolicon. Sebagai seorang anti-Yahudi, Marcion menggunakan Injil Lukas yang telah diedit (ia mempercayai bahwa kitab tersebut ditulis Paulus), Surat Galatia, 1 & 2 Korintus (digabung dalam satu surat), Roma, 1 & 2 Tesalonika (dalam satu surat), Laodikaea (surat Efesus), Kolose, Filipi dan Filemon. Entah mengapa ia tidak mengakui 1 dan 2 Timotius , Titus dan Ibrani sebagai karya Paulus sebagaimana umat Kristen pada umumnya. Tampaknya karya-karya tersebut baru ditulis di pertengahan abad kedua sehingga Marcion belum sempat mengetahuinya. Marcion juga mengedit, menghilangkan bagian-bagian yang “berbau” Perjanjian Lama dalam tulisan-tulisan Lukas atau Paulus, ia bukan satu-satunya orang yang melakukan perbuatan tersebut. Pihak Gereja boleh saja mencap pemikiran Marcion sebagai heretis murni, tetapi di lain pihak mereka menggunakan kitab favorit Marcionit (Lukas dan surat Paulus) sebagai canon, suatu hal yang bertolak belakang.

Tidak semua surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru diyakini keotentikanya, para sarjana telah menolak beberapa surat, terutama surat Ibrani dan Timotius. Dari keseluruhan surat, hanya beberapa yang diakui sebagai Pauline, sisanya diragukan.

Dr. Hooykaas menyebutkan :

“Fourteen epistles are said to be Paul’s; but we must at once strike off one, namely, that to the Hebrews, which does not bear his name at all…. The two letters to Timothy and the letter to Titus were certainly composed long after the death of Paul…. It is more than possible that the letters to the Ephesians and Colossians are also unauthentic, and the same suspicion rests, perhaps, on the first, but certainly on the second of the Epistles to the Thessalonians” (Bible for Learners, Vol. III, h. 23).

“Empat belas surat dikatakan ditulis oleh Paulus; tetapi kita harus membuang salah satunya; berjudul surat kepada Ibrani, yang tidak menyebutkan namanya sama sekali… Dan dua surat kepada Timotius serta surat kepada Titus yang tentunya ditulis lama setelah kematian Paulus… sangatlah mungkin apabila surat Efesus dan Kolose dikatakan sebagai tidak otentik, dan surat juga surat lainnya mencurigakan, mungkin pada surat Tesalonika pertama, khususnya pada surat Tesalonika kedua”.

Dalam hal penentuan keaslian surat-surat Paulus, kita harus bertindak objektif. Kita tidak bisa menggunakan standar yang sama untuk tiap-tiap pemikiran sarjana Kristen. Beberapa dari sarjana Kristen tersebut adalah sarjana Radikal Jerman yang  telah menyerap kebudayaan liberal, sehingga keobjektifannya berkurang. Sarjana-sarjana ini menolak kpenulisan Paulus untuk tiap surat yang ditulis atas namanya. Tetapi ini tidak berarti kita harus membuang seluruh pemikiran mereka, kita juga harus menghargainya dalam batas tertentu. Bagaimanapun mereka telah mengkaji Bible secara serius walaupun berada dalam lingkungan liberal.

Kisah Paulus dan Barnabas

Sejak polemik mengenai Injil Barnabas muncul ke permukaan, nama Barnabas mulai diingat kembali. Sejarah Paulus tidak bisa dilepaskan dari peran seorang Barnabas ini, Barnabas termasuk ke dalam lingkaran orang-orang terdekat dengan Jesus. Ia adalah seorang Yahudi yang lahir di daerah Cyprus dengan nama Joseph, “Barnabas” merupakan nama panggilan yang berarti “anak penghibur” (Kis Ras 4:36). Ia tidak dapat disamakan dengan Barrabas, orang yang dibebaskan kaum Yahudi demi disalibnya Jesus. Menurut beberapa riwayat, Barnabas sempat mendapat pengajaran dari Gamaliel (lebih dulu dari Paulus ?), dengan kata lain ia adalah seorang Yahudi Farisi. Maka tidak aneh bila ia nantinya akan menjadi pengikut setia Jesus. Barnabas dikenal sebagai paman dari Johannes Mark, yang dianggap sebagai penulis Injil Markus. Sebagai sorang Yahudi Farisi, ia cukup mengenal Jesus dan kerap beramal saleh , penulis Kisah Rasul bahkan menyebutnya sebagai “Penuh akan roh Kudus” (11:24).

Saat Paulus mengaku telah insaf dan mengaku tidak akan menyiksa kaum Yahudi-Kristen lagi, ia sama sekali tidak dipercaya oleh para Rasul di Jerusallem. Kemudian tampilah figur Barnabas yang berusaha membujuk para Rasul untuk memberi sedikit kepercayaan pada Paulus, akhirnya dewan Rasul pun memberinya kesempatan. Hal tersebut membuktikan bahwa Barnabas memiliki akses kepada para Rasul, tampaknya ia sangat dipercaya oleh para Rasul. Lalu mengapa Barnabas bisa begitu saja percaya kepada Paulus ? mungkin karena Paulus mengaku bahwa dirinya pernah menjadi murid Gammaliel sepertihalnya Barnabas.

“Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka

Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat,

berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda

persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak

bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;”(Gal 2:9)

Selanjutnya Barnabas akan mendampingi Paulus dalam beberapa misinya. Adalah saat mencapai Antiokia, mereka pertama kali dipanggil sebagai orang Kristen oleh penduduk di sana. Paulus dan Barnabas merupakan umat Kristen pertama ! Pertemanan mereka tidak berlangsung lama, pada perjalanan misionaris kedua, masalah mulai muncul di antara mereka. Paulus menolak keinginan Barnabas untuk membawa serta Markus dalam perjalanan selanjutnya (Kis Ras 15:36-37). Mereka kemudian berpisah, Paulus dan silas menuju syria, sedangkan Barnabas dan  Markus  menuju Cyprus.

Kita tidak bisa menelan mentah-mentah informasi di atas, perpisahan Paulus dengan Barnabas yang  hanya disebabkan oleh masalah keikutsertaan Markus sangatkah tidak logis. Pastilah ada penyebab yang lebih berat sehingga kedua orang sahabat tersebut dapat berpisah. Versi Lukas penuh dengan penyembunyian fakta, kita harus beralih kepada versi Paulus sendiri. Dalam surat Galatia Paulus menjelaskan pertentanganya dengan Barnabas.

“Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang

menentangnya, sebab ia salah.

Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan

sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi

setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka

karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.

Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan

dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan

mereka.”(Gal 2:11-13)

Dalam bagian tersebut terlihat jelas bahwa Paulus dengan angkuhnya berani menentang Kefas (Petrus), padahal Petrus telah diangkat sebagai “Pangeran Para Rasul” oleh Jesus sendiri. Dalam bagian tersebut turut dijelaskan mengenai Petrus yang bersedia makan sehidangan dengan kaum Gentile, kemudian meninggalkannya karena takut diketahui jemaat Jakobus (James). Mengenai peristiwa ini Paulus menyebut Petrus sebagai munafik. Sedangkan dalam bagian lain Perjanjian Baru kita juga dapat menemukan bahwa Petrus pernah menolak mengakui hubungannya dengan Jesus saat Jesus digelandang kaum Yahudi untuk dihukum. Dapat kita simpulkan sementara, bahwa Petrus adalah seseorang yang tidak bisa konsisten terhadap pendiriannya. Diluar masalah tersebut, Paulus juga menyebut Barnabas sebagai sorang munafik tanpa sebab-sebab yang jelas. Tetapi kejadian tersebut terjadi setelah jemaat utusan James dari Jerusallem mendatangi Antiokia, artinya Paulus menentang Barnabas karena menganggapnya telah bersekutu dengan para utusan tersebut. Sebenarnya tidaklah aneh bila kemudian Barnabas memilih bergabung dengan para utusan Jerusallem, karena mereka memang pernah saling mengenal saat tinggal di Jerusallem. Dengan kata lain, saat utusan Jerusallem memutuskan untuk mewajibkan penyunatan bagi setiap muallaf Kristen, Barnabas mendukung gagasan tersebut, dan hal tersebut memancing kemarahan Paulus (Paulus menentang kewajiban bersunat). Pertentangan antara Paulus dengan Barnabas adalah pertentangan doktrinal, bukan sekadar masalah keikutsertaan Markus seperti dikatakan dalam kitab Kisah Rasul.

Pertengangan Paulus dan Barnabas membuktikan bahwa catatan Kisah Rasul mengenai Paulus tidak dapat diterima. Kitab Kisah Rasul dikenal hanya menyajikan fakta berdasarkan sudut pandang Lukas (sahabat Paulus), dan berusaha menutupi permasalahan serius yang terjadi di antara Paulus dan kaum Nazarenes , khususnya Barnabas.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s