Prahara di Bandung : Aksi Westerling th.1950

“Perdjurit2 TNI jang sedang ber-djalan2 di kota dengan tidak bersendjata, dibunuh seperti andjing dan di-tjinjang2 air mukanya seperti terjadi dengan almarhum Overste Lembong”

R.Soenario – Jaksa Penuntut Jungschlager (Rekan Westerling)


Sulawesi – Jawa Barat

Suatu siang di tanggal 23 Januari 1950, Bandung mengalami peristiwa yang menggemparkan bagai petir di siang bolong. Sekitar 500 pasukan yang menyebut dirinya Angkatan Perang Ratu Adil menyerbu Bandung dan menimbulkan banyak korban. Pemimpin dari kekacauan tersebut tidak lain adalah Westerling.

Sebelumnya, Bangsa Indonesia pertama kali mengenal Westerling melalui peristiwa “banjir darah” di Sulawesi Selatan tahun 1946. Saat itu tepat saat pemerintah tengah mengadakan konferensi Denpasar, Westerling beserta pengikutnya melakukan pembantaian terhadap 40.000 rakyat dan pemuda Indonesia di Sulawesi Selatan. Rumah-rumah dan kampung-kampung ikut dibakarnya.

Para pengikutnya merupakan orang-orang pilihan yang disebut dengan Pasukan “De Turk”. Nama itu juga merupakan julukan bagi Westerling yang memiliki darah Turki dari Ibunya. Oleh karena itu, ia dapat leluasa mengaku sebagai orang Islam, dan nantinya akan berpengaruh terhadap hubungannya dengan gerakan DI di Jawa Barat.

Sifat kejinya sangat membekas di masyarakat Sulawesi Selatan sehingga ada kisah bahwa sebagai seorang “Scherpschutter” atau penembak jitu, kadang-kadang Westerling iseng berkeliling dengan jeepnya, dan ketika melihat pemuda yang dicurigainya, ia dengan mudah menembakkan revolvernya kepada pemuda tersebut.

Saat pemerintah Indonesia baru sadar akan perbuatan Westerling tersebut, pemerintah Belanda langsung menarik “pasukan tengkorak” tersebut dari bumi Sulawesi Selatan. Mereka seakan-akan menghilang tanpa bekas, walau sebenarnya Belanda masih menyembunyikannya dengan tujuan menimbulkan kekacauan di Negeri Indonesia yang masih rapuh saat itu.

Beberapa saat setelah aksi militer pertama, nama Westerling tiba-tiba muncul di Jawa Barat. Pasukan-pasukannya yang khas dengan baret hijau-merah mulai terlihat di pelosok-pelosok Jawa Barat,  bersiap mengacaukan republik. Namun aksi mereka baru dimulai setelah aksi militer Belanda kedua. Saat itu mereka memulai pembunuhan besar-besaran di daerah Citarum, namun di Jawa Barat mereka tidak menghadapi rakyat yang tidak berdaya seperti di Sulawesi. Di Jawa saat itu masih ada kekuatan TNI, Laskar2 dan Pemuda2 yang siap membalas apabila diserang.

Melihat perlawanan yang cukup sengit, Westerling merubah taktiknya. Kalau dulu ia lebih banyak beraksi secara langsung, kini aksinya lebih kepada memberi dukungan kepada para pengacau seperti golongan KNIL yang kecewa hingga gerombolan2 DI Kartosuwiryo. Aksinya tentu merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah Belanda. Namun di saat infiltrasi ini telah berjalan, Belanda seakan ingin lepas tangan dengan memberhentikannya sebagai kapten KNIL. Dengan demikian ia menjadi semakin bebas dalam melaksanakan aksinya.

Tanggal 23 Januari 1950, pasukan Westerling bergerak dari jurusan Cimahi dengan menggunakan truk, jeep, motor, ada pula yang berjalan kali. Mereka smua berseragam dan bersenjata lengkap, jumlahnya kurang lebih 500 orang.

Di sepanjang jalan Cimahi-Bandung, diadakan stelling di gang-gang, dimana-mana dilakukan teror melalui tembakan ke langit dan rumah-rumah penduduk. Pos-pos polisi di spanjang jalan raya seperti Cimindi, Cibereum dan beberapa lainnya dilucuti. Perlu diingat bahwa kondisi Jawa barat saat itu masih belum kondusif karena tengah dilanda masalah negara Pasundan.

Sesampainya di kota, mereka menimbulkan kepanikan di kalangan rakyat. Toko-toko ditutup, jalan-jalan pun menjadi sepi, tidak ada orang yang berani keluar rumah. Di perempatan Banceuy, seorang perwira TNI yang mengendarai Jeep dan tidak bersenjata disuruh turun, kemudian ditembak mati. Mayatnya ditinggalkan dan mereka jalan terus. Saat itu TNI tidak berani melawan karena mereka kira pasukan Westerling sebagai pasukan KNIL yang legal melalui seragamnya.

Di jalan Braga, tepatnya di depan apotik Rathkamp, sebuah auto sedan diberhentikan. Tiga orang penumpangnya disuruh turun, seorang diantaranya merupakan letnan TNI. Tanda pangkatnya diambil, orangnya disuruh berdiri ditepi jalan sebelum ditembak mati. Di depan hotel Preanger, sebuah truk berisi 3 orang TNI diberondong tembakan. Truk terpelanting menabrak tiang listrik sehingga tumbang. Di jalan Merdeka terjadi tembak-menembak selama kurang lebih 15 menit. 10 orang mayat TNI bergelimpangan di Jalan. Di perempatan Suniaraja-Braga, 7 orang TNI tidak bersenjata yang mengendarai pickup ditembaki dari depan dan belakang.

Pertempuran agak hebat terjadi di kantor stafkwartier Divisi Siliwangi Jalan Lembang. Satu rgu stafdekking TNI terdiri dari 15 orang dipimpin Overste Sutoko dengan tiba2 dikerubungi oleh ratusan APRA. Pertempuran berlangsung kurang lebih setengah jam. Pertempuran dilakukan hingga peluru terakhir. Everste Sutoko, Abimanyu, dan seorang opsir lainnya dapat menyelamatkan diri, lainnya tewas. APRA kemudian berhasil menduduki stafkwartier dan membongkar brandkast yang isinya Rp. 150.000, jumlah yang cukup besar untuk saat itu. Selain itu, mayat-mayat dari TNI dan sipil pun bergelimpangan antara jalan Braga hingga jalan Jawa. Di antara orang-orang sipil yang tewas, kabarnya menjadi korban karena mereka berani menjawab “Jogja”, ketika ditanyakan “Pilih Pasundan atau Jogja?” oleh pasukan APRA.

Total korban akibat penyerangan Westerling di Bandung mencapai 71 orang dengan 15 orang diantaranya anggota TNI. Diantara korban adalah seorang kapten, yang diculik pasukan Westerling dibawah pimpinan Eddy Hoffman ke hutan di barat Gunung Tangkuban Perahu, dimana 2 orang digantung diatas pohon, sedangkan lainnya ditusuk2 dengan bayonet hingga mati, lalu mayatnya ditinggalkan yang kemudian dimakan binatang2 liar.

Mengapa APRA tidak mendapat perlawanan berarti, pertama adalah karena serangan dilakukan dengan sangat tiba-tia, pembalasan tembakan pun tidak dilakukan karena orang-orang APRA bercampur dengan orang KNIL dan KL. Sedangkan mengenai latar belakang aksinya, diduga keras bahwa APRA ingin mendukung berdirinya negara Pasundan, supaya negara ini bisa berdiri tanpa gangguan TNI dan menggunakan APRA sebagai angkatan perangnya.

Westerling – Brenda Mcleod

Pada tahun 1954, telah dihukum mati seorang perempuan yang bernama Brenda Mcleod. Seorang perwira Jepang mengenali dia di masa pendudukan Jepang di Bandung telah membuka tabir dari kegiatan perempuan itu. Pada jaman Jepang, Brenda berperan sebagai mata-mata Amerika Serikat di nusantara. Brenda adalah cucu dari Matahari, spion yang terkenal dari Jerman pada perang dunia pertama. Ia mati di tangan regu tembak Perancis.

Dalam satu percakapan antara Brenda dan Westerling, Brenda pernah mengatakan “Kau bertindak seperti kerbau , Keberanian kau hanya keberanian kerbau. Untuk mencapai tujuan yang kau cari di Indonesia, diperlukan pengetahuan politis yang mahir mengenai situasi di Indonesia. Dan kau tidak mengerti apa2 tentang politik”. Intinya Brenda ingin menyatakan bahwa aksi Westerling lebih merugikan daripada menguntungkan pihak Belanda dan bahwa serangan terhadap Bandung lebih baik diundurkan karena semangat kemerdekaan bangsa Indonesia masih meluap-luap dan secara politis aksi tersebut tak dapat dipertanggungjawabkan. Tapi apa mau dikata, nasihat ini tidak diindahkan Westerling.

Westerling – Wiranatakusumah – Kartosuwiryo

Pada tanggal 14 April 1948, R.A.A. Wiranatakusumah diresmikan sebagai kepala negara Pasundan. Ia mendapati tugas yang cukup berat untuk menyelesaikan segala kekacauan di bumi Jawa Barat seperti DI dan tindaan makar lainnya. Berdasarkan kesaksian Haris Bin Suhaemi dalam sidang Jungshlager (anak buah Westerling), tahun 1949 sempat terjadi perundingan di gedung Pakuan yang dihadiri oleh Kartosuwiryo, Wiranatakusumah, Kapten Westerling, Sapei, A. Tjokroaminoto dan Male Wiranatakusumah. Perundingan ini dilanjutkan lagi pada Januari 1950 di Hotel Preanger yaitu antara lain dihadiri oleh Wiranatakusumah, Westerling, Jungschlager dan beberapa pembesar Belanda lainnya.

Pertemuan inilah yang nantinya akan menghasilkan keputusan antara lain serangan umum terhadap Pemerintah R.I. yang dilakukan oleh pasukan Westerling dan DI/TII pada suatu ketika. Bandung dan beberapa kota besar di Jawa Barat harus diduduki.

Akan tetapi serangan tersebut tidak dapat berjalan sesuai rencana karena perhubungan yang sulit ditambah persenjataan yang kurang, oleh karena itulah diputuskan bahwa : Penyerangan Bandung dilakukan oleh APRA dibawah Westerling, sedangkan penyerangan kota2 Sukaraja dan Tasikmalaya Selatan oleh DI/TII. Saat itu telah ada persetujuan, bahwa apabila serangan APRA berhasil, maka daerah Jawa Barat akan dijadikan daerah de fanto pertama dari NII.

Mengenai peran Wiranatakusumah dalam hal ini, sy tidak mengetahui pasti. Tapi pada dasarnya beliau merupakan seorang yang mendukung penyatuan Jawa Barat ke dalam pangkuan RI, terlihat dari kenyataan bahwa sebelum menjadi wali negara Pasundan, beliau merupakan ketua DPA Pemerintah RI di Jawa Barat. Selain itu semua anak-anaknya mengabdikan diri pada republik, dua di antaranya memiliki kedudukan sebagai komandan TNI. Dalam membuat kebijakan pun ia harus selalu mendapat persetujuan dari residen sokongan Belanda.

Westerling – Prof. Raymond Kennedy

Setelah aksi APRA berhasil ditumpas, munculah gerakan-gerakan subversif lain semacam NIGO, White Eagle dan lain2. Mereka melakukan kegiatan teror untuk melemahkan negara. Berhubungan dengan kegiatan mereka adalah pembunuhan atas wartawan Time dan Life, yaitu Bob Doyle dan Proffesor Raymond Kennedy dari Universitas Yale. Saat ini kita bisa menemukan makam sang Profesor di kompleks pemakaman Pandu.

Wartawan Alexander Marschack dalam “The Unreported war in Indonesia” menerangkan mengenai pembunuhan kedua warga AS tersebut.

Menurut wartawan tersebut, pembunuhan dilakukan karena Prof. Kennedy mengetahu banyak mengenai kejahatan Belanda. Sang profesor diketahui baru saja menulis mengenai kritikan pedas terhadap Belanda, sedangkan Bob Doyle baru saja datang.

Maka Prof. Kennedy menjadi incaran agen Belanda. Keduanya dibunuh saat mengendarai jeep, badan kedua korban digeledah lalu segala dokumen yang ada dirampas. Tetapi catatan yang berkaitan dengan Bob Doyle tidak ikut dirampas, oleh karenanya Alexander Marschack dapat memakai bahan tersebut untuk investigasi.

Pembunuh kedua orang tersebut adalah 6 orang pasukan KNIL suku Ambon, yang bertugas menjaga keamanan antara Sumedang dan Cirebon. Sedangkan peristiwanya terjadi di bulan april 1950 antara desa Cimalaka dan Tomo.

Pasca kejadian kejadian Bandung, pasukan APRA dibawah tanggung jawab Jendral Engels melarikan diri ke hutan-hutan dan melakukan gerilya. Westerling sendiri berhasil kabur ke Belanda setelah sebelumnya sempat pula terlibat dalam perencanaan pembunuhan Sultan Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta yang melibatkan Sultan Hamid.

Semoga sedikit catatan mengenai Westering di atas dapat bermanfaat. **Masih adakah dari anda yang mendukung kesebelasan Belanda stelah melihat fakta di atas?**

Sumber :

Sudirjo, Radik Utoyo. Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950, Badan Penerbit Almanak RI. Jakarta : 1976

Soenario, S. Proses Jungschlager. Penerbit Gunung Agung. Jakarta  : 1956

Mataram, Tjantrik. Peranan Djojobojo dalam Revolusi kita. NV. Nusa Baru. Bandung : 1954

Tobing, K.M.L. Perjuangan Politik Bangsa Indonesia : Renville. Gunung Agung. Jakarta : 1986

4 Comments

  1. Bule kafir emang tega bisa melebihi binatang

  2. Saatnya kita berkaca pada sejarah,kita jangan jadikan sejarah sebagai ceritera yang menarik di buku pelajaran,tapi jadikanlah renungan dan pengantar jalan bagi republik tercinta ini, ingat tanpa sejarah kita bukan bangsa yang membanggakan ,tapi mengulangi sejarah yang sama adalah K O N Y O L !!!!!!
    Dirgahayu ke 66 bangsaku ,,, ha ha ha indonesia rayaaaaaaaaa

  3. Artikelnya bagus, Mas.. tapi bawahnya kok dihubung-hubungi sama olahraga yang semangatnya sportifitas.. yah iLfil deh..😦

  4. APRA bergerak 23 Jan 1950 subuh. Saat itu saya belum berumur satu tahun, tapi sejak th 70-an hingga 90-an mendapat beberapa info menarik. Di sore hari 23 Jan 1950, dari Surabaya diterbangkan dua-tiga peleton pasukan TNI bersenjata lengkap dari Batalyon Sikatan karesidenan Kediri, dengan 3 buah pesawat Dakota, lalu landing di Andir (Husein Sastranegara) waktu maghrib. Batalyon Sikatan ini minim informasi, tidak punya peta dan perbekalan, sehingga kelaparan (karena makan terakhir pagi hari di markasnya di Kediri). Baru keesokan harinya 24 Jan 1950 pagi hari, batalyon Sikatan ini merangsek ke jl Kalimantan Bandung (mabesnya APRA, sekarang menjadi gedung Makodam Siliwangi) lalu memotong jalur Bandung- Cimahi- Batujajar. (Tentang personil Batalyon Sikatan ini para perwiranya adalah ex PETA BLITAR (ingat Supriadi!!!) spesialis pertempuran dogfight dan anti gerilya, yang di Perang Kemerdekaan I dan II telah menewaskan banyak tentara Belanda di karesidenan Kediri). Tgl 24 Jan 1950 itu menjadi tadingannya pasukan Westerling, sehingga dalam dua-tiga hari (?) kemudian Westerling kabur lewat pantai Cilincing. Di saat Westerling baru saja meninggalkan pantai, regu pengejar (yaitu personil Sikatan) tiba di tempat lalu menembak mati dua pamen TNI yang membantu pelarian Westerling, di pantai Cilincing itu juga, ( !!!??? Siapa mereka?) Setelah itu menyusul pasukan TNI dari Jawa Tengah datang untuk membantu pengamanan Bandung Raya dan memulihkan kondisi pasukan Siliwangi yang sempat kocar-kacir. Info ini penulis dapat dari salah satu komandan kompi batalyon Sikatan dengan anak buahnya, serta veteran-veteran Siliwangi yang sempat terkurung di sekitar jl Purnawarman Bandung, serta veteran yang tinggal di jl Cihanjuang Cimahi. Menurut veteran-veteran Jawa Barat ini, batalyon Sikatan ini mereka sebut sebagai “pasukan gila” yang menyergap musuh dari jarak sangat dekat, perkelahian peluru dan sangkur !!!. Semua veteran sumber info ini telah meninggal dunia di usia lanjut. (B Watuadji, Cimahi)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s