Surat Kepada Jamaat Roma

Karakter

“The chief part of the New Testament, and the perfect gospel… it deserves to be known by heart, word for word, by every Christian.” –Martin Luther-

Surat Paulus kepada jamaat Roma dapat dianggap sebagai inti dari keseluruhan Perjanjian Baru. Surat sepanjang 16 pasal ini memuat lebih banyak doktrin teologis, bahkan bila dibandingkan dengan keempat Injil. Surat ini sempat menjadi favorit banyak pemimpin Gereja, khususnya pendukung Protestan.

Maka tidaklah aneh apabila Gereja lebih sering mengutip surat ini sebagai dalil teologis alih-alih menggunakan keempat Injil. Mereka tidak memperdulikan banyaknya pertentangan yang terdapat di antara ajaran Paulus dengan ajaran Yesus dalam Injil. Apalagi meneliti lebih jauh kehidupan Paulus. Surat ini diyakini banyak sarjana sebagai otentik tulisan Paulus, seperti halnya; 1 & 2 Korintus, dan Galatia. Kesatuan empat surat tersebut dikenal dengan sebutan Hauptbriefe. Sedangkan sisanya masih diragukan keotentikannya, terdiri dari Deutero-Pauline dan surat-surat Pastoral (Pseudo-Pauline). Surat-surat tersebut diduga kuat ditulis setelah kematian Paulus. Yang termasuk ke dalam karya Deutero-Pauline atau masih “diragukan” adalah surat Kolose, Efesus, dan II Tesalonika. Sedangkan yang termasuk ke dalam Pastoral Epistles, adalah Titus dan I/II Timotius. Ketiga surat terakhir diyakini sebagai karya palsu. Tidak hanya itu, sarjana radikal Jerman bahkan menolak keotentikan seluruh surat-surat Paulus (Evanson, Bauer, Loman, Stek, dll).

Surat-surat Paulus tidaklah anonim. Tidak seperti penulis Injil-injil yang malu-malu mengakui kepenulisannya, Paulus dengan jelas mengakui kepenulisannya dalam pembukaan Injil ini :

Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan

dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.”(Rom 1:1).

Entah atas dasar apa Paulus mengklaim dirinya sendiri sebagai rasul atau sebagai pengabar Injil. Melalui pengakuan sepihaknya, bahwa dirinya adalah rasul Kristus, maka secara tidak langsung ia telah menuhankan Yesus, karena hanya Tuhanlah yang memiliki hak untuk mengangkat seorang rasul. Klaim kerasulan Paulus sangatlah aneh mengingat Yesus tidak pernah mengangkatnya sebagai rasul atau murid. Yakobus sebagai saudara Yesus bahkan tidak berani menyandang gelar tersebut, ia hanya menyebut dirinya sebagai hamba Yesus (Yakobus 1:1).

Inti ajaran yang terkandung dalam surat ini adalah bahwa keselamatan seseorang hanya dapat ditentukan oleh keimanan semata, bukan oleh ketaatan terhadap hukum atau kerja. Dalam hal ini tampaknya Paulus mengajak kaum Gentile untuk mempercayai Yesus tanpa harus bersusah payah menaati hukum Taurat, karena hanya itulah halangan bagi kaum Gentile untuk memasuki agama Kristen yang baru. Pemikiran Paulus ini mendapat tantangan dari Yakobus, pemimpin kaum Nazarenes di Jerusallem. Sebagai pemegang tongkat utama penyebaran agama Kristen, Yakobus jelas menolak penggabungan ajaran Yesus dengan pagan, ia sangat ketat dalam hal aqidah. Ajaran Paulus secara tidak langsung menyuruh kepada kaum Gentile untuk melupakan hukum Taurat dan beriman kepada Kristus dalam hati, baginya itu sudah cukup untuk mendapatkan keselamatan. Antipatinya terhadap hukum Taurat menjadi inspirasi bagi pemikiran Marcion yang benar-benar memusuhi Taurat dan segala isinya, padahal Yesus tidak pernah mengajarkan hal yang sedemikian. Entah sengaja atau tidak, tampaknya Yesus sudah mengetahui perihal kemunculan Paulus atau nabi-nabi palsu lainnya, dalam Matius 5:17-19 ia memperingatkan :

Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Saya menebalkan ayat ke-19 karena ayat tersebut secara langsung merujuk kepada ajaran Paulus yang menghapuskan kewajiban bersunat, hukum makanan haram, perayaan sabat, dll.. Yakobus selaku pengikut Yesus tentu mengetahui penyataan Yesus di atas sehingga ia tidak berani meniadakan hukum Torah sedikitpun, dalam hal ini perlawanannya terhadap ajaran Paulus sangatlah tepat. Berbagai pemikiran Yakobus jelasnya akan dapat dilihat dalam suratnya.

Penulis

Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa surat ini diakui memiliki nilai keotentikan yang setara dengan ketiga surat Paulus lainnya (1,2 Korintus dan Galatia). Kesimpulan tersebut didapat melalui penelitian internal, perbandingan isi dan gaya kepenulisan keseluruhan surat yang dianggap ditulis oleh Paulus. Beberapa bagian dalam surat ini menunjukan ciri khas Pauline, seperti penyebutan kata-kata “Keimanan”, “Keselamatan”, “Kebajikan” dan lain-lain, kata-kata tersebut digunakan dalam pengartian Pauline yang khas. Surat ini mungkin tidak ditulis langsung oleh Paulus, Beberapa riwayat menyebutkan nama Tertius sebagai penulis surat ini atas pendiktean Paulus (Rom 16:22). Kemungkinan besar Tertius adalah sekertaris pribadi Paulus, dan tidak mempengaruhi isi dari surat ini. Dukungan external mengenai eksistensi surat ini didapat dari karya-karya Marcion, fragmen Murotarian, Ignatius, Polycrap, dll.. Hanya saja Marcion menghilangkan dua pasal terakhir.

Paulus menulis surat ini kepada jemaat Roma dengan maksud agar mereka mempersiapkan bantuan keuangan baginya yang berniat mengadakan perjalanan ke Spanyol melalui kota tersebut (15:28). Paulus diduga kuat menulis surat ini di Korintus berdasarkan catatan Kisah Rasul 20:3-4. Paulus tinggal di sana selama tiga bulan, yaitu pada tahun 58 M.. Di Korintus, Paulus sempat mendengar desas-desus mengenai plot pembunuhan dirinya yang disusun orang-orang Yahudi, oleh sebab itu ia tidak bisa berlama-lama tinggal di kota tersebut.

Masalah kemudian muncul saat menyoroti masalah Gereja di Roma, siapakah orang yang mendirikan Gereja di sana, sedangkan Paulus belum pernah sekalipun menginjakan kakinya di kota tersebut. Dalam surat ini bahkan tidak ditemukan satupun nama Uskup atau Pemilik umat (diaken). Kemungkinan besar Gereja yang dimaksud di sini bukanlah suatu organisasi besar, tetapi lebih berbentuk komunitas-komunitas Kristen kecil yang terdikotomi antara kaum Yahudi-Kristen dan Gentile-Kristen. Tampaknya surat ini lebih ditujukan kepada kaum Gentile-Kristen daripada kaum yang satunya, bagaimana mungkin kaum Yahudi-Kristen dapat mempercayai pengakuan Paulus sebagai “hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” yang terdapat pada pembukaan surat ini. Selain itu, Paulus tidak pernah menyebutkan mengenai “Gereja di Roma” sebagai tujuan surat ini, ia hanya menyebutkan, “…kepada kamu juga yang diam di Roma”. Masalah kecil mungkin akan timbul bila mempertimbangkan absennya frase “di Roma” (en Rômê) atau “kamu yang juga tinggal di Roma” (tois en Rômê), dalam beberapa manuskrip kuno. Tetapi tanpa adanya frase tersebut, tujuan surat ini sudah cukup jelas, yaitu kepada komunitas pengikut Paulus di Roma. Kemungkinan pengalamatan surat ini kepada jemaat non-pauline dapat dilupakan.

Jerome dan Eusebius pernah menyebutkan mengenai Petrus yang mendirikan Gereja di Roma. Sedangkan catatan sejarah lain mengenai peristiwa tersebut tidaklah jelas, sesuai dengan pendapat kebanyakan sarjana tampaknya Petrus tidak pernah menginjakan kakinya di sana, setidaknya belum pada saat itu. Andaipun Petrus pernah memiliki jemaat disana, apa otoritas Paulus untuk meminta mereka menyiapkan bantuan keuangan kepadanya ? Seperti kita ketahui, Hubungan Paulus dan Petrus tidaklah harmonis, keduanya sempat bermusuhan terutama saat terjadi insiden Antiokia. Kebanyakan sarjana mempercayai bahwa Gereja Roma kemungkinan didirikan oleh imigran atau muallaf dari Jerusallem. Tetap saja pernyataan ini tidak menyelesaikan masalah karena Paulus tidak pernah memiliki jemaat di Jerusallem. Jemaat Jerusallem pastilah memiliki keterikatan dengan Yakobus, yang notabene adalah rival Paulus. Paulus akan tampak sangat bodoh apabila mengharapkan mereka bersedia menyiapkan bantuan keuangan untuknya.

Kesatuan surat

Kebanyakan sarjana modern menolak kedua pasal terakhir surat ini (15 dan 16) sebagai bagian dari surat yang asli. Mereka menganggap kedua pasal tersebut sebagai bagian dari surat yang berbeda, mungkin bagian dari surat Efesus. Beberapa bapak Gereja awal pendukung kepenulisan Paulus seperti Marcion, bahkan menunjukan ketidaktahuannya terhadap bagian tersebut. Keberatan para sarjana didasarkan pada beberapa hal berikut.

  • Paulus belum pernah menginjakan kakinya di Roma, tetapi dalam surat ini ia mengirimkan salam kepada banyak orang di sana. Lebih lagi, orang-orang yang disebutkan dalam surat ini tidak lagi disebutkan dalam surat-surat yang Paulus kirim dari Roma.
  • Diragukan bahwa Prsicillia dan Aquilla (kerabat Paulus) telah pergi menuju Roma dari Efesus, lalu kembali lagi ke Efesus (1 Cor. 16:19; 2 Tim. 4:19).
  • Bila Paulus merupakan tokoh tak dikenal di Roma, maka tampaknya perekomendasian Febe menjadi tidak berguna. “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.” (16:1-2)
  • Peringatan Paulus terhadap kaum antinomianis pada 16:17-19 tampaknya tidak cocok bila ditujukan kepada jamaat Roma mengingat masalah tersebut tidak pernah terjadi di sana, kasus antinomianis diketahui hanya terjadi di Efesus.

Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!”(16:17)

  • Surat ini tampaknya diakhiri pada pasal 15:33,Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin.” Ayat-ayat sisanya lebih tampak sebagai appendiks, dan dihilangkan dari banyak manuskrip kuno.

Bila dilihat dari isinya, Pasal 15 atau 16 mungkin tidaklah terlalu penting, Hanya memuat sambutan-sambutan. Tetapi apabila kita membicarakan kasus ini dalam konteks keaslian firman Tuhan, kepalsuan sekecil apapun harus dipermasalahkan.

Selanjutnya kita akan membahas surat-surat Paulus lainnya, kasus-kasus interpolasi atau penyisipan, pseudograf (pemakaian nama seseorang terhadap suatu karya), penggabungan atau pemotongan akan sering kita temukan di dalamnya. Sungguh saya hanya mendasarkan argumen dari penelitian yang dilakukan sarjana-sarjana Kristen sendiri, bukan atas dasar ambisi pribadi semata. Oleh karena itulah saya menghindari pendekatan radikal dalam hal ini.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s