Kitab Kisah Para Rasul

Sekuel Injil Lukas ?

Dalam naskah-naskah terdahulu, Kitab ini pernah dikenal dengan nama-nama seperti “Injil Roh Kudus”, “Injil Kebangkitan”,dll. (wikipedia.com). Sebenarnya judul “Kisah Para Rasul” kurang tepat diatributkan kepada kitab ini karena yang menjadi tokoh utama kitab ini hanyalah Paulus dan Petrus. Porsi yang didapatkan Petrus atau murid Yesus lainnya pun lebih sedikit daripada yang diberikan sang penulis terhadap Paulus. Penempatan kedua orang tersebut sebagai tokoh sentral masih dirasa kurang pas mengingat pada paska kematian Yesus, orang terpenting dalam pengembangan agama Yahudi-Kristen adalah Yakobus, saudara Yesus, sekaligus pemimpin Gereja Jerusallem. Namun peranannya seakan-akan sengaja dilupakan oleh Gereja. Perjanjian Baru-pun hanya memuat satu surat yang dianggap ditulis olehnya, sisanya didominasi oleh tulisan-tulisan Paulus dan penulis anonim.

Kita patut mempertanyakan kemana saja 12 murid Yesus dalam proses pengembangan agama Kristen yang hampir-hampir tidak terdengar, kecuali Petrus dan Johannes (anak Zabedeus). Perjanjian Baru tampaknya hanya memuat tiga karya yang dianggap ditulis oleh murid Yesus, yaitu karya-karya Matius, Johannes dan Petrus. Walaupun seperti kita ketahui, status karya-karya itupun belum jelas, tidak ada yang berani memastikan bahwa penulis karya-karya tersebut sesuai dengan tradisi yang ada.

Sangatlah sulit untuk mengakui adanya karya otentik murid Yesus dalam Perjanjian Baru, mengingat keseluruhan kitab di dalamnya ditulis dalam bahasa Yunani. Kesulitan yang sama kita dapatkan saat membayangkan seorang nelayan Galilea biasa berbicara dalam bahasa Yunani yang lancar dan sempurna, yang tidak lain adalah Johannes, sang anak Zebedeus. Dalam kitab Kisah Rasul, Rasul Johannes sendiri diketahui hanya disebutkan sebanyak tiga kali (3:1-4, 11; 4:1, 13), dan kitab ini diketahui sempat memuat kisah eksekusi Yakobus oleh Herod. Walaupun peran Paulus tidak dapat dihilangkan dari perkembangan agama Kristen, bagaimanapun ia merupakan penyumbang terbesar teologi Kekristenan. Walaupun Lukas seakan-akan tampil sebagai pembela Paulus saat menulis kitab ini, ia tetap menyajikan fakta-fakta penting yang tersembunyi. Penjelasan lebih jauh akan disajikan pada bab selanjutnya mengenai Paulus.

Pandangan tradisional menisbatkan penulisan Injil ini kepada Lukas, orang yang juga menulis Injil Lukas, walaupun sebenarnya Injil Lukas atau kitab ini tidak pernah menyebutkan apa-apa mengenai identitas penulisnya alias anonim. Kepastian dalam penentuan penulis kitab ini, bahwa ia adalah orang yang sama dengan penulis Injil Lukas ,ditunjukan melalui banyaknya kesamaan-kesamaan dalam gaya penulisan dan penggunaan kosa kata. Penempatan kitab ini setelah Injil Johannes tampaknya akan membuat seolah-olah kitab ini terpisah dari Injil Lukas, tetapi pada kenyataanya kitab ini lebih dianggap sebagai sekuel Injil Lukas. Perbedaan antara Injil Lukas dan Kisah Rasul hanyalah terdapat pada masalah pemilihan tokoh utama. Bila pada Injil Lukas, Yesus adalah tokoh utama, Maka dalam kitab Kisah Para Rasul, Pauluslah tokoh utamanya. Sebenarnya hal ini dapat dipahami mengingat dalam beberapa riwayat diketahui bahwasanya Lukas pernah menjadi rekan Paulus. Pandangan tradisional terhadap kepenulisan Lukas diperkuat oleh pengakuan beberapa Bapak Gereja awal seperti Irenaeus, Tertullian, Clement dan Origen.

Tempat dan Waktu

Karena kitab ini tidak menceritakan kisah eksekusi Paulus, yang merupakan salah satu peristiwa cukup penting dalam sejarah, beberapa sarjana tradisional menempatkan waktu penulisan kitab ini sekitar tahun 64 M.. Pandangan tersebut mendapat banyak perlawanan, mengingat kepercayaan Lukas menghasilkan Injilnya terlebih dahulu, baru kemudian melanjutkan dengan menulis Kisah Para Rasul. Bila Lukas menulis kitab ini tahun 64 M., tahun berapa ia menulis Injilnya ? Sumber penulisan Injil Lukas, Injil Markus bahkan diyakini baru ditulis sekitar tahun 65 M., itupun masih berwujud pandangan tradisional. Saat ini mayoritas sarjana menyepakati waktu penulisan Injil Lukas, yaitu sekitar tahun 80 M., rasanya tidak mungkin penulisan kitab Kisah Rasul mendahului waktu penulisan Injil Markus yang sekitar tahun 65-70 M.. Berbagai perdebatan akhirnya menghasilkan konsensus pemutusan jangka waktu antara tahun 70-80 M. , tetapi ada beberapa sarjana modern yang menempatkanya hingga akhir abad pertama. Mereka mendasarkan teorinya kepada anggapan bahwa Lukas turut menggunakan sumber karya-karya Josephus, sejarawan Yahudi sekitar tahun 80-90 M..

Mengenai tempat penulisan, hal ini masih menjadi misteri. Beberapa sarjana menganggap Roma atau Antiokia sebagai tempat yang tepat, tetapi beberapa bukti Internal menunjukan tempat seperti Efesus atau daerah sekitarnya. Pandangan ini mungkin dapat menjawab pertanyaan mengapa Lukas tidak menulis apapun mengenai kematian Paulus, kemungkinan karena ia memang tidak mengetahuinya. Lukas kemungkinan berpisah dengan Paulus di Roma, lolos dari eksekusi pemerintah Roma dan berkonsentrasi di Asia Minor, sedangkan Paulus yang malang harus menghadapi maut di tangan Nero. Tapi teori tidak menutup kemungkinan Lukas menulis Injilnya di Roma, artinya ia bisa saja mengetahui berita perihal eksekusi Paulus yang telah dilakukan kekaisaran, Tetapi tidak mau menulis berita pengeksekusian tersebut karena pertimbangan emosi. Teori ini dipegang oleh beberapa sarjana, tetapi perlu pembahasan lebih lanjut, Mengingat Lukas menulis karya ini sebagai suatu pencatatan sejarah, bukan hanya sekadar buku harian.

Beberapa Kesalahan Lukas

Karena Lukas menulis kitab ini sebagai seorang sejarawan, tentunya ia tidak akan lepas dari berbagai kesalahan baik disengaja maupun tidak. Beberapa sarjana menyoroti beberapa kekeliruan pencatatan baik yang terdapat dalam Injil Lukas maupun kitab Kisah Para Rasul ini, beberapa kekeliruan tersebut adalah :

  • Menurut Lukas 1:5, Yesus lahir pada masa kekuasaan Herod Agung. Kemudian dalam bagian lain Lukas menjelaskan alasan mengenai keberadaan Maria dan Yusuf di Betlehem, yaitu karena adanya peristiwa “sensus nasional” yang diperintahkan oleh Quirinus (Lukas 2:1). Catatan mengenai peristiwa ini cukup diketahui oleh para sejarawan modern. Yang menjadi masalah di sini adalah, melalui catatan sejarah dapat diketahui, Herod agung wafat sekitar tahun 4 S.M., sedangkan sensus yang diadakan Quirinus baru terjadi di sekitar tahun 6 M., yaitu 10 tahun setelah kematian Herod. Lukas tampaknya keliru saat menempatkan sensus nasional pada masa kekuasaan Herod, padahal peristiwa tersebut terjadi setelah kematian Herod. Berbagai penjelasan mengenai kasus ini mungkin telah dilakukan oleh para sarjana tradisional, tetapi hanya akan menimbulkan masalah-masalah baru, alangkah lebih mudah untuk mengakui bahwasanya Lukas telah melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Kita juga tidak bisa menumpahkan segala kesalahan kepada Lukas mengingat ia turut menggunakan sumber catatan-catatan (oral atau tulisan) yang dibuat oleh orang lain sebelumnya, dan kemungkinan kesalahan ini berasal dari sumber yang Lukas gunakan tersebut. Jangan pula kita menimpakan kesalahan ini kepada Roh Kudus karena Lukas tidak pernah mengaku bila ia mendapatkan inspirasi penulisan berdasarkan perantara roh Kudus, baik dalam Injilnya maupun dalam kitab Kisah Rasul-nya.

  • Walaupun dianggap memiliki keunggulan dalam sastra, Lukas tampaknya memiliki kelemahan dalam pengetahuan ilmiah. Bila kita perhatikan urutan silsilah Yesus yang disusun Lukas, kita menemukan bahwa Lukas sangat berani untuk menarik urutan nenek moyang Yesus hingga Adam. Dapat dipastikan ia mendasarkan pernyataannya dari Kitab Kejadian. Menurut perhitungannya, Ibrahim merupakan generasi manusia ke-20 setelah Adam, dan Yesus sendiri menempati urutan ke-77. Pemikiran Lukas ini, yang sesuai dengan kondisi sains saat itu, tidaklah salah. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan jaman, sains telah berkembang dengan pesatnya, saat ini telah dapat diketahui bahwa perhitungan Lukas maupun Perjanjian Lama mengenai usia manusia di bumi sebagai kekeliruan. Menurut Lukas, andaikan satu generasi dihitung sebgai 100 tahun, Adam atau manusia pertama baru ada setidaknya 8000 tahun sebelum Yesus. Perhitungan Lukas, akan ditertawakan profesor-profesor yang hidup di jaman sekarang, bila dilihat melalui konteks sains saat ini. Fosil manusia tertua yang pernah ditemukan, menunjukan usia setidaknya 1.700.000 tahun sebelum masehi, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya fosil yang lebih tua, mungkin dengan jangkauan usia hingga 10.000.000 tahun sebelum Masehi ! Salah satu kesalahan sains ini, akan tampak mencolok bagi seorang pembaca Bible yang terpelajar. Sayangnya, kebanyakan dari mereka terlalu gengsi untuk mengakui adanya kesalahan tersebut, dan mulai untuk memberikan alasan-alasan yang mengada-ada.

  • Menurut Lukas 3:2 dan Kisah Rasul 4:6, Hannas adalah pendeta Yahudi tertinggi pada masa kehidupan Yesus. Sebaliknya, menurut catatan Josephus, sejarawan Yahudi terkemuka, Hannas diangkat menjadi pendeta tinggi setelah sensus diadakan, yaitu sekitar 6 M.. Ia kemudian dipecat saat Tiberius menjadi Kaisar sekitar tahun 15 M.. Tiga tahun kemudian Joseph Kefayas menjadi pendeta tertinggi, Kefayas sendiri diberhentikan setelah 18 tahun berkuasa, yaitu pada tahun 36 M.. Kesimpulannya, adalah Kefayas, bukan Hannas yang menjadi pendeta tertinggi Yahudi pada masa kehidupan Yesus. Hal ini sejalan dengan catatan Johannes yang menyatakan bahwa yang menjadi pendeta tertinggi adalah anak tiri Annas, yaitu Kefayas (John 18:13). Dalam hal ini, Integritas Josephus sebagai seorang pencatat sejarah Yahudi tentulah melebihi Lukas yang notabene seorang Gentile.

  • Dalam Kisah Rasul 11:28 disebutkan mengenai peristiwa “bencana kelaparan luas” yang terjadi pada masa kekaisaran Claudius. Peristiwa tersebut memang terjadi, sebuah bencana kelaparan melanda dataran Judea pada masa Claudius, yaitu sekitar tahun 46-48 M.. Tetapi bencana tersebut tidak sempat meluas hingga keluar Judea. Lukas dalam Kisah Rasul 11:29-30 menyebutkan mengenai sekumpulan orang di Antiokia yang mengirimkan bantuan ke daerah Judea. Menurut logika, hal tersebut tidak akan bisa terjadi bila peristiwa kelaparan yang dinyatakan Lukas tadi adalah “meluas”. Bila memang terjadi suatu bencana kelaparan luas, maka penduduk Antiokia juga akan terkena dampaknya. Mereka tidak akan mampu untuk memberikan bantuan makanan kepada siapapun. Ketidaktahuan Lukas mengenai peristiwa lokal yang terjadi di dataran Judea menandakan bahwa ia bukanlah penduduk daerah tersebut.

  • Kesimpulan para sarjana mengenai penggunaan Injil Markus oleh Lukas tampaknya telah diterima luas, tetapi tampaknya Lukas juga menggunakan sumber selain Injil Markus, yaitu sebuah naskah sastra Yunani berjudul Bacchae yang ditulis sekitar tahun 406 SM.. Penggunaan ini terlihat saat Lukas mengisahkan peristiwa konversi Paulus, saat itu Paulus mendengar suara sebagai berikut, ”Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang (pros kentra laktizein).” (Kis 26:14). Dalam Bacchae, seorang tokoh bernama Dyonisis, ia juga seorang Dewa (Tuhan) yang tersiksa pernah mengatakan ,” Kau telah mengabaikan peringatanku…dan bagimu menendang ke galah rangsang (pros kentra laktizoimi ) kepada “penyiksanya” yang bernama Raja Pentheus. Kesamaan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai suatu kebetulan belaka. Anda mungkin bertanya apa alasan Yesus mengatakan kalimat tersebut (“Sukar bagimu menendang ke galah rangsang”) kepada Paulus, silakan cari sendiri arti daripada perumpamaan tersebut.

Beberapa kisah pembebasan Paulus dari penjara juga tidak lepas dari tuduhan penjiplakan kisah Bacchae. Tampaknya bukan hal yang mustahil bagi Lukas, seorang Yunani terpelajar untuk mengetahui kisah-kisah (Bacchae) tersebut, dan kemudian mengadopsi beberapa bagian darinya.

Beberapa kesalahan di atas adalah bila kita membandingkan rekaman persitiwa dalam karya Lukas dengan catatan sejarawan lainnya. Tetapi dalam beberapa bagian, kita juga dapat menemukan beberapa catatan yang bertentangan dengan tulisan Paulus. Beberapa bagian tersebut adalah :

  • Kisah Rasul menyebutkan setidaknya ada lima kali perjalanan Paulus sedangkan dalam surat Paulus hanya dijelaskan sekitar tiga kali perjalanan. (Kis Ras 9, 11, 15, 18:22, 21 berlawanan dengan Galatia 1:18, 2:1 dan rencana mengunjungi Jerusallem di Roma 15:25).
  • Kisah Rasul 10:1-11:8 menyebutkan, misi penyebaran ajaran Kristen kepada kaum Gentile (kafir) dimulai oleh Petrus. Bertentangan dengan klaim Paulus dalam Galatia 2:1-10 yang menyatakan bahwa ialah yang berusaha mempertahankan misinya kepada kaum Gentile dari hadangan “The three Pillars” (Yakobus, Johannes dan Petrus). Pertanyaan mungkin muncul, mengapa Paulus harus mempertahankan misinya kepada kaum Gentile bila misi tersebut sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Petrus ? Ataupun mengapa mereka tidak melakukan misi tersebut bersama-sama ?
  • Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkap aku. Tetapi dalam sebuah keranjang aku diturunkan dari sebuah tingkap keluar tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya.” (2 Korintus 11:32-33). Dalam ayat tersebut Paulus menyebutkan perihal adanya plot untuk membunuh dirinya, plot tersebut disusun oleh raja Aretas. Sedangkan dalam Kisah Rasul kita menemukan versi yang berbeda terhadap peristiwa yang sama. “Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus.”(Kis Ras 22-23) Bila menurut Paulus, ia mendapatkan ancaman pembunuhan yang direncanakan oleh Raja Aretas, Lukas menuduh kaum Yahudi sebagai pihak yang merencanakan pembunuhan Paulus.

Suka atau tidak, tampaknya Lukas telah berusaha untuk menyajikan suatu catatan sejarah yang sangat bernilai. Beberapa kesalahan kecil tersebut tentunya akan dapat dipahami bila kita melihat usaha Lukas dari sudut pandang ia sebagai sejarawan yang hanya menggunakan sumber yang tersedia, peran Roh Kudus pun dapat dikesampingkan setelah kita melihat banyaknya kesalahan dalam karyanya. Dalam hubungannya dengan Paulus, Tanpa kitab ini Paulus tidak akan mendapat tempat penting dalam sejarah Kristiani, dan surat-suratnya tidak akan dilirik orang.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s