Happiness

Suatu hari kapal laut itu tenggelam di tengah samudra, menyisakan dua orang selamat yang terdampar di pulau terpencil. Seorang dokter dan seorang kuli bangunan. Dalam beberapa hari pertama hubungan pertemanan mereka berjalan dengan baik, saling mendukung satu sama lain guna mempertahankan hidup.

Tapi waktu terus berjalan, tidak ada tanda-tanda keadaan akan berubah baik, kebosanan mulai muncul.

Seperti hari-hari lainnya, Suatu malam mereka berbincang santai.

“Kau tahu tidak, selama karir saya menjadi dokter, saya telah menyelamatkan nyawa ribuan orang, mulai dari mencabut kanker sebesar melon dari rahim seorang nenek-nenek hingga memasang jantung cangkokan pada seorang mantan presiden…”, Si Dokter memulai pembicaraan.

“…Oh… Sungguh hebat prestasimu, sedangkan aku hanya…” Si Kuli menimpali.

“…Oh iya, maaf saya potong pembicaraanmu, saya jadi ingat suatu kejadian saat saya harus mengobati seorang korban ledakan bom bunuh diri, saat kemungkinan hidupnya hanya satu banding seribu, tetapi dia berhasil hidup, semuanya berkat keahlian saya, dan sekarang kami berteman baik…” Si Dokter melanjutkan ceritanya.

“Itu mengagumkan sekali, aku…”

“…Dan, ini juga penting, istri saya yang sangat saya cintai, adalah mantan pasien saya juga, dia seorang model yang saat itu menderita sesak napas. Saya sangat beruntung memiliki dirinya, cantik, seksi dan baik hati, bagaimana denganmu wahai Kuli ?” sambung si Dokter

“…Istriku ? Dia baik, kami hanya…”

“…Oh iya, Saya ingat suatu saat istri saya membuatkan ayam panggang yang sangat lezat sepulang saya mengoperasi seorang anak kecil yang menderita kanker. Saya bangga memiliki istri sebaik dia ! Tidak ada perempuan lain sebaik dia… Dalam hidup ini, saya tidak pernah melihat orang seberuntung diri saya, saya memulai kehidupan dari bawah, dan kini saya menuai semua pengorbanan itu, andai anda seberuntung saya wahai kuli…”. Ujar si Dokter lagi.

Kekesalan si Kuli memuncak, kali ini ia mengambil sebuah batu karang dan menghujamkannya ke kepala si Dokter, si dokter langsung terkapar lemas tak bernyawa.

“…Aku mungkin hanya membangun toilet dan comberan dalam seumur hidupku, aku tidak pernah menyelamatkan nyawa seseorang pun, tetapi itu bukan berarti hidupku tidak SEMPURNA !!!…”,Ungkap si Kuli dengan tangan yang masih berbalur darah sang dokter.

“AKU BAHAGIA DENGAN HIDUPKU !!!”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s