Sekilas Sejarah Pendidikan Kolonial

Djika soedah dapat goeroe sedjati

Minta soepaja dipeladjari

Tjara bagaimana ilmoe hakiki

Jang bergoena kelak kemoedian hari

(Sumber :  anonim)


Masa orientasi siswa telah dimulai, tampak wajah2 ceria anak2 yang memasuki lingkungan sekolah baru, sebaliknya wajah cemas diperlihatkan orang tua mereka yang harus membiayai sekolah sang anak. Mungkin timbul di benak para orang tua itu, mengapa harus ada sistem sekolah yang membedakan antara sekolah dasar, sekolah menengah pertama, atas, hingga perguruan tinggi. Mengapa tidak di”jamak-qashar” saja menjadi satu, sebut saja Sekolah Komplit ? Nah oleh karena itu kita perlu menilik sejarah pendidikan di Nusantara. Tapi karena cukup panjang, maka saya batasi dulu pembahasan hanya untuk sekolah dasar saja.

Sebelum kedatangan Belanda, pendidikan di Nusantara kebanyakan hanya berbentuk pesantren yang lebih mengutamakan ilmu Agama Islam tentunya. Ilmu yang diajarkan disini tentunya sangat terbatas, karena ilmu pengetahuan barat belum masuk sepenuhnya. Sampai kemudian datang Belanda yang menggunakan peluang keterbatasan Ilmu pengetahun penduduk Pribumi untuk dengan mudahnya mengacak-acak masyarakat nusantara melalui taktik-taktik kotor. Namun toh penduduk pribumi tidak sebodoh itu untuk menerima penjajahan. Mereka tetap melawan.

Hambatan terbesar bagi Belanda tentunya adalah Iman yang menjadi motivasi penduduk untuk melakukan perang suci terhadap “Pasukan Salib” Belanda. Titik-titik perlawanan utama; Aceh, Sumatera Utara dan Jawa Tengah merupakan lokasi perang-perang suci yang paling merepotkan Belanda. Oleh karena itu, munculah ide dari Snouck Hurgronje untuk melakukan “associatie van de inheemse elite aan de Nederlandse cultuur” alias asosiasi elit pribumi pada budaya Belanda untuk mengikis perlawanan penduduk pribumi. Mengapa hanya kaum elit ? Karena menurutnya tidak ada cukup dana untuk bisa memberikan pendidikan berbasis Barat ke penduduk pribumi. Selain itu “de kleine man” atau psikologi rakyat jelata juga belum cukup dipahami untuk bisa melihat ekses dari pemberian pendidikan ini di masa depan.

Pendidikan Barat ini intinya punya dua fungsi, selain mengurangi perlawanan penduduk, juga untuk menyuplai tenaga-tenaga terdidik, cakap, disipilin dan loyal pada pemerintahan Hindia Belanda. Ini tentunya akan lebih mudah daripada menggaji orang dari negeri Belanda. Nah, Singkatnya mulailah muncul sekolah-sekolah di Nusantara. Berikut adalah beberapa jenis sekolah tersebut.

Secara garis besar ada dua macam sekolah, yaitu yang berbahasa Belanda dan berbahasa non-Belanda.

Untuk yang Non Bahasa Belanda, yang pertama adalah pendidikan dasar yang biasa disebut Volkschool atau sekolah desa. Di sekolah ini anak-anak sekadar diberi pelajaran membaca, menulis atau berhitung. Lulusan terbaik sekolah ini dapat melanjutkan ke Vervolgschool, dan tamatan vervolgschool dapat melanjutkan lagi ke kursus Guru Bantu selama 2 tahun. Praktek engajar dijalankan di Tweede Inlandse School (sekolah rakyat angka loro) selama 6 bulan. Kalau lulus dapat mengajar di Volkschool.

Ada pula Tweede Inlandse school , lamanya 5 tahun. Tamatan sekolah ini dapat menjadi guru, melalui ujian dan seleksi untuk diterima di Normaalschool voor Indlandse Hulponderwijzer (guru bantu pribumi). Murid Tweede Inlandse School kelas 4 yang pintar dapat diterima di Schakelschool selama 3 tahun. Schakelschool merupakan sekolah yang menjembatani sekolah berbahasa non-Belanda dengan yang berbahasa Belanda.

Sekolah rendah yang mendapat pelajaran Bahasa Belanda antara lain Hollands Inlandse School (HIS), dengan lama studi 7 tahun. Bahasa pengantar di kelas I, II dan III adalah bahasa daerah, sedangkan bahasa Belanda diberikan di kelas I satu kali seminggu, di kelas II dan III kemudian lagi ditambah beberapa jam. Di kelas IV beberapa pelajaran sudah mulai menggunakan bahasa Belanda, sedangkan di kelas V, VI dan VII smua pelajaran sudah diberikan dalam bahasa Belanda. Seperti UAN di masa sekarang, anak-anak kelas VII di masa itu harus mengikuti ujian seleksi akhir dengah hasil :

  • Tamat dan mendapat keterangan dari Kepsek langsung masuk kelas I MULO
  • Tidak tamat dan tidak boleh mengulang
  • Tidak tamat, tapi boleh mengulang 1 tahun
  • Tamat, boleh turut ujian masuk voorklas (kelas persiapan) MULO
  • Tamat, mendapat keterangan dari Kepsek boleh masuk ke voorklas MULO tanpa ujian dan boleh ikut ujian untuk kelas I MULO

Begitulah ternyata sistem kelulusan jaman dahulu lebih rumit namun lebih manusiawi.

Kemudian ada pula Schakelschool. Tamatan sekolah ini mendapat hak yang sama dengan tamatan HIS.

Setingkat dengan HIS, ada pula sekolah-sekolah untuk keturunan China yang disebut Hollands Chinese School (HCS), keturunan Arab Hollands Arabische School (HAS) dan untuk anak-anak serdadu KNIL asal Ambon – Ambonse School.

Tahun 1927, untuk meningkatkan mutu murid tamatan HIS, pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah baru bernama Hollands Inlands Kweekschool di Bukittinggi, Bandung, yogyakarta dan Blitar. Lamanya 3 tahun dengan mata pelajaran yang hampir sama dengan MULO (Gouvernements Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Di sekolah ini, bahasa Belanda merupakan pelajaran maut, nilai 5 merupakan bel kematian. Murid dipersilakan mencari sekolah lain atau tidak naik kelas. Dan untuk setiap tingkatan, seleksi diperketat. Untuk bahasa Belanda rata-rata sekurangny memiliki nilai 6 untuk sub bagian membaca, pengetahuan dan penguasaan.

Setelah sekolah ini dibuka, pihak swasta juga membuka sekolah serupa antar lain sekolah NIATWU yang didirikan Yayasan Teosofi Albanus di daerah Lembang.

Nah, murid-murid yang dapat memasuki Kweekschool ini antara lain :

  • Murid-murid Kweekschool kelas I yang naik ke kelas II melalui seleksi
  • Murid-murid voorklas MULO yang naik ke kelas I MULO melalui seleksi
  • Murid-murid tamatan HIS yang mendapat keterangan langsung dapat diterima di kelas I MULO, melalui seleksi.
  • Lulusan HIK merupakan lulusan yang sangat unggul dan diproyeksikan untuk menjadi guru HIS. Guru-guru lulusan HIK berpengetahuan luas dan dapat berbahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Jawa.

    Pada masa kedatangan bangsa Jepang. Semua sekolah berbahasa Belanda ditutup. Di kemudian hari, seluruh sekolah dasar hanyalah berbentuk SR atau Sekolah Rakyat yang lama belajarnya 6 tahun. Demikian sedikit uraian singkat mengenai sejarah pendidikan dasar di masa kolonial.

    Berikut adalah bagan tingkat sekolah di masa kolonial Belanda

    GHS : Geneeskundige Hoge School

    HAC : Hoofd Akte Cursus

    RHS : Recht Hoge School

    THS : Technische Hogeschool

    HKS : Hogere Kweek School

    HIK : Hollands Inlands Kweekschool

    AMS : Algemeene Middlebare School

    KS : Kweekschool

    Sumber :

    P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Gramedia : 2002

    Keluarga EX-HIK Yogyakarta, Gema Edisi Yubileum, Forum Komunikasi keluarga Ex-HIK : 1987

    Leave a comment

    No comments yet.

    Comments RSS TrackBack Identifier URI

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s