Inside The Jihad

Buku Inside The Jihad yang dikarang oleh seseorang bernama samaran Omar Nasiri ini menyajikan kisah petualangan spionase menegangkan ala James Bond , hanya saja tokoh utama dalam buku ini, yang tidak lain adalah dirinya sendiri, tidak menggunakan peralatan-peralatan super canggih, melainkan senjata-senjata konvensional semacam senapan kalashnikov, bom C4, hingga mobil Audi bermuatan bom, kesemuanya berbaur dengan kemampuannya dalam menghadapi berbagai situasi sulit yang biasa dihadapi seorang mata-mata. Tantangan yang dihadapinya cukup berat karena ia harus menyusup ke dalam jantung organisasi teroris Al Qaeda yang dikomandoi oleh Osama Bin Laden.

Petualangan yang tiada hentinya disajikan Omar Nasiri, sehingga kadang terpikir bahwa buku yang kita hadapi adalah sebuah novel fiksi. Tetapi kisah yang disajikannya benar-benar nyata, segala tokoh dan kejadian yang disebutkan benar adanya. Petualangannya melampau berbagai negara Eropa, Afrika hingga Asia. Mulai dari kisah masa kecilnya di Maroko, hingga saat ia mendalami pelatihan teroris di Kamp Afganisthan.

Bagian pertama buku ini memuat kisah hidup Omar mulai dari masa kecilnya di Maroko dan Brussels, yaitu masa-masa yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian seorang mata-mata teroris yang cerdik dan lihai, karena masa remajanya kental dengan nuansa Islam garis keras dan dunia hitam perdagangan barang-barang illegal. Sedangkan masa remajanya diwarnai dengan pergaulannya terhadap kelompok GIA (Group Islamique Armee), suatu kelompok garis keras di Aljazair hingga keterlibatannya untuk pertama kali dengan Agen rahasia Prancis. Kehidupan seorang mata-mata selalu diliputi oleh berbagai pilihan buruk dan pengkhianatan, seakan-akan tidak bisa ada pihak yang bisa dipercaya, sehingga dalam hal ini Omar selalu mengandalkan instingnya yang cerdas dalam menghadapi situasi yang sempit.

Sebagai seorang yang berasal dari lingkungan Islam, ia dapat menjabarkan sudut pandang penyebab seseorang muslim dapat menjadi begitu radikal. Ia yang masa mudanya juga pernah terbakar oleh semangat Jihad, tetapi kemudian ia “tersadarkan” bahwa cara-cara yang ditempuh saudara-saudaranya dalam menegakkan kebenaran telah melenceng dari ajaran Islam yang sebenarnya. Oleh karena itulah ia bersedia memasuki dunia terorisme hanya dengan tujuan yaitu tidak lain untuk mencegah terjadinya tindak teror yang dapat tidak sesuai dengan kemanusiaan, sedangkan di lain pihak akan memperburuk nama baik Islam sendiri sebagai ajaran rahmatan lil alamin.

Bagian kedua buku ini mengulas banyak pengalaman Omar selama mengenyam pelatihan di kamp Mujahidin di Afganisthan. Adalah tidak mudah bagi siapapun untuk dapat bisa masuk begitu saja ke dalam organisasi militan ini, karena sistem perekrutan yang sangat selektif dan ketat. Bahkan Stansfield Turner, Direktur CIA tahun 1977-1981, mengakui kesulitan yang dihadapi badan mata-mata manapun yang ingin memasukan agennya pada organisasi teroris, karena kadang organisasi mensyaratkan calon anggotanya untuk membunuh orang-orang tetentu sebagai bukti loyalitas pada organisasi. Selain itu, Sistem organisasi yang berbentuk sel mempersulit seorang agen mata-mata untuk memperoleh informasi yang akurat. Karena berhasil memasuki lingkaran dalam organisasi ini, Omar memaparkan banyak sekali aspek-aspek tersembunyi yang selama ini kita tidak ketahui mengenai organisasi para kaum mujahid di Afganisthan. Contohnya, tidak seperti yang selama ini kita duga, ternyata para mujahidin yang berasal dari berbagai belahan dunia kurang memiliki hubungan yang baik dengan Taliban. Omar yang sehari-hari bergaul dengan para “Teroris”, dapat memberikan pandangan dari sudut pandang mereka dengan alami, tidak seperti yang dituduhkan oleh para penulis barat mengenai terorisme. Pada akhirnya Omar dapat mengerti penyebab kemunculan fundamentalisme ekstrim pada para pemuda yang dilatih di kamp, tetapi batinnya tetap menolak utnuk menyetuji metode Jihad yang dapat mengakibatkan korban pada pihak sipil.

Omar juga mengulas keseriusan pelatihan serta kemampuan militer yang didapat para peserta selama berada di Kamp. Mereka diajari penggunaan berbagai macam senjata, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat, peracikan bom dengan menggunakan paling bahan-bahan sederhana, hingga cara untuk mencapai efek maksimal dalam suatu peledakkan bom. Melalui berbagai kisahnya tersebut, kita tentu saja tidak akan meragukan kembali keahlian-keahlian para alumni pelatihan di Afganisthan tersebut dalam menciptakan teror yang sangat dahsyat.

Bagian ketiga dan keempat buku ini, masing-masing bertajuk “Londonistan” dan “Jerman”, membahas pengalaman Omar selama bertugas sebagai “sel tidur” Al Qaeda di Eropa, di lain pihak ia juga mendapat peran sebagai agen mata-mata Inggris yang mengawasi bibit-bibit ekstrimisme yang tengah tumbuh di Inggris saat itu, yang dipelopori oleh Abu Hamza dan Abu Qatada. Abu Hamza, pemimpin masjid Finsbury park, seorang ulama garis keras, telah dikenai tuduhan atas penyebaran kebencian dan beberapa rencana terorisme. Sedangkan Abu Qatada, yang ditahan pada oktober 2002 oleh otoritas Inggris, turut dikenai tuduhan atas beberapa keterlibatan dalam tindakan terorisme. Omar berhasil membantu pemerintah Inggris dalam menanggulangi beberapa aksi teror berkat informasi yang berhasil dikumpulknnya, sayangnya karirnya di negara tersebut tidak berlangsung lama. Setelah sekitar dua tahun, ia mulai merasa bahwa kecurigaan terhadap dirinya mulai meningkat, sejalan dengan mulai intensnya aksi-aksi teror yang dijalankan oleh Al Qaeda. Omar lalu memutuskan untuk hijrah ke Jerman dan memulai kehidupan baru di sana bersama Istrinya, Fatima.

Kisah-kisah yang dibeberkan Omar Nasiri yang sarat dengan nuansa kemanusiaan, dapat membuat kita merenungkan kembali makna Jihad yang sesungguhnya. Pergolakan batin yang sempat dialami Omar saat memiliki peran sebagai Mujahidin yang merangkap agen barat, mencerminkan posisi seorang Muslim yang hidup di masa modern ini. Di mana wilayah hitam dan putih menjadi kian kabur, dan menyisakan ruang abu-abu yang luas.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s