Injil Menurut Johannes

Injil Gnostik

Injil terakhir ini memiliki perbedaan yang mendasar dengan ketiga Injil Lainnya (Injil Sinoptik). Oleh karena itu dapat dipastikan, penulis Injil ini tidak menggunakan referensi ketiga Injil sebelumnya, walaupun ia mungkin telah mengetahui eksistensi ketiga Injil tersebut. Walaupun ditulis dalam bahasa Yunani, Seperti ketiga Injil sebelumnya, Injil Johannes memiliki banyak ciri khas yang membedakan dari Injil Sinoptik. Kosa kata yang digunakan penulis Injil ini juga lebih kaya bahkan bila dibandingkan dengan karya Lukas atau Paulus, sekitar 90 kata tidak terdapat dalam karya-karya tersebut. Selain itu, Injil ini dikenal memuat ekspresi-ekspresi Gnostis yang berkembang pada akhir abad pertama.

Injil Johannes memiliki kedalaman tersendiri dan tafsirannya sejak lama digunakan Gereja sebagai dalil bagi doktrin mereka. Injil ini juga dianggap sebagai karya yang paling “teologis dan spiritual” bila dibandingkan dengan Injil Sinoptik. Perhatikanlah pembukaan yang sangat puitis dari Injil ini.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya”(John 1:1-5).

Dari pembukaannya saja kita sudah bisa mendapati bahwa Johannes benar-benar memiliki pandangan yang berbeda daripada penulis ketiga Injil lainnya. Saat Matius dan Lukas menjelaskan asal-usul Yesus dari Ibrahim atau Adam, secara tiba-tiba Johannes menyebutkan bahwa Logos/Firman (diartikan sebagai Yesus oleh umat Kristiani) telah eksis sebelum penciptaan alam semesta (praeksistensi). Pastinya Johannes tidak menanyakan mengapa Yesus harus menunggu ribuan tahun untuk bisa turun ke bumi. Terlihat sekali motif Johannes untuk menghubungkan eksistensi Yesus dengan penciptaan alam yang terdapat pada awal kitab Kejadian. Konsep tersebut tidak pula dapat dipisahkan dari konsep Gnostis.

Dalam hal perbedaan utamanya dengan Injil-injl sinoptik, Injil Johannes menekankan pembahasan seputar hal berikut; (1) Kehidupan metafisik Yesus, (2) Hubungan mistis antara Bapak dengan Anak dan beberapa konsep dasar bagi Trinitas. Hal-hal tersebut tidak pernah dibahas secara khusus dalam Injil Sinoptik, (3) Hubungan antara sang penebus dengan orang-orang yang mempercayainya, (4) Penyebutan adanya Penenang/Paraklet yang kontroversial. Tetapi memang pada dasarnya, Injil ini disusun melalui sudut pandang yang berbeda dari para penulis Injil sinoptik, contohnya saat sang penulis memuat beberapa kisah mengenai Yesus yang tidak terdapat dalam Injil lainnya, dan saat mengisahkan suatu peristiwa yang juga dimuat dalam Injil sinoptik, tetapi keadaanya benar-benar berbeda. Intinya, Injil ini seakan-akan telah keluar dari jalur yang selama ini digunakan dalam penulisan ketiga Injil sebelumnya.

Johannes yang mana ?

Tidak seperti ketiga Injil sebelumnya yang benar-benar diam saat berusaha menyebutkan identitas penulisnya, Injil Johannes memeberi sedikit keterangan mengenai orang yang diduga sebagai penulisnya. Kita dapat menemukan penyebutan namanya dalam pasal 1:6, “…Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Johanes…”; Persoalannya, Johannes manakah yang dimaksud dalam ayat di atas ? Karena pada abad pertama, pengguna nama “Johannes” sangatlah banyak, termasuk kerabat Yesus. Selain itu nama “Johannes” sebagai penulis Injil hanya muncul sekali, yaitu pada bagian di atas. Tetapi bila kita melihat lanjutan ayat tersebut yaitu pada ayat ketujuh, penulis Injil menggunakan kata ganti “ia” untuk merujuk kepada Johannes.

ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.” (John 1:7)

Penggunaan kata ganti tersebut tampaknya ditulis oleh orang diluar Johannes, kecuali apabila Johannes memang gemar menggunakan kata ganti “ia” terhadap dirinya alih-alih menggunakan kata “aku”. Umat Kristen tampaknya tidak mempermasalahkan keganjilan tersebut, karena itu secara tradisional Injil ini dipercaya ditulis Johannes anak Zebedeus, namun pandangan tersebut kerap disangkal oleh kebanyakan sarjana modern.

Johannes anak Zebedeus adalah salah satu dari 12 murid Yesus yang terkenal. Menurut Papias, lama setelah kematian Yesus, Johannes menghabiskan sisa hidupnya di Efesus, pusat perkembangan agama Kristen setelah kehancuran kuil Jerusallem tahun 70 M.. Tetapi jangan terburu-buru meyakini Johannes sebagai penulis utama Injil ini. Pertama-tama, Bila kita mempercayai Johannes murid Yesus sebagai penulis Injil ini, maka pastilah penulis Injil ini adalah seorang Yahudi Palestina. Bertentangan dengan keyakinan bahwa Injil ini ditulis pertama kali dalam bahasa Yunani secara sempurna. Penggunaan bahasa Yunani dalam Injil Johannes memang lebih unggul dari kitab-kitab lainnya, seakan-akan menandakan bahwa penulisnya merupakan orang yang sangat terpelajar. Selain itu bagaimana cara menjawab perbedaan yang kentara antara Injil ini dengan Injil Matius, mengingat Johannes dan Matius adalah sama-sama murid Yesus. Dengan pengandaian mereka berdua adalah murid Yesus, maka dapat dipastikan mereka berdua akan mendapatkan ajaran yang sama dari gurunya (Yesus) tanpa perbedaan yang berarti. Injil Matius mungkin masih membicarakan Yesus sebagai manusia biasa dan sebagai Messiah, sebaliknya Johannes banyak membicarakan Yesus melalui ekspresi-ekspresi Ketuhanan. Yesus tentunya tidak memberikan pengajaran yang berbeda terhadap murid-muridnya.

Masih banyak perbedaan lain yang terdapat di antara Injil Johannes dengan Injil Matius (Injil Sinoptik) hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian lain. Selain itu, karakter dari Injil ini mengindikasikan bila penulisnya adalah seorang Yunani terpelajar yang telah mengadopsi pemikiran-pemikiran Philo dan kebatinan, bertentangan terhadap pandangan tradisional bahwa penulis Injil ini adalah Johannes anak Zebedeus, karena keluarga Zebedeus hanyalah keluarga nelayan Galilea biasa. Lebih dari itu, ditegaskan dalam kitab Kisah Para Rasul mengenai keterbelakangan Johannes.

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya hanyalah orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.”(Kis Ras 4:13)

Adalah suatu keganjilan, apabila kita membayangkan seorang anak nelayan biasa, yang oleh orang lain dianggap sebagai orang tak terpelajar, mampu menyusun suatu karya dengan bahasa Yunani yang sempurna. Mungkinkah Roh Kudus sengaja memberi kelebihan ini kepada Johannes anak Zebedeus, di lain pihak ia membiarkan Markus menyusun Injilnya dengan tata bahasa yang buruk ?

Tidak hanya itu, Seperti halnya dengan ketiga Injil sebelumnya, dimana para sarjana menemukan beberapa pernyataan yang berbau anti-semit, Johannes 8:39-44 menggambarkan tuduhan yang serius terhadap kaum Yahudi, dimana Yesus menyebut kaum Yahudi sebagai anak iblis.

Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”(John 8:44)

Bapa kaum Yahudi adalah Ibrahim, yang juga kakek moyang Yesus. Riwayat ini tidak dimuat dalam Injil-injil sebelumnya. Bukti tersebut menunjukan dengan jelas, bagaimana kemungkinan seorang Yahudi Judea menulis Injil ini sangatlah kecil. Beberapa sarjana modern turut menyoroti tidak adanya penyebutan terhadap Yakobus atau kisah kematiannya. Yakobus adalah saudara Johannes dari darah Zebedeus dan berbeda dengan penulis surat Yakobus yang merupakan saudara Yesus.

Riwayat tertua mengenai kepenulisan Johannes mungkin datang dari karya Justin Martyr. Dia mengatakan bahwa seorang Johannes telah menulis kitab Wahyu (menurut pandangan tradisional, Johannes menulis Injil, surat-surat, dan kitab Wahyu), tetapi Justin Martyr tidak mengatakan apa-apa mengenai Injil Johannes. Menurut Eusebius, Papias pernah menyebutkan dua nama rasul yang bernama Johannes, yang satunya telah mati dan satunya lagi masih hidup saat Papias menulis catatan tersebut sekitar tahun 125 M..

Menurut Papias, Penulis kitab wahyu seperti halnya surat 1,2 & 3 Johannes adalah yang disebut sebagai Johannes sang Penatua atau “The Elder” (berbeda dengan Johannes anak Zebedeus), keterangan yang kita miliki mengenai Johnannes sang Penatua sangatlah minim, selain keyakinan bahwa ia memiliki otoritas terhadap kaum Yahudi. Selain itu, Kitab Wahyu diyakini ditulis di pulau Patmos, sebuah pulau terasing pada akhir abad pertama. Maka dapat dipastikan bahwa penulis Injil Johannes Kitab Wahyu merupakan dua insan yang berbeda, bagaimana mungkin Johannes yang sama dapat berada di dua tepat sekaligus, yaitu pulau Patmos dan Efesus. Beberapa keterangan menyebutkan bahwa Johannes sang Penatua adalah murid Johannes anak Zebedeus, tetapi tidak ada bukti yang dapat mendukung keterangan tersebut. Perlu ditekankan bahwa Papias tidak pernah menyebutkan perihal Injil buatan Johannes murid Yesus ataupun mengutipnya.

Sekarang kita akan membicarakan bukti-bukti Internal secara lebih jauh. Selain penyebutan nama “Johannes”, Terdapat beberapa penyebutan terhadap “murid yang dikasihi Yesus” (13:23, 19:26, 20:2 dan 21:7-20), tampaknya frase tersebut digunakan untuk menghubungkan penulis Injil ini dengan kejadian-kejadian dalam Injil. Tetapi dalam beberapa bagian, sang murid yang dikasihi tersebut tampak anonim (1:35, 18:15 dan 19:35). Melalui beberapa penelitian textual, kita dapat menemukan petunjuk mengenai identitas murid yang sangat dikasihi Yesus tersebut, yang tentunya akan membantu juga untuk mengungkap identitas penulis asli Injil ini. Ia selalu digambarkan sebagai murid Yesus yang paling unggul. Murid tersebut dikenal berani dalam menanyakan suatu hal kepada Yesus saat murid lainnya terlalu takut untuk bertanya, murid ini juga turut menyaksikan penyaliban bersama Maria dan perempuan lain. Murid ini juga mengklaim sebagai orang pertama yang meyakini adanya kebangkitan, ia juga dijanjikan keabadian (21:22). Bagaimanapun, melalui petunjuk-petunjuk tersebut kita tidak dapat memastikan secara pasti identitas dari sang “murid yang dikasihi” tersebut, tetapi beberapa sarjana telah mengemukakan teori-teori mengenai kasus ini.

Teori pertama memang menyebutkan Johannes anak Zebedeus sebagai “murid yang dikasihi” ini, beberapa sarjana mendasarkan teorinya kepada riwayat yang mengatakan bahwa ia termasuk salah seorang dari tiga murid dalam Injil Sinoptik yang menyaksikan kebangkitan saudara Jairus, peristiwa transfigurasi, dan berada di taman Gethsmene sebelum Yesus ditangkap pasukan Romawi. Tetapi Injil Johannes tidak pernah menyebutkan hanya ada tiga murid yang menyaksikan atau turut serta dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Petunjuk utama mungkin terdapat tersirat dalam suatu kisah yang disajikan penulis Injil ini pada suatu peristiwa di mana tujuh murid Yesus berkumpul, termasuk anak-anak Zebedeus (Johannes dan Yakobus) dan dua murid yang tidak disebutkan namanya , yaitu dalam 21:2 dan 21:7.

Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.” (21:2)

Dari bagian tersebut kita dapat menemukan petunjuk terhadap “murid terkasiih”, mereka adalah salah satu dari :

  • Petrus
  • Thomas
  • Natanael
  • Johannes anak Zebedeus
  • Yakobus anak Zabedeus
  • Murid Anonim
  • Murid Anonim

Murid terkasih” tersebut bukanlah Petrus karena dalam 21:7 disebutkan :

Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. (21:7)

Natanael kemudian gugur karena nama tersebut tidak dikenal dalam Injil Sinoptik. Sedangkan Thomas (Didimus) jarang sekali muncul dalam peristiwa-peristiwa penting. Tampaknya penulis Injil secara tidak langsung menyebutkan bahwa sang “murid yang dikasihi” adalah seorang dari keempat orang tersebut (anak-anak Zebedeus dan dua anonim). Bila “murid yang dikasihi” itu merujuk kepada Johannes sendiri, tampaknya ia telah mengemukakan pengakuan sepihak. Ia seperti seseorang yang senang membanggakan diri, bagaimana mungkin ia mengaku bila ia dikasihi Yesus, padahal tidak ada keterangan mengenai hal tersebut dalam Injil sinoptik. Bila sang penulis adalah saksi mata langsung dan mengetahui segala hal yang telah terjadi, mengapa ia hanya menempatkan dirinya sendiri dalam peristiwa-peristiwa penting yang juga dihadiri oleh murid-murid lain dan memiliki keparalelan dengan Injil Sinoptik ? Penulis Injil ini tampaknya sangat berhati-hati untuk tidak menunjukan identitasnya secara langsung, tindakan penulis Injil ini mengakibatkan timbulnya berbagai interpretasi. Mengenai Yakobus, walaupun sulit untuk diakui sebagai murid yang dikasihi, catatan mengenai kehidupan dirinya sangatlah sedikit. Gelar “dikasihi Yesus” tentunya tidak boleh ditempatkan sembarangan. Tidak seorang pun murid Yesus dapat mengklaim dirinya memiliki gelar tersebut secara sepihak.

Pengungkapan identitas “murid yang dikasihi Yesus” sangat berpengaruh terhadap identitas penulis Injil ini. Para sarjana telah berusaha untuk menyingkap misteri tersebut, dan sampai pada kesimpulan orang-orang selain Johannes sebagai penulis Injil ini :

  • Lazarus, orang yang dibangkitkan oleh Yesus. Pendapat ini dikemukakan oleh Fleming, Filson, Sanders dan Eckhardt. Mereka mendasarkan pendapatnya pada perkataan Yesus bahwa ia mengasih Lazarus 11:5 , 11:3; 11:36. Pendapat ini sangatlah lemah, ia tidak dapat menjelaskan bahwa Lazarus bukanlah seorang murid Yesus, sedangkan dalam beberapa bagian disebutkan, orang yang dikasihi Yesus tersebut adalah salah satu dari 12 muridnya.
  • Johnannes Mark, penulis Injil Markus. Pendapat ini dikemukakan oleh Wellhausen dan Parker. Menurut mereka, John Mark menulis Injil Markus pada usia muda dan menulis Injil Johannes saat lebih dewasa. Teori ini juga memiliki kekuatan yang lemah, mengingat perbedaan yang terdapat di antara Injil Markus dan Johannes mengindikasikan bila kedua Injil ini tidak dapat ditulis oleh orang yang sama. Selain itu Markus mungkin tidak pernah bertemu muka degan Yesus.
  • Paulus. Pendapat ini dikemukakan oleh B W Bacon. Didasarkan pada surat Galatia 2:20, dimana Paulus pernah berkata : “Saya hidup oleh kepercayaan terhadap anak Tuhan, yang mencintaiku, dan memberikan dirinya kepadaku”. Tidak perlu susah-susah mencari bukti internal karena anda tidak akan bisa menemukannya, Dan penyangkalan terkuat datang dari kenyataan bahwa tidak adanya catatan mengenai pertemuan Yesus dengan Paulus, mereka tidak pernah bertatap muka barang sedetik pun.
  • Maria Magdalena. Pendapat ini didasarkan kepada kesaksian beberapa karya Gnostik abad pertama dan kedua yang ditemukan di Mesir tahun 1945. Pendapat ini kemudian diutarakan oleh Ramon K. Jusino. Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada situs Ramon_K_Jusino.tripod.com/magdalene.html. Pastinya, hubungan Yesus dengan Maria Magdalena merupakan suatu misteri tersendiri dan telah menimbulkan banyak mitos. Gereja diketahui sangat sensitif terhadap masalah ini dan berusaha untuk tetap menyimpan kasus ini dalam kegelapan.
  • Yakobus, Saudara Yesus. Menurut kitab Apokalips kedua Yakobus, salah satu teks yang ditemukan bersama dengan Injil Thomas di Nag Hammadi, digambarkan bahwa Yesus dan saudara, Yakobus memiliki hubungan intim antar saudara, yang tentunya melebihi hubungan dengan murid-muridnya. James D. Tabor dalam Dinasti Yesus menyebutkan :

“…Dalam teks ini Yesus dan Yakobus digambarkan sebagai orang-orang yang “dibesarkan dari air susu ibu yang sama” dan Yesus mencium Yakobus adiknya itu dan berkata,” Lihatlah, Aku akan menyatakan segalanya kepadaku, kekasihku”. (50:15-22)”

Teori ini memiliki kemungkinan cukup kuat bila ditilik dari bukti eksternal. Tetapi seperti yang akan kita lihat nanti, cukup sulit membayangkan Yakobus, saudara Yesus dengan karakter Yahudinya yang kuat, bisa memiliki andil dalam penulisan Injil yang sarat dengan nuansa teologi Kristen yang telah berkembang.

  • Beberapa sarjana menyebutkan, yang dimaksud dengan murid terkasih adalah Johannes, sedangkan penulis Injil ini adalah murid darinya. John Romer dalam Testament menyebutkan “…The various styles of the New Testament texts ascribed to John – the

Gospel, the Letters, and the Book of Revelations – are each so different in their style that it is extremely unlikely that they had been written by one person. Modern theory inclines to the opinion that these writings of “John” are the work of a group of scholars in Asia Minor who followed an Apostle John, perhaps John the son of Zebedeus, Yesus” cousin.”

Bermacam gaya dalam teks Perjanjian Baru dianggap ditulis oleh Johannes – Injil, surat-surat, dan kitab wahyu – ternyata setiap karya tersebut menunjukan perbedaan gaya penulisan yang sangat berbeda sehingga tidak dimungkinkan apabila karya-karya tersebut ditulis oleh satu orang yang sama. Teori modern cenderung kepada opini bahwa karya-karya “Johannes” tersebut merupakan karya dari sekelompok sarjana di Asia Minor yang juga pengikut seorang Rasul, mungkin Johannes anak Zebedeus, sepupu Yesus.”

Penjelasan bahwa Injil ini ditulis oleh murid-murid Johannes atau murid tak dikenal mungkin merupakan teori yang paling masuk akal karena akan dapat menjelaskan berbagai penyebutan terhadap keistimewaan Johannes dan penggunaan kata ganti “ia” atau “dia” terhadap Yohannes. Siapa lagi yang dapat mengistimewakan Johannes selain daripada murid-muridnya. Mungkin Injil ini ditulis setelah Johannes wafat, sehingga Johannes tidak dapat lagi memeriksa kebenaran Injil ini. Kemungkinan besar para murid Johannes merupakan orang-orang Yunani-Alexandria terpelajar yang telah mengadopsi berbagai pemikiran dan mitologi yang berasal dari Philo, termasuk Hellenisme, Gnostis, termasuk ajaran Paulus. Mereka secara sengaja atau tidak turut memasukan paham tersebut ke dalam komposisi Injil ini. Teori ini juga menjawab perihal berbagai peristiwa yang tidak dimuat dalam Injil ini tetapi terdapat dalam Injil Sinoptik, tampaknya Johannes belum sempat mengajarkan segala sesuatunya kepada murid-muridnya. Selain itu bukankah kata “kita” dalam 21:24 mengidikasikah bahwa penulisnya terdiri dari beberapa orang ?

21:24 Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.

Kata “murid” mengacu kepada murid yang dikasihi atau Johannes, ayat ini bahkan menandakan bahwa penulisnya bukanlah murid yang dikasihi saat ia berbicara dari sudut pandang orang ketiga. Pujian dan pembelaan terhadap Johannes menandakan bahwa sang penulis mengaguminya.

Murid Johannes diduga kuat brdomisili di Efesus. Johannes diketahui pernah mengajar di Efesus dan wafat disana, sedangkan beberapa riwayat pernah menyebutkan mengenai Paulus yang pernah menetap selama beberapa waktu di kota tersebut. Apakah Paulus telah mempengaruhi pemikiran murid Johannes di sana, kita tidak tahu. Namun tidak bisa dielakan bahwa beberapa pemikiran Paulus ditemukan dalam Injil Johannes ini. Kisah Rasul 19:1-7 pernah menyebutkan mengenai Paulus yang berhasil membaptis 12 murid Johannes di Efesus, entah atas dasar apa mengingat Paulus hanya membaptis orang Gentile.

Kesimpulan akhir bahwa Injil Johannes ditulis oleh murid-murid sang rasul di Efesus bukanlah keputusan final, masih diperlukan pengujian lebih lanjut terhadap teori tersebut. Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan fakta adanya kaum anti-Montanist di pertengahan abad kedua yang menuduh Injil Johannes sebagai karya Heretis (Bid’ah), mereka menganggap Injil ini ditulis oleh Cerinthus, ahli Bid”ah dari Mesir. Pemikiran Montanis didasarkan pada istilah “Paraclete” yang terdapat pada Johannes pasal 15 dan 16.

Efesus sebagai Tempat Penulisan

Berbagai bukti menunjukan Injil ini ditulis beberapa puluh tahun setelah rampungnya ketiga Injil sinoptik. Pasal 21 ayat 18-19 mengindikasikan bahwa penulis Injil ini sudah mengetahui perihal kematian Petrus sekitar tahun 65 M.. Beberapa bagian juga mengindikasikan pengetahuan penulis tentang kehancuran Jerusallem tahun 70 M.. Kebanyakan sarjana-sarjana terkemuka abad ke-19 menentukan jangka waktu antara 90-140 M., bahkan F.C. Baur menentukan waktu paling akhir yaitu 160 M.. Penentuan waktu setua itu memastikan bila penulis Injil ini bukanlah Johannes murid Yesus, karena ia pasti sudah berumur seabad lebih saat menulis Injil ini. Menurut Iranaeus dan Clement, Johannes wafat di Efesus pada masa kekaisaran Trajan, yaitu sekitar tahun 98-117 M. setelah sempat diasingkan di pulau Patmos selama kekuasaan Dominitian. Maka akan lebih dapat dipahami bila penulis Injil ini berasal dari umat Kristen generasi kedua atau ketiga, dalam hal ini adalah murid-murid dari Johannes dan kemudian mereka mempersembahkan penulisan Injil ini atas nama Johannes. Tindakan seperti ini merupakan hal yang biasa pada masa itu.

Bukti-bukti external turut mendukung penempatan waktu sekitar akhir abad pertama. Sebuah fragmen Perjanjian Baru tertua yang ditemukan di Mesir memuat dua ayat Injil Johannes pada satu sisinya (John 18:37-38) dan tiga ayat pada sisi sebaliknya (John 18:31-33). Gaya penulisan pada fragmen tersebut menunjukan waktu pembuatan sekitar tahun 110-140 M.. Melalui penelitian terhadap fragmen tersebut, maka tahun 140 M. dapat ditentukan sebagai batas akhir waktu penulisan Injil ini. Pemimpin Pagan Celsus dalam “Ajaran Kebenaran”-nya (sekitar 178 M.) diketahui sempat mendasarkan beberapa pernyataannya terhadap Injil ini. Selain itu Heraclion, pengikut Valentinus, pernah menerbitkan komentarnya terhadap Injil Johannes sekitar tahun 160 M. Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Injil ini ditulis sebelum tahun 70 M. tidak memiliki dasar yang kuat, kebanyakan pendukung teori ini adalah sarjana-sarjana yang mempercayai kepenulisan Johannes murid Yesus.

Dari bukti-bukti internal dapat diketahui, Injil ini menggambarkan Yesus dalam nuansa Gnostis, pemikiran ini belum muncul hingga paruh pertama abad kedua. Sedangkan pemikiran awal yang menggambarkan Yesus sebagai Tuhan telah dimulai saat Paulus melakukan misinya dan mengomposisikan berbagai suratnya. Pemikiran Paulus berkembang pesat setelah kematiannya di sekitar tahun 67 M., tentu saja di kalangan Gentile.

Secara tradisional Injil ini dianggap ditulis di Efesus. Tidak ada bukti mengenai kepastian tempat penulisan Injil Johannes ini, tetapi dilihat dari penggunaan bahasa Yunani dan nuansa filosofis, tampaknya Efesus merupakan tempat yang tepat. Efesus pernah menjadi pusat perkembangan kebudayaan Pagan, ditandai dengan berdirinya Kuil Diana yang megah di kota ini. Selain itu, melalui bukti external, Iranaeus dan Eusebius pernah menegaskan bahwa Johannes menulis karyanya di Efesus. Tetapi bagaimanapun kita tidak bisa memastikan Efesus sebagai tempat penulisan Injil ini, selama bukti-bukti kuat belum ditemukan. Beberapa sarjana berdasarkan perhitungannya masing-masing bahkan mempercayai Antiokia atau Alexandria sebagai tempat penulisan Injil ini.


Injil Johannes vs Injil Sinoptik

Kali ini kita akan membahas perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara Injil Johannes dengan Injil Sinoptik. Perbedaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi apabila penulis Injil benar-benar orang yang disangkakan. Sekilas perbedaan ini tampak tidak mungkin terjadi karena Matius dan Johannes sama-sama berstatus murid Yesus. Bagaimana mungkin dua orang murid mengisahkan kisah yang berbeda mengenai gurunya ? Lebih jauh lagi apabila kita mempercayai peranan Roh Kudus dalam pembuatan Injil, apakah kita akan menimpakan segala kontradiksi dan kesalahan kepada Tuhan, bahwa ia tidak cermat dalam menurunkan firmannya ?

Perbedaan antara Injil Johannes dengan Injil Sinoptik sangatlah kentara, sehingga Hyam Maccoby dalam karyanya “Revolution in Judea”, menyebutkan :

In the synoptics” account Jesus is still a recognizably Jewish figure, sparing in words and human and concrete in approach; in John, Jesus has become a Greek: voluble, full of abstractions, mystical”

Dalam Injil Sinoptik, penggambaran Yesus tetaplah sebagai figur seorang Yahudi, menghemat dalam perkataan serta manusiawi dan konkrit dalam pendekatan; Dalam Injil Johannes, Yesus telah menjadi orang Yunani; Lancar dalam berbicara, penuh dengan keabstrakan, mistis”

Berbeda dengan Injil sinoptik yang menempatkan kisah Yesus sebagai riwayat sejarah, Johannes menempatkanya sebagai riwayat teologis. Marcello Craveri dalam karyanya “The Life of Yesus” yang diterbitkan tahun1914 menyebutkan :

The fourth gospel is of exceedingly little worth as a historical document and the Christian theologians themselves describe it as “pneumatic”-that is, spiritual-Gospel because it can be accepted only as a philosophical Christological dissertation”

Injil keempat jelas sekali kurang dihargai sebagai dokumen sejarah dan Teolog Kristen sendiri menggambarkanya sebagai “pneumatik”, itulah, hanyalah sebagai Injil Spiritual dipandang dipandang sebagai desertasi filosofis Kekristenan”.

Randel Helms, dalam Gospel Fictions menyoroti perbedaan jumlah mukzizat yang dilakukan Yesus dalam Injil Johannes dan sinoptik :

Whereas the Gospel of Matthew has twenty miracles, and Luke twenty-one, John only contains seven”

Di mana Injil Matius memuat dua puluh mukzizat, dan Lukas dua puluh satu, Johannes hanya memuat tujuh”.

Dalam Injil Johannes, Yesus sering menyatakan substansi dirinya secara langsung. Hal-hal tersebut tidak terdapat dalam sinoptik.

  • Yesus menyebut dirinya sebagai “roti kehidupan”, “roti yang datang dari surga”, dan “roti kehidupan dari surga”

6:35 : “Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup…””

6:48 : “Akulah roti hidup”

6:51 : “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga…”

  • Yesus menyebut dirinya sebagai “cahaya dunia”.

8:12 : “…Akulah terang dunia…”

9:5: “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia”

  • Yesus menyebut dirinya sebagai “Pintu bagi domba-domba”.

10:7 dan 10:9 : “…Akulah pintu ke domba-domba itu”

  • Yesus menyebut dirinya sebagai “Gembala yang baik”.

10:11 : “Akulah gembala yang baik”.

  • Yesus menyebut dirinya sebagai “kebangkitan dan kehidupan”.

11:25 : “Akulah kebangkitan dan hidup…”

  • Yesus menyebut dirinya sebagai “jalan, kebenaran dan kehidupan”.

14:6 : “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”

  • Yesus mengaku sebagai “anggur yang sesungguhnya” atau secara sederhana sebagai “anggur”.

15:1,5 : “Akulah pokok anggur yang benar”.

Mengapa ucapan yang didengar Johannes dari mulut Yesus tidak pernah didengan oleh Matius, sedangkan ucapan Yesus yang diketahui Matius tidak diketahui oleh Johannes ? Dari mana Johannes mendapatkan seluruh konsep ketuhanan Yesus tersebut ? jawabannya mungkin dapat kita temukan merujuk kepada anggapan bahwa Johannes tidak menulis Injil ini melainkan salah satu kelompok pengikutnya. Melalui dasar anggapan tersebut maka kita dapat menghubungkan adanya pernyataan-pernyataan ketuhanan Yesus dengan pemikiran-pemikiran Philo hingga hubungan dengan pemikiran Paulus karena Paulus pernah membaptis pengikut Johannes di Efesus. Banyak sekali pernyataan-pernyataan yang berbau ketuhanan Yesus dalam Injil Johannes yang paralel dengan konsep dewa-dewa Romawi kuno. Ekspresi Ekaristi contohnya, mungkin dapat menemukan akarnya pada konsep pemujaan terhadap Dewa Mithra. Dewa Mithra merupakan dewa yang lahir tanggal 25 Desember, dan memiliki kesetaraan dengan dewa Matahari (atau dewa cahaya).

Dalam upacara pemujaan terhadap Mithra, biasanya para pemuja mengorbankan seekor banteng, lehernya dipenggal, dagingnya dimakan, dan darahnya diminum, semua itu demi mendapatkan kehidupan abadi. Upacara tersebut menyimbolkan penyatuan diri jemaat terhadap Mithra. Daging banteng diasosiasikan dengan daging Mithra, sedangkan darahnya dengan darah Mithra. Bila para pemuja tersebut tidak menemukan banteng untuk dipersembahkan, biasanya mereka menggunakan roti atau ikan sebagai pengganti daging banteng, dan anggur sebagai pengganti darah. Dengan kata lain, roti telah menjadi daging, sedangkan anggur menjadi darah. Prosesi ini , walaupun dengan konsep yang sedikit berbeda dapat kita temukan dalam prosesi ekaristi yang diadakan kaum Kristiani.

Dalam Injil Johannes, Yesus disimbolkan dengan cahaya, roti dan anggur. Sedangkan pengikut Mithraisme turut menggunakan hal-hal tersebut untuk menyimbolkan Dewanya. Pada jaman modern, sarjana Kristen, James Still menyoroti banyaknya penggunaan pemikiran-pemikiran pagan dalam Injil ini. Ia mencontohkan adanya kesamaan konsep keselamatan dalam Injil Johannes dengan konsep Mithraisme (dewa matahari), James Still kemudian mengutip salah mantra Mithraisme yang dianggap memiliki keparalelan dengan Injil Johannes :

[F]irst beginning of my beginning, …spirit of spirit, the first spirit in me, …now if it be your will, …give me over to immortal birth and, following that, to my underlying nature, so that, after the present need which is pressing me exceedingly, I may gaze upon the immortal beginning with the immortal spirit, …that I may be born again in thought.” (William Grese, “Unless One is Born Again”: The Use of a Heavenly Journey in John 3, Journal of Biblical Literature, 107/4 (1988) h. 679.)


James Still menyadari bahwa ia telah menemukan hubungan konsep Mithraisme tersebut dengan konsep kelahiran kembali atau konsep ekaristi.

Konsep Ekaristi memang tidak hanya terdapat dalam Injil ini saja, Injil lain diketahui pernah memuat konsep tersebut. Hanya saja, Yesus tidak pernah secara langsung menyatakan substansi dirinya secara langsung dalam Injil lain. Dalam hal ini terdapat beberapa kontradiksi antara Injil Johannes dengan sinoptik. Saya akan memuatnya dalam tabel agar pembaca dapat lebih jelas menemukan kontradiksi tersebut.

Injil Sinoptik

Injil Johannes

Berapa kali Yesus mengunjungi Jerusallem?

Satu kali

Beberapa kali

Hal-hal mengenai Yesus

  • Ajaran Yesus dalam bentuk

perumpamaan-perumpamaan.

  • Yesus melakukan pengusiran setan.
  • Yesus diasosiasikan dengan orang yang terbuang.
  • Yesus tidak mengatakan banyak mengenai dirinya.
  • Yesus tidak mengangkut salib (dianggkat oleh Simon)

  • Ajaran Yesus tidak dalam bentuk perumpamaan
  • Yesus tidak melakukan pengusiran setan
  • Yesus tidak diasosiasikan dengan orang-orang terbuang.
  • Yesus kerap berbicara mengenai dirinya, hubungannya dengan bapa dan misinya.
  • Yesus mengangkut salibnya sendiri

Peristiwa setelah pembaptisan

Yesus menghabiskan waktu 40 hari di hutan belantara, menghadapi godaan setan (Mark 1:12-13, Mat 4:1-11)

Tiga hari setelah pembaptisan, Yesus menghadiri pesta perkawinan di Cana (2:1-11)

Johannes pembaptis

Dalam Mat 11:7-15, Yesus mengatakan bila Johannes pembaptis adalah seorang Nabi.

Dalam John 1:21, Johannes Pembaptis mengatakan sendiri bila ia bukanlah nabi, begitu pula Elijah.

Tanda-tanda (mukzizat)

Mat 12:39, Mark 8:12, Lukas 11:29 menyebutkan Bahwa Yesus tidak akan memberi tanda (mukzizat).

John 3:2, 20:30, Yesus melakukan banyak tanda/mukzizat.

Kapan Yesus memulai misinya ?

Setelah Johannes Pembaptis ditahan (Mark 1:14, Mat 4:12).

Yesus dan Johannes menjalankan misi bersama. (John 3:24)

Kisah pembersihan kuil Jerusallem

Yesus melakukannya di akhir misinya (Mark 11:12-19; Mat 21:12-13; Lukas 19:45-48)

Yesus melakukanya di awal misinya (John 2:12-22)

Kapan Yesus melakukan perjamuan terakhir ?

Hari Jum’at

Hari Kamis

Masih banyak lagi pertentangan-pertentangan yang terdapat di antara Injil sinoptik dan Injil Johannes. Fakta tersebut tentu saja tidak menyimpulkan bahwa Injil Sinoptik bebas akan kontradiksi, contohnya dalam hal penyebutan nama-nama 12 murid Yesus (daftar berikut dikutip dari situs Pascal Wager).

Matius 10:2-4 Mark 3:14-19 Lukas 6:13-16/Kis Ras 1:13 Johannes (berbagai tempat)
Simon Peter Simon Peter Simon Peter Simon Peter (1:42)
Andrew Andrew Andrew Andrew (1:40)
Yakobus anak Zebedeus Yakobus anak Zebedeus Yakobus anak Zebedeus Anak-anak Zebedeus (21:2)
Johannes anak Zebedeus Johannes anak Zebedeus Johannes anak Zebedeus
Philip Philip Philip Philip (1:43)
Bartholomius Bartholomius Bartholomius
Thomas Thomas Thomas Thomas (20:24)
Matius Matius Matius
Yakobus anak Alphaeus Yakobus anak Alphaeus Yakobus anak Alphaeus
Thaddaeus Thaddaeus
Simon sang Cananean Simon sang Cananean Simon sang Cananean
Judas Iscariot Judas Iscariot Judas Iscariot Judas Iscariot (6:71)
Judas anak Yakobus Judas (14:22)
Nathanael (1:45)

Dari tabel dapat kita lihat, perbedaan di antara Injil sinoptik tidak akan terlalu mencolok mengingat anggapan bahwa mereka menggunakan sumber yang sama. Beberapa sarjana mungkin dengan mudah mengatakan bahwa Johannes membedakan dirinya karena ia telah membaca ketiga Injil, tapi apakah Johannes tahu bahwa karyanya akan ditempatkan dalam kitab suci umat Kristen sehingga ia tidak mau mengulangi bahan yang telah dibahas dalam Injil Sinoptik. Dan kita pun tahu bahwa materi Johannes bukannya melengkapi materi sinoptik melainkan berlawanan dengannya.

Para missionaris atau pengkhotbah kerap menggambarkan proses pembuatan Injil seperti wartawan yang meliput berita. Andaikan ada empat orang wartawan yang meliput berita yang sama, mereka tentunya akan menghasilkan artikel yang sama tetapi berbeda dalam gaya bahasa dan pilihan kata. Markus, Matius, Lukas dan Johannes meliput orang yang sama, yaitu Yesus. Mereka menyajikan Injilnya sesuai dengan tingkat keahlian dan motif masing-masing. Markus menyusunnya untuk ditujukan kepada orang Romawi, Matius untuk orang Yahudi, Lukas untuk orang Gentile, dan Yohannes untuk semua orang. Setidaknya itulah penjelasan yang diberikan para penceramah Kristen untuk menjawab variasi di antara Injil-Injil. Anda yang berpikran sehat tentu tidak akan menerima jawaban semacam itu. Para wartawan yang meliput berita yang sama tentu tidak akan memberikan kisah yang berbeda, kecuali hanya perbedaan pilihan kata. Berbeda kasusnya saat kita membicarakan kontradiksi dalam Injil-Injil. Contoh saat Injil mengatakan bahwa Yesus tidak mengangkut salibnya melainkan digantikan oleh Simon dari Kyrene, Johannes mengatakan bahwa Yesus mengangkut salibnya sendiri. Apakah mereka meliput berita yang sama ? Apakah ini masalah pemilihan kata ? Masih banyak contoh yang sama baik dalam kitab lainnya dalam Bible.

Semua ini hanya membuktikan bahwa riwayat mengenai Yesus bahkan pada pertengahan abad pertama telah amat simpang-siur akibat menghilangnya saksi-saksi langsung kehidupan Yesus. Risalah asli yang Yesus bawa sudahlah hilang dan menyisakan berbagai berita yang tidak dapat lagi dikonfirmasikan. Akibatnya dengan terpaksa para penulis Injil mengacu kepada kabar-kabar angin dan sedikit informasi yang masih tersedia, diperparah dengan dilakukannya pengeditan kembali tergantung motif masing-masing penulis Injil.

Perricope Adulterae

1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. 2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” 6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: /”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”* 8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: /”Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”* 11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: /”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”* (John 8:1-11)

Potongan ayat Johannes di atas menceritakan kisah Yesus dengan seorang wanita pezinah (adulterres women), dalam kalangan sarjana bagian tersebut dikenal dengan sebutan “pericope adulterae”. Pericope dengan kata lain adalah pengalaman-pengalaman Yesus yang letaknya terpisah dalam Injil, tidak berhubungan dengan bagian sebelumnya maupun sesudahnya, seakan-akan bagian ini memasuki Injil secara tersendiri.

Pericope Adulterae merupakan satu dari berbagai pericope dalam Injil-injil, tetapi masalahnya begitu mencuat saat munculnya dugaan bahwa bagian tersebut bukanlah bagian asli dari Injil Johannes. Dengan kata lain pericope adulterae ini diduga kuat merupakan tambahan terhadap Injil Johannes yang dilakukan oleh penyalin selanjutnya. Tampaknya kita menemukan terulangnya kasus “Markan Appendiks” disini. Tidak hanya itu, beberapa sarjana juga mencurigai keseluruhan pasal 21 Injil Johannes sebagai sebuah usaha interpolasi atau tambahan. Menurut Reinach, bagian ini diambil dari sebuah karya apokrip berjudul “Injil menurut orang Ibrani” yang kerap digunakan gereja Koptik.

Beberapa edisi Bible, menempatkan bagian tersebut dalam tanda kurung, atau dengan memberinya catatan kaki. Seperti dalam New International Version, bagian tersebut diberi catatan kaki sebagai berikut.

“The earliest and most reliable manuscripts and other ancient

witnesses do not have John 7:53 – 8:11.”

Sedangkan Revised Standard Version (1946) menyebutkan,

“Most of the ancient authorities either omit 7.53-8.11, or insert it, with

variations of the text, here or at the end of this gospel or after Luke 21.38.”

C.M. Laymon, Ed dalam “Interpreter”s One Volume Commentary on the Bible” menyebutkan :

“7:53-8:11: This passage is omitted or set off in modern editions

of the gospel since it does not appear in the oldest and best

manuscripts and is apparently a later interpolation. In some

manuscripts it occurs after Luke 21:38.”

“Precise Parallel New Testament” menyebutkan dalam catatan kakinya :

“The story of the woman caught in adultery is a later insertion here, missing from all early Greek manuscripts. A Western text-type insertion, attested mainly in Old Latin translations, it is found in different places in different manuscripts.: here, or after 7:36 or at the end of this gospel, or after Luke 21:38 or at the end of that gospel”

Kisah wanita yang tertangkap dalam perzinahan adalah penyisipan di sini, tidak terdapat dalam seluruh manuskrip Yunani kuno. Sebuah penyisipan bergaya barat, terbukti terutama dalam terjemahan latin kuno, ditemukan dalam berbagai tempat: di sini, atau setelah 7:36 atau pada akhir Injil ini, atau setelah Lukas 21:38 atau pada akhir Injil tersebut.”

Wanita pezinah yang dikisahkan dalam potongan ayat tersebut kerap digambarkan sebagai Maria Magdalena. Terutama setelah pada tahun 591, Paus gregory yang Agung mengumumkan dalam perayaan hari paskah bahwa Maria Magdalena dan perempuan Tunasusila adalah wanita yang sama. Pernyataan yang diklarifikasi oleh Vatican pada tahun 1969. Diluar itu kita bisa memahmi apabila Perricope Adulterae mungkin sengaja disusupkan untuk mencoreng nama baik Maria Magdalena, yang dicurigai memiliki hubungan dekat dengan Yesus. Status Maria Magdalena merupakan isu sensitif bagi Gereja, yang tidak bisa membayangkan bahwa Yesus memiliki kedekatan terhadap wanita. Sedangkan beberapa catatan koptik kuno, diperkuat oleh riwayat-riwayat apokrip seperti Injil Filipus dan Maria menyebutkan kekhususan kedekatan Maria terhadap Yesus.

Kesimpulan bahwa Injil Johannes telah mengalami perkembangan dalam sejarahnya, ditunjukan oleh penemuan indikasi adanya pemasukan materi atau komentar baru terhadap naskah Johannes yang asli. Tampaknya, pandangan bahwa Injil ini ditulis oleh satu orang penulis saja tidak mudah untuk dipercaya, Akan lebih mudah untuk dimahami apabila naskah tertua Injil ini telah mengalami proses redaksi, interpretasi dan debat internal dalam komunitas Johanine (pengikut Johannes), mungkin selama puluhan tahun. Penelitian telah membuktikan sejarah komunitas ini, dimana terdapat perkembangan teologi yang kemudian ditambahkan ke dalam naskah Johannes yang asli. Robert W. Funk, Roy W. Hoover, dan the Jesus Seminar dalam “The Five Gospels” menyebutkan :

“The Fourth Gospel was opposed as heretical in the early church, and it

knows none of the stories associated with John, son of Zebedeus. In the

judgment of many scholars, it was produced by a “school” of disciples,

probably in Syria.”

Injil keempat dianggap sebagai karya heretis pada masa Gereja awal, dan tidak mengetahui sedikitpun mengenai kisah-kisah yang diasosiasikan dengan Johannes anak Zebedeus. Dalam penilaian banyak sarjana, Injil ini diproduksi oleh pengikut suatu “sekolah” , mungkin di Syria.”

Bagian selanjutnya yang dicurigai sebagai interpolasi (penyusupan) adalah John 5:3-4. Bagian tersebut berbunyi,

..dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.
Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.”
(John 5:3-4)

Beberapa naskah tertua seperti Codex Vaticanus, Sinaiticus, Bezae, dan Ephraemi serta puluhan naskah tua lainnya tidak memuat bagian tersebut. Beberapa naskah memasukan bagian tersebut ke dalam kurung atau margin, menandakan bahwa bagian tersebut tidak termasuk ke dalam naskah asli.

Melalui berbagai pengungkapan ini semakin jelaslah bahwa Bible tidak kebal dari intervensi manusia, sehingga banyak umat Kristen yang bertanya-tanya apakah Tuhan tidak menjaga firmannya ? Bukanlah Tuhan apabila tidak menjaga firmannya dari kerusakan. Penyisipan, perubahan, penghilangan atau penambahan satu kata saja dalam suatu kitab suci dapat menggugurkan kesucian kitab tersebut. Semua ini turut membuktikan bahwa tuduhan Qur’an terhadap perubahan kitab suci kaum Nasrani atau Yahudi benar-benar terbukti dan teruji. Pembuktian tuduhan tersebut tidak dilakukan oleh sarjana Muslim, melainkan oleh para peneliti dan sarjana Kristen sendiri.

Dapat kita simpulkan bahwa Injil Johannes sebagai Injil favorit para evangelis, para penceramah dan missionaris Kristen ternyata memiliki persoalan yang cukup banyak. Masalah pertama terdapat pada pengungkapan identitas asli si penulis. Berbagai bukti menunjukan bahwa Injil ini tidak ditulis oleh tangan Johannes, melainkan oleh para pengikut yang mengasosiasikan diri dengannya. Masalah kedua yang cukup penting adalah banyaknya pertentangan dengan Injil Sinoptik, mengindikasikan penggunaan sumber yang berbeda oleh para penulisnya. Masalah ketiga yang tidak boleh dilewatkan adalah mengenai “perricope adulterae” atau kisah wanita pezinah, sebuah bukti penyisipan yang memalukan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s