Injil Menurut Markus

Pengenalan awal

Injil ini dikenal sebagai Injil tertua dan tersingkat bila dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya. Secara umum Injil Markus diakui sebagai referensi utama bagi penulisan Injil Matius maupun Lukas. Sebelumnya, pandangan tradisional bersikukuh bahwa Injil Matius merupakan Injil pertama yang diproduksi, hingga sekitar tahun 1835 dimana seorang Philolog Jerman, Karl Lachman (1793-1851) mengemukakan kritik tekstualnya. Menurutnya, berdasarkan bukti-bukti yang ia dapat, Injil Markus ditulis mendahului ketiga Injil lainnya dan bahwa penulis Injil Matius dan Lukas turut menggunakan Injil Markus ini sebagai rujukan atau sumber utama. Ia memaparkan bukti-bukti sebagai berikut :

  • Bahan-bahan pada Injil Matius dan Lukas bergantung kepada Injil Markus. Dari 662 ayat, Markus memiliki sekitar 406 ayat yang sejalan dengan Matius dan Lukas, 145 dengan Matius sendiri, 60 dengan Lukas sendiri, dan sekitar 51 yang khas dengannya sendiri.
  • Perbendaharaan kata kedua Injil sangat bergantung kepada Injil Markus.
  • Kandungan Injil Markus hampir sepenuhnya disalin kembali oleh Matius dan Lukas.
  • Terlihat dalam beberapa bagian, Matius berusaha menyingkat bahan yang terdapat dalam Markus atau menambahnya.
  • Gaya penulisan Markus lebih primitif dan secara teologi kurang berkembang bila dibandingkan kedua Injil lainnya.

Tesis Lachman tadi, kebenarannya belum terbukti sepenuhnya. Pertama-tama dengan asumsi penulis Injil Matius merujuk kepada karya Markus, maka kemungkinan rasul Matius sebagai penulis Injil Matius menjadi sangat kecil. Kita tidak dapat membayangkan apabila seorang murid Yesus menjadi plagiator karya seorang yang tidak pernah menjadi saksi kehidupan Yesus. Dimana letak logikanya ?   Semua bukti yang dipaparkan Lachman dapat diterapkan sebaliknya, yaitu Markus-lah yang menyalin karya Matius. Saya mencurigai adanya konspirasi dalam hal ini. Para sarjana Kristen tampaknya ingin mendistorsikan Injil Matius, karena sifatnya yang kental akan nuansa Yahudi dan kurang akan teologi Kristen. Beberapa materi Injil Matius juga memiliki hubungan terhadap naskah-naskah koptik Mesir yang apokrip. Materi Matius, walau kemurnianya disangsikan, turut memuat ajaran Kristen murni yang paralel dengan catatan sejarah mengenai Yesus dan surat Yakobus yang diyakini ditulis oleh saudara Yesus. Selain itu para penceramah Kristen juga seakan-akan menutup perihal pernyataan Yesus bahwa ia hanya diutus kepada domba-domba Israel (Mat 10:5-6). Masalah sumber-menyumber ketiga Injil (Matius, Markus dan Lukas), dikenal sebagai “synoptic problem” dan telah menjadi perdebatan sarjana-sarjana selama berabad-abad.

Synoptic   Problem

Selain tesis Lachman mengenai penggunaan Injil Markus oleh penulis Injil Matius, lusinan sarjana lain telah ikut ambil bagian berusaha memecahkan masalah sinoptik ini. Pada awalnya terdapat dua teori mengenai masalah ini. Kaum Kristen Katolik yang dipelopori Agustinian mempercayai bahwa Injil Matius ditulis pertama, disusul Injil Markus, lalu Lukas. Sedangkan kaum Protestan, dipelopori Griesbach mempercayai bahwa Injil Matius ditulis pertama, disusul Injil Lukas dan Markus. Pandangan tersebut mulai berubah saat Farrer mengajukan teorinya, yang hampir mirip dengan Lachman, menurutnya Injil Markus ditulis pertama, dan turut digunakan sebagai rujukan oleh kedua penulis Injil lainnya (Matius dan Lukas). Tetapi pandangan ini kurang bisa menjawab adanya variasi riwayat pada Injil Lukas dan Matius, sedangkan kedua penulisnya menggunakan sumber tunggal yang sama. Sedangkan pada masa modern, pandangan tersebut mulai ditinggalkan dan beralih kepada teori “dua sumber”, yang menyebutkan bahwa baik penulis Injil Matius dan Lukas menggunakan Injil Markus, dan satu sumber lagi yang disebut sebagai “Q” (dari bahasa Jerman “Quelle” yang berarti “Sumber”). “Q” diyakini telah hilang (siapa yang harus disalahkan terhadap kehilangan ini ?). Teori ini tampaknya dapat memuaskan semua pihak, walaupun bentuk pasti dari “Q” tidak dapat dipastikan, apakah berwujud tradisi oral atau tulisan. Selain teori ini, beberapa teori lain juga muncul, mulai dari teori “satu” hingga “empat sumber”. Teori lain bahkan mengaitkan pembuatan ketiga Injil dengan Injil Johannes.

Saya pribadi cenderung tidak memihak salah satu teori tersebut, tetapi Injil Matius tampaknya ditulis pertama, dan dilanjutkan dengan Injil Lukas. Injil Markus ditulis terakhir berdasarkan kedua Injil sebelumnya. Injil Lukas tidak mungkin ditulis pertama mengingat pengakuan penulisnya, bahwa ia telah menggunakan sumber lain. Bila tidak ditulis terakhir, ia merupakan yang kedua. Masalah berkutat dalam penentuan waktu penulisan Injil Matius dan Markus. Beberapa materi yang sama mengindikasikan adanya penjiplakan, tetapi siapa menjiplak siapa ? Disamping menyoroti adanya berbagai kesamaan, banyaknya kontradiksi memperparah masalah. Karena itulah, para sarjana cenderung mempertimbangkan adanya sumber lain, apakah itu yang disebut dengan sumber “Q”, “A”, “B”, atau “C”. Sedangkan materi Injil Matius yang tidak terdapat pada Injil lainnya disebut sumber “M”, yang satu ini telah membingungkan banyak sarjana, entah Matius mendapat bahan ini dari orang lain atau ia merupakan pihak pertama yang memuatnya. Tanpa memepertimbangkan adanya sumber-sumber tersebut, saya beranggapan penulis Injil Markus-lah yang menggunakan Injil Matius (atau Lukas ?).  Markus mungkin tidak mau memuat silsilah Yesus karena ia menemukan kontradiksi dalam sumbernya, baik dalam versi Matius maupun Lukas. Saya mengakui, sangat sulit untuk membuktikan pandangan ini berdasarkan bukti internal semata. Bagaimanapun pengujian lebih lanjut tetap diperlukan, semua teori mengenai penyusunan Injil-injil memang sangat sulit untuk dibuktikan.

Dari seluruh perdebatan tersebut, berdasarkan banyaknya teori yang berusaha menjelaskan proses penyusunan Bible, Hanya menunjukan kelemahan Bible dibadingkan keunggulannya. Kebanyakan teori hanya menjelaskan proses salin-menyalin antar penulis Injil, jelas-jelas menyampingkan peranan Roh Kudus sebagai inspirator. Roh Kudus-kah yang menginspirasikan penulis Injil untuk menyalin karya orang lain ? Bila kaum Kristen tidak bersedia menimpakan segala permasalahan kepada Roh Kudus, mereka terpaksa menumpahkannya kepada penulis-penulis Injil atau penyalinnya.

Pandangan tradisonal

Pandangan tradisional mempercayai Johannes Markus sebagai penulis utama Injil ini. Tentu saja pandangan ini tidak dapat kita telan bulat-bulat karena pada dasarnya Injil ini tidak memberi petunjuk yang cukup terhadap identitas penulisnya. Beberapa pandangan sarjana modern bahkan cenderung lebih mempercayai Injil Markus sebagai karya sekelompok orang yang mengasosiasikan dirinya dengan Markus.

Dalam keterangan lain kita dapat menemukan keterangan bahwa Markus memiliki hubungan dengan Paulus dan Barnabas. Menurut Severus, uskup Al-Ushmunain pada sekitar abad ke-10, Markus adalah keponakan Barnabas, yang tidak lain merupakan saudara dari istri Petrus. Barnabas sendiri adalah seorang pengikut Yesus  yang cukup berpengaruh walaupun tidak termasuk dalam lingkaran 12 murid Yesus. Selanjutnya Markus dan Barnabas akan bergabung dengan misi perjalanan Paulus yang pertama. Hubungan mereka tidak berlangsung lama diakibatkan oleh perbedaan pendapat, Barnabas dan Markus akan memisahkan diri dari Paulus.

Keterangan mengenai kepenulisan Markus disebutkan oleh Papias dan kemudian dikutip oleh Eusebius, Iranaeus dll.. Menurut Papias, Markus mendapatkan berbagai informasinya melalui Petrus. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Clement bahwa saat Petrus melakukan misinya di Roma, Markus adalah salah seorang yang tertarik dengan ajaran Petrus dan menjadi pengikut yang selalu mengingat dan menulis kembali informasi yang ia dengar dari Petrus. Tidak diketahui keterangan lebih lengkap mengenai misi Petrus di Roma, tidak ada yang dapat memastikan waktu kedatangan dan lamanya ia tinggal di sana. Tidak karena Injil ini disusun berdasarkan informasi Petrus lalu kita dapat menyebut Injil ini sebagai “Injil menurut Petrus”, karena Petrus tidak pernah mengakui Injil ini sebagai catatan yang sah terhadap kehidupan Yesus. Bahkan menurut Papias dan Iranaeus, komposisi final Injil ini rampung beberapa waktu setelah Petrus wafat, artinya Petrus belum sempat membaca karya Markus ini.

Selama mengikuti Petrus, tampaknya Markus tidak berhasil mendapatkan seluruh informasi dari Petrus, contohnya ia tidak menceritakan kisah pembunuhan Johannes pembaptis, suatu peristiwa penting yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja, kecuali bila Markus tidak tertarik terhadap peristiwa tersebut. Inti pernyataan di atas memastikan bahwa Markus bukanlah saksi mata langsung kehidupan Yesus. Diperkirakan, Markus tidak menjadikan Petrus sebagai satu-satunya sumber, ia juga terpengaruh oleh ajaran Paulus. Bukankah Markus pernah melewatkan waktu bertahun-tahun bersama Paulus dalam misinya ?

Sebagai “mantan” pengikut Paulus, tentulah Markus dapat membedakan ajaran yang ia pernah dapat melalui Paulus dan ajaran yang ia dapat dari Petrus. Hubungan kekerabatan antara Petrus dan barnabas mungkin mempengaruhi kedekatannya dengan Petrus selepas pertentangannya dengan Paulus.  Entah apa penyebab pertentangan antara Paulus dengan Barnabas, tetapi penjelasan yang diberikan Lukas dalam kitab Rasul tampaknya tidak cukup. Pembahasan mengenai masalah ini akan dibahas lebih jauh pada bagian lain.

Berdasarkan isi dan strukturnya, tampaknya Injil Markus ditujukan kepada audiens berbahasa Yunani atau penduduk Romawi, atau bahkan si penulis sendiri kemungkinan bukanlah penduduk Judea. Beberapa sarjana sepakat dalam menentukan Roma (atau daerah sekitarnya) sebagai tempat penulisan Injil ini. Injil Markus tidak hanya berisikan sejarah kehidupan Yesus,  Injil ini juga mengandung berbagai ajaran, penafsiran dan arti dari kehidupan Yesus. Tampaknya Injil ini ditujukan kepada audiens yang belum pernah mendengar kisah Yesus secara utuh.

Injil ini diawali dengan frase “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” atau dalam bahasa Inggris disebutkan,  “the beginning of the gospel of Jesus Christ,  the son of God.” Beberapa kritik kemudian muncul karena frase “Anak Allah” sempat absen dalam beberapa naskah kuno. Bible versi “New International Version” memuat catatan kaki yang menyatakan ,”…some manuscrips do not have The son of God”. Skenario paling negatif untuk menjelaskan fakta di atas adalah adanya intervensi Gereja awal untuk mengharmonisasikan Injil ini dengan ketiga Injil lainnya melalui penyisipan frase “Anak Allah” tersebut. Penggunaan frase “anak Allah” juga dirasa cukup ganjil karena Injil ini lebih banyak menggunakan frase “anak manusia” yang mengacu kepada Yesus. Injil ini juga cenderung menggambarkan Yesus sebagai manusia biasa, bukan sebagai simbol Ketuhanan. Kalaupun sempat ditemukan beberapa kecenderungan ke arah tersebut, pemikiran tersebut diduga berasal dari Paulus. Tetapi bisa jadi, Gereja melihat bahwasanya harmonisasi dirasa cukup penting untuk dilakukan mengingat Injil ini memiliki beberapa ciri utama yang membedakannya dengan Injil lain.

Waktu dan Tempat

Perdebatan mengenai penentuan waktu penulisan Injil ini berkutat di sekitar tahun 70 M., tahun dimana kuil Jerusallem diserbu dan dihancurkan pasukan Romawi. Pendapat utama terbagi dua antara pendukung masa sebelum tahun 70 M. dengan sesudah tahun 70 M.. Pandangan kedua dipercaya oleh mayoritas sarjana modern, sedangkan pandangan pertama lebih diakui oleh kaum konservatif. Bila kita mempertimbangkan pendapat Papias dan Iranaeus bahwa Markus menulis Injilnya setelah kematian Petrus, maka tahun 65 M. merupakan batas terendah karena Petrus wafat pada sekitar tahun tersebut. Robert Funk dalam “the five gospels” menyebutkan  indikasi pengetahuan penulis Injil terhadap peristiwa yang terjadi setelah kematian Yesus, yaitu pembunuhan dan perburuan terhadap pengikut Yesus dalam Markus 13:9-13. Mengenai penyebutan terhadap anak-anak yang mengkhianati orang tuanya mungkin merupakan gambaran terhadap malapetaka yang terjadi di Jerusallem sekitar tahun 66-70 M., artinya Injil ini memiliki kemungkinan untuk ditulis pasca tahun 70 M.. Beberapa riwayat yang lemah mengatakan bahwa Markus meninggal di tahun 62-63 M., mendahului Petrus yang dieksekusi tahun 65 M..

Dalam masalah penentuan tempat penulisan Injil, para sarjana tampaknya sepakat dalam menentukan kota Roma, mengingat kemungkinan Petrus pernah tinggal di sana hingga kematiannya. Selain itu tampaknya penulis Injil kurang familiar dengan tradisi Yahudi dan kondisi geografis Palestina. Penulis Injil nantinya akan membuat kesalahan seputar hal tersebut.

Injil untuk Penduduk Romawi

Secara umum telah disepakati bahwa pada awalnya Injil ini ditulis dalam bahasa Yunani dan ditujukan kepada penduduk Romawi (Gentile). Mengingat masyarakat Romawi pada masa itu diketahui masih menggunakan bahasa Yunani dalam keseharian. Beberapa keterangan lain menyebutkan bahasa Aramia/Ibrani sebagai bahasa awal Injil ini, tetapi teori ini diragukan berdasarkan kelemahan bukti. Para sarjana memutuskan bahasa Yunani sebagai bahasa awal Injil ini dengan beberapa alasan berikut :

  • Mempertimbangkan cara penulis dalam menjelaskan adat Yahudi (7:3; 14:3; 14:12; 15:42). Markus tentu tidak akan perlu menjelaskan kembali adat-istiadat ini kepada audiens Yahudi karena mereka lebih ahli dalam hal ini.
  • Mempertimbangkan cara penulis Injil dalam menginterpretasikan kata-kata atau frase dalam bahasa Aramaik seperti “Boanerges” (3:17); “Talitha cumi” (5:41); “Corban” (7:11); “Bartimaeus” (10:46); “Abba” (14:36); “Eloi”(15:34), dll.
  • Penulis Injil ini menggunakan beberapa kata Latin yang tidak ditemukan dalam Injil lainnya seperti “speculator” (6:27), “xestes” (7:4, 8), “quadrans” (12:42), “centurion” (15:39, 44, 45).
  • Beberapa sarjana menuduh Markus memuat ekspresi anti-semit. Penjelasan Injil ini dalam mengungkapkan peristiwa penyaliban dimana kaum Sanhedrin berusaha menyusun plot untuk membunuh Yesus, tampaknya meniupkan napas anti-semitisme. Selain itu, penyudutan kaum Farisi (kaum Yahudi anti Hellenisme) menunjukan bahwa Injil ini ditujukan kepada kaum non-Yahudi. Sebenarnya, banyak sarjana merasa aneh perihal banyaknya ungkapan-ungkapan anti-Farisi dalam Injil-injil, mengingat kebanyakan pengikut Yesus berasal dari kalangan tersebut. Para sarjana berusaha menerangkan keanehan ini dengan penjelasan, ungkapan-ungkapan anti-Farisi tersebut sengaja ditambahkan oleh kalangan Gereja untuk menyudutkan kaum Farisi (Gereja saat itu kebanyakan diisi oleh kaum Gentile- Kristen). Tetapi ada kemungkinan lain bila kita mempertimbangkan pernyataan Matius bahwa misi Yesus hanya ditujukan kepada kaum Yahudi, Ia mungkin memang diutus untuk memperbaiki perilaku yang salah dalam kehidupan Farisi. Bukanlah rahasia lagi bahwa kaum Yahudi Farisi saat itu, yang seharusnya taat beribadah, telah terjebak kepada sifat hipokritisme dan materialisme. Mereka melakukan berbagai upacara tanpa makna dan terjebak dalam ritual-ritual kosong. Sebagai pemegang teguh ajaran Yahudi, mereka patut diingatkan oleh seorang Rasul (Yesus), bila telah menyeleweng dari ajaran Yahudi yang sebenarnya.
  • Kesalahan Geografis. Hal inilah yang telah menjadi sorotan para sarjana terhadap Injil Markus. Salah satu kesalahan Geografis pada Markus ditemukan dalam pasal 5:1-13, Dimana Markus berusaha memaparkan kisah Yesus yang mengusir roh jahat, Dimulai dari ayat 1 yang berbunyi : “Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa” sampai pada ayat 13, “Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu  jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya”. Dalam cerita tersebut tampaknya Markus membayangkan bahwa Gerasa adalah suatu kota yang terletak berbatasan dengan  laut Galilea. Tetapi menurut para ahli, jarak sesungguhnya antara kota tersebut dengan laut Galilea adalah sekitar 50 kilometer. Dan tentu saja jarak tersebut tidak dapat disebut sebagai jarak yang “dekat”. Kesalahan lain terdapat pada pasal 7:31, “Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui  Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis”. Hal tersebut sama saja mengatakan, si Fulan menuju Jakarta dari Bandung dengan melewati Surabaya !. Berikut adalah peta Palestina pada masa Yesus. Nama lain kota  Tirus adalah Tyre, adalah tidak mungkin jika Yesus menuju Sidon dari Tyre dengan berputar melalui Laut Galilea yang jaraknya bermil-mil. Kesalahan ini akan tampak mencolok bagi audiens berbahasa Ibrani, sedangkan massa berbahasa Yunani mungkin tidak terlalu menyadarinya.

Selain ciri-ciri di atas yang membuktikan bahwa Markus menulis Injilnya dalam bahasa Yunani dan menujukanya kepada massa pengguna bahasa tersebut, Injil ini juga memiliki ciri khas lain.

  • Penulis Markus tampaknya terpengaruh oleh kisah apokalistis yang terdapat dalam kitab Daniel, oleh sebab itu Markus juga sempat menempatkan kisah “apokalistis kecil” dalam karyanya (pasal 13). Kisah apokalistis Markus inilah yang dijadikan rujukan para sarjana dalam menentukan waktu penulian Injil ini, yaitu setelah kehancuran kuil Jerusallem. Perlu diingat, adalah suatu kebiasaan para penulis saat itu yang menulis kejadian yang sudah terjadi seakan-akan sebagai nubuat.
  • Injil Markus dirasa miskin dalam penempatan masalah teologi maupun mistik, berbeda dengan karya Matius dan Lukas, apalagi dengan Injil Johannes yang kental akan filosofi Yunani. Injil Markus tidak memberi tempat terhadap kisah kelahiran perawan dan malaikat-malaikat yang menyertai kelahiran Yesus. Injil ini juga tidak memberi tempat spesial terhadap Maria, berbeda dengan Lukas yang menempatkan Maria sebagai dewi karena pengaruh pemikiran hellenismenya. Markus juga tidak menempatkan peristiwa kelahiran Yesus sebagai sesuatu yang sangat spesial. Apakah Markus tidak mempercayai peristiwa-peristiwa tersebut ? atau ia hanya tidak mengetahuinya karena “Roh Kudus” tidak sempat memberitahunya ? Pastinya, disebabkan oleh kurangnya dalil-dalil teologis tersebut, membuat Gereja agak “malas” untuk menggunakan sumber Markus sebagai rujukan. Pastinya Markus lebih memilih untuk memuat kisah Johannes yang memakan belalang dan madu hutan daripada menceritakan kisah kelahiran dan kenaikan Yesus. . Markus tidak begitu memperdulikan teologi Gereja. Contohnya, saat peristiwa pembaptisan, Markus hanya menceritakan peristiwa tersebut dengan singkat, Sedangkan versi yang lebih panjang dapat kita temukan dalam Injil Matius atau Johannes. Kurangnya dalil teologis ini menyebabkan perlunya Gereja “bertindak”. Nanti akan kita temukan bentuk “tindakan” Gereja ini.
  • Secara umum dapat dikatakan bahwa Penulis Injil Markus kurang memperdulikan kaidah tata bahasa. Silakan anda baca teks Injil Markus, sekalipun yang berbahasa Indonesia, anda akan menemukan susunan kalimat yang tidak sistematis, dan kurang enak untuk dibaca. Siapapun penulis Injil ini, ia mungkin bukanlah seseorang yang berpendidikan tinggi (bila dibandingkan Lukas atau Johannes). Markus tidak suka bertele-tele dalam menyajikan sesuatu, Tetapi ia tetaplah seorang yang kreatif dan ambisius. Ia dapat menampilkan cerita yang padat walau dikisahkan secara datar.

Beberapa bagian dalam Injil Markus bahkan tampaknya memiliki semangat “pendobrakan”  terhadap tradisi Taurat. Dalam Injil Markus, Yesus memulai misinya di kota Capernaum, kota kaum gentile (kafir). Berlawanan dengan versi Matius yang menyatakan, Yesus hanya dikirim untuk “domba yang sesat dari rumah Israel”. Bukan hanya itu saja, berikutnya Markus akan mengkritik sistem kuil dan perayaan sabat.

Selain beberapa hal di atas yang menjadi ciri khas Injil Markus, Injil ini ternyata memiliki “keunggulan” lain, sebuah bukti interpolasi yang sangat memalukan ! Berikut adalah pembahasannya.

Markan Appendiks

9Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. 11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. 12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. 13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. 14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. 15Lalu Ia berkata kepada mereka: /”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.* 16 /Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17* Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,*18 /mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”* 19Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Markus 16:9-20).

Bagian di atas telah menjadi perdebatan sejak naskah-naskah kuno seperti Sinaiticus atau Vaticanus terungkap. Masalahnya adalah pada absennya bagian di atas dari naskah-naskah tertua tersebut. Di kalangan sarjana, bagian di atas dikenal sebagai “Markan Appendix”, karena muncul pandangan bahwa Markus tidak pernah menuliskan bagian di atas. Berbagai bukti textual menunjukan, teks Markus tertua tidak pernah memuat bagian di atas, bagian tersebut diduga disusupkan oleh penyalin-penyalin berikutnya. Para bapak Gereja awal seperti Clement, Origen, Jerome dan Ammonius juga menunjukan ketidaktahuannya terhadap bagian ini. Eusebius yang pernah membuat Eusebian Canon atau satu buku yang merangkum keempat Injil tidak pernah memberi ruang terhadap Markan Appendiks, padahal bagian ini memuat materi yang penting.

Beberapa edisi Injil modern menambahkan catatan kaki terhadap bagian tersebut, seperti dalam American Standard Version yang menyebutkan, “The two oldest Greek manuscripts, and some other  authorities, omit from ver. 9 to the end”. Atau dalam New International Version yang menyebutkan, “The earliest manuscrips and some other ancient witnesses do not have Mark 16:9-20”. Dalam “Secrets of Mt. Sinai”, Yakobus Bentley menulis mengenai absennya Markan Appendix dalam Codex Sinaiticus,

“The scribe who brought Mark’s Gospel to an end in Codex Sinaiticus had no doubt that it finished at chapter 16, verse 8. He underlined the text with a fine artistic squiggle, and wrote, “The Gospel according to Mark.” Immediately following begins the Gospel of Luke (h. 139)”.

“Orang yang menulis Injil Markus hingga tamat dalam Codex Sinaiticus tidak punya keraguan untuk mengakhirinya pada pasal 16 ayat 8. Ia menggarisbawahi teks tersebut dengan garis berlekuk-lekuk yang artistik, dan menulis “Injil Menurut Markus.” Kemudian dilanjutkan dengan permulaan Injil Lukas”.

Codex Sinaiticus merupakan manuskrip Yunani tertua yang diketahui memuat keseluruhan Parjanjian Baru. Fakta bahwa manuskrip tersebut tidak memuat Markan Appendix menunjukan bahwa bagian tersebut baru disusupkan oleh para penyalin pada sekitar abad ke-4. Bagian tersebut juga tidak terdapat pada beberapa manuskrip tertua lain seperti Codex Vaticanus (pertengahan abad ke-4),  Codex Bobiensis (abad keempat sampai kelima) dan sekitar 100 naskah terjemahan Armenia, Afrika dan Koptik. Beberapa naskah yang lebih muda dari Codex Sinaiticus diketahui memasukan bagian tersebut walaupun dengan berbagai variasi, tetapi kebanyakan penulis naskah tersebut menempatkan bagian ini dalam catatan kaki atau margin yang memisahkannya dari teks asli Injil Markus. Dalam naskah-naskah kuno, margin biasa diisi dengan tafsiran atau pendapat si penyalin. Ia sengaja memisahkanya dengan teks yang asli, agar tidak dasalahartikan sebagai bagian dari kitab suci. Sayangnya, penyalin berikutnya kerap keliru saat menganggap bagian tersebut sebagai bagian dari teks asli. Dalam pembahasan-pembahasan berikutnya, kita akan menemukan banyak kasus-kasus serupa.

Dalam beberapa naskah, bahkan ditemukan versi lain akhir dari Injil Markus ini. Dalam perkembanganya, akan dikenal dua macam akhir Injil Markus, versi panjang (Markan Appendiks) dan versi yang lebih pendek. Bandingkanlah versi panjang yang terdapat dalam King James Version dengan versi pendek dalam Codex Bobiensis (400 M.).

Versi panjang (King James Version) :

16:8 And they went out quickly, and fled from the sepulchre; for they trembled and were amazed: neither said they any thing to any man; for they were afraid.

16:9. Now when Yesus was risen early the first day of the week, he appeared first to Mary Magdalene, out of whom he had cast seven devils… (kemudian dilanjutkan sampai ayat 20).

Versi Pendek, ditempatkan pada ayat 8 (Codex Bobiensis),

“But they reported briefly to Peter and those with him all that   they had been told. And after this, Yesus himself sent out by means of them, from east to west, the sacred and imperishable proclamation of eternal salvation.”

Beberapa sarjana mempercayai versi pendek ini sebagai usaha penyalin tak dikenal untuk mengakhiri Injil Markus yang berakhir tiba-tiba, kemungkinan ia menggunakan dasar Injil Matius. Anehnya, Injil Terjemahan Baru versi LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) menggunakan gabungan dua versi sekaligus, versi panjang dan pendek.

“16:8 Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.”(ini merupakan versi pendek, kemudian dilanjutkan dengan versi panjang)

“16:9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan (Dan dilanjutkan hingga ayat 20)”

Entah naskah kuno mana yang LAI gunakan sebagai rujukan, tetapi sejauh yang penulis ketahui tidak pernah ada naskah kuno yang memuat dua versi tersebut sekaligus. Bila memang LAI menggunakan naskah tertua seperti Vaticanus atau Sinaiticus, maka bagian tersebut (Markan Appendiks) seharusnya dihilangkan. Selain itu LAI tidak menempatkan Markan Appendiks tersebut dalam kurung, margin atau memberikan catatan kaki, seakan-akan mereka yakin bahwa bagian tersebut merupakan bagian dari naskah asli Markus.

Beberapa sarjana menambahkan, Markan Appendics mengandung gaya penulisan yang berbeda dengan Injil Markus, sekitar 16-22 kata non-Markan digunakan dalam gaya yang lain dari biasanya. Para sarjana juga menyoroti adanya perbedaan subjek pembicaraan antara ayat 8 dengan ayat 9. Pada ayat 8, subjeknya adalah wanita, sedangkan subjek  pada ayat 9 meloncat menjadi Yesus.

Kesimpulannya, memang aneh bila memutuskan ayat 8 sebagai akhir dari Injil ini yang sesungguhnya karena akan membiarkanmateri Injil ini menggantung. Solusi akhir masalah ini adalah bahwa kita tidak tahu secara pasti mengapa Markus mengakhiri Injilnya secara tiba-tiba, para sarjana memberikan beberapa solusi terhadap masalah ini.

  • Markus tidak pernah menuliskan Markan Appendiks. Markan appendiks adalah usaha Gereja untuk menyelaraskan Injil ini dengan Injil lainnya. Kita ingat bahwa Injil Markus dikenal miskin akan ungkapan-ungkapan teologis, sedangkan bagian ini memuat salah satu pemikiran gereja yang utama yaitu Pembaptisan (16:16) dan penyebaran Injil (16:20). Bagaimanapun akan sulit untuk menjelaskan mengapa Markus mengakhiri Injilnya secara tiba-tiba, bisa jadi ia memang sengaja atau mungkin ia wafat sebelum bisa menyelesaikan karyanya. Selain itu alasan-alasan lain yang cukup hebat mungkin menyebabkan Markus tidak bisa menyesaikan Injilnya.
  • Markus memang menuliskan akhir dari Injil ini tetapi bagian tersebut rusak atau hilang. Peluang pengakuan ayat 9-20 sebagai tulisan asli Markus akan sulit untuk diakui mengingat adanya banyak keberatan yang patut diperhitungkan.

Hingga pembahasan saat ini dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, Markus tidak mendapatkan informasi langsung dari Yesus, melainkan dari Petrus. Injilnya pun ditulis pasca kematian Petrus. Kedua, penulisnya belum pernah mengunjungi dataran Yudea atau Jerusallem. Penulisnya tinggal di daerah Roma dan menujukan Injil ini kepada audiens berbahasa Yunani. Ketiga, beberapa bagian dalam Injil ini diyakini sebagai palsu, yang paling terkenal adalah “Markan Appendiks”. Bagian kontroversial ini memuat dalil kenaikan Jesus dan gerakan misionaris, keduanya merupakan sendi utama agama Kristen sehingga omong kosong bagi siapapun yang menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi bagian ini tidak memiliki dampak apapun terhadap ajaran Kristen pada umumnya.

The Secret Gospel of Mark (Injil rahasia Markus)

Sekitar tahun 1958, Prof. Morton Smith menemukan fragmen yang nantinya akan disebut sebagai “Injil Rahasia Markus”, Ia menemukannya saat meneliti manuskrip di Biara Mar Saba, dekat Jerusallem. Injil Rahasia Markus termuat dalam surat Clement dari Alexandria terhadap temannya Theodore. Dalam surat tersebut Clement menyebutkan bahwa setelah kematian Petrus, Markus membawa Injil aslinya ke Alexandria dan menulis “Injil yang lebih bernuansa spiritual untuk digunakan orang-orang yang telah disempurnakan”. Clement menyatakan, naskah ini hanya disimpan dalam gereja Alexandria dan digunakan dalam upacara menuju “Misteri Terbesar”. Menurut Clement, saat itu tersebar tiga macam edisi Injil Markus di Alexandria; Injil utama atau versi pendek, yang kemungkinan sama dengan yang digunakan saat ini; Edisi panjang, yang mengandung Injil Rahasia Markus; dan Injil versi heretis (bid’ah) yang digunakan kaum Carpocratian, sedikit yang diketahui mengenai sekte yang didirikan Carpocrates ini. Ini adalah suatu bukti bahwa pada abad-abad awal saja sudah muncul berbagai versi Injil yang dianggap ditulis oleh orang yang sama, lalu bagaimana kita bisa memastikan bahwa Injil yang digunakan saat ini merupakan karya dari orang yang dianggap sebagai penulisnya, sedangkan Injil tersebut anonim ? Menurut Clement, kaum Heretis telah menghapus Injil Rahasia Markus yang seharusnya berada di antara pasal 10:34 dan 35.  Berikut adalah fragmen Injil Rahasia Markus tersebut.

“And they come into Bethany, and a certain woman, whose brother had died,

was there. And, coming, she prostrated herself before Jesus and says to

him, “Son of David, have mercy on me.” But the disciples rebuked her.

And Jesus being angered, went off with her into the garden where the

tomb was. And straightway a great cry was heard from the tomb. And going

near, Jesus rolled away the stone from the door of the tomb. And

straightway, going in where the youth was, he stretched forth his hand

and raised him, seizing his hand. But the youth, looking upon him, loved

him, and began to beseech him that he might be with him.

And going out of the tomb, they came into the house of the youth, for he

was rich. And after six days Jesus told him what to do, and in the

evening the youth comes to him, wearing a linen cloth over his naked

body. And he remained with him that night, for Jesus taught him the

mystery of the kingdom of God. And thence, arising, he returned to the other side of the Jordan.”

Gereja merasa sulit menerima keaslian fragmen ini karena di sana dinyatakan mengenai Yesus yang menginap semalam dengan seorang pemuda yang setengah telanjang, juga mengenai Yesus yang mencintai seorang pemuda. Walaupun terlalu jauh untuk mengatakan bahwa bagian-bagian tersebut mengekspresikan homoseksualitas, Prof. Smith tampaknya setuju terhadap pandangan tersebut. Diluar semua isi dan kandungan dari surat Clement atau Injil Rahasia Markus, Para sarjana tidak begitu saja menerima keotentikannya. Mereka mempertimbangkan secara serius pandangan berikut :

  • Tidak ada seorang pun selain Smith dan kalangan Biarawan Mar Saba yang pernah melihat langsung naskah asli surat Clement ini. Pada tahun 1980, Thomas Talley yang menanyakan perihal surat ini kepada Biarawan Mar Saba dan kemudian dijawab bahwa surat ini tengah diperbaiki.
  • Beberapa sarjana masih meragukkan keotentikan surat ini. J. Munnick menggaris bawahi perbedaan antara deskripsi Carpocratian dalam surat Clement dengan catatan pada kitab Stromateis.
  • Kisah yang dimuat fragmen ini tidak terdapat pada Injil lainnya, walaupun kisah yang memiliki kemiripan mungkin ada.
  • Kredibilitas Clement yang masih dipertanyakan sepertihalnya dengan surat-suratnya. Clement diketahui pernah mengakui beberapa tulisan Apokrip seperti Ajaran-ajaran Petrus , Kitab apocalypse  Petrus, Injil menurut orang-orang Ibrani, dan Injil orang-orang Mesir sebagai canon. Selain itu, Injil Rahasia Markus tampaknya mewakili pandangan-paandangan Gnostis yang tumbuh sekitar abad ke-2 M.. Pemikiran-pemikiran Gnostis akan kita temukan pada Injil Johannes yang ditulis di sekitar akhir abad pertama.
  • Para sarjana masih meragukan penafsiran Morton Smith terhadap Injil Rahasia Markus ini. Salah satu tafsiran Morton Smith yang terkenal mengenai Injil ini adalah bahwa Yesus kemungkinan telah menjalin hubungan khusus dengan seorang pemuda kaya. Entah dari mana Morton Smith bisa menyimpulkan hal yang demikian, karena tidak ada satu bagian pun dari Injil Ini yang menyatakan secara terbuka bahwa Yesus telah melakukan hubungan sexual. Mengenai kalimat “pemuda itu kemudian menatap Yesus dan mencintainya…”, mungkin Prof. Smith  menafsirkan frase tersebut terhadap kebudayaan barat (Prof. Smith adalah orang Amerika), di mana cinta telah identik dengan sex. Prof. Smith mungkin lupa bahwa dalam tradisi Timur, terutama Yahudi atau Islam, ungkapan cinta tidak selalu identik dengan sex tetapi lebih condong kepada kepedulian dan kasih sayang. Saya rasa Prof. Smith telah menafsirkannya terlalu jauh.

Terlalu banyak karya palsu yang beredar di abad-abad pertama munculnya kekristenan. Karya-karya tersebut tentunya bersaing dengan karya asli yang jumlahnya lebih sedikit. Hak cipta tentunya belum diakui pada abad-abad tersebut, anda dapat saja membuat “Injil Markus” tanpa perlu takut untuk dituntut pihak manapun. Saat ini sebagian karya palsu tersebut telah ditemukan, diantaranya menggunakan nama Petrus, Johannes, Maria, dsb.. Perlu penelitian serius untuk menetukan apakah karya tersebut asli atau tidak, tetapi beberapa manuskrip ternyata memiliki usia yang lebih tua daripada karya-karya yang saat ini terdapat dalam Perjanjian Baru. Injil Thomas misalnya, dianggap sebagai Injil tertua dan otentik. Sayangnya Injil ini tidak selamanya sejalan dengan Injil-injil Perjanjian Baru, akhirnya umat Kristen akan sulit untuk menerimanya sebagai catatan yang asli mengenai kehidupan Kristus karena sudah terbiasa dengan Injil-injil yang ada.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s