The Jesus Dynasty

James D. Tabor adalah Ketua Jurusan Studi keagamaan di Universitas North Carolina di Charlote, AS. Dalam buku karyanya yang bertajuk Dinasti Yesus ini, beliau menggali sejarah Kekristenan hingga ke pangkalnya. Berbeda dengan kebanyakan penulis kristologi lainnya, yang kadang menggunakan karya-karya teologi sebagai acuannya – bukan maksud saya untuk mengecilkan usaha Kaum Muslim yang menggunakan Al Qur’an sebagai rujukan utamanya, kualitas paparan James Tabor yang didasarkan pada bukti-bukti sejarah yang meyakinkan tidak kalah menarik. Ia berusaha merekonstruksi profil “Yesus sejara” dan “Kristianitas sejati”. Ia murni bertekad hal-hal sensitif tersebut dari sisi sejarah tanpa mau terlalu banyak melibatkan sisi teologis. Inilah yang menjadi salah satu nilai plus yang bisa disajikan James Tabor melalui bukunya.

Dalam pembukaan buku ini, james tabor memaparkan motif awalnya dalam usaha melacak arti “Yesus Sejarah” yang selama ini cukup samar. Niat terhadap usaha tersebut tidak muncul begitu saja, Berbagai penemuan arkeologis terbaru sangat menggugah seperti Naskah Laut Mati, Makam Imam Kafayas, Naskah Qumran, bahkan hingga makam Talpiot yang dipercaya memuat osuari (peti mati) anggota keluarga Yesus. Gaung penemuan-penemuan tersebut sangatlah kontroversial hingga usaha pembeberan sempat mengalami berbagai “peredaman”, untungnya ada usaha beberapa sarjana semisal James Tabor yang melalui bukunya bisa mengingatkan kita bahwa penemuan-penemuan tersebut benar-benar telah tejadi.

Bagian pertama buku ini, berusaha menelusuri kisah keluarga Yesus Kristus secara historis. Usaha ini sangat bergantung kepada ketersediaan data yang disajikan riwayat empat Injil dan catatan sejarah pendukungnya yang sangat terbatas. James Tabor dalam bagian ini bahkan dengan sangat berani berusaha melacak identitas “ayah” Yesus yang sesungguhnya. Tindakan kontroversial ini berangkat dari asumsi bahwa Yesus historis adalah seorang manusia biasa yang lahir dari hubungan biologis yang normal. Tidak luput dari pembahasannya adalah identitas dari saudara-saudara kandung Yesus yang lahir dari rahim Maria, informasi yang sebenarnya tidak baru namun tetap menarik untuk diperdebatkan.

Bagian kedua berusaha membuka tabir yang selama ini menyelubungi kehidupan Yesus, di luar konteks dogmatis yang selama ini berlaku terhadapnya. Injil-injil diketahui tidak banyak memberikan informasi yang komprehensif mengenai biografi Yesus. James Tabor mengingatkan, untuk bisa memahami Yesus secara historis, pertama-tama kita harus melihatnya sesuai konteks zaman dan lingkungannya secara objektif. Yesus harus dipandang dari sudut pandang bahwa ia adalah seorang Yahudi yang taat pada saat itu, yang tidak mendirikan ajaran baru melainkan berusaha menegakkan kembali ajaran Yahudi yang sejati. Ia kemudian akan tampil sebagai seorangpemimpin gerakan Mesianik khas Palestina abad pertama Masehi.

Yohannes Pembaptis menjadi fokus utama dalam pembahasan bagian ketiga buku ini. Yohannes yang umurnya tidak terpaut jauh dari Yesus, masih memiliki ikatan darah dengan Yesus melalui Maria. Sayangnya Injil-injil lagi-lagi hanya memberikan informasi yang minimalis mengenai Johannes, bahkan berusaha untuk menutup-nutupi perannya yang cukup besar. Padahal sesuai dengan ucapan Yesus dalam Lukas 7:28, bahwa “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohannes”, peran Yohannes tidak bisa dianggap remeh. Buku ini berusaha menjelaskan bahwa dalam konteks sejarah sesungguhnya, Yesus dan Yohannes merupakan parter dalam misi mesianis yang sama. Sayangnya misi suci Yohannes harus berhenti karena ia tertangkap dan dieksekusi oleh Herodes Antipas, penguasa Galilea saat itu. Hal ini menyebabkan tumbuhnya tanggung jawab bagi Yesus untuk meneruskan misi yang tengah diemban Yohannes. Tanggung jawab tersebut menuntut Yesus untuk segera menyusun rencana strategis guna meyelamatkan misinya secara rohani maupun politis. Lebih jauh mengenai aksi nyata Yesus dalam melaksanakan misinya dibahas pada bagian keempat buku ini.

Bagian keempat mengisahkan masa-masa krusial dalam kehidupan Yesus dalam menjalankan misinya. Ia bersama dengan pengikut-pengikutnya harus berlomba dengan tekanan yang semakin meningkat dari penguasa lokal dan kekaisaran yang mencurigai gerakan-gerakan mesianis yang dipimpinya. Keadaan politik cukup sensitif saat itu sehingga sedikit saja gelombang pada sistem yang ada dapat menyebabkan efek yang merusak dalam tatanan politik yang lebih luas. Sementara itu Yesus perlu menyusun rencananya secara lebih efektif dan revolusioner. Pada Desember 29 M., Yesus beserta pengikutnya memasuki Yerusalem dan hampir saja terbunuh, tindakan tersebut tampaknya merupakan usaha persiapan bagi gerakan berikutnya yang lebih spektakuler. Pada Maret 30 M., mejelang Paskah, Yesus kembali memasuki Yerusalem, kali ini beserta para pengikutnya dalam jumlah yang lebih besar, disambut oleh penduduk yang mengaguminya. Tindakan berani tersebut tentu saja memiliki perhitungan politis tertentu, karena sama saja dengan memancing tindakan represi dari penguasa pada saat itu. Yesus selanjutnya mendatangi Bait Allah di Yerusalem, dengan maksud mengkritik perilaku-perilaku tercela yang selama ini dilakukan di area tersebut. Selama itu kawasan Bait Allah memang dipakai sebagai arena bisnis, padahal ajaran Nabi melarangnya. Tindakan Yesus tersebut harus dilihat dari sisi politis karena pada dasarnya ia menentang segala bentuk penyelewengan yang dipraktikan penguasa dan imam-imam Yahudi yang korup.

Akhirnya pembahasan mencapai hari-hari terakhir dalam hidup Yesus, Mengetahui bahwa krisis besar yang ditimbulkan akibat tindakan beraninya tinggal menunggu waktu saja Yesus mengumpulkan lingkaran terdekatnya dalam sebuah jamuan khusus, peristiwa ini dilihat sebagai bentuk konsolidasi akhir antara Yesus dan pengikutnya guna menghadapi krisis yang segera menimpa. Tak lama berikutnya Yesus ditangkap oleh detasemen Romawi di tamana Getsemani, perisitiwa yang diikuti oleh berbagai penyidangan yang dilakukan terhadap dirinya baik oleh imam yahudi maupun penguasa setempat. Dengan berusaha menyisihkan fakta-fakta non-historis dalam rangkaian peristiwa ini, James Tabor menyusun kronologis sebagai berikut : Imam besar Hanas dan Kafayas bersama pengikut menyerahkan Yesus ke tangan Pilatus beserta tuduhan pemberontakan. Ketika mengetahui bahwa Yesus berasal dari Galilea, Pilatus melimpahkan Yesus kepada Herodes Antipas yang saat itu tinggal tidak jauh darinya. Herodes lalu mengembalikan Yesus kepada Pilatus dengan dukungan terhadap keputusan bahwa Yesus pantas dieksekusi dengan penyaliban. Pilatus kemudian melaksanakan eksekusi tersebut, suatu penyaliban yang merupakan bentuk eksekusi paling populer saat itu. Keampuhan metode tersebut sudah terbukti dapat mencegah para pembuat keonaran dalam menjalankan aksinya. Dalam sudut pandang Pontius, Yesus hanyalah seorang pemberontak yang mengancam tatanan sistem yang sudah ada.

Bagian terakhir buku ini, mengisahkan kelanjutan misi yang diemban Yesus beserta Yohannes paska kematian kedua tokoh tersebut. Saking pentingnya fase tersebut, James Tabor menyebutnya sebagai kisah “yang tidak pernah diceritakan” paling besar dalam dua milenia terakhir. Secara tradisional, dipercaya bahwa Petrus dan Paulus memegang tampuk pemimpin misi penyebaran dan pertahanan ajaran Kristus. Padahal seperti yang akan dibuktikan secara gamblang oleh berbagai bukti sejarah, kenyataanya tidak sesederhana itu. Ada seorang tokoh yang perannya terlupakan dalam sejarah gereja Kristen, namanya adalah Yakobus, saudara kandung Yesus. Selama ini riwayat-riwayat mengenai perkembangan ajaran Kristen hanya dapat dilacak dari Kitab Kisah Para Rasul dan sedikit bagian surat-surat paulus. Untungnya beberapa catatan pendukung lainnya yang cukup penting bisa terselamatkan, contohnya adalah karya Josephus, sejarawan Yahudi di abad pertama.

Karyanya terbukti dapat sedikit banyak membantu pemahaman mengenai peristiwa yang terjadi di sekitar abad tersebut. Injil-injil Apokrip turut membantu usaha ini, contohnya saat Inji Thomas dengan jelas menyebutkan bahwa “The disciples said to Jesus, “We know that you are going to leave us. Who will be our leader?” Jesus said to them, “No matter where you are, you are to go to James the just, for whose sake heaven and earth came into being.” (Saying n.o 12) Selain itu tidak kurang Riwayat-riwayat para bapak Gereja awal seperti Eusebius dan Clement dari Alexandria turut menguatkanfakta ini. Walaupun berusaha untuk ditutup-tutupi oleh para penulis dan redaktur Injil, peran Yakobus tetap tidak dapat disembunyikan seutuhnya, sebaliknya malahan memberikan informasi yang cukup penting mengenainya. Melalui informasi yang tersembunyi itulah dapat disimpulkan bahwa Yakobus beserta Petrus dan Yohannes memegang tampuk kepemimpinan gereja Kristus di Yerusalem paska kematian Yesus. Ketiganya dikenal sebagai The Three Pillars. Ajaran-ajaran Yakobus, seperti yang sempat termuat dalam suratnya di Perjanjian Baru ternyata memuat ajaran yang identik dengan ajaran Yesus. Usaha penelusuran sejarah ini malah membalikan tesis yang menyatakan Paulus sebagai pemeran utama dalam misi penyebaran ajaran Kristen. Pada kenyataanya, Paulus berkonfrontasi dengan gereja Yerusalem yang dipimpin oleh Yakobus. Paulus menyebarkan teologi Kristen yang telah “disempurnakan” sedangkan Yakobus kukuh menjaga ajaran Yesus. Tetapi pada akhirnya ajaran Paulus-lah yang mendapat sambutan luas di kalangan penduduk kekaisaran, bahkan yang akhirnya diresmikan menjadi agama negara oleh kaisar Konstantin di abad ke-4.

Karya James Tabor meruapakn buah dari penelitian selama 40 tahun, oleh karena itu perlu mendapat perhatian ekstra. Buku ini menyajikan berbagai informasi baru mengenai Kristen, yang bahkan kadang kontroversial. Tetapi pada intinya, buku ini layak dibaca oleh seorang yang berusaha menemukan arti Yesus Historis dan Kekristenan murni.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s