Nicaean Council (Konsili Nikea)

Usaha pelacakan sejarah penyusunan Perjanjian Baru akan membimbing kita menuju ke abad keempat Masehi (sekitar 367 M.), saat konsili Nicea dihelat. Acara akbar tersebut bermaksud mempertemukan seluruh faksi Kristiani di daratan Eropa, Asia hingga Afrika utara untuk mencari konsensus mengenai versi agama Kristen yang akan diakui kekaisaran.

Dalam konsili ini bertarung dua kekuatan besar. Faksi Athanasius, salah satu pihak yang pemikirannya dimenangkan melalui voting dalam konsili ini, nantinya akan menjadi orang pertama yang memutuskan susunan kitab-kitab (atau surat) yang nantinya akan menjadi Perjanjian Baru. Susunan kitab Perjanjian Baru tersebut termuat dalam suratnya yang dikirim saat Paskah (The Easter Letter Of Athanasius) kepada gereja-gereja resmi. Di dalam surat tersebut terdapat 27 kitab atau surat yang akan menjadi kitab suci bagi gereja barat, atau dengan kata lain menjadi bagian dari Kitab suci Bible pada hari ini. Hingga pada akhirnya pada tahun 397, Synod of Carthage memberikan otoritas terhadap 27 kitab tersebut sebagai bacaan utama bagi setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus.

Menurut Jortin (Rem. On Eccl. Vol. ii. P.177), disebutkan bahwa Alexander, uskup Alexandria dan Arius, yang saat itu merupakan seorang penatua di Diocese tengah memperdebatkan mengenai sifat Kristus. Sang Uskup merasa tidak puas dengan pemikiran Arius, dan ia merasa sangat murka. Ia memerintahkan Arius untuk mengikuti pendapatnya, dan menyangkal pemikirannya sendiri. Andaikan seorang manusia bisa merubah opininya semudah melepas jaketnya ! Alexander kemudian menggelar konsili Perang tahun 321 M., terdiri dari kurang lebih seratus uskup dan menghasilkan keputusan untuk mengexkomunikasi Arius serta beserta beberapa pendeta dan dua uskup pendukungnya untuk menyelesaikan perdebatan ini. Semua ini tidak berhasil menghentikan penyebaran pemikiran Arius di kalangan pelajar-pelajar Mesir saat itu. Doktrin Arius berada di atas angin karena mendapat dukungan kitab suci yang dikanal umat saat itu. Arius menentang paham trinitas yang tidak tercantum dalam kitab suci.

Konstantin yang merasa khawatir dengan kekisruhan di Gereja ini, mengirim surat kepada Alexander untuk mengingatkan kendala yang dapat timbul akibat segala perdebatan ini. Sayangnya skandal yang telah terjadi tidak begitu saja dapat selesai. Untuk menyelesaikan masalah ini dan masalah lainnya, Konsili Nikea dihelat. Terdiri dari 318 uskup dari berbagai daerah dan aliran Kristen. Dalam konsili ini para perwakilan saring melemparkan pendapat, mempertahankan keyakinan mereka, dan berdebat satu sama lain. Kaisar tampaknya harus bekerja keras untuk bisa menyatukan mereka dalam damai. Seperti yang dikatakan oleh Sabinus, Uskup Pamphilus mengutip Konstantin dan Eusebius, bahwa para anggota konsili adalah “sekumpulan mahkluk bodoh, yang tidak mengerti apa-apa.”

Saat ini, umat Katolik terdidik, khususnya umat Protestan adalah pembaca utama kitab-kitab Perjanjian Baru yang diresmikan oleh Konsili Nikea. Kitab-kitab yang dikatakan Pappus, “secara ceroboh disimpan di bawah meja komuni dalam ruang tertutup sebuah Gereja, dan kemudian mereka mengharapkan intervensi Tuhan untuk memilih kitab-kitab suci di atas meja dan meninggalkan sisanya di bawah meja. Dan itulah yang terjadi !” (Com. Mace’s N. T. p. 875.) Oleh karena itu, umat Kristiani sejak abad keempat hingga saat ini, telah mengaggungkan kitab-kitab yang menaiki meja komuni secara ajaib, dan dilarang untuk membaca ratusan kitab-kitab dan Injil lainnya yang memiliki nasib kurang beruntung karena tidak berhasil memanjat meja. Kitab-kitab yang divonis palsu dan apokrip. Berdasarkan legenda ini, maka kita tentu tidak perlu lelah-lelah membahas kitab-kitab yang meragukan ini, karena usaha ilmiah tidak akan terlalu berguna untuk melacak keotentikan kitab-kitab yang secara ajaib menaiki meja !

Tentunya peristiwa pemilihan kitab suci tidak terjadi sesederhana itu, peran Athanasius dalam proses pemredaksian dan pemilihan kitab suci perlu diperhitungkan karena kitab-kitab suci yang terpilih hanyalah kitab yang mendukung pemikirannya. Athanasius tentu tidak memilih susunan kitab suci tersebut secara tiba-tiba atau berdasarkan inspirasi ilahiah. Proses pemilihan dan peredaksian anggota kitab suci sebenarnya telah terjadi ratusan tahun sebelumnya. Masa-masa penyeleksian naskah-naskah suci dimulai setidaknya di akhir abad pertama masehi, berpuluh tahun setelah Yesus wafat. Pada masa tersebut umat Kristen mulai kehilangan sumber-sumber saksi mata langsung kehidupan Yesus, sehingga pencatatan tertulis biografi dan ajaran Yesus dirasa cukup diperlukan. Sayangnya inisiatif ini dapat dikatakan terlambat karena para periwayat sudah tidak dapat lagi mengingat sejarah kekristenan generasi awal dengan jelas.

Kita harus memperhatikan kondisi umat Kristen saat itu yang tengah diburu oleh kekaisaran Romawi. Berbagai pembantaian mengimbangi penyebaran agama baru tersebut. Terbunuhnya para pemimpin Kristen seperti Petrus dan Yakobus menyebabkan terpecahnya kekuatan para pengikut sejati Kristus. Di lain pihak, sebagaimana terjadi dalam tradisi agama lainnya, Ketiadaan otoritas menghasilkan munculnya aliran-aliran sempalan yang turut memperparah perpecahan yang ada. Kebanyakan pengikut aliran tersebut mendistorsi risalah yang dibawa Yesus dengan membaurkannya dengan ajaran gnostik, pagan dan platonis.

Para Bapak Gereja awalnya tidak sengaja menyusun canon atau susunan kitab suci yang kebanyakan dilatarbelakangi oleh kenginginan untuk membendung ajaran yang mereka anggap sesat. Alhasil kitab-kitab yang menjadi bagian dari Perjanjian Baru tidak lain adalah kitab-kitab yang memenangkan pertarungan antar gereja di masa lalu.

Kita tidak tahu ada berapa ribu naskah yang telah hilangkan selama masa tersebut, yang kemudia diperparah oleh tindakan represif mulai dari abad keempat hingga abad pencerahan. Sebaliknya canon yang disusun Athanasius mengalami masa gemilang pada masa tersebut. Ratusan atau ribuan salinan diproduksi untuk menggantikan kitab apokrip yang masih beredar. Sayangnya permasalahan tetap ada karena dari ribuan salinan yang dihasilkan, tidak ada manuskrip yang isinya identik !

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s