Bapak Gereja Awal

Bapak gereja awal adalah pembuat canonifikasi kitab suci Kristen yg digunakan saat ini. Canon berasal dari bahasa kata Ibrani ‘Qaneh’ yang artinya buluh atau dedaunan yang biasa digunakan untuk membuat Papyrus. Kata tersebut memiliki pengartian lain yaitu sebagai acuan atau standar. Orang Yunani mengadopsi kata tersebut dan menyesuaikannya dengan lidah mereka sehingga terbentuklah kata kanon, yang kemudian berkembang dalam bahasa latin sebagai canna. Akhirnya canon dapat diartikan sebagai susunan kitab suci yang diakui secara resmi, lawan dengan apokrip yang berarti tidak diakui. Canon Perjanjian Baru, baru terbentuk pada abad keempat. Sebelumnya, berbagai gereja telah memiliki dan menyusun kitab suci favoritnya masing-masing. Para pemimpin gereja tersebut, akan saling menyerang dan mencela golongan lain.

Orang paling awal yang dianggap paling berpengaruh terhadap penentuan kitab-kitab calon pengisi kitab suci modern adalah Clement dari Roma. Dalam suratnya yang ditulis tahun 95 M. terhadap orang-orang Korintus, ia sempat mengutip ratusan ayat dari Perjanjian Lama dan surat-surat Paulus, terkadang ia juga menyelipkan berbagai ucapan Yesus. Perlu digarisbawahi bahwa ia tidak pernah mengacu pada suatu naskah tersendiri dalam usahany tersebut. Diduga kuat ia tidak menggunakan sumber tertulis khususnya saat mengutip perkataan-perkataan Yesus tersebut. Ia dipercaya hanya menggunakan sumber tradisi oral yang ada saat itu. Dengan asumsi apabila sumber tertulis (Injil-injil) telah eksis, ia sewajarnya tidak akan ragu untuk menuliskan sumber rujukannya. Ini menguatkan pendapat bahwa Injil-injil belum beredar atau bahkan belum diproduksi saat Clement menulis suratnya tahun 95 M. tersebut. Apabila misalnya Injil Markus yang diakui sebagai Injil tertua dan ditulis di Roma benar-benar telah beredar saat itu, tidak ada alasan bagi Clement untuk tidak mengetahuinya dan menggunakannya sebagai rujukan.

Walaupun begitu, Clement tidak dapat disebut sebagai pembuat canon Perjanjian Baru yang pertama. Ia hanya dikenal sebagai orang pertama yang menghasilkan karya yang di dalamnya terkandung kutipan-kutipan perkataan Yesus, yang paralel dengan isi Perjanjan Baru. Di sisi lain, dari suratnya dapat kita mengetahui bahwa surat-surat Paulus telah beredar luas pada saat itu, khususnya di daerah Roma dan Korintus.

Pada abad kedua munculah Ignatius (50-107 M.), seorang uskup Antiokia, yang dalam surat-suratnya terdapat berbagai rujukan terhadap surat-surat Paulus. Surat-surat Ignatius dikenal telah mengalami redaksi ulang sehingga keotentikannya berkurang, tetapi setidaknya para sarjana memastikan bahwa pada abad kedua surat Paulus telah beredar luas di daerah Roma dan sekitarnya. Terkadang tampak dalam suratnya ia meminjam ayat atau kalimat dari Injil-injil, tetapi walaupun begitu ia tidak pernah menyebutkan sumbernya. Walau diyakini bahwa pada masa tersebut beberapa Injil telah beredar, masih ada kemungkinan Ignatius tidak merujuk kepada salah satu Injil tersebut. Kemungkinannya ia menggunakan tradisi oral atau setidaknya menggunakan salah satu sumber tertulis atau Injil yang ia sendiri tidak ketahui siapa penulisnya. Beberapa sarjana bahkan mencurigai bahwa bagian-bagian yang memiliki hubungan dengan Injil-injil merupakan tambahan terhadap naskah surat-surat Ignatius yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab di masa-masa berikutnya. Perlu diingat bahwa baik Clement, Ignatius atau berbagai Bapak Gereja awal pada jaman tersebut tidak pernah menganggap perkataan Yesus sebagai suatu wahyu yang turun dari Tuhan (scriptures). Kebanyakan perkataan Yesus hanya digunakan untuk mendukung kutipan yang diambil dari Perjanjian Lama, dengan otoritas yang lebih rendah dari Perjanjian Lama itu sendiri.


Bila kebanyakan dari Bapak Gereja Awal di atas ternyata tidak menunjukan keterangan yang berarti terhadap perkembangan naskah tertulis, tidak demikian halnya dengan Papias (60-130 M.). Papias hanya sempat meninggalkan fragmen-fragmen dari naskah yang dianggap sebagai karyanya, sedangkan riwayat lain mengenainya disebutkan dalam karya-karya Bapak Gereja awal lain. Papias dikenal terhadap pembelaanya bahwa Injil Markus benar–benar ditulis oleh Markus, murid sekaligus sekertaris dari Petrus. Menurutnya Markus menulis kembali segala perkataan Petrus tanpa merubah sedikitpun keterangan yang ia dapat dari Petrus. Sayangnya pada zaman modern para sarjana telah menemukan bahwa Markus membuat berbagai kesalahan serius, yang tentunya kesalahan ini terlalu sulit untuk kembali ditimpakan kepada Petrus sebagai narasumber Injil Markus. Kesimpulan lain yang para sarjana dapat melalui diketemukannya berbagai kesalahan pada Injil Markus itu adalah bahwa pada abad pertama distorsi terhadap kisah kehidupan Yesus telah terjadi, khususnya terhadap tradisi oral.

Selanjutnya Papias menyebutkan mengenai Matius yang mengumpulkan perkataan Yesus dalam bahasa Ibrani. Para Sarjana modern kemudian mengkritisi bahwa berdasarkan penelitian mereka terhadap Injil Matius dapat disimpulkan bahwa Injil ini pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani. Kesimpulan ini tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dari bukti nyata bahwa salah satunya Matius pernah menggunakan septuagint dalam penulisan Injilnya. Tentu saja masih ada kemungkinan bahwa objek yang dibicarakan antara para sarjana dan Papias adalah kedua hal yang berbeda. Papias ternyata tidak membicarakan sumber tertulis dan lagi-lagi lebih banyak merujuk kepada sumber-sumber oral yang berasal dari temannya yang mengaku sebagai teman dari murid salah seorang rasul. Akibatnya tentu ucapannya tidak bisa lagi dipertanggungjawabkan, contohnya saat ia mengatakan bahwa kepala Judas Escariot menggembung hingga selebar jalur gerobak hingga matanya tertutupi oleh daging, dan tempat dimana ia tewas masih tetap berbau busuk bahkan hingga saat Papias menulis surat ini (Expositions, dikutip oleh Apollinaris dari Laodicea, catatan kaki no. 23 dalam Metzger, ”The Canon of The New Testament: Its Origin, Development, And Significance” Clarendon, 1987 h. 53). Selanjutnya dapat kita simpulkan bahwa pada abad-abad awal perkembangan Kristen, kisah kehidupan Yesus telah bercampur dengan berbagai mitos, dan usaha untuk memisahkan keduanya adalah sangat sulit karena orang-orang terdekat dengan Yesus telah habis dibantai penguasa Roma yang sangat membenci pengikut Yesus.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s