Preface

Perjanjian Baru adalah kumpulan literatur Kristen yang seluruhnya ditulis pasca kehidupan Yesus Kristus. Tidak ada satupun surat atau kitab dalam Bible yang ditulis pada masa kehidupan Yesus (1-30 M.). Literatur dalam Bible yang usianya penulisannya paling dekat dengan masa Yesus adalah surat-surat Paulus, yang kira-kira mulai ditulis 15 tahun setelah kematian Yesus. Sedangkan yang paling akhir diperkirakan ditulis seabad hingga paruh pertama abad kedua setelah kematian Yesus.

Sejarah penyusunan maupun kompilasi Perjanjian Baru memang sudah sangat sulit untuk ditelusuri, demikian halnya dengan usaha melacak sejarah penulisan Perjanjian Lama yang telah berusia ribuan tahun. Tetapi itu tidak terlalu menjadi masalah, mengingat menurut umat Kristiani, status Perjanjian Baru berada di atas Perjanjian Lama. Sehingga Perjanjian Lama harus dibaca dalam konteks Perjanjian Baru, walaupun kadang harus terjadi “pemaksaan” dalam usaha tersebut. Materi dalam kitab-kitab Perjanjian Lama kadang dirasa membosankan apabila dibaca pada masa modern ini, tetapi mungkin sangat menarik pada masanya. Perjanjian lama penuh dengan mitos-mitos yang dipengaruhi kebudayaan dan sains di masa tersebut. Selain itu sudah sangat mustahil untuk melacak keaslian penulis-penulis Perjanjian Lama mengingat tebatasnya bukti-bukti sejarah, sedangkan usaha yang sama terhadap Perjanjian Baru menemukan momentumnya di abad dua puluh akibat diketemukannya beberapa bukti-bukti sejarah penting yang berkaitan dengan periode sejarah penulisan materi Perjanjian Baru.

Berbagai riwayat pendamping yang diberikan para Bapak Gereja Awa sangat membantu usaha pelacakan ini. Dan di masa modern ini telah memberikan kondisi yang kondusif bagi para sarjana Kristen yang jujur dan kritis untuk melakukan berbagai telaah terhadap teks-teks Perjanjian Baru baik yang kanonik (diakui) maupun Apokrip (tidak diakui) . Penemuan besar-besaran sepanjang abad kedua puluh turut banyak membantu usaha tersebut. Beberapa kesimpulan penelitian tersebut dirangkum dalam buku ini. Kita tentunya tidak mungkin hanya menerima begitu saja suatu klaim tanpa meneliti dan membuktikannya terlebih dahulu. Akhirnya semua ini berpulang kepada diri anda sendiri, apakah anda siap untuk menerima kebenaran atau tidak.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s