Guide to NEw Age music

Ketertarikan saya terhadap music New Age pertama kali tumbuh saat saya menginjak kelas 6 SD, sebelumnya saya adalah penggemar lagu-lagu the Bee Gees, namun setelah sekian lama, tampaknya saya mulai merasa bosan. Saya tidak memang tidak pernah dididik untuk menyukai lagu-lagu Pop. Nenek saya kerap menyetel lagu klasik di rumah, dan itu cukup berpengaruh terhadap selera musik saya. Namun, saya pikir saat itu musik klasik hanya pantas dinikmati orang sepuh, saya butuh yang lebih ringan, pikirku.  Untunglah saat itu di televisi tengah gencar-gencarnya ditayangkan iklan sebuah kaset bertitel “Inspirational Moments”, yang notabene merupakan kompilasi musik-musik new age No. 1 saat itu. Dalam iklan tersebut ditayangkan potongan klip dari musisi Yanni saat mengadakan konser di kota terlarang China, dengan lagunya berjudul “Nightingale”. Saya langsung jatuh cinta pada musisi ini, “Musik inilah yang akan mengisi keseharian saya ke depannya”.

Beberapa hari kemudian saya membeli kaset Yanni yang albumnya berjudul “Tribute”. Ya Tuhan, musiknya sangat memberikan inspirasi. Setelah cukup lama menikmati musik Yanni, saya mulai penasaran untuk mencoba musik New Age lainnya. Pilihan saya tertuju pada Kitaro. Saya langsung membeli album terakhir kitaro saat itu “Gaia – Onibashira”. Saya langsung tertegun, tidak ada alunan orkestra asli pada album ini, yang menonjol adalah alunan suara perkusi dan efek yang dipadu dengan harmonis. Saat itu juga saya tertarik dengan Kitaro. Beberapa waktu kemudian saya membeli album Kitaro yang lain, kali ini bertitel “Kitaro-the Best”. Saya kembali terkejut karena ternyata Kitaro sebelumnya jarang sekali menggunakan alat musik yang beragam kecuali synthesizer  dan keyboard. Walau saya bisa menikmati musik “Silk Road”, saya kurang suka jenis musik yang terlalu didominasi alat musik elektronik ini.

Akhirnya saya pun memiliki kaset “Inspirational Moments”. Saya menganjurkan album ini kepada siapapun yang ingin mendalami musik New Age. Di dalamnya terdapat berbagai jenis musik New Age, mulai dari Yanni yang bergaya NeoKlasik, Secret Garden yang bergaya Celtic, Thomas Otten yang bergaya Pop-Opera, Sacred Spirits yang bergaya Indian, hingga Enigma yang bergaya elektronik-Gregorian. Memang sulit untuk membagi-bagi jenis musik tersebut, kesulitan ini diakui oleh industri-industri musik sehingga mereka memukul rata bahwa segala musik tersebut termasuk dalam kelompok New Age. Menurut saya, Industri Musik mengartikan aliran musik New Age sebagai sebagai jenis musik yang mengkominasikan gaya/alat musik tradisional dengan gaya/alat musik modern. Oleh karena itulah Kitaro bisa bersanding dengan Yanni padahal pada kenyataanya keduanya memiliki gaya musik yang sangat berbeda. Kitaro lebih sering berkutat dengan synthesizer dan keyboard , namun dalam beberapa track ia juga menggunakan alat musik lain walau tidak dominan. Yanni pada dasarnya juga menggunakan synthesizer dan keyboard, namun dalam beberapa album ia murni menggunakan Piano sehingga syarat untuk memasuki kelompok New Age tidak memenuhi. Namun tetap saja albumnya bertengger di jejeran musik new age di toko-toko. Dari sinilah kita dapat mengambil pelajaran bahwa musik New Age sangatlah luas, definisi awalnya New Age adalah musik-musik yang menggunakan suara-suara alam dengan gaya ambient, relaksasi, yoga, dan kadang elektronik. Namun dalam perkembangannya, musik New Age tidak selalu identik dengan relaksasi atau Yoga. Tembang “Tubular Bells (1973)” dari Mike Oldfield misalnya, terlalu berdentum untuk digunakan dalam nuansa relaksasi, namun album Tubular Bells ini dikenal sebagai album pertama yang memasuki genre New Age.

Kembali ke memori masa kecil saya, tersebutlah saya semakin haus terhadap musik-musik New Age, akhirnya saya mencoba bereksperimen dengan membeli album-album seperti “comparsa”nya Deep Forest dan “Adiemus”nya Karl Jenkins. Keduanya saya masukan ke dalam tempat sampah. Tampaknya otak kecil saya masih belum mampu untuk mencerna musik Deep Forest yang menggabungkan nuansa musik amerika latin dan elektronik atau Adiemus yang bagi saya hanya berupa teriakan-teriakan orang dengan bahasa yang aneh. Setelah dewasa saya baru bisa memaafkan tindakan tersebut, diakibatkan oleh luasnya jangkauan musik New Age yang tersedia di pasaran, normal saja apabila seorang penggemar musik New Age menyukai sub genre  New Age tertentu dan membenci lainnya. Saya contohnya, kini saya kurang menyukai musik yang terlalu kental nuansa elektroniknya seperti Jean Michel Jarre, Vangelis atau Mike Oldfield, melainkan lebih menyukai yang kental nuansa orkestra dan chant-nya, seperti Secret garden, Gregorian, Lesiem hingga E Nomine. Pilihan ini bisa sangat fleksibel dan beragam, karena seringkali musisi New Age melakukan eksperimen-eskperimen musik pada album-album buatannya, kadang satu album memiliki gaya musik yang berbeda dengan yang lainnya. Contohnya pada band Deep Forest, saya tidak menyukai album “Comparsa” namun saya sangat menyukai album “Music Detected”.  Lain lagi dengan Mike Oldfield, beberapa tembangnya seperti “Moonlight Shadows” dan “Heaven’s Open” bahkan murni beraliran Pop, namun toh ia tetap termasuk ke dalam aliran new age. Dengan kata lain, Musik New Age luas sekali, dan saking luasnya, seperti aliran musik lainnya, di dalamnya kita dapat mengelompokannya ke dalam beberapa sub-genre.

Lalu intinya apa saja ciri-ciri musik New Age ? Untuk mudahnya pergilah ke toko-toko kaset, pergilah ke seksi musik New Age, amati musisi / band apa saja yang termasuk di dalamnya, lalu temukan persamaan musisi / band-band tersebut. Ya, anda akan menemukan kesimpulan yang beragam atau bahkan bingung, karena setelah anda pergi ke toko kaset/cd lainnya, komposisi musisi/band yang mengisi rak musik new age bisa berbeda.  Sang penjual kaset/cd bisa saja memasukan Josh Groban atau Zamfir dalam seksi new age, tapi dalam toko lain, sang penjual memasukan Josh Groban dalam seksi Pop musik dan Zamfir dalam intrumental. Maaf saya membuat anda bingung, intinya janganlah mengacu pada isi rak-rak di toko Kaset/CD, tapi lebih baik mengacu pada situs Internet seperti Last.fm yang lebih spesifik dalam mengelompokan jenis-jenis musik. Di sini and juga dapat menggunkan fitur “similar artists” untuk dapat menemukan musisi-musisi yang gaya musiknya lumayan serupa.

Kadang-kadang, beberapa kawan saya yang mengaku menggemari musik new age, tidak menyadari luasnya aliran ini. Mereka inilah yang terpaku pada list yang tercantum dalam album “inspirational moments”, mereka hanya mengenal musisi/band seperti Kitaro, Enigma, Yanni, Vanessa Mae, Thomas Otten, Secret Garden dll. Pandangan ini sangatlah sesat, ini sama saja dengan mempersempit jangkauan musik New Age. Artis-artis “Inspirational Moments” hanyalah puluhan dari ratusan musisi new age. Penggemar musik new age sejati seharusnya berani untuk mengeksplor lebih dalam luasnya aliran ini.  Boleh saja anda mengacu pada album-album kompilasi New Age lainnya seperti album image, feel, peaceful, spirits of the world, voyage dll. Namun usul saya, Telusurilah Internet dan anda akan menemukan dunia musik yang berbeda, minimal cobalah dulu daftar musisi-musisi New Age versi Wikipedia. Kemudian pada tahap selanjutnya, anda harus mengesplor dengan mencari sendiri. Kadang-kadang, musik New Age diidentikan dengan World Musik, dan ini memperluas lagi jangkauan musik New Age. Selamat bertualang di belantara New Age,,,

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s