Deep Forest

Deep Forest merupakan proyek duo musisi Michel Sanchez dan Eric Mouquet dari Prancis. Ya, jarang sekali ada musisi/group New Age dari Prancis, dan sekalinya ada, group ini mampu membuktikan keunggulan kreasinya di dunia musik. Sebenarnya aliran musik mereka dapat disebut sebagai etnik elektronik, yaitu aliran yang menggabungkan nuansa etnik dengan suara elektronik (beat atau chillout), namun apa bedanya dengan musik New Age pada umumnya ?Album-album yang mereka keluarkan selalu berbuah kesuksesan. Tahun 1993 mereka berhasil memenangkan Grammy untuk penghargaan “Best world Music” dari album “Deep Forest”. Tahun 1996 mereka kembali memasuki nominasi Grammy lewat album “Boheme”. Mereka juga menjadi group musik New Age tersukses tahun 1995 dengan mencetak hampir 10 juta kopi.

Eksperimen New Age dimulai ketika Michel Sanchez memiliki ide untuk menggabungkan chant suku Baka Pygmi dengan musik modern. Dibantu dengan Eric Mouquet, mereka pun menciptakan proyek Deep Forest ini. Sebenarnya ide penggabungan etnik dan modern ini tidak orisinil karena Enigma sudah terlebih dahulu memproduksinya, tapi tetap saja, Deep Forest membuktikan bahwa musik yang dihasilkannya memiliki senyawa yang berbeda dari Enigma. Dalam Deep Forest, nuansa etnik ini begitu kental, bagai membawa anda menuju (seperti nama group mereka) hutan dalam. Menemui lingkungan yang sama sekali baru dan asing, suku-suku eksotis, dan kemegahan alam. Melalui salah satu hitsnya “Sweet Lulaby” yang mereka adopsi dari lagu tradisional kepualauan Solomon,  mereka berhasil memasuki peta permusikan dunia (UK Top Ten).

Di album kedua “Boheme” (salah satu favorit saya), Eric dan Michel kembali bereksperimen kali ini dengan menjelajah keunikan Eropa timur, mengambil sampel-sampel musik dari bangsa Hungaria dan kaum Gypsi, dengan nuansa sendu yang memukau. Untuk pembuatan album ini, Deep Forest hingga harus mengimpor penyanyi Marta Sebestyen dan Katalin Szvorak ke studionya di Prancis. Album ini terjual satu juta kopi, nampaknya anda patut memiliki album ini.

Album ketiga, “Comparsa” kembali menuai kejutan baru, kali ini Deep Forest mengambil nuansa yang lebih meriah dari album sebelumnya, dengan menggunakan chant-chant berbahasa spanyol khas amerika latin. Dalam pembuatan album  ini, Michel dan Eric hingga harus mereka musik-musik jalanan di Kuba dan menemui musisi-musisi di Madagaskar. Mereka juga memperkenalkan duet penyanyi Syria dan Spanyol, Abed Azrei dan Ana Torroja. Setelah ini mereka mengadakan pertunjukan live di Jepang dan menghasilkan album “made in Japan”.

Di tahun 2000, mereka kembali menelurkan album “Pacifique” yang kental akan nuansa pasifik dan kepualauan Haiti dan tentunya dibumbui oleh musik elektronik. Proyek ini sebenarnya lebih ditujukan untuk pembuatan soudtrack bagi film Prince du la Pacifique yang disutradarai oleh  Alain Corneau. Album terakhir ini kurang mendapat perhatian, namun Deep forest kemudia membuktikan keunggulan mereka lagi melalui peluncuran album mereka yang kelima bertitel “Music Detected”, yang lebih bernuansa oriental, salah satu yang dilibatkan dalam album ini adalah, yang tentunya kita kenal, Anggun C Sasmi dalam lagu “Deep Blue Sea”. Dalam album ini, terlihat pergantian gaya musik Deep Forest, dari tadinya yang lebih bernuansa “trance” menjadi lebih “rock”. Di album inilah suara gitar listrik dan hentakan drum mulai diperdengarkan oleh Deep Forest, contohnya pada tembang “India”.

“Nikmati Deep Forest, masuklah ke dunia Deep Forest, menari dan menangislah bersama Deep Forest”

Diskografi dan Download link :

* 1992 – Deep Forest (3 juta kopi terjual)
* 1994 – World Mix (re-release dari album 1992)
* 1995 – Boheme (4 Juta album terjual)
* 1998 – Comparsa (Lebih dari 1 juta terjual)
* 1999 – Made in Japan (live album) (150 000 kopi terjual)
* 2000 – Pacifique
* 2002 – Music Detected
* 2002 – “Malo Korrigan” theme song
* 2004 – Essence of the Forest
* 2004 – Kusa No Ran (hanya terbit di Jepang) – pass :  mt1123
* 2008 – Deep Brasil

undefined

mtl123

Surat Kepada Jemaat Galatia

Keotentikan

Keotentikan surat ini telah diakui baik secara internal maupun external. Gaya, ciri khas dan doktrin yang terdapat didalamnya menandakan bahwa Pauluslah penulis utama surat ini. Bahkan beberapa sarjana menggunakan surat ini sebagai acuan bagi penentuan keotentikan karya-karya lain yang dianggap ditulis oleh Paulus. A.Q. Morton telah melakukan penelitian komputer terhadap surat-surat Paulus, ia menggunakan surat Galatia sebagai acuan terhadap surat lainnya, tentu saja dengan asumsi keotentikan surat Galatia tidak lagi diragukan. Melalui perbandingan gaya penulisan, Komputernya membuktikan bahwa hanya surat Roma, 1 & 2 Korintus dan Filemon yang gaya penulisannya sesuai dengan Galatia, dengan kata lain seluruh surat selain 5 surat tersebut dapat diragukan keotentikannya.

Pendiri Prostestan, Martin Luther kerap mengakui kecintaanya terhadap surat ini, sedangkan beberapa sarjana menyebut surat sepanjang 6 pasal ini sebagai “magna charta”-nya agama Kristen, karena memuat banyak doktrin pembebasan dari hukum, sebagaimana dengan surat Roma. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan dengan surat Roma; Dalam surat Roma, Paulus tampak lebih tenang, dan sindirannya terhadap ajaran Yahudi tidak terlalu diperlihatkan. Sebaliknya dengan surat Galatia, ia tampak lebih emosional, lebih tajam dan singkat dalam kata-katanya, dan ia kerap menyerang ajaran Yahudi secara langsung .

Walaupun secara umum para sarjana mengakui keotentikan surat ini, tetap saja ada beberapa sarjana dari “Radical School” yang tidak tanggung-tanggung menolak keotentikan seluruh karya Paulus, termasuk surat Galatia ini. Ada baiknya kita mempertimbangkan alasan beberapa tokoh radikal tersebut dalam penolakannya terhadap keotentikan karya-karya Paulus. Beberapa contoh sarjana tersebut adalah Van Mannen, G. A. van den Bergh van Eysinga, FC Baur, dll. Mereka beranggapan, muatan teologi Kristen yang terdapat dalam karya-karya Paulus telah melampaui masanya. Waktu penulisan surat-surat Paulus yang selama ini dianggap sebelum penulisan keempat Injil, ternyata dianggap lebih cocok bila ditempatkan paska eksistensi keempat Injil, saat golongan Gnostis mulai tumbuh dan berkembang. Selain itu mereka beranggapan bahwa pengakuan para Bapak Gereja awal terhadap eksistensi surat-surat Paulus ternyata baru muncul sekitar pertengahan abad kedua.

Dalam hal penolakan terhadap surat Galatia ini, para sarjana radikal menyoroti beberapa bagian dalam surat ini yang berkontradiksi dengan Kitab Kisah Rasul mengenai kejadian yang sama. Contoh perbedaan tersbut terdapat pada Galatia 2:1-10 dan Kisah Rasul 15. Dalam Kisah Rasul 15, Paulus bersama Barnabas mengadakan pertemuan dengan para Rasul (Petrus, Yakobus, dll) di Jerusallem dalam usahanya membicarakan masalah pelaksanaan misi kepada kaum Gentile. Sedangkan dalam Galatia 2:2, Paulus berangkat ke Jerusallem atas dasar wahyu dan tanpa maksud tertentu. Selain itu dalam Kisah Rasul 15:1-2 dijelaskan bahwa Paulus diutus kepada Jerusallem oleh otoritas gereja Antiokia. Perhatikanlah kutipan berikut :

Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.”(Kis Ras 15:2)

Bandingkan dengan,

Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi–dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang–,supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.”(Gal 2:2)

Para sarjana radikal juga menyoroti tidak adanya keterangan mengenai surat-surat Paulus dalam tulisan Lukas, keberadaan surat-surat tersebut tampaknya belum terlihat kecuali pada kalangan Gnostik di pertengahan abad kedua. Pengguna utama surat-surat Paulus adalah umat Marcion, penentang paling keras terhadap ajaran Yahudi. Sarjana radikal selanjutnya tidak menemukan gaya penulisan seorang “Rabbi” Yahudi dalam karya-karya Paulus, Penulisnya sangatlah “Yunani”, lancar berbicara dengan bahasa dan gaya Yunani. Mereka juga menemukan bahwa Kitab Kebijaksanaan Solomon yang termasuk dalam salah satu bagian dari Injil Yunani dan memuat dasar pemikiran Philo, merupakan kitab favorit Paulus. Selain itu, saat Paulus membicarakan konsep kebangkitan dalam 1 Kor 15:35-35, ia membicarakanya dalam nuansa spiritual, dengan membantah konsep kebangkitan secara fisik. Antitesis terhadap jiwa dan tubuh, manusia spiritual dan fisik, antara tubuh duniawi dan surgawi, konsep transfigurasi; semua konsep tersebut tidak dikenal dalam tradisi Yahudi, tetapi akan familiar bagi kaum Gnostis. Menyindir keyahudian Paulus, C. G. Montefiore menyebutkan, “Either this man had never been a Rabbinical Jew, or else he has completely forgotten what Rabbinical Judaism was and is.”. Intinya melalui berbagai dalil untuk melanggar hukum Yahudi dalam surat ini, sarjana radikal mencurigai surat-surat Paulus sengaja diproduksi oleh kaum Marcion atau Gnostis untuk mendukung pemikirannya. Kita tahu bahwa kaum tersebut tidak memiliki kitab suci sejak menolak keabsahan Perjanjian Lama.

Galatia

Walaupun para sarjana masih sepakat dalam menentukan Paulus sebagai penulis utama surat ini, tetapi tidak begitu halnya dalam penentuan tujuan surat ini. Pandangan para sarjana terbagi dua dalam masalah tersebut, pertama adalah pendukung teori “Galatia utara (Northern Galatia)”, sedangkan yang kedua adalah pendukung teori “Galatia selatan (Southern Galatia)”. Perdebatan tersebut bisa terjadi karena dalam surat ini Paulus hanya menyebutkan ,” …kepada jemaat-jemaat di Galatia”. Galatia di sini memiliki arti ganda, apakah Galatia tersebut dibicarakan dalam ekspresi kedaerahan/provinsi atau hanya kesukuan. Perdebatan tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh kepada penentuan waktu penulisan, tempat penulisan bahkan mempengaruhi sejarah pendirian Gereja-gereja.

Teori pertama yang menyatakan bahwa Paulus menulis surat kepada jamaat Galatia utara dikemukakan terutama oleh Lightfoot dan didukung juga oleh Lipsius, Davidson, Chase, Findlay, dll.. Ketika kita membicarakan Galatia utara, maka kita akan membayangkan suatu daerah geografis yang dihuni orang-orang “Galatia” disebut sebagai Galatia utara, bukan dalam bentuk propinsi Romawi. Andaikan Paulus menujukan surat ini kepada jemaat Galatia utara, maka waktu penulisan surat ini adalah sekitar tahun 56 M., pasca penulisan surat Roma. Dalam hal ini, maka daerah yang dimaksud dengan Galatia utara adalah kota Mysia, Frigia dan Pisidia. Sesuai dengan catatan Lukas dalam Kisah Rasul 18:23 dan 16:6,

Setelah beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, ia berangkat pula, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid.” (Kisah Rasul 18:23)

Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.” (Kisah Rasul 16:6)

Menurut Lightfoot, kedua daerah yang disebutkan dalam ayat tersebut merujuk kepada suatu daerah kesukuan, yaitu Galatia utara.

Dengan menggunakan dalil ayat yang sama (Kis Ras 18:23; 16:6), Perrot, Weizsacker, Hausrath, Zahn, Pfleiderer, Gifford, Rendell, Holtzmann, Clemen, Ramsay, Cornely, Page, Knowling,dll. beranggapan bahwa Lukas saat itu sedang membicarakan daerah Galatia selatan yang berbentuk profinsi Romawi, teori ini dikenal sebagai teori “Galatia Selatan”. Berbeda dengan daerah Galatia utara dimana daerah tersebut lebih dikenal sebagai daerah geografis, Galatia selatan berarti sebuah profinsi Romawi (Pisidian Antioch, Iconium, Lystra dan Derbe). Menurut Kisah Rasul, Paulus memang penrah mendirikan gereja di tempat tersebut (pasal 13 dan 14). Untuk memperkuat argumennya, menurut Ramsay, Paulus tidak mungkin mampu mengadakan perjalanan jauh menuju Galatian utara karena ia baru terserang penyakit (Gal 4:13). Dengan memakai teori “Galatia selatan”, maka penulisan surat ini adalah sekitar tahun 49 M., sesaat sebelum konsili Jerusallem tahun 49-50 M., tetapi tidak membuka kemungkinan untuk ditulis sesudah konsili. Sedangkan mengenai tempat penulisan, ada beberapa kemungkinan, yaitu; Korintus (Kis Ras 18:1-17), Antiokia (Kis Ras 18:22), Efesus (Kis Ras 19:1-41), Macedonia atau Achaia (Kis Ras 20:1-3).

Kesimpulannya, sejarah penulisan surat-surat Paulus sarat akan kontradiksi dan kesimpangsiuran. Hal tersebut muncul tidak lain akibat adanya keterangan yang tidak jelas dalam surat Paulus maupun Kisah Rasul, ditambah dengan banyaknya kontradiksi di antara keduanya. Sebagai contoh, Kisah Rasul mencatat lima perjalanan Paulus ke Jerusallem ( Kis Ras 9, 11, 15, 18:22, 21 ), sedangkan Paulus hanya menyebutkan tiga perjalanan. Ditambah lagi dengan tidak adanya catatan mengenai perjalanan kedua Paulus ke Korintus (Painful visit) dalam Kisah Rasul. Beberapa ketidakcocokan ini menghasilkan kesulitan dalam menelusuri sejarah yang sesungguhnya.

Penentang Paulus

Bila kita membaca surat ini, kita akan dapat melihat ekspresi khas Paulus dalam usaha mempertahankan otoritasnya. Dalam pasal-pasal awal, ia menuliskan dasar-dasar kerasulannya, dan dalam beberapa pasal, Paulus mengecam penentang-penentangnya. Kita mungkin mempertanyakan identitas penentang otoritas dan ajaran Paulus ? Sedikit petunjuk telah diberikan Paulus mengenai masalah ini.

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnyabukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”(Gal 1:6-9)

Dari beberapa pernyataan Paulus dalam surat ini, maka musuh utama Paulus dalm hal ini adalah pihak dengan ciri-ciri utama sebagai berikut :

  • Memiliki kitab suci (Injil), Injil ini bukanlah Injil Markus, Matius, Lukas atau Johannes karena belum diproduksi saat itu. Tidak menutup kemungkinan bila Injil yang dimaksud di sini adalah Injil Yesus (Q), yang masih berbentuk tradisi oral ? Paulus juga kerap mengatakan bahwa ia mengabarkan Injil, tetapi kita tidak pernah tahu Injil apa yang Paulus sebarkan tersebut. Ada kemungkinan bahwa Injil yang dimaksud di sini tidak berarti tulisan, tetapi lebih berbentuk pemikiran atau ajaran.
  • Ia mempermasalahkan klaim kerasulan Paulus. Dalam hal ini, maka pihak Nazarenes merupakan pihak yang paling memungkinkan, karena kaum Ebionit atau Gnostis belum muncul. Menurut Kisah Rasul, kelompok ini mendatangi gereja Antiokia dan menyuruh umat Kristen disana untuk melaksanakan khitan. Jemaat Antiokia yang merasa bingung kemudian mengutus Paulus dan kawannya untuk meminta konfirmasi mengenai masalah tersebut kepada Gereja Jerusallem. Tiada kelompok lain selain kaum Nazarenes yang memiliki otoritas untuk mempermasalahkan klaim kerasulan seseorang, mengingat mereka adalah pewaris utama ajaran Yesus.
  • Musuh Paulus melakukan penyunatan dan tradisi Yahudi lainnya. Seluruh umat Yahudi dan Nazarenes diketahui tetap setia terhadap pelaksanaan hukum Yahudi. Bila benar bahwa musuh Paulus adalah kaum Yahudi atau Nazarenes, mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Bagaimana mungkin Paulus yang mengaku pernah menjadi pengikut Rabi Gamaliel bisa berbalik arah menentang ajaran Yahudi. Padahal Gamaliel adalah Rabi dari kalangan Farisi, Yahudi yang paling taat dalam menjalankan hukum. Kedua, Kita ketahui bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, ia sendiri disunat pada hari kedelapan (Lukas 2:21), begitu pula dengan pengikutnya yang dikenal sebagai kaum Nazarenes. Bila Paulus dapat mengakui sebagai Rasul Kristus, mengapa ajarannya bisa begitu berbeda dengan para pengikut Yesus. Selama ini Paulus selalu bertentangan dengan Petrus dalam hal keharusan berkhitan bagi kaum Gentile. Dalam suatu ayat dinyatakan,

Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu—bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka–bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.”(Gal 2:6)

Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…” –Galatia 2:16-

Di sini Paulus memandang rendah otoritas Gereja Jerusallem sebagai pewaris utama ajaran Yesus, Bahkan Paulus berani membatalkan hukum Torah yang selama ini dipertahankan Yesus. Sebaliknya, Paulus pernah mengidentifikasikan Gereja Jerusallem sebagai Gereja Tuhan, dan jemaatnya sebagai jemaat Tuhan.

Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.”(Gal 1:13)

Walaupun awalnya Paulus menyebut kaum Nazarenes sebagai jemaat Allah, tetapi ia sama sekali tidak menghormati mereka sebagai jemaat Allah, khususnya terhadap ajaran dan hukum yang mereka terapkan. Injil terjemahan Indonesia tampaknya menyembunyikan hal ini dengan menggantikan nama Petrus dengan Kefas, tentunya dengan harapan orang awam tidak menyadarinya. Dalam Galatia 2:14, pertentangan Paulus dengan Petrus (Kefas) semakin terlihat jelas,

Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua:”Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secaraYahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?”(Gal 2:14)

Seharusnya untuk menyelesaikan masalah keharusan berkhitan tersebut, mereka harus berpulang kepada pribadi Yesus, itulah yang Petrus lakukan. Tetapi apa daya, Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus, tidak pernah mendengar ceramahnya, bersikukuh bahwa ia mendapatkan inspirasinya berdasarkan Kristus.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.”(Gal 1;11-12)

Kaum Gentile yang enggan disunat tentu akan memilih menjadi pengikut Paulus daripada mengikuti Petrus. Sebenarnya kita dapat melihat pandangan salah satu pengikut Yesus yang paling terkemuka, tidak lain adalah saudaranya sendiri, Yakobus.

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.”(Yak 2:10)

Ajaran iman tanpa perbuatan (hukum) Paulus diserang oleh Yakobus, ia menyebutkan dalam suratnya,

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Jac 2:14)

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yak 2:17)

Surat Yakobus yang akan saya bahas lebih jauh nanti, memiliki keanehan tersendiri. Entah bagaimana surat ini bisa memasuki canon Perjanjian Baru yang sarat akan pemikiran Paulus. Yakobus selama ini dikenal sebagai penentang utama ajaran Paulus, ajaranya berkebalikan dengan ajaran Paulus. Walaupun tidak secara terbuka menyerang Paulus, dalam suratnya kita bisa menemukan beberapa petunjuk ke arah tersebut. Coba tebak kepada siapa ayat ini ditujukan ?

Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (Yak 2:20)

I Love u… So what ?

Seorang siswa SMA menghampiri seorang siswi cantik di kantin. Dengan gugup, berkatalah ia, “…Ehem, Dian.. Sebenarnya sejak pertama bertemu, kamu selalu ada di pikiranku. I think im in love with you…”.

Si siswi cantik tampak terkejut, namun ia segera menjawab, “Oke, so what kalo kamu suka sama aku ?…”.

“Hmm… Maukan kamu jadi pacarku ?…” ujar sang siswa.

“Oke boleh aja aku jadi pacar kamu, tapi apa untungnya buat aku ?…”

…Si Siswa berpikir keras, lalu menjawab,”…Ya kita bisa saling berbagi satu sama lain, hmm… saling perhatian juga…”

“…Memangnya apa yang bisa kita bagi setelah pacaran  ?”

“Ya… Apapun, kalo ada masalah kamu bisa berbagi sama aku, terus aku juga bisa ngejaga kamu…”

“Hmmm, jadi sejak pertama ketemu denganku, kamu merasa yakin bahwa kamulah orang yang tepat untuk mendapatkan sebagian masalahku, lalu bisa memberikan perhatian kepadaku dan menjagaku ?”

“Hmm.. iya”

“Apakah aku tampak seperti seseorang yang bermasalah, kurang perhatian dan lemah di hadapmu ?”

“Tidak…”

“Lalu mengapa kamu berpikir bahwa aku membutuhkan kamu ?”

“…”  Sang siswa terdiam, mengurutkan kening, lalu berkata ,”Jadi intinya kamu gak mau jadi pacarku ?…”


“Sebenarya mau saja, tapi untuk apa ?…”Ujar sang siswi sambil melenggang meninggalkan sang siswa yang berdiri kebingungan.


“Hmm,, iya juga, untuk apa ya?…” Gumam sang siswa.




Shiva in Exile

Penikmat Enigma, Deep Forest, Delerium atau Waterbone, harus mencicipi karya-karya Shiva In Exile. Group ini benar-benar mampu untuk menyihir dan menghipnotis anda, dengan chant-chant dan hentakan-hentakan yang diramu dengan sangat indah dan melankolis.

Berdasarkan situs resminya, musik SIE dapat dikategorikan dalam kelompok New Age, Oriental atau gothik. Komposer SIE adalah Stefan Hertrich yang sebelumnya dikenal lewat karya-karyanya yang berupa soundtrak game PC. Stefan juga pernah menghasilkan album2 dengan nama Darkseed, Betray My Secrets, SpiRitual (Jerman), Sculpture (Jerman). Dalam berbagai proyeknya, Stefen berperan sebagai pemain synthesizer, perkusi, dan programming.

Album pertama SIE,  “Ethnic” adalah album yang sangat indah dan misterius, berbagai nuansa oriental mulai dari Arab hingga melayu dipadukan di sini. Pembuka album ini, track “Caravane” akan langsung membuat bulu kuduk anda merinding, selanjutnya anda akan dibawa menjelajahi dunia musik yang sangat eksotis dan gelap. Dalam track “Nightbeat” anda dapat menemukan vokal berbahasa Indonesia yang sangat indah. Tidak aneh apabila album ini mendapat penghargaan Just Plain Folks Music sebagai “Best New Age/World album 2004”. Album ini adalah salah satu album New Age yang menurut saya paling mantap !

Setelah vakum selama 5 tahun, SIE meluncurkan album “Nour” yang berarti cahaya dalam bahasa Arab, album ini tidak kalah uniknya dari album pertama, yaitu tetap menggabungkan unsur musik modern/elektronik dengan unsur oriental (Indian, timur dekat, Afrika, hingga Asia). Penampilal vokal Yana Veva (Rusia) turut menambah suasana mistik album ini, yang juga mengundang pendengarnya dalam dunia musik spiritual yang hangat dan penuh energi.

Track “Viva La Revolucion”, “We’re All One” dan “He’neya”  digubah dalam suasana perang Israel dan Lebanon, dimana sang vokalis turut terlibat dalam aksi protes menentang peperangan. Dalam  track “Anubis” pikiran kita akan dibawa menuju kemegahan kuil-kuil Mesir, selanjutnya petualangan spiritual kita dilanjutkan dalam track “Desert of Yunus” dan “Blue Healing”. “Nour” juga memasukan bonus track “Bullet” yang menampilkan penyanyi Hanine Hannousch dari Beirut/Lebanon yang menulis puisi dengan judul yang sama dalam suasana pemboman Beirut oleh Israel (2006).

There are songs to make you dance, to make you cry, to have you stand up and scream to the skies…”

Download link

Ethnic

Nour


Surat kepada Jemaat Korintus

undefined

1 Korintus

Sepertihalnya dengan surat Roma, surat ini diyakini ditulis oleh Paulus pribadi. Dibuktikan dengan adanya pengakuan si penulis sendiri, kuatnya ciri khas pauline, serta dikuatkan oleh pengakuan para bapak Gereja awal. Surat ini kemungkinan besar ditulis Paulus di kota Efesus, kira-kira pada tahun 57 M., pada perjalanan missionarisnya yang ketiga (Kis Ras 19:1-41). Berbeda dengan surat Roma, di mana Paulus mengirim surat tersebut kepada kota yang belum pernah didatanginya. Paulus mengirim surat ini kepada Gereja yang pernah ia dirikan di Korintus pada perjalanan misinya yang kedua.

Korintus, Kota Maksiat

Sebelum lebih jauh membahas mengenai surat ini, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu latar belakang kota Korintus. Kota Korintus terletak 50 mil di barat kota Athena. Kota ini merupakan salah satu kota terbesar dan terpenting pada masa itu, penduduknya terdiri dari mayoritas orang-orang Romawi, minoritas Yahudi, dan Yunani. Di dalam kota ini berdiri megah kuil Venus (Aphrodite) yang terkenal, di mana di dalamnya terdapat sekitar 1000 pendeta wanita yang melakukan prostitusi atas nama pemujaan terhadap dewa. Begitu parahnya keadaan penduduk di kota ini, sehingga istilah “corinthianize” dapat diartikan dengan kegiatan prostitusi danpesta pora. Lingkungan akan sangat mempengaruhi keadaan dari penduduknya, penduduk di kota ini tidak akan pernah bisa lepas dari keterikatannya dengan tradisi lama mereka seperti kepercayaan terhadap dewa-dewa, maksiat secara bebas, pesta pora dll.. Karenanya, Paulus harus bekerja keras untuk dapat merubah tradisi buruk masyarakat kota ini, hasil usaha tersebut dapat terlihat melalui surat Korintus ini. Paulus mendirikan Gereja di kota ini pada perjalanan misinya yang kedua (Kis Ras 18:1-18).

Di Kota ini, Paulus menerima gelombang penolakan yang berasal dari minoritas kaum Yahudi di sana. Ia tidak diperbolehkan untuk mengadakan penceramahan di dalam sinagoga, dan kemudian terpaksa mengadakan pertemuan-perte

muan di kediaman Titus Justus, seorang Gentile yang tertarik dengan ajaran Paulus. Kediaman Titus tersebut terletak dekat dengan sinagoga (Kis Ras 18:7-8). Titus dalam perkembangannya akan menjadi pengikut setia Paulus. Terdapat pula sebuah surat yang ditujukan kepadanya oleh Paulus dalam Perjanjian Baru, yang keasliannya diragukan. Dengan senang hati ia mendampingi Paulus dalam beberapa perjalanannya misinya, bahkan surat 1 Korintus ini diduga kuat diantarkan oleh dirinya pribadi kepada Gereja Korintus dari Efesus. Selama menetap di Korintus, Paulus sempat menemui dua sahabat baik lainnya, pasangan suami istri Priscillia dan Aquilla.

Setelah meninggalkan Korintus dan tinggal sementara di Efesus, Paulus mendapat berita mengejutkan mengenai keadaan jemaatnya di Korintus. Kabar tersebut menyebutkan mengenai kelakuan para jemaatnya yang mulai menerapkan kembali kebiasaan-kebiasaan lamanya dan kabar tersebut turut menyebutkan mengenai perpecahan umat yang terjadi di sana. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, diduga kuat kota tersebut dikunjungi oleh Apollos (Filsuf Yahudi dari Alexandria) dan Kefas (Petrus). Keduanya mendirikan faksi-faksi umat Kristen yang terpisah. Setelah kedua tokoh cukup menuai pengaruh, umat Kristen Korintus terbagi atas pengikut Paulus, Apollos dan Petrus. Mereka semua mengakui hal yang sama, yaitu sebagai pengikut sejati Kristus. Keberadaan mereka merupakan ancaman serius bagi Paulus, kedua orang tersebut (Apollos dan Petrus) adalah pendukung setia ajaran Yahudi yang bertentangan dengan ajaran Paulus, secara tidak langsung mereka juga dapat menimbulkan keraguan di antara jemaat Paulus. Pertanyaan kemudian muncul, mengapa para pengikut Kristen baru, yang mengikuti Petrus atau Apollos, memilih untuk memisahkan diri dari golongan Paulus bila mereka sama-sama mengajarkan ajaran yang sama, yaitu kepercayaan terhadap Kristus. Hal ini tidak lain disebabkan karena ajaran mereka sangatlah berbeda, bahkan muncul dugaan bahwa Petrus sengaja mendatangi Korintus untuk membendung ajaran Paulus disana. Paulus merasa khawatir dengan keadaan ini, ia tidak bisa membiarkan Petrus dan Apollos merebut umatnya. Keadaaan lain mungkin hanya terjadi apabila Petrus hanya mencari pengikut dari kalangan umat Yahudi, tetapi fakta berbicara sebaliknya, ia turut mencari umat di kalangan Gentile. Sejak itu hubungan Paulus dan Petrus tidak pernah berjalan mulus, mereka memperebutkan umat yang sama, para Gentile !

Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari

golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari

golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.”(1 Kor. 1:12)

Selama di Efesus, Paulus kerap melakukan korespondensi dengan jemaatnya di Korintus melalui surat. Surat 1 Korintus bukanlah surat Pertama atau satu-satunya yang pernah ditulis Paulus kepada jemaatnya di Korintus, diduga ia telah sempat mengirimkan beberapa surat sebelumnya (1 Kor. 5:9). Sayangnya kebanyakan dari surat-surat tersebut diyakini telah hilang. Setelah mengirim surat-surat tersebut, barulah Paulus mendengar kabar mengenai konflik yang terjadi di gereja Korintus. Kabar tersebut diduga sampai ke Paulus melalui “orang-orang Kloe” ,Stephanas, Fortunatus, dan Achaicus (1 Kor. 1:11-12; 16:17).

Surat 1 Korintus ini merupakan bentuk usaha Paulus dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam jemaatnya, nanti akan kita buktikan bahwa usahanya ini hanya akan menimbulkan masalah yang lebih buruk.

Dalam hal doktrin, surat ini memuat dalil-dalil mengenai perjamuan/ekaristi (Pasal 11), status haram atau halalnya suatu makanan, masalah perkawinan, konsep kebangkitan Kristus dll.. Doktrin-doktrin tersebut merupakan ciri khas surat-surat Paulus, sehingga surat-surat yang tidak memuat doktrin tersebut dapat dicurigai keotentikannya. Dalam hal isi, Surat ini menunjukan kekesalan Paulus terhadap kedegilan jemaatnya di Korintus. Jemaatnya yang kebanyakan berasal dari kalangan Gentile (1Kor 12:2) ternyata tidak mudah untuk dipisahkan dari tradisinya yang lama. Oleh karena itulah dalam hal ini Paulus perlu bersikap lebih “moderat”. Paulus tidak berani mengambil keputusan radikal untuk melarang tradisi-tradisi lama jemaatnya, seperti tidak disunat, memakan babi, dll. atau ia akan segera ditinggalkan oleh jemaatnya. Sebaliknya dengan Petrus, ketaatanya terhadap hukum Taurat membuatnya tidak bisa mendapatkan cukup pengaruh di kalangan Gentile, khususnya di Korintus. Petrus hanya bisa mendapatkan pengikut dari kalangan Yahudi Korintus yang jumlahnya tidak banyak. Tetapi tetap saja, keputusan kaum Nazarenes untuk mengutus Petrus sebagai penyebar utama agama Kristen kepada kaum Gentile merupakan ancaman terbesar bagi ambisi Paulus untuk mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya. Perang mendapatkan pengikut antara kaum Nazarenes dan Paulus nantinya akan lebih terlihat dalam suratnya kepada jemaat Galatia. Dalam perkembanganya, akan muncul dua kelompok yang sangat bertentangan, yaitu kaum Marcionit dan Ebionit. Kaum Marcionit mewakili pendukung Paulus, sedangkan Ebionit merupakan penentang utama kerasulan Paulus. Kedua kelompok tersebut baru muncul di awal abad kedua. Kaum Ebionit merupakan perkembangan dari kaum Nazarenes awal, sedangkan kaum Marcionit tumbuh dari lingkungan Gnostik.

Interpolasi ?

Dalam hal kesatuannya, beberapa sarjana menganggap 1 Kor 14:33-36 sebagai suatu usaha interpolasi atau “Penyisipan”. Bagian tersebut diduga baru ditambahkan kemudian setelah surat-surat Paulus dan Pastoral mulai beredar. Gaya pada bagian ini sangat mendekati gaya yang terdapat pada surat-surat Pastoral dan dianggap berkontradiksi dengan 1 Kor 11:2-6. Ayat 34-35 ditempatkan setelah ayat 40 dalam banyak manuskrip penting seperti pada Naskah Claromontanus dari Paris, Boernerianus dari Dresden, Minuscule nr 88, dan berbagai versi terjemahan Latin kuno-Itala (2-4 M.).

Surat 2 Korintus

Surat ini ditulis kurang lebih setahun setelah pendahulunya, surat 1 Korintus. Tetapi berbeda dengan surat 1 Korintus, Surat 2 Korintus lebih kompleks dalam hal penyusunannya. Dari semua karya yang dianggap sebagai tulisan asli Paulus, 2 Korintus tampil sebagai surat yang paling tidak sistematis dibanding yang lainnya. Beberapa sarjana bahkan menganggap beberapa bagian di surat ini sebagai “penyisipan” orang tak dikenal. Melalui surat 2 Korintus dapat diketahui bahwa Paulus pernah mengirimkan suratnya kepada Gereja Korintus lebih dari sekali, beberapa bagian surat tersebut mungkin mengisi surat ini.

Secara umum, para sarjana meyakini bahwa surat 2 korintus ini terdiri dari beberapa fragmen surat yang berbeda. Pernyataan tersebut didasarkan kronologi berikut :

  1. Pertama-tama, Pada perjalanan missionarisnya yang kedua, Paulus bersama Silvanus dan Timotius mendatangi kota Korintus dan mengajari orang-orang di sana. Peristiwa tersebut terjadi di sekitar tahun 50 M. (2 Kor 1:19, Kis Ras 18:1-17).

  1. Setelah meninggalkan Korintus dan tinggal di Efesus, Paulus mengirim surat pertamanya ke Korintus. Surat ini diyakini bukanlah surat 1 Korintus, Para sarjana menyebut surat ini dengan nama “Korintus A”. Surat ini diyakini telah hilang (1 Kor 5:9).

  1. Beberapa koresponden Paulus di Korintus mengirim beberapa surat yang berisikan kabar terbaru dan pertanyaan-pertanyaan mereka seputar ajaran baru Paulus. Surat-surat tersebut diantar oleh orang-orang Kloe (1 kor 1:11; 7:1; 16:15-18).

  1. Saat menerima kabar terbaru dari Korintus, Paulus mengetahui perihal berita buruk keadaan jemaatnya di Korintus. Mereka mulai melakukan kembali kebiasaan lamamya, perpecahan terjadi di kalangan pengikutnya serta arus perlawanan terhadapnya meningkat. Ia lalu mengirim surat keduanya kepada jemaat Korintus, surat ini diantar oleh Timotius dan dikenal dengan sebutan “Korintus B”, dan saat ini dikenal sebagai surat 1 Korintus (1 Kor 4:17; 16:5-7).

  1. Surat 1 Korintus tidak berhasil memecahkan masalah yang terjadi di dalam jemaat Korintus, bahkan perlawanan terhadap otoritas Paulus semakin meningkat di kota tersebut. Untuk mengakhiri permasalahan yang terjadi, Paulus berinisiatif mengunjungi kembali kota Korintus, Menemui langsung jemaatnya. Perjalanan kedua ke Korintus ini entah mengapa tidak sempat direkam dalam kitab Kisah Para Rasul. Para sarjana kemudian menamai perjalanan ini dengan istilah “Painful visit” atau “sorrowful visit”, karena diduga kuat Paulus mengalami kejadian buruk dalam perjalanan ini (2 Kor 2:1-4). Saat itu, bukannya diterima dengan tangan terbuka, Paulus malah menghadapi penolakan terbuka dari jemaat gereja yang ia dirikan, Sedangkan pemimpin gereja tersebut tidak mau membela Paulus. Ia kemudian meninggalkan Korintus dengan perasaan sakit hati dan kecewa akibat dipermalukan (12:21). Penghilangan kisah ini dalam Kisah Rasul akan dapat dipahami, mungkin karena Lukas menolak menuliskan kisah kegagalan Paulus dalam mendidik umatnya.

  1. Setelah mengalami “Painful visit”, Paulus dengan perantaraan Titus mengirim surat ketiganya kepada jemaat Korintus. Surat ini akan dikenal dengan sebutan “Korintus C” atau “Sorrowful letter”, karena dalam surat ini paulus menumpahkan segala kesedihannya atas segala peristiwa tidak menyenangkan yang menimpa dirinya selama perjalanan kedua ke Korintus (Painful visit). Indikasi terhadap Sorrowful letters ini dapat ditemukan dalam pasal 2 dan pasal 7. Beberapa sarjana kemudian menghubungkan surat kesedihan ini dengan pasal 10-13, tetapi kebanyakan berpendapat bahwa surat ini telah hilang.

  1. Selanjutnya Paulus mendengar kabar yang sedikit menenangkan dari Titus, bahwa perlawanan terhadapnya mulai mereda, sedangkan pemimpin pergerakan akhirnya dapat ditenangkan. Paulus segera mengirim semacam surat “rekonsiliasi” kepada jemaat Korintus, surat ini merupakan surat keempat yang Paulus kirim ke Korintus. Saat ini surat tersebut dikenal sebagai 2 Koritus (Korintus D), dikirim dari Macedonia atau Filipi sekitar tahun 56 M.. Melalui kronologi hingga saat ini, maka surat 2 Korintus tampil sebagai surat keempat yang pernah Paulus kirim ke Korintus.

  1. Paulus kembali mengadakan perjalanan ketiganya ke Kota Korintus (Kis Ras 20:1-3). Di kota tersebut diduga Paulus mengirimkan suratnya kepada jemaat Roma yang telah dibahas sebelumnya.

False Apostles

Dalam beberapa bagian surat ini, Paulus kerap menyebutkan mengenai adanya nabi palsu (False Apostles) yang kerap melakukan perlawanan terhadap klaim kerasulannya. Nabi palsu yang disebutkan Paulus ini mungkin memiliki hubungan dengan golongan-golongan yang terdapat di Korintus setelah kepergian Paulus (1 Kor 1:12). Walaupun Paulus tidak menyebutkan nama secara langsung, tetapi dapat dipastikan bahwa sang “nabi palsu” yang dituduhkan Paulus tersebut tiada lain adalah Petrus (Cephas) atau Apollos. Nabi palsu ini diketahui memiliki jumlah pengikut yang cukup signifikan di Korintus, ia adalah seorang Yahudi sekaligus penentang ajaran Paulus. Pada perjalanan kedua Paulus ke Korintus (Painful Visit), diduga kuat ia menghadapi perlawanan terbuka dari pengikut “nabi palsu” ini. Sarjana seperti Meyer dan Theodore Zahn meyakini bahwa golongan tersebut memiliki hubungan dengan Petrus. Bila benar bahwa orang yang dituduh sebagai Nabi palsu tersebut adalah Petrus, maka dapat dipastikan pertentangan dan permusuhan di antara kedua pihak (Paulus dan Petrus) pastilah cukup serius. Tuduhan nabi palsu terhadap Petrus oleh Paulus sangat menghina Yesus karena Yesus-lah yang melantik Petrus sebagai pangeran para rasul/murid, di lain pihak kerasulan Paulus sangatlah simpang siur. Sekarang bagaimana mungkin Yesus mengutus rasul yang mengkonfrontir ajaran rasul sebelumnya ? Bila ajaran Paulus sejalan dengan ajaran Yesus, maka tidak mungkin ia mendapatkan perlawanan dari para murid Yesus. Dalam hal ini Paulus mendirikan suatu batas yang jelas bagi jemaatnya, apakah mereka mau mengikuti ajaran “nabi” yang sesungguhnya (Paulus), atau mengikuti ajaran sang nabi palsu (Petrus) ?

Archibald Robertson dalam The Origins of Christianity menyebutkan :

Second Corinthians affords conclusive evidence that the Jesus of Pauline Christianity was not the same as the Jesus portrayed in the gospels. The Pauline Christ is “the Spirit” (3:17-18) and “the image of God” (4:4)as opposed to the real person of the gospels.

2 Korintus menunjukan bukti kuat bahwa tokoh Yesus dalam Kristologi Pauline tidaklah sama dengan Yesus yang digambarkan dalam Injil-injil. Kristus menurut Paulus adalah “sang jiwa” (3:17-18) dan “rupa Tuhan” (4:4) bertentangan dengan penggambaran tokoh aslinya dalam Injil-injil.”

Kesatuan surat

Dalam hal kesatuan surat, kebanyakan sarjana meyakini bahwa surat 2 Korintus mengandung fragmen-fragmen dari beberapa surat. Walaupun terdapat berbagai teori yang menjelaskan masalah ini, tetapi secara umum para sarjana sepakat dalam memutuskan bahwa surat ini sebenarnya terdiri dari dua atau lebih surat yang berbeda. Entah siapa editornya, tampaknya ada tujuan khusus dibalik penyusunan ini.

Fragmen surat yang pertama disebut dengan surat R (2 Korintus pasal 1-9). Dikenali sebagai “Surat Rekonsiliasi” dalam kalangan sarjana. Tampaknya surat ini baru ditulis setelah Paulus mengetahui melalui Titus bahwa jemaat Korintus mulai tenang, dan gejolak perlawanan terhadap dirinya mulai mereda (2 Kor 1:3-4; 7:6-13). Beberapa sarjana juga menemukan bahwa, bagian ini turut mengandung materi non-Pauline, tepatnya pada 2 Korintus 6:14 sampai 7:1. Selain itu, pertanyaan kemudian muncul menghadapi perbedaan nada yang terjadi di antara pasal 8 dan pasal 9, beberapa sarjana menganggap dua pasal tersebut menggambarkan dua surat yang berbeda, tetapi masalah ini tidak terlalu mencuat mengingat adanya beberapa kemungkinan. Kesimpulannya, Secara umum kita bisa menganggap bahwa surat R terdiri dari pasal 1 hingga 9, dengan pengecualian pasal 6:14-7:1 yang merupakan penyisipan.

Selanjutnya pasal 10-13 dianggap sebagai surat H atau Harsh Letter. Surat ini memuat curahan emosi yang sangat kuat, dan suasananya berbeda dengan surat sebelumnya (Surat R). Kedua surat tersebut (Surat R dan H), diduga telah kehilangan pembukaan maupun penutupnya, tetapi penelitian textual tetap dapat membuktikan bahwa kedua surat tersebut bukanlah suatu kesatuan. Pertanyaan kemudian timbul mengenai surat manakah yang ditulis terlebih dahulu. Sarjana seperti Hausrath, J. H. Kennedy, Strachan, Filson menyebutkan, surat H ditulis terlebih dahulu. Sedangkan Windisch, Barrett, Furnish beranggapan sebaliknya, menurut mereka surat R ditulis terlebih dahulu dibandingkan surat H. Sarjana seperti Hausrath dan Schmiedel kemudian menghubungkan surat H ini dengan “sorrowful letter”, Surat ketiga yang pernah Paulus kirimkan kepada Korintus (Korintus C). Surat tersebut memuat rasa kesedihan Paulus setelah mengalami “Painful Visit”. Alasan para sarjana memisahkan pasal 10-13 dari pasal 1-9 didasarkan oleh adanya perubahan nada penulisan pada kedua bagian tersebut. Nada tersebut diketahui berubah secara tiba-tiba, membuktikan bahwa surat tersebut memuat beberapa fragmen surat yang berbeda. Dari nada yang tenang dan menyejukan selama 9 pasal, berubah menjadi nada emosional dan tajam pada 4 pasal terakhir. Suatu surat tidak mungkin memuat dua nada emosi yang berbeda, lagipula surat-surat Paulus yang lain diketahui hanya memuat satu nada yang khas.

Mengenai surat P (6:14-7:1), yang dianggap sebagai interpolasi non-Pauline, Steven S. H. Chang setidaknya memberikan 5 petunjuk yang mendukung pernyataan tersebut. Pertama, tampaknya bagian tersebut menginterupsi secara tiba-tiba alur yang terdapat dalam ayat sebelumnya, maupun sesudahnya (6:13 dan 7:2). Kedua, bagian ini mengandung sekitar 6 hapax legomena , materi yang tidak dikenal dalam kitab Perjanjian Baru lainnya. Petunjuk ketiga, bagian ini memuat konsep teologi yang tidak dikenal dalam karya Paulus lainnya. Petunjuk keempat, tampaknya tema yang diusung bagian tersebut memiliki keparalelan dengan ajaran Essenes yang khas. Dan terakhir, pengutipan Perjanjian Lama dalam bagian tersebut tampaknya tidak biasa. Beberapa sarjana mengaitkan bagian ini dengan “surat hilang” yang pernah disebutkan dalam 1 Kor 5:9 “Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu,…”. Berikut teks yang dianggap sebagai “interpolasi” tersebut.


Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan

orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara

kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu

dengan gelap?

Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah

bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?

Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait

dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam

bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan

Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu

dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis,

maka Aku akan menerima kamu.

Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku

laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang

Mahakuasa.”

Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki

janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua

pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan

kekudusan kita dalam takut akan Allah.” (2 Kor 6:14-7:1)

Bagaimanapun kita tidak boleh mengesampingkan beberapa pandangan yang meyatakan bahwa surat 2 Korintus merupakan satu kesatuan, tanpa adanya pemisahan maupun interpolasi non-Pauline. Pandangan tersebut muncul dari golongan yang mengakui inspirasi wahyu dalam surat ini, mereka tidak mempercayai bahwasanya sebuah wahyu bisa hilang atau “tersusupi”. Sebaliknya kita juga harus menghargai peran para sarjana Kristen modern yang telah meneliti suatu naskah Bible secara jujur dan objektif, terlepas dari segala ikatan dogma. Mac secara jujur dalam “Who Wrote the New Testament?”, menyebutkan :

First and Second Corinthians are authentic but are actually collections of portions of six different letters”.

Penemuan yang mereka dapatkan setelah meneliti Bible tampaknya mengerucut kepada kesimpulan bahwa Bible merupakan karya manusia biasa, di mana kesalahan-kesalahan manusiawi mutlak terjadi atasnya. Sebuah usaha pengeditan tanpa rasa malu juga telah dilakukan terhadapnya, terbukti salah satunya dalam surat Korintus ini. Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa tulisan Paulus sekalipun, yang keotentikannya kerap diakui oleh para bapak Gereja awal, tidak bisa terlepas dari berbagai permasalahan dan kekurangan di dalamnya.

SURAT KEPADA JEMAAT KORINTUS Jan 4, ’08 9:55 PM
for everyone

undefined

1 Korintus

Sepertihalnya dengan surat Roma, surat ini diyakini ditulis oleh Paulus pribadi. Dibuktikan dengan adanya pengakuan si penulis sendiri, kuatnya ciri khas pauline, serta dikuatkan oleh pengakuan para bapak Gereja awal. Surat ini kemungkinan besar ditulis Paulus di kota Efesus, kira-kira pada tahun 57 M., pada perjalanan missionarisnya yang ketiga (Kis Ras 19:1-41). Berbeda dengan surat Roma, di mana Paulus mengirim surat tersebut kepada kota yang belum pernah didatanginya. Paulus mengirim surat ini kepada Gereja yang pernah ia dirikan di Korintus pada perjalanan misinya yang kedua.

Korintus, Kota Maksiat

Sebelum lebih jauh membahas mengenai surat ini, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu latar belakang kota Korintus. Kota Korintus terletak 50 mil di barat kota Athena. Kota ini merupakan salah satu kota terbesar dan terpenting pada masa itu, penduduknya terdiri dari mayoritas orang-orang Romawi, minoritas Yahudi, dan Yunani. Di dalam kota ini berdiri megah kuil Venus (Aphrodite) yang terkenal, di mana di dalamnya terdapat sekitar 1000 pendeta wanita yang melakukan prostitusi atas nama pemujaan t

erhadap dewa. Begitu parahnya keadaan penduduk di kota ini, sehingga istilah “corinthianize” dapat diartikan dengan kegiatan prostitusi dan

pesta pora. Lingkungan akan sangat mempengaruhi keadaan dari penduduknya, penduduk di kota ini tidak akan pernah bisa lepas dari keterikatannya dengan tradisi lama mereka seperti kepercayaan terhadap dewa-dewa, maksiat secara bebas, pesta pora dll.. Karenanya, Paulus harus bekerja keras untuk dapat merubah tradisi buruk masyarakat kota ini, hasil usaha tersebut dapat terlihat melalui surat Korintus ini. Paulus mendirikan Gereja di kota ini pada perjalanan misinya yang kedua (Kis Ras 18:1-18).

Di Kota ini, Paulus menerima gelombang penolakan yang berasal dari minoritas kaum Yahudi di sana. Ia tidak diperbolehkan untuk mengadakan penceramahan di dalam sinagoga, dan kemudian terpaksa mengadakan pertemuan-perte

muan di kediaman Titus Justus, seorang Gentile yang tertarik dengan ajaran Paulus. Kediaman Titus tersebut terletak dekat dengan sinagoga (Kis Ras 18:7-8). Titus dalam perkembangannya akan menjadi pengikut setia Paulus. Terdapat pula sebuah surat yang ditujukan kepadanya oleh Paulus dalam Perjanjian Baru, yang keasliannya diragukan. Dengan senang hati ia mendampingi Paulus dalam beberapa perjalanannya misinya, bahkan surat 1 Korintus ini diduga kuat diantarkan oleh dirinya pribadi kepada Gereja Korintus dari Efesus. Selama menetap di Korintus, Paulus sempat menemui dua sahabat baik lainnya, pasangan suami istri Priscillia dan Aquilla.

Setelah meninggalkan Korintus dan tinggal sementara di Efesus, Paulus mendapat berita mengejutkan mengenai keadaan jemaatnya di Korintus. Kabar tersebut menyebutkan mengenai kelakuan para jemaatnya yang mulai menerapkan kembali kebiasaan-kebiasaan lamanya dan kabar tersebut turut menyebutkan mengenai perpecahan umat yang terjadi di sana. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, diduga kuat kota tersebut dikunjungi oleh Apollos (Filsuf Yahudi dari Alexandria) dan Kefas (Petrus). Keduanya mendirikan faksi-faksi umat Kristen yang terpisah. Setelah kedua tokoh cukup menuai pengaruh, umat Kristen Korintus terbagi atas pengikut Paulus, Apollos dan Petrus. Mereka semua mengakui hal yang sama, yaitu sebagai pengikut sejati Kristus. Keberadaan mereka merupakan ancaman serius bagi Paulus, kedua orang tersebut (Apollos dan Petrus) adalah pendukung setia ajaran Yahudi yang bertentangan dengan ajaran Paulus, secara tidak langsung mereka juga dapat menimbulkan keraguan di antara jemaat Paulus. Pertanyaan kemudian muncul, mengapa para pengikut Kristen baru, yang mengikuti Petrus atau Apollos, memilih untuk memisahkan diri dari golongan Paulus bila mereka sama-sama mengajarkan ajaran yang sama, yaitu kepercayaan terhadap Kristus. Hal ini tidak lain disebabkan karena ajaran mereka sangatlah berbeda, bahkan muncul dugaan bahwa Petrus sengaja mendatangi Korintus untuk membendung ajaran Paulus disana. Paulus merasa khawatir dengan keadaan ini, ia tidak bisa membiarkan Petrus dan Apollos merebut umatnya. Keadaaan lain mungkin hanya terjadi apabila Petrus hanya mencari pengikut dari kalangan umat Yahudi, tetapi fakta berbicara sebaliknya, ia turut mencari umat di kalangan Gentile. Sejak itu hubungan Paulus dan Petrus tidak pernah berjalan mulus, mereka memperebutkan umat yang sama, para Gentile !

Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari

golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari

golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.”(1 Kor. 1:12)

Selama di Efesus, Paulus kerap melakukan korespondensi dengan jemaatnya di Korintus melalui surat. Surat 1 Korintus bukanlah surat Pertama atau satu-satunya yang pernah ditulis Paulus kepada jemaatnya di Korintus, diduga ia telah sempat mengirimkan beberapa surat sebelumnya (1 Kor. 5:9). Sayangnya kebanyakan dari surat-surat tersebut diyakini telah hilang. Setelah mengirim surat-surat tersebut, barulah Paulus mendengar kabar mengenai konflik yang terjadi di gereja Korintus. Kabar tersebut diduga sampai ke Paulus melalui “orang-orang Kloe” ,Stephanas, Fortunatus, dan Achaicus (1 Kor. 1:11-12; 16:17).

Surat 1 Korintus ini merupakan bentuk usaha Paulus dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam jemaatnya, nanti akan kita buktikan bahwa usahanya ini hanya akan menimbulkan masalah yang lebih buruk.

Dalam hal doktrin, surat ini memuat dalil-dalil mengenai perjamuan/ekaristi (Pasal 11), status haram atau halalnya suatu makanan, masalah perkawinan, konsep kebangkitan Kristus dll.. Doktrin-doktrin tersebut merupakan ciri khas surat-surat Paulus, sehingga surat-surat yang tidak memuat doktrin tersebut dapat dicurigai keotentikannya. Dalam hal isi, Surat ini menunjukan kekesalan Paulus terhadap kedegilan jemaatnya di Korintus. Jemaatnya yang kebanyakan berasal dari kalangan Gentile (1Kor 12:2) ternyata tidak mudah untuk dipisahkan dari tradisinya yang lama. Oleh karena itulah dalam hal ini Paulus perlu bersikap lebih “moderat”. Paulus tidak berani mengambil keputusan radikal untuk melarang tradisi-tradisi lama jemaatnya, seperti tidak disunat, memakan babi, dll. atau ia akan segera ditinggalkan oleh jemaatnya. Sebaliknya dengan Petrus, ketaatanya terhadap hukum Taurat membuatnya tidak bisa mendapatkan cukup pengaruh di kalangan Gentile, khususnya di Korintus. Petrus hanya bisa mendapatkan pengikut dari kalangan Yahudi Korintus yang jumlahnya tidak banyak. Tetapi tetap saja, keputusan kaum Nazarenes untuk mengutus Petrus sebagai penyebar utama agama Kristen kepada kaum Gentile merupakan ancaman terbesar bagi ambisi Paulus untuk mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya. Perang mendapatkan pengikut antara kaum Nazarenes dan Paulus nantinya akan lebih terlihat dalam suratnya kepada jemaat Galatia. Dalam perkembanganya, akan muncul dua kelompok yang sangat bertentangan, yaitu kaum Marcionit dan Ebionit. Kaum Marcionit mewakili pendukung Paulus, sedangkan Ebionit merupakan penentang utama kerasulan Paulus. Kedua kelompok tersebut baru muncul di awal abad kedua. Kaum Ebionit merupakan perkembangan dari kaum Nazarenes awal, sedangkan kaum Marcionit tumbuh dari lingkungan Gnostik.

Interpolasi ?

Dalam hal kesatuannya, beberapa sarjana menganggap 1 Kor 14:33-36 sebagai suatu usaha interpolasi atau “Penyisipan”. Bagian tersebut diduga baru ditambahkan kemudian setelah surat-surat Paulus dan Pastoral mulai beredar. Gaya pada bagian ini sangat mendekati gaya yang terdapat pada surat-surat Pastoral dan dianggap berkontradiksi dengan 1 Kor 11:2-6. Ayat 34-35 ditempatkan setelah ayat 40 dalam banyak manuskrip penting seperti pada Naskah Claromontanus dari Paris, Boernerianus dari Dresden, Minuscule nr 88, dan berbagai versi terjemahan Latin kuno-Itala (2-4 M.).

Surat 2 Korintus

Surat ini ditulis kurang lebih setahun setelah pendahulunya, surat 1 Korintus. Tetapi berbeda dengan surat 1 Korintus, Surat 2 Korintus lebih kompleks dalam hal penyusunannya. Dari semua karya yang dianggap sebagai tulisan asli Paulus, 2 Korintus tampil sebagai surat yang paling tidak sistematis dibanding yang lainnya. Beberapa sarjana bahkan menganggap beberapa bagian di surat ini sebagai “penyisipan” orang tak dikenal. Melalui surat 2 Korintus dapat diketahui bahwa Paulus pernah mengirimkan suratnya kepada Gereja Korintus lebih dari sekali, beberapa bagian surat tersebut mungkin mengisi surat ini.

Secara umum, para sarjana meyakini bahwa surat 2 korintus ini terdiri dari beberapa fragmen surat yang berbeda. Pernyataan tersebut didasarkan kronologi berikut :

  1. Pertama-tama, Pada perjalanan missionarisnya yang kedua, Paulus bersama Silvanus dan Timotius mendatangi kota Korintus dan mengajari orang-orang di sana. Peristiwa tersebut terjadi di sekitar tahun 50 M. (2 Kor 1:19, Kis Ras 18:1-17).

  1. Setelah meninggalkan Korintus dan tinggal di Efesus, Paulus mengirim surat pertamanya ke Korintus. Surat ini diyakini bukanlah surat 1 Korintus, Para sarjana menyebut surat ini dengan nama “Korintus A”. Surat ini diyakini telah hilang (1 Kor 5:9).

  1. Beberapa koresponden Paulus di Korintus mengirim beberapa surat yang berisikan kabar terbaru dan pertanyaan-pertanyaan mereka seputar ajaran baru Paulus. Surat-surat tersebut diantar oleh orang-orang Kloe (1 kor 1:11; 7:1; 16:15-18).

  1. Saat menerima kabar terbaru dari Korintus, Paulus mengetahui perihal berita buruk keadaan jemaatnya di Korintus. Mereka mulai melakukan kembali kebiasaan lamamya, perpecahan terjadi di kalangan pengikutnya serta arus perlawanan terhadapnya meningkat. Ia lalu mengirim surat keduanya kepada jemaat Korintus, surat ini diantar oleh Timotius dan dikenal dengan sebutan “Korintus B”, dan saat ini dikenal sebagai surat 1 Korintus (1 Kor 4:17; 16:5-7).

  1. Surat 1 Korintus tidak berhasil memecahkan masalah yang terjadi di dalam jemaat Korintus, bahkan perlawanan terhadap otoritas Paulus semakin meningkat di kota tersebut. Untuk mengakhiri permasalahan yang terjadi, Paulus berinisiatif mengunjungi kembali kota Korintus, Menemui langsung jemaatnya. Perjalanan kedua ke Korintus ini entah mengapa tidak sempat direkam dalam kitab Kisah Para Rasul. Para sarjana kemudian menamai perjalanan ini dengan istilah “Painful visit” atau “sorrowful visit”, karena diduga kuat Paulus mengalami kejadian buruk dalam perjalanan ini (2 Kor 2:1-4). Saat itu, bukannya diterima dengan tangan terbuka, Paulus malah menghadapi penolakan terbuka dari jemaat gereja yang ia dirikan, Sedangkan pemimpin gereja tersebut tidak mau membela Paulus. Ia kemudian meninggalkan Korintus dengan perasaan sakit hati dan kecewa akibat dipermalukan (12:21). Penghilangan kisah ini dalam Kisah Rasul akan dapat dipahami, mungkin karena Lukas menolak menuliskan kisah kegagalan Paulus dalam mendidik umatnya.

  1. Setelah mengalami “Painful visit”, Paulus dengan perantaraan Titus mengirim surat ketiganya kepada jemaat Korintus. Surat ini akan dikenal dengan sebutan “Korintus C” atau “Sorrowful letter”, karena dalam surat ini paulus menumpahkan segala kesedihannya atas segala peristiwa tidak menyenangkan yang menimpa dirinya selama perjalanan kedua ke Korintus (Painful visit). Indikasi terhadap Sorrowful letters ini dapat ditemukan dalam pasal 2 dan pasal 7. Beberapa sarjana kemudian menghubungkan surat kesedihan ini dengan pasal 10-13, tetapi kebanyakan berpendapat bahwa surat ini telah hilang.

  1. Selanjutnya Paulus mendengar kabar yang sedikit menenangkan dari Titus, bahwa perlawanan terhadapnya mulai mereda, sedangkan pemimpin pergerakan akhirnya dapat ditenangkan. Paulus segera mengirim semacam surat “rekonsiliasi” kepada jemaat Korintus, surat ini merupakan surat keempat yang Paulus kirim ke Korintus. Saat ini surat tersebut dikenal sebagai 2 Koritus (Korintus D), dikirim dari Macedonia atau Filipi sekitar tahun 56 M.. Melalui kronologi hingga saat ini, maka surat 2 Korintus tampil sebagai surat keempat yang pernah Paulus kirim ke Korintus.

  1. Paulus kembali mengadakan perjalanan ketiganya ke Kota Korintus (Kis Ras 20:1-3). Di kota tersebut diduga Paulus mengirimkan suratnya kepada jemaat Roma yang telah dibahas sebelumnya.

False Apostles

Dalam beberapa bagian surat ini, Paulus kerap menyebutkan mengenai adanya nabi palsu (False Apostles) yang kerap melakukan perlawanan terhadap klaim kerasulannya. Nabi palsu yang disebutkan Paulus ini mungkin memiliki hubungan dengan golongan-golongan yang terdapat di Korintus setelah kepergian Paulus (1 Kor 1:12). Walaupun Paulus tidak menyebutkan nama secara langsung, tetapi dapat dipastikan bahwa sang “nabi palsu” yang dituduhkan Paulus tersebut tiada lain adalah Petrus (Cephas) atau Apollos. Nabi palsu ini diketahui memiliki jumlah pengikut yang cukup signifikan di Korintus, ia adalah seorang Yahudi sekaligus penentang ajaran Paulus. Pada perjalanan kedua Paulus ke Korintus (Painful Visit), diduga kuat ia menghadapi perlawanan terbuka dari pengikut “nabi palsu” ini. Sarjana seperti Meyer dan Theodore Zahn meyakini bahwa golongan tersebut memiliki hubungan dengan Petrus. Bila benar bahwa orang yang dituduh sebagai Nabi palsu tersebut adalah Petrus, maka dapat dipastikan pertentangan dan permusuhan di antara kedua pihak (Paulus dan Petrus) pastilah cukup serius. Tuduhan nabi palsu terhadap Petrus oleh Paulus sangat menghina Yesus karena Yesus-lah yang melantik Petrus sebagai pangeran para rasul/murid, di lain pihak kerasulan Paulus sangatlah simpang siur. Sekarang bagaimana mungkin Yesus mengutus rasul yang mengkonfrontir ajaran rasul sebelumnya ? Bila ajaran Paulus sejalan dengan ajaran Yesus, maka tidak mungkin ia mendapatkan perlawanan dari para murid Yesus. Dalam hal ini Paulus mendirikan suatu batas yang jelas bagi jemaatnya, apakah mereka mau mengikuti ajaran “nabi” yang sesungguhnya (Paulus), atau mengikuti ajaran sang nabi palsu (Petrus) ?

Archibald Robertson dalam The Origins of Christianity menyebutkan :

Second Corinthians affords conclusive evidence that the Jesus of Pauline Christianity was not the same as the Jesus portrayed in the gospels. The Pauline Christ is “the Spirit” (3:17-18) and “the image of God” (4:4)as opposed to the real person of the gospels.

2 Korintus menunjukan bukti kuat bahwa tokoh Yesus dalam Kristologi Pauline tidaklah sama dengan Yesus yang digambarkan dalam Injil-injil. Kristus menurut Paulus adalah “sang jiwa” (3:17-18) dan “rupa Tuhan” (4:4) bertentangan dengan penggambaran tokoh aslinya dalam Injil-injil.”

Kesatuan surat

Dalam hal kesatuan surat, kebanyakan sarjana meyakini bahwa surat 2 Korintus mengandung fragmen-fragmen dari beberapa surat. Walaupun terdapat berbagai teori yang menjelaskan masalah ini, tetapi secara umum para sarjana sepakat dalam memutuskan bahwa surat ini sebenarnya terdiri dari dua atau lebih surat yang berbeda. Entah siapa editornya, tampaknya ada tujuan khusus dibalik penyusunan ini.

Fragmen surat yang pertama disebut dengan surat R (2 Korintus pasal 1-9). Dikenali sebagai “Surat Rekonsiliasi” dalam kalangan sarjana. Tampaknya surat ini baru ditulis setelah Paulus mengetahui melalui Titus bahwa jemaat Korintus mulai tenang, dan gejolak perlawanan terhadap dirinya mulai mereda (2 Kor 1:3-4; 7:6-13). Beberapa sarjana juga menemukan bahwa, bagian ini turut mengandung materi non-Pauline, tepatnya pada 2 Korintus 6:14 sampai 7:1. Selain itu, pertanyaan kemudian muncul menghadapi perbedaan nada yang terjadi di antara pasal 8 dan pasal 9, beberapa sarjana menganggap dua pasal tersebut menggambarkan dua surat yang berbeda, tetapi masalah ini tidak terlalu mencuat mengingat adanya beberapa kemungkinan. Kesimpulannya, Secara umum kita bisa menganggap bahwa surat R terdiri dari pasal 1 hingga 9, dengan pengecualian pasal 6:14-7:1 yang merupakan penyisipan.

Selanjutnya pasal 10-13 dianggap sebagai surat H atau Harsh Letter. Surat ini memuat curahan emosi yang sangat kuat, dan suasananya berbeda dengan surat sebelumnya (Surat R). Kedua surat tersebut (Surat R dan H), diduga telah kehilangan pembukaan maupun penutupnya, tetapi penelitian textual tetap dapat membuktikan bahwa kedua surat tersebut bukanlah suatu kesatuan. Pertanyaan kemudian timbul mengenai surat manakah yang ditulis terlebih dahulu. Sarjana seperti Hausrath, J. H. Kennedy, Strachan, Filson menyebutkan, surat H ditulis terlebih dahulu. Sedangkan Windisch, Barrett, Furnish beranggapan sebaliknya, menurut mereka surat R ditulis terlebih dahulu dibandingkan surat H. Sarjana seperti Hausrath dan Schmiedel kemudian menghubungkan surat H ini dengan “sorrowful letter”, Surat ketiga yang pernah Paulus kirimkan kepada Korintus (Korintus C). Surat tersebut memuat rasa kesedihan Paulus setelah mengalami “Painful Visit”. Alasan para sarjana memisahkan pasal 10-13 dari pasal 1-9 didasarkan oleh adanya perubahan nada penulisan pada kedua bagian tersebut. Nada tersebut diketahui berubah secara tiba-tiba, membuktikan bahwa surat tersebut memuat beberapa fragmen surat yang berbeda. Dari nada yang tenang dan menyejukan selama 9 pasal, berubah menjadi nada emosional dan tajam pada 4 pasal terakhir. Suatu surat tidak mungkin memuat dua nada emosi yang berbeda, lagipula surat-surat Paulus yang lain diketahui hanya memuat satu nada yang khas.

Mengenai surat P (6:14-7:1), yang dianggap sebagai interpolasi non-Pauline, Steven S. H. Chang setidaknya memberikan 5 petunjuk yang mendukung pernyataan tersebut. Pertama, tampaknya bagian tersebut menginterupsi secara tiba-tiba alur yang terdapat dalam ayat sebelumnya, maupun sesudahnya (6:13 dan 7:2). Kedua, bagian ini mengandung sekitar 6 hapax legomena , materi yang tidak dikenal dalam kitab Perjanjian Baru lainnya. Petunjuk ketiga, bagian ini memuat konsep teologi yang tidak dikenal dalam karya Paulus lainnya. Petunjuk keempat, tampaknya tema yang diusung bagian tersebut memiliki keparalelan dengan ajaran Essenes yang khas. Dan terakhir, pengutipan Perjanjian Lama dalam bagian tersebut tampaknya tidak biasa. Beberapa sarjana mengaitkan bagian ini dengan “surat hilang” yang pernah disebutkan dalam 1 Kor 5:9 “Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu,…”. Berikut teks yang dianggap sebagai “interpolasi” tersebut.

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan

orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara

kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu

dengan gelap?

Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah

bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?

Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait

dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam

bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan

Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu

dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis,

maka Aku akan menerima kamu.

Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku

laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang

Mahakuasa.”

Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki

janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua

pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan

kekudusan kita dalam takut akan Allah.” (2 Kor 6:14-7:1)

Bagaimanapun kita tidak boleh mengesampingkan beberapa pandangan yang meyatakan bahwa surat 2 Korintus merupakan satu kesatuan, tanpa adanya pemisahan maupun interpolasi non-Pauline. Pandangan tersebut muncul dari golongan yang mengakui inspirasi wahyu dalam surat ini, mereka tidak mempercayai bahwasanya sebuah wahyu bisa hilang atau “tersusupi”. Sebaliknya kita juga harus menghargai peran para sarjana Kristen modern yang telah meneliti suatu naskah Bible secara jujur dan objektif, terlepas dari segala ikatan dogma. Mac secara jujur dalam “Who Wrote the New Testament?”, menyebutkan :

First and Second Corinthians are authentic but are actually collections of portions of six different letters”.

Penemuan yang mereka dapatkan setelah meneliti Bible tampaknya mengerucut kepada kesimpulan bahwa Bible merupakan karya manusia biasa, di mana kesalahan-kesalahan manusiawi mutlak terjadi atasnya. Sebuah usaha pengeditan tanpa rasa malu juga telah dilakukan terhadapnya, terbukti salah satunya dalam surat Korintus ini. Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa tulisan Paulus sekalipun, yang keotentikannya kerap diakui oleh para bapak Gereja awal, tidak bisa terlepas dari berbagai permasalahan dan kekurangan di dalamnya.

Delerium

Band ini berasal dari Vancouver, British Columbia, Kanada. Didirikan tahun 1987, pada mulanya hanya sebagai proyek sampingan dari pengembangan musik industrila, Frontline Assembly. Delerium pada dasarnya terdiri dari dua orang, namun  anggota tetap ang bertahan sepanjang sejarah Delerium hanyalah Bill Leeb. Pada awalnya beliau bekerja dengan Mickhael Balch, namun digantikan oleh Rhys Fulber, yang kemudian turut mempengaruhi alur musik Delerium. Dari elektronik ambient gelap menjadi musik yang lebih bisa membuat orang bergoyang (trance).

Perekrutan Sarah McLachlan dalam album “Karma” dalam tembang “Silence” meningkatkan tingkap popularitas mereka dan merangsang pembuatan remix dari tembang tersebut. Setelah pembuatan Karma, Rhys Fulber meninggalkan team, dan membuat Bill Leeb merekrut Chris Peterson untuk mengarap album “Poem” (2003). Namun kemudian, Leeb dan Fulber bergabung lagi untuk menggarap kedua album terakhir mereka, Chimera dan Nuages Du Monde. (last.fm)

Mendalami musik Delerium bagaikan memasuki dunia baru, dunia gelap yang dibayang-bayangi oleh suara mendau-dayu dari para wanita, yang membuat anda melayang. Dalam album “Poem”, penggunaan chant-chant Gregorian seakan-akan menambah nuansa gelap dari Delerium. Pembuka album ini, “Terra Firma” akan menyihir anda, menculik anda ke dalam sebuah kuil di antah berantah, dengan chant-chant dingin yang menghantui, dan hentakan musik elektronik yang menyegarkan jiwa anda. Suasana sepi, dingin dan sendu akan kembali anda dapatkan dalam tembang “Myth” dengan chant Gregorian dan alunan orkestra yang menusuk hati, ditambah vokal Joanna Stevens yang memukau telinga.

Album Chimera adalah suatu album yang memukau. Track “Fallen” dan ‘Touched” merupakan favorit saya. Vokal pada lagu pertama diisi oleh Rani (ups, nama mantan nih..!) dan track kedua diisi oleh Rachel Fuller. saya jamin anda akan langsung menyukai kedua tembang tersebut bahkan ketika pertama kali mendengar, begitu dingin, membuai dan dalam. Lirik lagu pertama, yang sangat indah digubah oleh Bill Leeb dan Jamie Muhoberac sedangkan pada tembang kedua digubah oleh Joanne Youle. Tentunya masih banyak lagi track yang menarik, Beberapa vokal wanita pada track lain bahkan diisi oleh Leigh Nash yang notabene adalah vokalis pada Sixpence None the Richer. Saya yakin anda akan menyukai album chimera ini karena Delerium seakan-akan “meringankan” kualitas unsur “New Age”nya agar bisa dicerna oleh lebih banyak telinga, istilah lainnya adalah berusaha untuk sedikit membawa musiknya ke arah “Streamline”, yang kadang disayangkan oleh beberapa penggemarnya.

Album terakhir group ini, Nuages Du Monde yang berarti “Awan di atas dunia” patut pula mendapat perhatian. Suasana yang ingin dibawa Delerium hampir sama dengan album sebelumnya. Hits yang cukup terkenal dari album ini adalah “Angelicus” dari Isabel Bayrakdarian (Armenia). Namun sayang, Banyak kritik menyebutkan bahwa kualitas album ini tidak sebaik tiga album sebelumnya, dan saya pun setuju terhadap kritik tersebut. Beberapa track dalam album ini, tetaplah layak mendapat apresiasi seperti “Tectonic Shift” yang membawa anda ke dalam suasana masa depan, dimana dunia telah hampa oleh manusia dan lebih banyak diisi oleh mesin2.

Delerium sangat cemerlang dalam merekrut penyanyi yang akan terlibat dalam proyek mereka, berikut adalah daftar artis yang pernah bekerja sama dengan Delerium :

* Camille Henderson

Karma: “Duende”

* Emily Haines

Chimera: “Stopwatch Hearts”
Co-founder and singer/keyboardist of Toronto-based electronic band Metric.

* Isabel Bayrakdarian

Nuages Du Monde : “Angelicus”, “Lumenis”

* Jacqui Hunt

Karma: “Euphoria (Firefly)”
Lead vocalist from Single Gun Theory.

* Jaël

Chimera: “After All”
Nuages Du Monde: “Lost and Found”
Of Swiss band Lunik.

* Jenifer McLaren

Poem: “Fallen Icons”, “Nature’s Kingdom II”
Canadian-born pop artist. This was her debut with Nettwerk.

* Joanna Stevens

Poem: “Myth”, “A Poem for Byzantium”
One half of Solar Twins, an electronica group based in Los Angeles; originally from the UK.

* Julee Cruise

Chimera: “Magic”
worked with Angelo Badalamenti, David Lynch, and Moby.

* Kiran Ahluwalia

Nuages du Monde: “Indoctrination”

* Kirsty Hawkshaw

Poem: “Nature’s Kingdom”, “Inner Sanctum”
Nuages Du Monde: “Fleeting Instant”
Singer for a number of bands including Opus III, Sleepthief, Pulusha, BT, Tiesto, and Mr. Sam. personal website.

* Kristy Thirsk

Chimera: “Returning”
Nuages Du Monde: “Self-Saboteur” (spelled “Self-Sabateur” on some releases)
Karma: “Enchanted”, “Wisdom”, “‘Til the End of Time”, “Heaven’s Earth”, “Lamentation”
Semantic Spaces: “Flowers become Screens”, “Incantation”, “Flatlands”
Kristy also has a solo career and has sung for Sleepthief, Balligomingo, Front Line Assembly, D:Fuse & Mike Hiratzka, and Rose Chronicles.

* Leigh Nash

Poem: “Innocente”
Chimera: “Run For It”, “Orbit Of Me”
Lead singer of Sixpence None the Richer.

* Margaret Far

Chimera: “Just A Dream”

* Matthew Sweet

Poem: “Daylight”
One part of The Thorns; also has a solo pop career.

* Mediæval Bæbes, The

Poem: “Aria”
Nuages Du Monde: “Sister Sojourn Ghost”, “Extollere”
A group of young women who sing Mediæval style songs in Latin, etc.

* Nerina Pallot

Chimera: “Truly”
Nerina has two albums, Dear Frustrated Superstar and Fires.

* Rachel Fuller

Chimera: “Touched”
Rachel has worked with Pete Townshend (of The Who, who also provides guitars on Touched) and she uses orchestras in her music.

* Rani Kamal (aka Rani Kamalesvaran)

Poem: “Underwater”
Chimera: “Fallen”
Rani has also worked with Conjure One (Rhys Fulber’s project).

* Sarah McLachlan

Karma: “Silence”
Sarah is an internationally renowned Canadian singer and songwriter.

* Sultana (aka Songul Akturk)

Chimera: “Forever After”
Sultana is a rapper from Turkey.

* Zoë Johnston

Chimera: “Love”
Nuages Du Monde: “The Way you want it to be”
Zoë is a member of Faithless and previously worked with Bent.

Album-album Delerium antara lain (tidak termasuk single) :
**Download link**

•    Faces, Forms & Illusions (Dossier, 1989), LP / CD
•    Morpheus (Dossier, 1989), LP / CD
•    Syrophenikan (Dossier, 1990), LP / CD
•    Stone Tower (Dossier, 1991), LP / CD
•    Euphoric (Third Mind, 1991), EP / CD
•    Spiritual Archives (Dossier, 1991), CD
•    Spheres (Dossier, 1994), CD
•    Spheres 2 (Dossier, 1994), CD
•    Semantic Spaces (Nettwerk, 1994), CD
•    Karma (Nettwerk, 1997), CD
•    Poem (Nettwerk, 2000), LP / CD
•    Chimera (Nettwerk, 2003), CD
•    Nuages du Monde (Nettwerk, 2006), CD (October 3)

PAULINE EPISTLES – Biografi Paulus

Pribadi Paulus

Kali ini pembahasan kita berlanjut kepada bagian yang paling penting dalam Perjanjian Baru, yaitu surat-surat Paulus. Dalam selusin surat ini termuat pondasi agama Kristen yang sesungguhnya. Begitu kentalnya suasana doktrin dalam surat-surat ini, sehingga seseorang bisa beranggapan bahwa Pauluslah pendiri agama Kristen yang sebenarnya, bukan Jesus. Selain dari surat-suratnya, catatan sejarah paling lengkap mengenai Paulus adalah kitab Kisah Para Rasul, kali ini kita akan membahas terlebih dahulu mengenai person Paulus berdasarkan kitab tersebut, siapakah ia sebenarnya ?

Pertama-tama kita harus memaklumi bahwa Kitab Kisah Rasul buatan Lukas kerap menjadi pembela pribadi Paulus. Sebagai teman baik Paulus, Lukas tidak akan bersedia untuk membeberkan kejelekan-kejelekannya.  Melalui kitab Para Rasul kita dapat mengetahui bahwa Paulus lahir di kota Tarsus (saat ini daerah Turki) yang merupakan ibukota daerah Cicilia, Asia Minor. Ia lahir kira-kira pada Tahun 5-10 M. dengan nama Yahudi  Saulus. Dalam salah satu suratnya ia menyebutkan jika ia lahir dari darah suku Benjamin dan mengalami penyunatan pada hari kedelapan setelah kelahirannya sebagaimana orang Yahudi pada umumnya. Dalam perkembanganya ia akan tampil sebagai seorang Yahudi Farisi (Philippi 3:5-6), dan menurut pengakuannya ia sempat berguru kepada tokoh Yahudi terkemuka, Rabi Gamaliel (Kis Ras 22:3). Selama di Tarsus, Paulus bekerja sebagai pembuat tenda (Kis Ras18:2-3).

Paulus dewasa akan dikenal sebagai musuh utama para penganut Kristen awal, ia memburu dan bahkan tidak segan untuk membunuh buruannya tersebut. Menurut Kisah Rasul 7:59-8:1, Paulus pernah terlibat dalam  pembunuhan Stephanus (salah satu umat Kristen awal). Yang harus diperhatikan, tidak pernah ada catatan yang menyebutkan bahwasanya Paulus pernah bertatapan muka secara langsung dengan Jesus. Satu-satunya perjumpaannya dengan Jesus tiada lain saat ia tengah melakukan perjalanan ke Damaskus. Peristiwa tersebut merupakan pengalaman terpenting dalam seluruh kehidupan Paulus, Saat itu ia mendengar suara “Paulus…mengapa kau menyiksaku ?”. Peristiwa tersebut berhasil merubah 1800 kehidupan Paulus, ia segera insaf dan menyesali segala perbuatanya di masa lampau (Kis Ras 8:1–3; 9:1–30; 22:3–21; 26:9–23; Gal. 1:12–15). Pertanyaan kemudian muncul, apa yang akan Paulus lakukan segera setelah peristiwa tersebut ? Seharusnya Paulus secepatnya mengkonfirmasikan peristiwa tersebut kepada para pengikut Jesus yang saat itu masih hidup, bagaimana Paulus bisa yakin bila suara yang ia dengar berasal dari Jesus, padahal ia belum pernah sekalipun bertemu dengan Jesus. Tindakan tersebut tidak Paulus lakukan, setelah peristiwa tersebut Paulus malah melanjutkan perjalanannya ke daerah Arab. Ia menunda bertemu dengan pengikut Jesus hingga tiga tahun kemudian (Galatia 1:16-19 ).

Dari Arab, Paulus melanjutkan perjalanan menuju  Jerusallem untuk bertemu dengan pengikut Jesus, dan ia berhasil menemui James/Jacobus (saudara Jesus) yang saat itu merupakan kepala Gereja Jerusallem. Tetapi pengakuan Paulus tidak begitu saja dipercaya oleh pengikut Jesus, mengingat latar belakangnya sebagai musuh utama mereka. Setelah berhasil membujuk para pengikut Jesus, Paulus mengadakan sekitar tiga perjalanan missionaris melintasi Mediterania timur, ia sempat didampingi oleh Barnabas, Lukas, Markus, dll. Paulus berhasil menarik perhatian kaum Gentile di daerah tersebut, ia kemudian mendirikan Gereja-gereja di beberapa kota yang telah ia singgahi. Berkat perannya tersebut, Paulus nantinya akan dikenal sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Kristen kepada kaum Gentile. Ajarannya selalu ditolak oleh kaum Yahudi, nanti kita akan melihat bahwa Paulus mengalami berbagai pengusiran dan perlawanan dari kaum Yahudi. Menggelikan karena ia sendiri adalah seorang Yahudi terkemuka (farisi), ia malah mendapatkan tempat terkemuka di kalangan gentile.

Setelah Paulus sampai di kota lain, ia akan mengirim surat-suratnya kepada Gereja-gereja yang didirikannya. Surat-surat inilah yang nantinya disebut sebagai Pauline Epistles atau “Paulinum Corpus”, yang tiada lain adalah bagian dari Perjanjian Baru.  Mengetahui bahwa ajaran yang selama ini diberikan Paulus ternyata berbeda dari ajaran Jesus, kaum Nazarenes mulai melakukan perlawanan terhadap Paulus. Three Pillars; James, Petrus dan Johannes diketahui sempat mengutus beberapa orang untuk membendung misi penyebaran ajaran Paulus, peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Antiokia. Setelah kejadian tersebut, hubungan Paulus dengan Nazarenes mulai renggang, terlihat jelas dalam surat Paulus kepada jemaat Galatia. Penyebab hancurnya hubungan Paulus dengan kaum Nazarenes bisa dikatakan sangatlah rumit karena Kisah Para Rasul dan surat Paulus (Galatia) terlihat memberikan versi yang berbeda mengenai hal tersebut. Pembahasan lebih lanjut akan saya berikan dalam bagian pembahasan surat Paulus kepada jamaat Galatia.

Paulus mengakhiri perjalanannya di Jerusallem sekitar tahun 58 M., disana ia mendapat perlawanan dari kaum Yahudi dan sempat diselamatkan oleh pasukan Romawi. Ia kemudian dibawa ke Roma dan ditahan selama 2 tahun. Selanjutnya ia dieksekusi oleh kekaisaran sekitar tahun 60 M.

Bagaimanapun, penjelasan mengenai sejarah kehidupan Paulus di atas tidak begitu saja dapat dipercaya. Para sarjana memiliki beberapa pandangan kritis terhadap catatan sejarah Paulus tersebut. Salah satu sarjana tersebut adalah Hyam Maccoby, ia menyoroti beberapa bagian dalam kehidupan Paulus yang dianggapnya sebagai suatu kebohongan. Hyam Macobby melakukan studi kritis terhadap kitab Kisah Para Rasul yang hanya dianggapnya sebagai kitab “biografi” Paulus. Kita ketahui bahwa penulis kitab tersebut adalah Lukas, mantan rekan Paulus. Sesuai dengan logika,  Lukas pasti akan membela Paulus sekuat tenaga. Contohnya, Lukas dalam Kisah Rasul jelas sekali menggambarkan perihal hubungan Paulus dan pengikut Jesus sebagai “biasa-biasa” saja, Padahal kenyataannya berlawanan. Surat-surat Paulus jelas sekali dalam menggambarkan hubungan buruk Paulus dengan pengikut Jesus seperti James atau Petrus, Jelas sekali mengenai adanya pertentangan yang sengit di antara dua pihak tersebut. Karena tidak puas terhadap catatan kehidupan Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul, maka Hyam Macobby mulai beralih  meneliti naskah-naskah Yahudi-Kristen kuno, terutama naskah kaum Ebionit dan lain-lain. Melalui berbagai penelitian akhirnya ia dapat menyimpulkan bahwa sejarah Paulus sarat akan pertentangan-pertentangan.

Pertama-tama, Hyam menyoroti perihal tempat kelahiran Paulus. Penyebutan Tarsus sebagai tempat kelahiran Paulus hanya terdapat dalam kitab Kisah Rasul, tetapi tidak pernah disebutkan Paulus dalam surat-suratnya.  Paulus hanya menyebutkan sekilas mengenai asal-usulnya yaitu dalam Phllipi 3:5, “disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi” dan Roma 11:1,” Karena aku sendiripun orang Israel, dari  keturunan Abraham, dari suku Benyamin”. Tampaknya ia ingin tampak sebagai seorang Yahudi Farisi sejati (yang dididik di Jerusallem), sehingga berhati-hati untuk tidak menyebutkan Tarsus sebagai tempat kelahirannya. Kota Tarsus dikenal sebagai kota yang kental akan nuansa Hellenisme, disana hanya terdapat sedikit orang Yahudi. Pengaruh Hellenisme mungkin akan cukup mempengaruhi pemikiran Paulus sehingga nantinya ajaranya akan bertentangan dengan pemikiran para  penganut Kristen awal yang berasal dari latar belakang Yahudi-Kristen.

Selanjutnya, Hyam mempertanyakan klaim Paulus bahwa ia berasal dari latar belakang Yahudi Farisi. Kaum Farisi adalah salah satu golongan Yahudi yang mendapat prestise tinggi dihadapan masyarakat pada saat itu. Kaum Farisi adalah kaum ortodoks yang menentang kekuasaan tirani dan tidak terlalu tertarik terhadap kehidupan aristokratik. Mereka adalah kebalikan dari kaum Yahudi Saduki yang bersedia bekerja sama kekaisaran dan telah menerima sumbangan beberapa pemikiran Hellenisme. Dalam Kisah Rasul disebutkan mengenai Paulus yang belajar kepada Rabi Gamaliel ,

“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi

dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan

Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang

yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.”(Kis Ras 22:3)

Dari sumber lain diketahui bahwa Gamaliel merupakan salah seorang pengajar Yahudi yang  terkemuka dan diketahui memimpin suatu partai Farisi. Dalam suratnya, Paulus mengaku bila ia pernah berguru kepada Gamaliel, artinya ia telah mengalami pendidikan ketat sebagai seorang Farisi. Pertanyaan kemudian muncul, apakah benar Paulus merupakan seorang Yahudi Farisi? jawabannya akan dijelaskan oleh Lukas dalam Kitab Kisah Rasulnya.

Jelas dalam Kisah Rasul disebutkan mengenai masa lalu Paulus yang pernah terlibat dalam pemburuan para pengikut Kristen awal, bahkan terlibat dalam pembunuhan Stephanus (8:1). Dengan asumsi Paulus adalah seorang Farisi, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kaum Farisi saat itu merupakan musuh utama para pengikut Jesus atau kaum Kristen awal.  Hal tersebut bertentangan dengan fakta bahwa para pengkut Jesus kebanyakan berasal dari golongan Farisi atau Essenes. Golongan Farisi atau saudaranya, Essenes berasal dari satu cabang agama Yahudi yang disebut Hasidis. Kaum Hasidis identik dengan kesalehan dan keterikatanya dengan hukum Yahudi, bahkan diduga kuat Johannes pembaptis merupakan salah seorang terpandang yang berasal dari golongan ini, khususnya dalam komunitas Essenes. Perbedaan antara kaum Farisi dengan Essenes adalah pilihan kaum Essenes untuk mengasingkan diri dan membentuk suatu komunitas tersendiri. Sedangkan Kaum Farisi memilih untuk berpolitik dan berbaur dengan orang-orang Yahudi dari berbagai golongan, walaupun mereka tetap memegang teguh ajaran Yahudi seperti perayaan Sabat, penyunatan dan kepercayaan terhadap kehidupan setelah mati. Kebalikan dari kaum Hasidis adalah para Saduki, mereka adalah Yahudi liberal dan bersedia bekerja sama dengan kekaisaran. Kaum Yahudi Saduki telah menyerap pemikiran Hellenisme Romawi sehingga mereka tidak lagi melaksanakan hukum Taurat dengan ketat. Selanjutnya, pengikut agama Kristen awal lebih banyak berasal dari kaum Yahudi Hasidis, mereka melihat adanya kesamaan ajaran Jesus dengan ajaran para nabi sebelumnya. Sebaliknya, kaum Saduki merupakan musuh umat Kristen awal. Tampaknya dalam riwayat sinoptik, Jesus kerap mengkritisi kaum Farisi yang dianggapnya condong kepada materialisme. Ini merupakan wujud perhatian Jesus terhadap kaum pemegang teguh warisan hukum Ibrahim  tersebut. Sebaliknya perlakuan kaum Farisi dan Saduki malah mengucilkan Jesus, mereka kecewa karena harapan-harapannya kandas di tangan Jesus. Tapi bagaimanapun kaum Farisi tetap menerima Jesus sebagai messiah, oleh karena itu mereka masih menaruh hormat terhadap Jesus maupun muridnya.  Sayangnya penguasa Yahudi atau imam besar saat itu berasal dari kalangan Saduki, antek Romawi. Kekaisaran berusaha menekan perlawanan kaum Yahudi dengan menempatkan pemimpin Yahudi yang bersedia kooperatif dengannya.

Selanjutnya disebutkan dalam pasal 8:3 mengenai Paulus yang memasuki rumah ke rumah dan kemudian menggelandang pria dan wanita ke penjara. Tidaklah mungkin Paulus melakukan semua itu atas dasar ambisi pribadi semata. Ia memerlukan sebuah dukungan kekuasaan untuk melakukan segala “pemburuan” tersebut. Dari siapa lagi ia bisa mendapatkan kekuasaan untuk mengirimkan orang ke penjara selain oleh Imam Tertinggi. Sejarah jelas mencatat, pada saat itu yang menjadi Imam BesarYahudi berasal dari golongan Saduki,  musuh utama kaum Farisi. Lalu bagaimana mungkin Paulus yang adalah seorang Farisi menjadi kaki tangan Imam Besar Yahudi dari golongan Saduki. Satu-satunya penjelasan yang memungkinkan adalah, Paulus telah berbohong dengan mengaku sebagai seorang Yahudi Farisi, ia adalah seorang Yahudi Saduki atau bahkan bukan Yahudi sama sekali.

Selanjutnya dalam Kisah Rasul pasal 9 disebutkan, Paulus ‘dengan hatinya yang berkobar-kobar mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damaskus, supaya, jika ia menemui  laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem’. Peristiwa ini menjadi sorotan Hyam Macobby, ia mempertanyakan alasan Paulus yang selama ini mengacaukan Gereja di Judea, lalu tiba-tiba berniat pergi ke Damaskus untuk mengacaukan Gereja disana. Apakah Imam Besar Judea memiliki otoritas di daerah non-Yahudi seperti di Damaskus yang memperbolehkannya untuk menangkapi para pengikut jalan Tuhan disana ? Dari peristiwa di atas, Hyam menyimpulkan adanya hubungan khusus antara Imam Besar dengan sosok Paulus. Paulus tampaknya lebih berperan sebagai kaki tangan Imam Besar daripada sebagai seseorang yang bertindak atas motif pribadi saat menangkapi para pengikut Kristen awal.

Selanjutnya dalam  Kisah Rasul 26:5, Paulus pernah berkata :

“Sudah lama mereka mengenal aku dan sekiranya mereka mau, mereka

dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah hidup sebagai seorang

Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama kita.”

Artinya Paulus mengklaim bahwa dirinya dikenal orang-orang sebagai seorang yang taat terhadap hukum Yahudi, karena memang itulah ciri khas golongan Farisi. Tetapi fakta berbicara sebaliknya, Paulus dalam berbagai surat-suratnya telah menolak justifikasi berbagai hukum Yahudi dan lebih condong kepada pemikiran non-semitik. Paulus lebih sering membicarakan pandangan mengenai manusia-Tuhan Jesus yang berasal dari surga dan mengorbankan dirinya demi keselamatan manusia. Pemikiran seperti ini tidak dapat ditemukan dalam kitab Yahudi manapun. Pemikiran Paulus sama sekali asing bagi kaum Yahudi, tetapi tidak aneh lagi bagi para kaum Gentile. Inilah sebabnya Paulus hanya mau menyebarkan ajaranya kepada kaum Gentile, ia tahu bila akan ditolak mentah-mentah oleh orang Yahudi. Kaum Yahudi-Kristen pengikut Jesus bahkan tidak pernah menganggap Jesus sebagai simbol manusia-Tuhan pada masa itu, mereka tetap berpegang erat kepada ajaran Taurat serta beberapa tambahan ajaran dari Jesus.   Kesimpulanya, klaim Paulus mengenai dirinya yang tumbuh dalam didikan Farisi yang ketat dari Gamaliel, tidak lagi dapat dipercaya, bahkan sangat menggelikan.

Pemikiran Paulus memang tidak sampai mengutuk keseluruhan Perjanjian Lama sepertihanya dengan Marcion. Paulus kerap mengutip ayat-ayat dalam Perjanjian Lama dalam surat-suratnya, tetapi ajaran yang ia kembangkan telah keluar dari jalur agama Yahudi yang sebenarnya. Paulus lebih tampil sebagai seorang revolusionis agama Yahudi dan menampilkan agama yang benar-benar terlepas dari ajaran Taurat. Dalam hal ini Paulus bertentangan dengan misi Jesus yang ‘tidak akan menghapus satu titikpun ajaran Taurat’.  Berikut adalah pernyataan Paulus dalam surat kepada Timotius :

Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku. (1 Tim 8-11)

Perkenalan Paulus dengan tokoh Jesus pun diragukan. Selama ini penempatan Injil-injil yang berisi sejarah kehidupan Jesus ditaruh sebelum surat-surat Paulus, orang awam akan menganggap bahwa Injil-injil trsebut dikomposisikan terlebih dahulu, tetapi kenyataanya terbalik. Surat-surat Paulus dikomposisikan terlebih dahulu sebelum Injil-injil, dalam jangka waktu 50-60 M., sedangkan Injil baru ditulis dari tahun 70-110 M.. Paulus tidak pernah menunjukan kepengetahuan terhadap kehidupan Jesus, keluarganya, peristiwa kelahiranya, atau mukzizat-mukzizatnya, ia hanya mengetahu dan tertarik pada suatu hal, penyaliban dan kebangkitan Jesus ! Tidak perduli dengan kehidupan Jesus sebelum peristiwa tersebut. Tidak pula ada penyebutan terhadap Johannes Pembaptis, orang terpenting dalam kaum Yahudi saat itu. Penyebutan terhadap Judas Escariot-pun turut absen. Selain itu dalam Roma 15:19 ia menyatakan perihal peristiwa konversinya ,  “oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh…”, bertentangan dengan riwayat dalam Injil Markus dimana Jesus berkata” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” .  Dalam pengakuanya dimana ia mendengan suara Jesus “”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” juga dirasa salah alamat, Paulus tidak pernah menyiksa Jesus melainkan pengikutnya. Seharusnya perkataan ini ditujukan kepada imam besar Yahudi yang mengusulkan penyaliban atau bahkan kepada Judas Escariot. Sulit sekali untuk dapat mempercayai Paulus hanya berdasarkan pengakuanya, selain itu nanti akan dapat kita lihat, bahwa sebenarnya pandangan Paulus terhadap pengikut Jesus seperti James atau Petrus tidaklah terlalu berubah, mereka akan tetap bertentangan hingga pertentangan tersebut akan diwariskan kepada jemaat-jemaatnya.

Hyam Macobby kemudian menyimpulkan beberapa hal berdasarkan penelitiannya.

  • Paulus tidak pernah menjadi seorang Farisi. Kemungkina besar ia adalah seorang Yahudi Saduki yang menjadi kaki tangan Imam Besar Yahudi. Ia mengaku sebagai Farisi hanya untuk meningkatkan derajatnya di mata masyarakat.
  • Jesus dan para pengikut awalnya berasal dari golongan Farisi. Jesus tidak pernah memproklamirkan agama baru, ia kerap mengaku hanya sebagai pemenuhan nubuat Perjanjian Lama, sebagai messiah (dalam pengertian Yahudi).
  • Para pengikut Jesus, dalam bimbingan James dan Petrus, mendirikan Gereja di jerusallem setelah kematian Jesus. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Nazarenes, kebanyakan dari mereka masih mengadopsi kepercayaan Farisi, kecuali bagi beberapa yang mempercayai kebangkitan Jesus, dan masih menganggap Jesus sebagai Messiah yang dijanjikan. Tidak satupun dari mereka yang mengaggap Jesus sebagai manusia-Tuhan, mereka masih mempercayai bahwa Jesus telah disalib, tetapi akan kembali untuk menumbangkan kekaisaran Romawi dan mendirikan kerajaan Tuhan. Kaum Nazarenes tetap menjalankan hukum Yahudi seperti biasa, menyunat, tidak memakan makanan haram, melaksanakan Sabat dll.. Mereka bahkan menentang Paulus yang dianggapnya telah mendirikan agama baru yang telah melenceng dari ajaran Jesus yang mereka kenal.
  • Paulus, bukanlah Jesus yang mendirikan agama Kristen sesungguhnya. Paulus kurang memperdulikan kehidupan Jesus selama 30 tahun dan hanya berfokus kepada peristiwa penyaliban dan’Kebangkitan’. Paulus mengidentikan peristiwa tersebut dengan pemikiran Pagan mengenai konsep keselamatan. Paulus hanya menganggap Perjanjian Lama sebagai kumpulan hukum yang tidak lagi berlaku setelah kematian Jesus, kini hanya ajaranyalah yang berlaku. Pemikiran Paulus merupakan angin segar bagi para Gentile, mereka menginginkan nuansa keagamaan yang baru tanpa meninggalkan sepenuhnya kepercayaan mereka yang terdahulu. Perkembangan jaman telah membuat orang Gentile jenuh terhadap dewa-dewanya, mereka menginginkan figur Tuhan baru yang maha kuasa dan memiliki jangkauan  luas seperti Tuhannya orang-orang Yahudi. Tetapi kaum Gentile tidak bersedia untuk menjadi orang Yahudi karena alergi terhadap pelaksanaan berbagai hukum Yahudi seperti penyunatan, makanan haram, dan Sabat. Oleh karena itu, ajaran ‘semi’ Yahudi buatan Paulus dirasa cocok bagi mereka.
  • Sumber informasi mengenai Paulus yang tidak pernah dianggap serius berasal dari kaum Ebionit. Tulisan-tulisan mereka dikecam dan dimusnahkan Gereja, tetapi pandangan mereka tercatat dalam tulisan-tulisan musuh mereka, contohnya dalam karya-karya Ephipanus saat melawan Heresies. Kaum Ebionit memberikan pandangan tersendiri terhadap Paulus dan menyatakan bahwa Paulus tidak pernah memiliki latar belakang Farisi. Menurut mereka, Paulus lahir dari keluarga Gentile dan berpindah kepada agama Yahudi di Tarsus. Saat dewasa, Ia kemudian mengunjungi Jerusallem dan melamar pekerjaan sebagai penjaga keamanan kepada Imam besar. Suatu sebab menyebabkan Paulus kecewa dengan Imam Besar dan membuatnya berniat untuk mendirikan suatu ajaran baru. Pandangan kaum Ebionit ini tidak bisa  dipastikan keotentikannya, tetapi keterangan mereka dirasa lebih masuk akal dibandingkan keterangan mengenai Paulus yang dikeluarkan Gereja atau yang terdapat dalam kitab Kisah Rasul.
  • Kaum Ebionit dipersepsikan Gereja sebagai salah satu golongan bid’ah karena tidak mempercayai konsep ketuhanan Jesus versi Paulus. “Kesalahan” kaum  Ebionit lainnya adalah  menolak segala pemikiran Paulus mengenai penghapusan hukum taurat, penebusan dosa, dosa asal, dll. Sebaliknya, mereka tetap taat terhadap pelaksanaan hukum Taurat sepertihalnya dengan para pengikut awal Jesus. Mereka dapat disamakan dengan golongan Nazarenes yang dipimpin oleh James dan Peter, saksi mata langsung kehidupan Jesus. Pandangan Gereja yang menganggap kaum Ebionit sebagai bid’ah dapat dipahami mengingat Gereja dibangun dengan pondasi ajaran Paulus, bukan Jesus.

Selanjutnya, kebalikan dari kaum Ebionit adalah yang disebut dengan golongan Marcionit yang tumbuh di sekitar pertengahan abad kedua. Golongan yang satu ini didirikan oleh Marcion yang lahir di sekitar tahun 110 M.. Ia mempercayai bahwa Tuhannya Perjanjian Lama adalah  Tuhan jahat, dan Jesus adalah seorang tokoh yang akan menghancurkannya. Tampaknya ia pernah mendapat pengaruh kuat ajaran Gnostik. Selama hidupnya, Marcion hanya mengakui Injil Lukas dan seluruh karya-karya Paulus sebagai canon, hal tersebut dimuat dalam karyanya Apostolicon. Sebagai seorang anti-Yahudi, Marcion menggunakan Injil Lukas yang telah diedit (ia mempercayai bahwa kitab tersebut ditulis Paulus), Surat Galatia, 1 & 2 Korintus (digabung dalam satu surat), Roma, 1 & 2 Tesalonika (dalam satu surat), Laodikaea (surat Efesus), Kolose, Filipi dan Filemon. Entah mengapa ia tidak mengakui 1 dan 2 Timotius , Titus dan Ibrani sebagai karya Paulus sebagaimana umat Kristen pada umumnya. Tampaknya karya-karya tersebut baru ditulis di pertengahan abad kedua sehingga Marcion belum sempat mengetahuinya. Marcion juga mengedit, menghilangkan bagian-bagian yang “berbau” Perjanjian Lama dalam tulisan-tulisan Lukas atau Paulus, ia bukan satu-satunya orang yang melakukan perbuatan tersebut. Pihak Gereja boleh saja mencap pemikiran Marcion sebagai heretis murni, tetapi di lain pihak mereka menggunakan kitab favorit Marcionit (Lukas dan surat Paulus) sebagai canon, suatu hal yang bertolak belakang.

Tidak semua surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru diyakini keotentikanya, para sarjana telah menolak beberapa surat, terutama surat Ibrani dan Timotius. Dari keseluruhan surat, hanya beberapa yang diakui sebagai Pauline, sisanya diragukan.

Dr. Hooykaas menyebutkan :

“Fourteen epistles are said to be Paul’s; but we must at once strike off one, namely, that to the Hebrews, which does not bear his name at all…. The two letters to Timothy and the letter to Titus were certainly composed long after the death of Paul…. It is more than possible that the letters to the Ephesians and Colossians are also unauthentic, and the same suspicion rests, perhaps, on the first, but certainly on the second of the Epistles to the Thessalonians” (Bible for Learners, Vol. III, h. 23).

“Empat belas surat dikatakan ditulis oleh Paulus; tetapi kita harus membuang salah satunya; berjudul surat kepada Ibrani, yang tidak menyebutkan namanya sama sekali… Dan dua surat kepada Timotius serta surat kepada Titus yang tentunya ditulis lama setelah kematian Paulus… sangatlah mungkin apabila surat Efesus dan Kolose dikatakan sebagai tidak otentik, dan surat juga surat lainnya mencurigakan, mungkin pada surat Tesalonika pertama, khususnya pada surat Tesalonika kedua”.

Dalam hal penentuan keaslian surat-surat Paulus, kita harus bertindak objektif. Kita tidak bisa menggunakan standar yang sama untuk tiap-tiap pemikiran sarjana Kristen. Beberapa dari sarjana Kristen tersebut adalah sarjana Radikal Jerman yang  telah menyerap kebudayaan liberal, sehingga keobjektifannya berkurang. Sarjana-sarjana ini menolak kpenulisan Paulus untuk tiap surat yang ditulis atas namanya. Tetapi ini tidak berarti kita harus membuang seluruh pemikiran mereka, kita juga harus menghargainya dalam batas tertentu. Bagaimanapun mereka telah mengkaji Bible secara serius walaupun berada dalam lingkungan liberal.

Kisah Paulus dan Barnabas

Sejak polemik mengenai Injil Barnabas muncul ke permukaan, nama Barnabas mulai diingat kembali. Sejarah Paulus tidak bisa dilepaskan dari peran seorang Barnabas ini, Barnabas termasuk ke dalam lingkaran orang-orang terdekat dengan Jesus. Ia adalah seorang Yahudi yang lahir di daerah Cyprus dengan nama Joseph, “Barnabas” merupakan nama panggilan yang berarti “anak penghibur” (Kis Ras 4:36). Ia tidak dapat disamakan dengan Barrabas, orang yang dibebaskan kaum Yahudi demi disalibnya Jesus. Menurut beberapa riwayat, Barnabas sempat mendapat pengajaran dari Gamaliel (lebih dulu dari Paulus ?), dengan kata lain ia adalah seorang Yahudi Farisi. Maka tidak aneh bila ia nantinya akan menjadi pengikut setia Jesus. Barnabas dikenal sebagai paman dari Johannes Mark, yang dianggap sebagai penulis Injil Markus. Sebagai sorang Yahudi Farisi, ia cukup mengenal Jesus dan kerap beramal saleh , penulis Kisah Rasul bahkan menyebutnya sebagai “Penuh akan roh Kudus” (11:24).

Saat Paulus mengaku telah insaf dan mengaku tidak akan menyiksa kaum Yahudi-Kristen lagi, ia sama sekali tidak dipercaya oleh para Rasul di Jerusallem. Kemudian tampilah figur Barnabas yang berusaha membujuk para Rasul untuk memberi sedikit kepercayaan pada Paulus, akhirnya dewan Rasul pun memberinya kesempatan. Hal tersebut membuktikan bahwa Barnabas memiliki akses kepada para Rasul, tampaknya ia sangat dipercaya oleh para Rasul. Lalu mengapa Barnabas bisa begitu saja percaya kepada Paulus ? mungkin karena Paulus mengaku bahwa dirinya pernah menjadi murid Gammaliel sepertihalnya Barnabas.

“Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka

Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat,

berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda

persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak

bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;”(Gal 2:9)

Selanjutnya Barnabas akan mendampingi Paulus dalam beberapa misinya. Adalah saat mencapai Antiokia, mereka pertama kali dipanggil sebagai orang Kristen oleh penduduk di sana. Paulus dan Barnabas merupakan umat Kristen pertama ! Pertemanan mereka tidak berlangsung lama, pada perjalanan misionaris kedua, masalah mulai muncul di antara mereka. Paulus menolak keinginan Barnabas untuk membawa serta Markus dalam perjalanan selanjutnya (Kis Ras 15:36-37). Mereka kemudian berpisah, Paulus dan silas menuju syria, sedangkan Barnabas dan  Markus  menuju Cyprus.

Kita tidak bisa menelan mentah-mentah informasi di atas, perpisahan Paulus dengan Barnabas yang  hanya disebabkan oleh masalah keikutsertaan Markus sangatkah tidak logis. Pastilah ada penyebab yang lebih berat sehingga kedua orang sahabat tersebut dapat berpisah. Versi Lukas penuh dengan penyembunyian fakta, kita harus beralih kepada versi Paulus sendiri. Dalam surat Galatia Paulus menjelaskan pertentanganya dengan Barnabas.

“Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang

menentangnya, sebab ia salah.

Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan

sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi

setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka

karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.

Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan

dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan

mereka.”(Gal 2:11-13)

Dalam bagian tersebut terlihat jelas bahwa Paulus dengan angkuhnya berani menentang Kefas (Petrus), padahal Petrus telah diangkat sebagai “Pangeran Para Rasul” oleh Jesus sendiri. Dalam bagian tersebut turut dijelaskan mengenai Petrus yang bersedia makan sehidangan dengan kaum Gentile, kemudian meninggalkannya karena takut diketahui jemaat Jakobus (James). Mengenai peristiwa ini Paulus menyebut Petrus sebagai munafik. Sedangkan dalam bagian lain Perjanjian Baru kita juga dapat menemukan bahwa Petrus pernah menolak mengakui hubungannya dengan Jesus saat Jesus digelandang kaum Yahudi untuk dihukum. Dapat kita simpulkan sementara, bahwa Petrus adalah seseorang yang tidak bisa konsisten terhadap pendiriannya. Diluar masalah tersebut, Paulus juga menyebut Barnabas sebagai sorang munafik tanpa sebab-sebab yang jelas. Tetapi kejadian tersebut terjadi setelah jemaat utusan James dari Jerusallem mendatangi Antiokia, artinya Paulus menentang Barnabas karena menganggapnya telah bersekutu dengan para utusan tersebut. Sebenarnya tidaklah aneh bila kemudian Barnabas memilih bergabung dengan para utusan Jerusallem, karena mereka memang pernah saling mengenal saat tinggal di Jerusallem. Dengan kata lain, saat utusan Jerusallem memutuskan untuk mewajibkan penyunatan bagi setiap muallaf Kristen, Barnabas mendukung gagasan tersebut, dan hal tersebut memancing kemarahan Paulus (Paulus menentang kewajiban bersunat). Pertentangan antara Paulus dengan Barnabas adalah pertentangan doktrinal, bukan sekadar masalah keikutsertaan Markus seperti dikatakan dalam kitab Kisah Rasul.

Pertengangan Paulus dan Barnabas membuktikan bahwa catatan Kisah Rasul mengenai Paulus tidak dapat diterima. Kitab Kisah Rasul dikenal hanya menyajikan fakta berdasarkan sudut pandang Lukas (sahabat Paulus), dan berusaha menutupi permasalahan serius yang terjadi di antara Paulus dan kaum Nazarenes , khususnya Barnabas.

  • Tulisan terbaru, sehangat batagor yang baru digoreng

  • PENGUMUMAN!!! Blog ini tidak memiliki afiliasi dengan organisasi berikut

    Kelompok Teroris Sadness Liberation Army (SLA)

  • NEW PRODUCT!

    Sehat Kuat bagai Hansip!

  • Blog bebas iklan dan pornografi