Surat Paulus kepada Timotius I

Pastoral Epistles

Kedua surat Timotius dan surat Titus disebut sebagai Pastoral Epistles, surat-surat yang ditujukan kepada individu dan berisikan prinsip-prinsip organisasi Gereja, surat-surat ini  identik dengan keraguan atas keotentikannya. Penyebutan “Pastoral” baru dilakukan sekitar abad ketujuh belas, disebut demikian karena surat-surat ini memuat dalil peranan Pastor dalam Gereja. Pastoral terdiri dari 1 & 2 Timotius dan Titus. Seluruh Pastoral Epistles mungkin memuat pengakuan penulis di dalamnya, tetapi keaslianya diragukan karena keberadaanya relatif tidak diketahui para Bapak Gereja awal. Contohnya Marcion dan Basilides, kedua tokoh tersebut merupakan penganut ajaran Paulus dan menggunakan surat-suratnya sebagai kitab suci, tidak mengetahui perihal eksistensi surat-surat tersebut. Mack mengatakan dalam Who Wrote the New Testament ?:

The Pastorals were undoubtedly written during the first half of the 2nd century. They were not included in Marcion’s list of Paul’s letters (ca.140). Quotations from them first appear in Irenaeus’ Against Heresies (180) and their content fits nicely into the situation and thought of the church in the mid-second century. Their attribution to Paul is a forgery for their language and thought are clearly unPauline. Also, references to particular occasions in the lives of Titus, Timothy, and Paul do not fit with reconstructions of that history taken from the authentic letters”.

“Surat-surat Pastoral dipastikan ditulis pada masa awal pertengahan abad kedua. Mereka tidak dimuat dalam daftar karya Paulus oleh Marcion (140 M.). Pengutipan terhadap surat tersebut baru muncul dalam karya Iranaeus “Melawan Kaum Bid’ah (180 M)” dan isinya cocok ditempatkan dalam situasi dan pemikiran gereja pada pertengahan abad kedua. Pengatributan terhadap Paulus adalah kesalahan bahwa penggunaan bahasa dan pemikiran surat tersebut yang jelas non-Pauline. Selain itu, rujukan kepada tujuan dalam kehidupan Titus, Timotius dan Paulus tidak cocok dengan rekonstruksi sejarah yang diambil dari surat-surat otentik”.

Pada abad kesembilan belas, serangan kritik terhadap surat-surat pastoral semakin meningkat. Dipelopori oleh J.E. C. Schmidt yang kemudian diikuti oleh Schleiermacher dll.. Tidak seperti surat-surat Paulus sebelumnya dimana hanya mendapat kritik dari sarjana-sarjana Radikal, surat Pastoral tampaknya mendapatkan kritik yang lebih luas. Kalangan selain sarjana radikal memang jarang menolak keotentikan keseluruhan surat pastoral, kebanyakan dari mereka hanya menyerang salah satu atau beberapa surat saja. Surat pastoral kerap menjadi sasaran serangan para sarjana karena kelemahannya di berbagai sisi. Tetapi itu semua tidak berarti surat Pastoral tidak memiliki pendukung, beberapa sarjana tetap mempertahankan dan mendukung keotentikan surat-surat tersebut. Kritik terhadap surat-surat pastoral terutama ditujukan dalam hal  :

Komposisi dan situasi sejarah yang dimuat dalam surat Pastoral tidak cocok dengan catatan Kisah Rasul, padahal dalam 2 Timotius 4:11 Paulus mengatakan “hanya Lukas yang tinggal dengan aku”, artinya Paulus tengah bersama dengan Lukas saat menulis surat ini.   Ketidakcocokan dengan catatan Kisah Rasul berdampak kepada kesulitan dalam menentukan waktu penulisan surat Pastoral ini.  Andaipun waktu penulisannya ditentukan, ternyata dapat melebihi masa kehidupan Paulus.

Gaya penulisan dalam Pastoral dianggap berbeda dengan surat-surat utama. Pastoral memuat cukup banyak Hapax dan kata-kata asing. Contohnya 1 Timotius, Surat sepanjang 6 pasal ini memuat sekitar 96 Hapax Legomena, sedangkan surat Roma sepanjang  16 pasal hanya memuat 113. Selain itu, ekspresi permusuhan Paulus terhadap ajaran Yahudi juga tidak ditemukan.

Sistem kegerejaan yang dimuat pada Pastoral cenderung menunjukan waktu yang lebih maju. Paulus yang hanya mendirikan dan mengurus gereja-gerejanya secara singkat sedangkan surat Pastoral menunjukan sistem kegerejaan yang lebih terorganisir, maka akan lebih masuk akal apabila surat Pastoral ini baru dikomposisikan beberapa puluh tahun setelah kematian Paulus. Saat itu gereja telah lebih terorganisir dan pengacau cenderung berkurang. Penggambaran organisasi gereja dalam Pastoral tampaknya akan lebih sesuai bila ditempatkan sekitar pada abad kedua, dimana saat itu organisasi gereja telah mengenal posisi uskup dan diaken (pemilik umat). Dalam surat Timotius, Paulus tampak menyebutkan syarat-syarat untuk dapat menempati posisi tersebut dan peraturan yang akan berlaku kepada pengisi posisi tersebut. Gereja Katolik nantinya akan sangat tergantung kepada aturan-aturan yang ditetapkan dalam surat Pastoral ini.

Konsep Kristiani yang terdapat dalam Pastoral menunjukan perkembangan dan cenderung non-Pauline. Pemikiran Paulus memang ada, tetapi terlihat telah mengalami berkembang dan berbeda dengan yang pernah dimuat dalam surat utama. Ini menimbulkan pandangan bahwa penulis surat-surat ini adalah murid salah satu mazhab Paulus.

Ajaran sesat yang digambarkan surat Pastoral hanya cocok dengan gerakan Gnostik yang berkembang pada abad kedua. Menurut Baur, penggambaran ajaran sesat dalam 1 Timotius 6:26 merujuk kepada kaum Marcionit :
Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan”.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa surat Pastoral ini sengaja diproduksi untuk membendung masuknya pemikiran-pemikiran Marcion atau Valentinus ke dalam Gereja. Dengan kata lain, surat Pastoral diproduksi oleh suatu musuh Marcion untuk membendung ajarannya. Maka tidak aneh apabila Marcion tidak bersedia mengakui surat tersebut. Musuh Marcion tersebut bukanlah golongan Ebionit atau Nazarene, melainkan pengikut salah satu mazhab ajaran Paulus. Boleh jadi saat itu pendukung Paulus-pun terbagi atas berbagai mazhab dan aliran. Setiap dari mereka mungkin memiliki kitab suci yang diatributkan penulisannya terhadap Paulus.

Pernyataan-pernyataan tersebut tentu saja tidak dapat membuat semua orang mempercayai kepalsuan surat-surat pastoral. Beberapa pendukung keotentikan telah berusaha sekuat tenaga untuk menjawab kritik-kritik tersebut, tetapi tampaknya  masalah tersebut belum bisa terpecahkan hingga tuntas  sampai saat ini. Mereka tampak memberikan penjelasan yang berbeda-beda dan tidak logis. Contohnya dalam menjelaskan masalah perkembangan teologi, menurut mereka hal tersebut dapat terjadi karena Paulus menulis surat Pastoral paska pembebasan dari penjara. Apakah pemikiran seseorang sebelum dan sesudah dipenjara dapat mengalami perubahan ? Apakah gaya penulisan seseorang dapat berubah setelah ia mendekam di penjara ? jawabanya adalah tidak ! Mungkin saja hal tersebut dapat terjadi, bila orang tersebut bukanlah rasul dan memiliki pendirian yang tidak tetap. Pemikiran seorang rasul tidak akan dapat diubah oleh keadaan apapun, apakah ia dipenjara atau disiksa karena ia hanya mengucapkan apa yang Tuhan inspirasikan kepadanya. Menurut para pendukung tersebut, surat ini ditulis sekitar 5 tahun setelah penulisan surat Roma. Jawaban tersebut akan menghasilkan permasalahan baru, bagaimana mungkin hanya dalam 5 tahun pemikiran dan gaya penulisan Paulus dapat berubah dengan drastis, secara rasional jawaban tersebut tidak dapat diterima.
Penjelasan lain kemudian muncul, bahwa dalam menulis surat-suratnya (khususnya Pastoral), Paulus menggunakan jasa sekertaris. Paulus kemungkinan pernah menggunakan jasa sekertaris dalam penulisan beberapa suratnya, contohnya dalam surat Roma. Tetapi jawaban tersebut tetap tidak dapat menjelaskan adanya perubahan gaya penulisan dan teologi, serta adanya bahasa atau materi non-Pauline. Selain itu, Paulus tidak pernah mengidikasikan adanya peran sekertaris dalam penulisan surat Pastoral.

Keaslian Surat

Dalam hal keotentikan tidak ada pertanyaan lagi, tidak ada kata yang lebih tepat selain “diragukan” ! Sejak surat ini dikelompokan ke dalam Pastoral Epistles, maka keraguan akan selalu melekat padanya. Archibald Robertson dalam The Origins of Christianity menyebutkan :

As to the Pastorals, most scholars now agree that they are second-century forgeries. They deal with second-century situations. These documents were not written by Paul.

“Sebagaimana dengan Pastoral, kebanyakan sarjana sekarang sependapat bahwa surat-surat tersebut merupakan hasil  pemalsuan di abad kedua. Surat-surat tersebut sesuai dengan situasi abad kedua. Dokumen-dokumen tersebut bukan ditulis oleh Paulus.”

Terlepas dari anggapan kepalsuan surat ini, ada baiknya kita juga menyimak pandangan tradisional terhadap surat ini.
Timotius adalah salah satu pengikut setia Paulus, ia bergabung dengan Paulus pada perjalanan misi kedua, saat itu Paulus mengunjungi Lystra di Galatia (Kis Ras 16:1-4). Ibunya, Eunice adalah Yahudi, dan ayahnya seorang Yunani. Timotius kemudian mendampingi Paulus saat mengadakan misi di Efesus dan sekitarnya.  Saat Paulus menghadiri perayaan paskah di Jerusallem, kaum Yahudi menangkap dan mengirimnya ke Penjara, ini adalah pemenjaraan pertama (Kis Ras 21:18-28:31).  Di penjara, Paulus mengirimkan surat-surat yang disebut dengan Prison Epistles (Efesus, Kolose dan Filemon).  Diduga kuat Paulus masih didampingi oleh Timotius saat menulis surat-surat tersebut. Keterangan mengenai kehidupan Paulus selepas dipenjara tidak jelas, ia kemungkinan melanjutkan perjalanan ke Macedonia, sedangkan Timotius mengunjungi Gereja Efesus. “…Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain (1 Tim 1:3).
Menurut surat Titus, Paulus sempat melanjutkan perjalanan ke pulau Kreta dan meninggalkan Titus di sana dengan beberapa instruksi (Titus 1:5). Kisah perjalanan-perjalanan ini tidak pernah dimuat dalam Kitab Kisah Rasul, sehingga menimbulkan kecurigaan para sarjana. Paulus kemudian mengalami penahanan untuk yang kedua kalinya di Roma sampai akhirnya dihukum mati. Tidak hanya itu, beberapa bapak Gereja awal diketahui sempat memberikan riwayat yang berbeda, Clemens Romanus pada tahun 95 M. menyebutkan bahwa selepas Paulus dipenjara, Ia lalu menyebarkan Injilnya ke barat (Kemungkinan Spanyol berdasarkan Roma 15:28), sedangkan Murratorian Canon juga menguatkan pendapat tersebut.
Tentu saja beberapa kesulitan muncul apabila kita membayangkan Paulus menulis surat ini di penjara, seperti ;

Paulus menulis kepada Timotius, “Berusahalah supaya segera datang kepadaku, (2 Tim 4:9); Berusahalah ke mari sebelum musim dingin (2 Tim 4:21). Kedua ayat ini tampaknya tidak sesuai dengan catatan surat Kolose, Filemon dan Filipi, dimana Paulus tampaknya tidak berada jauh dari Timotius. Mengapa Paulus ingin segera bertemu dengan Timotius padahal ia baru berpisah sebentar dengannya saat bebas dari penjara ?

Dalam 2 Timotius 4:10 dikatakan, “…dan Titus ke Dalmatia”. Ini berarti Titus tidak ditinggalkan Paulus di Kreta seperti yang dikatakan dalam surat Titus ,” Aku telah meninggalkan engkau di Kreta … ( Tit 1:5).

Berdasarkan riwayat yang simpang siur tersebut, maka diputuskan bahwa secara tradisional kemungkinan surat ini ditulis pada periode 62-67 M.. Robertson menetapkan tahun 65 M., sedangkan C.C. Ryrie dan F. Bruce tahun 63 M.. Daerah Macedonia merupakan tempat yang paling memungkinkan sebagai tempat penulisan berdasarkan riwayat tradisional, tetapi tempat yang lebih spesifik tidak dapat ditentukan.

Interpolasi

Surat-surat Pastoral telah menjadi rujukan favorit bagi Gereja-gereja Katolik dimanapun, tetapi beberapa bagian di dalamnya mungkin tidak pernah digunakan dalam ceramah di manapun, dalam hal ini kita akan menyoroti 1 Timotius 2:12-15. Surat ini memuat peraturan-peraturan organisasi gereja ditambah aturan mengenai peranan seorang laki-laki atau perempuan, perhatikanlah bagian-bagian berikut :

Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan. (1 Tim 2:8)

Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,
tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. (1 Tim 2:9-10)

Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. (1 Tim 2:12)

Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan (1 Tim 2:15)

Dalam 1 Timotius 2:15 dikatakan bahwa seorang perempuan akan memperoleh keselamatan melalui peristiwa melahirkan anak. Para sarjana menganggap bagian ini bertentangan dengan ajaran Paulus dalam surat-surat lainnya, dimana ia selalu memproklamirkan “penyelamatan melalui iman”. Tidak hanya itu, dalam bahasa aslinya ayat 15 ini ternyata menggunakan Hapax Legomena dan tidak menggunakan gaya bahasa Pauline. Berbagai interpretasi mungkin telah dilakukan terhadap bagian tersebut, tetapi tampaknya belum dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.

Kebanyakan sarjana tampaknya menetapkan bahwa keseluruhan surat ini sebagai karya non-Pauline, atau setidaknya mencurigai bagian ini sebagai interpolasi. Beberapa sarjana beranggapan bahwa bagian tersebut sengaja dimasukan untuk menyudutkan kaum Montanis.
Kita dapat menemukan adanya pandangan pribadi Paulus terhadap wanita dalam hal ini, perhatikanlah pasal 2:12 di atas. Jelas sekali bahwa si penulis menggunakan kata ganti “aku” yang tidak dapat ditujukan kepada Tuhan. Beberapa sarjana kemudian beranggapan bahwa bagian-bagian yang membicarakan peranan wanita ini sebagai suatu usaha interpolasi  atau bahkan menganggap keseluruhan surat Timotius ini sebagai deutero-Pauline. Dalam beberapa surat utama, Paulus memang sempat mengemukakan kesetaraan antara pria dan wanita,

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”( Gal 3:28)

Interpolasi kedua hanya terdapat dalam Bible edisi King James. Penemu Interpolasi ini tidak lain adalah seorang sarjana terkemuka bernama Sir Isaac Newton. Ia menemukan Interpolasi dalam 1 Timotius 3:16 yang berbunyi :

And without controversy great is the mystery of godliness: God was manifest in the flesh, justified in the Spirit, seen of angels, preached unto the Gentiles, believed on in the world, received up into glory.” (1 Timotius 3:16 KJV)

Kata “God” tidak terdapat pada naskah-naskah Yunani tertua, kebanyakan dari naskah itu memuat kata “who” sebagai pengganti. Sebagai perbandingan, berikut adalah potongan ayat yang sama dalam versi Bible yang berbeda :

King James Version :

God was manifest in the flesh

New International Version :

He Appeard in a body

New American Standard Version :

He who was revealed in the flesh

New World Translation :

He was made manifest in the flesh

Menurut Newton, interpolasi ini dilakukan kubu Athanasius untuk mendukung klaim ketuhanan Yesus yang sangat sulit ditemukan dalam Bible. Perubahan satu kata saja ternyata dapat menimbukan pengartian yang jauh berbeda, lalu bagaimana dengan bagian-bagian lain dalam Bible yang ternyata terbukti sebagai interpolasi, contohnya Markan Appendiks, John 8:1-11 “pericope adulterae”, carmen christi dan lain-lain. Semua ini hanya membuktikan bahwa Bible telah diubah, atau setidaknya pernah diubah. Keduanya sama-sama mengurangi kesucian kitab ini secara umum.
Kini kita tidak akan mempercayai lagi pernyatan para Missionaris yang mengatakan bahwa perubahan yang dialami Bible hanya masalah penerjemahan, tidak merubah substansi dari isi Bible itu sendiri. Tapi seperti yang kita lihat, para perubah Bible tidaklah bodoh, dengan merubah satu kata atau menambah satu kalimat saja ia sudah bisa menciptakan pemahaman baru terhadap substansi yang sebenarnya. Sayangnya usaha tersebut tidak bisa bertahan lama karena suatu saat kebenaran akan terungkap juga.

About these ads

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.