Surat kepada Jemaat Kolose

Sejarah

Ini adalah satu lagi anggota kelompok Prison Epistles, surat yang ditulis Paulus saat mendekam di penjara. Sepertihalnya dengan ketiga surat penjara lainnya, tempat penulisan surat ini membuka beberapa kemungkinan, diantaranya Kaisaria atau Roma. Sedangkan pendapat terkuat cenderung kepada Roma sebagai tempat penulisan.

Kolose merupakan kota tetangga dari Efesus, jarak keduanya hanya beberapa jam berjalan kaki. Paulus tidak pernah mendirikan Gereja di kota ini, walaupun ia mungkin pernah mengijakan kaki di kota ini dalam perjalanannya. Pendirian Gereja di Kolose kemungkinan kuat berdasarkan kuatnya pengaruh Paulus di Efesus. Beberapa pengikutnya yang ia tinggalkan di Efesus diduga kuat turut ambil bagian dalam pendirian Gereja Kolose. Salah satu pendiri Gereja di Kolose adalah Epaphras (1:7), ialah yang mengabarkan kepada Paulus (saat dalam tahanan) perihal adanya kaum pengacau di Gereja Kolose. Surat ini tidak terlalu jelas dalam mengungkapkan identitas “kaum” tersebut, diduga karena jemaatnya lebih mengetahui. Beberapa kaum mungkin dapat menjadi kemungkinan, diantaranya adalah ; kaum Essenes, Yahudi, Ebionit, Nazarenes, Gnostis, atau Kabbalis. Beberapa petunjuk diberikan Paulus dalam 2:16-23 :

Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;
semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:
jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;
(kol 2:16-23)

Dalam ayat-ayat tersebut, Paulus memberi beberapa petunjuk mengenai kaum ini. Kita harus ingat bahwa Paulus hanya mengetahui perihal kaum ini melalui Epaphras yang mengunjunginya saat dipenjara. Ciri-ciri kaum tersebut adalah :

  • Mereka menghimbau pengadaan upacara sabat,
  • Melarang beberapa makanan dan minuman,
  • Mereka beribadah  kepada malaikat.

Dari ketiga petunjuk tersebut, dua petunjuk merujuk kepada kaum Yahudi. Kaum Yahudi memang mengadakan sabat dan mengharamkan beberapa makanan dan minuman seperti babi dan arak. Tetapi dalam petujuk ketiga, dikatakan bahwa mereka menyembah malaikat, apakah mereka Yahudi ? Tetapi perlu ditekankan bahwa kaum ini tidak menyerang otoritas Paulus, oleh karena itu kaum Ebionit dan Nazarenes bisa disingkirkan dari kemungkinan. Kaum Gnostis juga harus dikeluarkan karena pemikiran mereka kurang lebih sejalan dengan pemikiran Paulus, mereka juga tidak lagi menerapkan hukum ketat torah. Kaum Gnostis baru berkembang luas di awal abad kedua. Sedangkan kaum Kabalis tidak terlalu menonjol pada saat itu. Pandangan sarjana kebanyakan merujuk kepada kaum Essenes, kaum asketis yang tinggal di daerah tersendiri. Mereka merupakan suatu cabang dari agama Yahudi yang meninggalkan sepenuhnya kehidupan duniawi serta berkonsentrasi terhadap peribadatan. Sebagai pengikut Johannes pembaptis dan memiliki keterikatan dengan kaum Farisi, mereka hidup dalam hukum Yahudi yang keras dan ketat. Sedangkan Paulus alergi terhadap kata “aturan atau hukum” , ia menyatakan :

semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.
Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi
.  (Kol 2:22-23)

Kaum Essenes mungkin merupakan kaum yang cocok terhadap petunjuk-petunjuk di atas. Tetapi ada beberapa hal yang memberatkan, kaum Essenes sepertihalnya dengan kaum Yahudi lainnya, tidak pernah diketahui menyembah malaikat. Bila kata “menyembah” diganti dengan “mengimani” mungkin kita bisa memahami, mengingat tidak ada golongan Yahudi manapun yang menyembah malaikat. Melalui naskah laut mati, diketahui bahwa kaum Essenes memiliki kepercayaan tersendiri terhadap malaikat, berkebalikan dengan Yahudi Saduki yang tidak mempercayai eksistensi malaikat. Tetapi ada suatu hal yang memberatkan, Kaum Essenes hidup dalam suatu lingkungan tersendiri yang berada jauh dari kehidupan perkotaan. Gua Qumran, tempat diketemukanya gulungan naskah mati, merupakan salah satu saksi bisu peninggalan kaum ini. Mereka tidak mungkin merepotkan diri dengan mendatangi Kolose dan membuat kekacauan di sana, kaum Essenes lebih suka berdiam diri di lingkungannya agar dapat beribadah dengan tenang. Kesimpulanya, apapun nama kaum itu, ia bukanlah kaum Nazarenes, Ebionit, Essenes, Gnostik, Kabalis atau  Yahudi manapun. Kaum tersebut hanyalah gerakan kecil yang hanya beraksi di kota Kolose. Paulus tidak pernah mengindikasikan beraksinya kaum ini di kota-kota lainnya.

Keotentikan

Dalam bagian sebelumnya telah disebutkan, “…bila keotentikan surat Efesus diragukan, maka hal yang sama juga akan terjadi pada surat Kolose”. Ternyata kita menemukan beberapa kejanggalan dalam surat Efesus, oleh karena itu keotentikan surat ini dapat pula dipertanyakan. Baur adalah salah seorang yang meragukan keotentikan surat ini, alasanya surat ini memuat ekspresi Gnostis yang telah berkembang. Akan lebih cocok apabila surat ini ditulis pada akhir abad pertama, puluhan tahun setelah kematian Paulus. Teori Baur tidak memiliki dasar yang kuat, kemungkinan penulisan surat ini oleh Paulus tetaplah kuat. Secara gaya, muatan dan komposisi semuanya menunjukan ciri khas Pauline. Selain itu Baur menganggap penyebutan “kaum” pengacau  dalam surat ini mengacu kepada kaum Gnostis pertengahan abad kedua, artinya menguatkan bahwa surat ini ditulis pada masa tersebut. Namun, secara garis besar, beberapa sarjana menyerang keotentikan surat ini dari dua pandangan. Melalui kritik linguistik/literatur dan teologi. Dalam hal linguistik, surat Kolose memuat gaya dan kosa kata yang berbeda dari surat-surat Paulus yang utama (Roma atau Galatia), sekitar 55 kata tidak terdapat pada surat lainnya, ditambah dengan 34 hapax legomena. Tampaknya gaya penulisan Paulus sudah demikian berkembangnya dari saat menulis surat-surat utama. Dalam hal literatur, menurut Mayerhoff surat Kolose ini terlihat sangat bergantung kepada surat Efesus, atau bahkan bisa sebaliknya. Artinya salah satu surat dapat dikatakan palsu dan hanya jiplakan, sedangkan yang satunya lagi berperan sebagai master. Melihat absenya Kristologi khas Pauline, Norman Perrin bahkan memasukan surat ini ke dalam kelompok Deutero-Pauline, surat-surat yang diduga ditulis oleh Paulus, sedangkan waktu penulisanya setelah kematian Paulus. Raymond Brown (An Introduction to the New Testament [New York: Doubleday, 1997], h. 610) menyebutkan,

At the present moment about 60 percent of critical scholarship holds that Paul did not write the letter.”

G.A Wells menyimpulkan dalam karyanya The Historical Evidence for Yesus :

Colossians is judged to have been written not by Paul but by one of his pupils. Paul’s ideas as expressed in Romans (6:3-5) have been greatly modified.

Surat Kolose telah ditetapkan bukan sebagai karya Paulus melainkan salah satu muridnya. Pandangan Paulus dalam surat Roma (6:3-5) telah dimodifikasi dengan hebatnya.

Kita dapat saja mengatakan bahwa perbedaan karakter mungkin saja terjadi, tetapi tidak dengan gaya, seorang penulis akan tetap menggunakan gaya yang sama dalam berbagai karyanya. Dalam hal ini, penelitian gaya penulisan dalam karya-karya (yang dianggap ditulis) Paulus merupakan cara terbaik untuk menetapkan nilai keotentikan. Semua ini hanya membuktikan bahwa intervensi manusia dalam Bible tidak dapat diragukan lagi, kita akan lebih banyak menemukan sifat “manusiawi” daripada “Illahiah” di dalamnya.

Waktu dan Tempat Penulisan

Waktu penulisan sangat bergantung kepada tempat penulisan surat ini. Selama ini Roma diyakini sebagai tempat yang tepat, sedangkan beberapa pendapat lain menyebutkan kota  Efesus atau Kaisaria. Mengingat fakta bahwa surat ini ditulis bersamaan dengan kedua surat lannya (Efesus dan Philemon), maka ketiga surat ini dirulis pada tempat yang sama. Melalui perkiraan Paulus menulis surat ini di Roma (59-61 M.), Maka masuk akal apabila ia merasa pesimis akan pembebasannya. Daniel B. Wallace berusaha menyusun kronologi penulisan surat-surat penjara, dengan anggapan Epaphras dan Epaphroditus merupakan pribadi yang sama.

  1. Setelah ditahan selama dua tahun di Kaisaria, Paulus memohon pembebasan kepada Kaisar sekitar tahun 58 M.. Tampaknya usahanya tidak berhasil, ia malah dipindahkan ke Roma untuk menjalani hukuman (Kis Ras 25:10-12; 27:1). Berita mengenai penangkapan Paulus telah tersebar kepada segenap jemaatnya. Gereja Filipi segera mengirimkan utusan untuk menghiburnya.
  2. Utusan tersebut adalah Epaphroditus, ia segera menuju Roma dengan membawa hadiah-hadiah. Tidak hanya itu, Epaproditus juga membawa berita mengenai keadaan Gerejanya yang diusik kaum tertentu.
  3. Epaphroditus tidak langsung menuju Roma, ia singgah dahulu di Gerejanya, di Kolose. Di Kolose ia menemui suatu golongan tak dikenal yang cukup mengusik Gerejanya. Setelah itu ia langsung menuju Roma.
  4. Saat Epaphroditus sampai di Roma, di sana telah ada Onesimus, budak Filemon yang melarikan diri. Epphroditus memberitakan keadaan terbaru jemaat di Kolose dan keinginan jemaat Filipi untuk dikunjungi Timotius kepada Paulus.
  5. Paulus tidak dapat mengirimkan Timotius, oleh karena itu ia mengutus orang lain bernama Tychicus.
  6. Paulus mengutus Tychicus bersama beberapa suratnya (Surat Filemon, Kolose dan Efesus).
  7. Epaphroditus masih menetap sementara di Roma untuk berisitrahat sebelum kembali menuju Filipi. Dikarenakan situasi yang tidak terlalu genting, ia tidak perlu terburu-buru kembali ke kotanya.
  8. Epaphroditus mengalami sakit, sehinga perjalanannya menuju Filipi tertunda berbulan-bulan.

Surat-surat dalam Bible tidak muncul dengan sendirinya melainkan melalui proses tersendiri tergantung keadaan saat itu. Khusus surat-surat Paulus, para sarjana berusaha untuk membuat kronologi pembuatan surat-surat tersebut, tentu saja dengan asumsi tiadanya peranan roh kudus. Terlepas dari kronologi tersebut, Sejauh ini kita hanya bisa membuktikan bahwa tidak ada satupun surat Paulus yang terlepas dari keraguan, dan keraguan tersebut muncul dari kalangan sarjana Kristen sendiri. Dalam hal ini kita harus berada pada pihak yang objektif, tidak perlu membantah seluruh kepenulisannya secara radikal.

About these ads

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.