Injil Menurut Matius


Injil Untuk Kaum Yahudi

Injil Matius menempati urutan pertama dalam Perjanjian Baru. Penempatan yang tentunya sengaja dilakukan untuk memenuhi asumsi-asumsi tertentu. Salah satunya, untuk sesegera mungkin menempatkan silsilah Yesus yang bernuansa Yahudi, tepat setelah Perjanjian Lama rampung. Karena dalam perbandingan dengan kedua Injil sesudahnya, Matius dianggap paling bernuansa Yahudi (konon terdapat 65 rujukan terhadap Perjanjian Lama). Cocok dengan anggapan tradisional bahwa Matius adalah seorang Yahudi.

Berbeda dengan penulis Perjanjian Baru lainnya, Penulis Injil Matius melakukan pendekatan dan penafsiran yang cukup unik terhadap Perjanjian Lama. Ia begitu tertarik terhadap kisah-kisah Perjanjian Lama yang disulap menjadi nubuat bagi Yesus, kadang Matius terlalu bersemangat dalam melakukannya sehingga kadang ia menghasilkan berbagai kesalahan. Tidak ada yang salah mengenai usaha Matius untuk menonjolkan sisi Yahudi dalam kehidupan Yesus, bukankah Yesus adalah seorang Yahudi sejati ? Tetapi apa yang Matius hasilkan, seperti yang akan kita lihat nanti hanyalah suatu formula yang gagal karena berisi kecacatan-kecacatan.

Para sarjana hampir seluruhnya sepakat bahwa Injil ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi. Dalam karyanya, Matius seakan-akan ingin menegaskan kepada kaum Yahudi bahwa Yesus adalah seorang Nabi yang mereka tunggu selama ini, ia tidak lupa menyertakan bukti-bukti kenabian Yesus melalui kutipan-kutipan Perjanjian Lama. Kaum Yahudi hanya mempercayai bahwa pada akhir jaman akan datang seorang Messiah atau raja, ia adalah seorang manusia bukanlah Tuhan atau seorang manusia yang bersifat Ketuhanan. Matius mungkin sependapat dengan pandangan tersebut. Saat membicarakan Yesus, ia tidak mebicarakan seorang Tuhan yang berwujud manusia, melainkan seorang Messiah berwujud manusia sejati. Lupakan frase-frase menipu dalam Injil modern yang memplesetkan kata Lord yang berarti Raja menjadi Tuhan. Sesungguhnya bilapun ada seorang Yahudi memanggil Yesus dengan sebutan Lord, maka ia tidak bermaksud menyebut Yesus sebagai Tuhan melainkan raja atau tuan. Kasus pemelesetan arti ini akan sering kita temui dalam Injil, sehingga jangan aneh lagi bila anda menemukan kalimat,”Yesus, Tuhan kami…”, yang seharusnya ditulis sebagai, “Yesus, tuan kami…”.

Mungkin patut kita pertanyakan motif Matius menujukan Injil ini kepada kaum Yahudi saja, bukan kepada kaum Gentile, Seakan-akan kaum non-Yahudi tidak pantas menerima risalah ajaran Yesus. Tetapi seperti akan kita lihat nanti, penyusunan Injil-injil dalam perjanjian Baru tampaknya disusun secara sistematis, dimulai dari Injil yang sarat nuansa Yahudi, bertahap menuju Injil keempat yang paling bernuansa Yunani. Injil keempat atau Injil Johannes memuat sisi kehidupan Yesus yang berbeda dari sudut pandang Matius, padahal apabila kedua Injil tersebut benar-benar ditulis oleh orang yang sebenarnya, isinya tidak akan mungkin bertentangan. Matius dan Yohannes merupakan sedikit dari murid Yesus yang dianggap telah menyumbangkan karyanya dalam Perjanajian Baru.

Seakan-akan demi menjaga kontinuitas dengan Perjanjian Lama, Injil ini diawali dengan sebuah silsilah Yesus yang dimulai dari Ibrahim sampai Yesus. Matius sangat mengetahui pentingnya peranan Ibrahim dalam Agama Yahudi, ia adalah ayah dari Ishaq, kakek moyang bangsa Yahudi. Secara kasat mata, silsilah susunan Matius tampak biasa saja, padahal ia menyusunnya secara khusus. Dengan menggunakan permainan angka Yahudi yang khas, penulis Injil Matius dalam prolognya menyebutkan 14 generasi dari Ibrahim hingga Daud, 14 generasi dari Daud hingga masa pembuangan di Babylonia, dan menyisakan 14 generasi lagi hingga Yesus.

Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud,

empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan

empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.”(Mat 1:17)

Orang awan mungkin menganggap penyebutan angka-angka ini sebagai suatu kebetulan yang luar biasa, tetapi sebenarnya si penulis memiliki maksud tersendiri. Angka 14 tidak muncul begitu saja, ia adalah hasil penjumlahan dari dua angka enam dan satu angka empat atau sebaliknya, dua angka empat dan satu angka enam. Lalu apa yang istimewa dengan formula tersebut ? Abjad Ibrani tidak mengenal huruf vokal, contohnya YAHWEH yang ditulis dengan YHWH. Maka dalam hal ini si penulis mencoba mengubah nama Daud (David) yang dalam tradisi Ibrani akan ditulis sebagai DVD terhadap bentuk angka. Setiap abjad dalam tradisi ibrani memiliki bobot angka tertentu, huruf D memiliki bobot angka 6, sedangkan V berbobot 4. Maka DVD bila diuraikan akan menjadi 4+6+4 hasilnya adalah 14 ! Betapa mengejutkan, sekali lagi Matius membuktikan ketertarikannya dengan sang raja Yahudi. Maka ciri khas pertama dari penulis Injil ini adalah ketertarikanya akan tradisi Yahudi atau bahkan sangat mungkin ia adalah seorang Yahudi, kita tidak mungkin membayangkan seorang Yunani yng ketertarikannya terhadap tradisi Yahudi begitu besar. Tapi tidak hanya ciri khas tersebut yang kita dapat disini, kita juga akan menemukan ciri khas lain yang tidak bisa disepelekan, yaitu sifat pemaksaanya. Ternyata permainan angka Matius tidaklah sempurna. Seperti yang akan kita lihat, Matius akan berusaha sekuat tenaga untuk mencocokan figur Yesus dengan keterangan-keterangan Perjanjian Lama, walaupun dalam usahanya tersebut ia akan menghasilkan kesalahan-kesalahan fatal. Contohnya seorang pembaca Injil yang teliti akan menemukan adanya keganjilan mencolok dalam silsilah Yesus yang disusun Matius, yaitu kurangnya generasi pada masa pembuangan hingga masa Yesus. Bila kita menghitung secara saksama, maka akan hanya terdapat 13 generasi dari Salathiel hingga Yesus.

Seri Pertama

1. Abraham

2. Isaac

3. Yakub

4. Yehuda

5. Peres

6. Hezron

7. Ram

8. Aminadab

9. Nahasson

10. Salmon

11. Boaz

12. Obed

13. Isai

14. Daud

Seri kedua

1. Salomo

2. Rehabeam

3. Abia

4. Asa

5. Yosafat

6. Yoram

7. Uzia

8. Yotam

9. Ahas

10. Hizkia

11. Manasye

12. Amon

13. Yosia

14. Yekhonya

Seri ketiga

1. Salathiel

2. Zerobabel

3. Abihud

4. Elyakim

5. Azor

6. Zadok

7. Achim

8. Eliud

9. Eleazar

10. Mathan

11. Yakub

12. Yusuf

13. Yesus

Kesalahan tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi akan mengurangi kesucian Injil ini. Penulis Injil Matius ternyata ceroboh saat mengatakan bahwa terdapat 14 generasi dari pembuangan hingga masa Yesus, dimana ia hanya menempatkan 13 nama yang mewakili satu generasi. Ia telah menghilangkan satu generasi ! Anggaplah ayat ke 17 tersebut sebagai salah satu bukti keteledoran sang penulis Injil, karena berikutnya kita akan menemukan kesalahan-kesalahan lain. St. Lukas, penulis Injil Lukas yang notabene adalah seorang Gentile, bahkan dapat menyusun silsilah Yesus ini dengan lebih hati-hati, ia tidak terjebak dalam permainan angka Yahudi, walau silsilah yang ia susun belum tentu sempurna. Artinya silsilah yang Lukas susun tidak sama dengan versi Matius, perbedaan ini selalu menjadi momok dalam usaha membuktikan kesucian Bible.

Bukan hanya itu persoalannya, bila penulis Injil Matius benar-benar ingin menjaga hubungan dengan Perjanjian Lama, maka Injil ini seharusnya tidak bertentangan dengan Perjanjian Lama. Bila penulis Matius ingin merujuk silsilah tersebut terhadap kitab Tawarikh, maka silsilah ini jelas-jelas menghilangkan beberapa generasi, yaitu pada masa awal pembuangan yang seharusnya memuat nama-nama seperti Ahaziah, Joash, Amaziash, azariah kemudian Yotham. Penulis Matius juga tidak meyebutkan nama Yoyakim (Eliakim dalam kitab Raja-raja) diantara nama Josiah dan Jechoniah. Apakah karena Yoyakim dikutuk sehingga tidak ada satu pun keturunannya yang dapat menduduki takhta Daud (Yer 36:30) Pertanyaan kemudian muncul, apakah si penulis Injil ini benar-benar menghormati isi kitab suci Yahudi (Perjanjian Lama) dilihat dari caranya mengutip secara sembarangan, atau ia hanya menggunakan kitab tersebut demi memenuhi ambisi pribadinya.


Siapakah Matius ?

Secara tradisional, umat Kristen akan menyebutkan nama Matius atau Lewi sebagai kandidat utama penulis Injil ini. Keraguan mungkin akan muncul akibat tiadanya penyebutan yang jelas dalam Injil ini terhadap identitas penulisnya, bahkan cenderung anonim. Keterangan paling jelas mengenai identitas Matius hanya terdapat dalam pasal 9:9 atau 10:3 , dimana disana pula kontroversi muncul akibat penyebutan tokoh Matius seakan-akan sebagai orang kedua diluar penulis. Dalam ayat tersebut Matius digambarkan sebagai seorang pemungut cukai yang bekerja untuk kekaisaran Romawi, selanjutnya ia tertarik ajakan Yesus untuk menjadi muridnya.

Lewi yang kemungkinan adalah nama lain Matius beberapa kali disebutkan dalam Injil sinoptik lain seperti Lukas atau Markus, tetapi tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa Yesus pernah mengganti nama Lewi menjadi Matius (artinya “Hadiah dari Tuhan”) sepertihalnya saat ia mengganti nama Simon menjadi Cephas. Tidak ada alasan bagi Yesus untuk mengubah nama Yahudi muridnya menjadi nama Romawi. Yesus tidak pernah mengganti nama Simon menjadi Petrus, ia menggantinya dengan nama “Cephas” yang artinya batu. Orang Romawi-lah yang menyebutnya sebagai Peter atau Petrus. Adalah suatu keganjilan melihat pilihan penulis Injil Matius untuk lebih memilih menggunakan nama “Matius” alih-alih nama “Lewi” yang lebih familiar di kalangan Yahudi. Penulis Injil Markus dan Lukas yang menujukan karyanya bagi orang gentile (Romawi) bahkan lebih memilih menggunakan nama “Lewi” bukanya “Matius” (Mark 2:14, Luk 5:27)

Lewi/Matius dikenal sebagai salah satu dari 12 murid Yesus yang terkenal. Sebagai murid Yesus, ia tentu saja akan terbiasa atau setidaknya tidak akan sembarangan menggunakan Perjanjian Lama, persoalan akan timbul bila kita memperhatikan banyaknya kesalahan dalam perujukannya terhadap Perjanjian Lama dalam karyanya. Ditambah dengan adanya keparalelan antara Injil Matius dengan Injil Markus membuat beberapa sarjana beranggapan Matius hanya menggunakan (bahkan menjiplak) karya Markus, yang jelas-jelas bukan seorang murid Yesus. Kita patut mempertanyakan apa gunanya bagi seorang Matius, yang juga seorang murid Yesus, saat menggunakan sumber Markus yang tidak kompeten karena dihasilkan oleh orang di luar lingkaran kerasulan (murid-murid Yesus) ?

Seorang murid Yesus sebenarnya dapat dengan leluasa menggunakan sumber paling terpercaya yaitu gurunya sendiri (Yesus) sebagai referensi penulisan yang utama, ia sepatutnya menjadi seorang sekertaris berjalan yang senantiasa mencatat segala perkataan maupun perbuatan gurunya tanpa perlu menggunakan sumber lain. Walau banyak sarjana mempercayai penjiplakan Matius atas Markus, beberapa bahan yang terdapat dalam Injil Matius ternyata sangat tua dan tampaknya asli, sehingga dapat mematahkan pendapat tersebut.

Selain hal-hal di atas, keterangan mengenai pribadi Matius tampaknya tidak diketahui. Beberapa tradisi mengatakan Matius martir di Ethiopia, sedangkan lainnya mengatakan bahwa ia menjadi martir di Hierapolis. Menurut Ephipanus, uskup Cyprus, Matius sang evangelis (penulis Injil) martir di Hierapolis, sedangkan Matius pengganti Judas Escariot menjadi martir di Ethiopia. Bukan hanya terhadap Matius, Keterangan-keterangan mengenai para penulis Perjanjian Baru, atau bahkan kehidupan sahabat-sahabat Yesus sangatlah kurang, seakan-akan ada suatu pihak yang sengaja menutupinya.

Injil ini pada dasarnya anonim, Adalah keputusan para bapak Gereja awal yang menisbatkan penulisannya kepada rasul Matius. Bapak Gereja awal tertua yang pernah membicarakan nama Matius adalah Papias, dalam karyanya disebutkan mengenai Matius pemungut cukai yang mengumpulkan perkataan (logia) Yesus dalam bahasa Ibrani. Pendapatnya ini diriwayatkan kembali oleh Irenaeus, Eusebius, dan Origen. Kesulitan muncul saat menerjemahkan pernyataan Papias tersebut, apakah Matius benar-benar mengumpulkan perkataan Yesus (logia) lalu menuliskannya dalam bentuk Injil, atau logia tersebut hanya berbentuk tradisi oral yang biasa digunakan pada pertemuan-pertemuan atau ceramah-ceramah di kalangan umat Kristen awal. Walau pernyatan Papias mungkin benar, beberapa sarjana modern belum langsung mempercayainya. Terutama saat Papias menyebutkan bahwa Matius mengumpulkan logia dalam bahasa Ibrani, sedangkan menurut mereka Injil Matius pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani. Salah satu kemungkinan lain adalah adanya perbedaan antara benda yang dibicarakan Papias dengan Injil Matius yang ada saat ini. Siapakah yang berani menjamin bahwa karya Matius yang disebutkan Papias seratus persen sama dengan Injil Matius yang ada saat ini ?

Apakah Injil Matius berbahasa Ibrani pernah ada kita tidak pernah tahu, tetapi menurut Mahlon H. Smith dalam bukunya, “The Canonical Status of Q“, Penulis Injil Matius bahkan tidak mengerti bahasa Ibrani sedikitpun. Walau sullit untuk membayangkan bahwa Matius menggunakan bahasa Yunani dalam menulis Injilnya, kemungkinan tersebut tetap ada karena Matius pernah bekerja kepada kaum Romawi. Tetapi jangan langsung menerima kebenaran pendapat tersebut karena Matius diduga menujukan penulisan Injil ini kepada kaum Yahudi. Sekarang kita pikirkan lagi apakah seorang Matius harus menulis suatu karya berbahasa Yunani kepada kaum Yahudi yang lebih menguasai bahasa Ibrani atau Aramaik.

Kaum Kristen terdahulu yang membaca Injil ini mungkin langsung mempercayai kepenulisan Matius, sedangkan Sarjana Kristen modern seperti Davidson, Julicher dan Baljon, tidak ragu-ragu menyangkal pendapat tradisional tersebut atas dasar berikut :

  1. Injil ini terlalu banyak memuat hal-hal yang bersifat legenda dan mengada-ada seperti kisah pembantaian anak-anak (Pasal 2), kisah perjalanan Yesus ke Jerusallem yang mengendarai dua hewan, kepergian Yusuf ke Mesir, Kisah fantastis yang menyertai kematian Yesus (27: 52 ) dll..
  2. Materi Injil ini sangat mirip dengan Injil Markus. Matius tampaknya secara bebas menggunakan 90 % (600 dari 661 ayat) bahan Markus dan kemudian mengeditnya dengan menambahkan hal-hal baru yang berasal dari dirinya atau dari sumber lain. Dengan kata lain Matius hanya menulis kembali karya Markus dengan sedikit modifikasi, walaupun kita tentu tidak bisa menutup kemungkinan lain. Hal ini tentu secara tidak langsung menyebutkan, penulis Injil Matius bukanlah seorang saksi mata kehidupan Yesus. Walaupun Matius tampaknya menggunakan sumber Markus sebagaimana dengan Lukas, tapi tidak selamanya Matius sejalan dengan Markus. Dari 1071 ayat, Matius sejalan dengan Markus dan Lukas pada 387 ayat, 130 dengan Markus, 184 dengan Lukas, dan 387 yang berbeda dengan Markus maupun Lukas.
  3. Si penulis Injil tidak menggunakan kata ganti orang pertama yang mengidikasikan bahwa ia bukanlah saksi mata.

    Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama

    Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: /”Ikutlah

    Aku.”* Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”(Mat 9:9)

    Ayat tersebut merupakan satu-satunya ayat yang memuat kata “Matius”. Melalui penggunaan kata Matius didalamnya, dapat kita simpulkan bahwa penulisnya tidak berbahasa Ibrani. Bila ia seorang Yahudi, ia tentu lebih memilih nama “Levi” daripada “Matius”. Dan apabila Matius benar-benar menulis Injil ini, redaksi kata dalam ayat tersebut harus diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

    Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat (ku) duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepada (ku): “Ikutlah Aku.” Maka (aku) berdiri lalu mengikut Dia.”

    Atau dengan cara yang lebih mudah, ia hanya perlu menambahkan satu ayat di awal Injil ini yang bunyinya kira-kira seperti ini,

    …Inilah kisah Yesus Kristus, yang disusun oleh Matius, rasul Yesus Kristus…”

    Sayangnya ayat tersebut tidak pernah ada. Apabila sejak awal penulis Injil Matius melakukan hal tersebut, Setidaknya ia tidak akan meninggalkan polemik berkepanjangan mengenai status penulisan Injilnya,.

    Ibrani atau Yunani ?

    Penentuan bahasa awal dalam kitab-kitab Perjanjian Baru lebih sulit dari Perjanjian Lama dan tidak bisa dianggap sepele. Dengan perkiraan penulis Injil ini adalah seorang murid Yesus dan mendedikasikannya kepada kaum Yahudi, maka dapat dipastikan ia akan menggunakan bahasa Ibrani atau Aramaik. Sayangnya, eksistensi naskah Matius berbahasa Ibrani dapat dikatakan tidak pernah ada, yang ada hanyalah naskah berbahasa Yunani yang usianya pun bertaut cukup jauh dari masa kerasulan, Sehingga menimbulkan anggapan naskah tersebut merupakan naskah utama. Para sarjana masih berdebat mengenai masalah ini, sarjana yang mempercayai kepenulisan Matius cenderung mendukung bahasa Ibrani sebagai bahasa awal, sedangkan sarjana yang tidak mempercayai kepenulisan Matius berpendapat sebaliknya. Penyangkalan bahasa Ibrani sebagai bahasa awal sama saja dengan menyangkal kepenulisan matius atas surat ini. Secara umum tiga pandangan utama yang berkembang terhadap permasalahan tersebut :

    • Matius menggunakan bahasa Ibrani. Dengan mengakui teori ini kita akan lebih mudah untuk mempercayai kepenulisan Matius. Pendapat ini didasarkan atas kutipan Eusebius atas Papias mengenai Matius yang mengumpulkan logia (perkataan Yesus) dalam bahasa Ibrani atau Aramaik, kita tidak dapat membayangkan Matius mengumpulkan perkataan Yesus dalam bahasa Yunani karena alasannya jelas, Yesus tidak berbicara dalam bahasa Yunani. Beberapa sarjana mengatakan, karakter Injil ini yang memiliki kedekatan dengan tradisi Yahudi menunjukan bahwa Injil ini ditujukan kepada umat Yahudi. Oleh karena itulah Matius akan menggunakan bahasa Ibrani. Sebagian kecil umat Yahudi Palestina terpelajar mungkin menguasai bahasa Yunani pada saat itu, tetapi Injil ini ditujukan kepada umat Yahudi yang lebih umum.Para sarjana yang menolak pandangan ini sering beralasan bahwa para Bapak Gereja awal hanya mengetahui naskah Matius yang berbahasa Yunani dan naskah berbahasa Ibrani tidak pernah ditemukan, tidak satupun dari ratusan naskah Ibrani yang ditemukan di Qumran. Kenyataanya, seluruh naskah tertua Perjanjian Baru hanya memakai bahasa Yunani, tidak ada yang menggunakan bahasa Ibrani atau Aramia. Mayoritas sarjana modern membantah pandangan bahwa Matius menulis Injilnya dalam bahasa Ibrani, melainkan Yunani. Mereka beranggapan, naskah Matius berbahasa Yunani merupakan karya original dan bukan buatan seorang penerjemah. Sang penulis Injil bahkan lebih memilih nama “Matius” alih-alih “Lewi” terhadap seorang murid Yesus sang natinya akan dipercaya sebagai penulis Injil ini. Perlu diingat bahwa nama “Matius” hanya digunakan pengguna bahasa Yunani. Perhatikan juga saat Injil ini mengisahkan kisah penyaliban Yesus, saat itu Yesus berkata, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa kau meninggalkan aku” Menurut penulis Injil Matius, saat itu Yesus menggunakan bahasa Ibrani (Eli, Eli, lama sabakhtani ?) sedangkan menurut penulis Injil Markus bahasa yang digunakan adalah Aramaik (Eloi, Eloi…-Mark 15:34). Yesus tentunya akan lebih memungkinkan apabila menggunakan bahasa sehari-harinya, yaitu bahasa Aramaik.
    • Selajutnya para sarjana menganggap Papias keliru saat menyebutkan Matius mengumpulkan logia dalam bahasa Ibrani. Menurut mereka, adalah perlu diingat bahwa penduduk Yahudi Judea saat itu sebagian berbicara dalam dua bahasa, Ibrani (aramaik) dan Yunani. Jadi ada kemungkinan Matius menulis Injil ini dalam bahasa Yunani, peluang penggunaan bahasa Yunani oeh Matius memang masuk akal mengingat dulunya ia bekerja pada kerajaan Romawi sebagai pemungut cukai ? Beberapa dari sarjana ini bahkan membantah kepenulisan Matius terhadap Injil ini, mengingat tiada seorangpun dari 12 murid Yesus yang dianggap mampu menulis dalam bahasa Yunani. Pendapat ini mendapat dukungan kuat dari bukti-bukti naskah atau fragmen Matius kuno yang berbahasa Yunani, sebaliknya naskah berbahasa Ibrani telah musnah. Kita mungkin dapat menyalahkan tindakan represif Gereja terdahulu, yang dengan sengaja menghilangkan atau menyembunyikan naskah-naskah kitab suci yang sangat berharga. Sehingga dengan sendirinya kebenaran semakin sulit untuk terungkap.
    • Kedua pendapat di atas memang sulit dibuktikan. Selanjutnya kita hanya akan tertuju kepada pandangan yang bersifat jalan tengah, yang menyatakan bahwa Matius menuliskan Injilnya dalam dwi bahasa, Ibrani dan Yunani. Teori yang terakhir adalah yang paling sulit untuk dibuktikan dan tampaknya hanya menjadi penyelesaian yang terlalu dipaksakan terhadap masalah penentuan bahasa awal Injil ini. Yang pasti penentuan bahasa awal tidaklah terlalu penting selama masalah pengungkapan identitas penulis Injil ini belum terselesaikan. Untuk apa misalnya kita, memastikan bahwa Injil ini misalnya ditulis dalam bahasa Ibrani tetapi kita masih ragu terhadap identitas penulisnya ?

      Kontroversi

      Kali ini kita menuju perdebatan selanjutnya, yaitu masalah dimana dan kapan Injil Matius ditulis. Sebagian sarjana menyebutkan Antiokia, sedangkan menurut Athanasius Injil ini ditulis di Jerusallem; Ebedjesu, di Palestina; dan Jerome, di Judea. Pandangan secara umum menyebutkan daerah Palestina sebagai tempat pembuatan Injil ini, dan dalam hal ini tampaknya kebanyakan sarjana sepakat. Sedangkan bila mengandaikan bahasa Yunani sebagai bahasa Injil ini, maka Syria akan menjadi tempat yang lebih cocok karena lebih banyak penduduk Syria yang menggunakan bahasa Yunani daripada di Palestina. Kaum Yahudi saat itu dikenal menggunakan tiga bahasa yaitu Arami, Ibrani, dan Yunani. Bahasa yang terakhir hanya dikuasai oleh kaum terpelajar dan kolaborator Romawi.

      Perdebatan dan berbagai interpretasi akan muncul saat menentukan waktu penulisan Injil ini, hal ini muncul akibat kurangnya keterangan mengenai hal tersebut dalam Injil. Tetapi tampaknya para sarjana sepakat dalam menentukan waktu 70-100 M sebagai batas waktu penulisan. Kebanyakan sarjana bahkan lebih condong ke akhir tahun 100 M., daripada ke awal tahun 50 M.. Mahlon H. Smith, dalam bukunya “The Canonical Status of Q” menyebutkan “…Matthew wrote his Gospel somewhere around AD 85-90…”. Sedangkan John P. Meier, dalam A Marginal Jew – Rethinking the Historical Jesus, Vol. 2. menetapkan tahun 75-85 M. sebagai jangka waktu penulisan Injil Matius.

      Bila kita mempercayai penggunaan Injil Markus oleh Matius, maka kita akan lebih mudah dalam menentukan waktu penulisan Injil ini, yaitu sekitar tahun 70-80 M.. Karena Markus diduga menulis Injilnya sekitar tahun 65-70 M. , beberapa tahun kemudian Injil ini mulai beredar ditambah beberapa tahun Matius menyusun Injilnya. Begitu pula apabila kita mempertimbangkan pernyataan Matius 22:7 mengenai kehancuran Jerusallem, maka Matius menulis Injilnya pasca tahun 70 M.. Penentuan waktu yang lebih awal mungkin bila mempertimbangkan tidak adanya penyebutan terhadap meninggalnya Yakobus saudara Yesus sekitar tahun 62 M. (menurut Eusebius), tetapi ini tidak bisa dijadikan acuan utama.

      Formula Matius

      Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Matius tampaknya sangat tertarik terhadap tradisi Yahudi, ia membatasi ajaran Yesus hanya kepada kaum Israel saja. Yesus dalam Matius, menyatakan dirinya hanya dikirim untuk domba yang hilang dari Israel, bukan untuk anjing Gentile atau Wanita Kan’an (Mat 15:22). Tetapi dalam posisi lain, baik dalam Injil Matius atau Markus, kita dapat menemukan adanya posisi yang berlawanan, yaitu posisi Pro-gentile atau anti-semitik. Beberapa sarjana modern menganggap beberapa bagian yang berbau anti-semit tersebut sebagai tambahan editor selanjutnya untuk mendistorsikan peranan Yahudi. Selain itu, sebagai seorang Yahudi tampaknya penulis Injil Matius memiliki pandangan tersendiri terhadap kaum Yahudi Farisi, ini terlihat dari beberapa ayat yang memojokan kaum Farisi.

      Matius cenderung menambahkan beberapa peristiwa yang tidak terdapat dalam Injil karya Markus atau Lukas, contohnya Khutbah di Bukit, kisah Peristiwa kebangkitan Yesus yang luar biasa, dll.. Dalam hal khutbah di atas bukit, ini satu-satunya indikasi penulisan oleh seorang rasul yang menyaksikan sendiri pribadi Yesus dalam hidupnya. Materi ini memiliki hubungan dengan surat gubahan Yakobus, saudara Yesus. Sebaliknya Injil lain yang tidak memuat kisah ini membuktikan ketidaktahuan penulisnya terhadap peristiwa tersebut. Sebuah ciri khas yang tidak kalah penting adalah ketertarikannya untuk mencocokan pribadi Yesus dengan nabi atau nubuat Perjanjian Lama. Hal ini dilakukan dalam rangka menarik perhatian audiens kalangan Yahudi, berikut adalah usaha yang dilakukan Matius :

        • Pada pembukaan Injil ini, dimana Matius menarik garis keturunan Yesus dari Yusuf sampai ke Daud. Menarik untuk diperhatikan bahwa Yesus tidak pernah terlibat hubungan darah dengan Yusuf. Yesus lahir tanpa campur tangan seorang ayah ! Bahkan apabila kaum Kristiani meyakini peran Tuhan sebagai ayah Yesus, nama Tuhan tidak pernah memasuki silsilah Yesus. Selajutnya tidak kalah menarik bahwa sebagai salah satu keturunan Daud, Yusuf hanya berprofesi sebagai seorang pengrajin kayu ! Darah ningrat yang dimilikinya tidak membuatnya memiliki posisi penting dalam struktur keagaamaan Yahudi saat itu. Tetapi motif Matius terlihat jelas, ia ingin memperlihatkan kepada kaum Yahudi, bahwa Yesus memiliki hubungan darah dengan Daud dengan harapan kaum Yahudi menyadarinya dan segera mengakui Yesus sebagai Messiah.

            • Kelahiran yang memenuhi nubuat. Matius 1: 23 menyatakan bahwa seorang perawan akan melahirkan seorang anak yang nantinya akan dipanggil dengan nama Immanuel. Umat Kristen gemar sekali mengutip ayat ini untuk membuktikan ketuhanan Yesus, yang menurut mereka telah dinubuatkan oleh Perjanjian Lama. Sayangnya Matius tidak tepat dalam menggunakan nubuat ini.

              “Sesungguhnya, perawan itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.”(Mat 1:23)

              Hampir bisa dipastikan, Matius mendasarkan pernyataanya tersebut terhadap kitab Yesaya. Sayangnya Matius tampaknya menggunakan sumber Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) dimana disana terdapat kesalahan penerjemahan kata ‘Almah’ yang seharusnya berarti perempuan muda dalam bahasa Ibrani, menjadi ‘Parthenos’ yang berarti perawan dalam bahasa Yunani. Bahasa Ibrani untuk perawan seharusnya ‘Bethulah’. Alhasil Matius melakukan satu lagi kecerobohan demi obsesinya mencocokan pribadi Yesus dengan nubuat Perjanjian Lama. Bila Matius adalah seorang Yahudi berbahasa Ibrani yang cermat, tentunya ia tidak akan menggunakan Septuaginta berbahasa Yunani yang meragukan dan akan lebih memilih menggunakan Perjanjian Lama berbahasa Ibrani. Dalam bahasa Ibrani, kalimat yang benar adalah : ‘Hinneh ha-almah harah ve-yeldeth ben ve-karath shem-o immanuel.’, Yang artinya : ‘Perhatikanlah, perempuan muda itu tengah hamil dan akan melahirkan seorang putra, dan akan memberinya nama Immanuel’. Jelas bahwa Immanuel disini adalah sebuah nama pemberian orang tua, bukan nama panggilan seperti yang disebutkan dalam pernyataan Matius. Selain itu tidak ada riwayat yang pernah menyebutkan bila Yesus pernah dipanggil atau dikenal dengan nama Immanuel.

              Tetapi bukan itu saja kesalahan Matius, kali ini ia benar-benar keluar dari konteks saat menggunakan rujukan dari kitab Yesaya tadi, karena Yesaya sama sekali tidak bermaksud membicarakan nubuat kelahiran seorang messiah, ia membicarakan mengenai kejadian yang terjadi pada masa itu juga. Pada sekitar tahun 742 SM. Penguasa Judea, Raja Ahaz tengah berada dalam ancaman serangan aliansi Rezim, Raja Aram, dan Pekah, raja Israel. Walaupun rencana penyerangan mereka terhadap Jerusallem belum berhasil, Raja Ahaz tetap khawatir terhadap serangan Rezim dkk.. Nabi Yesaya berperan sebagai orang yang akan menenangkan hati sang raja, ia meramalkan kepada Raja bahwa nantinya seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak, dan sebelum anak tersebut cukup umur untuk mengetahui hal yang benar dan salah, kerajaan Pekah dan Rezim akan menerima serangan balasan dari penguasa Assyria. Si perempuan muda akan menamakan anaknya “Immanuel” yang berarti “Tuhan bersama kami”. Maka saat sang Raja menyaksikan kehancuran kerajaan Pekah dan Rezim oleh kekuatan Assyria, ia akan sadar bahwa Tuhan bersama mereka.

              Dengan kata lain, Yesaya sama sekali tidak membicarakan masa depan dimana seorang Messiah akan lahir. Ia membicarakan keadaan yang terjadi saat itu juga, berlawanan dengan interpretasi Matius. Sayangnya, umat Kristen seakan tidak mau tahu mengenai kenyataan ini. Menurut mereka, Immanuel yang dimaksud adalah seperti yang diungkap oleh Matius, yaitu Yesus sang juru selamat.

                • Kecerobohan selanjutnya adalah saat Matius berusaha mencocokan kisah Yesus dengan kisah Musa yang terdapat dalam kitab Ulangan. Kisah Musa tersebut dimulai saat Pharaoh membunuh setiap setiap anak laki-laki yang lahir saat Musa dan pengikutnya berhasil kabur dari Mesir. Kali ini raja Herod berperan sebagai Pharaoh dan membunuh setiap anak laki-laki untuk mencegah pelarian keluarga Yesus ke Mesir.

                  Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang

                  majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke

                  bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang

                  majus itu.” (Mat 2:16).

                  Kali ini Matius benar-benar memunculkan suatu hal baru, ia tidak saja bertentangan dengan catatan sejarah, tapi juga bertentangan dengan penulis Injil lainnya. Peristiwa pembantaian anak oleh Herod adalah suatu peristiwa sejarah yang besar, bila benar-benar terjadi. Sayangnya sejarah tidak pernah mencatat peristiwa mengerikan ini. Kita dapat membayangkan timbulnya suatu pemberontakan Yahudi yang luas apabila tindakan Herod ini benar-benar terjadi. Sejarawan Yahudi, Josephus yang mencatat sejarah Yahudi selama masa Herod tidak pernah mengetahui kejadian besar ini. Ketiga Injil lainnya bahkan diam seribu bahasa terhadap kisah perjalanan Yesus ke Mesir. Selebihnya Lukas menyebutkan, Yesus lahir pada masa kekuasaan Quirinus (Lukas 2:2), sedangkan menurut Matius pada masa Herod, yang meninggal pada sekitar tahun 4 M. (Mat 2:1). Demi memenuhi obsesinya, Penulis Matius harus mengorbankan nama baik Raja Herod dan menimbulkan kontroversi dengan Injil lainnya. Bila Injil Matius ditulis pada abad pertama, kaum Yahudi yang membacanya akan langsung menemukan kesalahan ini. Apakah Matius menulis Injil ini kepada kaum Yahudi di luar Palestina, yang dia anggap masih asing terhadap kisah ini ? kita tidak tahu secara pasti.

                    • Dalam pasal dua dikisahkan mengenai Yusuf dan keluarganya yang kembali dari Mesir dan tinggal di Nazaret. Menurut Matius, kejadian itu merupakan satu lagi pemenuhan atas nubuat Perjanjian Lama.

                      Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.”(Mat 2:23)

                      Nabi Perjanjian Lama manakah yang pernah mengucapkan hal yang demikian ? Tidak terdapat satupun rujukan Perjanjian Lama terhadap klaim Matius di atas. Tidak pernah ada satupun perkataan Nabi dalam Perjanjian Lama terhadap nubuat Nazaret atau orang Nazaret. Kata ‘Nazaret’ bahkan tidak pernah ditemukan dalam keseluruhan Perjanjian Lama.

                      Kisah perjalanan Yesus dan keluarganya ke Mesir tidak pernah dimuat dalam ketiga Inijl lainnya. Namun beberapa naskah Kristen koptik kuno Mesir memuatnya, naskah tersebut dianggap apokrip oleh Gereja.

                      1. Matius 2:5-6 menyebutkan :

                      Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena

                      demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”

                      Disini Matius membicarakan nubuat mengenai tempat kelahiran sang Yesus yang terdapat pada kitab Nabi terdahulu, yaitu suatu tempat bernama Betlehem. Kesalahan apa lagi yang dibuat Matius kali ini ?

                      Diduga kuat Matius mendasarkan pernyataanya tersebut seperti yang terdapat dalam kitab Micah. Sekitar tahun 8 SM., Seorang Bijak Yahudi bernama Micah menulis mengenai penyerbuan Assyria dan seri mengenai peperangan yang terjadi di Samaria. Dia meramalkan, nantinya akan tumbuh seorang penguasa Betlehem bernama David dan ia akan melawan Assyria. Apakah yang sebenarnya Micah tulis ? berikut text Micah dalam bahasa Inggris yang merupakan terjemahan dari Naskah Masoretik (Micah 5:2) :

                      “But thou, Bethlehem Ephrathah who is little among the clans of

                      Judah, yet out of thee shall he come forth unto me that is to be a

                      ruler in Israel.”

                      Tapi engkau, Betlehem Ephratah yang terkecil dari klan Judah, darimu akan datang kepadaku yang akan menjadi penguasa di Israel

                      Bethlehem Ephrathah” Disini mengacu kepada suatu klan yang merupakan keturunan dari orang bernama Betlehem, Anak dari istri kedua Caleb yang bernama Ephratah (1 Tawarikh). Micah sama sekali tidak membicarakan mengenai kota Betlehem disini. Matius dengan “kuasa”-nya merubah pengartian Betlehem yang berasal dari nama suatu klan menjadi sebuah kota.

                      • Sekali kali Matius keliru dalam perujukannya terhadap Perjanjian Lama. Saat membicarakan masalah “tiga puluh keping uang perak” Judas escariot (27: 3,10) , Matius menyebutkan bahwa hal ini sesuai dengan nubat Nabi Yeremia.

                      Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:”Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,(Mat 27:9)

                      Namun ternyata nubuat tersebut hanya ditemukan dalam kitab Zacharia (11: 12-13), Yeremia tidak pernah menyebutkan apa-apa mengenai hal ini. Roh Kudus tampaknya tidak membantu Matius untuk menghindari kesalahan.

                        • Secara umum dapat disimpulkan, Matius berusaha sekuat tenaga mencocokan pribadi Yesus dengan pribadi nabi-nabi Perjanjian Lama. Ia tertarik dengan ucapan Musa yang mengatakan nantinya akan datang nabi yang identik seperti dirinya (Ulangan 18:18). Akibatnya adalah seperti yang terdapat pada kasus 3 di atas, selain itu Yesus tidak memiliki keidentikan dengan Musa. Selanjutnya dalam Matius 12: 39-40 disebutkan, Yesus pernah berkata bahwa ia hanya akan memberikan tanda sepertihalnya Yunus yang berada tiga malam tiga hari dalam perut monster laut, maka Yesus akan berada di perut bumi selama tiga malam tiga hari. Secara tidak langsung Matius ingin mengaitkan peristiwa keberadaan Yunus selama tiga hari tiga malam dengan peristiwa penyaliban Yesus dimana setelah itu Yesus meninggal dan dikubur.

                          Tetapi jawab-Nya kepada mereka: /”Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.* /Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.* (Mat 39-40)

                          Permasalahan muncul karena kasus Yunus benar-benar berbeda dengan Yesus, tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa selama berada di perut monster laut, Yunus meninggal. Artinya ia masih hidup selama berada tiga hari tiga malam dalam perut monster laut, berlawanan dengan pandangan tradisional bahwa Yesus meninggal selama berada dalam tanah. Kasus ini akan berbeda seandainya Yesus tidak mati selama berada di dalam tanah, alias hidup selama tiga hari tiga malam dalam tanah. Dengan pengandaian ini maka klaim kebangkitan Yesus dapat dipatahkan.

                          Selain itu, bila Yesus dikuburkan pada hari Jum’at menjelang matahari terbenam dan sudah bangkit pada hari minggu siang, maka Yesus hanya berada di perut bumi selama satu hari (sabtu) dan dua malam (sabtu dan minggu) bukan tiga hari tiga malam seperti yang diyakini oleh Matius dan umat Kristen pada umumnya. Beberapa sarjana yang terpojok oleh masalah ini mengajukan hari rabu sebagai alternatif hari penyaliban Yesus. Tanpa dasar yang kuat, mereka menyatakan bahwa Yesus disalib saat kaum Yahudi hendak mengadakan “sabat kecil” yaitu di hari rabu. Sangat sulit menemukan dalil kitab suci untuk pernyataan tersebut. Andaikata kaum Yahudi merayakan hari rabu sebagai “sabat kecil”, dimana mereka harus menghentikan segala bentuk pekerjaan, mengapa kaum Yahudi tidak mempertahankan tradisi tersebut sampai sekarang ? Akhirnya kita harus menyebut pernyataan “sabat kecil” tersebut sebagai pernyataan yang mengada-ada.

                          • Matius memuat dua pernyataaan Yesus yang bertentangan. Dalam pasal 10 ayat 5 hingga 6, kita temukan pernyataan Yesus yang melarang muridnya mengabarkan berita kerajaan sorga (mengadakan misi) kepada selain umat Israel,

                          Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (Mat 10:5-6)

                          Sedangkan pernyataan Yesus dalam akhir Injil ini telah berubah,

                          Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
                          dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Mat 28:19-20)

                          Pernyataan terakhir Yesus yang dimuat di penghujung kitab Matius, kerap dianggap sebagai tambahan kemudian atau interpolasi. Bila tidak, tentunya ia akan berkontradiksi dengan pasal sepuluh ayat lima hingga enam di atas. Beberapa sarjana bahkan meragukan pernyataan kedua karena dianggap sebagai pernyataan “pasca-kebangkitan”. Artinya kita harus meyakini adanya peristiwa kebangkitan terlebih dahulu sebelum mengakui pernyataan tersebut. Sarjana modern menganggap kisah kebangkitan atau segala riwayat mengenai kejadian tersebut sebagai tambahan kemudian atau karangan belaka. Nanti kita akan melihat bukti-bukti lain yang menguatkan pandangan ini.

                          Beberapa contoh di atas cukup untuk dijadikan gambaran terhadap karakteristik keseluruhan Injil Matius ini. Kesimpulannya, siapapun penulis Injil ini, ia menujukan penulisan Injil ini kepada kaum Yahudi sehingga ia berusaha sekuat tenaga untuk mencocokan profil Yesus dengan Perjanjian Lama, walaupun hasilnya adalah kekeliruan, ketidakcocokan atau bahkan kontradiksi. Penggunaan nubuat Perjanjian Lama secara ceroboh menjadi bukti nyata bahwa penulis Injil ini bukanlah seorang Yahudi Palestina maupun murid langsung dari Yesus. Inspirasi wahyu hampir tidak mungkin terjadi dalam proses pembuatan Injil ini, mayoritas sarjana bahkan memastikan Matius menulis Injilnya dengan rujukan karya Markus yang tidak pernah menjadi murid Yesus.

                          About these ads

                          Leave a comment

                          No comments yet.

                          Comments RSS TrackBack Identifier URI

                          Leave a Reply

                          Fill in your details below or click an icon to log in:

                          WordPress.com Logo

                          You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

                          Twitter picture

                          You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

                          Facebook photo

                          You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

                          Google+ photo

                          You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

                          Connecting to %s

                          Follow

                          Get every new post delivered to your Inbox.